Suamiku Bergaji Empat Kali Lipat, Tapi Menagih Separuh Deterjen. Malam Itu Aku Mulai Memeriksa Semua Rekening Kami…

Avatar penulis
Cerita 01
23 menit baca 209 tayangan
Suamiku Bergaji Empat Kali Lipat, Tapi Menagih Separuh Deterjen. Malam Itu Aku Mulai Memeriksa Semua Rekening Kami…
Indeks

Suamiku Bergaji Empat Kali Lipat, Tapi Menagih Separuh Deterjen. Malam Itu Aku Mulai Memeriksa Semua Rekening Kami

Bagian 1

Permintaan transfer itu terpampang di layar ponselku hampir satu menit sebelum akhirnya kusentuh.

Rp14.500.

Di bawah nominal itu, Arman menulis keterangan singkat.

Deterjen dan perlengkapan laundry. Pengeluaran rumah tangga bersama.

Aku berdiri di depan kamar mandi dengan lengan kaus masih basah sampai siku. Mesin cuci kami mati sejak sore. Airnya tidak mau keluar setelah proses bilas, sehingga hampir satu bak penuh pakaian Arman harus kukeluarkan, kubilas lagi di kamar mandi, lalu kuperas satu per satu.

Kemeja kerjanya tergantung di atas bak mandi.

Suamiku Bergaji Empat Kali Lipat, Tapi Menagih Separuh Deterjen. Malam Itu Aku Mulai Memeriksa Semua Rekening Kami…

Kaos kaki hitamnya berjajar di atas dua handuk.

Celana dalamnya menggantung pada kait belakang pintu.

Tidak ada satu pun pakaian milikku di sana.

Aku menekan tombol Bayar.

Sebelum mengirim, aku mengganti catatan transfernya.

Pelunasan terakhir.

Beberapa detik kemudian terdengar suara Arman dari kamar utama.

“Sudah kamu kirim?”

“Sudah.”

“Bagus. Pengeluaran kecil begitu yang biasanya bikin anggaran bocor kalau tidak dicatat.”

Aku masih berdiri dengan jari telunjuk perih karena deterjen masuk ke sela kuku.

Arman bekerja sebagai manajer pengembangan properti komersial di Bandung. Penghasilannya, termasuk tunjangan tetap, sedikit di atas Rp24 juta sebulan.

Aku bekerja sebagai pendamping guru di sebuah taman kanak-kanak swasta dengan penghasilan sekitar Rp6 juta.

Malam itu Arman baru pulang dari makan malam bersama klien. Dia membawa kantong belanja mengilap dari sebuah toko sepatu di mal dan masih berbau parfum bercampur makanan restoran.

Aku sudah makan semangkuk sereal karena terlalu lelah memasak setelah mencuci pakaiannya dengan tangan.

“Kamu beli sesuatu?” tanyaku.

Arman menoleh pada kantong di dekat lemari.

“Sepatu kerja.”

“Berapa?”

Rahangnya sedikit mengeras.

“Belanja pribadi tidak masuk catatan rumah tangga.”

Dia mengatakannya tanpa meninggikan suara.

Itulah keahlian terbesar Arman.

Dia bisa membuat sesuatu yang menyakitkan terdengar seperti aturan akuntansi.

Aku turun ke ruang makan, membuka aplikasi catatan di ponsel, lalu membuat folder baru.

Kuberi nama:

AUDIT TERAKHIR.

Selama hampir lima tahun, Arman yang mengelola semua spreadsheet rumah tangga kami.

Malam itu aku membuat catatanku sendiri.

Baris pertama sederhana.

Deterjen: Rp14.500.

Baris kedua membutuhkan waktu jauh lebih lama.

Lima tahun sebelumnya, ketika pernikahan kami baru berjalan dua belas hari, Arman duduk di seberang meja makan sambil membuka laptop.

Dia menuangkan dua gelas minuman anggur yang tersisa dari hadiah pernikahan dan berkata bahwa kami perlu membicarakan “fondasi keuangan keluarga modern”.

Aku masih ingat dua kolom besar di spreadsheet itu.

Satu bertuliskan ARMAN.

Satu lagi bertuliskan LARAS.

Sewa rumah.

Listrik.

Air.

Internet.

Belanja dapur.

Asuransi.

Perbaikan.

Kebutuhan rumah.

Semua dibagi tepat dua.

Aku menghitung beberapa kali sebelum menatapnya.

“Kalau semuanya kubayar separuh, hampir tiga perempat gajiku habis untuk kebutuhan rumah.”

Arman tersenyum kecil seperti aku salah memahami soal matematika sederhana.

“Kamu cuma melihat nominalnya.”

“Lalu aku harus melihat apa?”

“Prinsipnya.”

Dia memutar laptop agar layar lebih menghadap kepadaku.

“Kalau pengeluaran dibagi berdasarkan besar penghasilan, artinya keberhasilanku bekerja lebih keras justru dihukum. Lama-lama kamu juga tidak punya dorongan untuk berkembang.”

“Aku bekerja penuh waktu.”

“Aku tahu.”

Tangannya menyentuh punggung tanganku.

“Justru karena aku menghargaimu, aku tidak mau kamu tergantung padaku.”

Pada usia dua puluh lima, kalimat itu terdengar dewasa.

