BAGIAN 2
Aku belum sempat melangkah ketika Lestari muncul dari ujung koridor.
Di belakangnya ada Maya dan Bu Ratih.
Wajah Lestari berubah begitu melihat kusen pintu yang retak.
“Astaga, Man. Kamu ngapain?”
Aku tidak menjawab pertanyaannya.
“Nara tinggal di rumah Ibu Senin sampai Jumat?”
Lestari menatap Nara dalam gendonganku.
“Bukan sekarang tempatnya.”
“Jawab.”
Bu Ratih langsung maju.
“Arman, anak kecil itu tadi sudah bikin ribut. Tamu banyak. Kita bicarakan setelah acara.”
Nara mempererat lengannya di leherku.
Aku menatap Bu Ratih.
“Dia dikunci di ruangan gelap.”
“Tidak ada yang mengunci dia.”

Maya menyela, “Aku cuma minta dia duduk sebentar karena dia maksa masuk sesi foto waktu fotografer belum siap.”
“Kenapa dibawa ke ruang linen?”
“Semua ruang penuh.”
“Kenapa pintunya dikunci?”
“Aku enggak tahu soal pintu!”
Jawabannya terdengar jujur.
Atau setidaknya cukup jujur untuk membuatku sadar masalahnya mungkin tidak sesederhana satu orang sengaja mengunci anakku.
Lestari meraih lengan Nara.
“Nara, turun dulu. Mama jelasin ke Ayah.”
Nara malah memalingkan wajah.
Aku berkata, “Jangan pegang dia dulu.”
Lestari menarik tangannya kembali.
Ekspresinya berubah.
Bukan marah.
Terluka.
Tapi saat itu aku belum mampu memedulikan perasaannya.
Aku bertanya sekali lagi.
“Kamu pernah bicara sama Ibu tentang Nara tinggal di Gresik hari sekolah?”
Ia mengembuskan napas.
“Itu cuma pilihan.”
“Pilihan siapa?”
“Man…”
“Pilihan siapa?”
Bu Ratih menyela, “Itu pilihan yang masuk akal. Sekolah Nara lebih dekat dari rumah ibumu. Kalian pengantin baru. Apa salahnya anak dititipkan beberapa hari?”
Aku menatap Lestari.
Yang membuatku takut bukan ucapan ibunya.
Yang membuatku takut adalah Lestari tidak mengatakan bahwa ibunya salah.
Aku menurunkan Nara.
“Duduk di kursi sana sebentar. Ayah tetap di sini.”
Ia mengangguk.
Aku berjongkok sampai wajah kami sejajar.
“Tidak ada yang akan membawa Nara ke mana pun tanpa Ayah bilang. Paham?”
Ia mengangguk lagi.
Baru setelah itu aku berdiri.
“Lestari, jawab aku.”
Lestari menekan pelipis.
“Aku sudah bicara sama Ibu Marni.”
Aku seperti salah dengar.
“Kapan?”
“Tiga minggu lalu.”
“Untuk apa?”
“Cuma tanya apakah beliau keberatan kalau sesekali Nara menginap saat sekolah.”
“Sesekali atau Senin sampai Jumat?”
Lestari diam.
Aku mengambil ponsel.
Ibuku mengangkat telepon pada dering kedua.
“Ibu di mana?”
“Di meja. Kenapa?”
“Ibu pernah bicara sama Tari soal Nara tinggal di rumah Ibu?”
Hening sebentar.
“Ya pernah.”
Dadaku turun seperti ada pemberat.
“Kenapa Ibu tidak bilang aku?”
“Lho, Ibu kira kamu tahu.”
Aku menatap Lestari.
Ibuku melanjutkan, “Tari bilang mungkin satu semester dulu. Senin sore dijemput, Jumat pulang ke kalian. Ibu bilang kalau kamu setuju, Ibu tidak masalah. Tapi Ibu juga bilang jangan putuskan sekarang.”
“Satu semester?”
Lestari menutup mata.
Aku mematikan telepon.
Maya kini tidak banyak bicara.
Bu Ratih masih terlihat paling tenang.
“Arman,” katanya, “kamu sedang emosi karena lihat Nara menangis. Wajar. Tapi jangan mencampur semuanya. Pembicaraan tempat tinggal itu tidak ada hubungannya dengan kejadian pintu.”
“Ada.”
“Tidak ada.”
“Ada kalau semua orang merasa berhak menentukan kapan anak saya boleh hadir dan kapan sebaiknya disimpan.”
Wajah Bu Ratih menegang.
“Bahasamu jangan keterlaluan.”
Aku hampir membalas.
Lalu melihat Nara.
Aku tidak ingin membuat lorong hotel menjadi panggung untuk orang dewasa sementara anakku duduk lima meter dari kami.
Aku mendekati supervisor hotel yang baru tiba.
“Pak, nanti kerusakan pintu saya tanggung. Tolong catat. Sekarang saya mau bawa anak saya keluar.”
Lestari membelalak.
“Kamu mau pergi?”
“Iya.”
“Resepsi belum selesai.”
“Aku tahu.”
“Kita masih ada sesi keluarga, potong kue, salam meja belakang.”
Aku melepas peci dan memberikannya kepada staf yang kebingungan.
“Nara juga seharusnya ada di sesi keluarga.”
Bu Ratih berkata, “Kalau kamu pergi sekarang, semua orang akan bertanya.”
Aku menoleh kepadanya.
“Itu bukan lagi alasan yang cukup buat saya tinggal.”
Aku masuk ballroom sebentar.
Kepada MC, aku mengatakan anakku tidak sehat dan aku harus meninggalkan acara. Aku tidak menjelaskan apa pun kepada tamu.
Beberapa orang menatap.
Beberapa berbisik.
Aku melihat biaya dekorasi, bunga, makanan, kamera, dan ratusan undangan yang kami persiapkan selama berbulan-bulan.
Dulu pemandangan seperti itu akan cukup membuatku bertahan.
