Bagian 3 — Saat Ia Akhirnya Menyadari Aku Sudah Pergi, Semua yang Selama Ini Ia Anggap Miliknya Mulai Lepas Satu per Satu Darinya
Raka tidak pergi malam itu.
Ia berdiri di ruang makan sambil memegang salinan sertifikat rumah seperti orang yang baru menemukan bahwa lantai di bawah kakinya ternyata bukan miliknya.
Bu Ratih adalah orang pertama yang bereaksi.
“Ini rumah suami istri. Jangan bicara seperti orang asing.”
Aku menatapnya.
“Dokumennya cukup jelas, Bu.”
“Tapi kalian sudah tinggal di sini hampir tujuh tahun.”
“Benar.”
“Raka juga mengeluarkan uang untuk rumah ini.”
“Untuk renovasi dapur dan satu lemari pakaian.”
Bu Ratih membuka mulut.
Aku menambahkan dengan tenang.
“Semua kuitansinya masih saya simpan.”
Raka akhirnya melempar map ke meja.
“Kamu sudah merencanakan semua ini.”
“Aku merencanakan cara keluar dengan rapi.”
“Sejak kapan?”
Aku terdiam beberapa detik.
Kemudian kujawab.
“Sejak aku bangun di rumah sakit dan orang pertama yang kulihat bukan suamiku, melainkan sekretarismu membawa kartu debit.”
Wajah Raka menegang.
“Sudah kubilang aku punya agenda.”
“Aku tahu.”
“Kamu tidak mengerti tekanan pekerjaanku.”
“Aku juga sudah berhenti mencoba mengerti.”
Ia melangkah mendekat.
“Kamu mau menghancurkan delapan tahun pernikahan hanya karena aku tidak datang satu kali?”
Aku hampir tidak percaya bahwa setelah semua ini, ia masih menganggap persoalannya adalah satu ketidakhadiran.
“Bukan karena kamu tidak datang satu kali.”
Aku menatap tepat ke matanya.
“Karena selama bertahun-tahun kamu mengajariku bahwa apa pun yang kurasakan selalu lebih kecil daripada pekerjaanmu, keluargamu, suasana hatimu, atau kenyamananmu.”
Raka diam.
Aku melanjutkan.
“Kalau aku cemburu, kamu bilang aku posesif. Kalau aku menangis, kamu bilang aku dramatis. Kalau aku bertanya, kamu bilang aku mengganggu. Sekarang ketika aku berhenti bertanya, kamu malah marah.”
Bu Ratih menyela.
“Semua pasangan punya masalah.”
“Benar, Bu.”
Aku menoleh kepadanya.
“Tapi tidak semua masalah harus dipelihara seumur hidup.”
Malam itu mereka pergi sekitar pukul satu.
Raka membawa satu koper kecil.
Bukan karena ia menerima perceraian.
Ia hanya terlalu marah untuk tinggal.
Dua hari kemudian, pesan pertama datang.
“Aku akan pulang setelah kamu tenang.”
Aku tidak menjawab.
Tiga jam kemudian.
“Jangan bawa urusan ini ke keluargamu.”
Aku tidak menjawab.
Malamnya.
“Besok kita makan malam. Aku sudah reservasi.”
Tetap tidak kujawab.
Pada hari keempat, sikapnya berubah.
“Aku minta maaf.”
Itu adalah pertama kalinya dalam bertahun-tahun Raka menulis dua kata itu tanpa diikuti kata “tapi”.
Aku membaca pesan tersebut.
Kemudian mematikan layar.
Permintaan maaf tidak selalu berarti seseorang berubah.
Kadang itu hanya berarti konsekuensi akhirnya tiba.
Seminggu kemudian, mediasi keluarga terjadi di rumah orang tuaku di Semarang.
Aku sebenarnya tidak ingin melakukannya.
Namun ayah berkata, “Kalau kamu yakin dengan keputusanmu, kami mendukung. Tapi biarkan dia bicara sekali supaya setelah ini tidak ada orang yang bilang kamu pergi tanpa memberi kesempatan.”