Aku merasa sedang menikahi laki-laki yang menghormati kemandirian perempuan.

Pada usia tiga puluh, kalimat yang sama terdengar seperti pintu yang selama bertahun-tahun dikunci dari luar.

Ayahku meninggal sepuluh bulan sebelum pernikahan kami.

Namanya Budi Santoso.

Hampir tiga puluh tahun dia bekerja memperbaiki sistem pendingin dan ventilasi gedung, mulai dari ruko sampai gudang besar.

Dia bukan orang kaya menurut ukuran Arman.

Ayah punya satu pikap tua yang kadang harus didorong kalau terlalu lama tidak dipakai.

Jam tangannya sama selama lebih dari lima belas tahun.

Bekal makan siangnya hampir selalu sisa makan malam yang dimasukkan ke kotak plastik dengan tutup yang warnanya tidak pernah cocok.

Namun Ayah memiliki rumahnya sendiri.

Sebuah rumah tua bercat kuning pucat di kawasan Bandung timur, dengan teras lebar, pohon mangga di dekat pagar, serta garasi kecil terpisah tempat Ayah menyusun perkakas berdasarkan ukuran.

Setelah Ibu meninggal ketika aku kuliah, rumah itu menjadi tempat kami belajar hidup berdua.

Ayah mengajariku mengganti busi mobil di halaman.

Aku membantu mengecat ulang pagar setiap dua atau tiga tahun.

Kalau musim hujan datang, kami selalu berdebat soal talang mana yang sebenarnya bocor.

Lalu suatu pagi Ayah terkena stroke ketika sedang bersiap berangkat kerja.

Usianya lima puluh sembilan tahun.

Tidak ada percakapan terakhir yang panjang.

Tidak ada kesempatan mempersiapkan apa pun.

Tiga hari setelah pemakaman, aku bahkan masih memasukkan dua piring ke meja makan sebelum sadar hanya satu yang dibutuhkan.

Seorang notaris yang pernah membantu Ayah mengurus dokumen rumah menelepon beberapa kali.

Ada surat dari bank.

Ada map tebal dengan kata-kata seperti sertifikat, ahli waris, deposito, pajak, dan kuasa.

Aku mencoba membacanya.

Dua paragraf saja cukup membuatku membayangkan kursi Ayah yang kosong.

Arman kemudian menawarkan bantuan.

“Kamu tidak perlu mengurus ini sendirian waktu masih berduka,” katanya.

Dia mengumpulkan semua map.

Mengatur surat yang datang.

Membantu membuat akun daring untuk beberapa pembayaran.

Setiap kali ada dokumen yang perlu tanda tangan, dia duduk di sebelahku sambil menempelkan kertas kecil pada bagian yang harus kutandatangani.

Aku mempercayainya.

Bukan karena aku bodoh.

Aku mempercayainya karena dia suamiku dan aku sedang kehilangan satu-satunya orang tua yang kumiliki.

Beberapa bulan kemudian aku pernah bertanya, “Sebenarnya Ayah meninggalkan apa?”

Arman mengembuskan napas panjang.

“Rumahnya masih terikat pengelolaan warisan yang agak rumit. Kamu punya hak tinggal, tapi ada pajak, biaya administrasi, dan pemeliharaan.”

“Berarti rumah itu bukan benar-benar milikku?”

“Tidak sesederhana itu.”

“Kalau uang?”

“Tidak banyak.”

Dia kemudian menjelaskan bahwa Ayah menyiapkan dana kecil untuk keadaan darurat, tetapi penggunaannya sangat terbatas.

Aku langsung merasa bersalah karena bertanya.

Ayah bekerja sejak sebelum aku lahir.

Aku tidak ingin terdengar seperti anak yang baru kehilangan orang tua tetapi sudah menghitung berapa uang yang ditinggalkan.

Setelah bulan madu, Arman dan aku pindah ke rumah kuning itu.

Tidak lama setelahnya, dia mengatakan bahwa untuk tinggal di sana kami tetap harus membayar biaya bulanan Rp6 juta.

Rp3 juta dari Arman.

Rp3 juta dariku.

Aku menatap spreadsheet.

“Kita membayar untuk tinggal di rumah Ayah?”

“Bukan sewa biasa.”

“Lalu uang itu ke mana?”

“Rekening pengelolaan properti.”

“Siapa yang mengelola?”

Arman menatap layar laptopnya.

“Administrator warisan.”

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Malam setelah permintaan Rp14.500 itu, aku tidak tidur.

Bukan karena deterjennya.

Aku mulai dari mutasi rekeningku sendiri.

Selama lima tahun aku selalu mentransfer bagian biaya rumah kepada Arman setiap tanggal dua atau tiga. Dia yang kemudian membayar tagihan karena, katanya, lebih efisien kalau semua keluar dari satu rekening.

Aku membuka transaksi lama.

Rp3 juta untuk rumah.

Rp800.000 belanja bulanan.

Rp475.000 listrik dan air.

Rp225.000 internet.

Angkanya berubah sedikit dari tahun ke tahun, tetapi polanya sama.

Nama penerimanya juga sama.

ARMAN WIJAYA.

Aku menatap layar cukup lama sebelum menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah kupikirkan.

Aku tidak pernah melihat rekening “pengelolaan properti”.

