SETELAH MELAHIRKAN, AKU MENEMUKAN SUAMIKU DIAM-DIAM MENGGUNAKAN TABUNGANKU UNTUK MEMBIAYAI SELURUH KELUARGANYA—AKU TIDAK MEMBUAT KERIBUTAN, HANYA MENGGANTI SEMUA KATA SANDI REKENING. TIGA BULAN KEMUDIAN, IBU MERTUAKU MENGGEDOR PINTU RUMAH SAMBIL BERTERIAK, “KAU MAU MEMBIARKAN KELUARGA IBU MATI KELAPARAN?”

Avatar penulis
Cerita 05
17 menit baca 683 tayangan
Indeks

SETELAH MELAHIRKAN, AKU MENEMUKAN SUAMIKU DIAM-DIAM MENGGUNAKAN TABUNGANKU UNTUK MEMBIAYAI SELURUH KELUARGANYA—AKU TIDAK MEMBUAT KERIBUTAN, HANYA MENGGANTI SEMUA KATA SANDI REKENING. TIGA BULAN KEMUDIAN, IBU MERTUAKU MENGGEDOR PINTU RUMAH SAMBIL BERTERIAK, “KAU MAU MEMBIARKAN KELUARGA IBU MATI KELAPARAN?”

Aku mengetahui bahwa saldo rekening tabunganku hanya tersisa 1,7 juta rupiah pada suatu pagi ketika putriku tepat berusia dua bulan.

Aku menatap angka itu lama sekali.

Lalu keluar dari aplikasi.

Masuk kembali.

Tetap sama.

1,7 juta rupiah.

SETELAH MELAHIRKAN, AKU MENEMUKAN SUAMIKU DIAM-DIAM MENGGUNAKAN TABUNGANKU UNTUK MEMBIAYAI SELURUH KELUARGANYA—AKU TIDAK MEMBUAT KERIBUTAN, HANYA MENGGANTI SEMUA KATA SANDI REKENING. TIGA BULAN KEMUDIAN, IBU MERTUAKU MENGGEDOR PINTU RUMAH SAMBIL BERTERIAK, “KAU MAU MEMBIARKAN KELUARGA IBU MATI KELAPARAN?”

Padahal sebelum melahirkan, rekening itu masih berisi lebih dari 180 juta rupiah.

Uang itu bukan milik suamiku.

Bukan pula pemberian dari orang tua kami.

Itu adalah uang yang kukumpulkan sedikit demi sedikit selama enam tahun bekerja.

Namaku Nadira.

Usiaku tiga puluh satu tahun.

Sebelum mengambil cuti melahirkan, aku bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan distribusi makanan.

Suamiku, Raka, bekerja sebagai manajer di sebuah toko elektronik.

Kami sudah menikah hampir tiga tahun.

Dari luar, kehidupan kami tampak baik-baik saja.

Sebuah rumah yang masih dicicil.

Sebuah mobil lama.

Seorang putri yang baru lahir.

Dan seorang ibu mertua yang selalu berkata,

“Namanya keluarga harus saling membantu.”

Dulu aku percaya pada kalimat itu.

Sampai pagi itu.

Aku membuka riwayat transaksi.

20 juta.

15 juta.

8 juta.

32 juta.

Transfer demi transfer dilakukan selama tujuh bulan terakhir.

Penerimanya hanya tiga orang.

Ibu mertuaku.

Adik laki-laki Raka.

Dan kakak perempuannya.

Aku terus menggulir layar.

Ujung jariku terasa dingin.

Biaya rumah sakit saat aku melahirkan sudah dibayar oleh orang tuaku.

Pakaian bayi dibelikan ibuku.

Tempat tidur bayi juga dibawakan ayahku.

Namun selama aku mengandung, Raka ternyata diam-diam menguras hampir seluruh tabunganku.

Aku meneleponnya.

Tidak diangkat.

Sepuluh menit kemudian, sebuah pesan masuk.

“Aku sedang sibuk. Nanti malam kita bicara.”

Aku tidak bertanya lagi.

