Bagian 2
Rani menatap Arga beberapa detik lebih lama, seolah berharap nama belakang yang baru saja disebut pramugari itu akan tiba-tiba terdengar biasa saja.
Wicaksana.
Nama itu sebenarnya pernah ia dengar.
Bukan sekali.

Namun selama lima tahun terakhir, dunia Rani semakin mengecil menjadi daftar belanja, jadwal imunisasi, tagihan listrik, grup keluarga, dan percakapan dengan Dimas yang makin lama makin terasa seperti berbicara kepada pintu tertutup. Ia jarang membaca berita bisnis, apalagi mengingat wajah orang-orang yang muncul di sana.
Arga mengusap tengkuknya.
“Arga Wicaksana,” katanya akhirnya. “Wicaksana Infrastruktur.”
Rani masih menatapnya.
Lalu ingatannya menemukan sesuatu.
Sebuah logo berwarna biru tua pada papan proyek jalan tol. Nama perusahaan di gedung perkantoran Jakarta. Artikel tentang pembangunan kawasan logistik yang pernah muncul di layar televisi ketika Dimas sedang sarapan.
Rani berkedip.
“Perusahaan konstruksi itu?”
“Salah satunya.”
“Salah satunya?”
Arga tersenyum kecil, seperti orang yang menyesal karena jawaban jujur justru membuat situasi semakin canggung.
“Keluarga saya punya beberapa usaha.”
Pesawat menyentuh landasan.
Suara roda menghantam aspal membuat Nara terbangun. Gadis kecil itu mengucek mata, menatap Arga, kemudian memegang lengan jasnya.
“Om burung jelek.”
Rani menutup wajah dengan satu tangan.
“Nara.”
Namun Arga tertawa.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, tawanya terdengar benar-benar lepas.
“Ya. Om burung jelek.”
Pesawat bergerak perlahan menuju tempat parkir. Beberapa penumpang mulai menyalakan ponsel. Rani mendengar bunyi notifikasi berulang-ulang dari berbagai arah.
Ponsel Arga juga mulai bergetar.
Sekali.
Dua kali.
Lima kali.
Lalu terus-menerus.
Ia memandang layar, dan ekspresinya berubah.
Rani sempat melihat nama yang muncul beberapa kali.
Bima Security.
Sekretariat Direksi.
Ibu.
Maya Humas.
Arga mengembuskan napas.
“Sepertinya video tadi sudah dikirim seseorang.”
Rani menegang.
“Video kita?”
“Mungkin.”
“Wajah Nara terlihat?”
Arga langsung menoleh.
Nada suaranya berubah dari santai menjadi serius.
“Saya akan pastikan tidak.”
Tidak ada janji berlebihan dalam kalimat itu. Hanya ketegasan.
Ketika pintu pesawat akhirnya dibuka, seorang pramugari meminta penumpang tetap duduk beberapa saat karena ada prosedur khusus.
Beberapa orang mulai berbisik.
Rani ingin menghilang.
Ia tidak ingin prosedur khusus.
Ia hanya ingin mengambil koper, naik taksi, lalu pergi ke Ciputat tanpa ada seorang pun mengingat wajahnya.
Namun beberapa menit kemudian, dua orang pria berjas hitam naik ke pesawat.
Mereka tidak terlihat seperti pengawal dalam film. Tidak memakai kacamata hitam, tidak menyentuh senjata, tidak berjalan dengan gaya mengintimidasi.
Tetapi cara mereka mengamati kabin membuat Rani tahu keduanya terbiasa memperhatikan setiap detail.
Salah satunya berhenti di samping Arga.
“Pak.”
Arga mengangguk.
“Bima, ini Rani dan putrinya, Nara.”
Bima menatap Rani, kemudian tersenyum sopan.
“Selamat datang di Jakarta, Bu.”
Rani hampir menjawab bahwa Jakarta bukan tempat yang terasa layak disebut selamat datang hari itu.
Arga berdiri, mengambil tas kabin Rani sebelum ia sempat menolak, lalu membantu menurunkan kereta dorong.
“Apa ini perlu?” bisik Rani ketika melihat dua pria lain menunggu di luar pintu pesawat.
“Sayangnya.”
“Karena saya tidur di bahu Anda?”
“Karena orang-orang lebih suka cerita sederhana daripada kebenaran yang membosankan.”
