Bagian 2
Aku masih duduk di depan angka Rp2.108.000.000 ketika jam di dinding melewati tengah malam.
Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat angka itu sebagai bukti bahwa aku ibu yang baik.
Aku melihatnya sebagai pola.
Setiap kali Rina kesulitan, aku mengeluarkan uang.
Setiap kali aku merasa jauh darinya, aku juga mengeluarkan uang.
Aku menyadari sesuatu yang membuatku tidak nyaman.
Rina memang terbiasa menerima.
Tapi aku juga terbiasa menjadi penyelamat.

Mungkin selama bertahun-tahun kami sama-sama membiarkan hubungan ibu dan anak berubah menjadi hubungan yang selalu punya transaksi di bawah permukaannya.
Bedanya, malam itu dia sudah mengatakan dengan sangat jelas bahwa kehadiranku tidak dia inginkan.
Kalau begitu, aku memutuskan, uangku juga tidak perlu terus tinggal di sana.
Aku membuka aplikasi bank.
Cicilan KPR rumah Rina sebenarnya bukan atas namaku. Rumah itu milik Rina dan Bimo, dan pinjaman mereka sendiri.
Namun selama Bimo kehilangan pekerjaan, setiap tanggal dua aku mentransfer Rp12 juta ke rekening mereka untuk membantu cicilan dan kebutuhan rumah.
Bimo sudah kembali bekerja tiga bulan terakhir, meski gajinya belum sebesar dulu.
Transferku tetap berjalan.
Tidak seorang pun pernah mengatakan, “Bu, bulan depan tidak usah lagi.”
Aku membatalkan transfer terjadwal itu.
Lalu kubuka rekening tabungan darurat.
Rekening itu atas namaku.
Aku membukanya lima tahun lalu setelah salah satu cucuku pernah dirawat di rumah sakit. Rina memiliki kartu tambahan dan selama ini menyebutnya “rekening cadangan keluarga”.
Padahal tidak pernah ada satu rupiah pun dari Rina atau Bimo di sana.
Saldo malam itu Rp103.480.000.
Kupindahkan seluruhnya ke deposito milikku sendiri.
Kartu tambahannya kublokir.
Aku tidak menyentuh satu rupiah pun dari rekening Rina, rumahnya, atau milik Bimo.
Aku hanya mengambil kembali akses terhadap uang yang memang milikku.
Setelah itu, aku duduk hampir satu jam memandangi selembar kertas kosong.
Aku menulis surat.
Tidak panjang.
Aku menulis bahwa aku mendengar apa yang dia katakan.
Aku menulis bahwa aku tidak akan datang tanpa diundang lagi.
Aku tidak akan menelepon setiap hari.
Aku tidak akan mengatur hidupnya.
Dan mulai bulan itu, aku juga tidak akan membayar cicilan rumah, biaya sekolah, kebutuhan mendadak, atau menyediakan rekening darurat.
Bukan sebagai hukuman.
Kalau Rina benar-benar ingin hidup tanpa campur tanganku, maka dia berhak mendapatkannya secara utuh.
Aku juga menulis sesuatu yang sulit kuakui.
Bahwa mungkin aku terlalu sering menggunakan bantuan untuk merasa masih dibutuhkan.
Untuk itu, aku minta maaf.
Tapi menyuruh ibunya mati bukan cara seorang anak dewasa menetapkan batas.
Di bagian paling bawah kutulis:
“Aku tidak akan mati untuk membuat hidupmu lebih nyaman, Rina. Tapi mulai hari ini, aku akan berhenti membangun hidupmu dengan mengorbankan hidupku sendiri.”
Aku melipat surat itu.
Rina masih memiliki satu kebiasaan lama.
Dia sering lupa mengunci pintu samping setelah Bimo berangkat pagi untuk olahraga, dan aku masih memegang kunci cadangan yang dulu dia berikan supaya bisa masuk kalau harus menjaga anak-anak.
Menjelang pukul enam pagi aku kembali ke rumahnya.
