Aku Pulang Tanpa Kabar ke Semarang dan Menemukan Ayah-Ibuku Tidur di Gudang Dapur Katering, Sementara Adikku Menjamu Tamu di Ruang Depan; Kunci Kecil dari Ibu Menunjukkan Apa yang Selama Ini Disembunyikan Dariku

Avatar penulis
Cerita 01
21 menit baca 928 tayangan
Aku Pulang Tanpa Kabar ke Semarang dan Menemukan Ayah-Ibuku Tidur di Gudang Dapur Katering, Sementara Adikku Menjamu Tamu di Ruang Depan; Kunci Kecil dari Ibu Menunjukkan Apa yang Selama Ini Disembunyikan Dariku
Indeks

BAGIAN 3

Aku menarik surat itu menjauh dari tangan Ibu.

“Tidak ada tanda tangan malam ini.”

Bayu tertawa tanpa senyum.

“Tentu.”

Aku memandang Pak Harun.

“Pak, saya tidak minta Bapak menghapus utang. Saya cuma minta sampai besok siang supaya kami tahu angka sebenarnya.”

Pak Harun menggeleng.

“Saya sudah kasih waktu hampir dua bulan.”

Dua bulan.

Aku menoleh kepada Bayu.

Bayu tidak membantah.

Aku Pulang Tanpa Kabar ke Semarang dan Menemukan Ayah-Ibuku Tidur di Gudang Dapur Katering, Sementara Adikku Menjamu Tamu di Ruang Depan; Kunci Kecil dari Ibu Menunjukkan Apa yang Selama Ini Disembunyikan Dariku

“Besok jam dua belas,” kataku. “Kalau memang tidak ada jalan, Bapak boleh hentikan pengiriman.”

Bayu berdiri.

“Kamu siapa bikin keputusan?”

“Ibu yang namanya ada di surat.”

Aku melihat Ibu.

“Ibu mau tanda tangan sekarang?”

Ibu menatap nominal Rp186 juta.

Tangannya gemetar.

Kemudian ia menarik tangannya ke pangkuan.

“Nggak.”

Hanya satu kata.

Tetapi untuk pertama kalinya malam itu, keputusan itu keluar dari mulutnya sendiri.

Pak Harun memasukkan kembali surat ke map.

“Saya datang besok jam sebelas.”

Setelah ia pergi, Bayu menendang kaki kursi.

“Puas?”

“Belum.”

Mira menutup pintu ruang depan.

“Ratih, kalau kamu mau bantu, bantu. Jangan datang membuat semuanya berhenti.”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Aku mau lihat laporan usaha.”

Bayu tertawa lagi.

“Memangnya perusahaan kamu?”

“Namanya Dapur Sulastri. NIB masih atas nama Ibu atau bukan?”

Ia tidak menjawab.

Aku sudah tahu dari diamnya.

Usaha kecil itu memang berkembang secara informal selama bertahun-tahun.

Ibu memulai dari pesanan nasi kotak untuk pengajian, rapat RT, dan hajatan tetangga. Ketika pesanan membesar, Bayu mengurus izin, tenaga kerja, kendaraan, pemasok, dan pemasaran.

Tapi pendaftaran usahanya tetap memakai nama Ibu.

Itulah sebabnya supplier mengenal Bu Sulastri.

Dan itulah sebabnya Bayu membutuhkan orang tuaku tetap terlihat berada di tengah usaha.

Bukan sekadar untuk mengupas telur.

Mereka adalah kepercayaan yang dipinjam Bayu setiap hari.

“Nisa masih pegang administrasi?” tanyaku.

Bayu langsung menatapku.

“Jangan bawa karyawan.”

Aku ingat Nisa.

Perempuan kurus berkacamata yang sore tadi beberapa kali melewati dapur sambil menunduk setiap melihatku.

“Aku tanya sekali lagi. Nisa pegang pembukuan?”

“Nggak ada urusan sama kamu.”

Aku meneleponnya.

Bayu mencoba mengambil ponselku.

Aku mundur.

“Jangan.”

“Mbak!”

“Aku nggak minta password rekeningmu. Aku cuma mau tahu kewajiban usaha atas nama Ibu.”

Ayah yang sejak tadi diam akhirnya berkata, “Panggil Nisa.”

Bayu berbalik.

“Bapak juga sekarang ikut?”

Ayah tidak menjawab.

Dua puluh menit kemudian, Nisa masuk melalui pintu samping dengan helm masih di tangan.

Usianya sekitar tiga puluh lima.

Ia sudah bekerja dengan Ibu sejak usaha katering masih menggunakan tiga kompor.

“Maaf, Pak Bayu,” katanya.

Bayu menunjuk pintu.

“Pulang.”

Nisa tidak bergerak.

Aku bertanya, “Ada berapa utang pemasok?”

Nisa menatap Bayu.

“Jawab,” kata Ibu.

