AYAHKU MENJERIT SAAT AKU MENCOBA MELEPAS JAKETNYA: “TOLONG… JANGAN.” SETIAP KAKAKKU MASUK RUANGAN, TUBUH AYAH SELALU GEMETAR. LALU AKU MELIHAT APA YANG DISEMBUNYIKANNYA DI BALIK JAKET TEBAL ITU—DAN MENEMUKAN TAGIHAN RP135 JUTA YANG MEMBUKTIKAN SEMUANYA BUKAN KECELAKAAN.

Avatar penulis
Cerita 04
21 menit baca 154 tayangan
AYAHKU MENJERIT SAAT AKU MENCOBA MELEPAS JAKETNYA: “TOLONG… JANGAN.” SETIAP KAKAKKU MASUK RUANGAN, TUBUH AYAH SELALU GEMETAR. LALU AKU MELIHAT APA YANG DISEMBUNYIKANNYA DI BALIK JAKET TEBAL ITU—DAN MENEMUKAN TAGIHAN RP135 JUTA YANG MEMBUKTIKAN SEMUANYA BUKAN KECELAKAAN.
Indeks

AYAHKU MENJERIT SAAT AKU MENCOBA MELEPAS JAKETNYA: “TOLONG… JANGAN.” SETIAP KAKAKKU MASUK RUANGAN, TUBUH AYAH SELALU GEMETAR. LALU AKU MELIHAT APA YANG DISEMBUNYIKANNYA DI BALIK JAKET TEBAL ITU—DAN MENEMUKAN TAGIHAN RP135 JUTA YANG MEMBUKTIKAN SEMUANYA BUKAN KECELAKAAN.

BAGIAN 1

“Tolong… jangan dilepas,” pinta ayahku.

Lengan jaketnya hanya tersingkap beberapa sentimeter.

Namun itu sudah cukup bagiku untuk melihat lebam kehitaman yang melingkari pergelangan tangannya.

Lalu kakakku menggedor pintu kamar mandi.

“Nadira, buka pintunya. Sekarang.”

AYAHKU MENJERIT SAAT AKU MENCOBA MELEPAS JAKETNYA: “TOLONG… JANGAN.” SETIAP KAKAKKU MASUK RUANGAN, TUBUH AYAH SELALU GEMETAR. LALU AKU MELIHAT APA YANG DISEMBUNYIKANNYA DI BALIK JAKET TEBAL ITU—DAN MENEMUKAN TAGIHAN RP135 JUTA YANG MEMBUKTIKAN SEMUANYA BUKAN KECELAKAAN.

Aku segera menyalakan shower agar suara air menutupi percakapan kami, lalu menatap ayah.

Usianya tujuh puluh delapan tahun.

Selama hampir empat puluh tahun, Pak Surya Pratama bekerja sebagai teknisi perawatan kereta api. Setelah ibu meninggal, dialah yang membesarkan aku dan kakakku sendirian.

Dulu, saat aku masih kuliah di Bandung dan menelepon sambil menangis karena patah hati untuk pertama kalinya, Ayah mengendarai mobil berjam-jam di tengah hujan deras hanya untuk memastikan aku baik-baik saja.

Aku tidak pernah melihat Ayah takut kepada siapa pun.

Sampai hari itu.

Beberapa jam sebelumnya, aku tiba tanpa memberi kabar di rumah kakakku di kawasan Sentul, Bogor.

Hari itu ulang tahun Ayah.

Aku membawa kue cokelat dari toko roti favoritnya serta sebuah foto lama Ayah dan Ibu yang sudah kurestorasi dan kubingkai.

Cuaca siang itu sangat panas.

Namun ketika pintu dibuka, aku melihat Ayah duduk di ruang keluarga mengenakan jaket wol cokelat tebal yang dikancingkan sampai ke leher.

Aku langsung merasa ada sesuatu yang tidak wajar.

Gorden rumah tertutup.

Televisi mati.

Koran yang biasanya selalu berada di dekat kursi Ayah tidak terlihat.

Radio kecil kesayangannya—yang biasanya dibawa dari kamar ke dapur lalu ke teras—juga menghilang.

Kakak iparku, Dewi, membuka pintu dan menatapku seperti aku datang untuk menagih utang.

“Kamu seharusnya telepon dulu.”

“Aku ingin memberi kejutan untuk Ayah.”

Dewi menghela napas.

“Ayah sekarang tidak bisa menghadapi kejutan.”

Di pergelangan tangannya ada gelang berlian baru.

Aku langsung mengenalinya.

Beberapa bulan sebelumnya, Dewi pernah mengirim foto gelang serupa kepadaku sambil bercanda bahwa kakakku tidak mungkin mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk sebuah perhiasan.

Rupanya sekarang kakakku berubah pikiran.

Ayah mencoba berdiri ketika melihatku.

Untuk sesaat, senyum lamanya kembali.

“Nadira…”

Suaranya bergetar.

“Anak Ayah.”

Aku hampir menangis mendengarnya.

Tetapi sebelum Ayah sempat mendekat, kakakku, Raka, keluar dari arah dapur.