Mereka turun melalui tangga khusus menuju apron.
Di bawah, dua kendaraan hitam sudah menunggu.
Rani berhenti.
“Tidak.”
Arga menoleh.
“Tidak apa?”
“Saya tidak ikut mobil Anda.”
Arga tidak tersinggung.
“Baik.”
Jawabannya yang mudah justru membuat Rani sedikit bingung.
“Saya akan naik taksi.”
“Tentu.”
“Dan saya tidak butuh bantuan.”
“Saya mengerti.”
Rani mempersempit mata.
“Anda terlalu mudah setuju.”
Arga memasukkan satu tangan ke saku celana.
“Kalau saya memaksa, Anda pasti semakin curiga.”
“Benar.”
“Jadi saya memilih strategi yang lebih cerdas.”
Rani hampir tertawa.
Namun ketika mereka berjalan menuju area bagasi, ponselnya bergetar.
Nomor Dimas.
Rani berhenti.
Ada tujuh pesan masuk.
Pesan pertama hanya satu kalimat.
Kamu bawa Nara ke Jakarta tanpa izin saya?
Yang kedua:
Kita belum bicara soal hak asuh.
Yang ketiga:
Jangan membuat keadaan semakin sulit.
Rani merasakan darah di wajahnya turun.
Arga tidak membaca layar, tetapi melihat perubahan ekspresinya.
“Ada masalah?”
“Tidak.”
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Arga tidak mendesak.
Mereka sampai di area pengambilan bagasi. Salah satu koper Rani muncul dengan roda yang miring. Bima mengambilnya dari conveyor, sedangkan Rani berusaha menarik koper kedua sambil menggendong Nara yang kembali mengantuk.
Arga memandang koper rusak itu.
“Rodanya patah.”
“Dari dulu juga sudah agak miring.”
“Sekarang hampir lepas.”
“Masih bisa ditarik.”
Rani menariknya dua langkah.
Roda itu langsung copot.
Nara menunjuk ke lantai.
“Rodanya kabur, Mama.”
Arga menahan senyum.
Bima membungkuk, memungut roda tersebut, lalu menyerahkannya kepada Rani seperti sedang mengembalikan barang berharga.
“Terima kasih,” kata Rani dengan wajah merah.
Saat mereka tiba di aula kedatangan, keadaan yang Rani khawatirkan benar-benar terjadi.
Beberapa kamera sudah menunggu.
Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuatnya membeku.
“Pak Arga!”
“Pak Arga, apakah benar Anda baru kembali dari Surabaya?”
“Siapa perempuan bersama Anda?”
“Apakah ini keluarga Anda?”
Salah satu kamera bergerak ke arah Nara.
Bima segera berdiri di depan Rani.
Arga berhenti.
Sebelumnya ia terlihat seperti pria yang terlalu lelah untuk peduli. Sekarang posturnya berubah.
Ia menatap para wartawan.
“Jangan ambil gambar anak itu.”
Suara Arga tidak keras.
Namun seluruh kerumunan seolah kehilangan keberanian untuk bergerak.
“Saya ulangi. Jangan ambil gambar anak di bawah umur.”
Seorang reporter masih mencoba bertanya.
“Apakah perempuan itu pasangan baru Bapak?”
“Dia penumpang yang kebetulan duduk di sebelah saya.”
“Tapi ada foto dia tidur di bahu Bapak.”
“Karena dia kelelahan menjaga anaknya.”
Arga menatap kamera yang paling dekat.
“Kalau itu dianggap berita besar, mungkin kita sedang kekurangan berita penting.”
Bima memberi isyarat kepada timnya.
Rani dibawa melewati sisi kerumunan tanpa disentuh siapa pun. Nara memeluk lehernya dan menyembunyikan wajah.
Di luar terminal, Rani menggigil walaupun udara Jakarta terasa lembap dan hangat.
“Saya minta maaf,” kata Arga.
Rani memandangnya.
“Untuk apa?”
“Karena Anda terseret ke dalam hidup yang tidak Anda minta.”
Rani menoleh ke kendaraan hitam di belakangnya.
“Ini selalu terjadi?”
“Tidak selalu.”
“Cukup sering?”
Arga diam.
Itu sudah menjadi jawaban.
Rani mengeluarkan ponsel untuk memesan kendaraan. Aplikasi menunjukkan waktu tunggu dua puluh enam menit.