Aku tidak masuk ke kamar siapa pun.
Aku hanya membuka pintu, meletakkan amplop di meja makan, menaruh kunci cadangan di atasnya, lalu pergi.
Aku mematikan ponsel.
Bukan untuk membuat mereka panik.
Aku hanya tidak sanggup menerima telepon saat itu.
Aku naik kereta pagi menuju Malang dan memesan kamar sederhana selama tiga malam.
Aku belum tahu apa yang akan kulakukan setelah itu.
Aku hanya ingin berada di tempat di mana setiap bunyi notifikasi tidak membuatku merasa harus menyelamatkan seseorang.
Sore harinya, aku menyalakan ponsel.
Ada dua puluh tujuh panggilan tak terjawab.
Sebelas dari Rina.
Enam dari Bimo.
Sisanya dari nomor rumah dan cucuku.
Pesan pertama dari Rina berbunyi:
Ibu di mana?
Pesan kedua:
Apa maksud surat ini?
Lalu:
Kenapa kartu rekening darurat tidak bisa dipakai?
Kemudian:
Bu, transfer KPR bulan ini bagaimana? Jatuh tempo Senin.
Aku membaca pesan itu tiga kali.
Tidak ada satu pun yang berbunyi:
Apakah Ibu baik-baik saja?
Aku meletakkan ponsel di atas meja.
Lima menit kemudian telepon masuk lagi.
Nama Rina muncul.
Kali ini aku menjawab.
“Ibu!” katanya tanpa salam. “Ibu sedang apa?”
“Aku sedang duduk.”
“Jangan bercanda. Kenapa rekeningnya kosong?”
“Karena uangnya kupindahkan.”
“Ke mana?”
“Ke rekeningku yang lain.”
Sunyi.
Lalu suaranya meninggi.
“Ibu tidak bisa begitu saja mengambil semuanya!”
Aku menatap jendela kamar.
“Rina, rekening itu atas namaku. Semua uang di dalamnya juga uangku.”
“Tapi itu untuk keluarga kami.”
“Dulu.”
“Apa maksud Ibu, dulu?”
Aku menarik napas.
“Kemarin kamu bilang ingin hidup tanpa aku.”
“Aku sedang marah!”
“Kalau begitu seharusnya kamu mengatakan kamu sedang marah.”
“Jadi sekarang Ibu mau menghukumku pakai uang?”
Pertanyaan itu menusuk karena sebagian kecil diriku juga takut jawabannya iya.
Aku diam sebentar.
Lalu berkata, “Tidak. Justru aku sedang berhenti menggunakan uang untuk mempertahankan tempatku di hidupmu.”
Rina tidak menjawab.
Dari belakang terdengar suara Bimo.
“Cicilan bagaimana?”
Rina menutup mikrofon sebentar.
Kemudian dia kembali.
“Bu, kita bicara soal perasaan nanti. Tapi transfer bulan ini harus masuk dulu.”
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku menjadi sangat tenang.
“Tidak, Rina.”
“Apa?”
“Bulan ini tidak ada transfer.”
Dan untuk pertama kalinya sejak dia masih kecil, aku membiarkan putriku menghadapi masalah yang sebenarnya bisa kuselesaikan.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
“Tidak ada transfer?”
Rina mengulang kalimatku seakan-akan aku baru mengatakan listrik di seluruh kota akan dimatikan.
“Tidak.”
“Bu, jangan keterlaluan.”
“Aku hanya menghentikan bantuan.”
“KPR kami jatuh tempo tiga hari lagi.”
“Bimo sudah bekerja lagi.”
“Gajinya belum normal.”
“Aku tahu.”
“Anak-anak juga ada pembayaran sekolah.”
“Aku tahu.”
“Kok Ibu bisa setenang itu?”
Aku memandang cangkir teh yang mulai dingin di meja kamar.
Mungkin karena selama puluhan tahun, setiap kepanikan Rina otomatis menjadi kepanikanku juga.
Hari itu tidak.