Nisa membuka tas laptop.

“Kalau semuanya dihitung sampai sore tadi, sekitar Rp268 juta.”

Mira duduk.

Ayah memegang sandaran kursi.

Bayu berkata, “Itu utang dagang. Normal.”

Aku bertanya lagi.

“Piutang?”

“Yang belum dibayar klien sekitar Rp41 juta.”

“Uang muka acara yang belum dilaksanakan?”

Nisa membuka file.

“Rp173 juta.”

Aku langsung memahami bentuk lubangnya.

Sebagian uang dari acara baru telah dipakai menyelesaikan acara lama.

Lalu uang muka berikutnya dipakai membeli bahan untuk pesanan sebelumnya.

Bisnis itu sedang berlari di atas uang yang belum menjadi pendapatan.

Selama pesanan terus masuk, semuanya tampak hidup.

Begitu satu mata rantai berhenti, seluruh sistem jatuh.

“Sudah berapa lama seperti ini?”

Nisa menjawab, “Mulai parah sekitar delapan bulan.”

Bayu memukul meja dengan telapak tangan.

“Nisa.”

Perempuan itu menutup mulut.

Aku melihat kalender produksi.

Delapan bulan.

Hampir sama dengan periode ketika jadwal Ibu semakin padat.

“Kenapa tenaga orang tua kita ditambah?”

Bayu berdiri.

“Jangan bikin seolah aku memaksa.”

“Kenapa?”

“Karena kami kekurangan orang!”

“Kamu bilang punya dua puluh tiga.”

“Dua puluh tiga itu termasuk tenaga panggilan.”

“Kenapa nggak tambah pegawai tetap?”

Bayu menunjuk laptop.

“Karena uangnya nggak ada!”

Itulah pertama kalinya ia mengatakan hal itu dengan jujur.

Ruangan hening.

Mira menutup wajahnya sebentar.

Bayu mengusap rambut.

“Kalian pikir aku suka begini?”

Aku tidak menjawab.

Ia berjalan ke dapur lalu kembali.

“Setelah pandemi, usaha mulai naik. Kita dapat paket nikahan, kantor, syukuran. Aku beli dua freezer, satu mobil bekas, peralatan prasmanan. Tahun lalu ada klien batal acara setelah kita beli bahan. Habis itu satu mobil rusak. Kemudian harga ayam naik.”

“Terus?”

“Aku tutup pakai pesanan berikutnya.”

“Tanpa memberitahu Ibu?”

“Kalau kubilang, memang Ibu bisa apa?”

Ibu menatapnya.

Bayu seolah baru sadar apa yang baru dikatakannya.

Ia menurunkan suara.

“Maksudku bukan begitu.”

“Aku mungkin nggak ngerti Excel,” kata Ibu, “tapi nama yang dipakai namaku.”

Bayu menoleh kepadanya.

“Ibu sendiri yang dulu bilang usaha ini buat keluarga.”

“Bukan berarti utang boleh disembunyikan.”

“Kalau aku cerita setiap ada masalah, Bapak sama Ibu cuma tambah kepikiran.”

Mira akhirnya ikut bicara.

“Kami juga nggak menikmati uang itu, Ratih.”

Aku memandangnya.

Ia membuka aplikasi bank di ponselnya dan menunjukkan beberapa transaksi.

“Tabungan kami tinggal Rp11 juta.”

“Lalu kenapa masih menerima klien baru?”

“Kalau berhenti,” kata Bayu, “kita mati.”

“Sekarang kalian cuma memperpanjang waktunya.”

Bayu memandangku tajam.

“Mudah buatmu bilang begitu.”

Aku tahu kalimat berikutnya bahkan sebelum ia mengucapkannya.

“Kamu punya perusahaan.”

Benar.

“Ada rumah sendiri.”

Benar.

“Anakmu kuliah tanpa mikir uang semester.”

Benar.

“Kalau usaha ini tutup, aku punya apa?”

Aku tidak menjawab.

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“Dua puluh tahun aku di sini.”

“Dan itu memberimu hak menyembunyikan komunikasi orang tua kita?”

“Aku capek dengar soal paket!”

“Karena paket itu membuktikan kamu sengaja membuat kami tidak bicara langsung.”

Bayu mendekat.

“Aku cuma mau mereka berhenti bergantung sama kamu.”

“Dengan membuat mereka bergantung sama kamu?”

Ia terdiam.

Aku membuka kardus ponsel yang tadi kubawa turun.

“Kenapa ini disembunyikan?”

Bayu memalingkan wajah.

“Jawab.”

“Aku tahu bagaimana kamu.”

“Bagaimana?”

“Begitu lihat Ibu capek sedikit, kamu datang, atur semuanya, terus pergi lagi sambil merasa selesai.”

Kalimat itu tajam karena sebagian benar.

Aku menurunkan ponsel.

