Bagian 2
“Apa yang lebih buruk?”
Aku tidak sadar sudah berdiri sampai lututku menyentuh meja.
Mira membuka map dan menarik satu foto dari bagian belakang.
“Lihat tanggalnya.”
Aku membaca angka kecil di sudut cetakan.
Tanggal Raka lahir.

Foto itu memperlihatkan pintu masuk rumah sakit tempat aku melahirkan.
Aku terlihat duduk di kursi roda bersama seorang perawat sebelum masuk ke lift.
Gambar diambil dari cukup jauh.
“Siapa yang memotret ini?”
“Ardi.”
Aku menatap Mira.
“Tidak mungkin.”
“Aku menemukan foto aslinya di ponselnya. Lokasinya masih tersimpan.”
Mira mengeluarkan ponsel.
“Ada juga transaksi parkir rumah sakit pagi itu. Dari kartu yang dipakai Ardi.”
Aku duduk lagi.
Selama tiga bulan aku berpikir dia bahkan tidak tahu kapan putranya lahir.
Ternyata dia berada di gedung yang sama.
“Mengapa dia tidak datang?”
“Itu yang kutanyakan semalam.”
“Jawabannya?”
Mira menggeleng.
“Dia bilang dia panik.”
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
“Panik sampai bisa datang ke rumah sakit, memotretku, lalu pulang?”
“Ada lagi.”
Mira membuka percakapan di ponselnya.
“Setelah aku menemukan foldermu, aku telepon ibu Ardi.”
Aku langsung teringat cerita lama Ardi tentang ibunya yang “sakit”.
“Beliau tahu?”
“Bukan sejak awal hubungan kalian. Tapi dia tahu kamu hamil sebelum Raka lahir.”
Aku sulit mencerna kalimat itu.
“Ardi bilang apa kepadanya?”
“Katanya kalian pernah punya hubungan singkat. Setelah kamu hamil, katanya dia mencoba bertanggung jawab tetapi kamu marah dan menolak berhubungan.”
Aku hampir menjatuhkan gelas di meja.
“Aku yang menolak?”
“Dia menunjukkan bukti transfer Rp45 juta itu kepada ibunya.”
“Tapi uangnya tidak pernah masuk.”
“Aku tahu.”
Mira menunjuk kertas di tanganku.
“Dari rekening bersama kami, aku bisa melihat instruksi transfer itu dibuat. Tapi kemudian dibatalkan sebelum selesai.”
Aku membaca kembali nama dan angka itu.
Sekarang lembar tersebut terasa lebih buruk daripada sekadar uang yang tidak pernah kuterima.
Ardi menggunakannya untuk menciptakan cerita bahwa dia pernah mencoba membantuku.
“Mira…”
“Aku belum tahu kenapa dia menyimpan tagihan dan foto-fotomu. Tapi ibunya mengira selama ini Ardi sudah memberimu uang.”
Ponselku bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Aku hampir mengabaikannya.
Lalu sebuah pesan masuk.
Nadia, ini Ardi. Tolong jangan blokir. Kita harus bicara tanpa Mira.
Aku menunjukkan layar kepada Mira.
Wajahnya tidak berubah.
“Jawab kalau kamu mau,” katanya. “Tapi jangan lakukan apa pun karena aku menyuruh.”
Aku mengetik:
Bicara soal apa?
Balasannya cepat.
Soal Raka. Aku akan bertanggung jawab. Tapi jangan libatkan terlalu banyak orang. Kita bisa menyelesaikan ini baik-baik.
Lalu:
Aku bisa siapkan Rp300 juta dulu dan biaya bulanan setelahnya. Kita ketemu berdua. Ada beberapa hal yang perlu kamu tanda tangani supaya semuanya jelas.
Aku membaca dua kali.
“Ada yang perlu kutandatangani.”
Mira hanya berkata, “Tanya apa.”
Aku menulis:
Dokumen apa?
Beberapa menit kemudian file PDF masuk.
Judulnya sederhana.
Pernyataan Kesepakatan Pribadi.
Aku membaca beberapa paragraf pertama.
