Bagian 3 — Mereka Mengira Aku Akan Menyerahkan Rumah Warisan Demi Keluarga, Sampai Semua Dokumen, Rekening, dan Kebohongan Mereka Kubuka di Depan Notaris
Aku tidak berteriak malam itu.
Tidak membanting pintu.
Tidak pula melempar barang.
Justru ketenanganku membuat Dimas terlihat jauh lebih panik.
Aku masuk kamar, mengeluarkan koper ukuran sedang, lalu memasukkan pakaian kerja, laptop, dokumen identitas, perhiasan pemberian ibu, dan semua berkas yang masih tersisa di lemari.
Dimas berdiri di ambang pintu.
“Kamu mau ke mana?”
“Ke rumah Ibu.”
“Laras, jangan begini.”
Aku menoleh.
“Yang bagaimana?”
“Kita bisa bicara.”
Aku tertawa pelan.
“Sudah berapa bulan kalian bicara soal rumah ayahku tanpa aku?”
Ia terdiam.
Aku kembali melipat pakaian.
“Kalau itu bisa kalian lakukan tanpa aku, aku rasa malam ini aku juga bisa pergi tanpa izin kalian.”
Dimas masuk dan menutup pintu agar ibunya tidak mendengar.
“Aku memang salah karena tidak langsung memberitahumu.”
“Bukan cuma itu.”
“Aku tidak pernah berniat menjual rumahmu tanpa persetujuan.”
Aku berhenti.
“Calon pembeli sudah siap kasih tanda jadi.”
“Itu cuma penjajakan.”
“Fotokopi sertifikat sudah ada di tangan broker.”
“Fotokopi saja.”
“Dan kalian sudah menentukan enam ratus juta untuk Wulan.”
Dimas menunduk.
Aku menatap pria yang pernah kuanggap penyelamat keluargaku.
Ironisnya, aku baru sadar bahwa rasa terima kasih bertahun-tahun membuatku terlalu mudah memaafkan semua hal yang seharusnya sejak awal kupersoalkan.
Dimas selalu berkata ibunya “orang tua, maklumi saja”.
Ketika Bu Ratmi masuk kamar kami tanpa mengetuk, aku diminta memaklumi.
Ketika beliau mengganti gorden apartemen tanpa bertanya, aku diminta memaklumi.
Ketika ia marah karena aku membelikan mesin cuci untuk ibuku, sementara menurutnya uang itu bisa dipakai membantu Wulan, aku juga diminta memaklumi.
Setiap batas yang kulonggarkan menjadi batas baru yang mereka injak.
Sekarang rumah ayahku menjadi sasaran.
“Laras.”
Dimas mendekat.
“Aku cuma merasa Wulan butuh bantuan.”
“Kenapa bukan dari uangmu?”
Ia terdiam lagi.
Aku sudah tahu jawabannya.
Meski bergaji besar sebagai dokter spesialis muda, sebagian besar pendapatan Dimas habis untuk gaya hidup yang selama ini ia sebut “kebutuhan profesional”.
Cicilan mobil.
Keanggotaan klub olahraga.
Makan dengan kolega.
Kartu kredit.
Bantuan rutin kepada ibunya.
Biaya Wulan.
Semua itu tidak pernah kupersoalkan karena pengeluaran rumah tangga kami sebagian besar tetap tertutup dari penghasilanku.
Apartemen juga milikku.
Jadi Dimas hampir tidak pernah menanggung biaya tempat tinggal.
Anehnya, keluarga mereka masih merasa akulah yang kurang berkontribusi.
“Kalau adikmu butuh enam ratus juta,” kataku, “jual mobilmu.”
Wajahnya langsung berubah.
“Jangan asal bicara.”
“Kenapa?”
“Itu aku butuhkan untuk kerja.”
“Kamu punya mobil rumah sakit untuk dinas tertentu. Kamu juga bisa pakai mobil biasa.”
“Laras.”
“Nah.”
Aku mengangguk.
“Begitu milikmu disentuh, tiba-tiba ada alasan. Begitu milikku disentuh, namanya pengorbanan untuk keluarga.”
Ia tidak menjawab.
Aku menarik koper.
Bu Ratmi berdiri di ruang tamu.
“Kamu benar-benar mau pergi cuma karena persoalan rumah?”
Aku menatapnya.
“Bukan karena rumah.”
“Terus?”