“Karena itu rumahmu, Rina.”
Dia terdiam.
“Itu cicilan kalian.”
“Jadi begitu?”
“Begitu bagaimana?”
“Setelah semua omongan soal keluarga, sekarang Ibu tinggal pergi?”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Kemarin aku diminta mati karena terlalu hadir.
Hari ini aku dituduh meninggalkan keluarga karena akhirnya mundur.
“Rina,” kataku, “aku tidak mau bertengkar lewat telepon.”
“Ya jelas. Karena Ibu sudah melakukan apa yang Ibu mau.”
“Besok aku pulang Surabaya. Kalau mau bicara, kita bicara saat sama-sama tenang.”
“Transfer dulu.”
“Tidak.”
Aku mematikan telepon setelah mengatakan aku akan memberi kabar ketika tiba.
Tanganku bergetar setelahnya.
Bukan karena menyesal.
Karena berkata tidak ternyata jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan.
Malam itu aku hampir membuka aplikasi bank lagi.
Ada pikiran lama yang terus berbisik.
Bagaimana kalau mereka terlambat membayar?
Bagaimana kalau cucuku malu?
Bagaimana kalau Rina benar-benar membenciku?
Kemudian aku melihat kembali fotoku sendiri yang terpantul samar di layar ponsel.
Perempuan enam puluh delapan tahun dengan rambut yang semakin banyak putihnya.
Aku berpikir tentang berapa kali aku menunda membeli sesuatu untuk diriku karena merasa kebutuhan Rina lebih penting.
Aku bahkan belum pernah pergi ke tempat yang benar-benar kuinginkan sejak suamiku meninggal.
Setiap rencana selalu berakhir dengan kalimat, “Nanti saja.”
Aku menutup aplikasi bank.
Besoknya aku pulang.
Ketika sampai di apartemen, aku menemukan Rina duduk di depan pintuku.
Bimo tidak ikut.
Dia berdiri begitu melihatku.
“Ibu ke mana saja?”
“Malang.”
“Untuk apa?”
“Supaya aku bisa berpikir.”
“Kami panik.”
Aku memasukkan kunci.
“Kalian punya suratku.”
“Itu bukan berarti Ibu bisa mematikan ponsel.”
Aku menatapnya.
“Rina, kamu menyuruhku mati.”
Wajahnya berubah.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan di rumahnya, dia terlihat tidak punya jawaban cepat.
Aku membuka pintu.
“Kamu mau masuk?”
Dia mengangguk.
Kami duduk di sofa.
Rina melihat meja yang masih dipenuhi sebagian dokumen.
Kertas bertuliskan Rp2.108.000.000 masih ada di sana.
“Apa itu?”
Aku tidak menyembunyikannya.
“Perkiraan uang yang pernah kukeluarkan untuk kebutuhan besarmu dan keluargamu.”
Dia mengambil kertas itu.
Wajahnya mengeras.
“Ibu menghitung biaya membesarkan aku?”
“Bukan begitu.”
“Ini persis begitu.”
“Aku menghitung karena malam itu aku perlu melihat kenyataannya.”
Rina meletakkan kertas dengan kasar.
“Jadi semua yang Ibu lakukan ternyata ada catatannya?”
“Buktinya memang kusimpan. Tapi tidak pernah kukumpulkan seperti ini sebelum kamu mengatakan hidupmu akan lebih baik kalau aku mati.”
“Lihat? Ini yang kumaksud.”
“Apa?”
“Semua bantuan Ibu selalu punya bayangan di belakangnya.”
Aku diam.
Rina melanjutkan.
“Waktu rumah ini dibeli, Ibu memberi uang muka. Setelah itu setiap kali datang, Ibu bilang ‘rumah yang bagus’, ‘dapur ini lumayan’, ‘halamannya bisa dibikin begini’. Ibu mungkin merasa cuma bicara biasa. Aku merasa rumahku tetap setengah milik Ibu.”
Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Dia belum selesai.
