Di Ulang Tahun Pertama Putriku, Kekasih Suamiku Datang Membawa Video Semalam dan Menertawakan Alasan Aku Tetap Menikah

Avatar penulis
Cerita 01
12 menit baca 48 tayangan
Auto Draft
Indeks

Bagian 2

Pada hari keempat, aku akhirnya membuka pintu kamar.

Adrian masih duduk di lantai lorong.

Kemejanya kusut. Rambutnya berantakan. Ada cangkir kopi dingin di samping kakinya dan sebuah selimut tipis yang tampaknya diberikan salah satu staf rumah.

Aku berdiri di ambang pintu cukup lama.

“Aku mau bicara.”

Adrian langsung berdiri.

“Nadira…”

“Jangan sentuh aku.”

Auto Draft

Tangannya yang hampir terangkat berhenti di udara.

Aku berjalan menuju ruang kerja kecil di lantai bawah dan meletakkan dua lembar kertas di meja.

“Aku tidak tahu apakah aku akan menceraikanmu.”

Wajah Adrian memucat.

“Tapi kalau aku memilih tinggal, jangan pernah mengira itu berarti aku melupakan apa yang kamu lakukan.”

Dia mengangguk cepat.

“Aku tahu.”

“Belum selesai.”

Aku menatap matanya.

“Aku akan kembali bekerja. Rekening pribadiku tetap milikku. Investasiku tetap atas namaku. Kalau kita membeli aset bersama, semuanya harus tercatat jelas. Aku tidak akan hidup sebagai perempuan yang suatu hari bisa ditinggalkan tanpa tahu apa yang dia miliki.”

Adrian menelan ludah.

“Baik.”

“Dan kita konseling.”

“Baik.”

“Tidak ada kata sandi rahasia, tidak ada perjalanan yang tiba-tiba tidak bisa dijelaskan, tidak ada perempuan yang harus kutemukan sendiri.”

Dia mengangguk lagi.

Aku kemudian mengatakan sesuatu yang membuat ekspresinya berubah.

“Kalau kamu mengulanginya, jangan berlutut di depan pintu kamar lagi. Tidak akan ada pintu yang kubuka.”

Untuk beberapa tahun, aku percaya Adrian mengerti.

Kami menjalani konseling.

Aku kembali bekerja.

Dua tahun kemudian aku melahirkan putra kami, Rafael.

Ketika Rafael lahir, ayah mertua dan ibu mertuaku mengalihkan saham PT Wijaya Investama kepadaku.

Aku bahkan sempat menolak.

Pak Surya tertawa ketika mendengarnya.

“Ini bukan hadiah supaya kamu tetap bersama Adrian.”

Dia mendorong dokumen di meja notaris ke arahku.

“Ini keputusan keluarga dan keputusan bisnis. Kamu sudah membantu restrukturisasi salah satu anak perusahaan kami selama hampir satu tahun. Dewan sudah melihat pekerjaanmu.”

Aku membaca dokumen itu tiga kali sebelum menandatangani.

Setahun kemudian Alina lahir.

Ibu Ratna memindahkan kepemilikan rumah Menteng kepadaku.

Sekali lagi, aku memastikan semuanya dilakukan secara resmi.

Sertifikat.

Akta hibah.

Pajak.

Dokumen notaris.

Namaku.

Bukan nama Adrian.

Bukan nama “keluarga Wijaya”.

Namaku.

Karena satu hal yang kupelajari sejak kehilangan kedua orang tuaku adalah cinta seharusnya tidak membuat seseorang menjadi bodoh terhadap masa depannya sendiri.

Dan sekarang, empat tahun setelah perselingkuhan pertama Adrian, aku berdiri di hadapan Tania sementara perempuan itu menunjukkan bukti bahwa suamiku baru saja menghancurkan kesempatan terakhir yang pernah kuberikan kepadanya.

Aku kembali menatapnya.

“Kamu tadi bertanya kenapa dulu aku tidak menceraikannya.”

Tania menyilangkan tangan.

“Ya.”

“Karena waktu itu aku masih mencintainya.”

Dia tertawa kecil.

Aku melanjutkan sebelum dia sempat mengatakan sesuatu.

“Dan karena manusia boleh memberi kesempatan kedua.”

Ekspresinya berubah sedikit.

“Tapi kesempatan kedua,” kataku, “tidak sama dengan kesempatan tanpa batas.”

Keheningan memenuhi ruangan.