Tidak pernah menerima laporan tahunan.

Tidak pernah mendapat bukti pembayaran administrasi.

Aku hanya mengirim uang kepada Arman.

Pagi berikutnya aku menelepon kantor notaris yang namanya masih kuingat dari map Ayah.

Aku tidak meminta informasi rahasia.

Aku hanya menyebut namaku, nama Ayah, serta alamat rumah, lalu bertanya apakah mereka masih menyimpan salinan dokumen yang pernah kutandatangani.

Petugas administrasi meminta waktu untuk memeriksa arsip dan kemudian menjadwalkanku bertemu notaris dua hari kemudian.

Aku tidak memberi tahu Arman.

Untuk pertama kali selama pernikahan kami, ada urusan keuangan yang tidak langsung kulaporkan kepadanya.

Di kantor notaris, tanganku dingin ketika sebuah map cokelat diletakkan di meja.

Ibu Ratna, notaris yang dulu membantu Ayah, membuka salinan dokumen satu per satu dan menjelaskannya dengan bahasa sederhana.

Rumah itu bukan milik sebuah badan pengelola.

Tidak ada pihak yang menyewakannya kepadaku.

Setelah proses warisan selesai beberapa bulan setelah Ayah meninggal, hak atas rumah telah dicatat atas namaku sebagai ahli waris.

“Ada masalah dengan sertifikatnya?” tanyaku.

“Tidak.”

“Apakah saya hanya punya hak tinggal?”

Ibu Ratna menatapku beberapa detik.

“Tidak. Sepanjang dokumen ini, rumah itu menjadi harta warisan Anda.”

Aku menelan ludah.

“Administrator warisan?”

“Yang Ibu maksud siapa?”

Aku menjelaskan apa yang selama bertahun-tahun dikatakan Arman.

Ibu Ratna menggeleng.

“Waktu itu memang ada proses administrasi warisan. Tapi bukan berarti ada seseorang yang menagih biaya tinggal bulanan kepada Anda.”

Aku hampir tidak mendengar kalimat berikutnya.

Ayah memang meninggalkan dana pemeliharaan.

Bukan “cadangan kecil”.

Ada deposito senilai Rp180 juta yang kemudian dicairkan sesuai dokumen waris dan masuk ke rekening atas namaku setelah proses selesai.

“Apa saya pernah memberi kuasa penuh kepada suami saya?” tanyaku.

Ibu Ratna memeriksa salinan lain.

“Ada surat kuasa terbatas untuk membantu pengurusan beberapa dokumen dan pembayaran administratif saat proses waris. Bukan pengalihan kepemilikan rumah.”

“Apakah surat itu memberi hak mengambil uang dari rekening saya?”

“Tidak berdasarkan salinan ini.”

Aku pulang membawa fotokopi dokumen di dalam tas yang terus kupegang di pangkuan.

Sore itu aku tidak langsung menuduh Arman.

Aku mencari rekening lama yang dulu dibuat setelah Ayah meninggal.

Rekening itu masih ada.

Aku jarang membukanya karena Arman pernah mengatakan dana di dalamnya tidak boleh disentuh kecuali keadaan darurat tertentu.

Saldo pertama yang bisa kutelusuri memang menunjukkan Rp180 juta.

Lalu ada beberapa transfer keluar selama dua tahun pertama.

Sebagian masuk ke rekening deposito baru atas namaku.

Sebagian digunakan untuk pajak dan perbaikan rumah yang bisa kucocokkan dengan kuitansi.

Tidak ada bukti dana itu hilang.

Kebohongan Arman ternyata lebih sederhana.

Dan justru karena sederhana, rasanya lebih buruk.

Dia tidak mencuri deposito Ayah.

Dia membuatku percaya aku harus membayar untuk tinggal di rumahku sendiri.

Selama hampir lima tahun aku telah mentransfer sekitar Rp180 juta hanya untuk pos yang dia sebut “biaya rumah”.

Aku lalu membuka spreadsheet lama yang pernah dia kirim melalui email.

Di sana, setiap bulan, Arman menulis:

Laras: Rp3.000.000.

Arman: Rp3.000.000.

Total ke rekening pengelolaan: Rp6.000.000.

Aku mencari mutasi pembayaran dari rekening bersama.

Tidak ada.

Aku mencari nama perusahaan pengelola.

Tidak ada.

Malam itu aku duduk di ruang makan ketika Arman pulang.

Kantong laptopnya belum sempat diletakkan ketika aku bertanya,

“Nomor rekening administrator warisan itu berapa?”

Langkahnya berhenti.

“Apa?”

“Yang menerima Rp6 juta setiap bulan untuk rumah ini.”

Dia menatapku.

Untuk pertama kalinya, Arman tidak punya jawaban yang sudah siap.

Aku mengeluarkan satu lembar dari map.

“Karena menurut notaris Ayah, tidak pernah ada biaya itu.”

Wajahnya berubah.

Bukan kaget karena baru tahu.

Kaget karena aku sudah tahu.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Arman menarik kursi, tetapi tidak langsung duduk.

“Kenapa kamu pergi ke notaris tanpa bilang aku?”

Pertanyaannya membuatku hampir tertawa.

Bukan karena lucu.