“Karena Ibu menganggap saya tidak punya hak atas apa pun setelah menikah.”
Bu Ratmi mencibir.
“Jangan membesar-besarkan omongan orang tua.”
“Siang tadi Ibu datang ke kantor saya karena mangga.”
Wajahnya berubah kaku.
“Dan malam ini saya menemukan Ibu sudah memberikan fotokopi sertifikat rumah saya kepada broker.”
Aku membuka pintu.
“Jadi tidak, Bu. Saya tidak membesar-besarkan apa pun.”
Malam itu aku menginap di rumah ibuku di Depok.
Begitu melihat koper, ibu langsung tahu ada masalah.
Namun ia tidak bertanya sampai aku selesai mandi dan duduk di ruang makan.
Barulah beliau menuangkan teh hangat.
“Bertengkar dengan Dimas?”
Aku mengangguk.
Kemudian kuceritakan semuanya.
Tentang mangga.
Tentang Bu Ratmi.
Tentang fotokopi sertifikat.
Tentang rencana enam ratus juta.
Tentang calon pembeli.
Ibu tidak memotong sedikit pun.
Ketika aku selesai, ia hanya bertanya satu hal.
“Sertifikat asli di mana?”
“Safe deposit box bank.”
Ibu mengangguk.
“Bagus.”
Aku terkejut.
“Ibu tidak marah?”
“Tentu marah.”
Ia memegang cangkirnya.
“Tapi kalau kita sedang menghadapi orang yang sudah mulai menyentuh dokumen aset, marah belakangan. Amankan bukti dulu.”
Aku baru mengerti dari mana sebenarnya aku mendapatkan sifat tenang ketika terpojok.
Keesokan paginya, aku mengambil cuti.
Hal pertama yang kulakukan bukan menemui Dimas.
Aku menemui notaris yang selama bertahun-tahun menangani beberapa urusan keluarga kami, Bu Maria.
Aku membawa sertifikat asli, surat waris, akta pernikahan, dokumen apartemen, bukti percakapan yang sempat kusimpan, dan kronologi singkat.
Bu Maria memeriksanya satu per satu.
“Kamu tenang dulu,” katanya.
“Rumah ini diperoleh sebagai warisan, benar?”
“Benar.”
Ia mengangguk.
“Dan sertifikat asli ada padamu.”
Aku mengangguk.
“Jadi tidak semudah itu orang lain menjualnya.”
Dadaku sedikit lega.
Namun Bu Maria tidak berhenti di situ.
“Masalahnya bukan apakah mereka bisa menjual besok pagi.”
Ia menatapku.
“Masalahnya adalah mereka sudah bergerak cukup jauh tanpa persetujuanmu.”
Kalimat itu tepat mengenai inti ketakutanku.
Aku tidak khawatir mereka bisa mencuri rumahku hanya dengan fotokopi.
Aku khawatir terhadap keyakinan mereka bahwa mereka berhak mencoba.
Aku meminta Bu Maria membuat surat pernyataan dan pemberitahuan bahwa tidak ada pihak mana pun yang mendapatkan kuasa untuk menawarkan, menjual, menjaminkan, atau menerima uang muka terkait rumah itu.
Salinannya kukirim kepada Pak Hendra.
Lima belas menit kemudian ponselku berdering.
Pak Hendra.
Aku mengangkatnya.
“Mbak Laras, ini sebenarnya cuma salah paham.”
“Baik.”
“Kami cuma bantu cek pasar.”
“Baik.”
“Belum ada transaksi.”
“Lebih baik begitu.”
“Jadi surat dari notaris ini tidak perlu sebenarnya.”
“Saya merasa perlu.”
Ia terdiam.
Kemudian suaranya berubah sedikit defensif.
“Dimas tahu kok.”
“Pemilik rumahnya saya.”
Sunyi.
Aku melanjutkan.
“Kalau Bapak masih menawarkan rumah saya setelah menerima pemberitahuan ini, semua komunikasi berikutnya akan saya simpan sebagai bukti.”
Telepon langsung berakhir tidak lama kemudian.
Siang harinya, aku pergi ke bank.
Bukan untuk menarik uang.
Aku mengubah pengamanan seluruh rekening pribadiku.
Password.
PIN.
Email pemulihan.
Nomor untuk autentikasi.
Aku juga mengecek histori akses mobile banking.
Tidak ada transfer mencurigakan.
Namun aku menemukan sesuatu yang selama ini luput dari perhatian.