Aku mengulurkan tangan.

“Boleh aku lihat videonya sekali lagi?”

Tania tampak curiga.

“Untuk apa?”

“Karena kalau kamu benar-benar ingin aku percaya bahwa itu tadi malam, aku perlu sesuatu lebih dari ucapanmu.”

Dia tersenyum tipis.

Mungkin dia mengira akhirnya aku panik.

Dia membuka video itu lagi.

Aku memperhatikan detail yang sebelumnya kulewatkan.

Kemeja Adrian.

Jam tangannya.

Tas kerja yang diletakkan di kursi.

Dan televisi di belakang mereka.

Di bagian bawah layar televisi ada baris berita dengan tanggal yang jelas.

Tadi malam.

Tidak ada lagi ruang untuk alasan.

Aku mengeluarkan ponsel.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Menghubungi pengacaraku.”

Senyumnya menghilang.

Aku menelepon Dina, pengacara yang selama bertahun-tahun menangani beberapa kontrak investasiku.

Dia menjawab pada dering kedua.

“Nadira?”

“Dina, aku butuh kamu malam ini.”

Nada suaranya langsung berubah serius.

“Ada masalah?”

“Aku akan mengakhiri pernikahanku.”

Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan, Tania tidak mengatakan apa-apa.

Aku berjalan menuju pintu.

“Nadira.”

Aku berhenti.

Tania menatapku.

“Aku pikir kamu akan marah.”

“Aku memang marah.”

“Tapi kamu bahkan tidak…”

“Apa?”

“Menamparku. Berteriak. Apa pun.”

Aku hampir tertawa.

“Aku tidak akan mempertaruhkan diriku sendiri hanya karena Adrian tidak mampu mengendalikan dirinya.”

Aku membuka pintu.

Sebelum keluar, aku menoleh lagi.

“Dan satu hal.”

Tania mengangkat dagu.

“Jangan pernah membawa anak-anakku ke dalam pertengkaranmu lagi.”

Tatapanku tidak berpindah darinya.

“Kamu boleh menghina aku. Kamu boleh menunjukkan seratus video. Tapi Rafael dan Alina tidak memilih ayah mereka dan tidak punya kewajiban menanggung kesalahan orang dewasa.”

Tania tidak menjawab.

Aku kembali ke ballroom.

Musik masih dimainkan.

Anak-anak berlarian.

Beberapa tamu tertawa seolah dunia tidak baru saja berubah bagiku.

Adrian melihatku dari seberang ruangan.

Dia langsung tahu.

Entah dari wajahku atau karena Tania tidak kembali bersamaku.

Dia menyerahkan percakapannya kepada ayahnya lalu berjalan cepat ke arahku.

“Nadira.”

Aku memandang panggung kecil tempat kue ulang tahun Alina sudah disiapkan.

“Potong kuenya dulu.”

Dia menatapku seolah tidak mengerti.

“Nadira, dengarkan aku.”

“Hari ini ulang tahun anak kita.”

Suaraku sangat pelan.

“Dia hanya akan punya satu ulang tahun pertama. Kamu sudah merusak cukup banyak hal. Jangan rusak fotonya juga.”

Wajah Adrian benar-benar kehilangan warna.

Aku berjalan melewatinya.

Lima belas menit kemudian kami berdiri di depan kue.

Alina berada dalam pelukanku.

Rafael berdiri di antara aku dan Adrian sambil mencoba meniup lilin adiknya.

Para tamu tertawa.

Fotografer mengambil gambar.

Dan Adrian tersenyum untuk kamera dengan mata yang sama sekali tidak tersenyum.

Tidak seorang pun tahu bahwa pernikahan kami baru saja berakhir.

Kecuali kami berdua.

Malam itu, setelah tamu terakhir pulang, Adrian mengikutiku sampai lorong hotel.

“Nadira, aku bisa jelaskan.”

Aku berhenti.

“Jelaskan.”

Dia membuka mulut.

Tidak ada suara keluar.

Aku menunggu.

“Dia menghubungiku beberapa minggu lalu.”

“Aku tahu bagian itu sekarang.”

“Aku tidak berniat…”

Aku tertawa pendek.

“Jangan.”

Dia terdiam.

“Jangan mengatakan kamu tidak berniat tidur dengannya setelah kamu masuk ke kamarnya.”

Mata Adrian memerah.

“Itu cuma sekali.”