Karena itulah kalimat pertama yang dipilihnya setelah aku menunjukkan bahwa selama bertahun-tahun dia membohongiku tentang rumah peninggalan Ayah.

“Aku menanyakan rekeningnya,” kataku.

“Kita bisa bicara baik-baik.”

“Bagus. Nomor rekeningnya berapa?”

Arman menaruh tas laptop di lantai.

“Laras, situasinya tidak sesederhana yang kamu pikir.”

“Itu kalimat yang sama waktu aku bertanya rumah ini sebenarnya milik siapa.”

Dia duduk perlahan.

Aku mengeluarkan salinan dokumen warisan, sertifikat, dan mutasi rekeningku.

Aku tidak melemparkannya.

Tidak berteriak.

Aku hanya meletakkannya berurutan di meja.

“Rumah ini atas namaku.”

“Aku tahu.”

Jawaban itu membuat telingaku berdenging.

Bukan karena aku belum menduga.

Tetapi mendengar dia mengatakannya membuat lima tahun terakhir terasa berbeda.

“Kamu tahu?”

“Tentu aku tahu. Aku yang membantu pengurusannya.”

“Lalu kenapa kamu bilang aku cuma punya hak tinggal?”

“Aku tidak pernah bilang cuma.”

“Kamu bilang rumah ini terikat pengelolaan warisan yang rumit.”

“Waktu itu memang rumit.”

“Lima tahun lalu.”

Arman mengusap wajah.

“Laras, kamu sedang mengambil kalimat lama dan melepaskannya dari konteks.”

Aku menunjuk spreadsheet.

“Rp3 juta setiap bulan. Ke mana uangku?”

Dia diam.

“Arman.”

“Aku simpan.”

“Di mana?”

“Di rekeningku.”

Aku menatapnya.

Dia segera melanjutkan.

“Bukan seperti yang kamu pikir. Uangnya tidak hilang.”

“Berapa sisanya?”

“Aku harus cek.”

“Berapa?”

“Aku bilang harus cek.”

Itu jawaban yang selama bertahun-tahun kuterima setiap kali sesuatu menyangkut uang yang berada di bawah kendalinya.

Aku membiarkannya.

Kali ini tidak.

“Kalau kamu mencatat Rp3 juta dariku dan Rp3 juta darimu setiap bulan, seharusnya hampir Rp360 juta sudah terkumpul.”

Arman menekan kedua telapak tangannya ke meja.

“Kita tidak sedang membahas rekening tabungan.”

“Lalu apa?”

“Kontribusi terhadap rumah tangga.”

Aku menatapnya lama.

“Rumah tangga yang rumahnya diwariskan kepadaku?”

“Kamu tinggal di sini juga.”

Aku hampir tidak percaya.

“Arman, ini rumahku.”

“Dan aku suamimu.”

“Justru itu.”

Nada suaraku tetap rendah.

“Kalau kamu suamiku, kenapa kamu harus membuat tagihan palsu supaya aku menyerahkan Rp3 juta setiap bulan?”

“Itu bukan tagihan palsu.”

“Siapa administratornya?”

Dia tidak menjawab.

“Siapa?”

“Aku mengelolanya.”

Aku menarik napas.

“Jadi administrator warisan itu kamu?”

“Aku tidak pernah menyebut nama siapa pun.”

“Kamu membiarkanku percaya ada pihak lain.”

“Aku mengelola biaya rumah.”

“Dengan menagihku sewa untuk rumahku sendiri?”

Arman berdiri.

“Jangan pakai kata sewa. Kita sama-sama berkontribusi. Itu prinsip sejak awal pernikahan.”

Aku membuka folder lain di ponsel.

Selama dua hari sebelumnya, aku menghitung bukan hanya pembayaran rumah.

Aku menghitung semua pengeluaran yang membuatku berutang.

Biaya servis kendaraan kami dibagi dua, meskipun mobil yang paling sering masuk bengkel adalah sedan Arman.

Perabot rumah dibagi dua.

Asuransi tertentu dibagi dua.

Ketika atap garasi bocor, aku membayar separuh perbaikannya dari kartu kredit karena tabunganku tidak cukup.

Ketika Ayah masih hidup, rumah itu tidak punya cicilan.

Setelah dia meninggal, aku justru berutang agar bisa mempertahankan apa yang sudah lunas.

“Kartu kreditku sekarang Rp46 juta,” kataku.

Arman mengangkat bahu sedikit.

“Aku sudah berkali-kali bilang kamu harus mengatur pengeluaran.”

“Aku berutang karena membayar bagian yang kamu tetapkan.”

“Kita membuat kesepakatan.”

“Waktu itu aku tidak tahu kamu berbohong soal rumah.”

“Kebohongan apa? Rumah tetap butuh biaya.”

Aku menunjuk dokumen.

“PBB rumah ini tahun lalu bahkan tidak sampai sebesar satu bulan uang yang kamu tagih dariku. Perbaikan besar cuma dua kali dalam lima tahun dan aku juga ikut membayar separuhnya.”

Arman berjalan ke dapur, mengambil air minum, lalu berdiri membelakangiku.

“Aku tidak mau punya pernikahan di mana salah satu orang merasa berhak atas penghasilan pasangannya.”

“Aku tidak pernah minta penghasilanmu.”

