Amplop Kedua Membongkar Rencana Dimas Menggunakan Namaku, Tetapi Satu Tanda Tangan Membuat Ibunya Menyadari Bahwa Ia Juga Telah Ditipu

Avatar penulis
Cerita 05
5 menit baca 63 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 – Amplop Kedua Membongkar Rencana Dimas Menggunakan Namaku, Tetapi Satu Tanda Tangan Membuat Ibunya Menyadari Bahwa Ia Juga Telah Ditipu

Namun tangan ayahku sudah menyentuh ujung dokumen di dalam amplop.

—NADIRA! JANGAN BACA ITU!

Teriakan Dimas menggema sekali lagi.

Semua orang membeku.

Pria yang beberapa menit lalu berdiri gagah dengan pakaian pengantin kini tampak seperti orang yang kehilangan tempat untuk bersembunyi. Napasnya memburu, tangannya menggenggam amplop pertama begitu erat hingga kertasnya kusut.

Ayah menatapnya tanpa ekspresi.

—Kenapa? Bukankah ini seharusnya menjadi hari ketika tidak ada lagi rahasia di antara kalian?

Ayah mengeluarkan dokumen dari amplop kedua.

Aku berdiri di sampingnya.

Angka yang kulihat sebelumnya ternyata bukan nilai rumah.

Bukan pula jumlah pinjaman biasa.

Itu adalah nilai fasilitas kredit bisnis sebesar 8,7 miliar rupiah.

Dan di bagian calon penanggung terdapat namaku.

Nadira.

Aku merasa tenggorokanku tercekat.

—Apa ini?

Pria paruh baya itu akhirnya memperkenalkan dirinya sebagai konsultan yang diminta ayah membantu memeriksa transaksi mencurigakan berkaitan dengan rumah tersebut.

Ia menunjuk halaman kedua.

—Beberapa minggu lalu, ada pengajuan fasilitas kredit menggunakan rencana aset milik keluarga Anda sebagai bagian dari jaminan pendukung. Pengajuannya belum selesai. Mereka masih membutuhkan beberapa dokumen asli dan tanda tangan tambahan.

Aku menoleh kepada Dimas.

—Karena itu kau ingin menikahiku secepat mungkin?

—Tidak!

Dimas maju.

—Nadira, dengarkan aku. Awalnya bukan seperti ini.

—Lalu seperti apa?

Dia membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.

Pria paruh baya itu melanjutkan:

—Setelah kami menemukan pengajuan tersebut, ayah Anda sengaja tidak langsung melaporkannya. Beliau ingin mengetahui siapa saja yang terlibat dan sejauh mana rencana ini berjalan.

Ratih mendadak menyela.

—Tunggu! Aset keluarga Nadira? Dimas bilang pinjaman itu menggunakan proyek milik keluarga kita!

Semua mata beralih kepadanya.

Aku menatap Ratih.

—Jadi Ibu tahu ada pinjaman?

Wajah Ratih berubah.

—Aku… tahu Dimas sedang mencari modal. Tapi dia bilang setelah menikah kalian akan membuka bisnis bersama. Dia tidak pernah bilang menggunakan namamu tanpa izin!

Dimas berteriak:

—Bu, jangan bicara sembarangan!

Namun kalimat itu justru membuat kecurigaanku semakin besar.

Ayah membalik halaman berikutnya.

Lalu sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Ratih berjalan cepat mendekati kami.

—Berikan padaku.

Ayah tidak menyerahkan dokumen tersebut. Ia hanya mengangkatnya agar Ratih dapat melihat.

Begitu membaca nama perusahaan yang tercantum di sana, Ratih mundur satu langkah.

—Tidak mungkin…

Untuk pertama kalinya, kesombongan di wajahnya menghilang.

—Perusahaan ini milik siapa?

Pria paruh baya itu menjawab:

—Secara administratif, pemegang saham utamanya adalah seorang perempuan.

Ia membuka halaman berikutnya.

Nama perempuan itu adalah perempuan yang muncul bersama Dimas dalam rekaman.

Staf akuntansi yang selama ini diperkenalkan kepadaku.

Ratih langsung menatap anaknya.

—Kau bilang perusahaan itu milikmu!

Dimas diam.

—DIMAS!

Suara Ratih pecah.

Beberapa tamu mulai berbisik.

Ternyata bukan hanya aku yang telah dibohongi.

Dimas selama hampir setahun meyakinkan keluarganya bahwa ia sedang membangun perusahaan baru. Ratih bahkan telah memberikan sebagian tabungannya karena mengira putranya sedang memperluas bisnis keluarga.

Namun perusahaan itu ternyata didaftarkan atas nama perempuan lain.

Aku menatap Dimas.

—Siapa dia sebenarnya?

Dimas memejamkan mata.