Ada satu rekening bersama yang kubuat dua tahun setelah menikah untuk dana renovasi apartemen.
Saldo seharusnya sekitar Rp286 juta.
Ketika kubuka, tersisa Rp91 juta.
Aku menatap layar cukup lama.
Hampir dua ratus juta rupiah hilang.
Aku membuka mutasi.
Transfernya tidak dilakukan sekaligus.
Rp20 juta.
Rp15 juta.
Rp30 juta.
Rp25 juta.
Berkali-kali selama sembilan bulan.
Tujuannya sebagian besar ke rekening Dimas.
Dari sana aku tidak tahu ke mana.
Rekening bersama memang mengizinkan kami berdua melakukan transaksi.
Secara teknis, ia tidak membobol rekening.
Namun dana itu kami sepakati hanya untuk renovasi atau keadaan darurat.
Aku langsung mengunduh seluruh mutasi.
Malamnya, Dimas datang ke rumah ibu.
Ia membawa bunga.
Aku tidak membiarkannya masuk sebelum ibu sendiri berkata kami boleh bicara di ruang tamu.
Dimas duduk di depanku.
Wajahnya terlihat lelah.
“Aku sudah minta Pak Hendra mengembalikan fotokopi sertifikat.”
“Terima kasih.”
“Aku juga sudah marah sama Ibu.”
Aku mengangguk.
Ia tampak berharap aku mengatakan sesuatu.
Aku justru membuka tablet.
“Dana renovasi.”
Wajahnya langsung berubah.
“Kenapa tinggal sembilan puluh satu juta?”
Ia menatapku beberapa detik.
“Aku bisa jelaskan.”
“Aku sedang mendengarkan.”
Dimas mengusap kedua tangannya.
“Tahun lalu Wulan ada masalah.”
“Masalah apa?”
“Dia hampir dikeluarkan dari kampus karena uang semester.”
Aku menahan tatapannya.
“Berapa?”
“Sekitar tiga puluh juta waktu itu.”
“Yang hilang hampir dua ratus juta.”
Ia menarik napas.
“Sebagian buat bayar utang Ibu.”
“Utang apa?”
“Pinjaman koperasi.”
“Berapa?”
“Delapan puluh juta.”
“Lalu sisanya?”
Diam.
“Dimas.”
Ia menutup mata sebentar.
“Aku juga pakai beberapa kali.”
“Untuk apa?”
“Kartu kredit.”
Aku tersenyum.
Bukan karena lucu.
Aku sedang berusaha keras agar tidak berteriak.
“Jadi uang bersama kita kamu gunakan untuk kuliah Wulan, utang ibumu, dan kartu kreditmu.”
“Aku berniat mengganti.”
“Kapan?”
Ia tidak bisa menjawab.
“Kenapa tidak pernah bilang?”
“Aku takut kamu keberatan.”
Kalimat itu begitu absurd sampai aku benar-benar tertawa.
“Berarti kamu tahu aku mungkin tidak setuju.”
“Laras—”
“Kalau kamu tahu aku mungkin tidak setuju, lalu kamu tetap mengambilnya diam-diam, itu bukan lupa komunikasi.”
Aku menatapnya lurus.
“Itu keputusan sadar.”
Dimas mulai emosi.
“Aku ini suamimu. Itu rekening bersama.”
“Benar.”
“Jadi jangan bicara seolah aku mencuri.”
“Aku tidak bilang kamu mencuri.”
Aku memutar tablet menghadapnya.
“Aku bilang kamu mengambil keputusan keuangan besar tanpa persetujuanku.”
Ia berdiri.
“Aku capek kalau semuanya dihitung seperti perusahaan.”
Aku juga berdiri.
“Karena bagimu transparansi terasa seperti audit hanya ketika kamu yang harus menjelaskan.”
Ia menatapku tajam.
“Keluargaku memang tidak sekaya keluargamu.”
Akhirnya.
Kalimat yang selama bertahun-tahun bersembunyi akhirnya keluar.
Aku mengangguk.
“Dan?”
“Kamu tidak tahu rasanya harus bantu ibu, bantu adik, bantu semua orang.”
“Benar.”
Aku menunjuk diriku sendiri.
“Aku tidak tahu.”
“Tapi tahukah kamu apa yang aku tahu?”
Ia diam.
“Aku tahu rasanya kehilangan ayah.”
