Bagian 3 — Aku Membawa Tabel Itu ke Rumah Mertua, Mengembalikannya di Depan Semua Orang, dan Meminta Mereka Menanggung Keputusan yang Mereka Buat Sendiri
Aku menoleh perlahan ke arah Dimas.
“Bagian lantai tiga?”
Wajah Dimas langsung berubah.
Istrinya menarik ujung bajunya.
“Mas, sudah.”
Tetapi terlambat.
Aku menatap Mama Ratna.
“Ternyata pembagiannya sudah sampai lantai juga?”
Mama Ratna berdiri kaku.
“Itu cuma pembicaraan.”
“Pembicaraan seperti apa?”
Dimas menghela napas, mungkin sadar semuanya sudah terbuka.
“Mama bilang lantai tiga nanti bisa aku pakai. Aku kan masih kontrak. Katanya kalau rumah sudah jadi, aku sama Sinta pindah ke sana.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Aku bahkan tidak tahu harus memberi nama apa untuk perasaan di dadaku saat itu.
Rumah yang uang mukanya meminta Rp420 juta dari kami.
KPR dua puluh tahun memakai kapasitas finansial suamiku.
Apartemen pribadiku disarankan untuk dijual.
Sertifikat diinginkan atas nama mertua.
Lalu satu lantai sudah dijanjikan kepada adik iparku.
Dan kami bahkan baru mengetahui seluruh rencana itu setelah booking fee dibayar.
Aku menatap Arga.
Wajah suamiku sudah sangat merah.
“Kamu tahu?”
“Enggak.”
Aku percaya.
Bukan karena ingin membelanya.
Tetapi karena ekspresi marah Arga saat itu bukan ekspresi seseorang yang sedang berpura-pura terkejut.
Dia benar-benar tidak tahu.
Arga mengambil ponselnya.
“Nomor orang bank siapa, Ma?”
Mama Ratna tidak menjawab.
“Ma.”
“Untuk apa kamu telepon sekarang?”
“Untuk tarik pengajuan.”
“Kamu jangan bodoh!”
Suara Mama Ratna meninggi.
“Kesempatan dapat rumah seperti itu enggak datang dua kali.”
Arga menatap ibunya.
“Rumah siapa?”
Mama Ratna terdiam.
“Kalau rumahnya untuk keluarga,” lanjut Arga, “kenapa aku yang harus punya utang sampai umur hampir lima puluh lima, tapi nama aku bahkan enggak ada di kepemilikan?”
“Kamu anak Mama!”
“Justru karena aku anak Mama, Mama seharusnya bicara dulu.”
Papa Hendra akhirnya bergerak dari kursinya.
“Sudah, Ga. Jangan keras sama ibu.”
Arga tertawa pendek.
“Papa tahu soal lantai tiga?”
Papa Hendra tidak menjawab.
Itu cukup.
Aku mulai sadar bahwa yang sebenarnya tidak mengetahui rencana lengkap hanyalah aku dan Arga.
Mama Ratna membuka lemari kecil di samping televisi, mengambil kartu nama seseorang, lalu melemparkannya ke atas meja.
“Nih. Telepon kalau memang kalian mau mempermalukan Mama.”
Arga mengambil kartu itu.
Namanya Beni, relationship officer sebuah bank swasta.
Arga menelepon dari speaker.
Setelah menjelaskan identitasnya, percakapan itu hanya berlangsung sekitar tujuh menit.
Dan tujuh menit itulah yang akhirnya menyelamatkan kami dari masalah yang bisa berjalan selama bertahun-tahun.
Beni menjelaskan bahwa dokumen Arga baru dipakai untuk pengecekan awal kemampuan kredit.
Belum ada akad.
Belum ada persetujuan final.
Belum ada kewajiban utang.
Arga dengan tegas mengatakan bahwa dia menarik diri dari seluruh proses.
“Mohon dicatat saya tidak memberikan persetujuan untuk pengajuan KPR properti tersebut.”
Beni mengonfirmasi.
Mama Ratna berdiri dengan kedua tangan mengepal.
Begitu telepon berakhir, ia langsung berkata,
“Kamu puas sekarang, Nadira?”