“Kamu sekarang mempermasalahkan aku punya uang lebih banyak.”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Aku mempermasalahkan kamu membuat aturan yang menghabiskan hampir seluruh penghasilanku, lalu menyembunyikan fakta yang membuat aturan itu terlihat masuk akal.”

Dia menoleh.

“Kamu setuju.”

Kalimat itu mengenai bagian paling menyakitkan karena ada sedikit kebenaran di dalamnya.

Aku memang setuju.

Aku menekan tombol transfer berkali-kali.

Aku menandatangani spreadsheet awal itu.

Aku membiarkannya mengatur hampir semua hal.

Namun aku menyetujui sesuatu berdasarkan informasi yang dia berikan.

Dan informasi itu tidak benar.

“Aku setuju membagi biaya rumah tangga,” kataku. “Aku tidak setuju membayar biaya fiktif.”

Arman kembali ke meja.

“Kalau aku tidak membuat struktur itu, apa yang akan terjadi? Kamu akan tinggal gratis di rumah warisanmu dan menganggap aku harus membayar semua kebutuhan lain karena penghasilanku lebih tinggi?”

“Aku tidak tahu.”

“Persis.”

Dia menunjukku seperti akhirnya menemukan argumen yang ingin dipakai.

“Kamu tidak tahu. Aku yang memikirkan masa depan kita.”

Aku membuka aplikasi perbankanku.

“Kalau begitu kita hitung masa depan kita sekarang.”

Aku menunjukkan daftar pembayaran.

“Mulai bulan ini aku tidak akan mentransfer Rp3 juta lagi.”

Wajahnya menegang.

“Jangan mengambil keputusan sepihak.”

Aku hampir menjawab bahwa kalimat itu ironis, tetapi kutahan.

“Aku juga akan membayar tagihanku langsung. Listrik, air, internet, kebutuhan dapur. Yang memang dipakai bersama, kita catat. Yang pribadi, masing-masing.”

“Jadi sekarang kamu mau mengubah perjanjian karena marah?”

“Aku mau tahu biaya sebenarnya.”

“Laras.”

“Dan besok aku akan memindahkan gajiku ke rekening baru.”

Arman menatapku.

Selama lima tahun kami memang tidak punya rekening bersama penuh, tetapi dia tahu hampir semua detail keuanganku. Dia tahu PIN lama yang pernah kupakai, tahu tanggal gajian, tahu berapa sisa kartuku, tahu kapan aku menerima tunjangan sekolah.

Aku yang hampir tidak tahu berapa tabungannya.

“Apa maksudmu?”

“Rekening yang cuma bisa kuakses sendiri.”

“Kita suami istri.”

“Benar.”

“Kalau kamu mulai menyembunyikan uang, kita akan punya masalah kepercayaan.”

Kali itu aku benar-benar tertawa pendek.

“Masalahnya sudah ada.”

Malam itu Arman tidur di kamar utama.

Aku tidur di kamar kecil yang dulu digunakan Ayah menyimpan buku dan dokumen.

Paginya, aku pergi kerja seperti biasa.

Aku membantu sebelas anak menempel kertas warna, mengikat tali sepatu, dan menyelesaikan dua pertengkaran tentang siapa yang lebih dulu memakai krayon merah.

Di sela jam istirahat, aku membuka rekening baru di bank yang berbeda.

Gajiku bulan berikutnya kuminta masuk ke sana.

Aku mengganti PIN mobile banking.

Mengganti kata sandi email.

Memindahkan dokumen Ayah ke loker kecil di sekolah selama beberapa hari karena aku belum tahu seperti apa reaksi Arman setelah pertengkaran kami.

Aku tidak merasa berani.

Tanganku berkeringat ketika melakukan semuanya.

Aku bahkan dua kali hampir membatalkan perubahan rekening gaji karena membayangkan ekspresi Arman.

Namun setiap kali rasa bersalah muncul, aku teringat Rp14.500 yang ditagihnya setelah aku mencuci pakaian dalamnya dengan tangan.

Bukan nominalnya.

Yang tidak bisa lagi kulupakan adalah betapa normal semua itu baginya.

Tiga hari berikutnya Arman hampir tidak berbicara kepadaku.

Dia makan di luar.

Pulang lebih malam.

Kalau kami berpapasan di dapur, jawabannya pendek.

Aku tidak mengejarnya.

Hari keempat, sebuah file PDF masuk ke emailku.

Judulnya:

REKAP KONTRIBUSI LARAS.

Arman membuat tabel seluruh pembayaran yang pernah kukirim kepadanya.

Jumlah pada bagian “rumah” sedikit di atas Rp170 juta karena beberapa bulan di awal nominalnya belum Rp3 juta.

Pada bagian akhir, dia menulis:

Dana digunakan untuk stabilitas keuangan keluarga, kebutuhan tidak terduga, serta tabungan jangka panjang.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Kemudian aku membalas satu pertanyaan.

Saldo dana tersebut sekarang berapa?

Dua jam tidak ada jawaban.

Malamnya Arman pulang dan berkata kami tidak bisa “berkomunikasi seperti auditor dan klien”.

“Kalau kamu tidak ingin aku bertanya seperti auditor,” kataku, “jawab seperti suami.”

Dia akhirnya membuka laptop.

Saldo rekening tabungan pribadinya sekitar Rp420 juta.