Bayu melihat perubahan wajahku.

“Dulu waktu Bapak sakit, siapa yang bolak-balik rumah sakit?”

“Aku nggak bilang aku.”

“Waktu atap bocor tengah malam?”

“Aku kirim uang.”

“Nah.”

Ia tertawa kecil.

“Kamu selalu kirim uang.”

Aku tidak membalas.

“Uangmu sampai,” katanya. “Kamu yang nggak sampai.”

Ibu berkata, “Bayu.”

Tapi Bayu sudah terlalu lama menahan kalimat-kalimat itu.

“Waktu Mbak Ratih pindah Surabaya, aku yang berhenti kuliah. Waktu Bapak toko rugi, motorku dijual. Waktu Ibu mulai katering, aku antar pesanan pakai motor pinjaman.”

“Aku baru tahu itu malam ini.”

“Ya.”

“Kenapa nggak pernah bilang?”

Bayu menatap Ayah.

“Karena di rumah ini cuma ada satu anak yang boleh punya masa depan waktu itu.”

Ayah berdiri.

“Jangan.”

Bayu tertawa getir.

“Kenapa? Sekarang baru nggak boleh?”

Ayah memukul tongkat kayunya ke lantai satu kali.

“Aku yang salah.”

Kami semua menoleh.

Ayah menarik napas.

“Bukan Ratih yang minta kamu berhenti kuliah.”

Bayu diam.

“Aku.”

“Aku tahu.”

“Bukan Ratih yang jual motormu.”

“Bapak.”

“Aku.”

Ayah menunjuk dadanya sendiri.

“Kalau kamu mau marah tentang itu, marah ke aku.”

Wajah Bayu mengeras.

“Mudah ngomong sekarang.”

“Aku memang pengecut.”

Aku belum pernah mendengar Ayah menggunakan kata itu untuk dirinya sendiri.

“Waktu itu aku takut usaha tutup. Ratih baru dapat kerja. Aku pikir satu anak harus diselamatkan dulu.”

“Dan aku?”

Ayah menutup mata sebentar.

“Aku pikir kamu bisa menyusul.”

Bayu tertawa pelan.

“Dua puluh tiga tahun aku nunggu menyusul.”

Mira menatap suaminya.

Ibu menangis.

Aku tidak merasa menang.

Tidak ada kemenangan ketika sebuah keluarga akhirnya mengakui bahwa mereka telah membangun ketidakadilan dari keputusan yang awalnya disebut pengorbanan.

Aku berdiri.

“Bayu.”

Ia tidak menoleh.

“Aku tidak bisa mengembalikan tahun kuliahmu.”

Diam.

“Aku juga nggak bisa pura-pura semua ini nggak ada hubungannya dengan aku. Aku memilih nyaman dengan sistem kita. Kamu kirim foto, aku kirim uang. Aku nggak bertanya lebih jauh.”

Bayu menoleh.

“Tapi satu hal tetap nggak berubah.”

“Apa?”

“Kamu nggak berhak menghukum Ayah sama Ibu untuk sesuatu yang terjadi antara kamu, Bapak, dan aku.”

Aku menunjuk kamar belakang.

“Mereka nggak boleh tidur di gudang.”

“Siapa menghukum?”

“Kamu sembunyikan ponsel mereka.”

“Karena…”

“Kamu bohong soal paket.”

Bayu diam.

“Kamu pakai nama Ibu untuk utang yang tidak dia ketahui.”

Ia memalingkan wajah.

“Dan setiap kali mereka takut kehilangan kamu, kamu memakai ketakutan itu supaya semuanya tetap jalan.”

Mira berdiri.

“Ratih, cukup.”

“Belum.”

Aku berbalik kepada Ibu.

“Ibu mau tetap kerja di katering?”

Ibu menghapus pipinya.

“Kadang-kadang aku masih suka bikin lemper.”

“Bukan itu pertanyaanku.”

Ia menatap kalender.

“Nggak seperti sekarang.”

“Ayah?”

Ayah menggeleng.

Aku menghadap Bayu.

“Mulai malam ini mereka berhenti dari jadwal produksi.”

“Pesanan Sabtu siapa yang urus?”

“Itu masalah pengelola.”

“Kamu mau dua puluh tiga orang kehilangan kerja?”

“Jangan taruh keputusan usahamu di punggung dua orang tua.”

Bayu memukul meja.

“Terus solusimu apa?”

“Kita hitung.”

“Aku sudah hitung!”

“Kalau sudah, kenapa baru malam ini Ibu tahu Rp268 juta?”

Ia tidak menjawab.

Aku menarik kursi.

“Nisa, buka semua pesanan sampai enam puluh hari ke depan.”

Malam itu kami tidak tidur.

Bukan karena ada penemuan dramatis di sebuah map rahasia.

