SUAMIKU MEMBAWA CINTA PERTAMANYA KE ACARA PEMBARUAN JANJI PERNIKAHAN KAMI—AKU MEMBATALKANNYA SEBELUM DIA MEMPERMALUKAN PUTRI KAMI JUGA

Avatar penulis
Cerita 04
20 menit baca 150 tayangan
SUAMIKU MEMBAWA CINTA PERTAMANYA KE ACARA PEMBARUAN JANJI PERNIKAHAN KAMI—AKU MEMBATALKANNYA SEBELUM DIA MEMPERMALUKAN PUTRI KAMI JUGA
Indeks

SUAMIKU MEMBAWA CINTA PERTAMANYA KE ACARA PEMBARUAN JANJI PERNIKAHAN KAMI—AKU MEMBATALKANNYA SEBELUM DIA MEMPERMALUKAN PUTRI KAMI JUGA

Suamiku terlambat dua puluh tiga menit datang ke acara pembaruan janji pernikahan kami yang ke-20.

Namun ketika akhirnya muncul, dia tidak datang sendirian.

Arga berjalan melewati pintu kaca menuju taman sebuah resort di kawasan Puncak, Bogor, dengan seorang wanita menggandeng lengannya.

SUAMIKU MEMBAWA CINTA PERTAMANYA KE ACARA PEMBARUAN JANJI PERNIKAHAN KAMI—AKU MEMBATALKANNYA SEBELUM DIA MEMPERMALUKAN PUTRI KAMI JUGA

Dan ketika putriku yang berusia sembilan belas tahun melihat bunga mawar krem terikat di pergelangan tangan wanita itu—bunga yang secara khusus hanya disiapkan untuk keluarga inti—dia langsung meremas tiga lembar pidato yang sudah ditulisnya tentang pernikahan kami hingga menjadi bola kertas.

Saat itulah aku tahu acara itu telah berakhir.

Bukan ketika Arga tersenyum kepadaku seolah tidak terjadi apa-apa.

Bukan ketika hampir delapan puluh tamu yang duduk di kursi-kursi putih di taman serempak menoleh melihatnya berjalan menuju lengkungan bunga tempat kami seharusnya mengucapkan kembali janji pernikahan.

Bahkan bukan ketika aku mengenali wanita di sampingnya.

Selena Hartono.

Cinta pertama Arga.

Wanita yang fotonya pernah kusimpan di dalam sebuah kotak sepatu tua setelah menemukannya bertahun-tahun lalu di lemari gudang rumah kami.

Tidak.

Bagiku, semuanya berakhir ketika putriku berbisik,

“Ma… kenapa dia memakai bunga punyaku?”

Aku menatap Nadia.

Wajah putriku pucat.

Di tangannya masih ada bekas pita kosong tempat bunga krem yang seharusnya dipasang di pergelangan tangannya.

Kuartet gesek yang kami sewa bahkan sudah memainkan lagu pembuka yang sama dua kali karena Arga belum juga muncul.

Ayahku sudah melihat jam tangannya setidaknya lima kali.

Sementara Maya, koordinator acara resort, beberapa kali menghampiriku dan bertanya apakah ponsel Arga bisa dihubungi.

Dan selama dua puluh tiga menit itu, aku terus membelanya.

“Mungkin macet di jalur Puncak.”

“Mungkin ada tamu yang menahannya di lobi.”

“Tadi katanya mau membantu adiknya mengecek sound system.”

Dua puluh tahun menikah dengan seseorang ternyata mengajarimu satu kemampuan aneh:

menciptakan alasan untuk orang yang kau cintai, bahkan ketika dia sendiri tidak repot-repot memberikan alasan.

Ketika Arga akhirnya sampai di hadapanku, dia mengecup pipiku dengan cepat.

Seolah kami hanyalah pasangan biasa yang sedang terlambat menghadiri pesta makan malam.

Lalu dia berbisik,

“Rani, jangan bikin suasana jadi aneh.”

Aku menatapnya.

Untuk beberapa detik, aku bahkan tidak yakin telah mendengar dengan benar.

Aku?

Aku yang akan membuat suasana menjadi aneh?

Selena berdiri sekitar dua meter dari kami.

Dia mengenakan gaun hijau zamrud yang elegan. Rambutnya ditata rapi, riasannya sempurna, dan ada sesuatu dari penampilannya yang membuatku sadar bahwa dia tidak datang sebagai tamu mendadak.

Dia datang dengan persiapan.

Seperti seseorang yang tahu malam itu akan banyak difoto.

Lalu mataku kembali tertuju pada bunga krem di pergelangan tangannya.

Bunga yang seharusnya milik Nadia.