Nara mulai rewel.
Koper patahnya hampir roboh lagi.
Arga menunjuk mobil kedua.
“Supir saya bisa mengantar Anda ke Ciputat. Saya tidak ikut.”
Rani menatapnya tajam.
“Saya tidak pernah memberi tahu Anda saya ke Ciputat.”
“Saat di pesawat, Anda mengatakan akan tinggal bersama sepupu di Ciputat ketika Nara bertanya kita mau ke mana.”
Rani mengingatnya.
Benar.
Ia sendiri yang menyebutkannya.
“Tidak ada syarat?” tanyanya.
“Tidak ada.”
“Tidak ada wartawan?”
“Saya akan pergi lewat pintu lain. Mereka akan mengikuti mobil saya.”
Rani melihat Nara yang mulai merengek karena lapar.
Harga taksi dari bandara ke Ciputat muncul di layar ponselnya.
Ia memikirkan saldo rekening pribadinya.
Lalu ia menyerah.
“Baik. Tapi saya ganti bensin.”
Bima batuk kecil seperti tersedak.
Arga memandangnya.
“Kenapa?”
Bima menggeleng cepat.
“Tidak ada, Pak.”
Arga kembali menatap Rani.
“Deal.”
Mobil membawa Rani meninggalkan bandara melalui jalan tol.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia berada di ruang tenang.
Nara duduk di kursi anak yang ternyata sudah tersedia di bagasi kendaraan cadangan setelah tim keamanan membelinya dari toko bandara.
Rani sempat memprotes.
Bima mengatakan itu standar keselamatan.
Ketika Rani bertanya berapa harganya, pria itu hanya menjawab, “Pak Arga bilang jangan memberi tahu.”
Mobil memasuki Ciputat menjelang sore.
Rumah kontrakan Sari berada di sebuah gang yang hanya cukup dilewati satu mobil.
Supir akhirnya berhenti di jalan utama.
Bima turun membantu koper.
Ketika Sari membuka pintu rumah dan melihat dua pria berjas membawa barang Rani, mulutnya terbuka.
“Ran…”
“Jangan.”
“Ini…”
“Jangan tanya sekarang.”
Sari mengangkat kedua tangan.
“Baik.”
Lima menit setelah mobil pergi, ia menutup pintu, menoleh kepada Rani, lalu berbisik keras.
“ITU SIAPA?”
Rani menutup wajah.
Malam itu ia menceritakan semuanya.
Sari mendengarkan tanpa memotong sampai bagian Arga meminta Rani tidur di bahunya.
Kemudian sepupunya meletakkan gelas.
“Jadi kamu baru kabur dari suami brengsek dan dalam satu hari malah tidur di bahu salah satu pengusaha paling kaya di Indonesia?”
“Saya tidak kabur.”
“Kamu pergi karena rumahmu dikunci.”
“Dan saya tidak tidur dengan dia.”
“Di bahunya.”
“Sari.”
“Baik, baik.”
Sari mengambil ponselnya.
“Tapi kita punya masalah.”
Ia menunjukkan layar.
Sebuah akun gosip telah mengunggah foto kabur dari dalam pesawat.
Wajah Rani terlihat dari samping.
Wajah Nara sebagian tertutup.
Judulnya berbunyi:
ARga Wicaksana Tertangkap Mesra dengan Wanita Misterius dan Seorang Anak?
Rani merasa mual.
Komentar sudah ribuan.
Beberapa orang menebak ia istri rahasia.
Yang lain bertanya apakah Nara anak Arga.
Ada pula yang menyebutnya sengaja mencari perhatian.
Rani mematikan layar.
“Besok ini hilang, kan?”
Sari tidak menjawab.
Ternyata tidak.
Pagi berikutnya, berita itu justru muncul di lebih banyak akun.
Tetapi ada sesuatu yang lain.
Semua foto yang menampilkan wajah Nara dengan jelas telah hilang.
Beberapa akun menambahkan keterangan bahwa mereka menghapus identitas anak atas permintaan pihak keluarga.
Arga menepati janjinya.
Rani menerima sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.
Saya sudah meminta tim hukum menghubungi akun yang menampilkan wajah Nara. Tidak perlu membalas. Maaf sekali lagi. Arga.
Rani membaca pesan itu tiga kali.
Kemudian membalas dua kata.
Terima kasih.
