Bagian 3 — Arga Mengira Aku Akan Kembali Memohon, Padahal Rekaman, Buku Rekening, dan Satu Surat dari Markas Mengakhiri Karier Serta Kesombongannya dalam Satu Minggu
Selama beberapa detik, tidak ada seorang pun di ruangan itu bergerak.
Pecahan kaca berserakan di lantai.
Aroma minuman bercampur dengan pendingin udara yang terlalu dingin.
Nabila berdiri di belakang sofa.
Arga menatapku.
“Kamu lapor aku?”
Aku mengambil jaket.
“Ya.”
“Karena paspor?”
“Bukan hanya itu.”
Wajahnya perlahan berubah.
Aku bisa melihat pikirannya mulai berputar.
Mencari-cari kesalahan apa yang mungkin sudah kuketahui.
Dan itulah pertama kalinya selama bertahun-tahun aku melihat Arga takut kepadaku.
Bukan takut karena aku akan berteriak.
Bukan takut karena aku akan mempermalukannya.
Dia takut karena aku tenang.
Pintu terbuka.
Dua orang dari pengelola klub masuk bersama seorang perwira senior yang kukenal sebatas nama.
Aku langsung berdiri tegak.
Perwira itu memperkenalkan diri singkat, kemudian meminta semua orang tetap berada di ruangan sampai pencatatan awal selesai.
Arga tertawa kaku.
“Pak, ini cuma masalah rumah tangga.”
Perwira senior itu menatap pecahan gelas di lantai.
Lalu menatap meja tempat cincin, jam, bros, dan beberapa barangku tergeletak.
“Kalau hanya masalah rumah tangga, kenapa ada laporan mengenai penahanan dokumen pribadi, penggunaan fasilitas kedinasan untuk kepentingan pribadi, serta dugaan intimidasi di lingkungan klub?”
Arga langsung menoleh kepadaku.
Aku tidak mengalihkan pandangan.
Empat bulan.
Selama empat bulan aku mengumpulkan semuanya.
Bukan karena sejak awal aku ingin menghancurkannya.
Justru sebaliknya.
Tiga bulan pertama aku masih berharap ada sesuatu yang bisa diselamatkan.
Aku mengetahui hubungan Arga dan Nabila secara tidak sengaja.
Suatu malam, Arga pulang dari perjalanan dinas dan meninggalkan ponsel keduanya di mobil.
Ketika aku hendak mengambil dompetnya, layar ponsel itu menyala.
Pesan masuk.
Aku kangen. Tadi bayi kita bergerak, padahal dokter bilang masih terlalu kecil.
Aku berdiri hampir satu menit di samping mobil.
Aku tidak membuka ponsel itu.
Tidak perlu.
Besoknya, aku bertanya langsung.
“Siapa Nabila?”
Arga tidak terkejut.
Dia hanya diam sebentar.
Kemudian menjawab, “Teman.”
Aku bertanya lagi.
“Teman yang mengandung anakmu?”
Dia akhirnya menatapku.
Tidak meminta maaf.
Tidak menyangkal.
“Jangan bikin suasana rumah ribut.”
Itulah kalimat pertama yang dia ucapkan setelah aku mengetahui perselingkuhannya.
Bukan maaf.
Bukan penyesalan.
Bukan penjelasan.
Jangan bikin suasana rumah ribut.
Seolah-olah masalah sebenarnya bukan dia berselingkuh.
Masalahnya adalah aku mungkin bereaksi.
Sejak hari itu, sesuatu di dalam diriku perlahan mati.
Namun aku belum pergi.
Aku ingin memastikan keputusanku dibuat dengan kepala dingin.
Aku menghubungi Ratna, teman lamaku yang sekarang bekerja sebagai konsultan sumber daya manusia di sebuah jaringan hotel.
Aku hanya bertanya satu hal.
“Kalau aku mulai bekerja lagi setelah tujuh tahun berhenti, masih ada tempat?”
Ratna tertawa.
“Sari, tujuh tahun lalu kamu keluar sebagai banquet manager terbaik yang pernah gue punya. Orang kayak lo nggak kehilangan kemampuan hanya karena menikah.”
Seminggu kemudian aku mengikuti dua pelatihan daring.
Sebulan kemudian aku mendapatkan tawaran sebagai hospitality trainer.
Arga mengetahui itu.
Dan sejak saat itulah dia mulai berubah lebih kasar.
Dia menyebutku tidak tahu diri.
Mengatakan usiaku hampir empat puluh.
Mengatakan dunia kerja sudah berbeda.
Mengatakan aku hanya akan mempermalukan diri sendiri.
Lalu pasporku hilang dari laci.