Arga mengangkat tangan dan menunjuk Selena dengan santai.

“Selena yang akan membacakan refleksi nanti.”

Aku mengernyit.

“Refleksi apa?”

Nadia langsung menatap ayahnya.

Arga tidak menjawab.

Sebaliknya, matanya bergerak ke arah meja penerima tamu.

Aku mengikuti arah pandangannya.

Di sana terdapat program acara yang sudah kami cetak dan letakkan di dalam bingkai berwarna emas.

Aku berjalan mendekat.

Dan dadaku seolah berhenti bernapas.

Pada susunan acara yang sudah kami sepakati berminggu-minggu sebelumnya, tertulis:

Nadia Prameswari — Refleksi Seorang Putri

Namun nama Nadia telah dicoret menggunakan tinta biru.

Di atasnya, seseorang menulis dengan tangan:

Selena Hartono.

Aku menatap tulisan itu lama sekali.

Seolah dengan melihatnya lebih lama, huruf-huruf tersebut akan berubah kembali menjadi nama putriku.

Tidak terjadi.

Di belakangku terdengar suara kertas dibuka.

Nadia sedang merapikan kembali pidatonya yang tadi diremas.

Tangannya gemetar.

“Papa?”

Arga akhirnya menatapnya.

“Sayang, Selena menulis sesuatu yang menurut Papa lebih cocok dengan tema malam ini.”

Nadia berkedip.

“Tema?”

“Iya.”

Arga mengembuskan napas, seperti Nadia-lah yang membuat penjelasan sederhana menjadi rumit.

“Tulisannya lebih membahas Mama dan Papa sebagai dua orang yang pernah menjalani banyak hal bersama. Bukan cuma tentang kami sebagai orang tua.”

Nadia menatap tiga lembar kertas di tangannya.

Dia menghabiskan hampir dua minggu menulis pidato itu.

Aku tahu karena beberapa kali aku melihat lampu kamarnya masih menyala lewat tengah malam.

Dia bahkan pernah bertanya kepadaku,

“Ma, waktu pertama kali Papa melamar Mama, Mama langsung bilang iya?”

Aku tertawa waktu itu.

Aku mengira dia hanya penasaran.

Ternyata dia sedang mencoba mengenal kisah kami agar bisa menulis sesuatu yang berarti untuk malam ini.

Sekarang ayahnya menggantikan pidato itu tanpa memberitahunya.

Demi mantan kekasihnya.

Mulut Nadia terbuka.

Namun tidak ada suara yang keluar.

Arga kemudian berbalik kepadaku.

“Kita sudah terlambat. Bisa nggak kita jalani saja acaranya tanpa bikin keributan?”

Pada saat itu, sesuatu di dalam diriku mendadak menjadi sangat tenang.

Bukan marah.

Bukan ingin menangis.

Hanya…

tenang.

Aku telah menghabiskan sembilan bulan mempersiapkan malam itu.

Aku memilih menu satu per satu.

Mencicipi empat jenis kue sebelum menentukan pilihan.

Membandingkan tiga fotografer.

Mengurus kamar resort untuk keluarga yang datang dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Memesan pemain musik.

Menentukan dekorasi.

Menulis kartu ucapan kecil dengan tangan untuk setiap meja.

Bahkan menghabiskan tiga hari Sabtu berkeliling butik mencari gaun yang membuatku kembali merasa seperti perempuan berusia dua puluh delapan tahun yang dahulu percaya bahwa Arga Pradana tidak akan pernah sengaja mempermalukannya.

Dan sekarang…

suamiku membawa cinta pertamanya ke acara pembaruan janji pernikahan kami.

Dia memberikan bunga keluarga kepada wanita itu.

Dia menghapus nama putri kami dari susunan acara.

Lalu menggantinya dengan nama mantan kekasihnya.

Tanpa memberi tahu kami.

Namun entah bagaimana…

akulah orang yang dianggap berpotensi membuat suasana tidak nyaman.

Aku menutup buku kecil berisi janji pernikahan yang sejak tadi kugenggam.

Kemudian aku berjalan menuju Maya.

Headset koordinator acara itu masih terpasang di sebelah telinganya.

“Maya.”

Dia menoleh.

“Ya, Bu Rani?”

“Kalau saya membatalkan upacara pembaruan janji ini, makan malam tetap bisa disajikan, kan?”

Matanya langsung membesar.

“Membatalkan upacara?”

“Iya.”

Maya menatapku beberapa detik.

Kemudian pandangannya melewati bahuku.

Aku tahu apa yang dilihatnya.

Arga sedang berbicara kepada Nadia dengan ekspresi kesal.