Dalam sekejap, Ayah kembali duduk.

Gerakannya begitu kecil hingga mungkin orang lain tidak akan menyadarinya.

Namun aku melihat jelas.

Bahu Ayah menegang.

Kedua tangannya langsung disembunyikan di balik jaket.

Raka mendekat dan mencium pipiku.

“Cepat juga sampai.”

Aku tidak menjawab.

Tatapanku tetap pada Ayah.

“Kenapa Ayah memakai jaket setebal itu?”

“Sekarang dia selalu merasa kedinginan,” jawab Dewi cepat.

Aku menoleh.

“Di Bogor yang panas begini?”

Raka tersenyum tipis, seperti seseorang yang sudah terlalu lelah menjelaskan masalah yang sama berulang kali.

“Nah, beginilah yang kami hadapi setiap hari.”

Aku diam.

“Dia sekarang sering bingung,” lanjut Raka. “Keras kepala. Curiga sama semua orang.”

Ayah menunduk menatap lantai.

Tiga bulan sebelumnya, Ayah masih bisa pergi sendiri ke minimarket dan membeli makanan kesukaannya.

Sekarang tubuhnya terlihat jauh lebih kurus.

Pipinya cekung.

Bibirnya kering.

Dan ketika aku memeluknya, tubuhnya tiba-tiba tersentak seperti menahan sakit.

Aku langsung melepaskan pelukan.

“Ayah kenapa?”

Raka memperhatikan reaksiku.

“Dia jatuh di kamar mandi minggu lalu.”

Aku menatapnya.

“Kenapa kamu tidak memberi tahu aku?”

“Karena kamu pasti bereaksi berlebihan.”

Ia mengatakannya dengan begitu santai.

Kemudian Raka mengambil sebuah map tebal dan meletakkannya di meja.

Di dalamnya terdapat kuitansi apotek, tagihan makanan, biaya pemeriksaan kesehatan, serta beberapa dokumen bank.

Lalu aku melihat satu dokumen yang membuatku berhenti bernapas sesaat.

Surat kuasa pengelolaan keuangan.

Dokumen itu memberikan Raka kewenangan untuk mengurus rekening, pembayaran, serta beberapa aset milik Ayah.

“Kapan Ayah menandatangani ini?”

“Dua bulan lalu.”

Ayah tiba-tiba mengangkat kepala.

“Ayah tidak—”

Dewi langsung memotong ucapannya.

“Ayah menandatanganinya, Pak. Notaris sudah menjelaskan semuanya.”

Aku menatap Ayah.

Wajahnya pucat.

Raka kemudian bersandar di sofa.

“Kamu tidak tahu berapa besar pengorbanan kami untuk merawat Ayah.”

Aku tidak menjawab.

“Aku sampai menolak beberapa pekerjaan,” katanya. “Dewi hampir tidak pernah tidur nyenyak. Sementara kamu tinggal di Surabaya, menelepon dua kali seminggu, transfer sedikit uang, lalu merasa sudah menjadi anak paling perhatian.”

Kalimat itu menyakitkan.

Karena sebagian memang benar.

Aku bekerja di Surabaya.

Aku sering menelepon Ayah dan mengirim uang setiap bulan.

Namun sudah hampir empat bulan aku tidak pulang.

Setiap kali aku mengatakan ingin datang, Raka selalu mengatakan Ayah sedang kelelahan, ada pemeriksaan dokter, atau tidak ingin menerima tamu.

Aku mempercayainya.

Dan saat itu rasa bersalah membuatku menelan kemarahan.

“Kamu benar,” kataku pelan.

Raka sedikit terkejut.

“Aku memang seharusnya lebih sering datang.”

Aku kemudian tersenyum pada Ayah.

“Selama aku di sini, biar aku bantu merawat Ayah.”

Malam itu aku menawarkan diri membantu Ayah mandi dan berganti pakaian sebelum makan malam.

Dewi langsung menoleh kepada Raka.

Tatapan singkat mereka membuatku semakin curiga.

“Kami bisa melakukannya,” kata Dewi.

“Aku anaknya.”

Raka menatapku cukup lama.

Kemudian ia mengangkat bahu.

“Silakan.”

Ia tersenyum.

“Asal jangan membuat Ayah stres.”

Begitu kami masuk kamar mandi, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Ayah sendiri yang mengunci pintunya.

Tangannya gemetar hebat.

Aku mendekatinya.

“Ayah?”

Ia tidak menjawab.

Aku mengulurkan tangan ke kancing paling atas jaketnya.

Begitu jemariku menyentuh kain itu, Ayah langsung menjerit.

“Jangan!”

Aku membeku.

Ayah mundur sampai punggungnya menempel pada wastafel.

“Tolong… jangan dilepas.”

Aku menatapnya.

“Ayah, kenapa?”

Air mata mulai memenuhi matanya.

“Kalau kamu melepasnya, Raka akan tahu Ayah sudah cerita.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

“Cerita apa?”

Ayah menatap pintu.

Lalu dengan suara yang hampir tidak terdengar, ia berkata,

“Dia mengikat lengan Ayah supaya Ayah tidak bisa bangun dari tempat tidur.”