Malam itu, Raka pulang hampir pukul sembilan.

Sambil melepas sepatu, dia tersenyum.

“Hari ini Ibu masak rendang. Nanti aku bawakan untukmu.”

Aku meletakkan ponsel di atas meja.

Layar masih menampilkan riwayat transaksi.

Senyumnya seketika menghilang.

“Jelaskan.”

Raka terdiam beberapa detik.

Kemudian dengan santai dia menarik kursi dan duduk.

“Kamu sudah tahu?”

Hanya empat kata.

Tidak ada permintaan maaf.

Tidak ada kepanikan.

Bahkan tidak ada sedikit pun rasa bersalah.

Aku bertanya,

“Ke mana 180 juta uangku?”

“Ibu merenovasi rumah.”

“Yang 32 juta?”

“Adikku butuh modal usaha.”

“Yang 15 juta?”

“Kakakku harus membayar biaya sekolah anaknya.”

Aku menatapnya.

“Kamu mengambil uangku tanpa bertanya?”

Raka mengerutkan kening.

“Kita sudah suami istri. Kenapa masih membedakan uangku dan uangmu?”

“Kalau begitu, kenapa kamu tidak mengambil uang dari rekeningmu sendiri?”

Dia terdiam.

Aku tertawa kecil.

Karena aku sudah tahu jawabannya.

Uang miliknya masih utuh.

Bahkan bulan lalu dia baru saja membeli ponsel baru.

Raka mulai kehilangan kesabaran.

“Keluargaku sedang kesulitan. Aku tidak mungkin diam saja.”

“Lalu aku?”

“Kamu kenapa?”

“Aku baru melahirkan. Tiga bulan lagi baru bisa kembali bekerja. Kalau anak kita sakit, kalau terjadi sesuatu padaku, kita pakai uang apa?”

Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Kamu terlalu berpikiran negatif.”

Kemudian dia mengatakan satu kalimat yang tidak akan pernah kulupakan.

“Keluargamu punya uang. Kalau habis, tinggal minta orang tuamu.”

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi.

Malam itu, setelah putriku tidur, aku duduk sendirian di ruang tamu.

Aku mengganti semua kata sandi rekening bank.

Menghapus akses dari perangkat Raka.

Memindahkan sedikit uang yang tersisa ke rekening lain.

Kemudian aku membuka laptop.

Ada satu hal yang tidak diketahui Raka.

Tiga bulan sebelum aku melahirkan, perusahaan menawarkan kepadaku untuk bergabung dalam sebuah proyek baru.

Jika aku bersedia kembali bekerja setelah cuti melahirkan selesai, aku akan mendapatkan promosi sekaligus bonus tambahan.

Awalnya aku berniat menolaknya.

Aku pernah berpikir keluarga jauh lebih penting.

Namun malam itu, aku menekan tombol:

SETUJU.

Dua minggu kemudian, aku membawa putriku pulang ke rumah orang tuaku.

Tidak ada pertengkaran.

Aku tidak meminta cerai.

Aku juga tidak menulis apa pun di media sosial.

Aku hanya berkata kepada Raka,

“Aku butuh ketenangan untuk sementara.”

Dia malah tertawa.

“Pergilah beberapa hari. Nanti kamu juga pulang sendiri.”

Aku tidak menjawab.

Tiga bulan berlalu.

Aku kembali bekerja.

Putriku diasuh oleh orang tuaku saat aku berada di kantor.

Gaji baruku hampir dua kali lipat dari sebelumnya.

Aku juga menyewa seorang pengacara untuk memeriksa seluruh aset bersama dalam pernikahan kami.

Dan dari situlah aku menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada hilangnya 180 juta rupiah.

Rumah yang masih kami cicil—

ternyata dokumennya telah digunakan Raka untuk mengajukan pinjaman.

Tanda tanganku tercantum di berkas tersebut.

Masalahnya—

aku tidak pernah menandatanganinya.

Pengacara menatapku serius.

“Anda yakin?”

“Sangat yakin.”

