Aku Mengizinkan Pria Tunawisma Bermalam di Sofa Demi Anakku, Tapi Malam Berikutnya Aku Membeku Saat Membuka Pintu
Bagian 1
Anakku berhenti tepat di depan pintu supermarket dan menatap seorang pria yang menggigil di dekat dinding. Aku sudah tahu pertanyaan apa yang akan keluar dari mulut Dimas, dan malam itu aku sangat berharap dia tidak mengatakannya.
“Bu, dia nanti tidur di mana?”
Aku memejamkan mata sebentar.
Dua kantong belanja menggantung di tanganku. Isinya cuma susu, telur, mi, sedikit sayuran, dan sereal murah yang cukup untuk beberapa hari. Kakiku terasa berat setelah hampir sepuluh jam bekerja sebagai perawat lansia di sebuah panti werdha di Bandung.
Aku ingin pulang.
Hanya itu.

Pulang ke apartemen sewaan kami, memanaskan makan malam, menyuruh Dimas mandi, lalu tidur sebelum alarm berbunyi lagi sebelum subuh.
Namun Dimas masih berdiri di sana.
Umurnya sembilan tahun. Cukup besar untuk memahami bahwa hidup tidak selalu adil, tetapi masih cukup kecil untuk percaya bahwa orang dewasa selalu punya cara memperbaiki keadaan.
Aku mengikuti arah pandangannya.
Pria itu mungkin berusia akhir tiga puluhan atau awal empat puluhan. Jaketnya tipis dan tampak sudah lama dipakai. Sepatu kanannya lecet parah. Sebuah penyangga medis berwarna hitam membungkus lutut kanannya, sementara tas olahraga kusam tergeletak di samping kakinya.
Dia tidak membawa tulisan meminta uang.
Tidak mengulurkan tangan.
Tidak memanggil orang yang keluar masuk supermarket.
Dia hanya duduk dengan kedua tangan diselipkan di bawah ketiak, menahan tubuhnya agar tidak terus menggigil diterpa angin malam Bandung yang dingin setelah hujan berjam-jam.
“Dimas, ayo.”
Anakku tidak bergerak.
“Dingin banget, Bu.”
“Aku tahu.”
“Kalau dia tidur di luar, kakinya tambah sakit, kan?”
Aku menarik napas panjang.
Ada banyak alasan untuk berjalan pergi.
Aku sendiri sedang kesulitan.
Uang sewa apartemen terlambat hampir tiga minggu. Tagihan listrik dan air ada di meja dapur, masih di dalam amplop karena aku sudah tahu jumlahnya dan belum tahu harus mengambil uang dari pos mana lagi.
Sepatu sekolah Dimas mulai sempit.
Bulan sebelumnya aku bahkan menunda membeli obat flu untuk diriku sendiri supaya uang transportasi sampai akhir bulan tetap ada.
Aku tidak punya uang lebih.
Apalagi ruang untuk membawa orang asing masuk ke dalam kehidupan kami.
Tetapi Dimas masih menatap penyangga di lutut pria itu.
Akhirnya aku berjalan mendekat.
Pria itu langsung mengangkat kepala.
“Saya tidak minta uang, Bu,” katanya.
Suaranya lelah, tetapi tidak kasar.
“Aku tahu.”
Aku berhenti beberapa langkah darinya.
“Bapak punya tempat menginap malam ini?”
Dia memandang ke arah jalan yang masih basah.
“Tadi saya sudah mencoba menelepon rumah singgah. Penuh.”
“Tidak ada keluarga?”
Dia diam sesaat.
“Tidak ada yang bisa saya datangi malam ini.”
Dimas berdiri rapat di sampingku.
Pria itu melihatnya, lalu tersenyum tipis.
Dimas menunjuk lututnya.
“Itu kenapa?”
“Dimas.”
“Nggak apa-apa,” kata pria itu.
Dia menyentuh sisi penyangga hitam tersebut.
“Kecelakaan kerja.”
“Masih sakit?”
“Kalau terlalu lama berdiri, iya.”
Dimas menatapku.
Aku langsung tahu apa yang akan dia minta.
Kami tinggal di apartemen dua kamar yang ukurannya bahkan tidak cukup luas untuk menaruh meja makan tanpa menghalangi jalan menuju dapur.
Sofa di ruang tengah sudah tua dan turun di bagian tengah.
Pintu depan harus didorong dengan bahu sebelum gerendelnya bisa terpasang.
Keran dapur menetes siang malam.
Aku sudah berkali-kali menghubungi pemilik unit, tetapi jawabannya selalu sama.
“Nanti saya kirim orang.”
Orang itu tidak pernah datang.
Dan sekarang aku sedang mempertimbangkan membawa orang yang sama sekali tidak kukenal ke tempat di mana anakku tidur.
Semua peringatan yang pernah kudengar melintas di kepala.
Jangan membawa orang asing pulang.
Jangan memberikan alamat rumah.
Jangan berpikir niat baik membuat seseorang otomatis aman.
Aku tahu semuanya.
Tetapi mulutku tetap mengucapkan kalimat yang bahkan membuat pria itu terlihat terkejut.