Aku selalu takut sesuatu menjadi sia-sia.
Uang.
Tenaga.
Hubungan.
Kali ini aku memilih membiarkan sebagian menjadi sia-sia daripada mengorbankan sesuatu yang lebih penting.
Saat kami kembali ke lorong, Lestari menungguku sendirian.
Bu Ratih dan Maya sudah masuk ballroom.
“Aku ikut pulang,” katanya.
“Tidak.”
Wajahnya memucat.
“Kita baru menikah pagi ini.”
“Aku tahu.”
“Kamu mau ninggalin aku di hotel?”
“Aku mau bawa Nara pulang. Kita bicara nanti kalau dia sudah tenang.”
Lestari menatapku lama.
Kemudian berkata pelan, “Kalau kamu mau marah, marahlah padaku. Tapi jangan bertingkah seolah semua ini dibuat diam-diam dari nol.”
Aku berhenti.
“Apa maksudmu?”
Matanya mulai berair.
“Ide Nara tinggal sama ibumu itu pertama kali keluar dari mulutmu sendiri.”
Aku tidak menjawab.
“Enam bulan lalu,” lanjutnya. “Di warung bakso dekat sekolah Nara. Kamu bilang mungkin setelah kita menikah akan lebih gampang kalau beberapa hari Nara tinggal sama ibumu.”
Aku membuka mulut.
Lalu menutupnya lagi.
Karena aku ingat makan siang itu.
Dan yang lebih buruk, aku mulai ingat kalimat yang pernah kuucapkan.
Kalau satu kalimat yang pernah kita ucapkan ternyata dipakai orang lain untuk membuat keputusan besar, apakah itu tetap hanya salah mereka?
BAGIAN 3
“Aku tidak pernah menyetujui Nara pindah.”
“Itu benar.”
Jawaban Lestari datang terlalu cepat.
Aku menatapnya.
“Lalu kenapa kamu bicara dengan Ibu?”
“Karena setiap kali aku ajak kamu membahasnya lagi, kamu bilang nanti.”
“Nanti bukan berarti iya.”
“Aku tahu sekarang.”
“Nanti juga bukan izin untuk bikin jadwal satu semester.”
Lestari mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Dari ballroom terdengar musik yang seharusnya menjadi lagu untuk sesi potong kue kami.
Aneh rasanya mengetahui ratusan orang sedang duduk beberapa puluh meter dari kami, sementara pernikahanku sendiri seperti baru dimulai dalam bentuk yang sama sekali tidak pernah kurencanakan.
“Nara dengar dari mana?” tanyaku.
Lestari menatap anakku yang masih duduk di kursi.
“Mungkin waktu aku bicara sama Ibu.”
“Kamu membicarakan itu di depan dia?”
“Bukan di depan dia.”
“Berarti cukup dekat sampai dia bisa dengar.”
Lestari terdiam.
Aku memanggil Nara.
“Kita pulang.”
Ia segera berdiri.
Saat kami melewati Lestari, anakku tidak menatapnya.
Itu hal kecil.
Tapi aku tahu Lestari menyadarinya.
Aku melihat bahunya turun.
Ia tidak mencoba menahan kami lagi.
Di dalam mobil, Nara duduk di kursi belakang tanpa banyak bicara.
Kami baru keluar dari area hotel ketika ia bertanya, “Ayah marah sama Mama Tari?”
Aku memandangnya melalui kaca tengah.
“Ayah marah sama beberapa keputusan orang dewasa.”
“Termasuk Ayah?”
Pertanyaan itu membuat tanganku mengendur di setir.
“Kenapa Nara tanya begitu?”
“Karena Mama Tari pernah bilang Ayah juga setuju.”
Aku menarik napas.
“Setuju apa?”
“Kalau aku sering di rumah Nenek.”
Aku menepi di sebuah minimarket yang belum terlalu ramai.
Aku mematikan mesin.
“Nara, lihat Ayah.”
Ia menatapku.
“Ayah pernah bilang mungkin Nara bisa lebih sering menginap di rumah Nenek. Tapi Ayah tidak pernah memutuskan Nara harus tinggal di sana setiap hari sekolah.”
Nara mengangguk pelan.
“Bedanya apa?”
Aku harus berpikir sebelum menjawab.
“Bedanya, satu itu ide yang belum diputuskan. Satu lagi keputusan.”
Ia memandang keluar jendela.
“Orang dewasa suka bilang ‘cuma ide’.”
Aku tidak tahu dari mana seorang anak delapan tahun belajar mengucapkan kalimat dengan nada setenang itu.
Mungkin dari kami.
“Kenapa Nara tidak pernah bilang ke Ayah kalau dengar soal itu?”
Ia memainkan ujung pita gaunnya.
“Karena Ayah lagi sibuk nikah.”
“Nara bisa bilang kapan pun.”
“Waktu aku bilang enggak mau meja belajarku dipindah, Ayah bilang jangan bikin Mama Tari pusing.”
Aku tidak langsung mampu menjawab.
Aku ingat.
Dua bulan lalu.
Saat itu tukang sedang memperbaiki lemari dapur dan Lestari ingin mengubah sedikit tata ruang rumahku di Sidoarjo sebelum ia pindah.
Nara protes karena mendengar kamar depannya mungkin akan menjadi kamar tamu.
Aku sedang dikejar rapat daring.
Tanpa benar-benar mendengar, aku berkata, “Jangan bikin Tante Tari pusing dulu. Semua lagi banyak urusan.”
Kamar itu akhirnya tidak jadi dipindah.
Karena itu aku menganggap masalah selesai.
Ternyata Nara mengingat bagian lain.
Ia mengingat aku menyuruhnya diam.
“Maaf,” kataku.
Nara menoleh.
“Ayah salah waktu ngomong begitu.”
Ia tidak berkata tidak apa-apa.
Aku bersyukur.