“Kalau begitu, ini bukan lagi sekadar masalah rumah tangga.”

Aku segera meminta bank membekukan proses pengajuan tersebut.

Tiga hari kemudian, ponselku seperti hendak meledak.

Ibu mertua menelepon tujuh belas kali.

Adik Raka menelepon delapan kali.

Raka mengirim lebih dari tiga puluh pesan.

Aku tidak membalas satu pun.

Sampai Minggu pagi.

Bel rumah orang tuaku berbunyi berkali-kali.

Lalu terdengar gedoran keras.

BRAK!

BRAK!

BRAK!

Ibuku sedang menggendong cucunya di dalam kamar.

Ayah hendak keluar.

Aku menghentikannya.

“Biar aku.”

Aku membuka pintu.

Ada enam orang berdiri di luar.

Raka.

Ibunya.

Adik laki-lakinya.

Kakak perempuannya.

Dan dua kerabat yang pernah kutemui saat pernikahan kami.

Begitu melihatku, ibu mertua langsung berteriak,

“NADIRA!”

Dia maju ke arahku.

“Kamu sudah melakukan apa?”

“Bank menelepon Ibu! Semua prosesnya dibekukan!”

Aku bertanya dengan tenang,

“Proses apa?”

Wajahnya langsung berubah.

Raka maju selangkah.

“Nadira, kita bicara di dalam.”

“Tidak perlu.”

Dia merendahkan suaranya.

“Jangan membuat semuanya menjadi memalukan.”

Aku tertawa.

“Orang yang memalsukan tanda tanganku malah takut dipermalukan?”

Suasana di depan pintu seketika membeku.

Kakak perempuan Raka menoleh kepadanya.

Adiknya menjadi pucat.

Namun orang yang bereaksi paling keras justru ibu mertua.

Dia menunjuk wajahku.

“Uang itu digunakan untuk menyelamatkan usaha keluarga! Sebagai istri, kenapa kamu begitu perhitungan?”

Aku menatapnya.

“180 juta sebelumnya juga untuk menyelamatkan keluarga?”

Dia langsung bungkam.

Aku melanjutkan,

“Atau rumahku juga harus dikorbankan demi menyelamatkan kalian?”

Raka mengatupkan rahangnya.

“Nadira, cukup.”

“Belum.”

Aku berbalik masuk ke dalam rumah.

Mengambil sebuah amplop cokelat yang sudah kusiapkan di atas lemari dekat pintu.

Begitu Raka melihatnya, wajahnya langsung pucat.

Aku mengeluarkan setumpuk dokumen.

“Beberapa hari lalu, pengacaraku menemukan ini.”

Ibu mertua masih saja berkata keras,

“Memangnya punya pengacara membuatmu hebat?”

Aku tidak memandangnya.

Aku hanya menyerahkan lembar pertama kepada Raka.

Tangannya mulai gemetar.

Ayahku yang berdiri di belakang bertanya,

“Itu apa?”

Aku menjawab,

“Daftar pinjaman yang menggunakan namaku.”

Ibuku keluar dari kamar.

“Berapa jumlahnya?”

Aku belum sempat menjawab.

Tiba-tiba Raka merampas dokumen itu.

“Jangan katakan!”

Aku menatap lurus ke matanya.

Untuk pertama kalinya setelah tiga bulan, aku melihat suamiku benar-benar ketakutan.

Perlahan, aku mengeluarkan lembar terakhir dari dalam amplop.

“Kamu takut aku membicarakan uang 180 juta itu?”

“Atau kamu takut seluruh keluargamu mengetahui bahwa orang yang sebenarnya meminjam uang itu bukan ibumu?”

Raka membeku.

Ibu mertua langsung menoleh tajam kepada putranya.

“Apa maksudnya?”

Aku meletakkan lembar terakhir di meja kecil dekat pintu.

Di atasnya terdapat sebuah perjanjian.

Nama seorang perempuan yang sama sekali tidak kukenal tertulis tepat di bawah nama Raka.