“Kalau mau, Bapak bisa tidur di sofa kami malam ini.”
Dia menatapku cukup lama.
“Maaf?”
“Satu malam saja.”
Aku sengaja menekankan kalimat berikutnya.
“Bapak bisa mandi air hangat, makan, tidur di sofa, lalu besok pagi harus pergi. Aku berangkat kerja sangat pagi.”
Pria itu tidak langsung menjawab.
“Bu, Anda tidak kenal saya.”
“Benar.”
“Ini risiko besar.”
“Aku juga tahu itu.”
Dia melihat Dimas, lalu kembali memandangku.
“Nama saya Arman.”
“Aku Rina.”
Aku menyentuh bahu anakku.
“Ini Dimas.”
Arman mencoba berdiri. Tangan kirinya menekan dinding karena lututnya jelas tidak kuat menerima beban penuh.
Setelah berhasil tegak, dia meraih tasnya.
“Terima kasih.”
Aku mengangguk.
“Jangan buat aku menyesal.”
“Saya tidak akan.”
Sepanjang perjalanan pulang, mungkin belasan kali aku bertanya dalam hati apakah aku baru melakukan kesalahan paling bodoh dalam hidupku.
Arman duduk di belakang bersama tasnya.
Dia tidak bertanya aku bekerja di mana.
Tidak bertanya apakah aku tinggal sendiri.
Tidak bertanya tentang ayah Dimas.
Tidak mengeluh saat mobil tuaku membutuhkan tiga kali percobaan sebelum mesin kembali menyala setelah kami berhenti di lampu merah.
Sesampainya di gedung apartemen, dia malah mengambil salah satu kantong belanja yang lebih berat.
“Nggak usah,” kataku.
“Saya masih punya dua tangan.”
“Kakimu cedera.”
“Makanya saya bawa pakai tangan.”
Dimas tertawa kecil.
Aku tidak.
Tetapi setidaknya ketegangan di bahuku berkurang sedikit.
Di apartemen aku mengambil kaus lengan panjang dan celana olahraga lama milik mantanku yang belum sempat kubuang.
Arman mandi dengan cepat.
Saat keluar, rambutnya masih basah dan wajahnya terlihat jauh lebih muda daripada saat duduk di depan supermarket.
Kami makan mi goreng dengan telur dan sayuran karena itu yang paling cepat kubuat.
Dimas hampir tidak berhenti bicara.
Dia bercerita tentang kelas empat, tugas membuat miniatur gunung berapi, pertandingan futsal antarkelas, dan temannya yang mengaku bisa bersendawa mengikuti nada lagu kebangsaan.
Arman mendengarkan semuanya.
Bukan sekadar mengangguk sambil menunggu Dimas diam.
Dia bertanya warna apa yang akan dipakai untuk miniatur gunung.
Dia menanyakan posisi Dimas di tim futsal.
Ketika Dimas menjelaskan panjang lebar mengapa kiper kelas sebelah curang, Arman mendengarkan dengan wajah serius seolah perkara itu sedang dibahas dalam rapat penting.
Selesai makan, terdengar bunyi tetesan keran.
Tik.
Tik.
Tik.
Arman menoleh ke dapur.
“Karet kerannya mungkin sudah aus.”
Aku mengangkat bahu.
“Pemilik unitku mungkin lebih aus lagi.”
Dia tersenyum.
Saat aku mengantar Dimas ke kamar, aku harus mendorong pintu depan dulu dengan bahu karena angin membuat kayunya sedikit berubah posisi.
Arman memperhatikan.
“Kusennya sudah bergeser.”
“Sudah begitu sejak beberapa bulan lalu.”
“Pengelola tahu?”
“Sudah berkali-kali kubilang.”
“Tidak diperbaiki?”
“Aku berhenti berharap.”
Arman tidak mengatakan apa-apa lagi.
Sebelum tidur, aku mengambil dompet, tas kerja, dan map yang berisi dokumen penting dari ruang tengah.
Semuanya kubawa masuk ke kamarku.
Aku kemudian mengunci pintu.
Ada sedikit rasa tidak enak saat melakukan itu.
Namun aku mengingatkan diriku bahwa membantu seseorang bukan berarti harus meninggalkan akal sehat di luar pintu.
Sebelumnya aku sudah menjelaskan kepada Arman bahwa aku keluar sebelum pukul enam pagi.
“Kalau bangun, Bapak boleh langsung pergi,” kataku.
“Saya pasti sudah keluar sebelum Ibu pulang.”
“Ada telur kalau mau sarapan.”
Dia terlihat terkejut.
“Ibu sudah melakukan terlalu banyak.”
“Yang penting jangan sentuh sereal cokelat Dimas. Bisa panjang urusannya.”
Dari kamar terdengar suara anakku.
“Aku dengar, Bu!”
Untuk pertama kalinya malam itu, Arman tertawa benar-benar lepas.
Pukul lima lewat sedikit keesokan paginya, alarm membangunkanku.
Aku mandi, berpakaian, menyiapkan sarapan sederhana untuk Dimas, lalu mengetuk pintu tetangga yang biasa membantu mengantarnya ke sekolah sebelum aku berangkat kerja.
