Selama Tujuh Hari Suamiku Diam-Diam Menghabiskan Jamu Nifasku, Sampai Ia Tumbang di Kamar Mandi dan Dokter Bertanya Siapa yang Sengaja Menaruh Obat di Dalamnya yang Tak Pernah Diresepkan Siapa Pun
Bagian 1 — Aku Tak Sanggup Menelan Jamu Pahit Buatan Ibu Mertua, Jadi Suamiku Menghabiskannya Diam-Diam Sampai Wajahnya Berubah Pucat Setiap Hari Tanpa Kami Curigai
Hari kelima setelah operasi caesar, aku masih harus memegang sisi perut setiap kali hendak bangun dari tempat tidur.
Luka jahitanku terasa seperti ditarik dari dalam.
Putriku, Alya, baru saja selesai menyusu ketika pintu kamar dibuka tanpa ketukan.
Ibu mertuaku, Bu Ratna, masuk membawa termos stainless besar dan sebuah gelas enamel.
“Nisa, diminum sekarang. Masih hangat.”
Aku langsung mengenali baunya sebelum tutup termos dibuka sepenuhnya.
Pahit.
Sedikit asam.
Dan ada aroma aneh seperti tanah basah bercampur rempah gosong.
Sejak aku pulang dari rumah sakit ke rumah kami di Waru, Sidoarjo, Bu Ratna datang setiap pagi membawa ramuan yang dia sebut jamu pemulih rahim.
Katanya resep keluarga.
Katanya dulu dia meminumnya setelah melahirkan Ardi, suamiku.
Katanya perempuan yang baru melahirkan tidak boleh manja.
“Kalau cuma minum air putih sama makan sup, kapan badanmu pulih?” katanya sambil menuangkan cairan cokelat pekat ke gelas.
Aku mencoba satu teguk.
Lidahku langsung terasa kebas karena pahitnya.
Aku menahan mual.
“Bu, saya benar-benar susah minumnya.”
Bu Ratna mengerutkan kening.
“Obat memang bukan sirup.”
“Aku takut memengaruhi ASI.”
“Jangan terlalu percaya internet.”
Nada suaranya mulai meninggi.
“Orang zaman sekarang baru melahirkan sudah merasa lebih pintar daripada orang tua.”
Aku tidak ingin bertengkar.
Tubuhku masih sakit, tidurku tidak pernah lebih dari dua jam, dan Alya bisa menangis kapan saja.
Jadi aku mengangguk.
“Iya, Bu.”
Bu Ratna baru tersenyum.
“Habiskan. Nanti Ibu ambil gelasnya.”
Begitu pintu tertutup, aku menatap gelas itu seperti sedang menatap hukuman.
Ardi yang sejak tadi mengganti popok Alya menoleh.
“Separah itu rasanya?”
“Kamu coba sendiri.”
Aku menyodorkan gelas.
Ardi tertawa.
Dia menyesap sedikit.
Senyumnya langsung hilang.
“Ya Allah.”
Aku hampir tertawa melihat ekspresinya.
“Kan?”
“Ini jamu atau air rebusan ban motor?”
Aku menutup mulut agar tidak tertawa terlalu keras karena jahitanku langsung nyeri.
Ardi memandang ke pintu, lalu kembali menatapku.
“Kalau kamu nggak sanggup, sini.”
Dia mengambil gelas itu.
“Ngapain?”
“Daripada nanti Mama masuk terus ceramah satu jam.”
Lalu, sebelum sempat kuhentikan, dia menenggak sisanya dalam beberapa kali tegukan.
Aku melotot.
“Kamu serius?”
Dia menunjukkan gelas kosong.
“Sudah.”
“Kalau ibumu tahu?”
“Makanya jangan kasih tahu.”
Hari itu terasa seperti lelucon kecil antara suami dan istri.
Aku sama sekali tidak membayangkan bahwa tujuh hari kemudian aku akan berdiri di IGD sambil menangis, berharap waktu bisa diputar kembali.
Keesokan paginya, Bu Ratna kembali membawa jamu.
Kali ini warnanya lebih gelap.
“Ibu tambahkan racikan supaya darah kotornya cepat bersih.”
Aku tidak tahu apa maksudnya.
Aku hanya menyentuhkan gelas ke bibir.
Begitu Bu Ratna keluar, Ardi mengulurkan tangan.
“Sini.”