Dan jumlah uang di sudut kanan membuat bahkan wajah ayahku berubah.

1,4 miliar rupiah.

Ibu mertua merebut dokumen itu.

Dia baru membaca tiga baris.

Seluruh tubuhnya mendadak kaku.

Dia mengangkat kepala dan menatap putranya.

“Raka…”

Suaranya bergetar.

“Siapa perempuan ini?”

Raka tidak menjawab.

Tepat pada saat itu, ponsel di sakunya berdering.

Layarnya menyala.

Aku berdiri paling dekat.

Jadi aku bisa melihat dengan jelas nama orang yang menelepon.

Nama yang sama dengan yang tercantum di dalam perjanjian.

Namun bukan nama itu yang membuat semua orang membeku.

Melainkan foto profil di layar.

Seorang perempuan muda sedang menggendong anak laki-laki berusia sekitar dua tahun.

Dan wajah anak itu—

begitu mirip dengan Raka hingga tidak membutuhkan penjelasan apa pun.

Ibu mertua perlahan menoleh kepada putranya.

Ponsel itu masih terus berdering.

Sementara aku hanya berdiri diam di sana.

Karena aku tahu—

pintu yang kubuka hari ini bukan untuk menyambutku kembali ke keluarga mereka.

Melainkan untuk membuat seluruh keluarga Raka menyaksikan dengan mata kepala sendiri rahasia yang telah dia kubur selama lebih dari dua tahun.

BAGIAN 2

Ponsel Raka terus berdering.

Tidak seorang pun bergerak.

Nama perempuan yang sama dengan nama di perjanjian pinjaman masih menyala di layar, bersama foto seorang anak laki-laki yang wajahnya seperti salinan kecil Raka.

Ibu mertuaku menjadi orang pertama yang bereaksi.

—Angkat teleponnya.

Raka menggenggam ponselnya erat.

—Bu, ini tidak seperti yang Ibu pikirkan.

—Kalau begitu, angkat!

Suara ibu mertua meninggi.

Raka justru mematikan panggilan.

Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.

“Aku sudah sampai. Kamu di mana? Aku membawa semua dokumennya.”

Wajah Raka semakin pucat.

Aku menatapnya.

—Dia sudah sampai di mana?

—Nadira, dengarkan aku dulu.

—Aku sudah terlalu lama mendengarkanmu.

Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Semua orang menoleh.

Seorang perempuan turun sambil menggandeng seorang anak laki-laki kecil.

Di tangannya terdapat map hitam tebal.

Raka mundur satu langkah.

Perempuan itu berjalan mendekat.

Begitu melihat begitu banyak orang di depan pintu, langkahnya melambat.

Kemudian matanya bertemu denganku.

—Anda Nadira?

Aku mengangguk.

—Saya Maya.

Raka langsung memotong.

—Maya, pulang sekarang!

Maya menatapnya dingin.

—Kenapa? Karena istrimu akhirnya tahu?

Ibu mertua mencengkeram lengan Raka.

—Anak itu siapa?

Maya terdiam.

Kemudian dia menatap anak kecil di sampingnya.

—Namanya Arga.

—Aku tidak menanyakan namanya!

Ibu mertua hampir berteriak.

—Dia anak siapa?

Maya mengangkat kepala.

—Anak saya.

Semua orang menunggu kalimat berikutnya.

Maya menatap Raka.

—Dan berdasarkan apa yang dikatakan Raka selama dua tahun terakhir, ayahnya adalah dia.

Ibu mertua terhuyung.

Kakak Raka segera memegang bahunya.

Raka mulai panik.

—Dia bohong! Nadira, jangan percaya!

Anehnya, Maya justru tertawa pahit.

—Sekarang aku yang bohong?

Dia membuka map hitam.

—Dua tahun lalu kamu bilang sudah berpisah dengan istrimu. Kamu bilang hanya belum resmi bercerai karena masalah rumah. Kamu bilang akan menikahiku setelah semuanya selesai.

Aku tidak menangis.

Yang kurasakan justru ketenangan aneh.