Arman masih tertidur di sofa.
Tasnya berada di lantai tepat di sampingnya.
Aku berdiri beberapa detik memperhatikannya.
Lalu aku pergi.
Sepanjang hari, pikiranku berkali-kali kembali ke apartemen.
Pukul sembilan aku bertanya-tanya apakah dia sudah pergi.
Menjelang siang, aku mulai memikirkan kembali keputusan mengunci kamar dan berharap tidak ada barang penting lain yang tertinggal di luar.
Pukul tiga sore, aku hampir mengirim pesan kepada tetanggaku untuk melihat apakah masih ada orang di unitku.
Aku tidak jadi melakukannya.
Aku bahkan kesal pada diriku sendiri.
Kalau memang sejak awal tidak bisa percaya, kenapa aku membawanya pulang?
Namun pertanyaan itu punya jawaban sederhana.
Karena Dimas melihat seseorang yang kedinginan.
Dan aku tidak sanggup mengajarinya bahwa satu-satunya cara aman menjalani hidup adalah selalu memalingkan wajah.
Ketika sifku selesai, tubuhku terasa benar-benar habis.
Aku menjemput Dimas dari kegiatan belajar sore di sekolah.
Begitu masuk mobil, dia langsung bertanya, “Menurut Ibu, Om Arman masih ada?”
“Mudah-mudahan tidak.”
Wajahnya berubah.
“Ibu jahat.”
“Bukan begitu. Kita sepakat satu malam.”
“Tapi dia belum punya rumah.”
“Itu bukan berarti dia boleh tinggal di rumah kita tanpa batas.”
Dimas diam.
Aku menyalakan mobil.
Saat lift terbuka di lantai kami, aku langsung menyadari sesuatu.
Lorong biasanya hanya berbau cat lama, debu, dan sesekali masakan dari unit tetangga.
Sore itu ada aroma lain.
Ragi.
Dan roti hangat.
Aku mengira salah satu penghuni sedang memanggang sesuatu.
Dimas berjalan di belakangku saat aku mengeluarkan kunci.
Aku memasukkannya ke lubang kunci.
Lalu aku membeku.
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
Pintunya terbuka hanya dengan satu dorongan ringan.
Aku menatapnya beberapa detik, lalu mencoba menutup dan membukanya lagi.
Tidak macet.
Tidak perlu bahu.
Gerendelnya masuk dengan mulus.
“Bu?” Dimas bertanya.
Dari dalam terdengar suara benda logam diletakkan di lantai.
Aku langsung menarik Dimas ke belakang tubuhku.
“Arman?”
Dia muncul dari dapur.
Masih memakai kaus lama yang kupinjamkan, celana olahraganya sudah diganti dengan celana miliknya sendiri. Penyangga hitam masih melingkari lututnya.
Tangannya kotor oleh debu.
“Aduh,” katanya pelan.
Wajahku pasti mengatakan semuanya.
“Bapak masih di sini.”
“Iya.”
“Kita sepakat Bapak pergi pagi.”
“Saya tahu.”
Aku masuk dan melihat ruang tengah.
Sofa bergeser sekitar setengah meter. Kotak perkakas kecil terbuka di lantai. Sebuah kain bekas terhampar dekat pintu.
Keran dapur tidak berbunyi lagi.
Pintu lemari bawah yang selama berbulan-bulan menggantung miring sekarang terpasang lurus.
Bahkan gagang jendela ruang tengah yang selalu longgar sudah dikencangkan.
“Apa yang Bapak lakukan?”
Nada suaraku membuat Dimas diam.
Arman berdiri tanpa mencoba mendekat.
“Saya bangun hampir jam delapan. Lutut saya bengkak, jadi saya duduk sebentar. Waktu mau pergi, saya lihat pintunya.”
“Itu bukan alasan untuk membongkar rumah orang.”
“Saya tahu.”
“Kamu tahu, tapi tetap melakukannya.”
Dia menunduk sebentar.
“Itu salah saya.”
Tidak ada pembelaan.
Justru itu membuatku kesulitan mempertahankan kemarahan yang sudah kukumpulkan sejak melihat pintu.
Aku menunjuk kotak perkakas.
“Dari mana itu?”
“Dari tas saya. Saya kerja sebagai tukang interior dan perawatan bangunan sebelum kecelakaan.”
Dimas muncul dari belakangku.
“Jadi Om yang benerin pintunya?”
“Dimas, masuk kamar dulu.”
“Tapi…”
“Sekarang.”
Dia pergi dengan langkah berat.
Aku menunggu sampai pintunya tertutup.
“Arman, aku membiarkanmu tidur di sini. Itu bukan izin untuk tinggal seharian dan mengutak-atik semua barang.”
“Benar.”
“Bagaimana kalau ada yang rusak?”
“Saya bertanggung jawab.”
“Dengan apa?”
Kalimat itu keluar lebih tajam daripada yang kuinginkan.
Matanya turun ke lantai.
Aku langsung menyesal, tetapi tidak menariknya kembali.
“Aku cuma…” Aku mengusap wajah. “Aku pulang dan menemukan orang asing masih di dalam rumahku. Coba pahami posisi itu.”