Aku segera menyalakan shower.

Suara air memenuhi kamar mandi.

“Ayah, lihat aku.”

Ia menatapku.

“Raka menyakiti Ayah?”

Bibirnya bergetar.

“Setiap kali Ayah bertanya soal uang.”

Tiba-tiba terdengar gedoran dari luar.

“Nadira?”

Suara Raka.

“Buka pintunya.”

Aku tidak menjawab.

Dengan sangat perlahan, aku membantu Ayah membuka jaketnya.

Begitu kain wol itu terlepas dari tubuhnya, kedua lututku hampir kehilangan tenaga.

Ada lebam di sepanjang tulang rusuknya.

Sebagian sudah menguning.

Sebagian masih berwarna ungu tua.

Kedua pergelangan tangannya memerah dan lecet seperti bekas ikatan.

Ada luka tipis di bahunya.

Dan dekat tulang selangkanya terdapat bekas luka seperti tersentuh sesuatu yang sangat panas.

Aku harus berpegangan pada wastafel agar tetap berdiri.

“Ayah…”

Suaraku nyaris tidak keluar.

“Katanya Ayah jatuh.”

Ayah menggeleng perlahan.

“Dewi memukul Ayah pakai gesper tas.”

Air matanya jatuh.

“Raka yang memegang Ayah.”

Aku merasa seluruh tubuhku dingin.

Di luar, gagang pintu mulai digerakkan.

“Nadira.”

Suara Raka berubah keras.

“Buka pintunya.”

Aku mengeluarkan ponsel.

Dokter keluarga Ayah, dr. Bima Santoso, masih menyimpan nomorku sebagai kontak darurat.

Aku meneleponnya.

Ia menjawab setelah beberapa kali dering.

Aku berbicara sepelan mungkin sambil menjelaskan kondisi Ayah.

“Nadira, jangan tinggalkan Pak Surya sendirian,” katanya tegas. “Kalau beliau mengizinkan, dokumentasikan luka-lukanya. Setelah itu hubungi polisi dan layanan darurat. Semua luka itu harus diperiksa dan dicatat secara medis.”

Aku menatap Ayah.

“Boleh aku foto untuk bukti?”

Ayah mengangguk.

Tanganku gemetar ketika mengambil foto pergelangan tangannya.

Lalu saat hendak memotret bahunya, aku melihat bagian dalam jaket Ayah robek.

Ada sesuatu berwarna putih diselipkan di balik lapisannya.

Ayah buru-buru mengambilnya.

“Ayah simpan ini untuk kamu.”

Ia menyerahkan selembar kertas yang sudah terlipat.

Aku membukanya.

Di bagian atas tertulis nama sebuah perusahaan:

Nusantara Family Care.

Di bawahnya terdapat rincian:

Layanan pendampingan lansia di rumah.

Pengawasan 24 jam.

Manajemen perilaku.

Pemberian obat.

Total tagihan:

Rp135.000.000.

Di pojok dokumen terdapat cap:

LUNAS.

Alamat layanan adalah rumah Raka di Sentul.

Tetapi alamat penagihan menggunakan nama dan rekening Ayah.

Kemudian aku melihat sesuatu di bagian paling bawah.

Pada kolom “Penyedia Layanan yang Berwenang” terdapat tanda tangan.

Dewi Prameswari.

Aku menatap Ayah.

“Ayah membayar mereka untuk merawat Ayah?”

Ayah menggeleng.

“Mereka mengambilnya dari rekening Ayah setiap bulan.”

Aku tidak langsung memahami maksudnya.

“Setiap bulan?”

Ayah mengangguk.

Aku melihat nomor invoice.

Dua digit terakhirnya adalah:

09.

Tanganku mulai dingin.

Sembilan pembayaran.

Sembilan kali Rp135 juta.

Lebih dari Rp1,2 miliar sudah diambil dari rekening Ayah.

Saat itulah semuanya menjadi jelas.

Raka tidak pernah mengorbankan pekerjaannya demi merawat Ayah.

Dewi tidak kehilangan waktu tidur karena harus menjaga Ayah.

Mereka membuat perusahaan sendiri.

Kemudian menagih Ayah ratusan juta rupiah untuk “layanan perawatan” yang sebenarnya adalah cara mengurung dan mengendalikan dirinya.

Namun ternyata uang itu belum semuanya.

Ayah tiba-tiba mencengkeram lenganku.

“Malam ini mereka mau menyuruh Ayah tanda tangan surat lagi.”

Aku menatapnya.

“Surat apa?”

Matanya dipenuhi ketakutan.

“Rumah.”

Aku membeku.

Rumah Ayah di Bandung dibeli bersama Ibu puluhan tahun lalu.

Rumah itu satu-satunya tempat yang tidak pernah mau dijual Ayah sejak Ibu meninggal.

Sekarang nilainya mungkin sudah miliaran rupiah.

Aku membuka fitur pesan darurat di ponsel dan mulai mengetik alamat rumah Raka.

Sebelum sempat menekan tombol kirim—

terdengar bunyi kecil dari kunci pintu.

Klik.