“Aku tahu rasanya melihat ibu sendirian setelah tiga puluh tahun menikah.”
“Aku juga tahu rasanya punya keluarga yang butuh dibantu.”
Aku berhenti sesaat.
“Tapi aku tidak pernah mengambil uangmu diam-diam untuk membelikan sesuatu kepada ibuku.”
Dimas terdiam.
Aku masuk kamar lalu keluar membawa satu map.
Di dalamnya ada salinan perjanjian keuangan sederhana yang pernah kami buat saat membeli mobil.
Nama pembeli Dimas.
Uang muka sebagian dariku.
Cicilan oleh Dimas.
Aku menunjukkannya.
“Aku tidak pernah meminta namaku masuk ke mobilmu.”
Kemudian kutunjukkan dokumen apartemen.
“Apartemen dari ibuku. Kamu tinggal gratis.”
Lalu bukti pembayaran biaya rumah tangga enam bulan terakhir.
“Listrik. IPL. Internet. Asuransi rumah. Mayoritas aku.”
Wajahnya semakin pucat.
“Aku tidak menunjukkan ini untuk menghina penghasilanmu.”
Aku menutup map.
“Aku menunjukkan ini karena keluargamu terus bercerita seolah aku hidup menumpang pada kalian.”
Malam itu Dimas pulang tanpa bunga yang dibawanya.
Bunga itu tertinggal di meja.
Ibuku melihatnya setelah pintu tertutup.
“Masih sayang?”
Pertanyaan itu lebih sulit daripada semua pertanyaan lain.
Aku lama menjawab.
“Iya.”
Ibu mengangguk.
“Sayang tidak selalu cukup.”
Aku menatapnya.
“Ibu ingin aku cerai?”
“Tidak.”
Jawabannya mengejutkanku.
“Ibu ingin kamu jangan mengambil keputusan karena marah atau karena takut sendirian.”
Ia merapikan bunga di meja.
“Kamu yang menjalani pernikahan. Kamu juga yang harus menentukan syarat apa yang membuat pernikahan itu masih layak dipertahankan.”
Selama dua minggu berikutnya, aku tidak pulang.
Dimas menghubungiku setiap hari.
Aku hanya menjawab hal-hal penting.
Sementara itu, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Rina mengirim pesan.
“Mbak, maaf kalau aku ikut bikin masalah.”
Aku langsung meneleponnya.
“Kamu tidak salah apa-apa.”
“Tapi mangganya…”
Aku tertawa untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu.
“Rin, jangan pernah minta maaf karena sekotak mangga.”
Kemudian ia berkata sesuatu yang membuat dadaku hangat.
“Anak-anak kantor urunan beli dua kotak mangga muda buat aku. Kata Bu Siska, biar tidak ada yang bisa minta balik.”
Aku tertawa sampai menangis.
Hari itu aku sadar bahwa keluarga bukan hanya orang yang terhubung lewat pernikahan atau darah.
Kadang keluarga justru orang yang berdiri di samping kita ketika kita dipermalukan.
Tiga minggu setelah aku pergi, Bu Ratmi mendatangi rumah ibuku.
Aku tahu kedatangannya bukan untuk meminta maaf karena sejak turun dari mobil, wajahnya sudah tegang.
Ia membawa Wulan.
Dimas tidak ikut.
Ibuku mempersilakan mereka masuk.
Bu Ratmi langsung bicara.
“Laras, sampai kapan kamu mau menghukum suamimu?”
Aku duduk tenang.
“Saya tidak menghukum siapa pun.”
“Suami istri kok tinggal terpisah?”
“Saya butuh waktu.”
“Gara-gara uang?”
“Gara-gara kepercayaan.”
Bu Ratmi mendengus.
“Ujung-ujungnya uang juga.”
Aku tidak menjawab.
Wulan yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata, “Mbak, soal rumah itu sebenarnya aku tidak tahu.”
Aku menoleh.
Wajahnya tampak pucat.
“Aku baru tahu Ibu sama Mas Dimas mau pakai uang rumah Mbak setelah kalian bertengkar.”
Bu Ratmi langsung menyela.
“Wulan!”
Namun Wulan terus bicara.
“Aku memang minta bantuan uang muka rumah.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Tapi aku minta Mas Dimas pinjami seratus juta. Bukan enam ratus.”
Ruangan seketika sunyi.
Aku menatap Bu Ratmi.