“Saya paham.”
Dia menunjuk meja.
“Ada struk pembelian di sana. Saya hanya beli dua sekrup panjang, karet keran, dan lem kayu. Pakai uang saya sendiri.”
Aku mengambil kertas kecil itu.
Rp68.500.
“Kenapa?”
Arman memandang pintu.
“Sekrup gerendelnya pendek. Kayu di bagian dalam kusen juga retak. Kalau ada orang menendang pintu itu cukup keras, kemungkinan besar terbuka.”
Aku menoleh.
Tiba-tiba pintu yang selama berbulan-bulan hanya kuanggap menjengkelkan terasa berbeda.
“Sekarang saya pasang sekrup yang lebih panjang ke bagian rangka yang masih kuat. Bukan sempurna, tapi jauh lebih aman.”
“Kenapa tidak cukup tinggalkan catatan?”
Dia tidak segera menjawab.
Akhirnya dia berkata, “Karena tadi malam anak Ibu bertanya apakah lutut saya sakit, lalu dia memberikan selimutnya yang paling tebal. Saya tidak punya cara yang bagus untuk membalas itu.”
Aku menatapnya.
“Dengan melewati batas bukan cara membalas.”
“Saya tahu sekarang.”
Suara dari luar membuat kami menoleh.
Tetanggaku, Bu Ningsih, muncul sambil membawa loyang kecil berisi roti.
“Rina, kamu sudah pulang?”
Dia melihat wajahku lalu berhenti.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa, Bu.”
Bu Ningsih memandang Arman.
“Mas Arman tadi membantu memperbaiki engsel lemari dapur saya. Saya paksa dia terima roti, tapi katanya harus menunggu kalian pulang dulu.”
Jadi itu asal bau di lorong.
Setelah Bu Ningsih kembali ke unitnya, aku menaruh struk di meja.
“Aku tidak akan mengusirmu sambil pura-pura tidak peduli kamu pergi ke mana,” kataku. “Tapi kamu tidak bisa menginap lagi malam ini.”
Arman mengangguk.
“Saya mengerti.”
“Ada rumah singgah lain?”
“Saya dapat alamat satu tempat dari petugas minimarket tadi siang. Saya mau mencoba ke sana.”
Aku memandang lututnya.
“Bisa jalan sampai jalan utama?”
“Pelan-pelan.”
Aku mengambil ponsel.
“Aku pesan ojek mobil.”
“Nggak perlu.”
“Aku bukan minta izin.”
Untuk pertama kalinya dia terlihat hampir tersenyum.
Lalu aku melihat sesuatu di meja yang sebelumnya tertutup loyang roti.
Sebuah kertas dilipat dua.
Di atasnya ada daftar tulisan tangan.
Keran dapur.
Kusen pintu.
Engsel lemari.
Gagang jendela.
Di bagian paling bawah Arman menulis satu kalimat yang membuatku kembali melihat pintu depan.
Jangan abaikan retakan di sisi bawah kusen. Saya hanya memperkuat sementara. Bagian kayunya mulai lapuk karena rembesan dari dinding.
Di sebelah kalimat itu ada foto dari ponselnya, memperlihatkan bagian kayu yang selama ini tidak pernah kulihat.
Warnanya sudah gelap dan rapuh.
Aku menyentuh sisi kusen.
“Ini bisa jadi lebih parah?”
Arman mengangguk.
“Kalau terus kena air, iya.”
Aku teringat bagaimana pemilik unit selalu mengatakan masalah pintu cuma karena bangunan tua.
Untuk pertama kalinya aku mulai berpikir masalah di rumah kami bukan sekadar ketidaknyamanan.
Sebagian sudah menyangkut keamanan.
Dan selama ini, aku terlalu sibuk bertahan dari satu tagihan ke tagihan berikutnya sampai menerima semuanya sebagai sesuatu yang harus ditoleransi.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Arman pergi malam itu.
Aku memesankan mobil ke sebuah rumah singgah yang alamatnya dia dapat dari petugas supermarket. Sebelum masuk kendaraan, dia mencoba mengembalikan pakaian yang kupinjamkan.
“Pakai dulu,” kataku.
“Nanti saya kembalikan.”
“Tidak usah buru-buru.”
Dimas berdiri di sampingku dengan tangan masuk ke saku celana.
“Om Arman bakal balik?”
Aku menatapnya.
“Bukan malam ini.”
Arman berjongkok sebisanya di depan Dimas.
“Terima kasih selimutnya, Bos.”
Dimas cemberut.
“Om jangan tidur di luar lagi.”
“Saya usahakan.”
Aku memperhatikan pilihan katanya.
Bukan janji.
Mungkin karena dia tahu ada hal yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.
Setelah kendaraan itu pergi, Dimas dan aku masuk.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, suara tetesan dari dapur hilang.
Rumah terasa aneh karena sunyi.
Aku memeriksa pintu beberapa kali.
Gerendelnya memang jauh lebih kokoh.
Di bagian bawah kusen terlihat bekas kayu lembap yang sebelumnya tertutup lapisan cat.
