BAGIAN 2
—Dipakai untuk apa?
Ayah langsung menjawab sebelum Pak Awan sempat membuka mulut.
—Tidak di sini.
Aku menatapnya.
—Kalau begitu di mana? Tujuh bulan aku tanya di rumah, Bapak diam. Aku tanya soal Eko, Bapak marah. Sekarang orang yang Bapak suruh tutup mulut berdiri di depanku.
Bude Lilis mendesis.
—Ratih, kecilkan suara.
Aku menoleh.
—Kenapa, Bude? Takut tamu dengar?
Dia tidak menjawab.
Kalimat itu ternyata lebih menyakitkan karena semua orang memang takut satu hal yang sama.
Didengar.
Bukan kehilangan Eko.

Bukan kebohongan.
Didengar.
Aku berjalan ke ruang administrasi kecil di belakang dapur.
—Pak Awan, ikut saya.
Ayah mengejarku.
—Ratih!
Aku membuka pintu.
—Kalau Bapak mau aku tidak mempermalukan siapa pun, masuk dan bicara.
Mbak Yuni masuk terakhir lalu menutup pintu.
Ruangan itu hanya cukup untuk satu meja, empat kursi plastik, lemari arsip, dan dispenser.
Aku berdiri.
Tidak ingin duduk.
Pak Awan juga tetap berdiri.
—Tiga tahun lalu —katanya— usaha di sini mulai seret.
Aku mengerutkan kening.
—Tiga tahun lalu katering masih penuh pesanan.
Mbak Yuni menunduk.
Pak Awan berkata,
—Pesanan banyak bukan berarti uangnya sehat.
Aku menatap Ayah.
Dia diam.
Pak Awan melanjutkan.
—Ada pembayaran supplier yang ditunda. Ada uang muka acara baru dipakai untuk melunasi acara yang sudah selesai. Mas Eko yang muter jadwal pembayaran supaya dapur tetap jalan.
—Kenapa?
Pak Awan tidak menjawab langsung.
Justru Mbak Yuni yang berkata pelan,
—Karena ada uang besar keluar.
Aku menoleh kepadanya.
—Berapa?
—Saya nggak tahu semuanya.
—Untuk apa?
Dia menatap Ayah.
Saat itulah aku tahu.
Bukan detailnya.
Tapi arah jawabannya.
Aku memandang Ayah.
—Untuk Rendy?
Ayah akhirnya duduk.
Pelan sekali.
Seolah lututnya baru terasa tua.
—Suamimu meninggalkan utang lebih banyak daripada yang kamu tahu.
Aku merasa lidahku berat.
—Bapak bilang sudah selesai.
—Karena memang selesai.
—Dengan uang siapa?
Ayah menatap meja.
Aku mengulanginya.
—Dengan uang siapa?
—Uang usaha.
Tidak ada petir.
Tidak ada teriakan.
Aku hanya mendengar bunyi dispenser yang sesekali menggelegak.
—Berapa?
—Awalnya Rp ninety juta.
—Awalnya?
Ayah mengusap wajah.
—Lalu ada dua tagihan lain.
Pak Awan menyebut angka itu.
—Sekitar Rp160 juta.
Aku memejamkan mata sebentar.
Uang yang selama ini kupikir berasal dari penjualan mobil tua.
Uang yang membuatku bisa tetap tinggal di rumah bersama Dhea, putriku.
Uang yang membuatku bisa berkabung tanpa dikejar orang-orang yang datang menagih.
Ternyata bukan uang Ayah sendiri.
Itu uang usaha.
Uang supplier.
Uang pegawai.
Uang pelanggan yang sudah membayar acara.
Aku membuka mata.
—Eko tahu?
Ayah tidak menjawab.
Pak Awan berkata,
—Dia yang harus menutup lubangnya.
Potongan-potongan kecil mulai menemukan tempatnya.
Telepon Eko malam-malam.
Pertanyaannya tentang mobil.
Wajahnya ketika aku berterima kasih kepada Ayah.
Kesal yang kupikir hanya sifat buruknya.
—Jadi Rp184 juta yang katanya hilang…
—Bukan hilang —kata Pak Awan—. Itu akumulasi kekurangan yang sudah lama ditutup sana-sini.
Ayah mengangkat kepala.
—Jangan seolah-olah saya makan uang itu. Saya menyelamatkan anak saya.
Aku menjawab pelan,
—Dengan mengorbankan anak yang lain?
Ayah berdiri.
—Eko setuju!
Pak Awan menggeleng.
—Tidak seperti itu, Pak.
Ayah menatapnya tajam.
Aku berkata,
—Apa maksudnya?
Pak Awan ragu sebentar.
Lalu:
—Waktu kondisi makin sulit, Pak Darma bilang orang luar tidak perlu tahu semua. Kalau ditanya supplier, bilang ada kesalahan pengelolaan Mas Eko. Kalau keluarga tanya, bilang Mas Eko yang pegang uang.
—Itu sementara! —Ayah membentak.
Mbak Yuni tersentak.
Aku tidak.
—Sementara tujuh bulan?
Ayah mengusap tengkuknya.
—Bapak mau bereskan dulu.
—Sambil Eko dicap pencuri?
—Bapak tidak pernah bilang dia mencuri.
Aku hampir tidak percaya.
—Bapak tahu betul apa yang akan dipikirkan orang saat Bapak bilang uang hilang dan Eko pergi.
Ayah tidak menjawab.
Aku meraih ponsel.
—Baik. Aku akan menelepon beberapa keluarga sekarang. Aku bilang bahwa Eko belum terbukti mengambil uang dan jangan ada yang menyebut dia pencuri lagi.