Selena berdiri beberapa langkah dari mereka.

Dan untuk pertama kalinya sejak tiba, wajah percaya diri wanita itu mulai menghilang.

“Dapur sudah hampir selesai menyiapkan semuanya,” jawab Maya hati-hati. “Makan malam tetap bisa dilanjutkan. Ballroom juga sudah siap.”

“Bagus.”

“Bu Rani… Ibu yakin?”

Aku menatapnya.

“Yakin.”

Lalu aku berjalan menuju mikrofon.

Arga melihatku.

Ekspresinya langsung berubah.

“Rani.”

Aku tidak berhenti.

Aku mengambil mikrofon dan menyalakannya.

Pop.

Suara kecil dari pengeras suara membuat percakapan delapan puluh orang perlahan menghilang.

Ibu mertuaku duduk di barisan depan.

Adik Arga, Dimas, langsung menegakkan tubuhnya.

Kakakku, Dewi, bahkan sudah berdiri dari kursinya seolah tahu sesuatu akan terjadi.

Aku memandang semua orang yang telah datang dari berbagai kota untuk menyaksikan aku dan Arga berjanji menjalani dua puluh tahun berikutnya bersama.

Kemudian aku berkata,

“Terima kasih semuanya sudah datang malam ini.”

Suasana benar-benar sunyi.

“Namun saya ingin menyampaikan bahwa… tidak akan ada pembaruan janji pernikahan malam ini.

Seseorang di barisan belakang terdengar menarik napas keras.

Arga langsung berjalan ke arahku.

Tetapi aku melanjutkan.

“Makan malam sudah disiapkan. Musik sudah dibayar. Banyak dari kalian menempuh perjalanan jauh dan meluangkan akhir pekan untuk merayakan hari ini bersama kami.”

Aku berhenti sebentar.

“Jadi silakan tetap tinggal.”

Beberapa tamu saling berpandangan.

“Silakan makan. Menikmati musik. Mengobrol. Kalau mau berdansa, berdansalah. Nikmati malam ini dan pemandangan pegunungan.”

“Rani,” suara Arga terdengar semakin dekat.

Aku menoleh kepadanya.

Untuk pertama kalinya malam itu, wajah suamiku tidak lagi tenang.

Aku menatap tepat ke matanya.

“Tapi satu hal yang pasti…”

Tanganku menggenggam mikrofon lebih erat.

“Tidak akan ada janji yang diucapkan malam ini.”

Kemudian aku menyerahkan mikrofon kepada Maya.

Selama beberapa detik…

tidak seorang pun bergerak.

Salah satu pemain cello bahkan tanpa sengaja memainkan dua nada sebelum sadar bahwa acara yang seharusnya mereka iringi sudah dibatalkan.

Lalu staf resort mulai membuka pintu ballroom.

Para tamu perlahan berdiri.

Bisikan mulai terdengar dari segala arah.

Aku baru berjalan beberapa langkah ketika tangan Arga mencengkeram lenganku.

Aku berhenti.

Dia mendekatkan wajahnya kepadaku.

Matanya dipenuhi kemarahan dan kepanikan.

“Apa-apaan kamu, Rani?”

Aku perlahan menatap tangannya yang masih mencengkeram lenganku.

Lalu menatap wajah suamiku.

Dan saat itu aku belum tahu bahwa keputusan membatalkan upacara tersebut akan membuka sebuah rahasia yang ternyata sudah disembunyikan Arga dan Selena dariku selama bertahun-tahun.

Rahasia yang membuat penghinaan malam itu terlihat kecil dibandingkan dengan apa yang akan kutemukan setelahnya…

Arga masih mencengkeram lenganku ketika aku berkata pelan,

“Lepaskan.”

Dia tidak langsung melakukannya.

Wajahnya tegang, rahangnya mengeras.

“Rani, kamu mempermalukan aku di depan semua orang.”

Aku menatapnya lama.

Lalu mataku beralih ke Selena yang berdiri beberapa meter di belakangnya.

“Menarik,” kataku. “Karena sampai lima menit lalu, kupikir malam ini tentang pernikahan kita. Ternyata tentang harga dirimu.”

Arga akhirnya melepaskan tangannya.

“Jangan dramatis.”

Aku hampir tertawa.

Dua puluh tahun.

Dua puluh tahun aku hidup dengan seorang pria yang setiap kali menyakiti orang lain, selalu menemukan kata untuk membuat orang itu terdengar berlebihan.

Nadia berdiri tak jauh dari kami.

Matanya merah, tapi dia tidak menangis.

Itu justru membuatku lebih marah.

Anak kami selalu menangis kalau sedih.