Tidak sampai satu menit, jawabannya datang.
Sama-sama. Bagaimana roda koper yang kabur?
Rani tertawa tanpa sengaja.
Nara yang sedang makan pisang menatapnya.
“Mama kenapa?”
“Tidak kenapa-kenapa.”
Selama tiga hari berikutnya, Arga tidak menghubunginya lagi.
Rani justru menghargai itu.
Ia mulai mengurus hidupnya.
Sari membantu menjaga Nara selama Rani melakukan wawancara kerja daring.
Sebelum menikah, Rani pernah bekerja sebagai staf administrasi sebuah perusahaan distribusi. Setelah Nara lahir, Dimas menyarankan ia berhenti karena biaya penitipan anak dianggap terlalu tinggi.
Sekarang keputusan itu terasa seperti jebakan yang baru disadarinya setelah pintunya tertutup.
Rani mengirim dua puluh tiga lamaran dalam empat hari.
Enam tidak dibalas.
Sebelas ditolak.
Empat mengatakan pengalamannya sudah terlalu lama.
Dua mengundangnya wawancara.
Sementara itu, pesan dari Dimas semakin agresif.
Ia menuntut Rani kembali ke Surabaya.
Ia mengatakan seorang ibu tidak boleh “membawa pergi” anak tanpa pembicaraan.
Rani menyimpan semua pesan.
Atas saran Sari, ia berkonsultasi dengan seorang pengacara keluarga bernama Mira Santoso yang direkomendasikan teman Sari.
Mira mendengarkan kronologi, kemudian meminta Rani mengumpulkan bukti: pesan Dimas, bukti pergantian kunci jika ada, rekening keluarga, dokumen pernikahan, akta kelahiran Nara, serta catatan pengeluaran.
“Jangan berdebat lewat pesan,” kata Mira. “Jawab seperlunya. Simpan semuanya.”
Rani mengikuti saran itu.
Ia juga pergi ke cabang bank membawa dokumen identitas untuk menanyakan rekening bersama.
Petugas menjelaskan akses aplikasi Rani memang telah diubah, tetapi kepemilikan rekening tidak otomatis hilang.
Rani meminta cetakan mutasi.
Di sanalah ia menemukan sesuatu.
Selama enam bulan terakhir, Dimas telah memindahkan dana secara berkala ke rekening lain.
Totalnya hampir seratus delapan puluh juta rupiah.
Rani menatap angka itu sampai tangannya dingin.
Uang tersebut bukan hanya gaji Dimas.
Ada tabungan hasil penjualan mobil lama Rani.
Ada bonus kerja yang dulu Dimas bilang akan disimpan untuk biaya sekolah Nara.
Ada transfer dari orang tua Rani saat ayahnya masih hidup.
Mira melihat dokumen itu dua hari kemudian.
“Ini penting.”
“Bisa dikembalikan?”
“Kita belum bicara soal hasil. Yang penting sekarang kita punya bukti.”
Rani pulang dengan kepala berat.
Di depan rumah kontrakan Sari, sebuah mobil hitam sudah terparkir.
Jantung Rani berhenti sesaat.
Namun yang turun bukan Dimas.
Arga.
Ia tidak mengenakan jas. Hanya kemeja abu-abu sederhana dengan lengan digulung.
Di tangannya ada sebuah kotak.
Rani berhenti beberapa meter darinya.
“Bagaimana Anda tahu alamat ini?”
Arga langsung terlihat bersalah.
“Supir.”
“Jadi Anda menyimpan alamat saya?”
“Tidak. Saya menanyakan sekali kepada Bima.”
“Itu masih terdengar buruk.”
“Ya.”
Arga mengangguk.
“Saya bisa pergi.”
Rani menatap kotak di tangannya.
“Apa itu?”
“Koper.”
“Koper?”
“Pengganti koper yang rodanya melarikan diri.”
Rani memejamkan mata.
“Anda datang dari pusat Jakarta ke Ciputat membawa koper?”
“Saya juga ada rapat di Bintaro.”
Rani menatapnya penuh curiga.
“Benar.”
“Bima bisa mengonfirmasi.”
“Bima bekerja untuk Anda.”
“Itu masalah dalam sistem pembuktian saya.”
Rani akhirnya tertawa kecil.
Nara yang mendengar suara dari dalam rumah berlari keluar.
“Om Burung!”
Arga berjongkok.