Kami duduk menghadapi sesuatu yang jauh lebih membosankan dan jauh lebih berbahaya: angka-angka yang selama berbulan-bulan sengaja tidak dilihat bersama.

Ada tiga puluh satu pesanan aktif.

Sebelas di antaranya tinggal seminggu.

Delapan masih bisa dibatalkan dengan kerugian terbatas.

Enam memiliki margin cukup baik.

Empat justru akan menambah kerugian kalau diteruskan.

Dua pesanan besar ternyata belum membeli bahan sama sekali meskipun uang mukanya sudah dipakai.

“Apa ada peralatan yang tidak dipakai?” tanyaku.

Nisa membuka daftar aset.

Satu freezer besar jarang digunakan.

Ada dua set dekorasi pelaminan yang dibeli Bayu saat mencoba memperluas paket usaha.

Ada satu mobil box tua yang biaya perbaikannya terus bertambah.

Aku tidak menawarkan cek.

Itu hal pertama yang mengejutkan Bayu.

Ia menunggu.

Aku tahu ia menunggu.

Selama bertahun-tahun, pola kami selalu sama.

Ada lubang.

Ratih mengirim uang.

Masalah selesai.

Kemudian muncul lubang baru.

Kali ini aku menutup laptop.

“Aku nggak akan bayar Rp268 juta.”

Mira mengembuskan napas tajam.

Bayu tersenyum pahit.

“Nah. Akhirnya.”

“Tapi aku akan bantu bayar gaji yang sudah menjadi hak pekerja.”

Bayu menatapku.

“Berapa?”

“Yang tertunggak saja.”

Nisa membuka catatan.

Rp34,7 juta.

Aku merasa sakit melihat jumlah itu.

Bukan karena aku tidak mampu.

Tetapi karena mentransfer uang adalah bagian termudah.

Bagian sulitnya adalah tetap tinggal setelah transfer dilakukan.

“Aku bayar besok,” kataku. “Sebagai pinjaman tertulis kepada usaha Ibu, bukan uang untuk Bayu.”

Bayu tertawa.

“Sekarang pakai surat segala.”

“Iya.”

“Ke keluarga sendiri?”

“Justru karena keluarga.”

Aku melanjutkan.

“Setelah itu tidak ada uang tambahan dariku untuk menutup kerugian usaha.”

“Lalu bahan?”

“Kita bicara Pak Harun besok. Kita jual aset yang nggak produktif. Pesanan yang rugi dinegosiasikan. Yang masih sehat diselesaikan. Jangan terima pesanan baru dulu.”

“Kalau nama kita rusak?”

“Nama Ibu sudah dipakai menanggung utang tanpa sepengetahuannya. Jangan bicara reputasi seolah itu masih utuh.”

Mira berkata, “Kalau tutup sementara, pelanggan pergi.”

“Bisa.”

“Terus kami makan apa?”

Itulah harga sebenarnya.

Bukan sekadar rasa malu.

Bayu dan Mira menggantungkan seluruh kehidupan mereka pada usaha itu.

Cicilan motor.

Sekolah anak.

Listrik.

Makan.

Bayu bukan penjahat yang duduk menghitung keuntungan dari penderitaan orang tuaku.

Ia laki-laki yang membangun seluruh harga dirinya di atas satu usaha, membuat keputusan buruk, lalu semakin takut mengakui keadaan setiap kali lubangnya membesar.

Tetapi ketakutan seseorang tidak membuat orang lain wajib menjadi korban.

“Aku bantu cari jalan supaya kalian punya penghasilan,” kataku.

Bayu menyindir, “Kasihan sekali.”

“Tapi aku nggak akan menyelamatkan usaha dengan membiarkan Ibu tanda tangan utang baru.”

Bayu bangkit.

“Kalau begitu urus sendiri.”

Ia masuk kamar dan membanting pintu.

Untuk pertama kalinya, aku membiarkannya pergi.


Pak Harun datang pukul sebelas kurang lima.

Aku sudah menyiapkan catatan.

Bayu tidak mau keluar kamar sampai Ibu sendiri mengetuk.

“Ini urusanku juga,” kata Ibu.

Akhirnya ia muncul.

Kami duduk di ruang depan yang biasanya digunakan menerima klien.

Tidak ada pengacara.

Tidak ada pejabat.

Tidak ada orang kaya yang datang membawa solusi.

Hanya seorang supplier yang ingin uangnya kembali, sebuah keluarga yang tidak lagi bisa menyembunyikan angka, dan dua pekerja administrasi yang membawa catatan pembelian.

Pak Harun mendengarkan selama hampir setengah jam.

Ia tidak senang.

“Saya bukan bank,” katanya.

“Saya tahu,” jawabku.

Kami menunjukkan barang yang bisa dijual dan daftar enam pesanan yang margin pembayarannya masih cukup untuk melanjutkan produksi.

Bayu beberapa kali memotong.