Malam itu, dia terlalu malu untuk menangis.

Aku berjalan menghampirinya.

“Kita masuk.”

Namun sebelum kami sempat bergerak, Selena berkata,

“Rani, tunggu.”

Aku berhenti.

Tidak berbalik.

“Aku rasa ada kesalahpahaman.”

Barulah aku menoleh.

Selena sudah melepas bunga krem dari pergelangan tangannya.

Dia menggenggamnya dengan canggung.

“Aku tidak tahu bunga ini milik Nadia.”

Aku menatap Arga.

“Benarkah?”

Selena mengikuti tatapanku.

Arga tidak menjawab.

Dia malah berkata, “Bukan waktu yang tepat membahas ini.”

Aku tersenyum tipis.

“Justru menurutku ini waktu yang sangat tepat.”

Beberapa tamu masih berada di taman. Sebagian pura-pura mengobrol. Sebagian jelas sedang mendengarkan.

Arga menurunkan suara.

“Masuk ke kamar. Kita bicara berdua.”

“Tidak.”

“Rani.”

“Tidak ada lagi pembicaraan berdua untuk malam ini.”

Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah.

Bukan marah.

Takut.

Hanya sekilas.

Tapi aku melihatnya.

Dan aku langsung tahu.

Ada sesuatu yang lebih besar.

Aku belum tahu apa.

Namun seorang istri yang sudah hidup dua puluh tahun dengan suaminya tahu perbedaan antara wajah orang yang kesal dan wajah orang yang panik.

Aku menggandeng tangan Nadia.

“Kita ke ballroom.”

Saat kami berjalan, Dewi menyusul.

“Ran.”

Aku menoleh.

Kakakku memegang sebuah amplop putih.

“Ada orang menitipkan ini di meja registrasi.”

“Untuk siapa?”

“Untuk kamu.”

Aku mengambilnya.

Namaku tertulis di depan.

Bukan tulisan tangan yang kukenal.

Di bagian belakang hanya ada satu kalimat:

Buka sebelum kamu pulang bersama suamimu.

Dadaku langsung terasa dingin.

“Siapa yang kasih?”

“Staf bilang seorang pria tua. Datang sebentar, lalu pergi.”

Arga yang berjalan beberapa langkah di belakang kami tiba-tiba berhenti.

Wajahnya memucat.

Aku melihatnya.

Dia melihat amplop itu.

Dan semua keraguanku hilang.

“Kamu tahu ini apa?” tanyaku.

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Aku membuka amplop itu.

Di dalamnya ada tiga lembar fotokopi dan sebuah flashdisk kecil.

Lembar pertama adalah salinan bukti transfer bank.

Dua ratus lima puluh juta rupiah.

Dikirim lima tahun lalu dari rekening perusahaan Arga ke rekening atas nama Selena Hartono.

Lembar kedua.

Seratus delapan puluh juta.

Tiga tahun lalu.

Lembar ketiga.

Tujuh puluh lima juta.

Enam bulan lalu.

Tanganku dingin.

Nadia berdiri di sampingku.

“Ma… itu apa?”

Aku tidak langsung menjawab.

Mataku tertuju pada keterangan transfer.

Dana pendidikan.

Pelunasan biaya rumah sakit.

Kebutuhan keluarga.

Keluarga.

Aku menatap Selena.

Dia tidak lagi terlihat cantik dan sempurna.

Dia terlihat seperti seseorang yang baru melihat pintu keluar tertutup.

“Arga,” kataku. “Keluarga siapa?”

Dia mendekat.

“Rani, bukan di sini.”

“Kalau bukan di sini, lima tahun lalu seharusnya kamu sudah menjelaskan.”

“Bukan seperti yang kamu pikir.”

Kalimat paling tua di dunia.

Aku mengangkat flashdisk.

“Dan ini?”

Arga tidak menjawab.

Selena mendadak berkata,

“Aku bisa jelaskan.”

Aku menatapnya.

“Nah. Akhirnya.”

Kami masuk ke sebuah ruang kecil di samping ballroom.

Hanya aku, Arga, Selena, Nadia, dan Dewi.

Dimas mencoba ikut, tapi Arga menyuruhnya keluar.

Aku menancapkan flashdisk ke laptop milik event organizer.

Ada beberapa folder.

Foto.

Rekaman suara.

Dokumen.

Dan satu file video.

Aku membukanya.

Rekaman CCTV sebuah rumah sakit.

Tanggalnya sebelas tahun lalu.

Koridor rawat inap.

Gambar buram.

Lalu muncul Arga.

Dia berdiri di depan ruang perawatan bersama Selena.

Mereka berbicara.