“Jadi enam ratus juta itu untuk apa?”
Bu Ratmi tidak menjawab.
Wulan justru menoleh kepada ibunya.
“Ibu bilang sisanya buat modal kontrakan.”
Dadaku terasa dingin.
“Kontrakan?”
Wulan mengangguk.
“Ibu mau beli tanah di kampung.”
Bu Ratmi marah.
“Kamu diam!”
Namun semuanya sudah telanjur terbuka.
Aku menatapnya.
“Berarti bukan sekadar membantu Wulan.”
“Ibu juga harus punya pegangan hari tua!”
“Dengan uang rumah ayah saya?”
“Kalau sudah keluarga, kenapa dipisah-pisah?”
Aku akhirnya memahami seluruh pola itu dengan sempurna.
Bu Ratmi tidak pernah menganggap dirinya sedang mengambil milikku.
Dalam pikirannya, pernikahanku dengan Dimas membuat semua aset otomatis masuk ke dalam satu keranjang besar bernama keluarga Pranoto.
Rumah ayahku.
Penghasilanku.
Bonus kantorku.
Apartemen dari ibuku.
Bahkan sekotak mangga.
Semuanya dianggap tersedia selama keluarganya membutuhkan.
Aku berdiri.
“Bu.”
Suasana langsung sunyi.
“Saya akan mengatakan ini satu kali.”
Aku menatapnya lurus.
“Saya menikah dengan Dimas.”
“Bukan menyerahkan diri kepada keluarga Pranoto.”
Bu Ratmi membuka mulut.
Aku mengangkat tangan.
“Belum selesai.”
Ia terdiam karena mungkin baru pertama kali melihatku berbicara setegas itu.
“Dimas punya kewajiban moral terhadap Ibu. Saya hormati itu.”
“Dia ingin membantu Wulan, saya juga tidak pernah melarang.”
“Tapi bantuan menggunakan apa yang dia miliki.”
“Bukan dengan menentukan sepihak apa yang harus saya serahkan.”
Bu Ratmi mencibir.
“Kamu sudah berubah sejak ayahmu meninggal. Merasa punya banyak harta.”
Ibuku yang sejak tadi diam langsung bangkit.
Namun aku menahannya.
Aku sendiri yang menjawab.
“Justru karena ayah saya sudah meninggal, saya tahu persis nilai barang yang beliau tinggalkan.”
Suaraku mulai bergetar.
“Rumah itu bukan sekadar angka dua atau tiga miliar.”
“Itu rumah yang cicilannya dibayar ayah selama hampir lima belas tahun.”
“Di teras itu saya belajar naik sepeda.”
“Di ruang tengah itu ayah tidur di sofa setiap kali saya sakit karena ingin memastikan saya tidak demam lagi.”
Aku menatap Bu Ratmi.
“Jangan pernah lagi menyebut rumah itu sebagai uang kosong yang bisa dibagi.”
Bu Ratmi akhirnya tidak mampu menjawab.
Hari itu ia pulang dengan marah.
Wulan tidak ikut.
Ia memilih tinggal beberapa saat.
Setelah ibunya pergi, Wulan meminta maaf kepadaku.
Ia juga menunjukkan beberapa percakapan keluarga yang selama ini tidak pernah kulihat.
Di grup keluarga Pranoto, Bu Ratmi sudah berkali-kali membicarakan asetku.
“Rumah Depok kalau dijual cukup buat Wulan.”
“Laras kan masih punya apartemen.”
“Gaji Laras juga besar.”
Yang paling menyakitkan adalah Dimas tidak pernah menghentikannya dengan tegas.
Kadang ia hanya menjawab:
“Nanti dibicarakan.”
Atau:
“Jangan buru-buru.”
Tidak pernah ada satu kalimat sederhana:
“Itu milik Laras.”
Aku menyimpan tangkapan layar.
Bukan untuk mempermalukan mereka.
Aku membutuhkannya agar diriku sendiri tidak lupa kenapa aku pergi.
Sebulan kemudian, Dimas meminta bertemu bersama mediator pernikahan.
Aku setuju.
Bukan karena siap kembali.
Karena aku ingin mendengar apakah ia akhirnya memahami masalah sebenarnya.
Kami bertemu dengan seorang konselor keluarga.
Untuk pertama kalinya, Dimas tidak membawa bunga.
Tidak membawa hadiah.
Ia membawa map.