Ayah langsung bergerak.
—Jangan!
Aku berhenti.
—Kenapa?
—Kalau cerita ini melebar, pelanggan bisa dengar.
—Jadi itu yang Bapak takutkan?
—Ada tujuh belas orang makan dari usaha ini!
—Dan satu orang kehilangan nama baiknya.
Ayah menunjukku.
—Kamu gampang bicara karena kamu tidak ada di dapur setiap hari. Kamu pikir kalau usaha ini tutup, siapa yang bayar mereka?
Aku menatapnya lama.
Untuk pertama kali, aku bisa melihat logika di balik kebohongannya.
Dan itu membuatnya lebih menyakitkan.
Ayah bukan menikmati kehancuran Eko.
Dia takut.
Takut usaha bangkrut.
Takut orang tahu dia memakai uang usaha untuk menolong anaknya.
Takut aku tahu Rendy meninggalkan utang sebesar itu.
Takut karyawan kehilangan pekerjaan.
Takut namanya jatuh.
Dan di antara semua ketakutan itu, dia memilih satu orang yang menurutnya paling kuat untuk menanggung akibat.
Eko.
Pak Awan mengeluarkan ponselnya.
—Saya punya nomor Mas Eko.
Ayah menatapnya.
—Jangan telepon.
Aku mengulurkan tangan.
—Kasih ke aku.
Pak Awan mengetik nomor lalu menunjukkan layar.
Aku menyalinnya.
Tanganku gemetar ketika menekan tombol panggil.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak dijawab.
Ayah berkata,
—Dia belum mau bicara sama kamu.
Aku menoleh cepat.
—Bapak tahu?
Wajah Ayah berubah.
Hanya sepersekian detik.
Tapi cukup.
—Bapak masih berhubungan dengan Eko?
—Sesekali.
Dadaku terasa sesak.
—Sesekali?
Tujuh bulan.
Tujuh bulan aku mengecek rumah sakit.
Tujuh bulan aku bangun malam setiap kali ponsel berbunyi.
Tujuh bulan aku bertanya-tanya apakah adikku tidur di terminal, sakit sendirian, atau bahkan masih hidup.
Dan Ayah mengatakan sesekali.
Aku berjalan keluar dari ruangan sebelum suaraku berubah.
Bukan ke halaman depan.
Aku pergi ke sisi dapur tempat mobil pengiriman biasa parkir.
Pak Awan menyusul.
—Mbak Ratih.
—Saya butuh sebentar.
—Ada satu hal lagi.
Aku memejamkan mata.
—Apa?
Dia membuka WhatsApp.
—Mas Eko kirim ini ke saya dua minggu lalu.
Sebuah pesan suara.
Durasi empat puluh tiga detik.
Pak Awan menekan tombol putar.
Suara adikku terdengar serak.
Lebih kurus, entah bagaimana, meski suara tidak punya tubuh.
“Aku nggak tahu kapan bisa pulang, Wan. Bapak masih pikir semua bisa diselesaikan kalau orang-orang diam. Kalau Kak Ratih tahu soal uang Rendy, mungkin dia bakal marah, tapi itu hak dia. Yang bikin aku pergi bukan cuma uangnya. Aku pergi karena malam itu Bapak bilang sesuatu yang nggak bisa aku lupakan.”
Pesan berhenti.
Aku menatap Pak Awan.
—Apa yang Ayah bilang?
Pak Awan menggeleng.
—Mas Eko nggak pernah cerita ke saya.
Ponselku bergetar.
Nomor yang barusan kutelepon menelepon balik.
Aku menjawab begitu cepat sampai hampir menjatuhkannya.
Tidak ada suara beberapa detik.
Lalu:
—Kak?
Aku menutup mulut dengan tangan.
Eko.
Aku mengenali cara dia menarik napas sebelum bicara.
Aku mengenali satu suku kata itu.
—Ko…
—Kak, jangan datang cari aku dulu.
Air mataku jatuh sebelum aku sempat marah.
—Kamu hidup.
—Aku hidup.
—Tujuh bulan, Ko.
Dia diam.
Aku mendengar suara kendaraan jauh di belakangnya.
—Aku tahu.
—Kenapa kamu biarkan aku cari kamu?
—Karena kalau aku dengar suara Kakak waktu itu, aku mungkin pulang sebelum siap.
Aku memandang ke arah ruang administrasi.
Ayah berdiri di ambang pintu.
—Eko, Ayah bilang kamu membawa uang.
—Aku tahu.
—Dia bilang uang Rp184 juta hilang.
—Aku tahu.
—Dia tahu kamu di Cirebon.
Sunyi.
Kemudian Eko berkata,
—Kalau Bapak akhirnya bilang soal uang Mas Rendy, tanya satu hal lagi.
—Apa?
Suara Eko berubah.
Bukan marah.
Lebih buruk.
Lelah.
—Tanya kenapa dari dua anaknya, Bapak memutuskan aku yang boleh dihancurkan asal Kakak tetap merasa aman.
Telepon terputus.
Aku menatap Ayah.
Dan untuk pertama kalinya, uang Rp184 juta itu bukan lagi pertanyaan terbesar.
Pertanyaan terbesarnya adalah kenapa seorang ayah merasa berhak memilih anak mana yang harus menanggung rasa malu seluruh keluarga.
Kadang kebohongan terbesar bukan soal uang, melainkan soal siapa yang dianggap cukup kuat untuk dikorbankan.
BAGIAN 3
Ayah masih berdiri di ambang pintu ketika aku menghampirinya.