Ardi bersedia memberikan sejumlah uang.
Sebagai gantinya, aku diminta menyatakan hubungan kami terjadi ketika dia dan Mira “sedang menjalani perpisahan dalam rumah tangga”.
Itu bohong.
Aku bahkan tidak pernah tahu Mira ada.
Ada kalimat lain yang membuatku berhenti.
Aku diminta berjanji tidak menghubungi istri, anak-anak, keluarga besar, maupun tempat kerja Ardi mengenai hubungan kami.
Tidak ada satu kalimat pun yang secara tegas menyatakan dia ayah Raka.
Aku mengirim:
Kalau kamu mau bertanggung jawab, kenapa tidak ada nama Raka dan pengakuanmu sebagai ayah di sini?
Ardi menelepon.
Aku tidak mengangkat.
Dia menulis lagi.
Jangan buat semuanya tambah rumit. Aku sedang memikirkan masa depan Raka juga.
Aku menatap anakku yang tidur di pelukan Mira.
Untuk sesaat, angka Rp300 juta berputar di kepalaku.
Tabunganku.
Terapi.
Kontrol.
Biaya beberapa tahun ke depan.
Kemudian aku melihat lagi kalimat yang meminta aku ikut mempertahankan kebohongannya.
Aku mengetik perlahan.
Aku tidak akan menandatangani cerita yang tidak pernah terjadi.
Kalau kamu benar-benar mau bertanggung jawab atas Raka, lakukan dengan namamu sendiri.
Pesannya berhenti.
Beberapa menit kemudian Mira menerima pesan.
Dia membacanya, lalu menyerahkan ponsel kepadaku.
Dari Ardi.
Nadia mulai menekan aku soal uang. Sekarang dia mengancam akan menyeret semuanya ke keluarga dan kantor. Aku takut dia memanfaatkan situasi.
Aku membandingkan waktu pesannya dengan pesan di ponselku.
Selisih dua menit.
Kepadaku, dia mengaku sedang memikirkan masa depan Raka.
Kepada istrinya, aku disebut perempuan yang memerasnya.
Aku menaruh kedua ponsel berdampingan di meja.
Saat itulah untuk pertama kalinya aku benar-benar memahami cara Ardi hidup selama ini.
Dia tidak hanya berbohong ketika terpojok.
Dia membuat versi berbeda untuk setiap orang, lalu berdiri di tengah sambil memastikan kami tidak pernah saling berbicara.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Mira tidak menjawab pesan Ardi.
Dia mengambil tangkapan layar, mengirimkannya ke emailnya sendiri, lalu menyimpan ponsel.
“Aku tidak mau bertengkar lewat WhatsApp lagi,” katanya.
Aku memandang map di meja.
“Aku juga tidak tahu harus melakukan apa.”
“Sepupuku bisa menjelaskan pilihanmu. Tapi keputusan tetap milikmu.”
Namanya Reza.
Dua hari kemudian aku bertemu dengannya di kantor kecil sebuah firma hukum di Jakarta Selatan.
Mira datang lebih dulu, tetapi Reza langsung menjelaskan bahwa masalah kami tidak sama.
“Mbak Mira punya urusan perkawinan dengan Ardi,” katanya. “Nadia punya kepentingan terkait Raka. Jangan dicampur seolah kalian satu pihak dalam semua hal.”
Aku justru merasa sedikit lega mendengarnya.
Aku tidak ingin hidupku bergantung pada apakah Mira masih marah kepada suaminya seminggu atau sebulan kemudian.
Aku juga tidak ingin menjadikan luka Mira sebagai senjata untuk menyelesaikan masalahku.
Reza meminta kami memisahkan dokumen.
Bukti hubungan.
Pesan tentang kehamilan.
Upaya menghubungi Ardi.
Dokumen kelahiran Raka.
Catatan pengeluaran.
Pesan penawaran Rp300 juta.
Lalu bukti bahwa Ardi sendiri tidak menyangkal hubungan kami dan berkali-kali menyebut Raka ketika menghubungiku.