“Empat tahun lalu juga kamu bilang begitu.”

“Nadira…”

“Aku sudah memberimu hal paling mahal yang pernah kuberikan kepada siapa pun.”

“Apa?”

“Kesempatan kedua.”

Aku menatapnya lurus.

“Dan kamu baru saja membuktikan bahwa aku membuangnya.”

Adrian menangis.

Kali ini aku tidak ikut menangis.

Aku hanya merasa sangat, sangat lelah.

“Aku pulang ke Menteng malam ini bersama anak-anak.”

“Itu rumahmu.”

“Benar.”

Aku mengangguk.

“Karena itu aku bisa pulang ke sana tanpa meminta izinmu.”

Dia mengusap wajahnya.

“Aku tidak mau kehilangan kalian.”

“Kamu seharusnya memikirkan itu kemarin malam.”

Aku berjalan pergi.

Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya tujuh tahun lalu, Adrian tidak mengikutiku.

Bagian 3

Perceraianku tidak berlangsung secepat dalam film.

Tidak ada hakim mengetukkan palu seminggu kemudian.

Tidak ada Adrian tiba-tiba kehilangan seluruh hartanya.

Tidak ada Tania mendapat hukuman ajaib dari semesta.

Yang ada hanyalah dokumen.

Pertemuan.

Pengacara.

Pembicaraan panjang mengenai anak-anak.

Daftar aset.

Jadwal pengasuhan.

Dan dua keluarga yang harus menerima bahwa hubungan yang selama bertahun-tahun terlihat kokoh dari luar ternyata sudah retak jauh sebelum semua orang menyadarinya.

Pak Surya datang ke rumah Menteng tiga hari setelah pesta ulang tahun Alina.

Dia datang sendirian.

Aku mempersilahkannya duduk di ruang tamu.

Selama beberapa menit dia hanya memandang foto Rafael dan Alina di atas piano.

“Ayah sudah bicara dengan Adrian.”

Aku mengangguk.

“Ayah tidak datang untuk meminta kamu memaafkan dia.”

Kalimat itu membuatku menoleh.

Pak Surya menghela napas panjang.

“Kesalahan anak saya bukan tanggung jawab kamu untuk perbaiki.”

Mataku panas.

Mungkin itulah kalimat pertama selama beberapa hari yang hampir membuatku menangis.

“Ayah hanya ingin memastikan satu hal,” lanjutnya. “Apa pun yang terjadi antara kamu dan Adrian, kamu tetap ibu dari cucu-cucu kami.”

“Pak…”

“Dan saham kamu tetap saham kamu.”

Aku terdiam.

Dia menatapku serius.

“Jangan sampai ada orang yang membuatmu percaya keluarga memberi itu supaya kamu menoleransi kelakuan Adrian. Dewan sudah mencatat pengalihannya. Saham itu sah. Dividen itu hakmu.”

Aku menunduk sebentar.

“Terima kasih.”

Pak Surya tersenyum tipis.

“Kalau mau berterima kasih, jangan hilangkan cucu saya dari kalender makan malam hari Minggu.”

Aku tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak pesta.

“Tidak akan.”

Ibu Ratna datang keesokan harinya membawa makanan terlalu banyak.

Dia memelukku begitu masuk rumah.

Tidak mengatakan apa-apa selama hampir satu menit.

Ketika akhirnya melepaskan pelukannya, matanya merah.

“Aku marah sekali sama anakku.”

Aku hampir tersenyum.

“Bu…”

“Jangan bela dia.”

“Aku tidak akan.”

“Bagus.”

Dia duduk di sofa.

“Rumah ini milikmu. Perhiasan yang kuberikan juga milikmu. Jangan kembalikan hanya karena kamu dan Adrian berpisah.”

“Aku memang sempat berpikir…”

Ibu Ratna langsung menunjukku.

“Jangan.”

Aku tertawa meskipun air mata mulai jatuh.

Dia ikut menangis.

Malam itu kami makan bersama di dapur.

Bukan sebagai mertua dan menantu yang sedang mempertahankan citra keluarga.

Hanya sebagai dua perempuan yang sama-sama kecewa kepada laki-laki yang mereka cintai dengan cara berbeda.

Tania mengirimiku pesan dua minggu kemudian.

Panjang sekali.

Aku hampir tidak membacanya.

Dia mengatakan Adrian tidak pernah menjanjikan akan meninggalkanku.