Di dalamnya ada bukti ia sudah menjual mobil keduanya—mobil lama yang jarang dipakai—dan mengembalikan Rp195 juta ke rekening renovasi.
Ia juga menunjukkan rekening terpisah untuk kebutuhan ibunya.
Kemudian ia meletakkan satu lembar kertas di depanku.
“Aku sudah pindahkan Ibu ke rumah sewa dekat Wulan.”
Aku terdiam.
“Bukan mengusir,” katanya cepat.
“Aku tetap membayar sewanya. Tapi aku sadar kita tidak bisa punya pernikahan kalau orang ketiga bebas masuk ke semua keputusan.”
Aku belum menjawab.
Dimas menarik napas panjang.
“Aku salah.”
Tidak ada “tapi”.
Itu pertama kalinya.
“Aku salah karena menggunakan rekening bersama tanpa bicara denganmu.”
“Aku salah karena membiarkan Ibu merasa punya hak atas asetmu.”
“Aku juga salah karena selama ini aku menikmati kenyamanan yang keluargamu berikan, tetapi tetap membiarkan keluargaku memperlakukanmu seolah kamu kurang berkorban.”
Mataku panas.
Namun aku tidak ingin hanya mendengar kata-kata.
“Apa yang berubah kalau enam bulan lagi Ibu minta lagi?”
Dimas menjawab, “Aku yang akan bilang tidak.”
“Kalau Wulan butuh uang?”
“Aku membantu sesuai kemampuan dari uangku.”
“Kalau tidak cukup?”
“Kami mencari solusi lain.”
Aku menatapnya.
“Bukan rumahku?”
“Bukan rumahmu.”
“Bukan tabunganku?”
“Bukan.”
“Bukan bonusku?”
“Bukan.”
Aku diam cukup lama.
Kemudian aku menyampaikan syaratku.
Pertama, kami akan memisahkan rekening pribadi sepenuhnya.
Rekening bersama hanya untuk biaya rumah tangga dengan jumlah kontribusi yang disepakati.
Kedua, tidak ada satu pun anggota keluarga yang boleh tinggal permanen bersama kami tanpa persetujuan keduanya.
Ketiga, tidak ada pembahasan mengenai aset pribadiku dengan keluarga besar.
Keempat, setiap bantuan kepada keluarga di atas nominal tertentu harus berasal dari rekening pribadi masing-masing, bukan dana bersama.
Kelima, jika batas ini dilanggar lagi, aku tidak akan memberikan kesempatan ketiga.
Dimas setuju.
Bukan hari itu aku langsung pulang.
Aku menunggu dua bulan.
Aku ingin melihat apakah perubahan hanya terjadi karena takut kehilangan istri atau benar-benar karena ia memahami kesalahannya.
Dalam dua bulan itu, Dimas menjalani konseling rutin.
Ia juga mengakui kepada ibunya bahwa rencana penjualan rumah Depok adalah kesalahan.
Bu Ratmi tidak menerimanya dengan baik.
Ia berhenti menghubungiku hampir satu bulan.
Aneh sekali, justru itu bulan paling tenang dalam pernikahanku.
Tiga bulan setelah kejadian di kantor, aku akhirnya kembali ke apartemen.
Namun rumah itu sudah berubah.
Bukan karena renovasi.
Karena batasnya jelas.
Bu Ratmi tidak lagi tinggal bersama kami.
Dimas tidak lagi menyerahkan kunci cadangan apartemen kepada siapa pun.
Dokumen kami dipisahkan.
Keuangan transparan.
Dan untuk pertama kalinya, Dimas sendiri mulai membayar setengah biaya rumah tangga tanpa harus kuingatkan.
Hubunganku dengan Bu Ratmi tidak pernah kembali seperti dulu.
Dan aku tidak menginginkannya kembali seperti dulu.
Kesopanan tetap ada.
Jarak juga tetap ada.
Enam bulan kemudian, Wulan akhirnya membeli rumah kecil tipe 36 bersama tunangannya.
Bukan dengan enam ratus juta dariku.
Mereka mengumpulkan uang muka sendiri, ditambah pinjaman seratus juta dari Dimas yang dibuat tertulis dengan jadwal pengembalian.
Anehnya, justru setelah tidak dimanjakan, Wulan terlihat jauh lebih bangga ketika memegang kunci rumahnya.