Aku bertanya,

—Lalu uang 1,4 miliar itu?

Maya menatapku bingung.

—Saya juga datang karena itu.

Dia mengeluarkan beberapa dokumen.

—Raka meminta saya menandatangani proposal usaha. Katanya kami akan membuka toko elektronik bersama. Tapi dua minggu lalu, seorang penagih menghubungi saya. Baru saat itu saya tahu nama saya dipakai sebagai pihak penerima dana.

Aku menatap Raka.

—Jadi bukan hanya tanda tanganku?

Maya menggeleng.

—Tanda tangan saya juga dipalsukan di beberapa halaman.

Raka tiba-tiba berteriak,

—Cukup!

Anak kecil di samping Maya terkejut dan langsung bersembunyi di belakang ibunya.

Ayahku maju satu langkah.

—Jangan berteriak di depan anak-anak.

Raka terdiam.

Aku mengambil dokumen dari Maya.

Semakin kubaca, semakin jelas semuanya.

Uang 180 juta milikku bukan sekadar diberikan kepada keluarganya.

Sebagian memang masuk ke rekening ibu dan saudara-saudaranya.

Namun beberapa hari kemudian, sebagian besar uang itu dipindahkan lagi ke rekening lain.

Rekening yang dikendalikan Raka.

Dia menggunakan transaksi keluarga untuk menyamarkan aliran dana.

—Untuk apa semua uang ini?

tanyaku.

Raka tidak menjawab.

Maya yang menjawab.

—Investasi.

Aku menoleh.

—Investasi apa?

—Raka ikut bisnis investasi daring dengan beberapa temannya. Awalnya untung. Setelah itu dia memasukkan lebih banyak uang. Ketika rugi, dia meminjam lagi untuk menutup kerugian sebelumnya.

Ibu mertua menatap putranya seolah baru pertama kali mengenalnya.

—Jadi uang untuk renovasi rumah…

—Memang ada sebagian untuk renovasi,

jawab Maya.

—Tapi tidak sebanyak yang dia katakan.

Adik Raka tiba-tiba berkata,

—Modal usaha yang kamu bilang kamu berikan padaku cuma sepuluh juta. Kenapa Nadira punya catatan transfer tiga puluh dua juta?

Raka menunduk.

Kakaknya ikut bersuara.

—Aku hanya menerima lima juta untuk sekolah anakku.

Seketika semuanya menjadi jelas.

Raka tidak hanya mencuri dariku.

Dia juga menggunakan keluarganya sebagai alasan.

Namun masih ada satu pertanyaan.

Aku memandang Arga.

Anak kecil itu memegang ujung baju ibunya sambil menatap kami dengan mata bingung.

Aku tidak ingin dia menjadi korban pertengkaran orang dewasa.

Aku bertanya pelan,

—Maya, apakah sudah pernah dilakukan tes DNA?

Maya terdiam cukup lama.

Kemudian menggeleng.

—Belum.

Raka langsung mengangkat kepala.

—Tidak perlu! Dia anakku!

Maya menatapnya.

—Kenapa kamu begitu takut kalau tidak perlu?

Kalimat itu membuat suasana kembali membeku.

Maya mengeluarkan satu amplop kecil lagi.

—Sebenarnya itulah alasan kedua saya datang.

Dia menarik napas.

—Minggu lalu saya membawa Arga melakukan tes DNA.

Wajah Raka kehilangan seluruh warnanya.

Maya mengeluarkan selembar kertas.

Tangannya gemetar.

—Hasilnya baru saya terima pagi ini.

Raka maju cepat hendak merebutnya.

Namun ayahku berdiri di antara mereka.

—Jangan sentuh dia.

Maya membuka hasil pemeriksaan.

Matanya merah.

Kemudian dia membaca satu kalimat yang mengubah segalanya.

—Probabilitas hubungan biologis sebagai ayah…

Dia berhenti.

Menatap Raka.

—Nol koma nol persen.

Tidak ada suara.

Ibu mertua sampai menjatuhkan dokumen yang dipegangnya.