“Waktu Ibu bayar resepsi, Ibu menentukan banyak tamu. Waktu Ibu bantu anak-anak, Ibu merasa boleh datang kapan saja. Kalau aku bilang tidak perlu membawakan makanan, Ibu tetap datang.”
“Aku tidak pernah bermaksud…”
“Aku tahu.”
Suara Rina turun.
“Itu masalahnya, Bu. Ibu tidak pernah bermaksud buruk.”
Aku menatap putriku.
Ada bagian dari ucapan itu yang benar.
Aku memang tidak pernah berkata, “Karena aku membayar, aku berhak.”
Tapi mungkin aku terlalu sering berasumsi bahwa bantuanku otomatis memberiku tempat.
Aku menghela napas.
“Kalau kamu merasa begitu, kenapa tetap menerima uangku?”
Rina tidak menjawab.
“Kenapa ketika Bimo kehilangan pekerjaan kalian meminta bantuanku?”
“Kami kesulitan.”
“Kenapa rekening daruratku masih kamu pakai?”
“Karena Ibu bilang boleh.”
“Kenapa setelah kamu menyuruhku mati, hal pertama yang kamu tanyakan justru rekening dan KPR?”
Rina memalingkan wajah.
Ruangan menjadi sunyi.
Aku tidak ingin menang.
Aku hanya ingin dia menjawab.
Akhirnya dia berkata, “Karena kami sudah mengandalkannya.”
Itulah kalimat pertama yang terasa jujur.
“Mengandalkan sampai kapan?”
“Aku tidak tahu.”
“Bimo sudah bekerja tiga bulan.”
“Penghasilannya masih turun hampir separuh.”
“Lalu kalian mengurangi pengeluaran?”
Rina diam lagi.
Aku tahu jawabannya bahkan sebelum dia mengatakan apa pun.
Rumah mereka masih memakai jasa bersih-bersih tiga kali seminggu.
Anak-anak masih ikut dua les tambahan.
Mobil kedua masih ada.
Mereka masih makan di luar hampir setiap akhir pekan.
Rina bukan perempuan bodoh.
Dia hanya tidak pernah terpaksa melihat anggaran dengan cara yang sama seperti aku melihatnya selama puluhan tahun.
Karena kalau ada kekurangan, selalu ada nomor teleponku.
“Bu,” katanya akhirnya, “aku tidak bilang semua yang Ibu lakukan tidak berarti.”
“Tapi kamu bilang akan lebih bahagia kalau aku mati.”
“Aku marah.”
“Kalau kamu marah pada anakmu kelak, apakah kamu akan mengatakan hal yang sama?”
Rina memejamkan mata.
“Tidak.”
“Nah.”
Dia mulai menangis.
Aku hampir langsung pindah duduk untuk memeluknya.
Hampir.
Kebiasaan empat puluh lima tahun tidak hilang dalam dua hari.
Tapi aku tetap duduk.
Rina mengusap wajahnya.
“Aku sudah lama kesal.”
“Kenapa tidak bicara?”
“Aku pernah mencoba.”
“Mungkin aku tidak mendengar.”
“Itu yang terjadi.”
Aku mengangguk.
“Baik. Untuk bagian itu, aku minta maaf.”
Rina menatapku.
Mungkin dia berharap permintaan maaf itu menjadi jalan menuju kalimat berikutnya.
Nanti Ibu transfer.
Aku tidak mengatakannya.
Sebaliknya aku mengambil sebuah buku catatan dari meja.
“Aku juga perlu mengatakan sesuatu.”
Dia menunggu.
“Aku terlalu lama mengukur kedekatan kita dari seberapa banyak kamu membutuhkanku.”
Wajahnya berubah sedikit.
“Setiap kali kamu menelepon karena ada masalah, aku senang bisa menyelesaikannya. Mungkin karena setelah ayahmu meninggal, aku takut tidak punya peran lagi.”
Aku menelan ludah.
“Jadi aku mengerti kalau bantuanku kadang terasa menempel terlalu jauh ke hidupmu.”