“Kamu nggak harus minum terus.”
“Cuma setengah gelas.”
Dia menghabiskannya.
Hari ketiga, begitu lagi.
Hari keempat, sama.
Lama-lama itu menjadi rahasia kecil kami.
Bu Ratna selalu datang sekitar pukul tujuh pagi.
Aku berpura-pura minum.
Setelah dia pergi ke dapur atau pulang, Ardi menghabiskan semuanya.
Setiap sore, Bu Ratna mengambil gelas kosong dengan wajah puas.
“Nah, begini. Nurut sama orang tua itu nggak akan bikin rugi.”
Aku hanya tersenyum kaku.
Aku merasa bersalah karena berbohong.
Tapi saat itu, rasa bersalahku hanya soal sopan santun.
Bukan soal keselamatan.
Pada hari kelima, aku mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda pada Ardi.
Dia biasanya orang yang paling sulit diam.
Bahkan ketika kurang tidur, dia masih sempat bercanda sambil mencuci botol susu.
Tapi pagi itu dia duduk lama di meja makan.
Tidak menyentuh nasi.
“Aku bikin telur, ya?” tanyaku.
Dia menggeleng.
“Mual.”
“Kamu masuk angin?”
“Mungkin.”
Wajahnya terlihat pucat.
Bagian bawah matanya gelap.
Aku menyentuh dahinya.
Tidak demam.
“Tidur sana.”
“Nanti siapa bantu kamu kalau Alya bangun?”
“Aku bisa panggil Mama.”
Ardi langsung mengangkat alis.
“Kamu lebih pilih mengurus bayi sendiri daripada sendirian sama Mama?”
Aku tertawa kecil.
“Tidur.”
Aku masih menganggap semuanya biasa.
Kami baru punya bayi.
Kami sama-sama kurang tidur.
Sangat mudah menyalahkan kelelahan.
Hari keenam, tangannya gemetar ketika menuangkan air minum.
Gelas hampir jatuh.
Aku langsung berdiri.
“Mas.”
“Nggak apa-apa.”
“Kok tanganmu begitu?”
“Belum sarapan mungkin.”
Tepat ketika itu, suara Bu Ratna terdengar dari dapur.
“Jamu Nisa sudah jadi!”
Ardi menatapku.
Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu di wajahnya.
Bukan bercanda.
Bukan jijik.
Seperti enggan.
“Sudah,” kataku pelan. “Hari ini buang saja.”
Ardi menghela napas.
“Kalau ketahuan, Mama pasti mulai lagi.”
“Biar.”
“Nanti kamu yang kena.”
Dia akhirnya mengambil gelas itu.
Tetapi kali ini dia tidak langsung menenggaknya.
Dia mencium permukaannya.
“Baunya kok lebih kuat?”
Aku ikut mencium.
Memang berbeda.
Lebih tajam.
“Apa ditambah sesuatu?”
“Mama bilang racikannya memang beda-beda.”
Ardi masih meminumnya.
Setelah itu dia masuk kamar mandi dan muntah.
Aku langsung panik.
“Mas!”
Dia keluar dengan wajah basah.
“Cuma lambung.”
“Besok jangan diminum lagi.”
Dia mengangguk.
Tapi besoknya, Bu Ratna datang lebih pagi.
Aku sedang menyusui Alya ketika dia meletakkan segelas jamu di meja.
“Hari ini harus benar-benar habis. Racikan terakhir.”
“Kenapa terakhir?”
“Karena satu paketnya memang untuk tujuh hari.”
Satu paket.
Entah kenapa kalimat itu menempel di kepalaku.
Bu Ratna berdiri sampai aku meminum dua teguk.
Baru setelah itu dia pergi.
Ardi keluar dari kamar mandi.
Dia melihat gelas.
Aku langsung menggeleng.
“Jangan.”
Dia tersenyum lemah.
“Sayang dibuang.”
“Mas, kemarin kamu muntah.”
“Mungkin karena belum makan.”
“Jangan diminum.”
Aku benar-benar melarangnya.
Tapi ketika Alya menangis dan aku berbalik mengambil kain bedong, Ardi sudah menghabiskan setengah gelas.
Aku marah.
“Kamu keras kepala sekali!”
Dia baru mau menjawab ketika wajahnya berubah.
Tangannya langsung memegang perut.
“Mas?”
“Aku ke kamar mandi.”