—Apa yang Bapak bilang pada Eko malam dia pergi?
Dia tidak menjawab.
—Pak.
—Tamu masih di depan.
Aku memandangnya beberapa detik, lalu tertawa pendek.
—Lagi-lagi tamu.
—Ratih…
—Mereka tunggu kue. Aku tunggu adikku tujuh bulan.
Pak Awan menyingkir agar kami lewat.
Aku kembali masuk ke ruang administrasi.
Kali ini aku menutup pintu sendiri.
Bude Lilis hendak ikut.
Aku berkata,
—Bude boleh masuk kalau memang tahu urusannya. Kalau cuma mau menyuruh aku diam, lebih baik temani tamu.
Wajahnya memerah.
Dia tetap masuk.
Ternyata itu jawaban yang kubutuhkan.
Dia tahu.
Aku duduk di kursi plastik.
Ayah tetap berdiri.
—Ceritakan dari awal. Jangan bagian yang membuat Bapak terlihat baik. Dari awal.
Ayah menarik kursi, tapi tidak segera duduk.
—Setelah Rendy meninggal, ada orang datang ke rumahmu.
Aku mengangguk.
Aku ingat.
Dua laki-laki dari pemasok mesin laundry.
Seorang teman lama Rendy.
Seseorang yang mengaku pernah meminjamkan uang.
Beberapa tagihan memang kuketahui.
Ternyata ada yang tidak.
—Rendy pinjam uang untuk mempertahankan usahanya —kata Ayah—. Ada utang ke supplier. Ada pembayaran mesin. Ada pinjaman pribadi.
—Kenapa tidak bilang padaku?
—Kamu baru kehilangan suami.
—Aku istrinya.
—Kamu hampir tidak makan waktu itu!
Nada Ayah meninggi.
Aku membalas,
—Jadi Bapak memutuskan aku juga tidak boleh tahu keadaan keuanganku sendiri?
—Bapak cuma ingin kamu punya waktu bernapas.
Aku menatapnya.
—Dengan uang usaha?
Ayah duduk.
—Bapak pikir bisa ditutup cepat.
Itulah awal hampir semua bencana keluarga kami.
Bapak pikir.
Nanti beres.
Tidak perlu kasih tahu Ratih.
Eko bisa atur.
Bude Lilis berkata pelan,
—Waktu itu keadaanmu memang buruk, Ratih.
Aku menoleh.
—Bude tahu?
Dia menarik ujung kerudungnya.
—Tidak semua.
—Berapa banyak?
Tidak ada jawaban.
Aku mengulangi.
—Berapa banyak yang Bude tahu?
—Aku tahu Bapakmu pakai uang usaha buat bantu kamu.
—Dan soal Eko?
Dia menelan ludah.
—Aku tahu dia marah.
—Soal dia pergi?
—Setelah dia pergi.
Aku memejamkan mata.
Jadi lingkaran orang yang tahu ternyata lebih besar daripada yang kukira.
Mungkin tidak satu orang pun tahu seluruh cerita.
Tapi masing-masing memegang potongan.
Dan semua memilih diam karena merasa diam adalah bentuk kesetiaan.
Ayah mulai bercerita.
Awalnya dia mengambil sekitar Rp90 juta dari dana usaha.
Dia yakin tiga pesanan besar bulan berikutnya akan menutup kekurangan itu.
Lalu satu pesta pernikahan dibatalkan dan pengembalian uang muka harus dilakukan.
Satu klien perusahaan menunda pelunasan hampir dua bulan.
Dua freezer besar rusak dalam minggu yang sama.
Kekurangan yang seharusnya hanya sementara mulai bergerak dari satu pos ke pos lain.
Eko yang pertama menyadarinya.
—Dia datang ke Bapak malam-malam —kata Ayah—. Marah.
Aku bisa membayangkan adikku.
Baju kaus masih bau dapur.
Rambut berantakan.
Telepon di tangan dengan daftar pesanan.
—Dia bilang apa?
Ayah menghela napas.
—Dia bilang uang pelanggan bukan uang keluarga.
Kalimat sederhana.
Tepat.
Aku menunduk.
Ayah melanjutkan.
—Bapak bilang akan kembalikan.
—Bapak kembalikan?
—Sebagian.
—Dengan apa?
Ayah diam sebentar.
—Pesanan berikutnya.
Aku mengangkat wajah.
—Jadi Eko benar. Kalian mulai menutup acara lama dengan uang acara baru.
—Tidak sesederhana itu.
—Justru sangat sederhana, Pak. Uangnya tidak ada di tempat yang seharusnya.
Ayah mengeras.
—Jangan bicara seperti kamu paling paham usaha.
Dulu kalimat seperti itu akan membuatku berhenti.
Aku akan merasa lancang.
Aku akan meminta maaf.
Hari itu tidak.
—Aku memang tidak paling paham usaha. Itu sebabnya aku bertanya. Dan sekarang aku tidak akan berhenti hanya karena Bapak tidak suka pertanyaannya.
Mbak Yuni menatapku sebentar.
Entah kenapa, tatapan itu terasa seperti pengakuan kecil bahwa selama ini aku memang terlalu mudah mundur.
Ayah mengalihkan pandangan.
—Eko membantu menata ulang jadwal pembayaran.
—Karena Bapak minta?
—Karena dia juga tahu kalau usaha berhenti, banyak orang kehilangan kerja.
Ada bagian dari Eko di sana juga.
Dia tidak sepenuhnya korban tanpa pilihan.
Dia ikut diam.
Ikut memindahkan tanggal.