Selena menangis.

Arga memeluknya.

Nadia menarik napas.

Aku masih diam.

Video berlanjut.

Seorang anak laki-laki sekitar tujuh tahun keluar dari kamar.

Selena langsung membungkuk memeluknya.

Arga ikut berjongkok.

Anak itu memanggil sesuatu.

Tidak ada suara dalam rekaman.

Namun bibirnya bergerak jelas.

“Papa.”

Tanganku jatuh dari mouse.

Nadia menatap ayahnya.

“Papa?”

Arga memejamkan mata.

Selena langsung menangis.

“Rani, dengarkan dulu.”

Aku menoleh perlahan kepada suamiku.

“Berapa umur anak itu sekarang?”

Arga tidak menjawab.

Aku menaikkan suara.

“Berapa?”

“Delapan belas.”

Ruangan itu terasa mengecil.

Nadia lebih dulu mengerti.

Dia menutup mulutnya.

Aku menatapnya.

Lalu menatap Arga lagi.

“Delapan belas?”

Dia mengangguk kecil.

Aku melakukan perhitungan dalam kepala.

Dua puluh tahun menikah.

Nadia sembilan belas.

Anak Selena delapan belas.

Aku tertawa kecil.

Suara yang keluar terdengar asing.

“Jadi saat aku hamil Nadia…”

“Bukan begitu.”

“Kapan?”

“Rani.”

“Kapan kamu tidur dengannya?”

Selena menangis lebih keras.

Arga berkata,

“Sebelum pernikahan kita.”

Aku membeku.

“Dia hamil sebelum kita menikah?”

“Ya.”

Untuk sesaat, aku hampir merasa lega.

Lalu pikiranku menangkap sesuatu yang jauh lebih buruk.

“Kamu tahu?”

Dia diam.

“Ketika menikah denganku, kamu tahu Selena sedang mengandung anakmu?”

Air muka Arga hancur.

Dan diamnya sudah cukup.

Aku mundur satu langkah.

Rasanya lebih sakit daripada kalau dia mengaku berselingkuh setelah kami menikah.

Karena itu berarti seluruh awal pernikahanku dibangun di atas sesuatu yang disembunyikan.

Aku menatap Selena.

“Kenapa kamu tidak pernah mengatakan apa pun?”

Selena menghapus air mata.

“Karena aku pergi.”

“Kenapa?”

“Orang tua Arga.”

Aku menoleh tajam.

Arga langsung berkata, “Jangan.”

Selena malah membuka tasnya.

Dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tua.

“Ayah Arga datang menemui keluargaku waktu aku hamil.”

Arga memukul meja.

“Cukup, Selena.”

Aku berteriak,

“Biarkan dia bicara!”

Ruangan mendadak sunyi.

Selena menatapku.

“Mereka bilang Arga akan menikahimu. Keluargamu punya koneksi bisnis yang penting waktu itu. Mereka tidak mau skandal.”

Aku merasa mual.

“Apa yang mereka lakukan?”

“Mereka menawarkan uang.”

“Dan kamu menerimanya?”

“Ayahku menerimanya.”

Suara Selena pecah.

“Aku tidak.”

Dia membuka amplop itu.

Ada salinan surat lama.

Sebuah perjanjian.

Nama ayah mertuaku.

Nama ayah Selena.

Nominal uang.

Dan kalimat yang membuat kakiku lemas:

Pihak kedua bersedia tidak menghubungi Arga Pradana dan keluarga setelah kelahiran anak.

Nadia duduk.

Dia benar-benar terduduk di kursi seperti kehilangan tenaga.

Aku menatap Arga.

“Kamu tahu tentang perjanjian ini?”

“Tidak waktu itu.”

“Kapan tahu?”

“Sebelas tahun lalu.”

Rekaman rumah sakit.

Aku mengerti.

“Itu hari kamu bertemu anak itu.”

Arga mengangguk.

“Namanya siapa?”

“Raka.”

Suara Nadia terdengar pelan.

“Jadi aku punya kakak?”

Arga menatapnya.

“Secara darah… iya.”

Aku melihat sesuatu berubah di wajah Nadia.

Bukan marah kepadaku.

Bukan kepada Selena.

Hanya kehancuran kecil yang sunyi.

Dia berdiri.

“Papa sudah tahu sebelas tahun dan nggak pernah bilang aku?”

“Nadia, Papa mencoba melindungi—”

“Dari apa?”

Dia hampir berteriak.

“Dari punya kakak?”

Arga bangkit.

“Nak, situasinya rumit.”

“Selalu itu jawaban Papa!”

Nadia menunjuk program acara yang masih dia genggam.

