BAGIAN 3 — Perjalanan Mencari Ibuku Berakhir di Sebuah Sekolah Musik Kecil, dan Warisan Sesungguhnya Mengubah Kehidupan Kami Selamanya
Enam tahun yang lalu.
Berarti Maya masih hidup setidaknya sampai saat itu.
Aku menatap Surya.
—Dari mana Anda mendapatkan foto ini?
—Seorang mantan pegawai mengirimkannya kepadaku.
—Mengapa Anda tidak langsung pergi mencarinya?
—Aku pergi.
Surya menatap foto tersebut.
—Tapi ketika aku sampai, dia sudah pindah.
Malam itu juga aku pulang mengambil piano yang selama tiga belas tahun kusimpan.
Untuk pertama kalinya, putraku melihatnya.
Ia berjalan mengelilingi piano tersebut.
—Jadi ini milik nenek?
Aku mengangguk.
Kami membuka bagian belakang piano.
Kaset tua itu masih tersimpan di tempat yang sama.
Namun kali ini aku memiliki sesuatu yang dulu tidak kumiliki.
Kunci kuningan.
Aku memasukkannya ke lubang kecil di bawah rangka.
Klik.
Sebuah laci tersembunyi terbuka.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar partitur, sebuah buku tabungan lama, dan dokumen pendirian yayasan pendidikan musik.
Tidak ada sertifikat perusahaan.
Tidak ada saham bernilai fantastis.
Aku justru merasa lega.
Di halaman terakhir dokumen terdapat tulisan tangan Maya:
“Jika putriku menemukan ini, gunakanlah untuk membuat musik sampai kepada anak-anak yang tidak mampu membelinya.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Akhirnya aku mengerti.
“Satu-satunya ahli waris” bukan hanya tentang kekayaan.
Aku mewarisi sesuatu yang jauh lebih berat.
Sebuah tanggung jawab.
Dua hari kemudian, aku, putraku, dan Surya berangkat menuju kota yang disebut dalam video.
Perjalanan membawa kami ke sebuah daerah yang jauh lebih sederhana daripada kehidupan yang kukenal.
Tidak ada gedung tinggi.
Tidak ada pusat perbelanjaan mewah.
Alamat tersebut membawa kami ke sebuah sekolah musik kecil.
Cat temboknya mulai pudar.
Di halaman, belasan anak sedang memainkan alat musik sederhana.
Beberapa gitar sudah tua.
Biola mereka penuh goresan.
Di salah satu ruang kelas terdengar piano.
Melodi yang sama.
Melodi dari kaset.
Aku berhenti berjalan.
Putraku menatapku.
—Ibu…
Aku membuka pintu.
Seorang perempuan berambut putih duduk membelakangi kami.
Tangannya bergerak perlahan di atas tuts.
Surya tidak mampu berkata apa-apa.
Air matanya langsung jatuh.
—Kak…
Permainan piano berhenti.
Perempuan itu membeku.
Beberapa detik kemudian ia berdiri dan berbalik.
Aku melihat wajahnya.
Lebih tua daripada dalam video.
Ada kerutan di sekitar matanya.
Rambutnya hampir seluruhnya putih.
Tetapi aku mengenali mata itu.
Mata yang kulihat setiap pagi ketika bercermin.
Maya menatap Surya terlebih dahulu.
Kemudian kepadaku.
Tangannya mulai gemetar.
—Kau…
Aku tidak tahu harus mengatakan apa.
Aku pernah membayangkan memiliki seorang ibu sejak kecil.
Namun sekarang ketika perempuan itu benar-benar berdiri di depanku, semua pertanyaan yang kusimpan puluhan tahun menghilang.
Yang tersisa hanya satu kalimat.
—Mengapa Ibu tidak pernah pulang?
Maya menangis.
Ia berjalan mendekat, tetapi berhenti beberapa langkah dariku.
Seolah takut aku akan mundur.
—Karena Ibu takut membawa bahaya kembali kepadamu.
Setelah konflik keluarga terjadi, Maya menemukan bahwa beberapa orang yang mengincar perusahaan juga mencari anaknya.
Ia menitipkanku kepada ayah angkatku, orang yang dahulu menjadi teknisi piano kepercayaannya.
Ia berniat kembali ketika semuanya aman.