Aku menoleh.

Raka ternyata memiliki kunci cadangan.

Pintu terbuka beberapa sentimeter.

Aku langsung mendorongnya dengan kaki agar ia tidak bisa masuk.

Untuk pertama kalinya hari itu, suara Raka benar-benar berubah.

Tidak ada lagi nada kakak yang ramah.

Tidak ada lagi wajah anak lelaki yang kelelahan karena merawat ayahnya.

“Nadira.”

Suaranya dingin.

“Kamu seharusnya tidak menemukan tagihan itu.”

Aku melihat melewati celah pintu.

Dewi berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Di tangannya ada sebuah suntikan medis.

Ayah langsung mundur.

Tubuhnya gemetar jauh lebih hebat daripada sebelumnya.

Kemudian ia berbisik di dekat telingaku.

Dan kalimat berikutnya membuatku sadar bahwa uang Ayah mungkin bukan alasan utama mereka begitu takut rahasia ini terbongkar.

“Mereka pernah melakukan hal yang sama sebelumnya.”

Aku menoleh kepadanya.

“Kepada siapa?”

Ayah menutup mata.

Lalu menjawab dengan suara patah,

“Bukan cuma Ayah yang pernah tinggal di rumah ini.”

Aku merasa tengkukku dingin.

Di luar, Raka mulai mendorong pintu lebih keras.

Dan saat itulah aku sadar—

apa pun yang pernah terjadi di rumah kakakku sebelum Ayah datang ke sana, mungkin masih meninggalkan bukti.

BAGIAN 2

Raka mendorong pintu kamar mandi sekali lagi.

“Nadira, buka.”

Aku menahan pintu dengan seluruh berat tubuhku.

Di belakangku, Ayah berdiri hanya dengan kaus tipis dan celana panjang, tubuhnya penuh lebam yang selama berbulan-bulan disembunyikan di balik jaket wol.

Dewi masih berdiri di lorong.

Suntikan di tangannya membuat jantungku berdetak semakin cepat.

“Apa itu?” teriakku.

Dewi langsung menyembunyikan tangannya di belakang tubuh.

“Obat penenang Ayah.”

“Siapa yang meresepkan?”

Tidak ada jawaban.

Aku menatap Ayah.

“Ayah biasanya disuntik?”

Wajahnya berubah pucat.

“Kalau Ayah banyak bicara.”

Aku tidak menunggu lagi.

Aku menekan tombol kirim pada pesan darurat yang sudah kuketik.

Lokasi terkirim.

Aku kemudian mulai merekam suara menggunakan ponsel dan memasukkannya ke saku celana.

Raka tidak tahu.

Ia masih berusaha terdengar tenang.

“Kamu sedang membuat masalah besar dari sesuatu yang tidak kamu pahami.”

“Kalau begitu jelaskan kenapa tangan Ayah penuh bekas ikatan.”

Raka diam.

“Jelaskan kenapa perusahaan milik istrimu menagih Rp135 juta setiap bulan dari rekening Ayah.”

Wajah Dewi langsung berubah.

Raka menoleh kepadanya cepat.

Aku melihatnya.

Mereka tidak menyangka aku sudah membaca semuanya.

“Nadira,” kata Raka, “kamu tinggal jauh. Kamu tidak tahu kondisi Ayah.”

“Jadi karena aku tinggal jauh, kamu boleh memukulinya?”

“Dia sering agresif.”

Ayah tersentak.

“Ayah tidak pernah—”

“Diam!” bentak Raka.

Suara itu membuat Ayah otomatis mengangkat kedua tangannya melindungi kepala.

Gerakan refleks itu menghancurkan sesuatu di dalam diriku.

Aku tidak lagi melihat kakakku.

Aku melihat seseorang yang telah mengajari ayah kami untuk takut.

Sirene terdengar dari kejauhan.

Raka menoleh ke jendela.

Dewi panik.

“Kamu telepon polisi?”

Aku tidak menjawab.

Raka langsung meninggalkan pintu kamar mandi.

Beberapa detik kemudian terdengar langkah terburu-buru menuju belakang rumah.

“Apa yang ada di garasi?” tanyaku kepada Ayah.

Ayah menatapku lama.

“Barang-barang Bu Ratih.”

“Bu Ratih siapa?”

Ayah menelan ludah.

“Sebelum Ayah tinggal di sini, ada seorang perempuan tua.”

“Saudara mereka?”

Ayah menggeleng.

“Tetangga lama Dewi.”

Aku merasa ada sesuatu yang lebih buruk sedang menunggu.

Ayah melanjutkan dengan suara bergetar.

“Namanya Ratih Wulandari. Umurnya delapan puluh satu tahun. Tidak punya anak.”

Aku menatapnya.

“Kenapa dia tinggal di sini?”

“Katanya Dewi membantu merawat.”

Dadaku terasa berat.

“Lalu?”

Ayah menutup matanya.

“Dia meninggal.”

Beberapa detik kemudian, terdengar suara keras dari halaman belakang.

Seperti pintu logam dibanting.

Aku membuka pintu kamar mandi dan membawa Ayah keluar.