Sekitar satu jam kemudian dia mengatakan sudah agak enakan.
Siang itu, Bu Ratna pulang ke rumahnya di Madiun karena katanya ada urusan keluarga.
Pukul tiga lewat sedikit, aku sedang mengganti popok Alya.
Dari arah kamar mandi terdengar suara benturan keras.
DUK!
Aku membeku.
“Mas?”
Tidak ada jawaban.
“Ardi?”
Sunyi.
Aku meletakkan Alya di tengah kasur dan berjalan secepat mungkin meski jahitan perutku terasa seperti terbakar.
Pintu kamar mandi tidak terkunci.
Begitu kubuka, lututku hampir lemas.
Ardi tergeletak miring di lantai.
Keningnya membentur sudut kabinet wastafel.
Ada darah mengalir sampai ke alis.
“MAS!”
Aku berlutut.
Rasa sakit di perutku tidak terasa lagi.
“Ardi! Bangun!”
Tubuhnya dingin.
Matanya tertutup.
Tanganku gemetar begitu keras sampai aku salah menekan layar ponsel beberapa kali sebelum berhasil menelepon ambulans.
Di IGD, dokter memeriksa darahnya.
Aku menunggu hampir tiga jam sambil memeluk tas bayi yang kubawa tanpa sadar.
Ketika dokter akhirnya keluar, ekspresinya membuat tengkukku dingin.
“Bu Nisa?”
“Iya.”
“Kondisi suami Anda sudah stabil. Luka di kepala perlu dijahit, tetapi itu bukan masalah utama.”
Aku menahan napas.
“Hasil fungsi hatinya sangat buruk.”
Aku menatap dokter tanpa memahami.
“Suami saya tidak pernah punya penyakit hati.”
“Itu sebabnya kami bertanya.”
Dokter menatapku tajam.
“Dalam satu minggu terakhir, apakah beliau rutin minum obat, suplemen, jamu, atau ramuan tertentu?”
Mulutku langsung kering.
Aku tidak menjawab.
Dokter melanjutkan.
“Pola hasil pemeriksaannya mengarah pada paparan berulang suatu zat yang membebani hati. Bukan sesuatu yang baru dikonsumsi sekali.”
“Berapa lama?”
“Beberapa hari. Bisa lima sampai tujuh hari.”
Lima sampai tujuh hari.
Dinding koridor seperti bergerak.
Di kepalaku muncul tujuh gelas enamel.
Tujuh pagi.
Tujuh kali Bu Ratna tersenyum melihat gelas kosong.
Dokter bertanya lagi.
“Bu, ada sesuatu yang perlu kami tahu?”
Aku akhirnya berbisik.
“Ada jamu.”
“Jamu apa?”
“Seharusnya… untuk saya.”
Dokter mengernyit.
“Untuk Anda?”
Aku menatapnya.
Dan saat itulah satu kenyataan menghantamku jauh lebih keras daripada benturan Ardi di kamar mandi.
Kalau Ardi tidak diam-diam meminum jamu itu selama tujuh hari…
akulah yang seharusnya terbaring di ranjang IGD sekarang.
#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #CeritaIndonesia #IbuMertua #KisahViral
Bagian 2 — Setelah Dokter Menemukan Kerusakan Hati Akut, Satu Pertanyaan Membuatku Mengingat Botol Jamu yang Selalu Dijaga Ibu Mertua di Dapur Setiap Pagi
Ardi sadar menjelang tengah malam.
Keningnya diperban.
Wajahnya pucat kekuningan.
Begitu membuka mata, pertanyaan pertamanya bukan tentang dirinya.
“Alya?”
“Di rumah Mama.”
“Mama kamu?”
Aku mengangguk.
Ibuku datang dari Gresik begitu mendengar kabar dan langsung membawa Alya pulang agar aku bisa menjaga Ardi.
Aku menggenggam tangannya.
“Mas, dokter bilang hatimu bermasalah.”
Ardi mengernyit.
“Aku?”
“Dokter curiga ada sesuatu yang kamu konsumsi berulang.”
Kami saling menatap.
Tidak perlu menyebutkannya.
Dia sudah tahu.
“Jamu Mama?”
Aku mengangguk.
Wajah Ardi berubah.
“Tapi itu buat kamu.”
“Justru itu.”
Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku melihat suamiku benar-benar kehilangan kata-kata ketika membicarakan ibunya.