“Kalau semua aset dijual, nanti kita mulai lagi pakai apa?”

Aku menjawab, “Masalahmu sekarang bukan mulai lagi. Masalahmu menyelesaikan yang sudah kamu janjikan.”

Pak Harun bersedia mengirim bahan hanya untuk tiga pesanan terdekat dengan pembayaran tunai sebagian.

Tidak ada kredit baru.

Utang lama dicicil dari penjualan aset dan pembayaran pelanggan yang belum lunas.

“Nama Bu Sulastri saya keluarkan dari surat baru,” katanya. “Tapi utang lama tetap harus dibereskan.”

Ibu mengangguk.

“Itu adil.”

Bayu tidak berkata apa-apa.

Setelah Pak Harun pergi, aku menerima telepon dari kantor.

Timku di Surabaya sedang menyiapkan presentasi tender katering pabrik baru.

Nilainya besar.

Aku dijadwalkan bertemu calon klien dua hari kemudian.

Aku memandang Ibu.

Kemudian melihat kalender produksi.

Aku menelepon manajerku.

“Aku nggak bisa pulang Kamis.”

Di seberang telepon hening.

“Bu, presentasinya?”

“Kamu pimpin.”

“Tapi mereka minta Ibu hadir.”

“Kalau karena aku nggak hadir kita gagal, berarti selama ini aku membangun tim yang salah.”

Aku mengucapkan itu dengan tenang.

Setelah telepon ditutup, tanganku tetap memegang ponsel beberapa detik.

Ada kemungkinan aku baru saja kehilangan kontrak yang sudah kami kejar empat bulan.

Itulah harga keputusanku.

Untuk pertama kalinya, aku tidak sekadar mengirim uang lalu kembali bekerja.

Aku tinggal.


Tiga hari pertama sangat buruk.

Empat klien marah ketika diberi tahu paket dekorasi mereka harus disederhanakan.

Satu keluarga membatalkan pesanan.

Dua pekerja panggilan memilih mencari pekerjaan lain.

Mira menangis ketika mobil box dijual Rp46 juta, jauh di bawah harga yang Bayu harapkan.

Freezer terjual kepada usaha bakso.

Dua set dekorasi dibeli pemilik persewaan alat pesta.

Uang itu tidak masuk ke tangan Bayu.

Nisa membuat rekening operasional baru atas nama usaha dengan akses transaksi yang diketahui Ibu dan dicatat bersama.

Aku tidak memegang rekening itu.

Itu penting.

Aku datang bukan untuk menggantikan Bayu sebagai pengendali baru.

Aku ingin sistemnya berubah.

Bayu hampir tidak bicara kepadaku.

Kalau perlu mengatakan sesuatu, ia menyampaikannya melalui Nisa.

Tetapi ia tetap datang ke dapur setiap pagi.

Ia masih bekerja.

Ia masih mengurus pengiriman.

Dan tanpa Ayah serta Ibu sebagai tenaga gratis, untuk pertama kalinya ia melihat berapa biaya sebenarnya untuk menjalankan usaha itu.

Pada hari keempat ia berdiri di depan pintu kamar belakang.

Aku sedang membantu memindahkan lemari pakaian orang tuaku.

“Mau dibawa ke mana?”

“Aku sewa rumah kecil tiga gang dari sini.”

Bayu langsung marah.

“Kenapa?”

“Karena mereka mau punya tempat tinggal yang bukan gudang usaha.”

“Ini rumah mereka.”

“Sekarang sebagian besar rumah ini tempat usaha dan tempat keluargamu tinggal.”

“Ya terus?”

Aku memandangnya.

“Bayu, dengarkan pertanyaanmu sendiri.”

Ia terdiam.

Ibu keluar membawa tas pakaian.

“Kami nggak pergi jauh.”

Bayu menatapnya.

“Ibu marah sama aku?”

Ibu menghela napas.

“Kalau marah, Ibu bisa marah dari rumah baru.”

“Maksud Ibu?”

“Maksudnya Ibu tetap ibumu.”

Bayu menelan ludah.

“Tapi Ibu nggak mau bangun jam lima buat bikin lemper seratus lima puluh buah lagi.”

Bayu melihat ke samping.

Ibu melanjutkan.

“Kalau Ibu kangen masak, Ibu datang. Kalau badan enak.”

“Iya.”

“Bukan karena jadwal.”

Bayu mengangguk kecil.

Ayah berjalan keluar membawa sebuah jam tangan.

Jam yang kukirim tiga tahun lalu.

Tadi pagi kami membuka kardusnya bersama.

Tali jamnya terlalu panjang sehingga Ayah meminta tukang jam di ujung jalan mengecilkannya.

Bayu melihat jam itu.

Wajahnya berubah.

“Ayah suka?”

Ayah mengusap kacanya.

“Lumayan.”

Aku hampir tersenyum.

Itulah cara Ayah memuji sesuatu sejak dulu.