“Pidatoku juga terlalu sederhana, kan? Aku cuma anak yang membahas Mama dan Papa sebagai orang tua. Sementara Tante Selena lebih cocok karena dia tahu Papa sebagai ‘orang’?”

Arga tidak mampu menjawab.

Nadia mulai menangis.

Akhirnya.

Aku langsung memeluknya.

Dia menangis di bahuku seperti anak kecil.

“Ma… aku bodoh banget.”

“Tidak.”

“Aku nulis tiga halaman tentang betapa Papa selalu menjaga keluarga.”

Kalimat itu menghancurkan sesuatu dalam diriku.

Aku memeluknya lebih erat.

Di belakang kami, Selena berkata,

“Rani, aku minta maaf.”

Aku menoleh.

“Untuk apa? Datang malam ini atau delapan belas tahun diam?”

Dia tersentak.

“Aku datang karena Arga minta.”

Aku menatap Arga.

Tentu saja.

“Kenapa?”

Arga menyeka wajahnya.

“Karena Raka sedang sakit.”

Semua orang terdiam.

“Penyakit apa?”

“Ginjal.”

Selena menjawab.

“Sudah dua tahun. Kondisinya memburuk.”

Aku tidak tahu harus merasakan apa.

Marah.

Kasihan.

Dikhianati.

Semuanya sekaligus.

Arga berkata,

“Aku ingin setelah acara ini kita bicara. Aku pikir kalau Selena membaca sesuatu tentang masa lalu, mungkin akan membuka jalan.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Kamu membawa ibu dari anak rahasiamu ke pembaruan janji pernikahan kita untuk membuka jalan?”

“Aku panik.”

“Dan kamu menghapus nama anak kita?”

“Aku nggak berpikir sejauh itu.”

“Itulah masalahmu, Arga. Kamu selalu berpikir sejauh yang cukup untuk menyelamatkan dirimu.”

Dia terdiam.

Lalu Selena mengeluarkan satu dokumen lagi.

“Ada hal lain.”

Arga langsung menegang.

“Selena.”

“Aku nggak bisa terus.”

Dia menyerahkan dokumen itu kepadaku.

Hasil pemeriksaan kompatibilitas donor.

Nama Raka.

Nama Arga.

Tidak cocok.

Aku mengernyit.

“Kenapa kamu menunjukkan ini?”

Selena menutup mata.

“Karena Arga bukan ayah biologis Raka.”

Semua udara seperti hilang dari ruangan.

Arga menatapnya.

“Apa?”

Bahkan dia tampak terkejut.

Selena menangis.

“Aku tahu sejak dua bulan lalu.”

Arga berdiri begitu cepat sampai kursinya jatuh.

“Apa maksudmu?”

“Aku melakukan tes DNA.”

“Tapi… kamu bilang—”

“Aku juga selalu yakin Raka anakmu.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Aku bahkan tidak bisa mengikuti jumlah kebohongan yang terbuka malam itu.

Selena menggenggam kedua tangannya.

“Sebelum aku kembali dekat dengan Arga dulu, aku pernah berhubungan dengan seseorang. Hanya sekali. Aku pikir waktunya tidak mungkin cocok. Tapi waktu rumah sakit meminta pemeriksaan genetik lanjutan, aku tes.”

Arga pucat.

“Siapa ayahnya?”

Selena menangis semakin keras.

Dia tidak menjawab.

Arga mengulang,

“Siapa?”

Selena melihat ke arah pintu.

Dan tepat saat itu, pintu terbuka.

Dimas berdiri di sana.

Wajahnya seperti orang mati.

Aku langsung tahu.

Tidak perlu ada yang mengatakan.

Arga melihat adiknya.

“Tidak.”

Dimas tidak bergerak.

“Ga…”

Arga maju.

“Tidak.”

“Waktu itu aku dua puluh tahun. Aku mabuk. Aku dan Selena—”

Arga meninju dinding di samping kepala Dimas.

Nadia menjerit.

Aku langsung berdiri di depannya.

“Cukup!”

Arga gemetar.

Seluruh tubuhnya benar-benar gemetar.

Selama bertahun-tahun dia diam-diam membantu anak yang dia kira darah dagingnya.

Dia menyembunyikannya dariku.

Berbohong.

Mengirim uang.

Membawa Selena kembali.

Dan malam ini, dia baru tahu bahwa anak itu ternyata putra adiknya sendiri.

Ironisnya begitu kejam sampai aku nyaris tidak bisa bernapas.

Dimas duduk perlahan.

“Aku nggak pernah tahu.”

Selena mengangguk.

“Aku juga.”

Arga menatap mereka.

Lalu menatapku.