Pagi berikutnya, Bu Ratna tiba dari Madiun.
Dia datang terburu-buru membawa tas besar.
Begitu melihat Ardi, dia menangis.
“Ya Allah, Nak… kok bisa begini?”
Dia memeluk kepala anaknya.
Ardi meringis.
Aku hanya berdiri di samping ranjang.
Lima belas menit kemudian, Bu Ratna mengeluarkan termos kecil dari tasnya.
Aku langsung menegang.
“Ibu bawakan jamu kunyit sama temulawak. Biar badanmu cepat pulih.”
Tangannya baru membuka tutup termos ketika aku berkata,
“Jangan.”
Bu Ratna menoleh.
“Nisa?”
“Dokter melarang Mas Ardi minum jamu apa pun.”
“Ini bukan jamu sembarangan.”
“Tidak.”
Nada suaraku lebih keras.
Bu Ratna menatapku beberapa detik.
Lalu sesuatu melintas di matanya.
Sangat cepat.
Tapi aku melihatnya.
Takut.
Bukan marah.
Bukan tersinggung.
Takut.
Dia langsung menutup termos.
“Ya sudah. Kalau dokter bilang begitu.”
Ardi rupanya melihat ekspresi yang sama.
Setelah ibunya pergi membeli makan siang, dia berbisik,
“Kamu lihat?”
“Iya.”
Kami sepakat tidak menuduh siapa pun sebelum punya bukti.
Siang itu aku pulang ke rumah bersama kakakku, Rizky.
Dapur masih sama seperti kemarin.
Panci bekas jamu sudah dicuci.
Namun di rak paling atas ada sebuah kotak plastik yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Aku mengambil kursi.
Di dalam kotak itu ada kunyit kering, kayu manis, beberapa rempah biasa…
dan enam bungkus kecil tanpa merek.
Plastiknya transparan.
Isinya bubuk abu-abu kecokelatan.
Tidak ada komposisi.
Tidak ada nomor BPOM.
Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Hanya tulisan dengan spidol:
Paket Nifas Super — 1 sendok/hari.
Aku memotretnya.
Rizky berdiri di belakangku.
“Ini yang dimasukin ke jamu?”
“Entahlah.”
Aku mengambil satu bungkus yang sudah terbuka dan memasukkannya ke plastik bersih.
Lalu aku memeriksa tempat sampah.
Di bagian bawah ada beberapa sachet kosong dengan tulisan yang sama.
Jantungku berdebar.
Berarti bubuk itu memang sudah digunakan.
Aku mengambil sampel sisa kerak dari termos dan membawanya bersama sachet ke sebuah laboratorium pengujian makanan swasta di Surabaya.
Petugas mengatakan pemeriksaan lengkap membutuhkan waktu.
Aku membayar layanan prioritas.
Malamnya, Ardi meneleponku.
“Nisa.”
“Apa?”
“Aku cek ponsel Mama.”
Aku diam.
“Kenapa?”
“Dia tadi pinjam charger lalu pergi ke musala. Ada notifikasi masuk.”
“Dari siapa?”
Ardi menarik napas panjang.
“Grup WhatsApp namanya Ibu Pulih Cepat.”
Aku belum memahami.
Lalu dia mengirim beberapa tangkapan layar.
Tanganku membeku.
Bu Ratna bukan hanya membeli bubuk itu.
Dia menjualnya.
Dalam grup tersebut ada belasan ibu-ibu.
Ada foto paket jamu.
Ada harga.
Ada pesan Bu Ratna:
“Menantu saya baru lahiran juga pakai paket ini. Hari ketiga sudah jauh lebih segar.”
Aku membaca kalimat itu tiga kali.
Aku bahkan belum pernah mengatakan tubuhku lebih segar.
Ada pesan lain.
Seorang anggota bertanya:
“Aman untuk ibu menyusui?”
Bu Ratna menjawab:
“Aman. Racikan tradisional. Sudah banyak yang coba.”
Yang membuat darahku dingin adalah pesan setelahnya.
Seseorang bernama Bu Yuni menulis:
“Ratna, bukannya kemarin Mbak Sari habis minum ini masuk rumah sakit karena enzim hatinya tinggi?”
Pesan berikutnya berasal dari Bu Ratna.
“Jangan bahas itu di grup. Dia punya penyakit lain.”
Aku langsung menelepon Ardi.
“Mas… ibumu tahu.”