“Yang penting sekarang jangan tanda tangan apa pun yang dibuat sepihak,” katanya kepadaku. “Kalau Ardi bersedia mengakui dan membuat pengaturan tanggung jawab dengan benar, prosesnya bisa lebih sederhana. Kalau tidak, ada jalur hukum untuk memperjelas status dan kewajiban. Tapi itu proses, bukan satu surat selesai besok.”
“Aku cuma ingin dia ikut membiayai anaknya,” kataku.
“Dan namanya jelas?”
Aku mengangguk.
“Aku tidak mau Raka tumbuh dengan cerita bahwa ayahnya tidak pernah diketahui hanya karena ayahnya takut istrinya tahu.”
Mira menunduk mendengar kalimat itu.
Reza tidak menjanjikan kemenangan cepat.
Justru itu yang membuatku percaya kepadanya.
Dia mengatakan kami perlu hati-hati mengenai data pribadi, jangan menyebarkan percakapan ke media sosial, dan jangan menjadikan ancaman mempermalukan Ardi sebagai cara bernegosiasi.
“Kalau tujuannya tanggung jawab, tetap di sana,” katanya.
Aku pulang dengan satu map baru.
Bukan map rahasia milik Ardi.
Mapku sendiri.
Di dalamnya ada salinan dokumen yang benar-benar kumiliki hak untuk simpan.
Malam itu Ardi menelepon tiga kali.
Aku tidak mengangkat.
Aku hanya mengirim satu pesan.
Mulai sekarang soal Raka dibicarakan tertulis atau melalui pertemuan resmi. Aku tidak akan bertemu diam-diam.
Balasannya datang satu jam kemudian.
Kamu benar-benar mau mempermalukan aku begini?
Aku hampir menjawab panjang.
Akhirnya hanya kuketik:
Aku meminta kamu mengurus anakmu. Itu bukan mempermalukanmu.
Dia tidak membalas.
Keesokan sore, seseorang lain menghubungiku.
Ibu Ratna.
Ibunya Ardi.
Perempuan yang selama enam bulan kupikir sedang sakit setiap akhir pekan.
Dia meminta bertemu.
Awalnya aku ingin menolak.
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuatku berubah pikiran.
“Saya ingin menjelaskan kenapa saya percaya uang itu sudah sampai ke kamu.”
Kami bertemu di sebuah kedai kopi yang tidak jauh dari apartemenku.
Dini menunggu di meja lain sambil menjaga Raka.
Ibu Ratna berusia awal enam puluhan. Rambutnya pendek, pakaiannya sederhana, dan ekspresinya jauh lebih lelah daripada yang kubayangkan.
Dia tidak mengulurkan tangan ketika duduk.
Aku juga tidak.
“Nadia, saya tidak akan pura-pura senang dengan semua ini.”
“Aku juga tidak mengharapkan Ibu senang.”
Dia mengangguk.
“Ardi cerita soal kamu ketika kehamilanmu sekitar tujuh bulan.”
“Bukan ketika aku pertama kali bilang hamil?”
“Tidak.”
Jadi selama berbulan-bulan, bahkan ibunya tidak tahu.
“Apa yang dia katakan?”
Ibu Ratna melihat meja.
“Katanya dia pernah dekat dengan rekan kerja. Dia bilang hubungan itu selesai, lalu kamu hamil. Dia bilang dia sudah berusaha mengirim uang tetapi kamu tidak mau bicara.”
“Dia menghilang dari teleponku.”
“Saya baru tahu itu sekarang.”
“Apa Ibu melihat bukti transfer?”
“Dia kirim fotonya.”
Aku mengeluarkan salinan yang dibawa Mira.
“Yang ini?”
Wajah Ibu Ratna berubah.
“Ya.”
“Transfernya dibatalkan.”
Dia memandangku.
“Apa?”
“Aku tidak pernah menerima Rp45 juta itu.”
Aku membuka mutasi rekeningku di ponsel, bukan karena Ibu Ratna berhak melihat seluruh keuanganku, tetapi karena aku ingin mengakhiri satu kebohongan.
Aku menunjukkan periode yang relevan.