Rina mengangguk kecil.
“Tapi,” lanjutku, “memahami itu bukan berarti aku menerima cara kamu memperlakukanku.”
Dia menunduk.
“Mulai sekarang aku tidak akan datang tanpa kabar. Aku tidak akan menanyakan semua hal tentang rumahmu. Aku tidak akan menawarkan uang setiap kali kamu mengeluh.”
Dia mengangkat kepala.
“Dan kami?”
“Kalian mengatur keuangan sendiri.”
“Bu…”
“Aku serius.”
“Jadi karena satu kalimat…”
“Bukan karena satu kalimat.”
Aku menunjuk dokumen di meja.
“Karena satu kalimat itu membuatku akhirnya melihat puluhan tahun kebiasaan.”
Rina menggigit bibir.
“Kalau kami benar-benar tidak sanggup bayar?”
“Bicaralah dengan bank kalian tentang pilihan yang tersedia. Atur pengeluaran. Jual sesuatu kalau memang perlu. Kalian dua orang dewasa.”
“Kedengarannya mudah kalau bukan Ibu yang menjalaninya.”
“Aku tidak bilang mudah.”
Aku menatap tanganku sendiri.
“Aku membesarkanmu sendirian beberapa tahun ketika ayahmu masih sering dinas luar kota. Setelah dia meninggal, aku juga mengatur hidupku sendiri. Banyak hal tidak mudah, Rina. Tapi kesulitan tidak selalu berarti orang lain harus membayar.”
Dia pergi satu jam kemudian.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada akhir yang manis.
Di depan pintu dia hanya berkata, “Aku perlu waktu.”
Aku menjawab, “Aku juga.”
Tiga hari kemudian Bimo menelepon.
Aku hampir tidak mengangkatnya.
“Bu Sri, saya cuma mau bicara sebentar.”
Nada suaranya jauh lebih tenang daripada biasanya.
“Ya.”
“Rina tahu saya telepon.”
Aku menunggu.
“Kami sudah bayar cicilan bulan ini.”
“Bagus.”
“Kami pakai tabungan kami.”
Aku tidak mengatakan aku bangga.
Itu bukan sesuatu yang perlu dipuji pada dua orang dewasa.
Bimo melanjutkan.
“Kami akan jual mobil yang satu.”
Aku melihat ke luar balkon.
“Kalau memang itu keputusan kalian.”
“Rina marah sekali sama Ibu.”
“Aku tahu.”
“Tapi dia juga marah sama saya.”
“Kenapa?”
Bimo diam cukup lama.
“Karena selama ini kalau uang kurang, saya sering bilang, ‘Nanti minta Ibu saja.’”
Aku memejamkan mata.
Kalimat itu menjelaskan lebih banyak daripada yang kusukai.
Bimo tertawa pahit.
“Saya pikir Ibu memang tidak keberatan.”
“Dulu memang tidak.”
“Rina bilang kebiasaan itu membuat dia juga berhenti merasa bersalah.”
“Lalu sekarang?”
“Sekarang kami sedang melihat semua tagihan.”
Aku hampir menawarkan bantuan.
Kata-kata itu sudah sampai di ujung lidah.
Aku menelannya.
“Semoga kalian bisa mengaturnya.”
“Bu…”
“Ya?”
“Terima kasih karena dulu sudah membantu kami.”
Aku tidak tahu apakah dia mengatakannya karena tulus atau karena ingin melunakkan keadaan.
Aku tidak perlu memutuskan saat itu.
“Sama-sama.”
Dua minggu berikutnya terasa ganjil.
Biasanya aku berbicara dengan Rina hampir setiap hari, meskipun kadang hanya satu atau dua pesan.
Sekarang tidak ada apa-apa.
Aku bangun pagi, membuat teh, lalu baru sadar tidak ada orang yang harus kuingatkan soal sesuatu.
Tidak ada jadwal cucu yang perlu kucek.
Tidak ada transfer yang perlu kulakukan.
