Kaset Tiga Belas Tahun Lalu Akhirnya Diputar, Namun Suara Perempuan di Dalamnya Justru Membongkar Rahasia Tentang Masa Laluku

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 59 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Kaset Tiga Belas Tahun Lalu Akhirnya Diputar, Namun Suara Perempuan di Dalamnya Justru Membongkar Rahasia Tentang Masa Laluku

“Satu-satunya ahli waris.”

Aku membaca kalimat itu sekali lagi.

Tanganku yang memegang kunci kuningan terasa dingin.

Putraku berdiri rapat di sampingku, sementara pria berjas itu menatap kartu identitas tua di lantai seolah sedang melihat seseorang yang telah bangkit dari masa lalu.

Aku membungkuk untuk mengambilnya.

Namun ia tiba-tiba berkata,

—Jangan sentuh!

Tanganku berhenti.

Aku menatapnya.

—Mengapa?

Pria itu tidak menjawab.

Aku mengambil kartu tersebut.

Di bagian depan terdapat foto seorang perempuan muda berusia sekitar dua puluh lima tahun. Rambutnya sebahu, matanya besar, dan ada tahi lalat kecil di dekat alis kirinya.

Aku refleks menyentuh alisku sendiri.

Aku juga memilikinya.

Bahkan bentuk mata kami hampir sama.

—Siapa dia?

Pria itu menarik napas panjang.

—Namanya Maya.

—Apa hubungannya denganku?

Ia memejamkan mata sesaat.

—Aku berharap tidak perlu menjawab pertanyaan itu seumur hidupku.

Aku tertawa kecil.

—Sayangnya, hari ini Anda harus menjawabnya.

Orang-orang di aula mulai berbisik.

Aku memandang para pengawal yang masih berdiri di depan pintu.

—Buka pintunya.

Pria itu diam.

—Kalau Anda ingin berbicara denganku, buka pintu. Putraku tidak boleh merasa sedang ditahan.

Ia akhirnya memberi isyarat.

Pintu aula dibuka.

Sebagian orang keluar, tetapi banyak yang tetap tinggal karena penasaran.

Aku naik ke panggung bersama putraku.

Di dalam kompartemen rahasia masih ada sebuah kotak logam tipis.

Aku mengeluarkannya.

Isinya hanya tiga benda.

Sebuah foto lama.

Sebuah amplop.

Dan sebuah label kecil bertuliskan nomor seri.

Aku mengenali nomor itu.

Nomor seri piano yang kusimpan di rumah.

Jantungku berdegup semakin cepat.

Berarti kedua piano ini memang sengaja dibuat sebagai sepasang.

—Piano di rumahku menyimpan kaset rekaman, kataku.

Wajah pria itu langsung berubah.

—Kasetnya masih ada?

—Ada.

—Kau sudah mendengarnya?

—Tiga belas tahun lalu.

Ia menatapku tajam.

—Apa yang kau dengar?

Aku menggeleng.

—Tidak semuanya.

Kaset itu rusak di bagian tengah. Yang bisa kudengar hanya suara seorang perempuan memainkan melodi yang tadi dimainkan putraku, kemudian mengatakan:

“Kalau suatu hari kedua piano kembali bertemu, kebenaran juga harus kembali kepada pemiliknya.”

Setelah itu rekamannya terputus.

Pria itu terduduk.

Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat seorang donatur kaya atau pengusaha berpengaruh.

Aku melihat seorang lelaki tua yang sedang ketakutan menghadapi masa lalu.

Ia menatapku.

—Maya adalah kakakku.

Aku membeku.

—Kakak Anda?

Ia mengangguk.

—Dia satu-satunya orang dalam keluarga yang benar-benar mencintai musik.

Keluarga mereka dahulu memiliki perusahaan besar yang memproduksi dan mengimpor alat musik.

Maya seharusnya menjadi penerus utama.

Namun ia tidak tertarik pada jabatan.

Ia justru mengelola program pendidikan musik untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Pria di depanku bernama Surya.

Ketika ayah mereka sakit keras, terjadi perebutan kendali perusahaan.

Beberapa kerabat ingin menjual aset perusahaan dan mengubah bisnis keluarga menjadi perusahaan investasi.

Maya menentang.

Lalu suatu malam terjadi kebakaran di gudang lama.

Dua piano yang dibuat khusus untuk Maya berada di sana.

Satu rusak berat.

Satu berhasil diselamatkan.

Tidak lama kemudian, Maya menghilang.

—Menghilang?

Aku menatap Surya.

—Atau sengaja dibuat menghilang?

Ia tidak menjawab.

Diamnya sudah cukup.

Aku membuka amplop yang ditemukan di dalam piano.

Kertas di dalamnya sudah menguning.

Tulisan tangan memenuhi satu halaman.

Baris pertama membuat dadaku sesak.

“Untuk putriku, jika suatu hari surat ini sampai kepadamu.”

Tanganku gemetar.

Putraku memegang lenganku.

—Ibu…

Aku terus membaca.

Maya menulis bahwa ia memiliki seorang bayi perempuan.