Tidak ada transfer dari Ardi.
“Kalau perlu, urusan ini nanti bisa diperiksa melalui proses yang benar,” kataku. “Tapi uang itu tidak pernah masuk.”
Ibu Ratna memejamkan mata sebentar.
“Saya menyuruh dia bertanggung jawab.”
Aku diam.
“Tapi saya juga…” Dia menarik napas. “Saya menyuruh dia jangan sampai rumah tangganya hancur.”
Itu jawaban yang tidak sempurna.
Justru karena itu aku mempercayainya.
Dia tidak mencoba menjadi perempuan tua bijaksana yang tidak pernah berbuat salah.
Dia takut kehilangan keluarga anaknya.
“Aku mengerti Ibu ingin melindungi cucu-cucu Ibu yang lain.”
“Dua anak itu tidak tahu apa-apa.”
“Aku juga tidak ingin menyeret mereka.”
Wajahnya sedikit melunak.
“Tapi Raka juga cucu Ibu.”
Ibu Ratna melihat ke arah meja Dini.
Raka sedang tidur di stroller.
Matanya berkaca-kaca, tetapi dia tidak langsung mendekat.
“Saya tahu.”
“Kalau Ibu mau melindungi mereka semua, jangan meminta satu anak dihapus supaya dua anak lain tidak terluka.”
Dia tidak membantah.
Beberapa saat kemudian dia berkata pelan, “Saya ingin bertemu Raka. Bukan sekarang juga kalau kamu tidak nyaman.”
Aku memandangnya cukup lama.
“Aku tidak bisa menjawab hari ini.”
“Baik.”
Itu pertama kalinya seseorang dari keluarga Ardi menerima kata tidak dariku tanpa mencoba memutarnya menjadi negosiasi.
Sebelum pulang, Ibu Ratna mengeluarkan satu hal lagi.
Bukan dokumen.
Bukan uang.
Sebuah pesan lama dari Ardi yang masih tersimpan di ponselnya.
Pesan itu dikirim pada hari Raka lahir.
Sudah lahir. Laki-laki. Aku tadi ke RS, tapi tidak masuk. Aku belum siap lihat semuanya jadi nyata.
Di bawahnya, balasan Ibu Ratna:
Kalau itu anakmu, jangan lari.
Ardi membalas:
Aku perlu tahu dulu apa yang paling aman buat semua orang.
Aku membaca kalimat terakhir dua kali.
Aman.
Selama ini dia selalu menggunakan kata yang terdengar baik untuk membungkus ketakutannya sendiri.
Aman untuk siapa?
Bukan untukku.
Bukan untuk Raka.
Belum tentu juga untuk Mira.
Beberapa hari kemudian, melalui Reza, Ardi akhirnya setuju melakukan pertemuan.
Aku hampir membatalkannya malam sebelumnya.
Tanganku dingin setiap kali membayangkan duduk berhadapan dengan lelaki yang sudah berbulan-bulan kuhindari sekaligus kucari.
Mira tidak ikut.
Dia punya pertemuannya sendiri tentang pernikahan dan keuangan mereka.
Itu lebih baik.
Pertemuanku bukan sidang atas perselingkuhan kami.
Pertemuanku tentang Raka.
Ardi datang sepuluh menit lebih awal.
Dia terlihat lebih kurus.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, kemejanya kusut.
Aku benci bahwa sebagian diriku masih mengenali cara dia mengusap rambut ketika gugup.
“Nad.”
“Duduk saja.”
Dia duduk di seberangku.
Reza berada di ujung meja.
Tidak ada teriakan.
Justru suasananya terasa lebih berat karena tidak ada tempat bagi Ardi untuk bersembunyi di balik drama.
Reza menjelaskan bahwa tujuan pertemuan awal adalah melihat apakah Ardi bersedia mengakui tanggung jawab terhadap Raka dan menyepakati langkah formal tanpa tekanan kepada Nadia.
Ardi langsung berkata, “Aku tidak pernah bilang Raka bukan anakku.”
Aku menatapnya.