“Halo, Bos Kecil.”
Nara langsung memeluk lehernya.
Rani terdiam.
Arga tampak sama terkejutnya.
Ia tidak langsung membalas pelukan itu. Seolah takut salah.
Kemudian tangannya perlahan mengusap punggung Nara.
Sari muncul dari pintu.
Wajahnya berubah ketika melihat Arga.
“Oh.”
Rani menoleh tajam.
Sari segera memperbaiki ekspresi.
“Maksud saya, selamat sore.”
Arga menyerahkan koper kepada Rani.
“Saya tidak akan lama.”
Rani memegang gagangnya.
“Koper ini mahal.”
“Bagaimana Anda tahu?”
“Karena saya tahu mereknya.”
Arga berpikir sebentar.
“Kalau begitu anggap pembayaran sewa bahu dua jam.”
“Bahu Anda tidak semahal itu.”
“Investor saya mungkin berbeda pendapat.”
Rani menggeleng.
Namun untuk pertama kalinya selama berminggu-minggu, ia merasa sesuatu dalam hidupnya kembali ringan.
Arga benar-benar tidak lama.
Ia hanya minum teh sepuluh menit.
Tidak bertanya soal Dimas.
Tidak menawarkan uang.
Tidak bertanya mengapa rumah Sari kecil.
Ia duduk di lantai bersama Nara dan membuat burung tisu yang kali ini memiliki dua sayap sama panjang.
Sebelum pergi, ia menyerahkan sebuah kartu kepada Rani.
“Ini nomor kantor saya langsung. Kalau foto Nara muncul lagi, hubungi nomor ini.”
Rani menerima kartu itu.
“Terima kasih.”
Arga berdiri.
Lalu matanya jatuh pada map berisi dokumen lamaran kerja di atas meja.
Ia tidak berkata apa-apa.
Tetapi dua hari kemudian, Rani menerima telepon dari seorang perekrut perusahaan logistik.
Nama perusahaannya membuat Rani langsung curiga.
Nusantara Kargo.
Salah satu anak usaha Wicaksana Group.
Perekrut mengundangnya untuk wawancara posisi staf administrasi operasional.
Rani langsung menelepon Arga.
“Apakah Anda melakukan ini?”
“Halo juga.”
“Arga.”
Ia terdiam beberapa detik.
“Saya memberikan CV Anda kepada HR.”
Rani merasakan panas naik ke wajahnya.
“Anda tidak berhak.”
“Saya tahu.”
“Kalau saya diterima karena Anda…”
“Tidak akan.”
“Bagaimana saya bisa tahu?”
“Karena saya sudah memberi instruksi tertulis bahwa saya tidak boleh terlibat dalam keputusan.”
“Orang tetap tahu Anda CEO grup.”
“Saya tidak bilang sistemnya sempurna.”
Rani berjalan mondar-mandir di kamar kecil Sari.
“Saya tidak mau pekerjaan kasihan.”
“Kalau begitu jangan ambil kalau Anda merasa prosesnya tidak adil.”
Nada Arga tetap tenang.
“Tapi wawancara itu nyata. Posisi itu memang kosong. Anda punya pengalaman yang sesuai. Saya hanya memastikan CV Anda dibaca.”
Rani tidak menjawab.
Arga melanjutkan lebih pelan.
“Saya minta maaf karena melakukannya tanpa izin.”
Itu membuat kemarahan Rani kehilangan sedikit tenaga.
Dimas tidak pernah meminta maaf dengan cara seperti itu.
Setiap kali salah, ia selalu menjelaskan mengapa kesalahannya sebenarnya terjadi karena Rani.
“Saya akan ikut wawancara,” kata Rani akhirnya. “Tapi kalau saya melihat satu tanda saya diperlakukan khusus, saya pergi.”
“Adil.”
Rani mengikuti tiga tahap wawancara.
Tidak ada satu pun pewawancara menyebut nama Arga.
Pada tahap terakhir, manajer operasional bahkan mengkritik salah satu jawaban Rani cukup keras.
Aneh sekali, tetapi itu justru membuat Rani lega.
Empat hari kemudian ia menerima tawaran kerja.
Gaji awalnya tidak besar, tetapi cukup untuk mulai menabung dan membantu biaya rumah Sari.
Rani menandatangani kontrak.
Malam itu, ia mengirim foto halaman pertama kepada Arga.