Tidak ada pesan, “Bu, kalau ke supermarket tolong sekalian beli…”
Kesunyian itu awalnya terasa seperti hukuman.
Lalu perlahan berubah menjadi ruang.
Aku membersihkan lemari.
Aku menemukan brosur perjalanan ke Banyuwangi yang kusimpan hampir dua tahun.
Dulu aku ingin pergi bersama teman-teman perawat pensiunan.
Aku membatalkannya karena Rina membutuhkan aku menjaga anak-anak selama liburan sekolah.
Brosur itu sudah lama kedaluwarsa, tapi aku mencari jadwal perjalanan baru.
Aku tidak langsung membeli paket.
Aku hanya menyimpannya.
Perubahan kecil.
Sebulan setelah pertengkaran kami, Rina mengirim pesan.
Bu, boleh aku datang Sabtu sore?
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Bukan:
Ibu di rumah?
Bukan:
Aku mau mampir.
Dia meminta izin.
Aku menjawab:
Boleh. Jam empat saja.
Dia datang sendirian.
Tidak membawa anak.
Tidak membawa Bimo.
Tidak meminta uang.
Dia membawa dua kotak lumpia dari tempat yang dulu sering dibeli ayahnya.
Kami makan di meja kecil dekat dapur.
Awalnya membicarakan hal-hal yang aman.
Cuaca.
Anak-anak.
Pekerjaan Bimo.
Kemudian Rina berkata, “Mobilnya sudah terjual.”
Aku mengangguk.
“Cukup membantu?”
“Lumayan. Kami juga berhenti pakai jasa bersih-bersih dulu.”
Dia tersenyum malu.
“Anak-anak protes karena salah satu lesnya dihentikan.”
“Mereka akan terbiasa.”
“Ya.”
Kami diam.
Lalu dia berkata, “Aku mau minta maaf.”
Aku menatapnya.
Rina tidak menangis kali ini.
“Aku bukan cuma minta maaf karena bilang Ibu mati saja.”
Dia memainkan ujung tisu dengan jarinya.
“Aku juga minta maaf karena setelah bilang aku ingin Ibu menjauh, aku tetap merasa uang Ibu harus tinggal.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Aku baru sadar betapa tidak masuk akalnya itu ketika Bimo bertanya kenapa aku marah soal rekening.”
Dia menarik napas.
“Aku bilang, ‘Karena itu uang darurat kita.’ Bimo jawab, ‘Bukan. Itu uang ibumu.’”
Rina tertawa kecil, pahit.
“Aku marah kepadanya karena dia benar.”
Aku menurunkan pandangan ke meja.
“Rina, aku tidak membutuhkan kamu merasa bersalah seumur hidup.”
“Aku tahu.”
“Aku juga tidak akan terus mengeluarkan daftar semua yang pernah kubayar. Setelah malam itu, angka itu selesai.”
Dia melihat ke arah dokumen yang sekarang sudah kusimpan.
“Rp2 miliar lebih.”
“Ya.”
“Banyak sekali.”
“Itu bukan tagihan untukmu.”
“Aku tahu.”
Aku berhenti sebentar.
“Anggap saja itu biaya dari terlalu banyak keputusan yang dibuat ibumu tanpa batas yang sehat.”
Rina menggeleng.
“Tidak semuanya begitu.”
Aku menatapnya.
“Waktu aku sakit, Ibu ada.”
“Ya.”
“Waktu aku takut melahirkan, Ibu yang menunggu.”
Aku mengangguk.
“Waktu Bimo kehilangan pekerjaan, bantuan Ibu benar-benar menyelamatkan kami.”
Aku merasakan mata mulai panas.
Rina melanjutkan.
“Masalahnya bukan Ibu tidak pernah baik. Masalahnya kami terlalu lama membiarkan kebaikan Ibu menjadi sesuatu yang kami anggap pasti.”
Aku mengusap meja dengan jari.
“Dan aku terlalu lama menganggap dibutuhkan sama dengan dicintai.”