Ada juga investasi reksa dana dan deposito yang jumlahnya membuatku harus menghitung ulang.

Aku tidak mengatakan apa pun tentang uang itu.

Arman berhak memiliki tabungan dari penghasilannya.

Yang kutanyakan hanya satu.

“Mana uang yang berasal dariku?”

Dia membuka beberapa mutasi.

Tidak ada rekening terpisah.

Tidak ada catatan yang memisahkan mana gajinya dan mana transfer dariku.

Semuanya bercampur.

Sebagian menjadi tabungan.

Sebagian masuk investasi.

Sebagian digunakan sebagai uang muka sebuah unit apartemen kecil yang dibeli Arman dua tahun sebelumnya sebagai investasi.

Aku tahu apartemen itu ada.

Yang tidak kuketahui adalah bahwa sebagian uang yang kukira masuk “pengelolaan rumah Ayah” ternyata membantu menambah modal untuk aset atas nama Arman.

“Berapa?” tanyaku.

Arman menutup laptop sedikit.

“Tidak bisa dihitung sesederhana itu.”

“Berapa uang muka apartemen?”

“Rp120 juta.”

“Dari rekening ini?”

“Iya.”

“Rekening yang menerima transferku?”

“Rekening itu juga berisi gajiku.”

“Jadi jawabannya iya.”

Dia menghela napas keras.

“Laras, apartemen itu investasi untuk masa depan.”

“Atas nama siapa?”

Dia tidak menjawab.

Aku sudah tahu.

“Atas namamu?”

“Aku yang memenuhi syarat kredit.”

“Dan cicilannya?”

“Aku bayar sendiri.”

“Dengan penghasilanmu.”

“Iya.”

Aku mengangguk.

Untuk pertama kali, susunan masalahnya terlihat sangat jelas.

Aturan 50/50 tidak pernah membuat kami sama.

Aturan itu memastikan aku menghabiskan hampir semua pendapatanku untuk kehidupan bersama, sementara Arman mempertahankan ruang sebesar mungkin untuk membangun aset atas namanya sendiri.

Ketika uangku habis, kekurangannya menjadi utangku.

Ketika uangnya tersisa, kelebihannya menjadi investasinya.

Dia menyebut keduanya sebagai kemandirian.

“Aku mau uang rumah itu dihitung,” kataku.

Arman menyandarkan tubuh.

“Tidak mungkin kamu meminta semua kembali. Kamu juga tinggal di sini selama lima tahun.”

Aku menatapnya.

“Di rumah yang diwariskan Ayah kepadaku.”

“Kamu tetap menikmati pengelolaan yang kuberikan.”

“Pengelolaan apa?”

“Perawatan, pencatatan, tagihan.”

“Aku ikut membayar semua perbaikan.”

“Kamu tidak mengerti berapa banyak waktu yang kuhabiskan mengatur semuanya.”

“Mungkin.”

Aku menutup map.

“Karena selama lima tahun kamu memastikan aku tidak melihatnya.”

Besoknya aku berkonsultasi dengan seorang advokat keluarga bernama Bu Maya.

Aku tidak datang untuk meminta dia “menghancurkan” Arman.

Aku hanya ingin tahu posisiku.

Aku membawa dokumen rumah, catatan transfer, laporan kartu kredit, dan spreadsheet.

Bu Maya membaca semuanya cukup lama.

Dia berhati-hati soal hal yang belum bisa dipastikan.

Dia tidak menjanjikan aku akan mendapat angka tertentu.

Dia juga menjelaskan bahwa pembagian aset perkawinan dan pengembalian uang bisa bergantung pada asal dana, bentuk kepemilikan, dokumen, serta kesepakatan yang bisa dibuktikan.

Namun satu hal bisa kulakukan sekarang.

Aku bisa berhenti menyerahkan kendali keuangan kepada Arman.

Aku juga tidak perlu menandatangani dokumen baru yang tidak kupahami.

Dan kalau aku memilih berpisah, kami bisa memulai pembicaraan formal tentang dana yang berasal dariku tanpa mengubahnya menjadi perang keluarga.

Aku pulang membawa satu lembar catatan.

Bukan surat cerai.

Belum.

Selama dua minggu berikutnya, aku melihat apakah Arman akan melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.

Mengakui bahwa dia salah.

Bukan sekadar mengatakan bahwa aku salah memahami.

Bukan menjelaskan bahwa semua dilakukan demi masa depan.

Bukan mengingatkanku bahwa dia berpenghasilan lebih besar.

Aku menunggu apakah dia mampu mengucapkan kalimat sederhana bahwa dia sengaja membuatku percaya pada biaya yang sebenarnya tidak ada.

Tidak pernah datang.

Sebaliknya, dia mengusulkan sistem baru.

“Aku bisa kurangi bagianmu menjadi empat puluh persen,” katanya suatu malam.

Aku sedang mencuci gelas.

“Empat puluh persen dari apa?”

“Pengeluaran.”

“Biaya rumah fiktif masih ada?”

Dia terdiam.

“Tidak perlu menyebutnya begitu.”

Aku meletakkan gelas.

“Berarti kamu masih tidak paham.”

“Aku sedang mencoba kompromi.”

“Kamu sedang memberi diskon pada sesuatu yang seharusnya tidak pernah kamu tagihkan.”