Aku sendiri terpaku.

Kalau Arga bukan anak Raka…

kenapa selama dua tahun Raka membiayai Maya dan anak itu?

Maya menatap Raka dengan air mata yang akhirnya jatuh.

—Sekarang katakan yang sebenarnya.

Raka mundur.

—Aku…

—Katakan!

Maya berteriak.

Dan akhirnya, di depan seluruh keluarganya, Raka mengucapkan kalimat yang bahkan tidak pernah kubayangkan.

—Aku sudah tahu Arga bukan anakku sejak awal.

Aku menatapnya tajam.

—Lalu kenapa?

Raka menutup wajah dengan kedua tangan.

Beberapa detik kemudian dia berkata lirih,

—Karena ayah kandung Arga…

Dia mengangkat kepala.

—adalah orang yang selama ini memberiku uang untuk menutup semua utang itu.

Dan saat dia menyebut nama orang tersebut, kakak perempuan Raka tiba-tiba menjerit.

—Tidak mungkin!

Aku menoleh kepadanya.

Wajahnya putih seperti kertas.

Karena ternyata—

dia mengenal nama itu.

Sangat mengenalnya.

BAGIAN 3

Kakak perempuan Raka, Sinta, mencengkeram tepi meja agar tidak jatuh.

—Ulangi namanya.

Raka tidak menjawab.

Sinta maju.

—Aku bilang ulangi!

Maya terlihat bingung.

Aku juga.

Akhirnya Raka berkata,

—Dimas.

Sinta menutup mulut.

Air matanya langsung mengalir.

Ibu mertua memandang putrinya.

—Kamu kenal dia?

Sinta tertawa getir.

—Kenal?

Dia menatap Raka.

—Dia mantan suamiku.

Barulah potongan terakhir dari teka-teki itu jatuh ke tempatnya.

Dimas pernah menikah dengan Sinta beberapa tahun lalu. Pernikahan mereka berakhir setelah Dimas diketahui berselingkuh.

Namun ternyata hubungan Dimas dengan keluarga Raka tidak pernah benar-benar berakhir.

Setelah bercerai dari Sinta, Dimas mengenal Maya.

Maya hamil.

Ketika mengetahui kehamilan itu, Dimas menghilang.

Pada saat itulah Raka muncul.

Dia menawarkan bantuan kepada Maya.

Bukan karena cinta.

Bukan pula karena ingin menjadi ayah bagi Arga.

Melainkan karena Dimas diam-diam membayarnya.

Sebagai imbalannya, Raka harus memastikan Maya tidak pernah mencari Dimas.

Maya menatap Raka dengan jijik.

—Jadi selama ini aku hanya dibungkam?

Raka tidak mampu menjawab.

Sinta menampar meja.

—Kamu menerima uang dari laki-laki yang menghancurkan pernikahanku?

—Aku punya utang!

—Jadi karena utang, kamu menjual harga diri kakakmu?

Ibu mertua mulai menangis.

Namun kali ini aku tidak merasa kasihan.

Satu kebohongan telah melahirkan kebohongan lain.

Dan semua orang akhirnya terjebak di dalamnya.

Aku menghubungi pengacaraku.

Siang itu juga, semua dokumen yang kami miliki dikumpulkan.

Riwayat transfer.

Dokumen pinjaman.

Tanda tangan palsu.

Pesan Raka dengan Dimas.

Bukti transaksi dari rekeningku.

Maya juga menyerahkan semua percakapannya dengan Raka.

Aku tidak berteriak.

Tidak membalas dendam.

Aku hanya melakukan satu hal yang seharusnya kulakukan sejak pertama kali menemukan saldo 1,7 juta itu.

Aku melindungi diriku dan putriku.

Seminggu kemudian, aku mengajukan gugatan cerai.

Raka datang menemui orang tuaku beberapa kali.

Aku tidak mau bertemu.

Sampai suatu sore, dia menungguku di luar kantor.

Wajahnya terlihat jauh lebih tua.

—Nadira.

Aku berhenti.

