Di Perayaan 25 Tahun Usaha Keluarga, Kakakku Menyuruh Kursi Rodaku Dipindahkan Agar Tidak Mengganggu Foto; Lalu Putra Seorang Karyawan Mengajakku ke Tengah Ballroom dan Membisikkan Sesuatu tentang Pabrik Kami

Avatar penulis
Cerita 01
16 menit baca 432 tayangan
Di Perayaan 25 Tahun Usaha Keluarga, Kakakku Menyuruh Kursi Rodaku Dipindahkan Agar Tidak Mengganggu Foto; Lalu Putra Seorang Karyawan Mengajakku ke Tengah Ballroom dan Membisikkan Sesuatu tentang Pabrik Kami
Indeks

BAGIAN 3

Aku tidak langsung menjawab.

Suara kulkas di dapur terdengar lebih jelas daripada biasanya.

Ibu duduk di sofa di depanku, kedua tangannya menggenggam tas seperti seseorang yang sedang menunggu dipanggil masuk ruang pemeriksaan.

“Apa maksud Ibu menyuruh?” tanyaku akhirnya.

Ibu mengusap bibirnya.

“Setelah Bapak meninggal, Intan sering bilang dia capek.”

“Semua orang capek waktu itu.”

“Iya.”

Di Perayaan 25 Tahun Usaha Keluarga, Kakakku Menyuruh Kursi Rodaku Dipindahkan Agar Tidak Mengganggu Foto; Lalu Putra Seorang Karyawan Mengajakku ke Tengah Ballroom dan Membisikkan Sesuatu tentang Pabrik Kami

“Tapi kenapa jawabannya membuat usaha baru memakai pabrik kita?”

“Ibu belum selesai.”

Aku menahan diri.

Ibu melanjutkan.

“Waktu kamu masih bolak-balik terapi, Intan mengurus semuanya. Supplier, karyawan, toko, pajak, komplain. Rizal juga banyak membantu.”

“Aku tahu.”

“Dia takut nanti kalau Ibu tidak ada, semua yang dia bangun akan dibagi begitu saja.”

Aku tertawa kecil tanpa humor.

“Dibagi dengan aku maksudnya?”

Ibu tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

“Jadi selama ini dia menganggap aku orang luar?”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Ibu mengangkat wajah.

“Kamu selalu punya kemampuan sendiri, Yu. Desainmu bagus. Kamu bisa kerja dari mana saja.”

Aku memandangnya lama.

Lalu tiba-tiba aku mengerti sesuatu.

Bukan soal NusaKita.

Bukan soal kardus.

Bukan soal lembur.

Tentang cara keluargaku melihatku sejak kecelakaan.

Aku bukan lagi orang yang punya bagian.

Aku orang yang “masih bisa melakukan sesuatu”.

Itu berbeda.

“Karena aku bisa kerja dari rumah, berarti bagian pabrik boleh diberikan ke Intan?”

“Ibu tidak bilang begitu.”

“Tapi Ibu bertindak begitu.”

Ibu menggeleng cepat.

“Ibu cuma bilang ke Intan, kalau dia mau bikin merek sendiri, silakan. Supaya dia punya pegangan. Supaya nanti tidak merasa semuanya harus dibagi.”

“Dengan modal siapa?”

“Ibu kira pakai uang mereka.”

“Mesinnya?”

Ibu diam.

“Karyawannya?”

Diam.

“Minyak, singkong, gas, listrik, kardus?”

“Ayu…”

“Ibu tahu itu?”

“Tidak semua.”

Aku menghela napas.

Untuk pertama kalinya malam itu, amarahku turun sedikit.

Bukan hilang.

Hanya berubah bentuk.

“Jadi Ibu tahu ada NusaKita, tapi tidak tahu sejauh apa memakai Sari Nusa.”

Ibu mengangguk.

“Kenapa tidak pernah bilang ke aku?”

“Ibu takut kamu tersinggung.”

Aku hampir tertawa lagi.

“Aku sekarang lebih tersinggung, Bu.”

“Ibu tahu.”

“Tidak. Ibu baru tahu karena ketahuan.”

Kalimatku membuat mata Ibu berkaca-kaca.

Aku tidak meminta maaf.

Dulu aku akan langsung merasa bersalah.