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun pernikahan kami, aku melihat dia benar-benar tidak punya rencana.

Tidak punya pembelaan.

Tidak punya kontrol.

Hanya seorang pria yang hidupnya runtuh karena kebohongan yang dia pilih sendiri.

Aku mengambil tasku.

“Nadia, kita pulang.”

Arga mengejarku.

“Rani.”

Aku berhenti.

“Aku memang salah. Tapi aku melakukan semua ini karena merasa bertanggung jawab.”

Aku menatapnya.

“Bertanggung jawab?”

“Iya.”

“Kamu tahu apa itu tanggung jawab, Arga?”

Dia diam.

“Tanggung jawab itu mengatakan kebenaran sebelum orang lain kehilangan hak untuk memilih.”

Matanya merah.

“Aku takut kehilangan kamu.”

“Dan untuk mencegahnya, kamu memastikan aku hidup dua puluh tahun dalam pernikahan yang tidak pernah sepenuhnya kukenal.”

Dia menunduk.

Aku melanjutkan,

“Kalau dua puluh tahun lalu kamu bilang Selena hamil dan kamu merasa anak itu anakmu, mungkin aku akan tetap menikah denganmu.”

Arga mengangkat kepala.

“Tapi sekarang aku tidak akan pernah tahu.”

Aku menggenggam tangan Nadia.

“Karena kamu mengambil pilihan itu dariku.”

Kami meninggalkan resort malam itu.

Aku tidak pulang ke rumah bersama Arga.

Nadia dan aku menginap di rumah Dewi selama tiga minggu.

Arga menelepon setiap hari.

Aku tidak memblokirnya.

Tapi aku juga tidak menjawab.

Aneh sekali.

Kadang-kadang orang berpikir akhir pernikahan terjadi saat pintu dibanting, koper dilempar, atau surat cerai ditandatangani.

Bagiku, akhir itu lebih tenang.

Terjadi pada pagi biasa ketika aku kembali ke rumah kami untuk mengambil beberapa pakaian.

Aku membuka lemari.

Di sana tergantung jas Arga.

Kemejanya.

Dasi yang kupilihkan untuk ulang tahunnya.

Semua benda biasa.

Aku berdiri menatap semuanya dan sadar:

Aku tidak membenci suamiku.

Aku hanya tidak lagi percaya pada hidup yang kubangun bersamanya.

Dua bulan kemudian, aku mengajukan gugatan cerai.

Arga tidak melawan.

Namun kisah kami belum benar-benar selesai.

Raka menjalani operasi transplantasi enam bulan kemudian.

Donornya adalah Dimas.

Tes menunjukkan kecocokan yang sangat baik.

Untuk pertama kalinya, Dimas benar-benar bertemu putranya sebagai ayah.

Hubungan mereka tidak langsung indah.

Tidak ada adegan film di mana mereka berpelukan dan semuanya sembuh.

Raka marah.

Sangat marah.

Namun setelah operasi, Dimas tetap datang.

Hari demi hari.

Membawa bubur.

Membantu mengganti charger.

Menonton pertandingan bola dari laptop.

Kadang mereka tidak bicara sama sekali.

Tapi dia tetap datang.

Nadia juga ingin bertemu Raka.

Awalnya aku ragu.

Lalu dia berkata sesuatu yang tidak bisa kubantah.

“Ma, Papa dan orang-orang dewasa yang bohong. Aku sama Raka nggak pernah punya pilihan. Jangan hukum kami juga.”

Jadi aku mengantarnya.

Pertemuan pertama mereka canggung.

Nadia membawa sebuah kotak donat.

Raka menatapnya dan berkata,

“Jadi kamu bukan adikku.”

Nadia menjawab,

“Secara teknis sepupu.”

Raka tersenyum untuk pertama kalinya.

“Lebih aneh.”

Mereka tertawa.

Aku menangis diam-diam di lorong rumah sakit.

Setahun setelah malam di Puncak itu, Nadia mengadakan ulang tahunnya yang kedua puluh.

Tidak besar.

Hanya keluarga dan teman dekat.

Arga datang.

Aku mengizinkannya karena apa pun yang terjadi antara aku dan dia, dia tetap ayah Nadia.

Raka juga datang bersama Dimas dan Selena.

Dan ada satu momen yang tidak pernah kubayangkan.

Nadia berdiri membawa selembar kertas.

Kertas baru.

Bukan pidato yang pernah diremas di vow renewal kami.

Dia mengetuk gelas.

Semua orang diam.

“Aku pernah menulis tiga halaman tentang pernikahan orang tuaku.”

Arga menunduk.

Aku menahan napas.