Ketika kutanya, dia menjawab santai.
“Aku simpan.”
“Kembalikan.”
“Buat apa?”
“Dokumen itu milikku.”
“Kamu istriku.”
Seolah dua kalimat itu saling berhubungan.
Aku mulai memahami satu hal.
Arga tidak hanya ingin perempuan lain.
Dia juga tidak ingin kehilangan perempuan yang selama ini dia anggap bisa dikendalikan.
Dia ingin Nabila untuk kesenangan barunya.
Dan ingin aku tetap di rumah sebagai cadangan hidup yang selalu tersedia.
Maka aku berhenti membahas paspor.
Aku mulai mencatat.
Tanggal.
Jam.
Percakapan.
Nomor kendaraan.
Transfer rekening.
Bukan dengan cara ilegal.
Aku hanya menyimpan apa yang memang sampai kepadaku.
Tagihan kartu tambahan.
Mutasi rekening rumah tangga.
Pesan yang dikirim Arga sendiri.
Foto yang dia unggah ke grup teman lalu lupa menghapus.
Dan satu kesalahan terbesar yang dia lakukan:
menggunakan kendaraan operasional yang seharusnya dipakai untuk kebutuhan satuan untuk beberapa perjalanan pribadi bersama Nabila.
Awalnya aku bahkan tidak tahu kendaraan itu kendaraan dinas.
Sampai suatu malam Dimas datang mengantar sebuah map ke rumah.
Dia melihat foto di meja yang tanpa sengaja tercetak bersama dokumen.
Foto Arga dan Nabila sedang turun dari mobil.
Dimas menatapnya lama.
“Bu.”
“Apa?”
“Mobil ini bukan mobil pribadi Arga.”
Aku diam.
Sejak malam itu, semuanya berubah.
Dimas tidak langsung membantuku.
Dia masih teman Arga.
Namun dua minggu kemudian, dia mengirim satu pesan.
Bu Sari, saya tidak ingin ikut campur rumah tangga. Tapi kalau ada fasilitas kantor yang dipakai untuk urusan pribadi, itu sudah bukan urusan rumah tangga.
Dia memberiku alamat resmi untuk membuat pengaduan administratif.
Aku mengumpulkan bukti.
Tidak ada drama.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada unggahan media sosial.
Aku hanya mengirim laporan.
Setelah itu, aku menunggu.
Dan malam ini, Arga sendiri yang memberikan bukti terakhir.
Di depan kamera.
Di depan saksi.
Dengan mulutnya sendiri.
Perwira senior meminta Arga menyerahkan tas yang dibawanya.
“Apa ini perlu?”
“Perlu.”
Arga tetap tidak bergerak.
Akhirnya Dimas berkata pelan, “Ga, serahkan.”
Tatapan Arga menusuknya.
“Kamu ikut dia?”
Dimas menjawab, “Nggak ada yang ikut siapa-siapa. Ini soal apa yang lo lakukan.”
Tas dibuka.
Di dalam saku dokumen ditemukan pasporku.
Ruangan semakin sunyi.
Perwira itu mengangkat paspor tersebut.
“Ini milik Ibu Sari?”
“Ya.”
Dia menyerahkannya kepadaku.
Aku menerimanya dengan kedua tangan.
Benda kecil berwarna hijau itu terasa jauh lebih berat daripada biasanya.
Arga tertawa hambar.
“Aku cuma menyimpannya supaya nggak hilang.”
Aku mengangguk.
“Seperti kamu menyimpan kartu ATM-ku bulan lalu?”
Dia langsung diam.
Nabila menoleh cepat.
“Apa?”
Aku membuka tas.
Mengambil sebuah map tipis.
Di dalamnya ada salinan laporan transaksi.
Tiga bulan terakhir, Arga beberapa kali memindahkan uang dari rekening bersama kami ke rekening pribadinya.
Totalnya seratus delapan puluh empat juta rupiah.
Sebagian memang gajinya.
Namun tiga puluh enam juta berasal dari dana deposito yang dibuat atas nama kami berdua untuk biaya perawatan rumah ibuku di Solo.
Aku bertanya saat melihat transaksi pertama.
Dia menjawab:
“Untuk kebutuhan keluarga.”
Ternyata keluarga yang dimaksud bukan aku.
Transfer berikutnya mengarah pada uang muka sewa apartemen Nabila.
Pembelian perabot.
Perawatan klinik.
Dan satu cincin.
Nabila tiba-tiba menatap tangan kirinya sendiri.
Wajahnya memucat.
“Apartemen?”
Aku memandangnya.
“Bukankah kamu tinggal di apartemen daerah Pakuwon?”