Raka datang bersama Bu Ratih.
Ayah tidak menyambutnya dengan marah.
Itulah yang membuat suasana jauh lebih berat.
Kami duduk mengelilingi meja makan tempat dulu Raka pernah meminta izin menikahiku.
Ayah membuka percakapan.
“Raka, Alina bilang ingin bercerai. Kamu ingin mempertahankan pernikahan?”
“Iya, Pak.”
“Kenapa?”
Raka terlihat bingung.
Mungkin ia mengira pertanyaan itu terlalu sederhana.
“Karena dia istri saya.”
Ayah mengangguk.
“Bukan itu pertanyaan saya.”
Sunyi.
Ayah mengulanginya.
“Kenapa kamu ingin mempertahankan Alina sebagai istrimu?”
Raka menatapku.
“Karena saya masih sayang.”
Aku tidak bereaksi.
Ayah bertanya lagi.
“Terakhir kali kamu menemani anak saya ke dokter kandungan kapan?”
Raka tidak langsung menjawab.
“Beberapa bulan…”
Aku berkata pelan.
“Tujuh bulan sebelum kehamilan terakhir.”
Ayah kembali bertanya.
“Nama dokter kandungannya?”
Raka diam.
“Kliniknya di lantai berapa?”
Diam.
“Obat apa yang harus Alina minum setiap malam selama kehamilan?”
Tidak ada jawaban.
Ibu mulai menangis di sebelahku.
Ayah tidak meninggikan suara.
“Ketika Alina kehilangan kandungannya, kamu ada di mana?”
“Pertemuan pekerjaan.”
Aku mengambil ponsel.
Aku meletakkan foto dari acara hotel itu di meja.
Lalu kuitansi makan malam.
Lalu pesan Sinta yang sempat kusimpan setelah sekretaris itu akhirnya mengirimkan salinannya kepadaku.
Pesannya berasal dari Raka.
“Tolong tangani urusan rumah sakit. Saya tidak mau acara malam ini terganggu.”
Bu Ratih membaca layar.
Wajahnya berubah.
Ia menoleh kepada anaknya.
“Raka?”
Raka langsung berkata, “Itu bukan seperti yang kalian pikirkan.”
Aku tersenyum kecil.
“Aku tidak perlu memikirkan apa-apa. Kalimatnya cukup jelas.”
Ia menatapku.
“Aku memang ada networking dinner. Tapi itu tetap pekerjaan.”
“Tidak masalah.”
“Kamu terus mengungkitnya.”
“Tidak.”
Aku menarik ponsel kembali.
“Aku menunjukkan ini karena Ayah bertanya.”
Kemudian aku menambahkan satu kalimat yang membuat Raka benar-benar diam.
“Aku tidak membutuhkan bukti itu untuk membencimu. Aku bahkan sudah tidak membencimu.”
Baginya, rupanya itu lebih menyakitkan daripada kemarahan.
“Apa maksudmu?”
“Kalau aku masih membencimu, berarti masih ada sesuatu yang kuharapkan.”
Aku melihat matanya.
“Aku sudah tidak mengharapkan apa pun.”
Mediasi keluarga berakhir tanpa kesepakatan.
Raka tetap menolak perceraian.
Namun proses hukum terus berjalan.
Selama beberapa minggu berikutnya ia mencoba segala cara yang tidak pernah ia lakukan saat kami masih baik-baik saja.
Bunga dikirim setiap pagi.
Aku mengembalikannya ke toko.
Makanan dari restoran favoritku datang setiap malam.
Aku membagikannya kepada petugas keamanan kompleks.
Ia bahkan datang pukul enam pagi membawa bubur ayam yang dulu sering kami makan saat baru menikah.
Aku tidak membuka gerbang.
Bukan karena ingin menghukumnya.
Aku hanya takut satu hal.
Takut rasa kasihan disalahartikan sebagai cinta.
Suatu malam ia berdiri di luar hampir satu jam.
Aku akhirnya keluar ke teras.