Bayu menatapku.

Untuk sesaat aku merasa ia mungkin akan meminta maaf.

Ia tidak melakukannya.

Mungkin itu lebih jujur.


Minggu kedua, masalah yang lebih sulit muncul.

Salah satu pelanggan lama menelepon Ibu langsung.

Mereka mendengar kabar Dapur Sulastri sedang bermasalah dan ingin menarik uang muka Rp18 juta.

Bayu panik.

“Kita nggak punya cash segitu.”

Aku berkata, “Berapa uangnya yang sudah dipakai?”

“Semua.”

“Kita telepon mereka bersama.”

“Apa bilangnya?”

“Yang benar.”

Bayu menatapku seolah aku menawarkan metode bisnis yang belum pernah ditemukan manusia.

Kami menjelaskan bahwa usaha sedang mengurangi kapasitas.

Pelanggan marah.

Sangat marah.

Mereka mengancam menulis di media sosial.

Bayu mulai berjanji akan mengembalikan seluruh uang dalam tiga hari.

Aku menutup mikrofon ponsel.

“Jangan janji sesuatu yang nggak bisa dilakukan.”

“Terus?”

“Kasih pilihan.”

Akhirnya kami menawarkan pengembalian Rp8 juta minggu itu dan sisanya dicicil dua kali, atau pesanan tetap berjalan dengan menu yang disesuaikan dan pengawasan biaya.

Mereka memilih pengembalian bertahap.

Setelah telepon ditutup, Bayu bersandar.

“Dulu aku selalu takut kalau pelanggan tahu kita lagi susah.”

“Sekarang?”

“Masih takut.”

Aku menunggu.

“Tapi ternyata mereka nggak mati setelah dengar.”

Aku tertawa.

Untuk pertama kalinya sejak aku pulang, Bayu ikut tersenyum sedikit.

Hanya beberapa detik.

Kemudian ia kembali bekerja.

Itu bukan perdamaian.

Aku tidak menginginkan perdamaian palsu.

Aku lebih menghargai perubahan kecil yang memiliki biaya.


Pada minggu ketiga, aku menemukan sesuatu yang membuatku lebih marah kepada diriku sendiri daripada kepada Bayu.

Aku sedang membuka smartphone baru Ibu.

Smartphone lama yang selama tiga tahun berada di dalam kardus itu masih berfungsi setelah diisi daya.

Aku memasukkan kartu SIM baru.

Kemudian aku membantu Ibu membuat daftar kontak.

Ketika aku menekan namaku sendiri, Ibu berkata, “Dulu sebenarnya aku pernah minta nomor kamu ke Bayu.”

Aku berhenti.

“Kapan?”

“Waktu Bapak jatuh di kamar mandi.”

Aku ingat kejadian itu.

Bayu meneleponku dan berkata Ayah hanya terpeleset ringan.

Aku langsung mentransfer Rp5 juta untuk pemeriksaan dan obat.

Tidak pernah menelepon Ayah.

Tidak pernah bertanya apakah Ibu takut.

Aku hanya mengirim uang.

“Kenapa Ibu nggak telepon pakai HP tetangga?”

Ibu tertawa pelan.

“Ratih, orang tua itu juga punya gengsi.”

Aku duduk.

“Aku takut kamu bilang, ‘Makanya ikut aku ke Surabaya.’”

“Aku nggak akan bilang begitu.”

“Sekarang kamu bilang begitu.”

Aku terdiam.

Mungkin tiga tahun lalu aku memang akan mengatakannya.

Bukan karena ingin mengusir mereka dari rumah.

Karena aku terbiasa mengubah kecemasan menjadi solusi.

Dan solusi bagiku sering berarti mengambil alih.

“Maaf.”

Ibu mengusap layar ponsel.

“Kamu dan Bayu mirip.”

Aku langsung menoleh.

“Jangan keterlaluan.”

Ibu tertawa.

“Dia atur orang supaya tetap dekat. Kamu atur orang supaya masalah cepat selesai.”

Aku ingin membantah.

Tidak jadi.

Ibu benar.

Kami hanya menggunakan alat berbeda.

Bayu menggunakan rasa bersalah.

Aku menggunakan uang dan efisiensi.

Keduanya bisa membuat orang lain kehilangan suara kalau kami tidak hati-hati.


Dua puluh delapan hari setelah aku pulang, kami mengadakan rapat terakhir untuk menentukan nasib katering.

Bukan rapat keluarga di meja makan.

Kami duduk di dapur produksi setelah pesanan terakhir bulan itu dikirim.

Kompor sudah mati.

Bau santan dan daun pisang masih tersisa.

Ada aku, Bayu, Mira, Ibu, Ayah, Nisa, dan Pak Wawan, kepala produksi yang sudah bekerja sembilan tahun.

Nisa membacakan kondisi terbaru.