Nadia melanjutkan,

“Aku nggak akan membacanya.”

Lalu dia merobek kertas itu menjadi dua.

Semua orang terdiam.

Kemudian dia tersenyum.

“Karena sekarang aku tahu keluarga bukan cerita sempurna yang kita tulis supaya orang lain kagum.”

Dia menatapku.

“Keluarga adalah orang-orang yang tetap memilih jujur setelah semuanya berantakan.”

Mataku panas.

Lalu dia menatap Arga.

“Dan kadang mencintai seseorang juga berarti berhenti membenarkan kesalahannya.”

Arga menangis.

Benar-benar menangis.

Aku belum pernah melihatnya seperti itu.

Setelah pesta selesai, dia menghampiriku di teras.

“Ran.”

Aku menoleh.

Dia tampak lebih tua.

Bukan secara fisik.

Hanya seperti seseorang yang akhirnya merasakan berat semua keputusan yang dulu bisa dia sembunyikan.

“Aku nggak akan minta kamu kembali.”

Aku diam.

“Tapi aku ingin bilang sesuatu yang seharusnya kukatakan lama sekali.”

Dia menelan ludah.

“Aku minta maaf karena selama ini aku pikir mencintai keluarga berarti menyembunyikan hal yang bisa menghancurkannya.”

Aku menatap lampu taman.

“Kadang kebenaran memang menghancurkan keluarga.”

Dia mengangguk.

Aku melanjutkan,

“Tapi kebohongan membuat kita tinggal di dalam sesuatu yang sebenarnya sudah retak tanpa kita tahu.”

Arga menunduk.

Sebelum pergi, dia berkata,

“Semoga suatu hari kamu bahagia lagi.”

Aku tersenyum kecil.

“Arga.”

Dia berhenti.

“Aku sudah mulai.”

Dua tahun kemudian, aku tidak menikah lagi.

Setidaknya belum.

Aku membuka sebuah studio kecil untuk dekorasi acara bersama Dewi.

Lucunya, setelah pernikahanku sendiri berakhir di sebuah acara yang kurancang selama sembilan bulan, aku justru menemukan kehidupan baru dengan membantu orang lain merayakan momen mereka.

Kami punya satu aturan.

Kalau acara vow renewal, aku selalu bertanya kepada pasangan itu secara terpisah:

“Apakah ada sesuatu yang pasangan Anda perlu tahu sebelum Anda mengucapkan janji baru?”

Dewi selalu tertawa kalau mendengarnya.

Namun bagiku, itu bukan lelucon.

Karena janji kedua hanya punya arti jika kebenaran pertama sudah selesai dibicarakan.

Suatu sore, aku sedang memasang bunga untuk acara ulang tahun pernikahan pasangan tua ketika Nadia datang bersama Raka.

Mereka sekarang benar-benar seperti kakak-adik—meskipun secara biologis sepupu.

Mereka saling mengejek.

Saling meminjam uang.

Saling mengadu kepadaku kalau yang lain menyebalkan.

Dan anehnya, dari seluruh kehancuran itu, sesuatu yang baik benar-benar lahir.

Raka punya ayah yang akhirnya hadir.

Nadia punya keluarga yang lebih luas.

Selena tidak lagi hidup dengan rahasia.

Dimas belajar bertanggung jawab.

Arga kehilangan pernikahannya, tetapi menjadi ayah yang jauh lebih jujur kepada Nadia.

Dan aku?

Aku mendapatkan kembali sesuatu yang bahkan tidak kusadari sudah hilang.

Diriku sendiri.

Di dinding studio, ada sebuah bingkai kecil.

Di dalamnya bukan foto pernikahan.

Bukan surat cerai.

Bukan bukti transfer.

Melainkan satu bunga mawar krem yang sudah dikeringkan.

Bunga milik Nadia dari malam itu.

Dulu aku menganggap bunga itu sebagai simbol penghinaan terbesar dalam hidupku.

Sekarang tidak lagi.

Setiap melihatnya, aku teringat satu hal:

Malam ketika suamiku membawa cinta pertamanya ke pembaruan janji pernikahan kami, aku pikir aku sedang kehilangan keluarga.

Ternyata aku hanya sedang kehilangan versi keluarga yang dibangun dari rahasia.

Dan ketika semuanya runtuh…

barulah kami akhirnya punya kesempatan membangun sesuatu yang nyata.

Bukan pernikahan yang sempurna.

Bukan keluarga yang sempurna.

Hanya orang-orang yang akhirnya berani mengatakan kebenaran.

Dan ternyata…

itu jauh lebih berharga daripada janji apa pun yang seharusnya kami ucapkan malam itu.