Malam itu aku membiarkan kalimat itu tinggal di antara kami.

Beberapa detik kemudian Ibu berkata, “Waktu itu Intan sempat bilang mau keluar dari perusahaan.”

“Kenapa?”

“Katanya kalau setiap keputusan besar harus menunggu kamu pulih, usaha tidak bisa maju.”

Aku menatap meja.

Satu bagian dalam diriku ingin membela diri.

Bagian lain tahu bahwa pada tahun pertama setelah kecelakaan, mungkin ia benar.

Aku sulit dihubungi.

Ada hari-hari ketika hanya mandi dan berpindah dari tempat tidur ke kursi sudah menghabiskan energiku.

Aku pernah mematikan ponsel tiga hari karena tidak ingin mendengar kabar pabrik.

Intan menanggung banyak hal.

Aku tahu.

Tetapi utang moral tidak sama dengan cek kosong.

“Aku tidak marah karena dia punya usaha sendiri,” kataku.

“Lalu?”

“Aku marah karena usaha sendiri itu dibangun memakai sesuatu yang dianggap tidak perlu lagi dijelaskan kepadaku.”

Ibu menatapku.

“Aku juga marah sama diriku.”

“Kenapa?”

“Karena aku membiarkan semua orang terbiasa mengambil keputusan untukku.”

Ibu membuka mulut, tapi aku mengangkat tangan.

“Termasuk Ibu.”

Ia terdiam.

Aku tidur hanya tiga jam malam itu.

Pukul tujuh pagi berikutnya, aku mengirim pesan kepada Intan.

Besok jam 09.00 kita bertemu di pabrik. Aku, kamu, Ibu, Rizal, Pak Dedi, Bu Sari. Tidak perlu keluarga besar. Tidak perlu grup WhatsApp. Kita bicara pakai angka dan jadwal produksi.

Intan membalas lima belas menit kemudian.

Ngapain bawa karyawan?

Aku menjawab:

Karena masalahnya sudah melibatkan pekerjaan mereka.

Tidak ada balasan lagi.

Besoknya aku datang lebih awal.

Kardus di jalur landai sudah dipindahkan.

Aku tidak tahu siapa yang menyuruh.

Aku tidak bertanya.

Di ruang rapat kecil, Pak Dedi membawa laptop.

Bu Sari membawa buku jadwal produksi.

Ibu duduk dekat jendela.

Rizal datang terakhir bersama Intan.

Intan bahkan tidak duduk.

“Aku tidak setuju Bu Sari ada di sini.”

Bu Sari langsung berdiri.

“Kalau begitu saya keluar, Bu.”

“Duduk, Bu,” kataku.

Intan menatapku.

“Ini urusan keluarga.”

“Upah lembur Bu Sari dibayar Sari Nusa untuk produksi NusaKita. Itu bukan lagi hanya urusan keluarga.”

Rizal menarik kursi.

“Ayu, kita jangan bikin suasana seperti sidang.”

“Bagus. Karena aku juga tidak mau sidang.”

Aku menatap Pak Dedi.

“Aku hanya ingin tahu tiga hal. Berapa biaya NusaKita yang dibayar Sari Nusa, sejak kapan, dan apakah pernah ada penggantian.”

Intan akhirnya duduk.

“Sudah kubilang semuanya akan dihitung.”

“Sekarang kita hitung.”

Pak Dedi terlihat seperti ingin menghilang ke bawah meja.

Aku berkata, “Pak, tidak ada yang akan menyalahkan Bapak karena mengikuti perintah. Tampilkan saja data yang ada.”

Ia membuka rekap.

Kami mulai dari bahan baku.

Singkong.

Minyak.

Bumbu.

Gas.

Kemasan dasar.

Kemudian jam mesin.

Lembur.

Penggunaan kendaraan.

Gudang.

Tidak semuanya bisa dihitung tepat.

Sebagian tidak pernah dipisah.

Itulah masalahnya.

Setelah hampir satu jam, estimasi sementara mencapai Rp214 juta.

Rizal langsung berkata, “Itu bukan kerugian. Itu penggunaan fasilitas.”

Aku menoleh.

“Kalau aku memakai bengkel orang lain sebelas bulan tanpa bayar, itu disebut apa?”

“Jangan disederhanakan.”

“Baik. Jelaskan.”