“Kamu juga tidak pernah bilang dia anakmu ketika dia lahir.”
Dia menelan ludah.
“Nadia…”
“Kenapa kamu datang ke rumah sakit?”
Ardi diam.
“Foto itu kamu yang ambil?”
Dia melirik Reza.
Reza hanya berkata, “Jawab kalau Anda bersedia. Kalau tidak, kita lanjut ke hal lain.”
Ardi mengusap kedua telapak tangannya.
“Aku tahu tanggal perkiraan lahirmu.”
“Dari mana?”
“Dari pesan-pesan lama. Dan… aku beberapa kali lewat rumah sakit ketika tahu kamu kontrol.”
“Lewat?”
“Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja.”
Aku tertawa kecil.
“Kalau mau memastikan aku baik-baik saja, ada benda bernama telepon.”
Dia tidak menjawab.
“Pada hari Raka lahir, kamu ada di sana?”
“Iya.”
“Berapa lama?”
“Mungkin satu jam.”
“Dan kamu tidak masuk.”
“Aku tidak sanggup.”
Aku menatapnya.
“Apa yang tidak sanggup kamu lihat? Aku? Atau bayimu?”
Wajahnya menegang.
“Aku sudah tahu dari beberapa hal yang kamu kirim sebelumnya bahwa ada kemungkinan kondisi khusus.”
Aku mengerutkan kening.
Aku memang pernah mengirim pesan panjang setelah diagnosis, termasuk mengatakan akan ada pemeriksaan lanjutan setelah lahir.
“Kamu membaca semuanya?”
“Iya.”
“Jadi selama ini pesanku dibaca.”
“Iya.”
“Dan kamu diam.”
Dia mengangguk.
“Kenapa?”
Untuk pertama kalinya Ardi tidak punya jawaban cepat.
“Aku takut.”
Aku menunggu.
“Aku takut Mira tahu. Aku takut anak-anak tahu. Aku takut keluarga tahu.”
“Terus Raka?”
Ardi menatap meja.
“Aku bilang ke diriku sendiri aku akan urus nanti.”
“Kapan?”
Dia tidak menjawab.
Aku mengambil salinan bukti transfer Rp45 juta.
“Kenapa ini dibatalkan?”
Ardi melihat kertas itu lama.
“Aku membuat transfernya.”
“Aku tahu. Kenapa dibatalkan?”
“Aku takut Mira lihat mutasi.”
“Mira bilang itu dari rekening bersama.”
Dia mengangguk pelan.
“Aku pikir aku bisa cari cara lain.”
“Lalu?”
“Aku tidak jadi melakukannya.”
“Tapi kamu menunjukkan bukti ini ke ibumu seolah uangnya sudah masuk.”
Ardi menutup mata sebentar.
“Aku tidak bilang sudah masuk.”
“Kamu membiarkan dia percaya.”
Dia tidak membantah.
Reza tidak menyela.
Aku mulai memahami kenapa dia membiarkan percakapan itu berjalan.
Setiap kali Ardi tidak bisa berlindung di balik ancaman atau rayuan, jawaban sebenarnya muncul sedikit demi sedikit.
“Dan dokumen Rp300 juta?” tanyaku. “Kenapa aku harus menulis bahwa kamu dan Mira sedang berpisah ketika kita mulai dekat?”
“Aku cuma ingin mengurangi kerusakan.”
“Dengan membuatku ikut berbohong?”
“Aku akan tetap memberi biaya untuk Raka.”
“Tidak ada pengakuan bahwa kamu ayahnya.”
“Itu bisa diatur belakangan.”
Aku menggeleng.
“Semua selalu belakangan buat kamu.”
Ardi akhirnya menatapku.
“Aku salah.”
Aku tidak menjawab.
“Aku salah besar. Aku tahu.”
“Lalu?”
“Aku siap bantu biaya Raka.”
“Bukan bantu.”
Dia terdiam.
“Dia anakmu. Kalau aku membeli susu, aku bukan sedang ‘membantu’ Raka. Aku sedang mengurus anakku.”
Ardi menelan ludah.
“Aku siap bertanggung jawab.”