Kadang orang dewasa terlalu cepat mengajari anak menerima permintaan maaf supaya kami sendiri merasa lebih ringan.
Aku menyalakan mesin lagi.
Kami tidak pulang ke rumahku.
Aku membawa Nara ke rumah Ibu di Gresik.
Bukan karena rencana siapa pun.
Karena setelah kejadian itu aku belum sanggup memikirkan Lestari datang ke rumah malam itu, sementara rumah tersebut sudah dipenuhi koper dan barang-barangnya.
Ibu membuka pintu masih mengenakan kebaya dari resepsi.
“Kok pulang duluan?”
Lalu ia melihat wajah Nara.
“Ada apa?”
Aku tidak menjelaskan di teras.
Setelah Nara mandi dan berganti pakaian dengan baju yang selalu ia simpan di rumah neneknya, ia tertidur di kamar belakang.
Aku dan Ibu duduk di meja dapur.
“Sekarang ceritakan,” kata Ibu.
Aku menceritakan semuanya.
Tentang ruang gelap.
Tentang pintu.
Tentang rencana satu semester.
Tentang perkataanku sendiri enam bulan lalu.
Ibu mendengarkan tanpa memotong.
Setelah aku selesai, ia bertanya, “Waktu kamu bilang Nara mungkin tinggal sama Ibu beberapa hari, konteksnya apa?”
Aku mengusap wajah.
“Kami lagi bicara soal antar-jemput sekolah. Tari kantornya di Surabaya Barat. Aku sering harus masuk bengkel sebelum jam tujuh. Dari rumah Ibu ke sekolah Nara lebih dekat.”
“Lalu?”
“Aku bilang mungkin setelah menikah, kalau repot, Nara bisa tinggal di sini beberapa hari.”
“Berapa hari?”
“Aku enggak tahu.”
“Berapa lama?”
“Aku juga enggak tahu.”
Ibu menghela napas.
“Nah.”
Aku mengangkat kepala.
“Ibu menyalahkan aku?”
“Ibu enggak sedang cari siapa paling salah.”
“Anakku dikunci di ruangan.”
“Yang itu jelas salah.”
Nada Ibu tegas.
“Tapi kalau kamu mau tahu bagaimana orang sampai berani membuat rencana hidup Nara tanpa bertanya lagi sama kamu, kamu juga harus lihat cara kamu menjawab orang.”
Aku tidak suka mendengarnya.
Mungkin karena benar.
Ibu melanjutkan.
“Tari tiga kali telepon Ibu bulan ini.”
“Tiga?”
“Kamu enggak tahu?”
Aku menggeleng.
“Pertama tanya jadwal sekolah Nara. Kedua tanya kamar di sini. Ketiga tanya kalau Nara tinggal Senin sampai Jumat, apakah Ibu bisa antar sekolah.”
“Kenapa Ibu enggak bilang?”
“Setiap kali Ibu tanya, dia bilang sudah pernah dibicarakan sama kamu.”
Aku menahan kesal.
“Ibu percaya?”
“Sebagian.”
“Kenapa?”
Ibu menatapku.
“Karena kamu memang sering begitu.”
“Begitu bagaimana?”
“Ngomong setengah. Mengiyakan setengah. Kalau orang minta keputusan, kamu bilang lihat nanti. Kalau orang sudah jalan, baru kamu bilang bukan itu maksudmu.”
Aku hendak membantah.
Tidak jadi.
Ibu melipat selendang yang sejak tadi berada di pangkuannya.
“Dulu sama Mira juga begitu.”
Mendengar nama istriku yang sudah meninggal selalu mengubah udara di antara kami.
“Kalau Mira marah karena kamu pulang terlambat, kamu belikan makanan. Kalau dia minta kamu kurangi lembur, kamu ajak liburan. Kamu baik, Man. Tapi kadang kamu pakai kebaikan untuk menghindari percakapan yang tidak enak.”
Aku menatap meja.
“Kamu takut bikin orang kecewa. Akhirnya semua orang menebak sendiri apa yang sebenarnya kamu mau.”
Aku tidak menyukai kalimat itu.
Tapi malam itu, rasa tersinggung terasa terlalu mewah.
Sekitar pukul sebelas, ponselku penuh pesan.
Keluarga besar.
Rekan kantor.
Teman-teman.
Sebagian bertanya kenapa aku menghilang dari resepsi.
Grup keluarga Lestari jauh lebih ramai.
Aku hanya membaca beberapa.
Maya:
Pintu itu bukan aku yang kunci.
Sepupu Lestari:
Kasihan Tari nangis terus.
Bu Ratih:
Kita seharusnya bisa menyelesaikan masalah keluarga tanpa mempermalukan orang tua.
Kalimat terakhir membuat jariku berhenti.
Aku tidak menjawab.
Lalu masuk pesan pribadi dari Lestari.
Aku di rumah Mama malam ini. Besok kita bicara. Aku enggak mau bela diri lewat WhatsApp.
Lima menit kemudian datang satu pesan lagi.
Dan aku minta maaf soal Nara. Aku tahu minta maaf malam ini belum ada gunanya.
Aku meletakkan ponsel terbalik.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, aku merasa lelah.
Bukan marah.
Lelah karena mulai melihat bahwa kejadian di hotel bukan satu kejadian.
Itu ujung dari banyak keputusan kecil yang tidak pernah benar-benar kubicarakan sampai selesai.
Besok paginya aku pergi ke hotel sendirian.
Bukan untuk mencari bukti dramatis.
Aku perlu menyelesaikan urusan pintu yang kurusak dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Supervisor menunjukkan laporan internal.
Ruang tempat Nara ditemukan memang biasanya dipakai menyimpan kursi tambahan.
Lampunya dikendalikan dari sakelar di koridor.
Pintunya memiliki pengait otomatis yang bisa mengunci jika ditarik penuh dari luar.
“Siapa terakhir bersama anak saya?” tanyaku.
Supervisor memanggil seorang staf banquet bernama Dimas.