Kami duduk tanpa bicara beberapa saat.
Itu bukan keheningan yang nyaman.
Tapi juga bukan keheningan yang ingin kuhindari.
Akhirnya Rina berkata, “Aku belum tahu hubungan kita nanti seperti apa.”
“Aku juga.”
“Kalau aku bilang jangan datang hari tertentu…”
“Aku tidak akan datang.”
“Kalau Ibu ingin melihat anak-anak, kabari aku dulu.”
“Baik.”
“Dan soal uang…”
“Kita jangan membuatnya bagian rutin dari hubungan kita lagi.”
Rina mengangguk.
Dia tidak meminta pengecualian.
Itu penting bagiku.
Dua bulan berikutnya kami masih beberapa kali bertengkar.
Tidak semuanya langsung rapi.
Pernah suatu sore Rina menelepon karena biaya sekolah anak-anak naik dan tanpa sadar berkata, “Dulu kalau begini Ibu biasanya…”
Dia berhenti sendiri.
Aku menunggu.
Lalu dia berkata, “Tidak jadi. Aku cuma sedang kesal.”
Aku tersenyum.
“Kamu boleh kesal.”
Pernah juga aku hampir datang tanpa memberi kabar ketika salah satu cucuku demam.
Tanganku sudah memegang kunci mobil ketika aku berhenti.
Aku mengirim pesan dulu.
Rina menjawab bahwa Bimo sedang membawa anak itu ke dokter dan mereka akan mengabariku.
Aku merasa tersinggung selama sepuluh menit.
Lalu kusadari rasa tersinggung itu adalah bagian dari kebiasaan lama yang sedang kubongkar.
Tiga bulan setelah ulang tahunnya, Rina mengajakku makan siang.
Bukan di rumahnya.
Di warung kecil dekat rumah sakit tempatku dulu bekerja.
Kami hanya berdua.
Saat makanan datang, dia berkata, “Bu, aku mau cerita sesuatu. Tapi jangan langsung tawarkan bantuan.”
Aku tertawa.
“Baik.”
“Serius.”
“Aku akan berusaha.”
Dia bercerita bahwa mereka sedang kesulitan mengatur biaya sekolah dan mempertimbangkan memindahkan anak-anak tahun berikutnya ke sekolah yang lebih terjangkau.
Aku mendengarkan.
Tidak membuka aplikasi bank.
Tidak menyebut deposito.
Tidak berkata, “Berapa kurangnya?”
Ketika dia selesai, aku hanya bertanya, “Kamu dan Bimo bagaimana melihat pilihan yang ada?”
Rina menatapku beberapa detik.
Lalu tersenyum.
“Kali ini Ibu benar-benar mendengarkan.”
Aku tersenyum balik.
“Mungkin perawat tua masih bisa belajar.”
Dia tertawa.
Untuk pertama kalinya sejak sore dengan kue ulang tahun itu, tawanya tidak terdengar seperti senjata.
Kami tidak kembali seperti dulu.
Aku rasa memang tidak seharusnya.
Hubungan lama kami dibangun dari terlalu banyak asumsi.
Aku mengira memberi selalu berarti mencintai.
Rina mengira menerima selalu berarti aku sanggup.
Aku mengira kedekatan memberi hak untuk masuk kapan saja.
Dia mengira rasa kesal memberi hak untuk mengatakan apa saja.
Sekarang kami harus belajar dari awal.
Tidak ada lagi transfer bulanan.
Rekening darurat tetap atas namaku dan tidak pernah kubuka lagi untuk mereka.
Aku mengubah penerima manfaat beberapa tabunganku supaya semuanya lebih jelas secara administrasi, lalu menyimpan dokumen keuanganku di tempat yang hanya bisa kuakses sendiri.
Bukan karena aku sedang menghukum Rina.
Aku hanya tidak ingin hubungan kami kembali bergantung pada dugaan tentang uang yang belum diberikan.
Bimo dan Rina akhirnya bertahan dengan rumah mereka.