“Pulanglah, Raka.”
“Aku cuma mau bicara lima menit.”
“Kita sudah bicara.”
“Tidak. Selama ini kamu yang bicara lewat pengacara.”
Aku menatapnya.
“Baik. Lima menit.”
Raka terlihat jauh lebih kurus.
Untuk pertama kalinya ia tidak mengenakan kemeja kerja.
Hanya kaus abu-abu dan celana panjang.
“Aku putus kontak pribadi dengan Tania.”
Aku hampir tersenyum.
“Kenapa memberitahuku?”
“Supaya kamu tahu tidak ada apa-apa antara kami.”
“Kalaupun ada, keputusanku tidak berubah.”
Ia terlihat kesal.
“Jadi sebenarnya apa yang kamu inginkan?”
Pertanyaan yang sama.
Kali ini aku menjawab lebih jelas.
“Aku ingin hidup tanpa harus menunggu seseorang memilihku.”
Raka memejamkan mata sebentar.
“Aku memilihmu. Aku menikahimu.”
“Menikahi seseorang bukan berarti memilihnya setiap hari.”
Ia tidak menjawab.
“Aku pernah menunggumu pulang sampai jam dua pagi. Pernah memanaskan makan malam tiga kali karena kamu bilang sebentar lagi sampai. Pernah membohongi ibuku dan bilang kamu memperlakukanku dengan baik supaya mereka tidak khawatir. Saat aku hamil, aku bahkan menunda tawaran pekerjaan karena kamu bilang keluarga membutuhkan fokusku.”
“Aku tidak memaksamu.”
“Tidak.”
Aku mengangguk.
“Kamu hanya membuatku percaya kalau aku mencintaimu, akulah yang harus selalu mengalah.”
Wajah Raka menegang.
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin.”
“Berikan aku kesempatan.”
“Aku sudah memberimu delapan tahun.”
Ia menatapku lama.
“Apa kamu sama sekali tidak cinta lagi?”
Aku memikirkan pertanyaan itu.
Lalu menjawab jujur.
“Aku masih mengenang orang yang dulu kucintai.”
Tatapannya sedikit berubah.
“Tapi orang itu sudah lama tidak tinggal bersamaku.”
Aku masuk kembali.
Malam itu adalah terakhir kalinya Raka datang tanpa izin.
Dua minggu kemudian sesuatu terjadi di perusahaannya.
Aku mengetahuinya bukan dari Raka.
Sinta menelepon.
Setelah percakapan singkat, ia meminta izin bertemu.
Kami duduk di sebuah kedai kopi di Kemang.
Sinta tampak lebih tenang dibandingkan terakhir kali aku melihatnya di rumah sakit.
“Saya mengundurkan diri, Bu.”
“Karena masalah saya?”
“Bukan.”
Ia menggeleng.
“Karena saya capek terus diminta berbohong.”
Aku diam.
Sinta menceritakan bahwa selama lebih dari satu tahun, Raka sering meminta tim administrasi mencatat pengeluaran pribadi sebagai jamuan investor.
Makan malam.
Hotel.
Perjalanan.
Hadiah.
Bahkan beberapa acara yang ternyata tidak pernah dihadiri investor.
“Kenapa baru sekarang?”
“Komite audit memang sudah memeriksa sejak sebelum masalah Ibu.”
Ia menatapku serius.
“Saya tidak ingin Ibu berpikir ini karena Ibu.”
Ternyata salah satu komisaris perusahaan mencurigai pembengkakan biaya representasi.
Ketika audit internal dilakukan, banyak klaim biaya tidak memiliki daftar peserta yang dapat diverifikasi.
Salah satunya adalah makan malam pada hari aku kehilangan kandungan.
Ironisnya, bukti yang dulu membuatku sadar betapa tidak pentingnya aku bagi Raka justru menjadi salah satu dokumen yang dipertanyakan auditor.
“Apa saya perlu melakukan sesuatu?”
Sinta menggeleng.
“Tidak.”
Aku lega.
Aku tidak ingin menjadi orang yang menghancurkan Raka.