Aku mengambil foto dari berbagai sudut.
Lalu aku membuka percakapan dengan pemilik unit.
Pesanku selama beberapa bulan terakhir masih ada.
Keran bocor.
Pintu macet.
Kusen bergeser.
Jendela longgar.
Beberapa dibalas dengan, “Nanti dicek.”
Sebagian cuma dibaca.
Selama ini aku selalu menyerah setelah dua atau tiga pesan.
Malam itu aku tidak melakukannya.
Aku mengirim foto kusen yang lapuk dan menulis bahwa pintu sudah diperkuat sementara, tetapi rembesan di dinding harus diperiksa karena berhubungan dengan keamanan.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada kalimat panjang.
Aku hanya meminta jadwal jelas.
Lima belas menit kemudian, pemilik unit membalas.
“Siapa yang bongkar pintunya?”
Aku membaca pesan itu dua kali.
Bukan, “Seberapa parah kerusakannya?”
Bukan, “Apakah kalian aman?”
Pertanyaan pertamanya justru siapa yang memperbaiki.
Aku menjawab bahwa pengencangan sementara dilakukan oleh seseorang yang berpengalaman di bidang perawatan bangunan karena pintu sudah tidak aman.
Dia membalas bahwa penyewa tidak boleh mengubah bagian unit tanpa izin.
Aku hampir tertawa.
Sebaliknya aku mengambil foto lama dari bulan sebelumnya yang kebetulan menunjukkan pintu miring, lalu mengirimkannya bersama tangkapan layar laporan-laporanku terdahulu.
“Aku tidak meminta perubahan desain. Aku sudah melaporkan kerusakan ini berkali-kali. Mohon kirim teknisi untuk memeriksa sumber rembesan dan kusen.”
Setelah itu tidak ada balasan lagi.
Keesokan siangnya, saat aku sedang membantu seorang penghuni panti werdha makan, ponselku bergetar.
Pemilik unit memberi kabar bahwa petugas perawatan gedung akan datang Sabtu pagi.
Aku membaca pesan itu dengan perasaan aneh.
Selama berbulan-bulan aku menerima ketidakpedulian mereka karena merasa tidak punya tenaga untuk terus memperjuangkan hal kecil.
Ternyata yang kuanggap kecil tidak selalu kecil.
Sabtu pagi, seorang teknisi gedung datang.
Dia memeriksa dinding dekat pintu, mengetuk beberapa bagian kusen, lalu meminta izin membuka sedikit panel penutup.
“Ini rembesannya dari pipa drainase di dinding luar,” katanya. “Kayunya sudah kena cukup lama.”
“Berbahaya?”
“Belum sampai mau ambruk. Tapi kusen harus diganti. Kalau dibiarkan, kunci pintu makin tidak kuat.”
Aku menahan diri agar tidak mengatakan sudah kuduga.
Aku memang tidak menduga.
Arman yang menduga.
Teknisi itu juga melihat penguatan sementara.
“Yang pasang ini ngerti kerjaan.”
Aku tidak menjawab.
Perbaikan resmi dijadwalkan minggu berikutnya.
Saat semuanya selesai diperiksa, Dimas bertanya, “Kita bisa telepon Om Arman?”
Aku tidak punya nomor telepon aktif yang bisa dihubungi.
Sebelum pergi, Arman memang memberikan nomor lama dan mengatakan kartunya kadang aktif kalau ada pulsa.
Aku mencoba.
Tidak tersambung.
Dimas mencoba keesokan harinya.
Masih tidak bisa.
Aku mulai berpikir mungkin hubungan kami dengan Arman memang hanya akan berlangsung satu malam.
Aneh rasanya.
Seseorang bisa masuk ke hidup kita kurang dari dua puluh empat jam, memperbaiki keran, membuat kita marah, lalu meninggalkan sesuatu yang mengubah cara kita memandang rumah sendiri.
Empat hari kemudian, Bu Ningsih mengetuk pintu.
“Rina, ada orang mencarimu di bawah.”
Jantungku langsung melonjak.
“Siapa?”
“Mas yang lututnya pakai penyangga.”
Dimas yang sedang mengerjakan tugas langsung berlari mengambil sandal.
“Om Arman!”
Aku menahannya.
“Pelan.”
Kami turun bersama.
Arman menunggu di lobi.
Dia sudah mengganti pakaian pinjaman dengan pakaian miliknya sendiri. Kaus yang kupinjamkan terlipat rapi di dalam kantong plastik.
Wajahnya lebih segar.
“Kamu dapat tempat?”
“Iya. Rumah singgah itu terima saya untuk sementara. Maksimal dua minggu, tapi cukup.”
Aku baru sadar aku menahan napas.
Dia mengulurkan kantong.
“Ini pakaian Ibu.”
“Bisa disimpan dulu.”
“Saya sudah dapat baju dari donasi.”
Dimas berjalan mengitari Arman seolah sedang memeriksa apakah semua bagian tubuhnya masih lengkap.
“Lutut Om gimana?”
“Masih ada.”
“Bukan itu maksudku.”
Arman tersenyum.
“Lebih baik.”
Aku mengajak dia naik sebentar.