Dia mengaku mendatangiku karena marah setelah menyadari Adrian masih memperlakukannya seperti rahasia.

Pada akhirnya, dia juga ternyata berharap sesuatu yang tidak pernah diberikan Adrian.

Aku hanya membalas satu kalimat.

“Semoga setelah ini kita sama-sama memilih hidup yang tidak bergantung pada kebohongan orang lain.”

Setelah itu aku memblokir nomornya.

Bukan karena membencinya.

Aku hanya tidak membutuhkan dia lagi di dalam hidupku.

Yang jauh lebih sulit adalah Adrian.

Selama beberapa bulan pertama, dia datang menemui anak-anak sesuai jadwal.

Tidak pernah terlambat.

Tidak pernah membawa Tania.

Tidak pernah mencoba menggunakan Rafael atau Alina untuk menyampaikan pesan kepadaku.

Suatu sore, ketika dia mengembalikan anak-anak, Rafael berlari masuk mengambil robot mainannya sementara Alina tertidur di gendongan pengasuh.

Adrian berdiri di teras.

“Aku mulai terapi.”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

“Aku tidak bilang supaya kamu berubah pikiran.”

“Bagus.”

Dia tersenyum pahit.

“Aku tahu aku tidak punya hak meminta itu.”

Kami diam beberapa saat.

Lalu Adrian berkata, “Aku dulu selalu takut kamu sadar kamu tidak membutuhkan aku.”

Aku memandangnya.

Dia tertawa pelan tanpa bahagia.

“Lucunya, ketakutan itu malah membuatku melakukan hal-hal yang akhirnya membuktikan kamu memang bisa hidup tanpa aku.”

Aku tidak menjawab.

Karena dia benar.

Tapi ada satu hal yang baru kusadari setelah kami berpisah.

Tujuanku selama ini bukan membuktikan bahwa aku tidak membutuhkan siapa pun.

Mandiri bukan berarti hidup sendirian.

Mandiri berarti tetap punya pilihan.

Aku bisa memilih mencintai seseorang tanpa menyerahkan kendali atas hidupku.

Aku bisa memilih memaafkan tanpa wajib memaafkan selamanya.

Aku bisa memilih pergi tanpa kehilangan rumah, makanan, masa depan, atau harga diriku.

Dan terutama, aku bisa mengajari anak-anakku bahwa sebuah keluarga tidak harus terlihat sempurna untuk menjadi tempat yang aman.

Enam bulan kemudian perceraian kami resmi.

Pengasuhan anak diatur bersama dengan jadwal yang jelas.

Tidak ada perang besar mengenai harta karena sebagian besar kepemilikan kami sudah tercatat dengan baik.

Sahamku tetap milikku.

Rumah Menteng tetap milikku.

Adrian tetap memiliki asetnya sendiri.

Yang berubah hanyalah hubungan di antara kami.

Anehnya, setelah tidak lagi menjadi suamiku, Adrian perlahan belajar menjadi ayah yang lebih baik.

Bukan sempurna.

Aku juga tidak membutuhkan dia sempurna.

Aku hanya membutuhkan dia hadir untuk anak-anak.

Pada ulang tahun kedua Alina, kami tidak menyewa ballroom hotel.

Aku memilih mengadakan pesta kecil di halaman rumah Menteng.

Ada balon.

Meja panjang.

Kue berbentuk kelinci yang salah satu telinganya miring karena Rafael menyentuhnya sebelum waktunya.

Hanya keluarga dan beberapa teman dekat yang datang.

Pak Surya memanggang sate bersama sopir lamanya sambil bersikeras saus buatannya paling enak.

Ibu Ratna mengejar Alina yang berlari tanpa sepatu.

Aku berdiri di bawah pohon mangga sambil memegang segelas es teh ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Adrian turun.

Sendirian.

Dia membawa sebuah kotak hadiah kecil.

Rafael langsung berlari.

“Ayah!”

Adrian membungkuk dan menangkapnya.

Aku melihat mereka dari kejauhan.

Dulu pemandangan seperti itu mungkin akan membuatku bertanya apakah aku seharusnya memberi Adrian satu kesempatan lagi.

Sekarang tidak.

Aku akhirnya mengerti bahwa akhir bahagia tidak selalu berarti dua orang kembali bersama.

Kadang akhir bahagia adalah dua orang berhenti saling menghancurkan dan mulai melakukan satu hal yang masih bisa mereka lakukan dengan benar.