Aku menatapnya.
“Kenapa saya?”
“Sejak kamu masuk keluarga ini, Arga berubah.”
Arga langsung berdiri di antara kami.
“Jangan bawa Nadira terus, Ma. Aku yang menelepon.”
“Kalau bukan karena dia, kamu enggak akan berani melawan Mama.”
Aku sebenarnya sudah mendengar kalimat semacam itu berkali-kali.
Menantu dianggap penyebab anak laki-laki berubah.
Seolah-olah laki-laki yang sudah menikah tidak memiliki pikiran sendiri.
Seolah-olah setelah punya pasangan, setiap batas yang dibuatnya pasti merupakan hasil hasutan istri.
Namun hari itu aku tidak mau lagi menjelaskan diriku.
Aku mengambil kertas pembagian dana dari meja.
Aku melipatnya sekali.
Lalu meletakkannya tepat di depan Mama Ratna.
“Ma.”
Ia menatapku.
“Kalau Mama ingin membeli rumah itu, silakan.”
Aku menunjuk angka yang tercetak di atas kertas.
“Rp420 juta ini tidak akan kami bayar.”
Lalu kutunjuk catatan tentang apartemenku.
“Dan apartemen Kalibata saya tidak dijual.”
“Itu kan cuma saran.”
“Properti yang saya beli enam tahun sebelum menikah tidak masuk dalam perencanaan keuangan siapa pun kecuali saya.”
Mama Ratna menggigit bibir.
Aku melanjutkan.
“Tabungan kami juga bukan dana cadangan keluarga yang bisa dibagi tanpa izin.”
Papa Hendra tampak tidak nyaman.
“Nadira, mungkin bahasanya Mama kurang tepat.”
“Masalahnya bukan bahasa, Pa.”
Aku mengambil satu lembar lain.
“Masalahnya ada angkanya.”
Aku membaca.
“Papa dan Mama Rp300 juta.”
Aku menunjuk baris berikutnya.
“Dimas Rp50 juta.”
Lalu baris kami.
“Arga dan Nadira Rp420 juta.”
Aku menatap semua orang.
“Jadi dari DP Rp770 juta, kami diminta menyediakan bagian terbesar. Belum cicilan KPR.”
Dimas menggaruk tengkuknya.
“Mama bilang cicilan nanti kan dibantu.”
“Berapa?”
Dia tidak menjawab.
Aku membuka halaman kedua.
“Mama sendiri menulis di sini. Angsuran diperkirakan Rp26 juta per bulan. Kami Rp20 juta. Mama dan Papa Rp6 juta.”
Sinta, istri Dimas, pelan-pelan menundukkan kepala.
Aku menatap Dimas.
“Kontribusi kamu bulanan?”
Dia menggeleng kecil.
“Mama bilang aku bantu listrik sama internet.”
Aku benar-benar hampir tertawa.
Jadi adik iparku mendapatkan satu lantai dengan kontribusi Rp50 juta plus listrik dan internet.
Sedangkan kami harus menghabiskan seluruh tabungan, menanggung mayoritas cicilan dua puluh tahun, dan tetap tidak memiliki rumah.
Aku memandang Mama Ratna.
“Sekarang saya mengerti kenapa Mama buru-buru booking sebelum bicara.”
Matanya menyipit.
“Apa maksudmu?”
“Karena setelah uang Rp50 juta masuk, Mama berharap kami merasa bersalah kalau menolak.”
Suasana mendadak sangat sunyi.
Tidak ada satu pun orang membantah.
Dan ketidakmampuan mereka membantah justru terasa seperti jawaban.
Aku mengambil tas.
“Kami pulang.”
Mama Ratna tiba-tiba berkata,
“Kalau uang booking itu hangus, kalian harus ganti setengah.”
Aku berhenti di pintu.
“Tidak.”
“Kalian penyebab transaksinya batal.”
Aku berbalik.
“Transaksi apa yang pernah kami setujui?”
“Rumah itu untuk kalian juga!”
“Mama memilih rumahnya.”
“Mama yang bernegosiasi.”
“Mama yang membayar booking fee.”
“Mama yang menentukan pemilik.”
“Mama juga yang membagi kewajiban semua orang.”