Kali ini berbeda.
Dia datang karena kami tahu dia datang.
Aku membukakan pintu.
Dia masuk setelah kuizinkan.
Batas kecil itu terasa penting.
Begitu melihat kusen yang sudah dibongkar sebagian untuk persiapan penggantian, Arman langsung memeriksanya dari jarak aman.
“Bagus. Akhirnya ditangani.”
“Teknisi bilang rembesan harus diperbaiki.”
Arman mengangguk.
Kami duduk di meja dapur.
Aku menyeduh teh.
“Kamu kerja apa sebelum kecelakaan?”
“Macam-macam. Awalnya mebel. Lalu interior ruko dan apartemen. Beberapa tahun terakhir lebih banyak perawatan bangunan.”
“Kecelakaannya?”
Dia diam sebentar.
“Jatuh dari tangga waktu memasang plafon di proyek renovasi. Bukan jatuh tinggi sekali, tapi posisi lututnya salah saat mendarat.”
“Proyek menanggung biaya?”
“Sebagian.”
“Lalu?”
“Proyek selesai sebelum saya pulih.”
Dia mengusap sisi gelas.
“Kerja harian. Kalau tidak masuk, tidak dibayar. Tabungan habis buat kontrakan, makan, terapi, dan beberapa biaya yang tidak tertutup. Setelah menunggak, saya keluar sebelum pemilik kontrakan mengusir.”
Tidak ada kisah keluarga kaya yang meninggalkannya.
Tidak ada warisan yang dicuri.
Tidak ada perusahaan besar yang sengaja menghancurkannya.
Hanya satu kecelakaan, penghasilan yang berhenti, tabungan yang terlalu tipis, lalu serangkaian masalah kecil yang datang lebih cepat daripada kemampuan seseorang membayar.
Aku memahami itu lebih baik daripada yang ingin kuakui.
Satu tagihan besar saja mungkin cukup membuat hidupku sendiri bergerak ke arah yang sama.
“Sudah cari pekerjaan lagi?”
“Sudah. Masalahnya kalau lihat penyangga begini, orang langsung pikir saya tidak bisa kerja.”
“Memang sekarang kamu bisa kerja apa?”
“Yang tidak perlu naik tangga tinggi. Perbaikan ringan, engsel, kunci, rak, finishing kayu, begitu masih bisa. Dokter bilang saya juga harus mengurangi jongkok lama.”
Aku mengangguk.
Tidak menawarkan pekerjaan.
Aku tidak punya pekerjaan untuk diberikan.
Tidak menjanjikan akan menyelesaikan masalahnya.
Namun malam itu aku teringat sesuatu.
Beberapa penghuni apartemen sering mengeluhkan perbaikan kecil yang tidak pernah mendapat respons cepat.
Keesokan hari, aku berbicara dengan Bu Ningsih.
“Jangan langsung sebar nomor Arman,” kataku. “Aku mau tanya dia dulu apakah dia memang mau menerima pekerjaan kecil.”
Bu Ningsih mengangguk.
“Bagus begitu.”
Saat Arman datang dua hari kemudian untuk melihat Dimas menunjukkan miniatur gunung berapinya, aku menanyakan hal itu.
“Kalau ada orang di gedung yang mau bayar untuk perbaikan kecil, kamu mau?”
“Kalau saya bisa mengerjakannya, tentu.”
“Tarifnya kamu tentukan sendiri.”
Dia tertawa.
“Kenapa bagian itu ditekankan?”
“Karena aku tidak mau kamu memperbaiki lemari satu lantai cuma dibayar roti.”
Dari dapur Bu Ningsih yang kebetulan sedang berkunjung terdengar protes.
“Rotiku mahal, lho.”
Arman benar-benar tertawa kali itu.
Dalam seminggu berikutnya dia mendapat tiga pekerjaan kecil.
Satu engsel lemari.
Satu laci dapur.
Satu rak dinding yang hampir lepas.
Tidak ada yang mengubah hidupnya dalam semalam.
Jumlah uangnya bahkan belum cukup untuk menyewa kamar satu bulan penuh.
Tetapi dia mulai memiliki sesuatu yang beberapa minggu sebelumnya tidak dia punya.
Orang yang bisa berkata, “Dia memperbaiki barang di rumah saya, hasilnya baik.”
Arman menulis setiap pengeluaran di buku kecil.
Ketika Bu Ningsih mencoba membayar lebih karena kasihan, dia menolak.
“Kalau memang pekerjaannya segitu, bayar segitu, Bu.”
Beberapa penghuni kemudian meminta nomornya.
Aku memperhatikan dari jauh.
Bukan karena aku mengawasinya.
Aku masih berhati-hati.
Suatu malam Dimas bertanya, “Ibu masih takut sama Om Arman?”
Aku berhenti melipat pakaian.
“Waktu pertama kita ajak pulang, iya.”
“Sekarang?”
“Aku tetap hati-hati.”
“Itu beda?”
“Beda.”
Dia menunggu penjelasan.
Aku berpikir sebentar.
“Baik sama orang bukan berarti kita harus percaya semuanya langsung. Dan hati-hati sama orang juga bukan berarti kita harus jadi jahat.”