Menjadi orang tua.

Setelah meniup lilin, Alina berlari ke arahku dengan krim kue memenuhi pipinya.

“Mama!”

Aku mengangkatnya.

“Apa?”

Dia menempelkan wajahnya ke pipiku.

Krim putih langsung berpindah ke wajahku.

Semua orang tertawa.

Aku juga.

Rafael datang membawa tisu, lalu malah menggunakan tisu itu untuk mengusap tangannya sendiri.

“Terima kasih banyak, Kak,” kataku.

Dia tertawa dan berlari pergi.

Dari sisi halaman, aku melihat Adrian memperhatikan kami.

Tatapan kami bertemu.

Dia memberikan anggukan kecil.

Aku membalasnya.

Tidak ada amarah.

Tidak ada kerinduan.

Hanya pengakuan diam-diam bahwa kami pernah memiliki sesuatu yang indah, kami pernah merusaknya, dan sekarang kami bertanggung jawab memastikan serpihannya tidak melukai anak-anak kami.

Malamnya, setelah semua tamu pulang dan kedua anakku tertidur, aku duduk sendirian di teras lantai dua rumah Menteng.

Jakarta masih ramai di kejauhan.

Lampu kendaraan bergerak di antara pepohonan dan gedung.

Di meja kecil di sampingku terdapat laporan dividen terbaru, proposal investasi yang harus kubaca, dan secangkir teh yang sudah hampir dingin.

Empat tahun sebelumnya aku pernah mengira memaafkan Adrian adalah bukti bahwa aku kuat.

Kemudian aku mengira meninggalkannya adalah bukti bahwa aku kuat.

Sekarang aku tahu keduanya salah.

Kekuatan bukan terletak pada tinggal atau pergi.

Kekuatan adalah memiliki pilihan dan berani menerima konsekuensi dari pilihan itu.

Aku pernah memilih tinggal karena saat itu aku masih melihat sesuatu yang layak diperjuangkan.

Aku tidak menyesalinya.

Dari tahun-tahun itu lahir Rafael dan Alina, dua manusia kecil yang tidak akan pernah kusebut sebagai kesalahan.

Kemudian aku memilih pergi ketika Adrian membuktikan bahwa kepercayaan yang kuberikan kepadanya tidak lagi aman.

Aku juga tidak menyesalinya.

Aku mengambil ponsel dan membuka sebuah foto dari pesta sore tadi.

Rafael sedang tertawa.

Alina memegang potongan kue dengan kedua tangan.

Ibu Ratna berdiri di belakang mereka.

Pak Surya sedang melakukan sesuatu di dekat panggangan.

Dan di ujung foto ada Adrian, berjongkok sambil membantu Alina memakai sepatunya.

Aku memperbesar foto itu sebentar.

Kemudian tersenyum.

Keluargaku memang tidak berbentuk seperti yang dulu kubayangkan.

Tetapi keluarga itu masih ada.

Hanya bentuknya yang berubah.

Dan tentang perempuan-perempuan yang dulu berbisik bahwa aku bertahan karena tidak punya tempat untuk pergi?

Mereka salah.

Aku punya tempat untuk pergi.

Aku punya rumah atas namaku.

Aku punya pekerjaan.

Aku punya investasi.

Aku punya penghasilan sendiri.

Aku punya dua anak yang memenuhi rumah dengan suara langkah kecil sejak pagi.

Dan yang paling penting, aku punya kehidupan yang tidak lagi harus kupertahankan dengan berpura-pura tidak melihat kebohongan.

Aku tidak menang karena mendapatkan rumah seharga lebih dari Rp150 miliar.

Aku tidak menang karena memiliki saham perusahaan atau dividen belasan miliar rupiah.

Dan aku juga tidak menang karena perempuan yang menjadi kekasih mantan suamiku akhirnya pergi.

Tidak ada perlombaan.

Tidak ada pemenang.

Yang ada hanyalah seorang perempuan yang akhirnya memahami bahwa keamanan finansial memberinya sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kemewahan.

Pilihan.

Hari ini, kalau aku mencintai seseorang lagi, aku ingin melakukannya bukan karena aku membutuhkan rumahnya, uangnya, nama keluarganya, atau perlindungannya.

Aku ingin tinggal karena aku memilih tinggal.

Dan jika suatu hari orang itu membuatku kehilangan alasan untuk tetap tinggal…

Aku tahu persis di mana pintunya.