Rizal membuka kedua tangan.

“NusaKita itu masih bagian dari ekosistem keluarga.”

“PT-nya atas nama siapa?”

Dia diam.

Intan menjawab, “Aku dan Rizal.”

“Sari Nusa punya bagian?”

“Tidak.”

“Ibu?”

“Tidak.”

“Aku?”

Intan menghela napas.

“Kamu tahu jawabannya.”

“Jadi ekosistem keluarga itu artinya laba milik kalian, biaya milik kita?”

Ibu menundukkan kepala.

Rizal berkata, “Bahasanya tidak perlu dibuat seperti itu.”

“Angkanya yang membuat seperti itu.”

Kami melanjutkan.

Ada Rp72 juta biaya lembur.

Sekitar Rp31 juta penggunaan kendaraan dan pengiriman yang sulit dipisah.

Beberapa packaging NusaKita memang dibayar oleh perusahaan Rizal.

Tetapi sebagian besar biaya produksi masih masuk ke Sari Nusa.

Total sementara mendekati Rp300 juta.

Kemudian Pak Dedi membuka daftar utang supplier.

Aku membaca angka paling bawah dua kali.

“Kenapa kita masih punya utang Rp117 juta ke pemasok minyak?”

Pak Dedi melihat Intan.

Aku ikut melihatnya.

Intan berkata, “Cash flow sedang ketat.”

“Karena?”

“Penjualan toko fisik turun.”

“Penjualan Sari Nusa turun sedikit. Bukan sampai segini.”

Tidak ada yang menjawab.

Aku menarik napas.

“NusaKita pernah membayar biaya produksi ke Sari Nusa?”

Pak Dedi menjawab pelan.

“Tiga kali.”

“Berapa?”

“Total Rp38 juta.”

Rizal cepat menyela.

“Karena sisanya dianggap investasi awal.”

“Siapa yang menyetujui investasi?”

Intan menepuk meja.

“Aku!”

Ruangan tidak menjadi sunyi dramatis.

Justru kipas AC terus berbunyi.

Bu Sari membalik halaman bukunya.

Dari bagian produksi terdengar troli didorong.

Hidup tetap berjalan meski sebuah keluarga sedang pecah di ruangan sebelahnya.

“Aku yang menyelamatkan pabrik ini waktu semuanya kacau,” kata Intan.

Suaranya bergetar.

“Aku yang menghadapi supplier ketika Bapak masuk rumah sakit. Aku yang ke pabrik jam lima pagi. Aku yang menjual gelangku waktu uang gaji kurang.”

“Aku tidak pernah bilang itu tidak terjadi.”

“Tapi kamu duduk di sini sekarang seperti auditor.”

“Karena aku tidak tahu apa yang terjadi di perusahaan sendiri.”

“Kamu mau tahu kenapa?”

Aku menatapnya.

Intan tertawa kecil.

“Karena kamu tidak ada.”

Kalimat itu keras.

Ibu langsung berkata, “Tan.”

“Biar.”

Intan menatapku lurus.

“Semua orang selalu hati-hati kalau bicara sama Ayu sejak kecelakaan. Jangan bikin Ayu stres. Jangan kasih terlalu banyak masalah. Jangan suruh Ayu datang jauh-jauh.”

Ia menunjuk meja.

“Tapi siapa yang dapat semua masalahnya? Aku.”

Aku tidak memotong.

“Ketika kamu terapi, aku yang kerja. Ketika Bapak meninggal, semua orang peluk kamu karena kamu menangis sampai sesak. Aku habis dari rumah sakit langsung ke pabrik karena besok ada pengiriman.”

Matanya mulai merah.

“Aku juga kehilangan Bapak.”

Aku menunduk sebentar.

Itu benar.

Aku masih ingat hari pemakaman.

Semua orang bertanya apakah aku kuat duduk lama.

Apakah kursiku nyaman.

Apakah aku perlu masuk kamar.

Tidak ada yang bertanya kepada Intan kapan terakhir ia tidur.

Aku berkata pelan, “Aku tahu aku meninggalkan banyak hal ke kamu.”

“Tidak. Kamu tidak tahu.”

“Mungkin.”

Intan terdiam.

Aku melanjutkan.