Ikut meyakinkan supplier agar menunggu.
Ikut menjaga rahasia dariku.
Mungkin karena sayang.
Mungkin karena takut.
Mungkin karena seperti aku, dia juga dibesarkan untuk percaya bahwa masalah keluarga harus ditahan di dalam rumah sampai semua orang bisa pura-pura baik-baik saja.
—Lalu bagaimana angka Rp184 juta muncul?
Mbak Yuni menjawab.
—Itu waktu menjelang akhir tahun.
Ada beberapa acara besar.
Bahan sudah dipesan.
Beberapa vendor belum dibayar.
Ada pengembalian uang muka juga.
Eko mulai bilang kita harus berhenti terima pesanan besar dulu.
Ayah langsung menyela.
—Kalau berhenti ambil pesanan, orang curiga.
Aku menatapnya.
—Jadi Bapak terus ambil pesanan?
—Bapak pikir bisa dikejar.
Pak Awan mendengus pelan.
Ayah menoleh tajam.
—Apa?
Pak Awan berkata,
—Saya waktu itu cuma sopir, Pak. Tapi saya ingat Mas Eko pernah bilang, “Kalau kita terus begini, suatu hari kita masak buat pesta pakai uang pesta bulan depan.”
Tidak ada yang menjawab.
Aku menggosok pelipis.
—Lalu malam sebelum Eko pergi?
Ayah tidak bicara.
Pak Awan memandangnya.
Bude Lilis berkata,
—Dar, bilang saja.
Aku menoleh kepadanya.
Berarti Bude tahu bagian ini.
Ayah bersandar.
Wajahnya mendadak tampak lebih tua dari pagi tadi.
—Ada supplier datang.
—Siapa?
—Pak Harun. Sewa perlengkapan.
Aku mengenalnya.
Orang baik.
Sudah bekerja sama dengan Laras Katering lebih dari lima belas tahun.
—Dia minta pembayaran.
—Wajar.
—Bapak minta waktu.
—Lalu?
—Dia bilang kalau sampai akhir minggu tidak ada kejelasan, dia akan bicara ke vendor lain.
Aku mulai mengerti.
Reputasi.
Selalu reputasi.
Ayah berkata,
—Kalau vendor mulai tahu arus kas kita berantakan, mereka minta tunai. Kita tidak punya cukup uang untuk jalan.
—Terus?
Ayah menatap tangannya.
—Eko bilang kita harus jujur.
Aku hampir tersenyum pahit.
Tentu saja.
Adikku yang selama ini dicap pencuri justru orang yang ingin berhenti berbohong.
—Dia mau kumpulkan beberapa vendor utama, kasih jadwal pembayaran, kurangi pesanan dua bulan, dan bilang ke kamu soal uang Rendy.
Ayah berhenti.
—Bapak tidak setuju.
—Kenapa?
Dia mengangkat wajah.
—Karena kalau kamu tahu, kamu akan merasa semua ini salahmu.
Aku menarik napas.
—Itu alasan Bapak?
—Kamu baru mulai berdiri lagi setelah Rendy meninggal. Dhea baru masuk kuliah. Kamu masih bayar rumah. Kalau tahu utang suamimu hampir menjatuhkan usaha keluarga, kamu akan jual apa saja untuk mengganti.
—Itu hakku memutuskan.
—Dan sebagai bapak, saya berhak mencegah anak saya menghancurkan hidupnya karena rasa bersalah.
Aku berdiri.
—Tidak. Bapak berhak menasihati. Bapak berhak membantu. Bapak tidak berhak memutuskan kenyataan apa yang boleh aku ketahui.
Ayah ikut berdiri.
—Kamu bicara begitu sekarang karena kamu sudah kuat!
—Bagaimana Bapak tahu aku tidak akan kuat waktu itu? Bapak bahkan tidak memberi aku kesempatan.
Sunyi beberapa detik.
Aku bertanya,
—Apa yang Bapak katakan ke Eko?
Bude Lilis menyeka bibirnya meski tidak ada apa-apa di sana.
Ayah menatap jendela kecil.
—Dia bilang kalau Bapak tidak jujur, dia yang akan cerita.
Aku menunggu.
—Terus?
—Bapak marah.
—Aku tahu. Terus?
Ayah mengatupkan rahang.
Akhirnya Bude Lilis berkata,
—Kamu bilang… kalau memang harus ada satu orang yang disalahkan sementara, biar Eko saja.
Ayah menoleh cepat.
—Lilis!
Aku tidak bergerak.
Bude Lilis sudah terlanjur bicara.
—Aku dengar. Malam itu aku di ruang depan.
Aku menatap Ayah.
—Bapak bilang begitu?
—Bapak sedang emosi.
—Apa persisnya?
—Ratih…
—Apa persisnya?
Ayah menghantam telapak tangannya ke meja.
Tidak keras.
Tapi semua orang diam.
—Bapak bilang Eko laki-laki. Dia belum punya istri, belum punya anak. Dia bisa pergi sebentar. Dia kuat. Kamu sudah kehilangan suami dan punya anak yang harus dijaga. Bapak bilang kalau kabar buruk harus jatuh ke salah satu dari kalian, lebih baik jangan ke kamu.
Aku tidak tahu ekspresi wajahku seperti apa.
Aku hanya ingat memandangi kotak tisu di meja.
Ada logo Laras Katering yang dicetak hijau.
Logo yang sama di seragam Eko selama bertahun-tahun.
—Jadi itu.
Ayah berkata,
—Bapak tidak bermaksud…
—Bapak memilih.
—Bukan begitu.