Dewi sudah tidak ada di lorong.

Kami berjalan menuju ruang keluarga.

Pintu depan tiba-tiba terbuka.

Dua polisi masuk, diikuti petugas medis.

Aku mengangkat kedua tangan.

“Ayah saya terluka. Kakak saya dan istrinya menyakitinya.”

Raka muncul dari arah belakang.

“Kebohongan!” katanya cepat. “Adik saya sedang panik. Ayah kami mengalami demensia.”

Salah satu polisi menatap Ayah.

“Pak, apakah Anda merasa aman di rumah ini?”

Ayah menatap Raka.

Aku bisa melihat ketakutannya.

Raka juga melihatnya.

Ia berkata perlahan,

“Ayah. Jangan mengatakan sesuatu yang nanti Ayah sesali.”

Polisi langsung mengangkat tangan.

“Pak, mundur.”

Raka tidak bergerak.

Polisi mengulang perintahnya.

Akhirnya Raka mundur.

Aku menggenggam tangan Ayah.

“Ayah boleh bicara.”

Air mata memenuhi matanya.

Kemudian, untuk pertama kalinya sejak aku tiba, Ayah menatap langsung kepada Raka.

“Tidak.”

Suaranya kecil.

Namun jelas.

“Ayah tidak aman.”

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Petugas medis segera membawa Ayah duduk dan mulai memeriksa luka-lukanya.

Aku menyerahkan invoice kepada polisi.

Ketika mereka melihat nama Nusantara Family Care dan angka pembayaran, salah satu petugas langsung memotret dokumen itu.

Raka mencoba menjelaskan.

“Itu perusahaan legal.”

“Atas nama siapa?” tanya polisi.

Dewi muncul dari dapur.

Wajahnya pucat.

“Punya saya.”

“Apakah perusahaan Anda memiliki izin layanan perawatan lansia?”

Dewi tidak menjawab.

“Tenaga perawat?”

Diam.

“Catatan kunjungan?”

Tidak ada.

Polisi saling berpandangan.

Kemudian terdengar suara dari radio salah satu petugas.

Ada seseorang mencoba keluar melalui pagar belakang.

Dewi membeku.

Beberapa menit kemudian, polisi lain membawa seorang pria masuk.

Aku mengenalnya samar-samar.

Itu sopir Raka.

Ia membawa sebuah tas hitam besar.

Di dalamnya terdapat beberapa map, dua laptop, buku cek, dan sejumlah obat.

Raka langsung memaki.

Polisi memborgolnya karena mencoba menghalangi pemeriksaan.

Namun itu baru permulaan.

Ketika salah satu petugas bertanya tentang garasi belakang yang terkunci, Raka menjawab terlalu cepat.

“Hanya gudang.”

Ayah meremas tanganku.

“Di situ.”

Aku menatap polisi.

“Silakan periksa garasi.”

Raka mulai berteriak bahwa polisi memerlukan izin.

Namun Ayah berkata,

“Rumah ini sebagian dibayar dengan uang saya.”

Ia menunjuk ke arah garasi.

“Saya mengizinkan.”

Beberapa saat kemudian terdengar suara alat memotong gembok.

Aku tidak ikut ke belakang.

Aku tetap bersama Ayah.

Sekitar sepuluh menit berlalu.

Kemudian seorang polisi kembali.

Ekspresinya berubah.

Ia meminta petugas lain datang.

Aku tahu mereka menemukan sesuatu.

“Apa?” tanyaku.

Polisi itu tidak langsung menjawab.

“Apakah Anda mengenal Ratih Wulandari?”

Aku menatap Ayah.

“Ya.”

Polisi kemudian membawa keluar tiga kotak plastik besar.

Di dalamnya terdapat pakaian perempuan tua, beberapa album foto, surat kepemilikan tanah, kartu ATM, dan sebuah tas tangan.

Tas itu memiliki gesper logam besar.

Ayah melihatnya dan langsung memalingkan wajah.

“Itu.”

Aku menatap Dewi.

“Yang dipakai untuk memukul Ayah?”

Ayah mengangguk.

Namun polisi menemukan sesuatu yang jauh lebih penting.

Sebuah buku catatan kecil.

Di halaman depan tertulis:

Ratih Wulandari.

Dan di beberapa halaman terakhir terdapat catatan pembayaran kepada perusahaan yang sama.

Nusantara Family Care.

Rp90 juta.

Rp95 juta.

Rp110 juta.

Berkali-kali.

Selama hampir setahun.

Polisi juga menemukan dokumen pemindahan kepemilikan sebidang tanah di Depok dari Ratih kepada sebuah perusahaan investasi.

Pemilik perusahaan itu adalah Raka.

Aku merasa mual.

“Apa yang terjadi pada Bu Ratih?” tanyaku.

Dewi mulai menangis.

“Dia sakit.”

Raka menatap istrinya tajam.

“Diam.”

Namun Dewi justru semakin panik.

“Dia memang sakit!”

Polisi menoleh.

“Penyakit apa?”

Dewi tidak menjawab.

“Apa penyebab kematiannya?”

“Jantung.”