Wajah Arman mengeras.

“Apa yang kamu mau dariku?”

Pertanyaan itu akhirnya membuatku berhenti.

Selama berminggu-minggu aku sibuk menghitung angka.

Rp14.500.

Rp3 juta.

Rp170 juta.

Rp46 juta utang.

Rp120 juta uang muka apartemen.

Namun yang sebenarnya ingin kuketahui tidak ada di spreadsheet.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang rumah itu sudah resmi milikku?”

Arman terdiam lebih lama kali ini.

Kemudian dia menarik kursi.

“Karena semuanya akan berubah.”

“Apa?”

“Cara kamu melihat uang.”

Aku menunggu.

Dia mengusap kedua tangan.

“Kalau kamu tahu kamu punya rumah tanpa cicilan dan dana peninggalan dari ayahmu, kamu akan merasa lebih aman.”

“Apa salahnya?”

“Kamu mungkin tidak akan terlalu disiplin.”

Aku menatapnya.

Dia melanjutkan seolah kalimat berikutnya masuk akal.

“Kita waktu itu baru menikah. Penghasilanmu kecil. Kamu sedang berduka. Aku ingin kita membangun kebiasaan yang benar sejak awal.”

“Dengan membohongiku?”

“Aku menyederhanakan situasinya.”

“Kamu bilang aku harus membayar untuk tinggal di rumahku.”

“Aku ingin kamu tetap punya tanggung jawab.”

Aku tidak menangis.

Entah mengapa, justru di situlah rasa sedihku berubah bentuk.

Selama ini aku mengira Arman mungkin rakus.

Ternyata ada sesuatu yang lebih dalam.

Dia benar-benar merasa berhak mengatur seberapa aman aku boleh merasa.

Kalau aku punya rumah tanpa cicilan, menurutnya aku mungkin kurang terdorong.

Kalau tabunganku tipis, mungkin aku akan bekerja lebih keras.

Kalau hampir seluruh gajiku habis, mungkin aku akan tetap mengikuti spreadsheet.

Dia tidak menganggap dirinya sedang mengambil keuntungan.

Dia menganggap dirinya sedang mendidikku.

“Aku bukan anakmu,” kataku.

“Aku tidak bilang begitu.”

“Tapi kamu memutuskan informasi apa yang boleh kuketahui supaya aku bertindak sesuai keinginanmu.”

“Laras, jangan dibesar-besarkan.”

Aku mengangguk pelan.

“Besok aku mau kamu tinggal sementara di apartemenmu.”

Arman langsung berdiri.

“Kamu mengusirku?”

“Aku minta kita pisah rumah dulu.”

“Ini rumah kita.”

“Dokumennya atas namaku dari warisan Ayah.”

“Jadi sekarang kamu pakai rumah itu sebagai senjata?”

“Tidak.”

Aku menatapnya.

“Kalau aku mau menjadikannya senjata, aku bisa mempermalukanmu di depan keluarga, kantor, atau teman-temanmu. Aku tidak melakukan itu.”

Dia diam.

“Aku cuma tidak bisa tinggal satu rumah denganmu sambil berpura-pura ini sekadar perbedaan cara menyusun anggaran.”

Arman pergi dua hari kemudian.

Bukan dengan adegan besar.

Dia membawa dua koper, beberapa kemeja kerja, sepatu, laptop, dan perlengkapan mandi.

Sebelum keluar, dia berdiri di ruang tamu.

“Kamu benar-benar mau menghancurkan pernikahan karena uang?”

Aku menatap koper di tangannya.

“Kalau ini cuma soal uang, kita sudah selesai sejak angka pertama.”

Pintu tertutup.

Rumah terasa terlalu besar malam itu.

Aku duduk sendiri di meja makan dan menangis untuk pertama kalinya sejak menemukan dokumen Ayah.

Bukan hanya karena Arman pergi.

Aku menangisi perempuan berusia dua puluh lima tahun yang percaya bahwa kesulitan membayar tagihan adalah bukti bahwa dia sedang belajar mandiri.

Aku menangisi semua malam ketika aku menolak membeli sesuatu untuk diriku sendiri karena takut dianggap tidak disiplin.

Aku bahkan pernah menunda perawatan gigi selama tiga bulan karena uangku habis untuk tagihan rumah.

Sementara itu, Arman membeli sepatu mahal dan menyebutnya urusan pribadi.

Namun pada pagi berikutnya, rumah itu tetap rumah yang sama.

Cat kuningnya masih mengelupas sedikit di dekat garasi.

Keran dapur masih perlu ditekan keras agar tidak menetes.

Tidak ada musik kemenangan.

Tidak ada hidup baru yang tiba-tiba sempurna.

Aku tetap harus berangkat kerja sebelum pukul tujuh.

Aku masih punya utang kartu kredit.

Dan proses menentukan masa depan pernikahanku baru dimulai.

Bedanya, untuk pertama kali aku tahu angka sebenarnya.

Dalam beberapa minggu berikutnya, komunikasi dengan Arman dilakukan lebih banyak melalui pesan dan email.

Bu Maya membantuku menyusun apa saja yang perlu dibicarakan tanpa membuat klaim yang tidak bisa dibuktikan.

Aku tidak meminta setengah dari semua miliknya.