—Aku cuma mau bicara lima menit.

—Bicaralah.

Dia menunduk.

—Aku salah.

Aku diam.

—Aku akan mengembalikan uangmu.

—Itu kewajibanmu, bukan alasan untuk aku kembali.

Raka terdiam.

—Bagaimana dengan putri kita?

Aku menatapnya.

—Dia tetap anakmu. Kalau suatu hari kamu ingin menjadi ayah yang baik, buktikan lewat tindakan. Tapi menjadi ayahnya tidak memberimu hak untuk kembali menjadi suamiku.

Matanya memerah.

—Kita benar-benar tidak punya kesempatan lagi?

Aku menggeleng.

—Kesempatan itu hilang bukan ketika kamu kehabisan uang.

—Kesempatan itu hilang ketika kamu memutuskan bahwa kepercayaanku bisa kamu gunakan seperti saldo rekening.

Aku berjalan pergi.

Untuk pertama kalinya, aku tidak menoleh.

Proses berikutnya tidak mudah.

Sebagian aset Raka dibekukan selama pemeriksaan.

Pinjaman yang menggunakan tanda tanganku dibatalkan setelah terbukti terdapat pemalsuan dokumen.

Uang 180 juta tidak langsung kembali seluruhnya, tetapi melalui proses hukum dan penjualan beberapa aset milik Raka, sebagian besar berhasil dikembalikan secara bertahap.

Dimas akhirnya ditemukan.

Tes DNA resmi membuktikan bahwa dia memang ayah biologis Arga.

Maya memilih menempuh jalur hukum untuk mendapatkan hak anaknya.

Aku dan Maya tidak menjadi sahabat.

Mungkin memang tidak perlu.

Kami hanya dua perempuan yang pernah dibohongi oleh laki-laki yang sama-sama menggunakan rasa percaya sebagai alat.

Namun sebelum berpisah setelah urusan dokumen selesai, Maya berkata kepadaku,

—Maaf.

Aku menggeleng.

—Kamu juga dibohongi.

Dia menatap putriku yang sedang kugendong.

—Semoga dia tumbuh menjadi perempuan kuat seperti ibunya.

Aku tersenyum.

—Aku justru berharap dia tidak perlu menjadi kuat karena disakiti siapa pun.

Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi.

Hari aku menerima putusan itu, aku tidak mengadakan pesta.

Aku pulang lebih awal.

Ibuku sedang membuat makanan di dapur.

Ayahku duduk di teras sambil menggendong cucunya.

Begitu melihatku, ayah bertanya,

—Sudah selesai?

Aku mengangguk.

—Sudah.

Ayah tidak bertanya apa-apa lagi.

Dia hanya berkata,

—Kalau begitu, makan dulu. Ibumu masak banyak.

Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat mataku panas.

Selama bertahun-tahun aku mengira rumah adalah tempat yang dibangun bersama seseorang setelah menikah.

Ternyata aku salah.

Rumah adalah tempat di mana kita tidak perlu memohon agar dianggap penting.

Setahun berlalu.

Karierku berkembang jauh lebih cepat daripada yang kubayangkan.

Proyek yang dulu hampir kutolak berhasil besar.

Aku dipromosikan menjadi kepala bagian keuangan.

Aku membeli sebuah rumah kecil atas namaku sendiri.

Tidak mewah.

Hanya dua kamar tidur dengan halaman mungil di belakang.

Namun ketika pertama kali menerima kuncinya, aku menangis.

Bukan karena harga rumah itu.

Melainkan karena tidak ada satu pun tanda tangan di dokumennya yang dibuat tanpa sepengetahuanku.

Putriku mulai belajar berjalan di ruang tamu rumah itu.

Langkah pertamanya hanya tiga langkah.

Kemudian dia jatuh terduduk.

Ayah dan ibuku bertepuk tangan begitu keras sampai dia tertawa.

Aku merekam semuanya.

Malamnya, sebuah pesan dari Raka masuk.

“Boleh aku melihatnya akhir pekan ini?”