Mereka memang harus mengubah banyak hal.
Mobil kedua hilang dari garasi.
Liburan akhir tahun dibatalkan.
Beberapa pengeluaran dipangkas.
Bimo mengambil proyek tambahan.
Rina mulai menerima pekerjaan paruh waktu mengurus administrasi sebuah usaha milik temannya, sesuatu yang dulu dia anggap tidak perlu selama kebutuhan rumah masih bisa ditutup dari berbagai sumber.
Mereka tidak jatuh miskin.
Mereka hanya berhenti hidup seolah-olah selalu ada seseorang di belakang mereka yang siap menutup kekurangan.
Aku sendiri akhirnya pergi ke Banyuwangi selama empat hari bersama dua teman lama.
Aku membayar perjalanan itu dari uangku sendiri tanpa merasa harus menjelaskan kepada siapa pun.
Aku membeli sebuah tas kecil yang sebenarnya tidak kubutuhkan.
Harganya Rp650.000.
Dulu aku mungkin akan berdiri sepuluh menit di toko lalu berpikir bahwa uang sebesar itu lebih baik diberikan kepada cucu.
Kali ini aku membelinya.
Ketika pulang, Rina datang menjemputku di stasiun.
Dia melihat tas itu.
“Baru?”
“Iya.”
“Bagus.”
Aku menunggu komentar berikutnya.
Tidak ada.
Dia mengambil koperku.
Di dalam mobil dia bertanya, “Perjalanannya menyenangkan?”
“Sangat.”
“Lain kali pergi lagi.”
Aku menoleh ke luar jendela supaya dia tidak melihat mataku basah.
Enam bulan setelah ulang tahunnya, aku datang ke rumah Rina untuk makan malam.
Kali ini aku datang karena diundang.
Aku tidak membawa belanjaan.
Tidak membawa amplop.
Tidak membawa kue mahal.
Hanya satu wadah kecil berisi sambal buatan sendiri karena Rina memang memintanya.
Kami duduk bersama Bimo dan anak-anak.
Rumah itu masih sama.
Meja makan sama.
Lampu gantung sama.
Tapi sesuatu terasa berbeda.
Setelah makan, salah satu cucuku bertanya apakah aku akan menginap.
Aku melihat Rina terlebih dahulu.
Dia tersenyum.
“Kalau Nenek mau.”
Aku menggeleng.
“Besok Nenek ada urusan pagi.”
Dulu aku mungkin akan membatalkan urusanku.
Sekarang tidak.
Ketika hendak pulang, aku berdiri di dekat pintu dan tanpa sengaja melihat sebuah benda kecil di mangkuk dekat rak sepatu.
Kunci cadangan rumah.
Bukan kunci lama yang pernah kumiliki.
Kunci baru.
Rina mengambilnya.
“Bu.”
Aku menatapnya.
“Kalau suatu hari kami benar-benar butuh Ibu bantu anak-anak dan Ibu setuju, kunci ini boleh Ibu pegang lagi.”
Aku melihat kunci itu.
Dulu aku akan langsung mengambilnya.
Kali ini aku tidak.
“Simpan dulu,” kataku.
Rina terlihat terkejut.
“Kenapa?”
“Kalau suatu hari memang perlu, kamu kasih waktu itu saja.”
Dia memandangku beberapa detik.
Kemudian mengangguk.
“Baik.”
Aku memakai sandal, membuka pintu, lalu melangkah keluar.
Di belakangku, Rina berkata, “Bu.”
Aku menoleh.
“Terima kasih sudah datang.”
Bukan terima kasih karena membayar sesuatu.
Bukan karena menjaga anak.
Bukan karena menyelesaikan masalah.
Hanya karena datang.
Aku tersenyum.
Lalu pintu rumah putriku kututup perlahan dari luar.
Kuncinya tetap berada di dalam.
Menurutmu, apakah Sri tepat menghentikan seluruh bantuan finansial setelah Rina meminta batas tetapi tetap mengandalkan uang ibunya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