Suara Ardi terdengar serak.
“Aku juga baca.”
“Dia tahu pernah ada orang masuk rumah sakit setelah minum racikan itu.”
Ardi tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian, pintu rumah sakit terdengar terbuka dari sambungan telepon.
Lalu suara Bu Ratna.
“Ardi?”
Sunyi.
Kemudian suaranya berubah.
“Kamu pegang HP Mama?”
Ardi masih tidak menjawab.
Bu Ratna tiba-tiba berteriak,
“Jangan baca percakapan orang sembarangan!”
Sambungan terputus.
Dua menit kemudian, ponselku berdering.
Bu Ratna.
Aku tidak mengangkatnya.
Dia menelepon lagi.
Lagi.
Lagi.
Lalu sebuah pesan masuk.
Nisa, jangan bawa-bawa masalah keluarga ke luar. Kamu belum tahu cerita sebenarnya.
Aku baru selesai membacanya ketika telepon dari laboratorium masuk.
“Bu Nisa?”
“Iya.”
“Kami baru melakukan skrining awal terhadap sampel yang Ibu kirim.”
Aku berdiri.
Petugas berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
“Bubuk ini bukan sekadar campuran rempah.”
Tanganku mulai dingin.
“Ada indikasi bahan obat keras yang tidak dicantumkan pada kemasan. Kami sarankan sampelnya jangan dibuang dan jangan digunakan lagi.”
Aku menutup mata.
Lalu petugas mengatakan kalimat yang membuatku langsung mengambil tas.
“Kalau ada anggota keluarga yang sedang dirawat setelah mengonsumsi produk ini, sebaiknya hasil sementara ini segera diberikan kepada dokter.”
Saat aku hendak keluar, sebuah motor berhenti di depan rumah.
Bu Ratna turun.
Wajahnya pucat.
Dia berjalan cepat ke arahku.
“Nisa.”
Tatapannya langsung jatuh pada kantong transparan di tanganku.
Warna wajahnya berubah.
“Kamu ambil itu dari mana?”
Aku menjawab pelan.
“Dari dapur saya sendiri.”
Bu Ratna mendekat.
“Kasih ke Ibu.”
“Tidak.”
“Nisa, kasih!”
Untuk pertama kalinya, dia mencoba merebut sesuatu dari tanganku.
Aku mundur.
Kakakku berdiri di depan pintu.
Bu Ratna berhenti.
Aku menatap perempuan yang selama tujuh hari memaksaku meminum sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak pernah berani jelaskan isinya.
Lalu aku bertanya,
“Kalau racikan ini benar-benar aman…”
Aku mengangkat kantong itu.
“Kenapa Ibu sampai datang dari Madiun hanya untuk mengambil sisanya?”
Bagian 3 — Aku Membawa Sisa Jamu ke Laboratorium, Lalu Rekaman Kamera Toko Mengungkap Mengapa Ibu Mertua Begitu Takut Saat Polisi Datang ke Rumah Kami
Bu Ratna tidak menjawab pertanyaanku.
Dia hanya berkata,
“Kamu jangan membesar-besarkan.”
Kalimat itu justru menghapus sisa keraguanku.
Aku kembali ke rumah sakit bersama Rizky.
Sampel dan hasil pemeriksaan awal kuserahkan kepada dokter Ardi.
Setelah membaca laporan, dokter langsung meminta pemeriksaan tambahan.
Keesokan harinya hasilnya semakin jelas.
Produk yang diminum Ardi mengandung campuran bahan yang tidak seharusnya ada dalam jamu tradisional dan berpotensi membebani hati jika digunakan berulang.
Dokter tidak mengatakan bahwa jamu itu satu-satunya penyebab sebelum seluruh pemeriksaan selesai.
Namun hubungan waktunya terlalu kuat untuk diabaikan.
Ardi meminumnya selama tujuh hari.
Gejalanya muncul bertahap.
Dan kondisinya membaik setelah konsumsi dihentikan serta mendapat perawatan.
Ardi menatap hasil pemeriksaan cukup lama.
Lalu dia menelepon ibunya.
“Ma.”
Bu Ratna langsung menangis.
“Mama nggak tahu, Di.”
Ardi menutup mata.
“Tapi Mama tahu ada orang lain pernah masuk rumah sakit.”
Sunyi.
“Itu beda.”
“Beda bagaimana?”