Namun keadaan berubah.
Dokumen-dokumennya hilang.
Yayasan dibekukan.
Ia berpindah-pindah tempat selama bertahun-tahun.
Ketika akhirnya mengetahui aku telah tumbuh dengan aman, ia memilih tidak muncul.
—Itu keputusan yang salah, katanya sambil menangis. —Ibu pikir selama kau bahagia, kehadiran Ibu hanya akan mengacaukan hidupmu.
Aku menatap perempuan di depanku.
Aku marah.
Aku sedih.
Tetapi melihat tangannya yang gemetar, aku sadar tiga puluh tahun rasa kehilangan tidak mungkin diselesaikan dalam satu pelukan.
Jadi aku tidak langsung memeluknya.
Aku hanya berkata,
—Kalau begitu, mulai sekarang jangan menghilang lagi.
Maya menutup mulutnya.
Kemudian mengangguk berkali-kali.
Putraku yang sejak tadi berdiri di sampingku tiba-tiba maju.
—Nenek?
Maya menatapnya.
Tangisnya pecah.
Putraku tersenyum malu-malu.
—Aku bisa memainkan lagu Nenek.
Hari itu, tiga generasi keluarga kami duduk di depan piano yang sama.
Maya memainkan bagian pertama.
Putraku melanjutkan bagian kedua.
Dan untuk pertama kalinya aku mendengar melodi itu sampai selesai.
Surya berdiri di dekat pintu sambil menangis diam-diam.
Aku tidak melupakan kesalahannya.
Maya juga tidak.
Tetapi Surya menyerahkan semua dokumen yang ia miliki kepada penyelidik dan membantu menyelesaikan sengketa perusahaan keluarga secara resmi.
Beberapa kerabat yang terbukti melakukan pemalsuan harus mempertanggungjawabkan tindakan mereka.
Sementara bagian aset yang secara sah menjadi hak Maya akhirnya dikembalikan.
Maya tidak mengambil semuanya untuk dirinya sendiri.
Sebagian besar dialihkan ke yayasan pendidikan musik yang dahulu ia dirikan.
Aku juga mengambil keputusan besar.
Aku tidak meninggalkan bengkel restorasi milikku.
Sebaliknya, aku menggabungkan keahlianku dengan yayasan Maya.
Kami mulai menerima piano, gitar, dan biola tua yang tidak lagi digunakan.
Timku memperbaikinya.
Lalu alat-alat musik tersebut dikirim ke sekolah-sekolah kecil dan komunitas yang membutuhkannya.
Program itu kami beri nama sederhana:
Nada Kedua.
Karena aku percaya alat musik yang dianggap rusak pun berhak mendapatkan kesempatan kedua.
Begitu pula manusia.
Setahun kemudian, sekolah musik kecil tempat aku menemukan Maya telah berubah.
Bangunannya direnovasi.
Ruang kelas bertambah.
Namun kami mempertahankan piano tua di aula utama.
Aku tidak pernah menggantinya.
Suatu sore, aku datang membawa kamera.
Putraku kini duduk di depan piano bersama beberapa anak lain.
Maya berdiri di belakang mereka sebagai guru.
Rambutnya tetap putih.
Namun senyumnya jauh lebih hidup.
Aku mengangkat kamera.
Klik.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memiliki foto keluarga yang lengkap.
Bukan keluarga yang sempurna.
Bukan keluarga tanpa luka.
Tetapi keluarga yang memilih untuk tetap tinggal.
Beberapa bulan kemudian, sekolah lama putraku mengundang kami kembali.
Kali ini bukan sebagai peserta kompetisi.
Mereka mengundang putraku tampil dalam konser amal untuk mengumpulkan dana pembelian alat musik bagi sekolah-sekolah terpencil.
Aku duduk di kursi yang hampir sama seperti setahun sebelumnya.
Surya berada beberapa kursi dariku.
Maya duduk di sampingku.
Ketika putraku naik ke panggung, tepuk tangan memenuhi aula.
Di tengah panggung berdiri dua piano.
Keduanya telah direstorasi.
Sepasang piano yang terpisah selama puluhan tahun akhirnya berdiri berdampingan.
Putraku duduk di piano pertama.
Seorang siswi penerima beasiswa duduk di piano kedua.
Mereka mulai memainkan melodi Maya.