Aku meminta perhitungan atas dana yang selama ini kuperkirakan sebagai biaya rumah dan bukti penggunaan dana tersebut.

Arman awalnya menolak.

Kemudian dia menawarkan Rp60 juta.

Aku tidak menerima.

Bukan karena ingin menghukumnya.

Angka itu muncul tanpa perhitungan.

Aku meminta kami duduk dengan catatan bank.

Setelah beberapa kali pertemuan, termasuk satu pertemuan yang hampir berakhir tanpa hasil, kami akhirnya dapat menelusuri sebagian besar transfer.

Tidak setiap rupiah bisa dikategorikan sempurna karena uangnya telah bercampur bertahun-tahun.

Namun jumlah kontribusiku untuk pos rumah dapat dibuktikan dari mutasi rekening.

Arman akhirnya setuju mengembalikan Rp135 juta secara bertahap.

Sebagian dibayar dari tabungannya.

Sisanya dicicil selama beberapa bulan.

Aku menggunakan sebagian pembayaran pertama untuk melunasi utang kartu kredit dengan bunga paling tinggi.

Aku tidak memakai uang itu membeli mobil.

Tidak merenovasi rumah besar-besaran.

Aku bahkan masih memakai ponsel yang sama.

Ada kepuasan yang jauh lebih tenang ketika melihat saldo utang turun.

Tiga bulan setelah Arman pindah, kami memulai proses perceraian.

Dia sempat bertanya apakah benar tidak ada jalan kembali.

Aku tidak langsung menjawab.

Ada bagian dalam diriku yang masih ingat Arman sebelum spreadsheet menguasai semuanya.

Laki-laki yang dulu mengantarku menemui Ayah di rumah sakit.

Yang bisa membuat Ayah tertawa.

Yang pernah menunggu dua jam ketika aku lembur menyiapkan dekorasi kelas.

Tidak semua lima tahun itu palsu.

Justru itu yang membuat keputusan terasa berat.

“Aku percaya kamu menyesal kehilangan pernikahan ini,” kataku akhirnya.

Arman menatap meja.

“Tapi aku belum melihat kamu memahami kenapa aku tidak aman bersamamu.”

“Aku tidak pernah menyakitimu secara fisik.”

“Aku tahu.”

“Aku tidak selingkuh.”

“Aku juga tahu.”

“Jadi setelah semua yang kita jalani…”

Aku memotongnya pelan.

“Kamu membuatku percaya bahwa hidupku lebih rapuh daripada yang sebenarnya supaya aku terus mengikuti aturanmu. Aku tidak tahu bagaimana kembali dari situ.”

Arman tidak membantah.

Beberapa bulan kemudian, perceraian kami belum sepenuhnya selesai, tetapi keputusan kami sudah jelas.

Tidak ada keluarga besar yang berbaris memihakku.

Tidak ada kantor Arman yang memecatnya.

Tidak ada apartemennya disita.

Dia tetap bekerja.

Tetap punya karier.

Tetap tinggal di unit yang dulu dibelinya sebagai investasi.

Konsekuensinya lebih sederhana.

Dia kehilangan akses pada rumahku.

Tidak lagi menerima transfer gajiku.

Tidak lagi menentukan apa yang boleh kusebut kebutuhan.

Dan dia harus mengembalikan uang yang bisa kami buktikan berasal dari tagihan rumah yang tidak pernah ada.

Aku juga tidak keluar dari semuanya tanpa tanggung jawab.

Aku harus mengakui bahwa selama bertahun-tahun aku membiarkan rasa takut dianggap tidak mandiri mengalahkan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sudah lama muncul.

Sekarang setiap tagihan kubuka sendiri.

Aku tahu berapa PBB rumah.

Aku tahu kapan atap terakhir diperbaiki.

Aku tahu berapa dana pemeliharaan yang masih tersisa dari Ayah.

Aku belajar bahwa mengetahui urusan keuangan sendiri bukan berarti mencurigai semua orang.

Enam bulan setelah malam deterjen itu, mesin cuci akhirnya benar-benar tidak bisa diperbaiki.

Dulu, aku pasti akan mengirim foto harga beberapa mesin kepada Arman, menunggu dia membuat spreadsheet, lalu menghitung apakah aku mampu membayar separuh.

Kali ini aku membuka rekeningku sendiri.

Utang kartu kreditku tinggal sebagian kecil.

Pembayaran dari Arman masuk sesuai jadwal.

Aku memilih mesin dengan harga yang sesuai kebutuhan, bukan yang paling mahal.

Teknisi datang pada Sabtu pagi.

Setelah selesai memasangnya, dia menyerahkan kuitansi.

Aku menyimpannya di laci dapur.

Sore harinya aku mencuci satu keranjang pakaian.

Hanya pakaianku.

Ketika mesin mulai berputar, aku berjalan ke teras depan membawa secangkir teh.

Pohon mangga yang dulu ditanam Ayah masih berdiri di dekat pagar.

Kunci rumah ada di tanganku.

Bukan di bawah pot.

Bukan di spreadsheet.

Bukan di saku orang lain.

Di tanganku.

Menurutmu, apakah Laras masih seharusnya memberi Arman kesempatan setelah mengetahui alasan di balik kebohongan keuangan selama lima tahun?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.