“Di rumah sakit?”

Dewi menggeleng.

“Di rumah.”

Salah satu polisi membuka laptop yang ditemukan di garasi.

Beberapa menit kemudian mereka menemukan folder dengan nama-nama orang.

Ada foto dokumen identitas.

Rekening bank.

Catatan aset.

Surat kuasa.

Dan daftar pembayaran.

Bukan hanya Ayah dan Ratih.

Ada tiga nama lain.

Semua lansia.

Semua tinggal sendirian.

Semua memiliki aset.

Aku menatap Raka.

“Berapa orang?”

Ia tidak menjawab.

Untuk pertama kalinya, wajahnya benar-benar kehilangan kendali.

Polisi membawa Raka dan Dewi pergi malam itu.

Ayah dibawa ke rumah sakit.

Aku ikut dengannya.

Di ruang pemeriksaan, dokter mengatakan beberapa luka Ayah telah berusia berminggu-minggu.

Ada tanda kekurangan gizi.

Dehidrasi.

Dan kandungan obat penenang dalam tubuhnya jauh lebih tinggi daripada seharusnya.

Aku duduk di samping ranjangnya.

Ayah tidur selama beberapa jam.

Saat ia bangun, hal pertama yang ia tanyakan bukan rumah.

Bukan uang.

Bukan Raka.

“Raka sudah makan?”

Aku hampir tidak percaya.

“Ayah.”

Ia menatapku.

“Dia tetap anak Ayah.”

Aku menangis saat itu.

Karena aku marah.

Karena bahkan setelah semua yang dilakukan Raka, sebagian dari hati Ayah masih tetap menjadi hati seorang ayah.

Dua hari kemudian, penyidik datang.

Mereka membawa kabar tentang Ratih.

Kematiannya ternyata sudah dicatat sebagai kematian alami oleh dokter umum yang datang ke rumah.

Namun setelah keluarga jauh Ratih dihubungi, ditemukan fakta bahwa sebelum meninggal Ratih pernah beberapa kali mengatakan takut kepada Dewi.

Penyelidikan dibuka kembali.

Aku pikir itu adalah rahasia terbesar.

Ternyata bukan.

Penyidik kemudian menyerahkan satu dokumen kepada Ayah.

“Pak Surya, kami menemukan ini di antara berkas Ratih.”

Ayah membacanya.

Wajahnya berubah.

Tangannya mulai gemetar.

“Apa?” tanyaku.

Ia menyerahkan dokumen itu kepadaku.

Itu adalah fotokopi surat lama.

Dua puluh sembilan tahun lalu.

Nama ibuku tercantum di sana.

Maya Pratama.

Aku membaca berulang kali.

Surat itu adalah bukti transfer.

Ibuku pernah mengirim uang dalam jumlah besar kepada Ratih Wulandari.

Aku menatap Ayah.

“Apa hubungan Ibu dengan Bu Ratih?”

Ayah tidak menjawab.

“Ayah?”

Air mata mulai turun di wajahnya.

“Ratih adalah kakak ibumu.”

Aku membeku.

Aku tidak pernah mendengar bahwa Ibu memiliki saudara perempuan.

“Ayah bilang Ibu anak tunggal.”

“Ayah berbohong.”

Kata itu keluar begitu pelan.

Namun rasanya lebih keras daripada teriakan.

Ayah menutup wajahnya.

“Ratih dan ibumu bertengkar besar sebelum kamu lahir. Mereka tidak pernah berdamai.”

“Kenapa?”

Ayah menangis.

“Karena Raka.”

Aku merasa udara di ruangan itu tiba-tiba menghilang.

“Karena Raka?”

Ayah menatapku.

Kemudian mengatakan sesuatu yang mengubah seluruh hidupku.

“Raka bukan anak kandung ibumu.”

Aku tidak bisa bicara.

Ayah menjelaskan bahwa sebelum menikah dengan Ibu, ia pernah memiliki hubungan dengan seorang perempuan lain.

Perempuan itu meninggal ketika melahirkan.

Bayinya adalah Raka.

Ibu setuju membesarkannya sebagai anak sendiri.

Namun Ratih menentang.

Ia percaya Ayah hanya menikahi Ibu karena membutuhkan seseorang untuk membesarkan bayi.

Ibu marah besar.

Hubungan kakak-adik itu terputus.

“Raka tahu?” tanyaku.

Ayah mengangguk.

“Sejak empat tahun lalu.”

Dadaku terasa dingin.

“Siapa yang memberi tahu?”

“Dewi.”

Ternyata Dewi menemukan dokumen keluarga lama setelah menikah dengan Raka.

Ia melacak Ratih.

Dari sanalah semua bermula.

Awalnya Raka hanya ingin bertemu dengannya.

Ratih merasa bersalah karena bertahun-tahun menjauh dari adiknya.

Ia menerima Raka.

Bahkan mulai memperlakukannya seperti keponakan sendiri.

Kemudian Dewi mengetahui bahwa Ratih memiliki tanah dan tabungan besar.

Perlahan mereka mulai mengurus keuangannya.

Mendirikan Nusantara Family Care.

Memindahkan aset.