Saya diterima.
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Selamat. Saya tidak melakukan apa-apa selain membuat HR membaca CV Anda. Sisanya milik Anda.
Rani tersenyum.
Kemudian pesan kedua masuk.
Nara boleh merayakan dengan es krim. Ibunya boleh ikut.
Rani menatap pesan itu cukup lama.
Akhirnya ia mengetik:
Sabtu sore. Tapi saya yang bayar es krim saya sendiri.
Jawaban Arga:
Negosiasi yang sangat keras. Saya setuju.
Sabtu itu menjadi awal sesuatu yang tidak pernah direncanakan Rani.
Bukan hubungan romantis.
Belum.
Hanya es krim di sebuah pusat perbelanjaan.
Lalu pertemuan lain dua minggu kemudian ketika Arga mengantar buku gambar untuk Nara.
Kemudian makan siang singkat.
Setelah itu kunjungan ke taman.
Arga tidak pernah datang dengan pengawal sampai pintu. Bima biasanya menunggu jauh di mobil.
Rani mulai mengetahui hal-hal kecil tentangnya.
Arga minum kopi tanpa gula.
Ia tidak pandai memasak tetapi yakin telur orak-arik termasuk kemampuan kuliner tingkat tinggi.
Ia memiliki ibu yang selalu mengirim pesan mengingatkan makan.
Ayahnya meninggal tujuh tahun sebelumnya karena serangan jantung.
Sejak usia tiga puluh dua, Arga memimpin perusahaan keluarga bersama adik perempuannya.
Ia pernah hampir menikah.
Hubungan itu berakhir tiga bulan sebelum pernikahan karena tunangannya merasa hidup bersama Arga berarti hidup bersama perusahaan, wartawan, dan tanggung jawab keluarga yang tidak pernah berhenti.
“Dia tidak salah,” kata Arga suatu sore.
Mereka sedang duduk di taman sambil melihat Nara mengejar gelembung sabun.
“Mungkin saya memang tidak memberi ruang cukup.”
Rani menatapnya.
“Kenapa Anda cerita ini ke saya?”
Arga berpikir.
“Karena Anda tidak pernah terlihat tertarik pada versi saya yang ada di berita.”
“Saya bahkan tidak tahu versi Anda yang ada di berita.”
“Itu membantu.”
Rani tersenyum.
Namun ketenangan mereka tidak berlangsung lama.
Tiga minggu setelah Rani mulai bekerja, Dimas datang ke Jakarta.
Ia menunggu di depan kantor Rani.
Rani keluar pukul lima lewat dua puluh menit dan langsung berhenti.
Dimas berdiri di samping sebuah mobil sewaan.
Wajahnya terlihat lebih kurus.
“Rani.”
Rani mundur satu langkah.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Kita perlu bicara.”
“Hubungi pengacaraku.”
“Aku suamimu.”
“Secara hukum, ya. Secara kehidupan, kamu mengganti kunci rumah.”
Dimas mengusap rambutnya.
“Aku marah waktu itu.”
“Dan rekening?”
Dimas terdiam.
Rani menatapnya.
“Itu juga karena marah?”
“Aku memindahkan uang supaya kamu tidak menghabiskannya.”
Rani hampir tidak percaya.
“Aku?”
“Kamu pergi membawa Nara.”
“Setelah kamu mengunci rumah.”
Beberapa pegawai mulai keluar dari gedung.
Rani tidak ingin menjadi tontonan.
“Aku tidak mau bicara di sini.”
“Kalau begitu ikut aku.”
Dimas mencoba meraih lengannya.
Rani mundur.
“Jangan sentuh saya.”
Suara lain muncul dari belakang.
“Dia sudah bilang jangan.”
Rani menoleh.
Arga berdiri beberapa meter jauhnya.
Ia baru keluar dari gedung sebelah setelah rapat.
Dimas mengenalinya.
Tentu saja.
Wajahnya langsung berubah.
“Kamu.”
Arga tidak mendekat.
“Dia meminta Anda tidak menyentuhnya.”
Dimas tertawa pendek.
“Jadi ini benar?”
Rani mengerutkan kening.
“Apa?”
“Semua berita itu. Kamu bahkan belum resmi cerai dan sudah tinggal dengan orang kaya?”
Rani merasa sesuatu dalam dirinya yang selama ini takut, lelah, dan terus meminta izin akhirnya berdiri tegak.