Kalau hidupnya runtuh, aku ingin itu terjadi karena pilihan-pilihannya sendiri.
Dan memang begitu.
Sebulan kemudian dewan komisaris mengumumkan restrukturisasi.
Raka dicopot dari posisi direktur utama sementara proses audit berjalan.
Ia tetap memiliki saham keluarga, tetapi tidak lagi memegang kendali operasional.
Bu Ratih meneleponku malam itu.
“Kamu puas sekarang?”
Aku terdiam.
“Apa maksud Ibu?”
“Sejak kamu menggugat cerai, semua hidup Raka kacau.”
Aku menarik napas.
“Bu Ratih, saya bahkan tidak pernah menghubungi perusahaannya.”
“Tapi Sinta dekat denganmu.”
“Sinta bekerja untuk Raka bertahun-tahun sebelum mengenal saya.”
“Kalau kamu pulang, mungkin dia bisa fokus lagi.”
Kalimat itu membuat semuanya terasa begitu jelas.
Bahkan ketika Raka menghadapi akibat dari keputusannya sendiri, mereka masih mencari seorang perempuan untuk memikul tanggung jawab.
Dulu itu aku.
Sekarang mereka ingin mengembalikanku ke posisi yang sama.
Aku berkata pelan.
“Bu, perusahaan Raka bukan tanggung jawab saya. Emosi Raka bukan tanggung jawab saya. Pilihan Raka juga bukan tanggung jawab saya.”
“Alina—”
“Selamat malam.”
Aku menutup telepon.
Tidak lama setelah itu Tania mengundurkan diri.
Banyak orang mengira ia pergi karena skandal.
Kenyataannya jauh lebih biasa.
Ia menerima pekerjaan di perusahaan komunikasi multinasional dengan gaji lebih tinggi.
Raka pernah mengorbankan begitu banyak malam rumah tangganya untuk orang-orang yang menurutnya “penting”.
Ketika posisinya melemah, hampir semua orang itu melanjutkan hidup masing-masing.
Begitulah dunia.
Tidak sekejam yang kita bayangkan.
Hanya tidak pernah berjanji menunggu.
Proses perceraian kami berlangsung beberapa bulan.
Pada sesi mediasi terakhir, Raka akhirnya berhenti memaksaku kembali.
Ia duduk di seberang meja dengan kedua tangan terlipat.
“Aku baru sadar sesuatu.”
Aku menunggu.
“Dulu setiap kamu marah karena aku pulang terlambat, aku merasa terganggu.”
Ia tertawa getir.
“Tapi ketika kamu berhenti marah, aku justru takut.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Aku kira kecemburuanmu berarti kamu akan selalu ada.”
Untuk pertama kalinya, ia mengatakan sesuatu dengan jujur.
“Aku sengaja membuatmu bereaksi beberapa kali.”
Aku menatapnya.
“Tania?”
“Tidak pernah ada hubungan fisik.”
Ia menelan ludah.
“Tapi aku tahu kedekatanku dengannya membuatmu tidak nyaman. Kadang aku sengaja tidak menjelaskan.”
“Kenapa?”
Raka tertunduk.
“Karena setiap kamu cemburu, aku merasa penting.”
Aku hampir kasihan kepadanya.
Hampir.
“Itu bukan cinta, Raka.”
“Aku tahu sekarang.”
“Orang yang kamu cintai seharusnya tidak perlu dilukai supaya kamu merasa berharga.”
Ia mengangguk pelan.
Kemudian bertanya.
“Kalau dulu aku datang ke rumah sakit, apakah semuanya akan berbeda?”
Aku memikirkan jawabannya cukup lama.
“Mungkin hari itu tidak akan menjadi akhir.”
Matanya langsung terangkat.
“Tapi kita sudah rusak jauh sebelum hari itu.”
Harapan kecil di wajahnya hilang.
Aku melanjutkan.
“Rumah sakit hanya membuatku akhirnya melihat semuanya tanpa alasan yang kubuat sendiri.”
Raka menarik napas panjang.