Dan ketika Ratih mulai curiga, ia sudah terlalu bergantung pada mereka.

Aku menatap Ayah.

“Jadi ketika Ayah tahu mereka memperlakukan Ratih seperti itu…”

“Ayah konfrontasi Raka.”

“Dan dia mulai melakukan hal yang sama kepada Ayah.”

Ayah mengangguk.

Aku menangis.

Namun kemudian muncul satu pertanyaan.

“Kenapa Raka begitu membenci Ayah?”

Ayah diam sangat lama.

“Ayah bilang siapa ibu kandungnya?”

“Ya.”

“Lalu?”

“Ayah juga bilang sesuatu yang seharusnya Ayah katakan sejak lama.”

Ayah menarik napas.

“Ibu kandung Raka bukan meninggal saat melahirkan.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Dia meninggalkan Raka.”

Aku membeku.

“Ayah berbohong selama puluhan tahun supaya Raka tidak merasa ditinggalkan.”

Ternyata ibu kandung Raka memilih pergi ketika Raka baru berusia beberapa minggu.

Ayah membesarkannya.

Ibuku menerima Raka sebagai anaknya sendiri.

Ia bahkan melarang siapa pun memperlakukan Raka berbeda dariku.

Namun ketika Dewi menemukan kebenaran, ia memutarbalikkan semuanya.

Ia mengatakan kepada Raka bahwa Ayah telah menghancurkan hidup ibu kandungnya.

Bahwa ibuku “merebut” dirinya.

Bahwa seluruh keluarga berbohong untuk menutupi dosa Ayah.

“Raka percaya?”

Ayah mengangguk.

Namun beberapa minggu kemudian, polisi menemukan fakta lain.

Mereka berhasil melacak ibu kandung Raka.

Ia masih hidup.

Namanya Laras Widjaja.

Usianya tujuh puluh empat tahun.

Dan ketika penyidik membawanya memberikan kesaksian, semua kebohongan runtuh.

Laras mengaku ia pergi karena memang tidak ingin menjadi ibu saat itu.

Ayah memintanya tinggal.

Ia menolak.

Ayah bahkan menawarkan uang agar Laras bisa tetap dekat dengan Raka.

Laras memilih pindah ke luar negeri.

Tidak ada kekerasan.

Tidak ada penculikan.

Tidak ada konspirasi.

Ketika Raka mendengar rekaman kesaksian itu dari ruang pemeriksaan, katanya ia tidak berbicara selama hampir satu jam.

Dewi telah memberi makan kemarahannya dengan kebohongan selama bertahun-tahun.

Namun itu tidak membebaskannya.

Raka tetap memilih menyakiti Ayah.

Ia tetap memilih mengambil uang.

Ia tetap membantu Dewi memindahkan aset Ratih.

Kasus mereka berkembang menjadi penipuan, penggelapan, pemalsuan dokumen, dan kekerasan terhadap lansia.

Penyelidikan kematian Ratih juga dibuka kembali.

Beberapa bulan kemudian, Raka meminta bertemu denganku.

Aku hampir menolak.

Namun Ayah berkata,

“Temui dia sekali.”

Aku datang ke ruang kunjungan tahanan.

Raka terlihat jauh lebih tua.

Tidak ada pakaian mahal.

Tidak ada jam tangan.

Tidak ada rumah besar.

Hanya kakakku.

Ia duduk di balik kaca.

Kami saling menatap.

Kemudian ia berkata,

“Ayah bagaimana?”

“Lebih baik.”

Raka menunduk.

“Aku tidak tahu Dewi sudah melakukan semuanya kepada Ratih.”

“Aku tidak percaya.”

“Aku tahu soal uang. Aku tahu soal tanah.”

Ia menelan ludah.

“Tapi aku tidak tahu dia memberi obat terlalu banyak.”

Aku tidak menjawab.

Raka mulai menangis.

“Aku marah pada Ayah.”

“Itu bukan alasan.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu memukulnya.”

Ia menutup mata.

“Aku tahu.”

Aku ingin membencinya sepenuhnya.

Akan lebih mudah.

Namun aku teringat kami pernah tidur di lantai ruang keluarga saat kecil.

Raka pernah menggendongku pulang ketika kakiku terluka.

Ia pernah menyimpan uang jajannya untuk membelikanku hadiah ulang tahun.

Manusia yang duduk di depanku bukan monster sejak lahir.

Ia adalah seseorang yang membuat pilihan-pilihan buruk sampai suatu hari tidak bisa lagi membedakan luka yang ia rasakan dari luka yang ia ciptakan.

“Ayah masih bertanya apakah kamu sudah makan,” kataku.

Raka menatapku.

Lalu ia menangis seperti anak kecil.

Aku berdiri.

Sebelum pergi, aku berkata,

“Aku tidak tahu apakah suatu hari aku bisa memaafkanmu.”

Ia mengangguk.

“Tapi kalau kamu benar-benar menyesal, berhenti menyalahkan Dewi.”

Raka terdiam.

“Kamu juga melakukannya.”

Aku pergi.

Setahun kemudian, Ayah tinggal bersamaku.