Aku menarik napas.
“Keputusan sepihak menghasilkan tanggung jawab sepihak.”
Untuk beberapa detik, tidak ada suara.
Lalu Arga berdiri di sebelahku.
“Dan aku enggak akan mengganti booking fee itu, Ma.”
Itu pertama kalinya sejak aku mengenalnya Arga mengatakan “tidak” kepada ibunya tanpa menambahkan alasan panjang.
Kami pulang.
Di dalam mobil, hampir dua puluh menit tidak ada yang bicara.
Aku melihat jalan tol dari jendela.
Marahku terhadap Mama Ratna belum hilang.
Tetapi ada kemarahan lain yang lebih dekat.
Lebih menyakitkan.
“Kenapa kamu kasih slip gaji?”
Arga memegang setir lebih erat.
“Aku salah.”
“Kenapa?”
“Aku pikir cuma simulasi.”
“Kamu bisa bilang enggak.”
“Aku tahu.”
Aku menatapnya.
“Aku bukan marah karena Mama kamu mencoba.”
“Aku marah karena kamu membuka pintu.”
Dia tidak membela diri.
Dan justru karena itu aku melanjutkan.
“Ga, kalau kita mau tetap menikah sehat, aku enggak bisa terus jadi orang yang tugasnya mengatakan tidak ke keluargamu sementara kamu berdiri di tengah.”
“Aku ngerti.”
“Enggak. Selama ini kamu belum ngerti.”
Aku menatap lurus kepadanya.
“Setiap Mama minta sesuatu, kamu kasih sedikit supaya enggak ribut.”
“Slip gaji sedikit.”
“Fotokopi KTP sedikit.”
“Informasi pendapatan sedikit.”
“Lama-lama kita bangun dan menemukan nama kita sudah ada di pengajuan utang miliaran.”
Arga diam lama.
Kemudian dia berkata,
“Aku akan bereskan.”
Aku tidak menjawab.
Aku ingin melihat tindakan.
Bukan janji.
Malam itu, Arga duduk hampir satu jam di meja makan.
Dia membuka seluruh rekening, kartu kredit, cicilan, dan dokumen finansial kami.
Kemudian dia membuat daftar.
Semua dokumen pribadi yang pernah dia kirim kepada keluarga.
Semua pengeluaran rutin untuk orang tuanya.
Semua kewajiban yang selama ini dia ambil tanpa benar-benar membicarakannya denganku.
Tidak banyak.
Tetapi cukup untuk membuktikan satu pola.
Setiap kali Mama Ratna meminta sesuatu dengan alasan “keluarga”, Arga selalu lebih takut dianggap anak tidak berbakti daripada takut membebani rumah tangganya sendiri.
Malam itu kami membuat satu aturan.
Komitmen finansial di atas Rp10 juta harus dibicarakan berdua.
Tidak ada pengiriman KTP, NPWP, slip gaji, mutasi rekening, atau dokumen kredit kepada siapa pun tanpa sepengetahuan pasangan.
Tidak ada menjadi penjamin.
Tidak ada meminjamkan nama.
Tidak ada menggunakan aset pribadi salah satu pihak untuk proyek keluarga besar.
Dua hari setelahnya, marketing rumah menelepon Mama Ratna.
Aku tahu karena setelah itu grup WhatsApp keluarga mendadak ramai.
Booking fee Rp50 juta memang tidak bisa dikembalikan penuh sesuai formulir reservasi yang ditandatangani Mama sendiri.
Ada sebagian kecil yang masih bisa diperhitungkan jika berpindah unit dalam batas waktu tertentu, tetapi Mama Ratna tidak memiliki dana untuk melanjutkan.
Lalu fakta kedua terungkap.
Papa Hendra ternyata tidak memiliki Rp300 juta tunai seperti yang selama ini dikatakan Mama.
Dana mereka hanya sekitar Rp145 juta.
Sisanya rencananya akan diambil dari hasil penjualan mobil kedua dan pinjaman jangka pendek.
Artinya, bahkan tanpa kami pun, rencana itu memang belum siap.
Yang paling mengejutkanku datang dari Papa Hendra sendiri.
Dia menelepon Arga malam itu.