“Saya tidak tinggal dengan siapa pun.”
Dimas menunjuk Arga.
“Dia yang membuat kamu berani begini?”
Rani menatap mantan suaminya lama.
Kemudian berkata dengan suara tenang.
“Tidak, Dimas. Kamu yang membuat saya berani begini.”
Dimas terdiam.
“Karena setelah lima tahun, akhirnya saya tahu seperti apa rasanya ketika orang mendengarkan kata ‘tidak’.”
Arga tidak berkata apa-apa.
Ia hanya berdiri di sana.
Tidak menjadi pahlawan.
Tidak mengambil alih.
Hanya memastikan Rani punya ruang.
Rani mengeluarkan ponselnya.
“Pengacara saya sudah bilang semua komunikasi soal Nara dan keuangan harus melalui dia. Kalau kamu mengikuti saya atau datang ke tempat kerja lagi tanpa pemberitahuan, saya akan catat.”
Dimas mengepalkan rahang.
“Kamu kira uang orang ini bisa mengambil anak saya?”
Arga langsung berkata, “Saya tidak terlibat urusan hak asuh kalian.”
Rani menambahkan, “Dan Nara bukan barang yang bisa diambil.”
Dimas akhirnya pergi.
Namun sebelum masuk mobil, ia menoleh.
“Ini belum selesai.”
Malam itu Rani duduk di tangga depan rumah Sari sambil memegang secangkir teh yang sudah dingin.
Arga duduk dua anak tangga di bawahnya.
Nara sudah tidur.
“Aku malu,” kata Rani pelan.
“Kenapa?”
“Karena bagian dari diriku masih takut pada dia.”
Arga menatap jalan.
“Takut bukan berarti lemah.”
Rani menggeleng.
“Saya tahu kalimat itu. Semua orang bilang begitu.”
Arga diam.
Kemudian ia berkata, “Kalau begitu saya tidak akan mengatakannya.”
Rani memandangnya.
Arga melanjutkan.
“Saya cuma akan bilang tadi Anda berdiri di depan orang yang pernah membuat Anda merasa tidak punya pilihan, dan Anda tetap memilih sendiri apa yang ingin Anda katakan.”
Rani menelan ludah.
Untuk beberapa detik, ia tidak bisa menjawab.
Arga berdiri.
“Saya sebaiknya pulang.”
Rani ikut berdiri.
“Arga.”
Ia berhenti.
“Terima kasih.”
Arga tersenyum.
“Untuk apa kali ini?”
“Karena tidak mencoba menyelamatkan saya.”
Senyumnya berubah.
Lebih lembut.
“Saya pikir Anda sudah cukup pandai menyelamatkan diri sendiri.”
Mereka berdiri terlalu dekat.
Untuk pertama kalinya, Rani menyadari bahwa ia tidak hanya merasa aman di dekat Arga.
Ia menyukainya.
Kesadaran itu membuat dadanya berdebar lebih keras daripada saat menghadapi Dimas.
Arga tampaknya merasakan hal yang sama.
Matanya turun sesaat ke bibir Rani, lalu kembali ke matanya.
Tetapi ia mundur.
“Selamat malam, Rani.”
“Selamat malam.”
Arga pergi.
Rani berdiri di depan rumah sampai lampu belakang mobilnya hilang di ujung gang.
Dua hari kemudian, sebuah surat resmi dari pengacara Dimas tiba.
Dimas mengajukan permohonan agar Nara dikembalikan ke Surabaya sementara proses perceraian berlangsung.
Dan di antara dokumen yang diajukan, terdapat tangkapan layar foto Rani tidur di bahu Arga di pesawat.
Dimas mengklaim Rani telah membawa Nara ke lingkungan yang “tidak stabil” demi menjalani hubungan dengan pria lain.
Rani membaca kalimat itu dua kali.
Kemudian ia menutup dokumen.
Ketika Arga menelepon malam itu, Rani tidak mengangkat.
Ia juga tidak membalas pesannya keesokan harinya.
Bukan karena marah.
Justru karena untuk pertama kalinya sejak bertemu Arga, Rani merasa kedekatan mereka mungkin bisa digunakan untuk menyakiti hal yang paling ia cintai.
Nara.
Dan jika harus memilih, Rani sudah tahu apa yang akan ia lakukan.