Demi melindungi anak itu dari konflik keluarga, bayi tersebut dititipkan kepada seseorang yang sangat ia percaya.

Nama orang itu membuat seluruh tubuhku kaku.

Nama ayahku.

Lelaki yang membesarkanku seorang diri.

Lelaki yang selalu mengatakan ibuku meninggal ketika aku masih bayi.

Aku menutup mulut.

Potongan-potongan hidupku tiba-tiba tersusun.

Mengapa ayah begitu mahir memperbaiki piano meskipun tidak pernah membuka toko.

Mengapa sebelum meninggal ia memberikan semua peralatannya kepadaku.

Dan mengapa ia pernah berkata:

“Kalau suatu hari kau menemukan sebuah piano dengan tiga huruf terukir di bawah penutupnya, jangan buang.”

Aku selalu menganggap itu hanya pesan aneh dari seorang lelaki tua.

Ternyata bukan.

—Jadi Maya…

Suaraku hampir tidak keluar.

—Adalah ibuku?

Surya mengangguk perlahan.

Matanya merah.

—Ya.

Putraku menatapku dengan mata membesar.

Aku merasa kakiku kehilangan tenaga.

Namun ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting.

—Ibuku sekarang di mana?

Surya menunduk.

—Aku tidak tahu.

Aku langsung menatapnya.

—Anda bohong.

—Aku benar-benar tidak tahu.

Tiga belas tahun lalu, Surya menemukan petunjuk bahwa Maya mungkin masih hidup.

Itulah alasan ia mencari piano yang rusak.

Ia percaya Maya menyimpan sesuatu di dalam kedua piano tersebut.

Bukan hanya bukti kepemilikan perusahaan.

Tetapi juga petunjuk tentang keberadaannya.

—Lalu mengapa Anda begitu takut kepadaku?

Surya menutup wajahnya sebentar.

—Karena dulu aku pengecut.

Saat perebutan perusahaan terjadi, ia mengetahui beberapa kerabat sedang memalsukan dokumen.

Tetapi ia diam.

Ia takut kehilangan kedudukan.

Ketika Maya menghilang, ia baru menyadari diamnya telah membuat keadaan semakin buruk.

Sejak itu ia menghabiskan bertahun-tahun mencari kakaknya.

—Kalau begitu, mengapa di kartu itu tertulis “satu-satunya ahli waris”?

Surya menunjuk nomor seri di kotak.

—Jawabannya mungkin berada di piano milikmu.

Aku menatap jam.

Rumahku berjarak hampir satu jam perjalanan.

Aku mengambil ponsel.

—Kita ke sana sekarang.

Surya berdiri.

Namun sebelum kami meninggalkan panggung, putraku tiba-tiba memanggilku.

—Ibu, tunggu.

Ia kembali ke piano.

Kemudian memainkan empat nada pendek.

Klik.

Sebuah panel kecil lainnya terbuka.

Semua orang terdiam.

Di dalamnya terdapat sebuah kartu memori kecil yang dibungkus plastik.

Kami segera membawanya ke ruang administrasi sekolah.

Sebuah laptop disiapkan.

Hanya ada satu berkas video.

Tanggal rekamannya menunjukkan tiga belas tahun lalu.

Aku menekan tombol putar.

Layar gelap beberapa detik.

Kemudian seorang perempuan muncul.

Perempuan dari foto.

Maya.

Ibuku.

Ia duduk di depan sebuah piano.

Aku tidak sadar air mataku sudah jatuh.

Maya tersenyum ke arah kamera.

“Kalau yang menonton rekaman ini adalah putriku, berarti kedua piano akhirnya menemukan jalan untuk mempertemukan kita.”

Aku nín thở.

Ia melanjutkan:

“Jangan percaya bahwa warisan terbesar yang kutinggalkan adalah perusahaan.”

“Warisan sebenarnya adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli.”

“Dan kalau kau ingin menemukanku…”

Maya mengangkat selembar kertas ke depan kamera.

Di sana tertulis sebuah alamat.

Sebuah kota kecil di pulau lain.

Video berhenti.

Ruangan sunyi.

Aku nhìn địa chỉ ấy thật lâu.

Tiga belas năm aku giữ cây đàn mà không biết nó đang giữ con đường dẫn đến người mẹ mà aku từng nghĩ đã chết.

Putraku menggenggam tanganku.

—Ibu, kita akan mencarinya?

Aku menatapnya.

Lalu mengangguk.

—Ya.

Aku berdiri.

—Kita akan menemukannya.

Namun Surya tiba-tiba berkata dari belakang,

—Ada satu hal lagi yang harus kau ketahui sebelum pergi.

Aku menoleh.

Ia mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah foto lama, lalu menyerahkannya kepadaku.

Foto itu memperlihatkan Maya berdiri di depan sebuah rumah sederhana.

Di sampingnya ada seorang anak perempuan kecil.

Aku.

Tetapi bukan itu yang membuatku terdiam.

Di sudut foto terdapat tanggal pengambilan gambar.

Tanggal itu hanya…

enam tahun yang lalu.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)