Utang pemasok turun menjadi Rp121 juta.

Gaji pekerja tidak lagi tertunggak.

Delapan pekerja panggilan dilepas karena tidak ada cukup pesanan.

Sebagian utang masih harus dicicil berbulan-bulan.

Usaha tidak sehat.

Tetapi tidak lagi berlari menuju jurang sambil pura-pura semuanya baik.

Bayu berkata, “Kalau kita buka pesanan baru bulan depan, kita bisa mulai naik.”

Aku tidak bicara.

Keputusan bukan milikku.

Ibu menatap angka-angka.

“Aku nggak mau namaku dipakai lagi.”

Bayu menegang.

“Bu.”

“Dapur Sulastri cukup sampai pesanan yang masih ada selesai.”

Mira langsung berkata, “Kalau namanya diganti pelanggan bisa hilang.”

Ibu tersenyum.

“Memang harus ada yang berubah.”

Bayu menatap meja.

“Jadi Ibu mau tutup usaha yang aku bangun dua puluh tahun?”

Ibu menggeleng.

“Kamu boleh lanjut.”

“Terus?”

“Pakai namamu.”

Bayu terdiam.

“Kalau mau buka Bayu Catering, ya buka.”

Mira ingin bicara tetapi mengurungkan niat.

Ibu melanjutkan.

“Resep boleh pakai. Peralatan yang memang milik usaha juga bisa dihitung. Tapi utang baru jangan pakai nama Ibu.”

Bayu tertawa hambar.

“Orang kenal nama Ibu.”

“Itu justru masalahnya.”

Bayu mengangkat wajah.

“Jadi setelah semua yang kulakukan…”

Ayah memotong.

“Jangan lagi mulai kalimat dengan itu.”

Bayu menatapnya.

Ayah duduk tegak.

“Kamu memang banyak berkorban.”

Tidak ada yang menyela.

“Aku nggak pernah bilang tidak.”

Ayah menunjuk dapur.

“Tapi pengorbanan bukan surat izin seumur hidup.”

Bayu menatap Ayah lama sekali.

Kemudian ia berkata, “Bapak gampang ngomong. Yang bikin semuanya mulai begini juga Bapak.”

“Iya.”

Jawaban itu membuat Bayu kehilangan serangan berikutnya.

Ayah mengangguk.

“Aku yang dulu memilih siapa yang sekolah dulu. Aku yang membuat kamu merasa harus menanggung rumah ini. Aku salah.”

Bayu menatap tangannya.

Ayah melanjutkan.

“Tapi kalau kesalahanku kamu teruskan ke ibumu, kapan berhentinya?”

Tidak ada jawaban.

Aku melihat Bayu menggosok kedua telapak tangannya.

Kebiasaan lama ketika ia gugup.

“Aku nggak tahu kerja apa kalau ini gagal,” katanya akhirnya.

Bukan marah.

Bukan tuduhan.

Hanya takut.

Mira menatap suaminya.

Bayu melanjutkan, “Aku empat puluh lima tahun. CV-ku cuma usaha ini.”

Aku hampir mengatakan bahwa aku bisa memasukkannya ke perusahaanku.

Kalimat itu sudah sampai di ujung lidah.

Aku menahannya.

Itu pola lamaku.

Masalah muncul.

Ratih menyediakan jalan keluar.

Sebagai gantinya semua orang tetap menjadi anak-anak.

“Apa yang sebenarnya kamu bisa?” tanyaku.

Bayu mengerutkan kening.

“Apa?”

“Selama dua puluh tahun, kerjaanmu apa saja?”

“Ya ngurus katering.”

“Rinci.”

Ia kesal.

“Cari supplier. Negosiasi harga. Ngatur pengiriman. Ngurus pekerja. Cari pelanggan.”

“Yang lain?”

“Ngitung kebutuhan bahan.”

“Yang lain?”

Ia berhenti.

Pak Wawan berkata, “Mas Bayu bagus kalau cari barang. Harga minyak kita dulu bisa turun karena dia pindah distributor.”

Nisa menambahkan, “Dia hafal pemasok hampir semua bahan.”

Aku mengangguk.

“Itu pekerjaan.”

Bayu menatapku.

“Bukan bantuan dariku,” kataku. “Bukan jabatan di perusahaanku. Pekerjaan.”

Dua hari kemudian Nisa membantu membuat CV Bayu.

Aku hanya memeriksanya sekali.

Enam minggu kemudian ia diterima sebagai supervisor pembelian di sebuah usaha makanan beku di Ungaran.

Gajinya tidak sebesar penghasilan yang dulu ia ambil dari katering ketika sedang ramai.

Tetapi untuk pertama kalinya dalam hidup dewasanya, uang bulanannya tidak bergantung pada seberapa banyak keluarganya bersedia menanggung risikonya.

Mira mulai menerima pesanan snack kecil dari rumah.