“Tapi kalau kamu marah karena empat tahun lalu aku tidak bisa berdiri di pabrik bersamamu, kenapa hukumannya harus berjalan sampai sekarang?”

Wajahnya berubah.

“Aku tidak menghukum kamu.”

“Kamu membuat keputusan seolah aku tidak perlu tahu.”

“Karena setiap kali kubahas masalah usaha, Ibu bilang jangan ganggu kamu.”

Aku menoleh kepada Ibu.

Ibu menatap pangkuannya.

Ada bagian lain yang jatuh pada tempatnya.

Intan memang mengambil alih.

Tapi kami semua membantu menciptakan keadaan itu.

Aku dengan diamku.

Ibu dengan perlindungannya.

Intan dengan kemarahannya.

Rizal dengan kesempatan yang terlalu nyaman untuk ditolak.

Bu Sari berkata pelan, “Maaf, Bu, boleh saya bicara?”

Intan tidak menjawab.

Aku mengangguk.

“Kami di bawah sebenarnya tidak keberatan bikin NusaKita.”

Ia berhenti.

“Yang bikin orang mulai ngomong karena kalau lembur NusaKita banyak, target Sari Nusa tetap sama. Orang capek. Tapi kalau tanya, jawabannya selalu nanti dibenahi.”

Intan menyandarkan tubuh ke kursi.

Bu Sari melanjutkan.

“Kalau memang usaha Bu Intan sendiri, kami cuma minta jelas. Kerja untuk siapa. Dibayar siapa.”

Kalimat sederhana itu menghantam lebih tepat daripada semua angka di laptop.

Kerja untuk siapa.

Dibayar siapa.

Aku melihat Intan.

“Itu yang aku minta juga.”

Rizal menyilangkan tangan.

“Jadi maumu apa?”

Inilah bagian yang paling sulit.

Marah sebenarnya mudah.

Menghukum juga mudah dibayangkan.

Aku bisa meminta NusaKita berhenti saat itu juga.

Aku bisa memutus produksi.

Aku bisa membuat semua orang memilih pihak.

Tetapi ada hampir enam puluh karyawan yang tidak ikut membuat kekacauan ini.

Ada pesanan yang sudah dibayar pelanggan.

Ada supplier yang menunggu uang.

Batas tidak harus berarti membakar rumah supaya orang berhenti mengambil barang dari kamarmu.

“Aku tidak akan menghentikan pesanan NusaKita yang sudah masuk,” kataku.

Rizal tampak sedikit lega.

Aku belum selesai.

“Sampai tiga minggu ke depan, semua produksi yang sudah dijanjikan boleh diselesaikan.”

Intan bertanya, “Lalu?”

“Mulai hari ini, bahan NusaKita dipisah.”

Aku menatap Pak Dedi.

“Buat kode barang sendiri. Jam kerja sendiri. Lembur sendiri. Kendaraan kalau dipakai, dicatat.”

Rizal mendengus.

“Administrasinya jadi ribet.”

“Memiliki dua perusahaan memang lebih ribet daripada berpura-pura hanya punya satu.”

Ia menutup mulut.

Aku melanjutkan.

“NusaKita membayar biaya produksi normal ke Sari Nusa. Bukan harga teman, bukan harga keluarga. Harga maklon yang masuk akal.”

Intan menatapku.

“Kami belum mampu.”

“Kalau belum mampu, cari pabrik lain yang mau memberi harga sesuai kemampuan kalian.”

Wajah Rizal mengeras.

“Ayu.”

“Aku belum selesai.”

Aku menunjuk angka di layar.

“Rp38 juta yang sudah dibayar kita kurangi dari perhitungan. Sisanya kita hitung wajar. Tidak perlu dipaksakan lunas sekaligus.”

Ibu menatapku.

“Dicicil?”

“Iya.”

Aku melihat Intan.

“Kalau kamu mau.”

Intan tidak menjawab.

“Dan soal kerja sama distributor yang kamu minta aku tanda tangani…”

Intan langsung berkata, “Itu justru kesempatan besar.”

“Untuk perusahaan mana?”

Diam.

Aku sudah tahu.

“NusaKita?”

Rizal menjawab, “Distributor minta jaminan kapasitas produksi dari Sari Nusa. Karena pabriknya…”

Aku tertawa kecil.