Arga menyalakan speaker.
“Papa sebenarnya dari awal bilang rumah ini terlalu mahal.”
“Terus kenapa Papa ikut?”
Suara Papa pelan.
“Mama kamu sudah cerita ke saudara-saudara kalau mau pindah ke cluster besar.”
Aku langsung mengerti.
Ternyata ada satu komponen yang belum pernah muncul di tabel.
Gengsi.
Mama Ratna sudah telanjur mengirim foto rumah contoh ke grup keluarga besar.
Sudah telanjur mengatakan rumah mereka berikutnya akan memiliki tiga lantai.
Sudah telanjur bercerita bahwa anak-anak akan tinggal bersamanya.
Mundur bukan hanya berarti kehilangan booking fee.
Mundur berarti harus mengakui bahwa rencana itu memang tidak pernah matang.
Tiga hari kemudian, masalahnya semakin buruk.
Tante Mira, kakak Mama Ratna, menelepon Arga.
“Katanya kamu batal bantu Mama beli rumah?”
Arga menjawab tenang.
“Aku enggak batal bantu, Tante. Dari awal aku enggak pernah setuju.”
“Tapi Mama kamu sudah kehilangan uang.”
“Itu uang booking yang dibayar sebelum bicara sama aku.”
Tante Mira terdiam.
Arga kemudian melakukan sesuatu yang bahkan tidak kuduga.
Dia menulis pesan panjang di grup keluarga besar.
Tidak menyerang siapa pun.
Tidak mempermalukan ibunya.
Hanya menjelaskan fakta.
Bahwa rumah Rp3,85 miliar dipilih tanpa persetujuan dia dan istrinya.
Bahwa nama Arga akan digunakan untuk proses pembiayaan.
Bahwa dia dan aku diminta Rp420 juta untuk DP ditambah mayoritas cicilan.
Bahwa kepemilikan justru direncanakan atas nama Mama Ratna.
Bahwa tidak pernah ada persetujuan dari kami.
Dan karena terlalu banyak informasi yang sudah beredar, dia ingin semuanya jelas agar Nadira tidak dituduh membatalkan sesuatu yang tidak pernah dia sepakati.
Setelah pesan itu dikirim, grup sunyi hampir dua jam.
Kemudian satu per satu anggota keluarga mulai menjawab.
Tidak semuanya membela kami.
Ada yang bilang anak memang seharusnya membantu orang tua.
Ada yang bilang uang bisa dicari lagi.
Namun ada juga satu pesan dari Om Yusuf, adik Papa Hendra, yang paling sederhana.
“Membantu orang tua berbeda dengan mengambil utang dua puluh tahun tanpa hak kepemilikan. Hal seperti ini memang harus disepakati dari awal.”
Setelah itu, perdebatan berhenti.
Mama Ratna keluar dari grup keluarga.
Selama hampir sebulan ia tidak menghubungi kami.
Arga tetap mentransfer uang bulanan yang memang selama ini ia berikan kepada orang tuanya.
Jumlahnya tidak bertambah.
Tidak dikurangi.
Ia tidak menggunakan uang sebagai hukuman.
Tetapi ketika Mama Ratna meminta penggantian booking fee melalui Papa, jawabannya tetap sama.
“Tidak.”
Dua bulan kemudian, unit rumah Cibubur itu terjual kepada orang lain.
Aku mengetahui kabar itu dari Fajar yang mengirim pesan karena nomorku pernah masuk dalam daftar kunjungan.
Aneh.
Ketika membaca pesan itu, aku tidak merasa puas.
Aku hanya merasa lega.
Rumah itu akhirnya benar-benar keluar dari hidup kami.
Namun hubungan dengan Mama Ratna belum pulih.
Lebaran tahun berikutnya menjadi pertemuan pertama kami setelah berbulan-bulan menjaga jarak.
Aku dan Arga datang pagi.
Aku membawa opor dan kue.
Mama Ratna menerima dengan ekspresi datar.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada permintaan maaf.
Tetapi juga tidak ada sindiran soal rumah.
Kami makan bersama.
Setelah tamu lain pulang, Mama Ratna akhirnya berkata kepadaku,
“Apartemen Kalibata masih disewakan?”