“Aku minta maaf.”
Kali ini aku mempercayainya.
Bukan berarti aku kembali.
Aku hanya percaya ia benar-benar menyesal.
“Aku maafkan.”
Ia menatapku seakan mendengar sesuatu yang tidak diharapkan.
“Benarkah?”
“Iya.”
“Apa itu berarti…”
“Tidak.”
Aku tersenyum tipis.
“Memaafkan tidak selalu berarti kembali.”
Itulah kalimat terakhir kami sebagai suami istri.
Beberapa minggu kemudian keputusan pengadilan keluar dan proses administrasinya selesai.
Pernikahan kami berakhir.
Tidak ada pesta.
Tidak ada kemenangan dramatis.
Aku hanya duduk di mobil selama beberapa menit setelah keluar dari gedung pengadilan.
Aku melihat cincin di jari.
Kemudian melepasnya.
Aku tidak menangis karena kehilangan Raka.
Aku menangisi diriku sendiri.
Perempuan yang selama bertahun-tahun mengira cinta berarti bertahan selama mungkin.
Padahal kadang keberanian terbesar adalah mengakui sesuatu sudah selesai.
Raka memindahkan barang terakhirnya dari rumah satu minggu kemudian.
Ia menyerahkan kunci kepada petugas keamanan.
Tidak masuk.
Tidak meminta bertemu.
Aku menghargainya untuk itu.
Setelah rumah kosong, aku melakukan sesuatu yang sudah lama kutunda.
Aku membuka pintu kamar kecil di lantai atas.
Kamar yang dulu kami rencanakan menjadi kamar bayi.
Selama berbulan-bulan aku tidak berani masuk.
Masih ada cat warna putih hangat yang kupilih.
Masih ada sampel wallpaper berbentuk awan di meja.
Aku duduk di lantai.
Untuk pertama kalinya sejak kehilangan kandungan, aku menangis tanpa menahan diri.
Aku menangisi bayi yang tidak sempat kugendong.
Aku menangisi tahun-tahun yang kuhabiskan mengejar perhatian seorang lelaki.
Aku menangisi harapan yang pernah kurawat sendirian.
Namun setelah selesai menangis, aku tidak menutup kamar itu lagi.
Aku membuka jendelanya.
Kubersihkan meja.
Wallpaper awan kusimpan dalam kotak.
Tiga bulan kemudian ruangan itu berubah menjadi studio kerjaku.
Aku kembali ke dunia desain interior.
Awalnya hanya proyek kecil.
Apartemen seorang teman.
Kafe milik sepupu.
Sebuah rumah mungil di Bekasi.
Kemudian mantan atasanku mengajakku menangani proyek renovasi sebuah perpustakaan komunitas di Bandung.
Aku menerima.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, namaku kembali tercetak pada gambar kerja.
“Alina Rahmawati — Lead Designer.”
Aku memotret tulisan itu dan mengirimkannya kepada Ayah.
Ayah hanya menjawab.
“Akhirnya anak Ayah pulang kepada dirinya sendiri.”
Aku menangis membaca kalimat tersebut.
Setahun berlalu.
Perusahaan Raka tidak bangkrut.
Hidupnya juga tidak hancur.
Menurut kabar dari teman lama, setelah audit selesai ia harus mengembalikan sejumlah pengeluaran yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan kehilangan jabatan direksi.
Ia kemudian mengelola divisi proyek yang lebih kecil.
Aneh, tetapi aku senang mendengarnya.
Aku tidak menginginkan kehancurannya.
Aku hanya ingin ia berhenti hidup seolah-olah setiap orang harus membereskan akibat dari keputusannya.
Kadang konsekuensi terbaik bukan ketika seseorang kehilangan segalanya.
Tetapi ketika ia akhirnya dipaksa hidup tanpa orang yang selama ini selalu menutupi kekurangannya.
Pada ulang tahunku yang ketiga puluh lima, sebuah pesan masuk.
Dari Raka.
“Selamat ulang tahun. Semoga kamu sehat dan bahagia.”