—Bapak memilih anak mana yang boleh kehilangan nama baik.
—Untuk sementara!
Aku menatapnya.
—Berapa lama “sementara” menurut Bapak? Seminggu? Sebulan? Sampai usaha sehat? Sampai semua orang lupa?
Dia tidak bisa menjawab.
Pak Awan berkata pelan,
—Mas Eko pergi malam itu.
Ayah mengusap wajah.
—Dia bilang kalau tetap tinggal, dia akan membongkar semuanya saat sedang marah. Bapak punya kenalan di Cirebon yang butuh orang operasional di gudang makanan beku. Bapak kasih alamatnya.
—Dan suruh Pak Awan mengantar.
Ayah mengangguk.
—Kenapa Eko tidak menghubungiku?
—Bapak minta dia jangan dulu.
Dadaku seperti ditarik.
—Bapak minta?
—Sampai semuanya stabil.
—Dan dia menurut?
Ayah diam.
Pak Awan menjawab.
—Tidak sepenuhnya.
Aku menoleh.
—Maksudnya?
—Dua minggu setelah sampai Cirebon, Mas Eko minta saya kasih tahu Mbak Ratih kalau dia aman.
Aku menatap Pak Awan.
—Lalu?
Wajahnya penuh rasa bersalah.
—Saya telepon Pak Darma dulu.
Tentu.
Semua orang selalu menelepon Ayah dulu.
—Beliau bilang jangan. Katanya kalau Mbak tahu Eko aman, Mbak pasti memaksa tahu semua. Saya… saya nurut.
Aku menutup mata.
Satu orang lagi.
Bukan jahat.
Bukan ingin menyakitiku.
Hanya nurut.
Begitulah kebohongan ini bertahan.
Bukan karena ada satu penjahat yang sangat pintar.
Tapi karena terlalu banyak orang baik yang merasa bukan tugas mereka untuk berkata benar.
Aku mengambil ponsel.
—Telepon Eko lagi.
Ayah langsung berkata,
—Ratih, jangan paksa dia.
—Aku tidak akan paksa dia pulang.
Aku menatap Ayah.
—Aku akan melakukan sesuatu yang tidak dilakukan siapa pun di keluarga ini selama tujuh bulan.
Aku menekan nomor Eko.
—Aku akan bertanya apa yang dia mau.
Dia menjawab pada dering kedua.
—Kak?
—Ko, aku di dapur sama Bapak.
Sunyi.
—Pak Awan juga?
—Iya.
—Bude Lilis?
Aku menatap Bude.
—Ada.
Eko tertawa kecil.
Bukan tawa senang.
—Lengkap.
Aku berkata,
—Aku sudah tahu soal utang Rendy.
Dia tidak menjawab.
—Aku juga tahu Bapak minta kamu pergi.
Masih diam.
—Aku tidak akan tanya dulu kenapa kamu tidak meneleponku. Aku cuma mau tahu satu hal. Kamu mau apa sekarang?
Lama sekali dia tidak menjawab.
Aku mendengar pintu dibuka di tempatnya.
Suara angin.
Kemudian:
—Aku mau namaku dibersihkan.
Ayah menghela napas.
Eko mendengarnya.
—Bapak ada, ya?
Aku mengaktifkan pengeras suara.
—Ada.
Eko berkata,
—Pak, saya nggak minta usaha ditutup. Nggak minta Bapak bilang ke semua pelanggan soal uang Kak Ratih. Saya cuma mau orang-orang yang Bapak biarkan percaya saya nyolong diberi tahu bahwa saya tidak nyolong.
Ayah berkata,
—Kalau kita mulai membuka cerita…
—Bapak dengar nggak?
Suara Eko meninggi untuk pertama kalinya.
—Saya tidak minta cerita hidup Kak Ratih diumumkan. Saya minta Bapak berhenti pakai nama saya untuk menutup kesalahan Bapak.
Ayah diam.
Eko melanjutkan.
—Vendor boleh tahu saya salah mengatur arus kas karena memang saya ikut salah. Karyawan boleh tahu saya harusnya berhenti lebih cepat. Tapi jangan bilang uang hilang karena saya.
Mbak Yuni menunduk.
Aku berkata,
—Ada lagi?
Eko menarik napas.
—Aku nggak mau langsung balik kerja.
Ayah mengangkat kepala.
—Ko, usaha ini butuh kamu.
—Nah.
Satu kata.
Tapi aku tahu persis apa artinya.
Selama ini Eko dibutuhkan selama dia bisa menyelesaikan kekacauan.
Bukan didengar.
Bukan dilindungi.
Dibutuhkan.
—Aku sudah dapat kerja tetap di Cirebon —kata Eko—. Gajinya nggak sebesar di rumah, tapi jam kerjanya jelas. Kalau salah, kesalahannya milikku. Kalau berhasil, aku juga tahu itu hasil kerjaku.
Ayah berkata,
—Kamu mau buang usaha keluarga begitu saja?
Aku melihat rahang Eko dalam bayanganku, meski hanya mendengar suaranya.
—Pak, saya kerja dua belas tahun di Laras. Saya bukan buang keluarga. Saya cuma nggak mau lagi jadi orang yang selalu dipanggil kalau semua orang sudah bikin keputusan tanpa saya.
Aku menunduk.
Kalimat itu juga mengenai diriku.
Berapa kali aku meminta Eko membantu memperbaiki keran rumah, mengantar Dhea, mengecek motor, mengurus Ayah, mengganti lampu, mengambil obat, menjemput barang?
Aku mengira karena dia adikku dan belum berkeluarga, waktunya lebih mudah dipakai.