Aku pindah sementara dari Surabaya ke Bandung dan bekerja secara hybrid agar bisa menemaninya.

Kami kembali ke rumah lama.

Rumah yang hampir dipaksa Raka untuk ia tanda tangani.

Suatu pagi, Ayah membuka lemari dan menemukan jaket wol cokelat itu.

Ia memegangnya lama.

Aku ingin membuangnya.

Namun Ayah berkata,

“Jangan.”

Aku terkejut.

“Kenapa disimpan?”

Ayah membawa jaket itu ke halaman belakang.

Lalu ia mengambil gunting.

Dengan tangannya sendiri, ia memotong kedua lengan jaket.

Aku hanya berdiri memperhatikannya.

Setelah itu, ia memotong bagian badan menjadi beberapa lembar kain kecil.

“Ayah mau buat apa?”

Ia tersenyum.

“Lap meja.”

Aku tertawa sambil menangis.

Jaket yang dulu dipakai untuk menyembunyikan luka akhirnya hanya menjadi potongan kain biasa.

Beberapa minggu kemudian, pengadilan membatalkan surat kuasa Raka.

Sebagian besar uang Ayah berhasil dilacak.

Tanah Ratih juga dikembalikan kepada ahli warisnya.

Namun ada satu hal terakhir yang tidak kuduga.

Ratih ternyata meninggalkan surat wasiat lama.

Di dalamnya, ia memberikan sebagian rumah kecil miliknya kepada Ayah.

Bukan karena uang.

Melainkan karena satu kalimat yang ia tulis dengan tangan:

“Untuk Surya, karena meski aku membenci keputusan adikku menikah dengannya, sekarang aku tahu laki-laki inilah yang menjaga anak-anak Maya ketika aku memilih menjauh.”

Ayah membaca kalimat itu berkali-kali.

Lalu menangis.

“Akhirnya dia memaafkan Ayah.”

Aku duduk di sampingnya.

“Bukan cuma Ayah.”

Ia menatapku.

Aku menyentuh surat itu.

“Mungkin dia juga sedang meminta maaf kepada Ibu.”

Kami tidak menjual rumah Ratih.

Sebagai gantinya, kami bekerja sama dengan sebuah yayasan dan mengubahnya menjadi tempat konsultasi gratis bagi keluarga yang merawat lansia.

Kami menamai tempat itu:

Rumah Maya-Ratih.

Dua saudari yang meninggal tanpa pernah sempat berdamai akhirnya berdiri berdampingan dalam satu nama.

Pada hari pembukaannya, Ayah duduk di teras.

Tidak memakai jaket.

Tidak menyembunyikan tangannya.

Tidak gemetar setiap kali seseorang masuk ke ruangan.

Seorang relawan muda menghampirinya.

“Pak Surya, apakah Bapak keluarga Bu Ratih?”

Ayah menatap papan nama di depan rumah.

Kemudian tersenyum.

“Iya.”

Ia berhenti sebentar.

“Walaupun kami terlambat menyadarinya.”

Malam itu, ketika kami pulang, aku menemukan bingkai foto lama yang kubawa pada hari ulang tahun Ayah.

Foto Ayah dan Ibu.

Di belakangnya, Ayah ternyata menempelkan foto lain.

Foto kami bertiga ketika masih kecil.

Aku.

Ayah.

Dan Raka.

Aku menatapnya.

“Ayah masih mau menyimpan foto Raka?”

Ayah mengangguk.

“Yang dia lakukan salah.”

Aku diam.

“Dan Ayah tidak akan melupakan itu.”

Ia menyentuh wajah Raka di foto.

“Tapi kesalahan seseorang tidak menghapus seluruh hidupnya sebelum kesalahan itu terjadi.”

Aku tidak tahu apakah aku setuju sepenuhnya.

Mungkin suatu hari.

Mungkin tidak.

Namun malam itu aku memahami sesuatu.

Menyelamatkan Ayah ternyata bukan hanya soal polisi.

Bukan soal rekening bank.

Bukan soal menemukan invoice Rp135 juta.

Yang paling sulit adalah mengembalikan kepada seorang lelaki tua keyakinan bahwa ia masih berhak merasa aman di rumahnya sendiri.

Aku mematikan lampu ruang keluarga.

Ayah berjalan menuju kamarnya.

Lalu berhenti.

“Nadira?”

“Ya?”

Ia menatapku.

“Ayah mau bilang sesuatu.”

Aku menunggu.

Senyumnya kembali.

Senyum yang sama seperti ketika aku datang membawa kue setahun sebelumnya.

“Terima kasih sudah membuka jaket itu.”

Dadaku terasa sesak.

Aku memeluknya.

Kali ini tubuhnya tidak tersentak.

Ia tidak mengangkat tangan untuk melindungi kepala.

Ia tidak melihat ke pintu.

Ia hanya memelukku kembali.

Dan saat itulah aku sadar:

Hari ketika aku melihat lebam di balik jaket Ayah memang menghancurkan keluarga kami.

Tetapi itu juga hari pertama Ayah mulai mendapatkan hidupnya kembali.

TAMAT