“Jadi formalitas yang kemarin itu sebenarnya persetujuanku agar pabrik keluarga menjamin produksi usaha kalian.”

“Ayu, ini bisa menguntungkan semuanya.”

“Bagaimana?”

“Volume naik.”

“Laba NusaKita naik.”

“Kita bisa bayar maklon.”

“Kalian belum pernah menjelaskan itu sebelum meminta tanda tanganku.”

Rizal memijat dahinya.

“Kalau kamu tidak tanda tangan minggu ini, mereka bisa pilih merek lain.”

Aku menatap map yang kini berada di depannya.

Di situlah harga keputusanku berada.

Kalau aku menolak, Intan bisa kehilangan kesempatan besar.

Kalau aku menerima tanpa perubahan, sistem lama akan menjadi resmi.

Aku menarik map itu ke arahku.

Membukanya.

Membaca beberapa halaman.

Kemudian menutupnya.

“Aku tidak tanda tangan versi ini.”

Intan berdiri.

“Ayu.”

“Aku mau tanda tangan kalau ada perjanjian produksi terpisah, pembayaran biaya yang jelas, dan penyelesaian penggunaan sebelas bulan terakhir.”

“Mereka tidak akan menunggu kita beresin semua itu.”

“Berarti belum waktunya.”

“Kamu sengaja mau gagalkan aku.”

Nada suaranya pecah.

Aku menatapnya.

“Tidak.”

“Jangan bohong.”

“Aku justru pertama kalinya berhenti menyelamatkan keputusanmu dari konsekuensinya.”

Intan mengambil tasnya.

“Bagus.”

Ibu berdiri.

“Tan…”

Intan mengangkat tangan.

“Jangan.”

Ia menatap Ibu.

“Ibu yang dulu bilang aku harus punya pegangan sendiri.”

“Iya,” kata Ibu pelan. “Tapi Ibu salah karena membiarkan caranya begini.”

Intan seperti tidak siap mendengar itu.

Selama ini Ibu hampir selalu berdiri di antara kami.

Hari itu ia tidak berdiri di tengah.

Ia hanya mengakui bagian kesalahannya.

Intan menatapku sekali lagi.

“Aku harap kamu puas.”

Aku menjawab, “Tidak.”

Dan aku benar.

Tidak ada kepuasan ketika melihat kakakmu keluar dari ruangan sambil menangis.

Hanya ada kelelahan.

Rizal pergi mengejarnya.

Ibu duduk kembali.

Bu Sari meminta izin kembali bekerja.

Pak Dedi menutup laptop.

Tinggallah aku dan Ibu.

“Sekarang bagaimana?” tanya Ibu.

Aku memutar kursiku sedikit menghadap jendela.

“Sekarang kita kerja.”

Tiga minggu berikutnya jauh lebih tidak dramatis daripada pertemuan itu.

Justru lebih sulit.

Membuat sistem baru berarti membuka semua kebiasaan lama.

Ada bahan yang selama bertahun-tahun keluar dari gudang tanpa kode jelas.

Ada kendaraan yang dipakai bergantian.

Ada karyawan yang menerima instruksi lewat chat pribadi.

Ada pembelian yang hanya ditulis “tambahan produksi”.

Aku mulai datang ke pabrik tiga hari seminggu.

Bukan karena harus membuktikan bahwa aku masih berguna.

Karena itu bagianku.

Pada minggu pertama, aku meminta jalur landai menuju kantor tidak pernah lagi dipakai menyimpan barang.

Kepala gudang langsung berkata, “Siap, Bu.”

Tidak ada yang meninggal karena kardus harus dipindah tiga meter.

Kadang batas memang sesederhana itu.

Aku juga melakukan sesuatu yang dulu selalu kuhindari.

Setiap kali tidak mengerti keputusan Intan, aku bertanya.

Tidak melalui Ibu.

Tidak melalui staf.

Langsung.

Awalnya ia hampir tidak membalas pesanku.

NusaKita akhirnya kehilangan kerja sama dengan distributor pertama.

Rizal menyalahkanku di grup keluarga.

Aku keluar dari grup selama dua minggu.

Bukan memblokir siapa pun.

Hanya keluar.

Ketika Tante Mira menelepon dan berkata, “Keluarga kok sampai hitung-hitungan,” aku bertanya,

“Tante kalau punya warung, listriknya mau dibayar usaha orang lain terus?”