Reza kemudian mengambil alih.
Pembicaraan bergeser ke hal-hal yang jauh lebih membosankan daripada drama yang sudah terjadi, tetapi justru itulah bagian terpenting.
Pengakuan tertulis.
Biaya kebutuhan bulanan yang realistis.
Pembagian biaya pemeriksaan kesehatan tertentu dan terapi.
Cara pembayaran yang bisa dilacak.
Larangan mengaitkan dukungan anak dengan permintaan Nadia merahasiakan fakta atau membuat pernyataan palsu.
Langkah hukum lanjutan jika kesepakatan tidak dijalankan.
Tidak semua selesai hari itu.
Ardi meminta waktu meninjau rancangan.
Aku tidak keberatan.
Yang tidak kuberikan lagi adalah kesempatan untuk menghilang.
Seminggu kemudian Ardi mencoba menghubungiku langsung.
Aku mengabaikan dua telepon.
Pesan ketiganya berbunyi:
Aku cuma mau tahu kondisi Raka.
Aku menatap layar lama.
Kemudian aku menjawab.
Kontrol terakhir baik. Dokter menyarankan lanjut terapi sesuai jadwal. Untuk hal lain, baca pembaruan yang kukirim lewat jalur yang sudah disepakati.
Dia membalas:
Aku boleh lihat dia?
Pertanyaan itu membuatku jauh lebih marah daripada yang kuduga.
Bukan karena aku ingin melarangnya selamanya.
Karena selama tiga bulan Raka ada di dunia, Ardi sebenarnya bisa bertanya kapan saja.
Aku mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.
Setelah urusan tanggung jawabmu jelas dan kamu tidak lagi datang-pergi sesuka hati, kita bisa bicarakan.
Ardi tidak memaksa.
Mungkin karena untuk pertama kalinya dia tahu percakapan kami tidak lagi terjadi di tempat yang bisa dia kendalikan.
Mira juga mulai menjaga jarak dariku.
Itu sehat.
Pada minggu pertama kami hampir setiap hari bertukar pesan karena semua baru terbongkar.
Setelah itu, komunikasi kami hanya jika ada dokumen yang berkaitan atau ketika salah satu dari kami menemukan kontradiksi penting.
Suatu malam dia mengirim pesan singkat.
Aku memutuskan pisah rumah dulu. Anak-anak cuma kuberi tahu bahwa ayah dan ibu sedang menyelesaikan masalah orang dewasa.
Aku membalas:
Semoga mereka baik-baik saja.
Mira menjawab:
Aku juga berharap begitu untuk Raka.
Tidak ada kalimat tentang kami menjadi sahabat.
Tidak ada janji untuk saling menjaga seumur hidup.
Kami adalah dua perempuan yang kebetulan sama-sama tertipu laki-laki yang sama.
Itu sudah cukup.
Sebulan setelah pertemuan pertama, Ardi menandatangani pengaturan sementara mengenai biaya Raka sambil proses formal terkait status dan tanggung jawabnya dilanjutkan.
Pembayaran pertama masuk pada tanggal yang disepakati.
Aku menatap notifikasi bank cukup lama.
Bukan karena jumlahnya membuatku kaya.
Tidak.
Setelah membayar terapi, kontrol, kebutuhan sehari-hari, dan menambah sedikit kembali tabunganku, hidupku tetap harus dihitung dengan hati-hati.
Yang membuatku terpaku adalah nama pengirimnya.
ARDI PRATAMA.
Tidak lagi kertas transfer yang dibatalkan.
Tidak lagi janji.
Tidak lagi cerita kepada ibunya bahwa dia sudah membayar.
Kali ini uangnya benar-benar ada.
Aku menyimpan bukti transaksi lalu menutup aplikasi.
Dini, yang sedang membantu menyuapi Raka, melirikku.
“Masuk?”
Aku mengangguk.
“Gimana rasanya?”
Aku berpikir sejenak.
“Biasa saja.”
Dini tertawa.
“Bagus.”
Aku ikut tersenyum.
Mungkin memang seharusnya biasa saja.