Dimas mengangguk seolah memahami.
Lalu dia berkata, “Berarti waktu Om Arman benerin rumah tanpa izin, Om salah?”
“Iya.”
“Walaupun hasilnya bagus?”
“Iya.”
“Terus Ibu tetap bantu?”
“Iya.”
Dia menatapku lama.
“Orang dewasa ribet.”
“Betul.”
Hampir satu bulan setelah malam di supermarket, sesuatu terjadi yang bahkan tidak kurencanakan.
Petugas perawatan gedung datang mengganti kusen pintu.
Namanya Pak Hendra.
Dia bekerja untuk perusahaan pengelola yang menangani beberapa gedung apartemen di Bandung.
Saat sedang memasang bagian baru, dia melihat bekas penguatan yang dilakukan Arman.
“Yang pasang sebelumnya siapa?”
“Teman.”
“Kerjanya rapi.”
Aku hampir mengatakan, “Dia sedang mencari kerja.”
Tetapi aku berhenti.
Aku tidak mau menjadikan Arman proyek pribadi.
Jadi aku hanya berkata, “Namanya Arman. Dulu kerja perawatan bangunan.”
Pak Hendra mengangguk.
“Kalau dia punya pengalaman, suruh saja kirim riwayat kerja. Tim saya kadang perlu orang untuk pekerjaan harian.”
Aku meminta nomor kantor, bukan nomor pribadi.
Malamnya kuberikan kepada Arman.
“Ini bukan pekerjaan,” kataku. “Cuma kontak.”
Dia membaca nama perusahaan pada kartu.
“Dari mana?”
“Petugas yang memperbaiki kusen.”
“Dia tahu soal saya?”
“Aku bilang kamu pernah kerja di perawatan bangunan. Cuma itu.”
Arman memasukkan kartu tersebut ke dompet.
“Terima kasih.”
“Hubungi sendiri. Setelah itu bukan urusanku.”
Dia tersenyum kecil.
“Baik, Bu Bos.”
“Jangan mulai.”
Tiga hari kemudian dia memberi kabar bahwa sudah menyerahkan riwayat kerjanya.
Seminggu setelah itu, dia dipanggil untuk pekerjaan dua hari mengganti kunci dan memperbaiki beberapa pintu kabinet di gedung lain.
Kemudian empat hari lagi.
Lalu tidak ada pekerjaan hampir seminggu.
Dia tetap tinggal di rumah singgah sampai masa tinggalnya habis, kemudian menyewa tempat tidur di kamar bersama dekat terminal.
Bukan tempat bagus.
Tetapi atapnya tidak bocor dan pintunya bisa dikunci.
Kondisi lututnya juga belum pulih.
Ada hari-hari ketika dia harus menolak pekerjaan karena nyeri.
Dia masih datang ke fasilitas kesehatan untuk kontrol.
Aku senang melihat dia bergerak maju, tetapi aku juga belajar tidak mengubah kemajuannya menjadi dongeng.
Satu peluang tidak menghapus semua masalah.
Kebaikan tidak membayar semua tagihan.
Kerja keras pun kadang tetap harus menunggu kesempatan.
Sementara itu, kehidupanku sendiri belum tiba-tiba mudah.
Uang sewa tetap terlambat.
Aku mengambil dua sif tambahan bulan berikutnya.
Sepatu Dimas akhirnya kubeli setelah menerima pembayaran lembur, tetapi aku memilih merek biasa yang sedang diskon.
Pemilik unit juga sempat mencoba membebankan sebagian biaya kusen kepadaku dengan alasan ada “perbaikan tidak resmi”.
Kali ini aku tidak diam.
Aku menyimpan semua pesan lama, foto sebelum perbaikan, laporan teknisi tentang rembesan, dan struk sederhana yang ditinggalkan Arman.
Aku mengirim semuanya secara tertulis.
Setelah beberapa hari, tuntutan biaya itu dibatalkan.
Dulu mungkin aku akan memilih membayar cicilan kecil-kecil hanya supaya tidak perlu berdebat.
Sekarang aku belajar sesuatu dari pintu yang tidak pernah mereka perbaiki.
Kalau kita terus menerima masalah supaya tidak dianggap merepotkan, orang lain bisa mulai menganggap diam kita sebagai izin.
Itu bukan berarti aku berubah menjadi orang yang suka bertengkar.
Aku hanya mulai menyimpan bukti dan bertanya dengan jelas.
Beberapa bulan kemudian, keadaan Arman membaik sedikit demi sedikit.
Perusahaan tempat Pak Hendra bekerja belum mengangkatnya sebagai pegawai tetap.
Mereka memberinya pekerjaan harian berdasarkan kebutuhan.
Di luar itu, dia tetap menerima perbaikan kecil.
Dia akhirnya bisa menyewa kamar kos sederhana sendiri.
Kecil.
Kamar mandinya di luar.
Jendelanya menghadap tembok rumah sebelah.
Tetapi kuncinya miliknya sendiri.
Suatu Minggu sore kami berkunjung karena Dimas bersikeras ingin menunjukkan gunung berapi buatannya yang sudah mendapat nilai sembilan puluh.