Wajahnya tegang.
“Pak, saya enggak tahu kalau anak Bapak takut gelap.”
“Apa yang kamu lakukan?”
“Bu yang pakai kebaya hijau…”
“Mbak Maya?”
“Saya enggak tahu namanya. Dia antar anak Bapak. Bilang tolong duduk dulu di dalam, jangan keluar sebelum keluarga selesai foto.”
“Dia minta dikunci?”
“Enggak bilang ‘dikunci’, Pak.”
“Lalu kenapa pintu ditutup?”
Dimas menelan ludah.
“Setelah beliau pergi, ada ibu yang lebih tua datang.”
“Bu Ratih?”
Aku menunjukkan foto dari ponsel.
Ia mengangguk.
“Beliau bilang kalau anaknya keluar, tolong arahkan balik karena sedang ngambek. Terus saya tutup pintunya. Saya pikir dari dalam bisa dibuka.”
“Lampu?”
“Saya matikan waktu keluar karena refleks. Saya baru sadar sakelarnya di luar setelah pintu sudah tertutup.”
Jadi Bu Ratih tidak secara harfiah berkata, “Kunci anak itu di ruangan gelap.”
Tetapi ia tahu Nara ditempatkan di sana.
Ia meminta supaya Nara tidak dibiarkan keluar.
Perbedaannya penting.
Namun tidak cukup untuk membuat kejadian itu dapat diterima.
Aku membayar biaya perbaikan kusen.
Rp3,8 juta.
Sakit melihat jumlahnya.
Aku tidak menyesal menendang pintu.
Tapi aku juga tidak ingin berpura-pura tindakan emosional tidak punya biaya.
Siang itu aku bertemu Lestari di rumah kami.
Aku masih menyebutnya rumah kami meskipun hanya aku yang tinggal di sana sejak delapan tahun lalu.
Koper Lestari memenuhi kamar utama.
Sepatu barunya ada di rak.
Skincare-nya berjejer di kamar mandi.
Di kulkas ada dua kotak yogurt yang selalu ia beli.
Semua benda itu terasa seperti bukti bahwa pernikahan kami nyata meskipun kami baru menjalani satu malam secara terpisah.
Lestari duduk di sofa.
Tanpa riasan tebal, ia terlihat jauh lebih tua daripada kemarin.
“Aku sudah bicara sama Maya,” katanya.
“Terus?”
“Dia memang bawa Nara ke ruang itu karena Mama minta Nara dijauhkan dulu dari sesi foto.”
“Dan kamu tahu?”
Ia tidak menjawab.
Aku duduk di seberangnya.
“Tari. Waktu aku tanya Nara di mana di ballroom, kamu tahu dia dibawa ke belakang?”
“Aku tahu.”
“Ke ruangan itu?”
“Aku tahu Maya bawa dia ke ruang belakang.”
“Kenapa kamu bilang dia istirahat?”
Lestari mengatupkan bibir.
“Karena aku takut kamu bikin keributan.”
Aku tertawa sekali.
Bukan karena lucu.
“Akhirnya aku memang bikin keributan.”
“Aku tahu.”
“Apa kamu tahu pintunya dikunci?”
“Tidak.”
“Apa kamu tahu dia enggak boleh keluar sampai foto selesai?”
Diam.
Itulah jawaban sebenarnya.
Aku membungkuk sedikit.
“Tari.”
Matanya berkaca-kaca.
“Mama bilang cuma sepuluh menit.”
“Bukan pertanyaanku.”
“Aku tahu dia disuruh tunggu.”
“Dan kalau dia enggak mau?”
Lestari menghapus air mata.
“Aku tidak berpikir sejauh itu.”
“Karena kamu sedang sibuk?”
“Karena aku capek!”
Untuk pertama kalinya suaranya naik.
“Sejak jam tiga pagi aku bangun. Semua vendor telepon aku. Mama terus ngomel soal tamu. Kamu hilang setengah jam karena teman kantor. Nara beberapa kali datang minta ikut ini itu. Aku cuma ingin sepuluh menit di mana tidak ada orang meminta sesuatu dariku.”
Aku membiarkannya menyelesaikan.
“Aku enggak bilang itu benar,” lanjutnya. “Tapi jangan bikin seolah aku bangun pagi dan memutuskan mau menyakiti anakmu.”
“Anak kita seharusnya.”
Ia terdiam.
Aku sendiri terkejut mengucapkan itu.
Lestari menunduk.
“Ya,” katanya akhirnya. “Seharusnya.”
Aku berdiri dan berjalan ke jendela.
Di luar, tetangga sedang menyapu halaman.
Kehidupan berlangsung dengan tidak sopan normalnya.
“Aku mau tanya sesuatu.”
“Tanya.”
“Kenapa kamu mau Nara tinggal sama Ibu?”
Lestari tidak segera menjawab.
“Bukan karena sekolah lebih dekat.”
Ia mengangkat kepala.
“Ada itu juga.”
“Bukan alasan utamanya.”
Sunyi lama.
Lalu ia berkata, “Aku takut.”
Aku menoleh.
“Takut apa?”
“Takut setelah menikah aku tidak punya tempat di rumah ini.”
Aku tidak mengerti.
“Rumah ini kita renovasi sama-sama.”
“Bukan soal lemari.”
Ia menatap foto lama di rak.
Foto aku, Mira, dan Nara ketika Nara masih tiga tahun.
Aku tidak pernah menurunkannya.
Lestari juga tidak pernah memintaku.
“Aku masuk ke hidup yang sudah jadi,” katanya. “Kamu punya rumah. Punya anak. Punya rutinitas. Punya almarhumah istri yang semua orang ingat baik.”
“Tari…”
“Aku tidak iri sama orang yang sudah meninggal.”
“Lalu?”
“Aku takut apa pun yang kulakukan akan dibandingkan.”
Ia menarik napas.