Orang tua membayar kebutuhan anak bukan peristiwa heroik.
Dua bulan kemudian, Ibu Ratna kembali bertanya apakah boleh menemui Raka.
Kali ini aku mengizinkan.
Dia datang sendiri ke apartemen.
Tidak membawa keluarga besar.
Tidak membawa nasihat.
Tidak membawa uang tunai yang bisa berubah menjadi utang budi.
Dia hanya membawa beberapa buku kain dan buah untukku.
Ketika melihat Raka, dia menangis.
“Aku boleh gendong?”
Aku mengangguk.
Raka menatap wajahnya beberapa detik sebelum meraih bingkai kacamatanya.
Ibu Ratna tertawa sambil menangis.
“Wah, langsung mau ambil punya Nenek?”
Aku tidak mengoreksi panggilannya.
Tetapi sebelum dia pulang, aku mengatakan satu hal.
“Ibu boleh punya hubungan dengan Raka kalau hubungan itu tidak dipakai untuk mengatur aku.”
Dia mendengarkan.
“Aku juga tidak mau setiap keputusan soal terapi atau kesehatan jadi rapat keluarga.”
“Baik.”
“Kalau Ardi sedang bermasalah dengan Mira, jangan jadikan Raka tempat untuk memperbaiki perasaan Ardi.”
Ibu Ratna menghela napas.
“Saya mengerti.”
Aku tidak tahu apakah dia benar-benar mengerti semuanya.
Tapi dia datang lagi tiga minggu kemudian dan tetap menghormati aturan yang sama.
Itu cukup untuk saat itu.
Ardi baru bertemu Raka ketika anak kami hampir berusia tujuh bulan.
Bukan di rumahku.
Aku memilih tempat terapi tumbuh kembang yang sudah dikenal Raka.
Dini ikut menunggu di luar ruangan.
Ardi datang membawa mainan mahal yang langsung kuminta dia simpan di mobil karena ukurannya tidak sesuai usia.
Dia terlihat malu.
“Aku kira…”
“Tidak apa-apa. Lain kali tanya.”
Kata “lain kali” membuat wajahnya berubah sedikit.
Aku sendiri baru menyadari setelah mengucapkannya bahwa aku memang tidak berniat menghapusnya dari hidup Raka.
Tapi aku juga tidak akan memberinya peran ayah hanya karena hubungan darah.
Peran itu harus dikerjakan.
Raka sedang berada di matras ketika Ardi masuk.
Dia berhenti di pintu.
Untuk beberapa detik, dia tidak bergerak.
Mungkin inilah pemandangan yang dia hindari berbulan-bulan.
Anak yang tidak bisa lagi disimpan dalam folder.
Tidak bisa dibatalkan seperti transfer.
Tidak bisa dijelaskan sebagai “situasi”.
Raka mengeluarkan suara kecil lalu memukul matras dengan tangannya.
Ardi berlutut.
“Hai.”
Raka menatapnya.
Ardi menoleh kepadaku.
“Aku boleh pegang?”
“Duduk dulu. Topang kepalanya kalau kamu angkat.”
Tangannya gemetar ketika menerima Raka.
Anakku menarik kerah kemejanya.
Ardi menangis.
Aku tidak.
Dulu mungkin pemandangan itu akan membuatku berharap kami bertiga bisa menjadi keluarga.
Sekarang tidak.
Aku sudah tahu harga dari harapan yang dibangun di atas kebohongan.
“Aku minta maaf,” katanya.
Aku tidak tahu apakah kalimat itu untukku atau Raka.
Mungkin keduanya.
“Dia tidak butuh kamu minta maaf satu sore,” kataku. “Dia butuh kamu datang lagi kalau kamu bilang akan datang.”
Ardi mengangguk.
Aku membiarkannya menggendong Raka beberapa menit.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Setelah itu hidup tidak berubah menjadi mudah.
Proses antara Mira dan Ardi masih berjalan.
Ada hari ketika Mira marah lagi karena menemukan kebohongan kecil lain tentang keuangan rumah tangga mereka.