Arman menaruh miniatur itu di atas meja plastik kecil.
“Ini layak masuk museum.”
“Bu guru bilang catnya berantakan.”
“Seniman besar sering tidak dipahami gurunya.”
Aku memutar mata.
“Jangan ajari anakku begitu.”
Mereka tertawa.
Di perjalanan pulang, Dimas memandang keluar jendela cukup lama.
“Bu?”
“Hm?”
“Kalau malam itu kita nggak ajak Om Arman pulang, apa dia bakal baik-baik aja?”
Aku menggenggam setir.
“Aku tidak tahu.”
“Kalau kita ajak orang lain yang ternyata jahat?”
Aku menoleh sekilas kepadanya.
“Itu juga bisa terjadi.”
Dia terdiam.
Aku tahu jawaban yang mudah mungkin akan terdengar lebih indah.
Kebaikan selalu dibalas kebaikan.
Orang baik pasti aman.
Tolong semua orang dan semuanya akan baik-baik saja.
Tetapi hidup tidak bekerja seperti itu.
“Aku tidak mau kamu berhenti peduli sama orang,” kataku. “Tapi aku juga mau kamu belajar bahwa menolong harus pakai pikiran.”
“Kayak waktu Ibu kunci kamar?”
“Iya.”
“Terus marahin Om Arman karena belum pergi?”
“Iya.”
“Terus bantu dia cari rumah singgah?”
“Iya.”
Dimas tersenyum.
“Ribet lagi.”
“Memang.”
Beberapa hari sesudahnya, aku pulang dari kerja dan menemukan sebuah kantong kecil tergantung di gagang pintu.
Aku langsung melihat ke lorong.
Tidak ada siapa-siapa.
Di dalam kantong itu ada sebungkus karet keran, dua obeng kecil, dan secarik kertas.
Tulisan Arman.
“Untuk berjaga-jaga. Tapi jangan bongkar sendiri kalau tidak tahu caranya.”
Aku tertawa sendirian.
Di bawahnya ada satu kalimat lagi.
“Besok saya mulai kontrak kerja tiga bulan. Belum tetap, tapi lumayan.”
Aku menunjukkan catatan itu kepada Dimas.
Dia melompat.
“Berarti Om Arman punya kerja?”
“Untuk tiga bulan.”
“Terus setelah itu?”
“Belum tahu.”
Dimas terlihat hendak kecewa.
Aku mengetuk dahinya pelan.
“Tidak semua cerita harus punya jawaban untuk lima tahun ke depan.”
Malam itu aku menyimpan dua obeng tersebut di laci dapur.
Beberapa minggu kemudian, Arman datang makan malam.
Bukan sebagai pria asing yang kami temukan menggigil di depan supermarket.
Bukan juga sebagai seseorang yang harus kami selamatkan.
Dia datang sebagai tamu.
Dia mengirim pesan lebih dulu.
Aku menjawab boleh.
Dia mengetuk pintu.
Dimas membukakan.
Arman membawa sebungkus martabak kecil sebagai ganti roti Bu Ningsih yang terus dijadikan bahan lelucon.
Kami makan di meja sempit yang sama seperti malam pertama.
Tidak ada perubahan besar pada apartemen kami.
Sofa masih turun di tengah.
Cat dekat jendela masih kusam.
Kulkas masih berbunyi terlalu keras setiap malam.
Tetapi keran tidak lagi menetes.
Kusen depan sudah baru.
Dan gerendel bisa masuk tanpa aku harus menghantam pintu dengan bahu.
Sebelum pulang, Arman berdiri di ambang pintu.
Dia menatap kunci baru sebentar.
“Jauh lebih bagus.”
“Iya.”
“Waktu itu saya memang salah karena tidak langsung pergi.”
Aku bersandar pada pintu.
“Iya.”
“Saya pikir kalau saya memperbaiki semuanya, Ibu tidak akan marah.”
“Strateginya gagal.”
“Lumayan parah.”
Aku tersenyum.
“Tapi pintunya bagus.”
Dia tertawa.
Kemudian wajahnya kembali serius.
“Saya nggak pernah bilang ini dengan benar. Terima kasih karena malam itu tidak meninggalkan saya di depan supermarket.”
Aku menatapnya.
“Dan terima kasih karena setelahnya kamu mau menghormati batas.”
Dia mengangguk.
Tidak ada pelukan dramatis.
Tidak ada janji kami akan menjadi keluarga.
Arman hanya pamit.
Dimas melambaikan tangan dari ruang tengah.
Aku menunggu sampai Arman masuk lift.
Kemudian aku menutup pintu.
Gerendelnya masuk dengan satu bunyi pendek.
Klik.
Dulu bunyi itu selalu gagal muncul kecuali aku mendorong pintu sekuat tenaga.
Sekarang aku cukup memutarnya sekali.
Aku memeriksa kunci seperti biasa.
Lalu untuk pertama kalinya, aku tidak memeriksanya untuk kedua kali.
Menurutmu, apakah Rina benar memberi Arman kesempatan lagi setelah ia melanggar batas meski niatnya baik?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