“Masih.”
“Enggak dijual?”
Aku menatapnya.
“Enggak.”
Dia mengangguk kecil.
Kemudian berkata,
“Bagus.”
Hanya satu kata.
Tapi aku mengerti sesuatu berubah.
Enam bulan setelah kegagalan rumah Cibubur, aku dan Arga mulai mencari rumah sendiri.
Bukan villa.
Bukan tiga lantai.
Bukan rumah untuk menunjukkan apa pun kepada siapa pun.
Kami menemukan rumah dua lantai di Jatiasih.
Harganya Rp1,72 miliar.
Tiga kamar tidur.
Carport satu mobil.
Ada taman kecil di belakang yang bahkan tidak sampai dua puluh meter persegi.
Tapi sinar matahari masuk ke dapurnya setiap pagi.
Aku langsung suka.
Kali ini kami melakukan semuanya berbeda.
Kami menghitung uang muka.
Biaya notaris.
Pajak.
Dana darurat.
Estimasi bunga setelah masa fixed rate berakhir.
Jarak ke kantor.
Biaya sekolah kalau suatu hari kami punya anak.
Bahkan kemungkinan salah satu dari kami kehilangan pekerjaan.
Setelah semua angka masuk akal, baru kami membayar booking fee.
Tidak ada anggota keluarga yang tahu sebelum transaksi benar-benar siap.
Saat akad, aku duduk di samping Arga.
Semua dokumen dibaca satu per satu.
Tidak ada tanda tangan tergesa-gesa.
Tidak ada kalimat “nanti kita atur”.
Tidak ada rasa sungkan.
Ketika semuanya selesai, Arga meremas tanganku.
“Rumah kita.”
Aku tersenyum.
Untuk pertama kalinya kalimat itu terasa tepat.
Bukan karena rumahnya lebih kecil.
Bukan karena cicilannya lebih ringan.
Melainkan karena setiap keputusan tentang rumah itu benar-benar dibuat oleh dua orang yang akan membayarnya.
Tiga minggu setelah kami pindah, kami mengundang Mama Ratna dan Papa Hendra makan siang.
Aku sempat menduga Mama akan membandingkan rumah kami dengan rumah Cibubur.
Tetapi dia tidak melakukannya.
Dia berjalan melihat dapur.
Taman.
Kamar atas.
Kemudian duduk di ruang keluarga.
“Lumayan.”
Itu gaya Mama Ratna.
Sulit sekali baginya mengatakan sesuatu bagus secara terang-terangan.
Aku tertawa.
“Terima kasih, Ma.”
Di meja makan, Papa Hendra tiba-tiba berkata,
“Yang penting cicilannya kuat.”
Arga menjawab, “Sudah dihitung, Pa.”
Mama Ratna diam sebentar.
Kemudian bertanya,
“Rumahnya atas nama siapa?”
Suasana langsung berubah sedikit.
Aku dan Arga saling pandang.
Dulu pertanyaan itu mungkin akan membuatku defensif.
Sekarang tidak.
Arga menjawab tenang.
“Semua dokumen kepemilikannya disusun sesuai kesepakatan dan hak kami berdua.”
Mama Ratna membuka mulut seolah hendak mengatakan sesuatu.
Lalu mengurungkannya.
“Oh.”
Dia mengambil sambal.
Percakapan berpindah ke hal lain.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada drama.
Dan anehnya, justru itulah kemenangan terbesar kami.
Batas yang sehat akhirnya tidak lagi harus diteriakkan setiap kali.
Orang mulai tahu bahwa batas itu memang ada.
Setahun setelah peristiwa Cibubur, hubungan kami dengan mertua tidak menjadi sempurna.
Mama Ratna tetap suka mengatur.
Kadang masih bertanya berapa bonus Arga.
Kadang masih memberi saran yang tidak diminta.
Namun setiap kali pembicaraan menyentuh uang besar, properti, utang, atau dokumen, Arga selalu menjawab kalimat yang sama.
“Nanti aku bahas dulu sama Nadira.”
Awalnya Mama kesal.
Lama-lama ia terbiasa.