Aku tidak pernah bertanya apakah dia keberatan.
Aku juga bagian dari sistem itu.
—Ko.
—Ya?
—Aku minta maaf.
Dia diam.
—Bukan karena utang Rendy. Aku memang tidak tahu. Aku minta maaf karena selama ini aku sering menganggap kamu akan selalu ada kalau aku butuh sesuatu.
—Kak…
—Biar aku selesai. Aku juga terlalu sering membiarkan Bapak bicara untuk semua orang. Aku pikir kalau aku tidak melawan, keluarga lebih tenang.
Aku melihat Ayah.
—Ternyata cuma lebih sunyi.
Eko tidak langsung memaafkanku.
Dan aku bersyukur.
Aku tidak ingin satu percakapan menyelesaikan tujuh bulan.
—Aku belum bisa pulang sekarang —katanya.
—Tidak apa-apa.
—Mungkin nanti.
—Tidak apa-apa.
—Kakak marah?
Aku tersenyum kecil.
—Banget.
Untuk pertama kalinya, Eko tertawa sungguhan.
Pendek.
Lalu dia berkata,
—Nah, itu baru Kak Ratih yang agak normal.
Setelah telepon selesai, aku tidak merasa lega.
Belum.
Ada hal-hal yang harus dilakukan.
Bukan dirasakan.
Dilakukan.
Aku memandang Ayah.
—Sekarang kita bereskan yang bisa dibereskan.
—Bagaimana?
—Pertama, nama Eko.
Ayah diam.
—Hari ini?
—Hari ini.
—Tamu masih ada.
Aku hampir tersenyum.
—Bagus. Berarti sebagian orang yang sudah dengar rumor juga ada.
Bude Lilis langsung berkata,
—Jangan bikin pengumuman seperti sidang.
—Aku tidak akan.
Aku memandang Ayah.
—Bapak cukup bicara ke keluarga yang sudah Bapak kasih kesan Eko membawa uang.
—Dan pelanggan?
—Kita tidak perlu menceritakan masalah pribadiku. Tapi vendor yang diberi tahu bahwa Eko penyebab kekurangan harus mendapat koreksi.
Ayah membuka mulut.
Aku mengangkat tangan.
—Kalau Bapak tidak mau, aku yang akan menemui mereka bersama Mbak Yuni. Tapi aku akan bilang jelas bahwa aku anak Bapak yang menerima manfaat dari uang itu tanpa tahu sumbernya.
Ayah menatapku tajam.
—Kamu mau mempermalukan diri sendiri?
—Tidak.
Aku berdiri.
—Aku mau berhenti membiarkan Eko menanggung malu yang bukan miliknya.
Aku berjalan keluar.
Di halaman depan, lilin ulang tahun sudah padam sendiri.
Beberapa tamu memegang piring.
Anak-anak kecil bermain dekat pagar.
Sepupuku terlihat bingung karena acara foto belum dimulai.
Ayah keluar beberapa langkah di belakangku.
Aku tidak mengambil mikrofon.
Tidak perlu.
Kami hanya memanggil keluarga dekat ke ruang tengah setelah sebagian tamu pulang.
Ada Bude Lilis.
Om Bambang.
Dua sepupuku.
Dhea, putriku, yang sejak tadi tahu ada sesuatu terjadi tetapi tidak berani bertanya.
Ayah berdiri di depan mereka.
Lama.
Aku bisa melihat betapa sulitnya bagi lelaki yang hidup puluhan tahun sebagai kepala keluarga untuk mengatakan bahwa keputusannya salah.
Akhirnya dia berkata,
—Soal Eko, Bapak perlu luruskan.
Om Bambang langsung menyela.
—Sudah ketemu?
—Dia aman.
Dhea menutup mulut.
Matanya langsung basah.
Aku memegang tangannya.
Ayah melanjutkan.
—Eko tidak mengambil uang usaha.
Tidak ada suara.
Ayah menelan ludah.
—Ada masalah arus kas yang sudah terjadi sebelum dia pergi. Saya yang membuat keputusan awal yang menyebabkan masalah itu. Eko ikut mencoba membereskan. Kami bertengkar. Dia pergi.
Om Bambang mengerutkan kening.
—Jadi selama ini?
Ayah menjawab pelan.
—Saya membiarkan kalian salah paham.
Kalimat itu belum sepenuhnya jujur.
Tapi cukup untuk langkah pertama.
Bude Lilis kemudian berkata,
—Aku juga salah. Aku tahu sebagian dan memilih diam.
Aku menatapnya.
Dia tidak menatap balik.
Dhea bertanya,
—Om Eko tahu kita cari dia?
Pertanyaan paling sederhana dari semua yang ada.
Ayah tidak mampu menjawab.
Aku yang menjawab.
—Tahu.
Dhea menatapku.
—Terus kenapa dia nggak pulang?
Aku menarik napas.
—Karena kadang orang butuh menjauh dari keluarga supaya bisa dengar pikirannya sendiri.
Aku tidak menyalahkan Ayah di depan anakku.
Tapi aku juga tidak lagi menutupinya.
Malam itu setelah semua pulang, aku tidak kembali ke rumah.
Aku tetap di kantor Laras Katering bersama Ayah dan Mbak Yuni.
Kami membuka jadwal pesanan enam minggu ke depan.
Bukan mencari siapa yang salah.
Mencari apa yang nyata.
Ada empat acara besar.
Tiga acara kantor.
Dua akad kecil.
Satu ulang tahun.
Kami menghitung kebutuhan bahan.
Jumlah tenaga.
Tagihan vendor yang masih tertunda.