Ia diam.

Aku melanjutkan, “Kalau Tante mau bantu, boleh. Tapi bantu itu keputusan. Bukan sesuatu yang diambil lalu diberi nama keluarga.”

Setelah itu ia tidak menelepon lagi soal NusaKita.

Sebulan kemudian, Intan memindahkan sebagian produksi NusaKita ke perusahaan maklon di Ungaran.

Biayanya lebih mahal.

Ia membencinya.

Aku tahu karena Ibu memberi tahu.

Aku meminta Ibu berhenti menjadi pengantar berita.

“Kalau Intan mau cerita, biar dia cerita sendiri.”

Ibu sempat tersinggung.

Tapi ia berhenti.

Sementara itu, NusaKita masih memakai satu lini produksi kami dua hari seminggu dengan pembayaran resmi.

Untuk pertama kalinya, ada invoice.

Aku memegang lembar pertama cukup lama.

Bukan karena nilai Rp14,6 juta di bagian bawah.

Karena nama kedua perusahaan tercetak terpisah.

Sari Nusa.

NusaKita.

Dua usaha.

Dua tanggung jawab.

Sesederhana itu seharusnya sejak awal.

Utang biaya pemakaian sebelumnya akhirnya disepakati Rp247 juta setelah beberapa pos yang tidak bisa dibuktikan dikeluarkan.

Aku tidak meminta Intan membayar sekaligus.

Kami sepakat Rp8 juta per bulan selama beberapa tahun, ditambah sebagian keuntungan tertentu jika penjualan melewati target.

Rizal ingin angka lebih kecil.

Intan justru berkata,

“Sudah. Aku bayar.”

Itu pertama kalinya sejak pertemuan besar kami ia berbicara langsung kepadaku tanpa nada menyerang.

Hubungan kami belum membaik.

Tetapi ada sesuatu yang lebih berguna daripada keramahan palsu.

Kejelasan.

Dua bulan kemudian, Ibu datang ke rumahku membawa dua kotak lumpia.

Kami makan di meja kecil dekat jendela.

Tiba-tiba ia berkata, “Ibu minta maaf.”

Aku menatapnya.

Ibu tidak menangis.

Tidak memegang tanganku.

Tidak membuat pidato.

Ia hanya mengupas bungkus lumpia.

“Ibu terlalu takut kalian bertengkar,” katanya. “Sampai Ibu membiarkan hal-hal yang seharusnya dibicarakan.”

Aku diam.

“Ibu pikir menjaga keluarga itu membuat semua orang tetap satu meja.”

Ia tersenyum kecil.

“Ternyata kadang orang satu meja tapi masing-masing menyimpan marah.”

Aku mengambil saus.

“Sekarang juga masih ada yang marah.”

“Iya.”

“Intan masih marah sama aku.”

“Ibu tahu.”

“Aku juga masih marah sama dia.”

“Ibu tahu.”

Kami makan.

Aneh, tapi justru percakapan itu terasa lebih jujur daripada semua pelukan setelah Bapak meninggal.

Pada bulan keempat, terjadi sesuatu yang tidak kuduga.

Bu Sari masuk ke ruanganku.

“Bu Intan mau ketemu.”

“Di mana?”

“Di ruang produksi.”

Aku menuju ke sana.

Intan berdiri di depan mesin penggorengan baru.

Rizal tidak ada.

“Ada apa?”

Ia menunjuk layar kontrol.

“Kita harus ganti sensor suhu. Yang ini mulai tidak stabil.”

Aku menunggu.

“Teknisi bilang bisa minggu depan.”

“Lalu?”

“Aku mau tanya kamu dulu.”

Kalimatnya sederhana.

Aku hampir tidak tahu harus menjawab apa.

Empat bulan sebelumnya, ia mungkin sudah memesan alat, lalu memberitahuku setelahnya.

“Biayanya?”

“Rp23 juta termasuk pemasangan.”

“Ada pilihan lain?”

“Yang murah Rp15 juta, tapi garansinya cuma enam bulan.”

Kami membahasnya sepuluh menit.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada permintaan maaf.

Tidak ada musik.

Hanya dua saudara perempuan berdebat tentang sensor suhu.