Dimas juga akhirnya berhenti menunggu “jatah lantai tiga”.
Dia dan Sinta menabung sendiri lalu mengambil rumah subsidi di pinggiran Bekasi.
Suatu sore ketika kami bertemu, dia bahkan tertawa tentang kejadian itu.
“Gila juga ya dulu gue mikir cukup bayar lima puluh juta terus dapat lantai.”
Aku meliriknya.
“Untung sekarang sadar.”
Dia mengangkat kedua tangan.
“Sadar, Mbak. Jangan dibahas lagi.”
Kami tertawa.
Ada satu hal yang tidak pernah kulupakan dari seluruh kejadian itu.
Bukan rumah tiga lantainya.
Bukan Rp50 juta yang hangus.
Bukan tabel pembagian biaya.
Melainkan betapa mudahnya seseorang mengucapkan “ini demi keluarga” ketika yang dipakai adalah uang orang lain.
Keluarga memang seharusnya saling membantu.
Tetapi bantuan yang sehat dimulai dari pertanyaan.
Bukan keputusan sepihak.
Kasih sayang tidak membutuhkan nama kita di surat utang.
Berbakti tidak berarti menyerahkan seluruh batas.
Dan pernikahan tidak akan pernah aman jika salah satu pasangan terus takut mengatakan “tidak” kepada keluarga asalnya.
Malam pertama setelah kami benar-benar selesai menata rumah baru, aku duduk di lantai ruang keluarga karena sofa belum datang.
Arga membawa dua gelas teh.
Dia duduk di sebelahku.
Di luar, hujan turun pelan.
Dari dapur masih tercium aroma cat baru.
Arga menyandarkan kepalanya ke dinding.
“Kalau waktu itu kamu ikut saja rencana Mama, mungkin sekarang kita tinggal di rumah lebih besar.”
Aku menyeruput teh.
“Mungkin.”
“Tapi tiap bulan stres bayar cicilan.”
“Mungkin.”
“Terus lantai tiga ada Dimas.”
Aku tertawa.
“Itu pasti.”
Arga ikut tertawa.
Beberapa detik kemudian dia menatapku.
“Terima kasih waktu itu enggak cuma marah ke Mama.”
Aku mengangkat alis.
“Maksudnya?”
“Kamu juga marah ke aku.”
Aku menaruh gelas.
“Memangnya kenapa harus terima kasih?”
“Karena kalau kamu cuma menyalahkan Mama, aku mungkin enggak pernah sadar kalau aku juga bagian dari masalah.”
Aku tidak langsung menjawab.
Dia benar.
Mama Ratna memang melewati batas.
Tetapi batas hanya bisa terus dilewati kalau orang di dalamnya tidak pernah menutup pintu.
Hari itu Arga akhirnya belajar menutup pintu tersebut.
Bukan menutup hubungan.
Bukan menjauh dari orang tuanya.
Hanya memastikan rumah tangga kami memiliki pintu sendiri.
Dan tidak semua orang boleh masuk sambil membawa keputusan yang sudah dibuat atas nama kami.
Aku menyandarkan kepala di bahunya.
Di hadapan kami hanya ada ruang keluarga kecil dengan kardus-kardus yang belum dibongkar.
Tidak ada tangga marmer.
Tidak ada kamar enam buah.
Tidak ada taman luas.
Tetapi untuk pertama kalinya sejak seluruh masalah itu dimulai, aku merasa berada di rumah yang benar-benar aman.
Karena di rumah ini tidak ada satu pun orang yang bisa menunjuk tabunganku dan berkata,
“Itu nanti kita pakai.”
Tidak ada yang bisa mengambil slip gaji suamiku lalu berkata,
“Kamu tinggal tanda tangan.”
Tidak ada yang bisa memutuskan di mana kami tinggal, berapa utang kami, atau kepada siapa rumah kami akan diberikan.
Dan kalau suatu hari ada yang mencoba lagi, aku sudah tahu jawabannya.
Sederhana.
Tidak perlu berteriak.
Tidak perlu memutus keluarga.
Tidak perlu merasa bersalah.
Cukup satu kalimat.
“Kalau itu keputusan kalian, silakan jalankan dengan uang kalian sendiri.”