Aku tidak ahli keuangan.
Karena itu aku tidak berpura-pura.
Keesokan harinya aku meminta bantuan seorang akuntan yang biasa mengurus pembukuan sekolah tempatku bekerja untuk melihat apakah dia bersedia membantu Laras secara profesional selama beberapa bulan.
Dibayar.
Bukan “tolong keluarga”.
Kami juga membuat keputusan yang Ayah benci.
Tidak menerima acara di atas lima ratus tamu selama dua bulan.
—Orang nanti pikir kita menurun —katanya.
Aku menjawab,
—Lebih baik orang pikir kita sedang mengecil daripada kita besar di depan tapi kosong di belakang.
Kami menjual satu mobil boks yang sudah jarang dipakai.
Bukan untuk membayar utangku.
Untuk melunasi dua vendor yang paling lama menunggu.
Sisanya dibuat jadwal.
Pak Harun datang tiga hari kemudian.
Ayah hampir membatalkan pertemuan.
Aku tidak membiarkannya.
Kami duduk di gudang perlengkapan, bukan di ruang tamu.
Di antara tumpukan kursi lipat dan kotak pemanas makanan.
Ayah menjelaskan bahwa Eko bukan orang yang membawa kabur uang.
Pak Harun mendengarkan tanpa banyak ekspresi.
Lalu berkata,
—Saya sebenarnya heran dari dulu.
Ayah menatapnya.
—Kenapa?
—Kalau Eko mau bawa uang, dia nggak akan tiga malam berturut-turut datang ke tempat saya minta tambahan waktu sambil bawa jadwal pembayaran.
Aku melihat Ayah menunduk.
Begitu mudah sebenarnya.
Orang-orang sudah melihat tanda-tandanya.
Hanya saja semua orang lebih mudah menerima cerita tentang seorang anak yang lari daripada seorang ayah yang salah mengambil keputusan.
Empat minggu berlalu.
Aku dan Eko bicara tiga kali.
Tidak setiap hari.
Tidak manis.
Percakapan pertama bahkan berakhir dengan dia kesal karena aku bertanya kapan dia pulang.
—Kak, jangan bikin rumah jadi kewajiban lagi.
Kalimat itu menamparku tanpa suara.
Sejak itu aku berhenti bertanya.
Aku hanya mengirim kabar tentang Ayah.
Tentang Dhea.
Tentang usaha.
Kadang dia membalas.
Kadang tidak.
Ayah hampir tidak pernah menelepon Eko.
Gengsinya masih ada.
Marahnya juga.
Suatu malam aku menemukan Ayah duduk sendiri di dapur setelah semua karyawan pulang.
Ada dua cangkir teh di meja.
Satu kosong.
Satu tidak disentuh.
—Bapak telepon Eko? —tanyaku.
—Tidak diangkat.
Aku tidak mengejek.
Aku juga tidak menawarkan menelepon untuknya.
Itu bukan tugasku.
Dua bulan setelah ulang tahun Ayah, Eko pulang ke Semarang.
Bukan untuk kembali bekerja.
Hanya tiga hari.
Aku tahu dia datang ketika Dhea berteriak dari teras,
—Mama!
Aku keluar.
Eko berdiri di depan pagar dengan ransel hitam.
Lebih kurus.
Rambutnya lebih pendek.
Ada bekas luka kecil di dagu yang tidak kukenal.
Aku ingin berlari dan memeluknya.
Aku tidak melakukannya.
Aku berdiri beberapa langkah darinya.
—Boleh aku peluk?
Dia menatapku.
Lalu membuka tangan.
Baru aku maju.
Aku menangis di bahunya.
Dia juga.
Tapi setelah itu kami tidak berubah menjadi keluarga bahagia dalam lima menit.
Saat Ayah datang sore harinya, Eko berdiri di ruang tamu dengan tangan di saku.
Ayah berkata,
—Kurus.
Eko menjawab,
—Bapak juga tambah tua.
Itu saja.
Mereka duduk berjauhan.
Aku membuat teh.
Lalu sengaja pergi ke teras bersama Dhea.
Aku tidak mendengarkan dari balik pintu.
Dulu aku pasti ingin memastikan mereka tidak bertengkar.
Sekarang aku belajar bahwa tidak semua konflik harus kuseka sebelum sempat terjadi.
Hampir satu jam kemudian Eko keluar.
Matanya merah.
Ayah tetap di dalam.
—Gimana? —tanyaku.
Eko mengenakan sandal.
—Belum selesai.
Aku mengangguk.
—Tapi?
Dia menatap ke dalam rumah.
—Bapak bilang dia salah.
Aku menunggu.
—Minta maaf?
Eko tersenyum tipis.
—Belum sampai situ.
Aku ikut tersenyum.
Itu sangat Ayah.
Tapi seminggu setelah Eko kembali ke Cirebon, sesuatu terjadi.
Pak Harun meneleponku.
Dia bilang Ayah datang sendiri ke gudangnya.
Bukan untuk membayar.
Bukan untuk minta waktu.
Ayah menemui tiga vendor yang kebetulan sedang berkumpul di sana.
Dia mengatakan hal yang sama seperti di rumah.
Bahwa Eko tidak mencuri.
Bahwa kekacauan itu berasal dari keputusan yang dia buat.
Aku tidak menelepon Ayah untuk memujinya.
Beberapa hal memang tidak perlu diberi hadiah.
Itu kewajibannya.
Tiga bulan setelah hari ulang tahun itu, Laras Katering tidak kembali sebesar dulu.
Dan ternyata itu bukan bencana.