“Kalau aku tegas ke Nara, aku akan jadi ibu tiri jahat. Kalau aku terlalu lembut, Mama bilang aku enggak punya kendali. Kalau aku bilang aku butuh waktu berdua sama suami, orang bilang aku enggak menerima anakmu.”
Aku duduk kembali.
“Jadi solusinya anakku tinggal di tempat lain?”
“Aku pikir sementara.”
“Enam bulan?”
“Satu semester.”
“Untuk anak delapan tahun, itu bukan sementara kecil.”
“Aku tahu.”
“Sekarang tahu?”
Ia memejamkan mata.
“Sekarang aku mau mengaku bahwa aku sengaja membuatnya terdengar kecil supaya kamu tidak langsung menolak.”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada kalau ia terus berbohong.
Setidaknya sekarang kami menyentuh inti sebenarnya.
“Dan ibumu?”
“Dia mendukung.”
“Mendukung atau mendorong?”
Lestari tersenyum pahit.
“Kamu sudah tahu jawabannya.”
Bu Ratih tidak pernah menyukai kenyataan putrinya menikah dengan duda yang memiliki anak.
Ia tidak pernah mengatakannya terang-terangan.
Yang ia katakan selalu berbentuk perhatian.
Nanti Tari capek kalau langsung harus urus anak.
Anak seusia Nara lebih nyaman sama neneknya.
Pengantin baru perlu waktu membangun rumah tangga.
Jangan sampai semua energi habis untuk anak orang.
Kalimat terakhir pernah kudengar saat acara lamaran.
Aku menganggapnya celetukan.
Lestari langsung menegur ibunya waktu itu.
Aku malah berkata, “Santai saja, Bu. Saya tahu maksudnya.”
Sekarang aku baru menyadari betapa seringnya aku mempermudah orang lain dengan berkata aku tahu maksud mereka.
Kadang aku sebenarnya tidak tahu.
Kadang aku hanya tidak mau ribut.
“Aku mau lihat chat kamu sama Ibu soal Nara,” kataku.
Lestari menyerahkan ponsel.
Tidak ada pesan rahasia yang mengubah segalanya.
Justru itu yang membuatnya lebih buruk.
Semua terjadi terang-terangan dalam bahasa sehari-hari.
Bu Ratih:
Kalau Arman belum pasti, kamu yang harus buat sistem dari awal.
Lestari:
Aku takut dia merasa aku mengusir Nara.
Bu Ratih:
Bukan mengusir. Mengatur ritme rumah tangga.
Beberapa hari kemudian:
Ibu Marni bilang bisa antar sekolah.
Lestari:
Arman belum kasih keputusan final.
Bu Ratih:
Kalau ditunggu final terus, enggak akan jalan.
Ada juga pesan tentang resepsi.
Bu Ratih:
Untuk foto inti, cukup kalian dulu. Anak masuk belakangan biar rapi.
Lestari membalas:
Jangan sampai Nara merasa disisihkan.
Jawaban ibunya:
Anak kecil lima menit juga lupa.
Aku berhenti membaca.
“Dia tidak lupa.”
Lestari mengangguk.
“Aku tahu.”
Aku menyerahkan ponselnya.
“Kenapa kamu enggak bilang tidak?”
“Aku bilang.”
“Di chat kamu bilang jangan sampai dia merasa disisihkan. Itu bukan tidak.”
Lestari terdiam.
Aku langsung mengenali kalimatku sendiri di mulutku.
Itulah yang Ibu katakan tentangku tadi malam.
Setengah menolak.
Setengah mengizinkan.
Ternyata aku menikahi seseorang yang memiliki kelemahan mirip denganku.
Bedanya, saat dua orang yang sama-sama takut mengecewakan keluarga mencoba membangun rumah tangga, orang yang paling tegas di sekitar mereka akhirnya mengambil alih.
Dalam kasus kami, orang itu Bu Ratih.
Dan yang menanggung akibatnya Nara.
Sore itu kami mengundang Bu Ratih dan Maya ke rumah.
Aku tidak mengundang seluruh keluarga.
Aku juga tidak memasukkannya ke grup WhatsApp.
Aku tidak ingin persidangan keluarga.
Aku hanya ingin batas baru dikatakan di depan orang-orang yang perlu mendengarnya.
Bu Ratih datang dengan wajah kaku.
Maya duduk di ujung sofa.
Lestari duduk di sampingku, tetapi ada jarak satu bantal di antara kami.
Aku memulai.
“Saya sudah ke hotel.”
Bu Ratih langsung berkata, “Bagus. Jadi kamu sudah tahu tidak ada yang sengaja mengunci.”
“Saya tahu Ibu datang ke ruang itu dan meminta staf memastikan Nara tidak keluar.”
“Itu karena dia mengganggu sesi.”
“Dia ingin foto dengan ayahnya di hari pernikahan ayahnya.”
“Semua ada waktunya.”
“Benar.”
Aku mengangguk.
“Dan orang tua yang menentukan waktu untuk anak saya adalah saya.”
Wajahnya berubah.
“Sekarang kamu mau bicara soal hak?”
“Batas.”
“Setelah kami bantu semua persiapan?”
Aku menatapnya.
Akhirnya keluar juga.
Bu Ratih dan suaminya memang membantu Rp60 juta untuk renovasi dapur dan kamar utama sebelum pernikahan.
Aku sudah menawarkan mengganti sejak awal.
Mereka menolak.
Katanya hadiah.
Sekarang aku tahu hadiah kadang memiliki tali yang baru terlihat ketika ditarik.
“Saya juga mau bicara soal itu,” kataku.
Aku mengambil amplop dari meja.
“Ada Rp18 juta yang masih tersisa dari dana renovasi dan belum dipakai. Saya kembalikan minggu ini. Sisanya Rp42 juta saya cicil sepuluh bulan.”
Lestari menoleh kepadaku.
Ia belum tahu soal keputusan itu.
Bu Ratih membelalak.