Tidak menjawab.

Pria paruh baya itu kembali memutar rekaman.

Kali ini kami mendengar suara perempuan tersebut.

—Kalau pinjamannya cair, kita lunasi dulu utang lama. Sisanya baru kita pindahkan bertahap.

Utang lama?

Aku menoleh.

—Utang apa?

Ayah mengambil satu dokumen lain.

Dimas ternyata telah mengalami kerugian besar dari beberapa investasi yang gagal.

Selama ini dia menutupinya.

Mobil yang sering dibanggakannya bukan sepenuhnya miliknya.

Sebagian modal bisnis yang katanya menghasilkan keuntungan ternyata berasal dari pinjaman.

Dan yang paling mengejutkan, pesta pernikahan mewah hari itu pun sebagian dibayar menggunakan uang pinjaman.

Aku akhirnya mengerti.

Mengapa Ratih begitu marah ketika mengira hadiah keluargaku hanya sebuah rumah tua.

Mereka sedang membutuhkan uang.

Namun Ratih sendiri tampaknya tidak mengetahui seberapa buruk keadaan putranya.

Aku memandang Dimas.

—Kalau kita menikah hari ini, apa yang akan kau lakukan?

Dia menggeleng.

—Aku hanya butuh waktu untuk memperbaiki semuanya.

—Dengan menggunakan namaku?

—Aku akan mengembalikannya!

Aku tertawa kecil.

Aneh sekali.

Di tengah kehancuran itu, aku justru tidak bisa menangis lagi.

—Kau bahkan belum mendapatkan uangnya, tapi sudah bicara tentang mengembalikannya.

Dimas mendekat.

—Nadira, aku mencintaimu.

Aku menatapnya lurus.

—Kalau kau mencintaiku, mengapa tanda tanganku ada di dokumen yang tidak pernah kulihat?

Dia kembali terdiam.

Itulah jawabannya.

Aku melepas cincin dari jariku.

Ratih tiba-tiba berkata:

—Nadira, tunggu.

Aku menatapnya.

Perempuan yang tadi mempermalukan hadiah orang tuaku kini berdiri dengan wajah pucat.

—Kita bisa menyelesaikan ini setelah acara. Banyak tamu di sini.

Aku hampir tidak percaya.

Bahkan sekarang, yang pertama dipikirkannya masih pandangan orang lain.

Aku meletakkan cincin di atas kotak kayu.

—Justru karena banyak orang di sini, saya ingin semuanya jelas. Tidak ada seorang pun yang boleh mengatakan keluarga saya membatalkan pernikahan karena tidak mampu memberikan hadiah mahal.

Aku mengambil mikrofon.

Tanganku gemetar, tetapi suaraku tidak.

—Bapak, Ibu, keluarga, dan semua tamu yang hadir, saya minta maaf karena acara ini tidak dapat dilanjutkan.

Ruangan hening.

—Hari ini seharusnya saya menikahi seseorang yang saya percaya. Namun beberapa menit sebelum pernikahan, saya mengetahui identitas saya digunakan dalam pengajuan keuangan yang tidak pernah saya setujui.

Dimas mencoba mendekat.

Ayah berdiri di depanku.

Aku melanjutkan:

—Karena itu, pernikahan ini saya batalkan.

Suara gaduh langsung memenuhi ruangan.

Dimas memanggil namaku.

Aku tidak menoleh.

Aku berjalan menuju ibu.

Ibu memelukku.

—Pulang saja, Nak.

Aku akhirnya menangis.

Bukan karena kehilangan Dimas.

Melainkan karena baru menyadari betapa dekatnya aku dengan sebuah kehidupan yang dibangun di atas kebohongan.

Namun saat kami hendak meninggalkan ruangan, pria paruh baya tadi memanggil ayah.

—Pak, masih ada satu hal.

Ia menunjuk dokumen terakhir.

—Kami menemukan sesuatu pagi ini. Pengajuan atas nama Nadira bukan satu-satunya.

Ratih yang tadi terdiam mendadak mengangkat kepala.

—Apa maksud Anda?

Pria itu menatapnya.

—Ada pengajuan lain enam bulan sebelumnya.

Ia mengeluarkan salinan dokumen.

Kemudian meletakkannya di meja.

Ratih membacanya.

Tangannya langsung gemetar.

Karena nama yang tertulis sebagai pemilik aset jaminan bukan namaku.

Melainkan namanya sendiri.

Ratih menatap Dimas seolah tidak mengenali anaknya.

—Kau… menggunakan rumahku?

Dimas mundur.

Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya terbongkar, dia tidak mencoba menjelaskan.

Dia justru berbalik dan berlari menuju pintu.

Tetapi kali ini, Ratih sendiri yang berteriak:

—TUTUP PINTUNYA!