Kami punya lebih sedikit acara.
Tapi pembayaran lebih jelas.
Mbak Yuni resmi menangani operasional dapur.
Keuangan dicatat oleh orang lain.
Ayah tidak lagi memegang semua akses sendiri.
Awalnya dia marah setiap kali harus meminta laporan.
Lalu lama-lama terbiasa.
Aku sendiri tidak memasukkan uang pribadi untuk “menyelamatkan” usaha.
Itu penting.
Dulu aku mungkin akan menjual gelang, mengambil tabungan, atau meminjam uang hanya untuk membuat semuanya cepat tenang.
Sekarang aku belajar membiarkan masalah memiliki ukurannya sendiri.
Utang usaha dibayar dari usaha.
Utang pribadiku adalah tanggung jawabku.
Dan utang rasa bersalah tidak boleh diwariskan kepada saudara.
Aku juga mulai menata kembali cerita tentang Rendy.
Selama tiga tahun aku mengingatnya sebagai suami yang bekerja keras lalu meninggal terlalu cepat.
Itu benar.
Tapi ternyata bukan seluruh kebenaran.
Dia juga orang yang menyembunyikan masalah keuangan dariku.
Mungkin karena malu.
Mungkin karena ingin melindungiku.
Alasannya hampir sama dengan Ayah.
Aku bisa mencintai orang yang sudah meninggal tanpa berpura-pura dia tidak pernah membuat kesalahan.
Pemahaman itu lebih berat daripada marah.
Tapi juga lebih sehat.
Eko tidak kembali ke Laras.
Dia memperpanjang kontrak kerjanya di Cirebon.
Setiap bulan dia pulang satu akhir pekan kalau sempat.
Kadang dia membantu memperbaiki sistem gudang Laras.
Tapi sekarang Mbak Yuni membayarnya sebagai tenaga konsultasi harian.
Pertama kali menerima amplop honornya, Eko tertawa.
—Serius?
Mbak Yuni menjawab,
—Kalau kerja, ya dibayar. Jangan mentang-mentang keluarga.
Aku mendengar dari dapur dan ikut tertawa.
Ayah pura-pura tidak.
Hubungan mereka belum pulih sepenuhnya.
Ada hari ketika Ayah masih mengeluh,
—Anak sendiri kok kerja sama orang.
Dan Eko menjawab,
—Biar anak sendiri tahu rasanya punya jam pulang.
Kadang tajam.
Kadang lucu.
Kadang terlalu dekat dengan luka lama.
Tapi setidaknya sekarang kalimat-kalimat itu keluar.
Tidak disimpan sampai menjadi kebohongan.
Suatu Minggu pagi, hampir lima bulan setelah Eko pertama kali pulang, aku datang ke Laras Katering membawa kue kukus untuk sarapan.
Pintu dapur terbuka.
Mbak Yuni sedang memeriksa pesanan.
Ayah duduk mengupas jeruk.
Dan Eko sedang memperbaiki roda troli makanan yang macet.
Pemandangan yang biasa sekali.
Tidak ada musik.
Tidak ada pelukan besar.
Tidak ada permintaan maaf dramatis.
Aku berdiri di ambang pintu beberapa detik.
Eko menoleh.
—Kak, jangan bengong. Pegangin ini.
Dulu aku mungkin langsung membantu tanpa bertanya.
Sekarang aku meletakkan kotak kue dulu.
—Bayar berapa?
Eko tertawa.
—Mahal sekarang, ya.
Ayah menggeleng sambil tersenyum tipis.
Aku berjongkok dan memegang sisi troli.
Di dinding dekat pintu masih ada papan kecil tempat nama-nama kru biasa digantung untuk acara.
Selama tujuh bulan, kartu bertuliskan EKO – OPERASIONAL pernah disimpan di laci karena Ayah tidak mau melihatnya.
Sekarang kartu itu ada lagi di papan.
Bukan karena Eko kembali menjadi orang yang harus menyelesaikan semuanya.
Mbak Yuni hanya menuliskan satu kata kecil dengan spidol di bawahnya:
Tamu.
Aku melihatnya dan tersenyum.
Untuk pertama kalinya, aku tidak sedih membaca kata itu.
Eko tetap keluargaku meski tidak lagi bekerja untuk kami.
Aku tetap anak Ayah meski sekarang bisa berkata tidak.
Ayah tetap ayahku meski aku sudah tahu dia pernah membuat keputusan yang melukai kami.
Dan rumah tetap bisa disebut rumah tanpa menuntut semua orang tinggal di dalamnya.
Ponselku bergetar di meja.
Dulu setiap bunyi telepon selama tujuh bulan membuatku takut.
Pagi itu aku membiarkannya berbunyi dua kali sebelum mengambilnya.
Eko masih mengomel soal baut.
Ayah masih mengupas jeruk.
Dapur mulai dipenuhi suara orang bekerja.
Aku melihat mereka dan akhirnya memahami sesuatu yang selama ini terlalu sederhana untuk kami terima.
Keluarga tidak menjadi utuh karena semua masalah disembunyikan.
Kadang keluarga justru mulai sembuh ketika seseorang berani mengatakan, “Ini bukan tanggung jawabmu untuk menanggung sendirian.”
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Menurut kalian, apakah Pak Darma benar-benar sedang melindungi anaknya, atau sebenarnya sedang melindungi rasa malu dan kendalinya sendiri? Semoga kita semua diberi keberanian untuk membantu keluarga tanpa mengorbankan kejujuran, dan mencintai orang terdekat tanpa mengambil hak mereka untuk memilih hidupnya sendiri.