“Jangan menghina kami.”
“Saya tidak menghina.”
“Itu hadiah.”
“Kalau murni hadiah, Ibu tidak perlu menyebutnya saat kita bicara tentang anak saya.”
Ia membuka mulut.
Tidak ada kata yang keluar beberapa detik.
Maya akhirnya bersuara.
“Man, Mama memang salah ngomong. Tapi jangan semua dibesar-besarkan.”
Aku menatapnya.
“Kamu membawa Nara ke ruangan itu.”
“Aku diminta.”
“Dan kalau besok ibumu minta hal yang sama?”
Maya menghela napas kasar.
“Aku enggak akan.”
“Kenapa?”
“Karena sekarang aku tahu akibatnya.”
“Bukan itu jawaban yang saya cari.”
Ia menatapku.
Lalu memahami.
“Karena bukan hakku.”
Aku mengangguk.
“Itu.”
Bu Ratih tertawa pendek.
“Hebat. Sekarang semua jadi salah Mama.”
Lestari tiba-tiba berbicara.
“Ma, jangan.”
Ibunya menoleh.
“Jangan apa?”
“Jangan jadikan diri Mama korban.”
Wajah Bu Ratih berubah.
“Mama melakukan semuanya buat kamu.”
“Aku tahu.”
“Dari awal Mama yang urus gedung, vendor, renovasi…”
“Aku tahu.”
“Kalau Mama tidak bantu, kamu kira resepsimu jadi seperti kemarin?”
Lestari mengusap mata.
“Kemarin anak suamiku ditemukan nangis di ruang gelap.”
“Itu kecelakaan.”
“Yang pintunya terkunci memang kecelakaan,” kata Lestari. “Tapi kenapa dia ada di dalam sana bukan kecelakaan.”
Bu Ratih terdiam.
Itu pertama kalinya sejak aku mengenalnya aku melihat Lestari benar-benar menolak ibunya tanpa membungkus kata-katanya.
Tidak membuat masalah kami hilang.
Tapi sesuatu bergeser.
Bu Ratih berdiri.
“Baik. Kalau kalian pikir Mama sumber semua masalah, urus hidup kalian sendiri.”
Aku hampir mengatakan itulah yang memang kami inginkan.
Namun Lestari lebih dulu menjawab.
“Ma, bukan begitu.”
Bu Ratih mengangkat dagu.
Aku melihat pola lama hampir mengambil alih.
Lestari ingin mengejar.
Menjelaskan.
Menghaluskan.
Akhirnya ia tetap duduk.
“Ma boleh marah,” katanya. “Tapi keputusan tentang rumahku dan Nara bukan keputusan Mama.”
Bu Ratih menatap putrinya lama.
Kemudian berjalan keluar.
Maya berdiri beberapa detik kemudian.
Sebelum pergi, ia berkata kepadaku, “Aku minta maaf soal Nara.”
Aku mengangguk.
“Bilang sendiri ke dia kalau nanti dia mau ketemu.”
Maya menelan ludah.
“Iya.”
Ia pergi.
Pintu tertutup.
Lestari menangis.
Aku tidak memeluknya.
Belum.
Malam itu kami berbicara sampai hampir pukul dua.
Bukan bicara “lama” dalam arti duduk dan tiba-tiba semua selesai.
Kami bertengkar.
Berhenti.
Membuat teh.
Bertengkar lagi.
Aku mengatakan kepadanya aku belum siap Nara tinggal satu rumah dengannya untuk sementara.
Ia marah.
“Jadi aku diusir dari rumahku sehari setelah menikah?”
“Rumah ini milikku sebelum kita menikah.”
Begitu kalimat itu keluar, aku langsung tahu aku telah menusuk di tempat yang paling ia takutkan.
Wajah Lestari berubah.
Aku mengusap wajah.
“Maaf. Itu salah.”
“Tapi benar.”
“Secara kepemilikan, iya. Secara cara aku seharusnya memperlakukanmu, tidak.”
Ia berdiri.
“Lalu apa maumu?”
“Aku butuh beberapa minggu.”
“Untuk apa?”
“Supaya Nara pulang ke rumahnya tanpa merasa orang yang kemarin membiarkannya ditahan di ruangan ada di kamar sebelah.”
“Aku tidak mengunci dia.”
“Aku tahu.”
“Berapa kali aku harus bilang?”
“Dan berapa kali aku harus bilang masalahnya bukan cuma kunci?”
Ia berhenti.
Kami berdiri berhadapan di ruang tengah.
Aku berkata lebih pelan, “Ketika aku tanya Nara di mana, kamu tahu dia sedang disingkirkan dari foto. Kamu tetap memilih menjaga acara.”
Air matanya jatuh lagi.
“Aku salah.”
“Aku percaya.”
“Terus aku harus apa?”
“Terima kalau minta maaf tidak langsung menghapus akibat.”
Kalimat itu juga berlaku untukku.
Aku melanjutkan.
“Aku akan bilang ke Nara aku juga salah karena membiarkan banyak hal tidak jelas.”
Lestari duduk lagi.
“Kalau setelah beberapa minggu dia tetap enggak mau aku pulang?”
“Ini bukan soal Nara memutuskan pernikahan kita.”
“Lalu?”
“Kita yang memutuskan apakah kita mampu bikin rumah yang aman buat semua orang di dalamnya.”
Aku menarik kursi.
“Dan kalau kita tidak mampu, kita harus jujur sebelum merusak lebih banyak orang.”
Untuk pertama kalinya, Lestari tidak meminta kepastian.
Tidak meminta aku menjanjikan pernikahan kami akan baik-baik saja.
Ia hanya mengangguk.
Malam itu ia membawa dua koper kembali ke rumah ibunya.
Bukan dengan marah.
Bukan juga dengan damai.
Kami baru menikah kurang dari dua puluh empat jam dan sudah hidup terpisah.
Tidak ada kalimat romantis yang bisa memperindahnya.