“Dia memang punya penyakit.”
“Terus kenapa Mama suruh Nisa minum juga?”
“Nisa habis melahirkan! Mama cuma mau dia cepat pulih!”
Ardi menggenggam selimut.
“Cepat pulih atau supaya Mama bisa jual lebih banyak paket dengan bilang menantu sendiri berhasil?”
Tidak ada jawaban.
Itulah bagian yang paling menyakitkan.
Bu Ratna memang tidak pernah berkata ingin mencelakaiku.
Kemungkinan besar dia bahkan tidak berpikir ramuan itu bisa menyebabkan kondisi seburuk ini.
Tetapi dia tahu ada peringatan.
Dia tahu ada konsumen lain yang sakit.
Dia tidak berhenti.
Sebaliknya, dia tetap menjualnya.
Dan aku dijadikan testimoni tanpa izin.
Aku akhirnya membuat laporan bersama salah satu keluarga konsumen lain yang ternyata mengalami keluhan serupa.
Masalah itu kemudian diteruskan untuk pemeriksaan terhadap produk serta penjualannya.
Dari percakapan grup, kami menemukan nama pemasok.
Seorang perempuan bernama Lastri yang menjual paket “pemulihan pascamelahirkan” dari rumahnya di daerah Sepanjang.
Ketika petugas mendatangi alamat tersebut, Bu Lastri bersikeras semuanya hanya rempah.
Sampai Rizky mengingat sesuatu.
Beberapa hari sebelumnya, Bu Ratna pernah meminta Ardi mengantarkannya ke sebuah toko bahan jamu.
Ardi masih ingat lokasinya.
Pemilik toko bersedia menunjukkan rekaman CCTV setelah diminta pihak yang berwenang.
Di situlah semuanya terungkap.
Dalam rekaman terlihat Bu Ratna datang bersama Bu Lastri.
Bu Lastri membeli rempah biasa.
Tetapi sebelum pulang, dia juga menerima beberapa bungkus bubuk dari seseorang yang datang menggunakan motor.
Tidak ada label.
Tidak ada kemasan resmi.
Bu Ratna bahkan sempat bertanya sesuatu sambil menunjuk bungkus tersebut.
Audio kamera tidak terdengar jelas.
Namun pemilik toko masih mengingat percakapannya.
Katanya, Bu Ratna bertanya,
“Kalau buat ibu menyusui aman?”
Dan Bu Lastri menjawab,
“Yang penting takarannya jangan kebanyakan.”
Jadi Bu Ratna bukan sama sekali tidak tahu ada risiko.
Dia tahu cukup banyak untuk bertanya.
Tetapi tidak cukup peduli untuk berhenti.
Pemeriksaan terhadap jaringan penjualan itu berlanjut.
Produk mereka ditarik.
Bu Lastri tidak lagi bisa menjual paket tersebut seperti sebelumnya dan harus mempertanggungjawabkan barang yang diedarkan tanpa informasi jelas.
Bu Ratna juga diminta memberikan keterangan karena dia ikut menawarkan produk kepada orang lain.
Lebih dari itu, satu demi satu ibu di grup WhatsApp meminta uang mereka kembali.
Ada yang marah.
Ada yang mengirim foto hasil pemeriksaan.
Ada yang mengatakan akan ikut melapor.
Grup yang dulu penuh dengan testimoni buatan berubah menjadi puluhan pesan tuntutan.
Bu Ratna menelepon Ardi berkali-kali.
Awalnya dia memohon.
Lalu marah.
Kemudian menyalahkanku.
“Nisa yang bikin semua jadi besar.”
Saat itu Ardi masih dirawat.
Aku duduk di sampingnya ketika telepon itu datang.
Untuk pertama kalinya, dia menyalakan speaker.
“Ma,” katanya pelan.
“Ini bukan karena Nisa.”
“Tapi kalau dia nggak bawa jamunya ke laboratorium—”
“Kalau dia nggak bawa ke laboratorium, mungkin kita nggak pernah tahu.”
Bu Ratna terdiam.
Ardi melanjutkan.
“Dan kalau aku nggak minum jamu itu… yang masuk rumah sakit mungkin istri aku.”
Aku menunduk.
Air mataku langsung jatuh.
Bu Ratna mulai menangis.
“Mama kan nggak bermaksud begitu.”
“Niat baik nggak menghapus akibat.”