“Kalau dulu benar-benar pakai uang rumah Mbak,” katanya kepadaku saat syukuran, “mungkin aku malah malu setiap lihat rumah ini.”
Aku tersenyum.
“Sekarang rumah itu benar-benar terasa milikmu.”
Ia mengangguk.
Setahun setelah kejadian mangga, kantor kembali membagikan hadiah buah menjelang Lebaran.
Kali ini jeruk medan.
Bu Siska meletakkan satu kotak di mejaku.
Rina, yang sudah kembali bekerja setelah melahirkan, langsung muncul dari balik komputer.
“Asam nggak?”
Aku mengambil satu, mengupasnya, lalu menyodorkan separuh.
“Coba sendiri.”
Dia menggigit.
“Manis.”
Aku tertawa.
“Kalau begitu jangan harap aku kasih sekotak.”
Satu ruangan ikut tertawa.
Saat pulang, aku membawa jeruk itu ke rumah.
Dimas sedang memasak mi goreng di dapur.
Ia melihat kotak di tanganku.
“Dari kantor?”
“Iya.”
“Boleh ambil?”
Aku meletakkan kotaknya di meja.
“Boleh.”
Ia mengambil satu.
Lalu, entah karena teringat kejadian setahun lalu atau tidak, dia menoleh kepadaku.
“Kalau besok kamu mau kasih sisanya ke orang kantor juga tidak masalah.”
Aku tersenyum tipis.
“Memang tidak masalah.”
Kalimat sederhana.
Namun aku tahu betapa panjang perjalanan kami sampai ia akhirnya bisa mengucapkannya.
Rumah Depok tidak pernah kujual.
Aku merenovasi bagian depannya dan menyewakan lantai bawah kepada keluarga kecil.
Sebagian hasil sewanya kutabung atas nama ibu.
Bukan karena ibu meminta.
Justru karena beliau tidak pernah meminta.
Suatu sore, aku duduk bersama ibu di teras rumah itu.
Pohon jambu yang ditanam ayah masih berdiri di pojok halaman.
Ibu bertanya, “Kalau waktu itu mertua kamu tidak datang gara-gara mangga, kamu kira semua ini bakal ketahuan?”
Aku memikirkan pertanyaannya cukup lama.
“Mungkin tetap ketahuan.”
“Kapan?”
Aku tersenyum pahit.
“Mungkin setelah sesuatu yang lebih besar hilang.”
Ibu mengangguk.
Kadang hidup memang aneh.
Kita sering mengira kehancuran datang dengan suara keras.
Padahal tidak selalu.
Kadang ia datang perlahan lewat kalimat seperti:
“Cuma pinjam.”
“Cuma bantu keluarga.”
“Cuma fotokopi.”
“Cuma sekotak mangga.”
Hal-hal kecil itu sendiri mungkin tidak berbahaya.
Yang berbahaya adalah ketika seseorang terus menggunakannya untuk menguji seberapa jauh kita bersedia kehilangan hak atas diri sendiri.
Aku baru memahami satu hal setelah hampir kehilangan kepercayaan dalam pernikahanku:
Menjadi keluarga bukan berarti semua batas harus dihapus.
Justru keluarga yang sehat tahu kapan harus mengetuk pintu.
Tahu kapan harus bertanya.
Tahu bahwa bantuan yang dipaksa bukan lagi bantuan.
Dan tahu bahwa cinta tidak pernah memberikan hak kepada seseorang untuk menghitung, mengambil, atau menentukan milik orang lain.
Setahun lalu, ibu mertuaku datang ke kantorku demi merebut kembali sekotak mangga yang kuberikan kepada perempuan hamil.
Hari itu aku merasa dipermalukan di depan puluhan orang.
Sekarang aku justru bersyukur kejadian itu terjadi.
Karena sekotak mangga seharga tidak sampai dua ratus ribu rupiah telah menunjukkan kepadaku sesuatu yang nilainya jauh lebih besar:
Siapa yang menghormatiku.
Siapa yang hanya menghitung apa yang kumiliki.
Dan siapa yang masih layak kuberi kesempatan setelah belajar menghormati batas.
Aku tidak kehilangan rumah ayahku.
Tidak kehilangan tabunganku.
Dan pada akhirnya, aku juga tidak kehilangan pernikahanku.
Yang hilang hanya satu hal.
Kebiasaanku mengalah demi disebut menantu yang baik.
Dan kehilangan itu, sama sekali tidak kusesali.