Nara pulang dua hari kemudian.
Hal pertama yang ia lakukan adalah masuk ke kamarnya dan mengecek meja belajar.
Masih ada.
Ia membuka lemari.
Lalu keluar.
“Mama Tari enggak di sini?”
“Untuk sementara tinggal sama Nenek Ratih.”
“Karena aku?”
“Karena keputusan orang dewasa.”
Ia memandangku lama.
“Nanti balik?”
“Mungkin.”
“Kalau dia balik, kamarku tetap ini?”
“Iya.”
“Senin sampai Jumat aku di sini?”
“Iya.”
“Kalau mau nginep Nenek Marni?”
“Itu kalau Nara mau dan kita atur.”
Ia mengangguk.
Kemudian bertanya, “Ayah marah kalau aku enggak mau panggil Mama Tari dulu?”
Aku duduk di tepi tempat tidurnya.
“Enggak.”
“Boleh Tante Tari?”
“Boleh.”
Ia mengambil buku matematika.
Percakapan selesai.
Anak-anak kadang jauh lebih efisien daripada orang dewasa.
Minggu pertama setelah pernikahan kami tidak indah.
Bu Ratih keluar dari grup keluarga yang ada aku di dalamnya.
Dua tante Lestari mengirim pesan panjang bahwa aku seharusnya menjaga martabat keluarga.
Aku tidak membalas.
Dulu aku pasti akan menjelaskan satu per satu sampai semua orang setidaknya tidak membenciku.
Kali ini aku belajar bahwa tidak semua orang membutuhkan penjelasan.
Sebagian hanya membutuhkan batas.
Aku membatalkan perjalanan bulan madu ke Bali.
Uang hotel tidak bisa kembali seluruhnya.
Kami kehilangan hampir Rp9 juta.
Aku kesal.
Lestari juga.
Tapi kami sepakat pergi berlibur sambil masalah belum selesai hanya akan menjadikan foto bagus sebagai penutup retakan.
Kami mulai menemui konselor keluarga setiap Sabtu.
Aku sempat merasa aneh.
Kami bahkan belum sempat merayakan satu minggu pernikahan dan sudah duduk di ruangan konseling.
Ternyata tidak ada hadiah khusus untuk pasangan yang pura-pura kuat.
Dua minggu kemudian, Lestari meminta izin bertemu Nara.
Ia tidak datang membawa hadiah.
Aku menghargai itu.
Mereka bertemu di kedai es krim dekat rumah.
Aku duduk di meja sebelah.
Lestari tidak memanggil Nara dengan sebutan sayang seperti biasanya.
“Nara,” katanya, “Tante mau minta maaf.”
Nara memegang sendoknya.
“Karena pintu?”
“Karena Tante tahu kamu disuruh menunggu di belakang dan Tante enggak datang memastikan kamu baik-baik saja.”
Nara melihatku sebentar.
Aku tidak ikut campur.
Lestari melanjutkan.
“Tante waktu itu lebih takut acara berantakan daripada takut kamu sedih. Itu salah.”
Nara mengaduk es krim.
“Yang kunci siapa?”
“Staf hotel yang tutup pintu. Tapi kamu ada di sana karena orang dewasa menyuruh kamu masuk.”
“Termasuk Tante?”
Lestari menelan ludah.
“Iya.”
Nara mengangguk.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada musik.
Setelah itu ia bertanya, “Tante mau rasa cokelat?”
Lestari tersenyum kecil.
“Boleh.”
Itu saja.
Aku melihat Lestari hampir menangis ketika menerima satu sendok es krim dari Nara.
Ia menahannya.
Mungkin untuk pertama kalinya ia memahami bahwa sedikit kepercayaan jauh lebih berharga ketika tidak dipaksa.
Sebulan kemudian, aku sudah mengembalikan Rp18 juta kepada Bu Ratih.
Ia mengembalikannya lagi melalui rekening Lestari.
Aku mentransfer kembali.
Ia mengirim pesan:
Kamu keras kepala.
Aku menjawab:
Benar, Bu. Untuk urusan ini saya pilih begitu.
Tidak ada balasan.
Cicilan berikutnya tetap kukirim.
Aku tidak ingin suatu hari bantuan renovasi menjadi alasan siapa pun merasa memiliki suara lebih besar di rumah kami.
Hubunganku dengan Maya dingin.
Ia sempat datang menemui Nara.
Ia meminta maaf tanpa membawa alasan.
Nara menjawab, “Aku enggak mau masuk ruangan belakang lagi.”
Maya berkata, “Kamu enggak akan aku suruh.”
Mereka belum dekat.
Tidak apa-apa.
Tidak semua luka harus berubah menjadi kedekatan.
Kadang cukup berubah menjadi kehati-hatian.
Lestari kembali tinggal bersama kami setelah tujuh minggu.
Bukan karena semuanya sudah sembuh.
Kami membuat beberapa aturan yang mungkin terdengar kaku bagi keluarga lain.
Tidak ada keputusan tentang sekolah, tempat tinggal, jadwal menginap, atau kamar Nara yang dibicarakan dengan keluarga besar sebelum kami bertiga tahu.
Bu Ratih tidak lagi memiliki kunci cadangan rumah.
Ibuku juga tidak.
Kunci cadangan disimpan di tempat yang hanya aku dan Lestari tahu.
Kalau kami tidak sepakat tentang sesuatu, jawabannya bukan “nanti saja” jika keputusan itu menyangkut orang lain.
Kami harus menentukan kapan akan membicarakannya lagi.
Kedengarannya sederhana.
Bagiku, itu sulit.
Aku sudah puluhan tahun menggunakan kata “nanti” sebagai pintu keluar darurat.
Sekarang aku belajar sebagian pintu yang tidak kututup dengan benar bisa dipakai orang lain untuk masuk.
Lestari juga berubah perlahan.
Ia tidak mendadak menjadi ibu tiri sempurna.