Tidak ada kalimat lain.
Aku membalas.
“Terima kasih. Semoga kamu juga.”
Selesai.
Tidak ada gemetar.
Tidak ada rasa ingin tahu dia berada di mana.
Tidak ada keinginan membuka profilnya.
Aku meletakkan ponsel dan kembali ke meja makan.
Ayah, Ibu dan beberapa teman sedang menungguku memotong kue.
Lampu rumah terasa hangat.
Dulu rumah ini begitu sunyi sampai aku bisa mendengar suara mobil Raka dari ujung jalan dan langsung berlari ke jendela.
Sekarang aku bahkan tidak tahu mobil apa yang ia gunakan.
Dan itu tidak lagi penting.
Beberapa bulan kemudian aku kembali ke rumah sakit tempat aku kehilangan kandungan.
Bukan sebagai pasien.
Sahabatku baru saja melahirkan.
Ketika lift terbuka di lantai yang sama, kakiku sempat berhenti.
Aku mengenali koridor itu.
Kursi yang dulu kududuki masih ada.
Untuk beberapa detik dadaku terasa sesak.
Namun kali ini aku tidak sendirian.
Aku membawa bunga.
Di kamar, sahabatku menyerahkan bayi kecilnya kepadaku.
“Pegang sebentar.”
Aku ragu.
Kemudian kuterima.
Tubuh kecil itu hangat.
Aku menatap wajahnya dan merasakan air mata jatuh.
Bukan karena iri.
Bukan karena sakit.
Hanya karena aku akhirnya bisa berada di tempat yang sama tanpa merasa hidupku berhenti di sana.
Saat pulang aku melewati koridor tempat dulu aku menunggu Raka.
Aku berhenti.
Dulu aku berpikir hari terburuk dalam hidupku adalah hari ketika suamiku tidak datang.
Sekarang aku tahu aku salah.
Hari itu bukan hari ketika aku kehilangan semuanya.
Hari itu adalah hari ketika aku berhenti kehilangan diriku sedikit demi sedikit.
Aku keluar dari rumah sakit.
Langit Jakarta baru selesai hujan.
Udara masih basah.
Ponselku berbunyi karena pesan dari tim desain.
“Bu Alina, klien menyetujui konsep terakhir. Besok kita bisa lanjut.”
Aku tersenyum.
“Baik. Besok kita lanjut.”
Dulu seluruh hidupku berputar pada pertanyaan:
Raka pulang jam berapa?
Raka sedang bersama siapa?
Raka marah atau tidak?
Raka masih mencintaiku atau tidak?
Sekarang aku memiliki pertanyaan yang jauh lebih penting.
Apa yang ingin kulakukan dengan hidupku sendiri?
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, jawabannya tidak membutuhkan nama siapa pun selain namaku.
Alina.
Aku pulang ke rumah yang masih sama.
Membuka pintu yang sama.
Menaiki tangga yang sama.
Namun perempuan yang masuk ke dalamnya bukan lagi perempuan yang pernah duduk semalaman menunggu suara kunci dari luar.
Aku menyalakan lampu studio.
Di dinding tergantung gambar proyek pertamaku setelah perceraian.
Di sebelahnya ada sebuah bingkai kecil.
Di dalamnya bukan foto Raka.
Bukan foto pernikahan.
Hanya sepotong wallpaper bergambar awan dari kamar yang dulu kami siapkan untuk bayi kami.
Aku tidak membuangnya.
Karena sembuh bukan berarti menghapus masa lalu.
Sembuh berarti mampu melihatnya tanpa ingin kembali.
Aku menyentuh bingkai itu sebentar.
Lalu duduk di depan meja kerja.
Di luar, malam semakin larut.
Tidak ada seseorang yang kutunggu.
Tidak ada telepon yang harus kuperiksa.
Tidak ada suara pintu yang membuatku cemas.
Rumah itu akhirnya benar-benar tenang.
Dan kali ini, ketenangan tidak terasa seperti kesepian.
Ketenangan terasa seperti pulang.