Tidak ada paket pernikahan.

Tidak ada utang bahan ratusan juta.

Kadang hanya tiga puluh kotak risoles untuk rapat kantor.

Awalnya ia malu.

Kemudian suatu sore aku melihat unggahannya.

Pelan-pelan, yang penting uang belanja bukan dari uang muka pesanan bulan depan.

Aku tidak memberi komentar.

Tapi aku menyimpan foto itu.


Tiga bulan kemudian aku kembali ke Surabaya.

Tender yang kutinggalkan ternyata tidak kami dapatkan.

Manajerku meminta maaf berkali-kali.

Aku bilang itu risiko yang sudah kupahami saat memilih tinggal.

Aneh.

Aku kehilangan kontrak besar dan tidak merasa hidupku runtuh.

Mungkin karena untuk pertama kalinya aku tahu persis untuk apa aku membayar harga itu.

Bukan untuk menyelamatkan semua orang.

Untuk hadir ketika kehadiranku memang dibutuhkan.

Ayah dan Ibu tetap tinggal di rumah kontrakan kecil yang kusewa hanya untuk enam bulan pertama.

Setelah itu mereka bersikeras membayar separuh sewanya dari uang pensiun Ayah.

Aku setuju.

Dulu aku pasti menolak.

Sekarang aku belajar bahwa menerima kontribusi orang lain juga salah satu bentuk menghormati mereka.

Mereka punya dua kamar.

Ada teras sempit.

Ibu menanam cabai di pot bekas cat.

Ayah punya kursi plastik khusus untuk membaca koran.

Mereka masih datang ke bekas Dapur Sulastri seminggu sekali karena rindu para pekerja.

Ibu kadang membuat lemper.

Maksimal lima puluh.

Kalau capek, ia pulang.

Bayu tidak pernah lagi mengatur jadwalnya.

Utang usaha belum lunas seluruhnya.

Bayu dan Mira menjual satu motor kedua mereka.

Sebagian pembayaran dari pekerjaan baru Bayu masuk ke cicilan utang pemasok setiap bulan.

Rp1,5 juta.

Kadang Rp2 juta jika ada lembur.

Tidak besar.

Tetapi uang itu datang tanpa aku minta.

Kami juga belum menjadi kakak-adik yang saling menelepon setiap hari.

Ada terlalu banyak luka lama untuk selesai dalam satu percakapan dapur.

Bayu belum pernah mengatakan, “Maaf sudah menyembunyikan paket.”

Aku juga belum mengatakan, “Aku memaafkan semuanya.”

Kami belum sampai sana.

Mungkin suatu hari.

Mungkin tidak.

Tetapi sekarang ketika ia kesal, ia mengatakan langsung kepadaku.

Tidak melalui Ibu.

Dan ketika Ibu membutuhkan sesuatu, ia meneleponku sendiri.

Itu ternyata perubahan yang jauh lebih besar daripada yang terlihat.

Suatu Minggu pagi aku sedang membuat kopi di Surabaya ketika ponselku berbunyi.

Panggilan video dari Ibu.

Aku menerimanya.

Wajahnya muncul terlalu dekat dengan kamera.

Hanya terlihat dahi dan satu mata.

“Bu, HP-nya jauhin sedikit.”

“Ini jauh.”

“Itu dekat.”

“Lho, kamu kelihatan kok.”

Aku tertawa.

Kemudian kamera bergerak.

Aku melihat teras kecil rumahnya.

Ayah sedang menyiram tanaman.

Di meja ada sepiring pisang goreng.

Tidak ada kardus bahan katering.

Tidak ada nampan kotor.

Tidak ada jadwal produksi pukul lima pagi.

Ibu membalik kamera lagi.

“Bayu tadi ke sini.”

“Ngapain?”

“Bawa minyak goreng.”

Aku tersenyum.

“Terus?”

“Ya sudah. Pulang.”

Tidak semua kunjungan keluarga harus membawa utang, permintaan, atau perhitungan masa lalu.

Kadang seseorang datang hanya membawa dua liter minyak goreng.

Dan itu cukup.

Sebelum menutup telepon, Ibu berkata, “Ratih.”

“Hm?”

“HP ini ternyata enak.”

Aku melihat smartphone yang tiga tahun pernah disimpan di dalam lemari terkunci agar kami tidak terlalu dekat.

“Jangan dititipkan siapa-siapa lagi, Bu.”

Ibu tertawa.

“Nggak.”

Ia meletakkannya di meja.

Kali ini, ponsel itu tetap berada di tangannya sendiri.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Menurut kalian, batas antara membantu keluarga dan membiarkan diri terus dipakai itu mulai terlihat di titik mana? Semoga kita semua diberi kesehatan, rezeki yang cukup, dan keberanian untuk tetap menyayangi keluarga tanpa kehilangan hak untuk berkata tidak ketika sesuatu sudah tidak sehat.