Aku menoleh kepadanya.
Air mata mengalir di pipinya.
Namun kali ini ia tersenyum.
—Dulu Ibu menyembunyikan semuanya di dalam piano karena takut sesuatu akan hilang, katanya.
Aku menggenggam tangannya.
—Sekarang tidak perlu menyembunyikan apa pun lagi.
Di akhir pertunjukan, putraku mengambil mikrofon.
—Ibu saya pernah mengatakan bahwa satu nada yang salah tidak menentukan seluruh lagu.
Aku tersenyum.
Anak itu masih mengingatnya.
—Sekarang aku mengerti maksudnya. Keluarga kami pernah kehilangan banyak nada. Tapi kami masih bisa melanjutkan lagunya.
Seluruh aula bertepuk tangan.
Aku tidak bisa menahan air mata.
Setelah konser selesai, kami kembali ke panggung untuk mengambil foto.
Surya sempat berdiri agak jauh.
Aku melihatnya.
Lalu menunjuk tempat kosong di samping Maya.
—Berdiri di sana.
Ia terdiam.
—Aku juga?
—Foto keluarga tidak berarti semua kesalahan sudah dilupakan, kataku. —Tapi seseorang yang benar-benar ingin memperbaiki kesalahan harus diberi kesempatan untuk membuktikannya.
Surya mengangguk.
Ia berdiri di samping kakaknya.
Aku mengatur kamera dengan timer lalu berlari ke samping putraku.
Sepuluh detik.
Sembilan.
Delapan.
Putraku menarik tanganku.
Maya memegang bahuku.
Surya tersenyum canggung.
Tiga.
Dua.
Satu.
Klik.
Kamera menangkap momen itu.
Bertahun-tahun lalu, aku hidup dengan memperbaiki benda-benda yang dianggap orang lain sudah rusak.
Aku menyambung kayu retak.
Mengganti senar.
Memperbaiki tuts yang tidak lagi berbunyi.
Aku selalu percaya sebuah piano tidak harus kembali sempurna untuk dapat menghasilkan musik yang indah.
Anehnya, aku baru memahami bahwa hal yang sama berlaku untuk keluarga setelah menemukan ibuku.
Ada luka yang tidak bisa dihapus.
Ada waktu yang tidak bisa dikembalikan.
Ada kesalahan yang tetap harus dipertanggungjawabkan.
Namun selama masih ada orang yang bersedia memperbaiki, mendengar, meminta maaf, dan tinggal…
Sebuah keluarga masih dapat menemukan melodinya kembali.
Malam itu, setelah semua orang pulang, putraku berdiri di antara dua piano tua.
—Ibu, nanti piano ini akan disimpan di mana?
Aku tersenyum.
—Tidak akan disimpan lagi.
—Kenapa?
Aku memandang dua piano yang pernah menyimpan begitu banyak rahasia.
—Karena benda yang diciptakan untuk menghasilkan musik tidak seharusnya menghabiskan hidupnya di dalam gudang.
Putraku berpikir sebentar.
Lalu tersenyum.
—Sama seperti rahasia?
Aku tertawa kecil.
—Ya.
—Rahasia juga tidak seharusnya disimpan selamanya.
Maya memanggil kami dari pintu.
—Ayo pulang.
Kata sederhana itu membuatku terdiam.
Pulang.
Dulu bagiku rumah hanyalah tempat aku dan putraku tinggal.
Sekarang maknanya berbeda.
Aku mematikan lampu panggung.
Putraku menggandeng tangan kiriku.
Maya menggandeng tangan kananku.
Kami berjalan keluar bersama.
Di belakang kami, dua piano tua berdiri berdampingan dalam cahaya terakhir dari lorong.
Tiga belas tahun lalu, aku membawa pulang sebuah piano terbakar karena mengira sedang menyelamatkan benda tua dari kehancuran.
Aku tidak pernah menyangka bahwa sebenarnya…
piano itulah yang sedang menjaga jalan pulang untukku.
Dan setelah perjalanan yang begitu panjang, akhirnya aku menemukan bukan hanya kebenaran tentang masa laluku.
Aku menemukan ibuku.
Putraku menemukan neneknya.
Dan kami semua menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada warisan mana pun.
Kesempatan kedua untuk menjadi sebuah keluarga.