Aku tidak pernah mendengar Ardi bicara setegas itu kepada ibunya.
“Mulai sekarang Mama nggak boleh kasih apa pun ke Nisa atau Alya tanpa kami tahu. Makanan, jamu, vitamin, apa pun.”
“Ardi…”
“Dan jangan datang ke rumah dulu.”
Telepon menjadi hening.
“Mama ibumu.”
“Aku tahu.”
Ardi melihatku.
“Tapi Nisa istriku. Alya anakku. Mereka tanggung jawabku.”
Bu Ratna akhirnya benar-benar meminta maaf tiga minggu kemudian.
Bukan karena Ardi menyuruh.
Dia datang sendiri.
Tidak membawa termos.
Tidak membawa jamu.
Dia hanya membawa satu amplop berisi uang hasil pengembalian dari penjualan barang-barang yang masih tersisa.
“Aku salah.”
Itu pertama kalinya aku mendengarnya menyebut dirinya salah tanpa menambahkan kata “tapi”.
“Aku terlalu percaya sama orang.”
Aku menjawab,
“Masalahnya bukan cuma Ibu percaya.”
Bu Ratna menatapku.
“Ibu juga membuat orang lain percaya karena memakai nama saya.”
Dia menunduk.
Aku tidak langsung memaafkan semuanya.
Ada hal-hal yang tidak pulih hanya karena seseorang menangis.
Kepercayaan perlu dibangun kembali.
Pelan-pelan.
Ardi akhirnya keluar dari rumah sakit setelah kondisinya membaik.
Dokter mengatakan dia masih harus kontrol dan menjaga pola makan selama masa pemulihan.
Begitu kami pulang, hal pertama yang dia lakukan adalah membuka lemari dapur.
Dia mengambil semua sachet jamu yang tersisa.
Memasukkannya ke kotak bukti.
Lalu menempelkan secarik kertas pada rak kosong.
Tidak ada yang masuk tubuh kita kalau kita tidak tahu isinya.
Aku tertawa saat membacanya.
“Dramatis sekali.”
Ardi mengangkat bahu.
“Biar kapok.”
Beberapa bulan kemudian kami pindah ke rumah kontrakan yang lebih kecil, sekitar lima belas menit dari rumah lama.
Bukan rumah mewah.
Ruang tamunya sempit.
Dapurnya bahkan hanya cukup untuk dua orang berdiri.
Tapi untuk pertama kalinya sejak melahirkan, aku merasa rumah itu benar-benar milik kami.
Bu Ratna masih bertemu Alya.
Tetapi selalu bersama kami.
Dia tidak lagi membawa ramuan apa pun.
Kadang dia datang hanya membawa buah yang masih tersegel dari toko.
Suatu sore, ketika Alya berusia enam bulan, Bu Ratna duduk di ruang tamu sambil menggendong cucunya.
Dia menatapku lama.
“Nisa.”
“Ya, Bu?”
“Waktu itu… kalau Ardi nggak minum jamunya…”
Dia berhenti.
Aku tahu kelanjutan kalimatnya.
Aku tidak membantunya menyelesaikan.
Bu Ratna menunduk ke arah Alya.
Matanya berkaca-kaca.
“Maaf.”
Aku mengangguk.
Bukan berarti semuanya terlupakan.
Bukan berarti rasa takut malam itu hilang.
Tetapi aku memilih menyimpan satu pelajaran dari tujuh gelas jamu tersebut.
Keluarga boleh memberi nasihat.
Orang tua boleh punya pengalaman.
Tradisi boleh dihormati.
Tetapi tubuh seseorang bukan tempat percobaan, bahkan atas nama kasih sayang.
Dan sampai hari ini, setiap kali Ardi melihat minuman herbal berwarna cokelat pekat, dia langsung menggeser gelasnya menjauh.
Lalu berkata,
“Kalau kamu nggak suka, jangan suruh aku habisin lagi.”
Aku biasanya tertawa.
“Sekarang kapok?”
Dia menyentuh bekas luka tipis di keningnya.
“Seumur hidup.”
Alya tertawa dari pangkuanku.
Dan untuk pertama kalinya, cerita tentang tujuh gelas jamu itu tidak lagi terasa seperti malam paling menakutkan dalam hidup kami.
Melainkan pengingat tentang satu keputusan kecil yang akhirnya menyelamatkan kami dari kebohongan yang jauh lebih besar.