Anehnya, aku pulang dengan perasaan lebih ringan daripada setelah banyak percakapan emosional kami.

Perubahan rupanya tidak selalu datang sebagai pelukan.

Kadang datang dalam bentuk seseorang akhirnya bertanya sebelum memutuskan.

Bayu datang ke pabrik dua minggu kemudian menjemput ibunya.

Aku kebetulan sedang di depan.

“Mbak Ayu.”

Aku tersenyum.

“Masih berani ngajak aku menari?”

Dia tertawa.

“Kalau ada musik.”

“Bengkel bagaimana?”

“Lumayan. Jangan-jangan Mbak mau investasi?”

“Tidak.”

Kami tertawa.

Lalu aku berkata, “Terima kasih waktu itu.”

Bayu menggaruk kepala.

“Saya sempat dimarahi Ibu.”

“Pantas.”

“Tapi sekarang Ibu tidak lembur sampai tengah malam terus.”

Aku mengangguk.

Itulah salah satu akibat yang hampir tidak pernah kami bicarakan.

Setelah jadwal dipisah, lembur turun hampir dua puluh persen.

Target produksi lebih masuk akal.

Bu Sari mulai pulang sebelum pukul sembilan hampir setiap hari.

Bayu memasukkan helmnya ke jok motor.

“Saya sebenarnya takut Mbak tersinggung waktu ngajak ke tengah.”

“Kenapa?”

“Takut dikira kasihan.”

Aku tersenyum.

“Aku hampir mikir begitu.”

“Terus kenapa mau?”

Aku memandang pintu pabrik.

“Karena waktu itu aku capek menunggu orang lain memutuskan tempat mana yang nyaman buatku.”

Dia mengangguk seolah mengerti.

Mungkin memang mengerti.

Enam bulan setelah perayaan itu, Sari Nusa mengadakan acara kecil untuk karyawan.

Bukan di hotel.

Hanya di halaman pabrik.

Ada tenda, nasi kotak, beberapa hadiah undian, dan panggung kecil yang terlalu rendah untuk disebut panggung.

Intan datang bersama keluarganya.

NusaKita masih berjalan.

Lebih kecil daripada yang ia rencanakan, tetapi sehat.

Mereka sudah membayar lima kali cicilan biaya lama.

Rizal tidak lagi mengurus gudang Sari Nusa.

Hubunganku dengannya tetap dingin.

Tidak semua hubungan harus kembali hangat agar hidup bisa berjalan.

Menjelang sore, panitia memutar lagu lama kesukaan Bapak.

Lagu yang sama dari malam di hotel.

Aku sedang berbicara dengan Bu Sari.

Dua orang karyawan mulai bergoyang.

Beberapa anak ikut.

Aku melihat ke sekeliling.

Tidak ada Bayu.

Tidak ada orang yang datang mengulurkan tangan.

Dulu mungkin aku akan tetap di tempat.

Menunggu seseorang bertanya.

Menunggu seseorang berkata jalannya aman.

Menunggu seseorang memutuskan apakah kursiku mengganggu.

Kali ini aku membuka rem sendiri.

Aku mendorong roda ke tengah halaman.

Intan sedang berdiri dekat meja minuman.

Ia melihatku.

Untuk sesaat aku pikir dia akan berpaling.

Tapi ia berjalan mendekat.

“Geser sedikit,” katanya.

Aku mengangkat alis.

Ia menunjuk kabel speaker di depanku.

“Ada kabel.”

Aku melihatnya.

Benar.

Aku tertawa.

“Kirain kursiku makan tempat lagi.”

Intan ikut tersenyum kecil.

“Yang itu aku memang salah.”

Bukan permintaan maaf besar.

Tapi cukup jujur untuk hari itu.

Aku melewati kabel.

Musik terus bermain.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa sedang kembali mengambil tempatku di keluarga.

Aku hanya sadar bahwa tempat itu tidak pernah seharusnya menunggu diberikan.

Kadang kita membantu keluarga karena cinta. Kadang kita mengalah karena takut membuat keadaan lebih buruk. Yang sulit adalah mengetahui kapan kebaikan berubah menjadi izin bagi orang lain mengambil keputusan atas hidup kita. Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Semoga kita semua diberi keberanian untuk tetap menyayangi keluarga tanpa kehilangan suara kita sendiri.