Kadang ia masih terlalu ingin mengatur.
Kadang ia dan Nara masih bertengkar soal handuk basah atau waktu menonton televisi.
Bedanya, ia tidak lagi menelepon ibunya setiap kali bingung.
Dan aku tidak lagi buru-buru menjadi penengah dengan berkata, “Sudahlah, jangan ribut.”
Suatu malam Nara tidak mau makan sayur.
Lestari kesal.
Aku hampir berkata kalimat lamaku.
Kemudian berhenti.
“Kalian selesaikan dulu,” kataku.
Nara menatapku curiga.
Lestari tertawa.
Akhirnya mereka membuat kesepakatan tiga sendok brokoli ditukar satu potong puding.
Kecil.
Sangat kecil.
Tapi rumah ternyata dibangun dari keputusan kecil jauh lebih sering daripada keputusan besar.
Tiga bulan setelah pernikahan, kami akhirnya mencetak foto resepsi.
Fotografer mengirim ratusan gambar.
Ada foto pelaminan.
Ada foto keluarga.
Ada foto Lestari tersenyum sementara aku belum tahu Nara ada di belakang.
Aku tidak mencetak foto itu.
Bukan untuk menghapus kejadian.
Aku tidak ingin berpura-pura hari tersebut hanya terdiri dari bagian yang indah.
Sebagai gantinya, kami memilih satu foto yang diambil pagi hari sebelum akad.
Aku sedang membungkuk karena Nara memperbaiki bunga di jas-ku.
Lestari berdiri di samping kami sambil tertawa.
Tidak sempurna.
Tapi jujur.
Foto itu kini ada di ruang tengah.
Foto Mira tetap berada di rak yang sama.
Lestari tidak pernah meminta memindahkannya.
Suatu sore aku bertanya apakah itu membuatnya tidak nyaman.
Ia berpikir sebelum menjawab.
“Kadang.”
Aku mengangguk.
“Mau dipindah?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena tidak semua rasa tidak nyaman harus diselesaikan dengan menghilangkan orang lain.”
Aku menatapnya.
Ia tersenyum tipis.
Kami tidak membicarakan lebih jauh.
Tidak perlu.
Bu Ratih baru datang lagi ke rumah hampir lima bulan setelah pernikahan.
Ia tidak meminta maaf kepadaku.
Aku juga tidak mengharapkannya.
Ia membawa mangga untuk Nara.
Sebelum masuk kamar Nara, ia mengetuk.
“Nenek boleh masuk?”
Nara yang sedang menggambar menjawab, “Boleh.”
Perubahan kecil.
Mungkin bagi orang lain tidak berarti.
Bagiku cukup untuk membuktikan bahwa batas hanya berguna kalau orang melihat kita benar-benar menjaganya.
Bu Ratih masih sering merasa aku terlalu keras.
Aku masih merasa ia terlalu suka ikut campur.
Kami mungkin tidak akan pernah menjadi menantu dan mertua yang saling menelepon hanya untuk mengobrol.
Tapi sekarang ia bertanya sebelum membuat rencana.
Dan aku menjawab jelas.
Ya.
Tidak.
Atau: aku akan memberi jawaban Jumat malam.
Bukan lagi “nanti lihat”.
Enam bulan setelah hari pernikahan itu, aku sedang memasang gagang baru di pintu kamar Nara.
Bukan karena pintunya rusak.
Ia hanya ingin model yang bisa dikunci dari dalam tetapi selalu bisa dibuka dengan mudah dari kamar.
Nara duduk di lantai sambil membaca petunjuk pemasangan.
Lestari berdiri di ambang pintu membawa tiga gelas jus.
“Boleh masuk?”
Nara mengangkat kepala.
“Boleh.”
Lestari masuk dan meletakkan gelas.
Aku memutar sekrup terakhir.
Nara mencoba gagangnya dari dalam.
Klik.
Ia membuka.
Menutup.
Membuka lagi.
“Enak,” katanya.
Aku mengumpulkan obeng.
Di meja belajarnya masih ada bekas stiker lama yang dulu ingin dibuang Lestari karena katanya membuat kamar terlihat berantakan.
Sekarang stiker itu tetap di sana.
Tidak karena rumah kami tidak boleh berubah.
Tapi karena kami akhirnya belajar perbedaan antara mengatur rumah dan mengatur seseorang tanpa suaranya.
Kadang aku masih teringat ruangan gelap di hotel.
Aku masih ingat suara kecil dari balik pintu:
Aku enggak bisa keluar.
Dulu kupikir tugasku sebagai ayah adalah selalu membuka pintu untuk anakku.
Sekarang aku tahu ada tugas lain yang lebih sulit.
Memastikan aku tidak ikut membangun keadaan yang membuat orang lain merasa berhak menutup pintu itu.
Aku tidak berhasil menjaga Nara dari semua kekecewaan.
Lestari juga tidak berubah menjadi orang sempurna.
Bu Ratih belum pernah mengatakan bahwa ia salah.
Pernikahan kami tidak mendapatkan kembali hari pertama yang indah.
Tapi kami mendapatkan sesuatu yang mungkin lebih berguna.
Rumah di mana kata “keluarga” tidak lagi otomatis berarti seseorang boleh mengambil keputusan atas nama orang lain.
Dan sore itu, setelah gagang baru terpasang, Nara membiarkan pintunya terbuka.
Bukan karena tidak bisa menutupnya.
Karena ia tahu, sekarang keputusan itu miliknya.
Terima kasih sudah membaca kisah ini sampai akhir. Kadang masalah keluarga bukan dimulai dari satu pengkhianatan besar, melainkan dari keputusan kecil yang terus dibiarkan tanpa batas yang jelas. Semoga rumah kita masing-masing menjadi tempat di mana kasih sayang tidak menuntut seseorang kehilangan suaranya. Menurut kalian, apakah Arman dan Lestari benar memilih mempertahankan pernikahan mereka?