Hubungan kami setelah perceraian tidak menjadi hangat.

Namun Raka mulai memenuhi kewajibannya sebagai ayah.

Dia membayar kebutuhan anak tepat waktu.

Datang sesuai jadwal.

Dan perlahan belajar bahwa menjadi ayah bukan berarti memiliki kekuasaan atas ibu dari anaknya.

Aku tidak memaafkan semua yang pernah dia lakukan.

Tetapi aku juga tidak ingin putriku tumbuh dengan membawa kebencian yang bukan miliknya.

Jadi selama Raka menghormati batas yang kutetapkan, aku tidak menghalangi hubungan mereka.

Suatu sore, ibu mertuaku datang.

Sendirian.

Dia berdiri di depan pagar rumah baruku sambil membawa sekotak makanan.

Aku tidak langsung membukakan pintu.

Dia menunduk.

—Nadira, Ibu tidak datang untuk memintamu kembali kepada Raka.

Aku menunggu.

—Ibu hanya ingin minta maaf.

Untuk pertama kalinya, tidak ada tuntutan dalam suaranya.

Tidak ada kalimat tentang kewajiban seorang istri.

Tidak ada pembelaan untuk anak laki-lakinya.

—Dulu Ibu pikir membela anak sendiri adalah bentuk kasih sayang.

Dia mengusap matanya.

—Ternyata membiarkan kesalahannya terus terjadi justru membuatnya semakin rusak.

Aku akhirnya membuka pagar.

Bukan untuk menerimanya kembali sebagai ibu mertua.

Melainkan sebagai nenek dari putriku.

—Anda boleh bertemu cucu Anda.

Matanya berbinar.

Aku melanjutkan,

—Tapi ada batas yang harus dihormati.

Dia mengangguk cepat.

—Ibu mengerti.

Dan sejak hari itu, hubungan kami berubah.

Tidak dekat.

Tidak pula penuh kebencian.

Hanya lebih sehat.

Dua tahun setelah pagi ketika aku menemukan saldo rekeningku tinggal 1,7 juta rupiah, aku berdiri di halaman rumah sambil melihat putriku berlari mengejar gelembung sabun.

Ibuku duduk di bawah pohon.

Ayah sedang memperbaiki mainan cucunya.

Matahari sore menyinari halaman kecil kami.

Putriku tiba-tiba berlari ke arahku.

—Mama!

Aku berjongkok.

Dia menabrak pelukanku sambil tertawa.

—Mama, rumah kita cantik!

Aku memandang rumah kecil di belakangnya.

Lalu memandang orang-orang yang tetap berdiri di sisiku ketika hidupku runtuh.

Aku tersenyum.

—Iya, Sayang.

—Rumah kita sangat cantik.

Dulu aku pernah kehilangan 180 juta rupiah dan mengira itu adalah kerugian terbesar dalam hidupku.

Ternyata bukan.

Kerugian terbesar adalah bertahun-tahun mempercayai bahwa mempertahankan pernikahan lebih penting daripada mempertahankan harga diri.

Uang bisa dicari kembali.

Rumah bisa dibeli lagi.

Karier bisa dibangun dari awal.

Tetapi ketika seseorang mengambil kepercayaan kita dan menggunakannya untuk menghancurkan kita, ada satu hal yang harus kita selamatkan terlebih dahulu.

Diri kita sendiri.

Aku memeluk putriku lebih erat.

Di rumah kecil itu, tidak ada lagi rekening yang disembunyikan.

Tidak ada tanda tangan palsu.

Tidak ada kebohongan yang harus kutelan demi mempertahankan gambaran keluarga sempurna.

Hanya ada aku.

Putriku.

Orang tuaku.

Dan kehidupan baru yang kubangun dengan tanganku sendiri.

Hari ketika aku mengganti kata sandi rekening bank, aku mengira aku hanya sedang melindungi uangku.

Aku salah.

Tanpa kusadari—

hari itu aku sedang mengganti kata sandi untuk seluruh hidupku.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun,

hanya aku yang memegang kuncinya.