Ada hari ketika Ardi terlambat membalas urusan administrasi Raka dan Reza harus mengingatkannya.
Pernah satu bulan pembayaran masuk dua hari terlambat.
Aku tidak panik.
Aku mengirim pemberitahuan tertulis.
Besoknya masuk.
Aku juga berhenti menghitung apakah Ardi cukup menyesal.
Penyesalan bukan sistem pembayaran.
Penyesalan bukan jadwal terapi.
Penyesalan juga bukan ayah.
Perilaku yang konsisten jauh lebih berguna.
Enam bulan setelah Mira mengetuk pintuku, Raka mulai bisa duduk lebih stabil dengan bantuan.
Terapisnya mengatakan perkembangan setiap anak berbeda dan kami fokus pada kemajuan Raka sendiri, bukan membandingkannya dengan bayi lain.
Kalimat itu ternyata tidak hanya membantuku sebagai ibu.
Aku berhenti membandingkan hidupku dengan foto keluarga orang lain.
Mira mungkin masih punya rumah yang sama, tetapi rumah tangganya berubah.
Ardi tetap ayah dari tiga anak dengan tanggung jawab berbeda-beda.
Aku tetap ibu tunggal yang bekerja sambil mengatur jadwal terapi.
Tidak ada satu pun dari kami mendapatkan kembali hidup sebelum kebohongan itu terbongkar.
Kami hanya belajar menjalani hidup setelahnya.
Hubunganku dengan Mira akhirnya menjadi sesuatu yang sederhana.
Kami tidak sering bertemu.
Pada ulang tahun pertama Raka, sebuah paket datang.
Isinya buku cerita bergambar dan kartu kecil.
Selamat ulang tahun, Raka. Semoga selalu dikelilingi orang yang berani berkata jujur kepadamu.
Tidak ada nama.
Aku tahu siapa yang mengirim.
Aku menyimpan kartunya.
Bukan untuk menceritakan kepada Raka suatu hari bahwa istri ayahnya adalah orang suci.
Mira bukan orang suci.
Aku juga bukan.
Kami hanya dua orang yang pada satu pagi memilih tidak melanjutkan kebohongan yang dibuat orang lain.
Tentang Ardi, aku masih belum tahu seperti apa hubungannya dengan Raka lima atau sepuluh tahun lagi.
Sekarang dia datang sesuai jadwal yang kami sepakati.
Kadang canggung.
Kadang dia salah membawa kebutuhan.
Kadang dia masih harus diingatkan bahwa terapi bukan kegiatan yang bisa dipindah seenaknya karena ada rapat.
Tetapi dia datang.
Dan kalau suatu hari dia berhenti datang, aku tahu apa yang harus kulakukan.
Aku tidak akan mengejar ke hotel.
Tidak akan menelepon ibunya sambil menangis.
Tidak akan menunggu pesan dibaca.
Aku sudah punya jalur yang jelas.
Suatu malam setelah Raka tertidur, aku merapikan meja makan.
Di sana masih ada map cokelat pertama yang dibawa Mira.
Foto-foto rumah sakit.
Salinan transfer yang dibatalkan.
Dokumen yang dulu membuat tanganku gemetar.
Aku memasukkannya ke dalam kotak arsip bersama dokumen resmi lain, lalu menaruh kotak itu di laci yang bisa dikunci.
Di atas meja tinggal satu lembar saja.
Jadwal terapi Raka untuk bulan berikutnya.
Aku menempelkannya di pintu kulkas.
Kemudian terdengar suara dari ruang tengah.
Raka terbangun dan sedang mencoba menarik tubuhnya sambil berpegangan pada sisi sofa.
Aku buru-buru mendekat, lalu berhenti beberapa langkah darinya.
Dia menoleh kepadaku dan tersenyum lebar.
Aku tidak mengangkatnya.
Aku hanya duduk di lantai, cukup dekat kalau dia jatuh, dan membiarkannya mencoba lagi.
Menurutmu, apakah Nadia benar memberi Ardi kesempatan menjadi ayah tanpa memberinya kesempatan kembali mengendalikan hidupnya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