Dia tidak menjawab.
Arga berdiri.
“Cukup.”
Nabila justru menatapnya.
“Kamu bilang apartemen itu punya kamu.”
Arga membeku.
Aku akhirnya mengerti.
Ternyata bukan hanya aku yang diberi versi kehidupan berbeda.
Arga berkata kepada Nabila bahwa apartemen tersebut adalah aset pribadinya.
Padahal sewa tahunannya dibayar dari rekening rumah tangga kami.
Nabila menunjuknya.
“Terus rumah tempat kalian tinggal?”
“Rumah dinas,” jawabku.
Nabila seperti kehilangan suara.
“Mobil hitam itu?”
Aku berkata, “Milik kantor.”
Wajahnya semakin putih.
Aku hampir merasa kasihan.
Hampir.
Namun aku masih ingat bagaimana perempuan itu berdiri di depanku satu jam lalu, membiarkan suamiku menyuruhku melayani meja tanpa mengatakan satu kata pun.
Nabila duduk perlahan.
“Mas bilang setelah menikah kita tinggal di rumah itu.”
Arga menekan rahang.
“Nanti kita bicarakan.”
“Kamu bilang rumah itu atas nama kamu.”
“Nabila.”
“Terus uang seratus lima puluh juta yang kamu minta dari Bapak buat renovasi?”
Kini giliran semua orang menatap Arga.
Aku juga.
Ini informasi baru bagiku.
Perwira senior langsung mencatat sesuatu.
Arga berkata tajam, “Jangan bicara sembarangan.”
Air mata mulai memenuhi mata Nabila.
“Kamu yang bilang kita harus renovasi lantai dua sebelum bayi lahir.”
Rumah dinas kami bahkan tidak punya lantai dua.
Dimas menutup mata sebentar.
Aku hampir tidak percaya pada ironi malam itu.
Arga sudah membangun begitu banyak kebohongan hingga akhirnya dia sendiri tidak lagi mampu mengingat versi mana yang diberikan kepada siapa.
Pencatatan berlangsung hampir satu jam.
Aku memberikan kronologi.
Dimas memberikan keterangan.
Pengelola klub menyerahkan rekaman CCTV.
Tiga teman Arga yang sejak awal memasang taruhan mendadak jauh lebih pendiam.
Salah satunya bahkan mendatangiku ketika aku hendak pergi.
“Bu Sari.”
Aku berhenti.
Dia menunduk.
“Saya minta maaf.”
Aku melihatnya.
“Untuk apa?”
Dia terdiam.
Mungkin karena dia sendiri tidak tahu bagian mana yang paling memalukan.
Bertaruh kapan seorang istri akan menangis?
Menertawakan masa laluku?
Membiarkan Arga memperlakukanku seperti barang?
Akhirnya dia berkata, “Untuk semuanya.”
Aku mengangguk.
“Besok kalau melihat perempuan lain diperlakukan seperti itu, jangan tunggu sampai selesai baru merasa bersalah.”
Dia tidak menjawab.
Aku pergi.
Ratna sudah menungguku di parkiran.
Begitu aku masuk ke mobilnya, dia menatapku dari ujung rambut sampai kaki.
“Kamu minum?”
“Sedikit.”
“Gila.”
Dia langsung mengambil botol air mineral.
“Minum.”
Aku menurut.
Selama perjalanan menuju apartemennya, aku tidak menangis.
Baru ketika Ratna berhenti di lampu merah dan berkata, “Paspor udah balik?”
Aku mengeluarkannya dari tas.
“Udah.”
Ratna mengangguk.
“Bagus.”
Entah kenapa hanya satu kata itu yang membuat pertahananku runtuh.
Aku menutup wajah.
Tujuh tahun.
Tujuh tahun pernikahan.
Empat bulan mengetahui pengkhianatan.
Tiga minggu tidur di sebelah laki-laki yang diam-diam merencanakan kehidupan lain.
Aku menangis tanpa suara.
Ratna tidak menghibur dengan kalimat klise.
Dia hanya membiarkanku.
Ketika sampai di apartemen, dia menaruh koper di kamar.
Koper itu sudah dibawa keluar rumah sore tadi saat Arga masih di kantor.
Aku tidak mengambil perabot.
Tidak membawa televisi.
Tidak membawa mesin kopi.
Tidak membawa satu pun barang yang pernah dia gunakan untuk mengingatkanku bahwa dialah yang “memberikan hidup”.
Aku hanya membawa pakaian.
Dokumen.
Laptop.
Foto ibu.
Sertifikat kerjaku.
Dan sebuah kotak kayu kecil.
Di dalamnya ada buku rekening lama.
Rekening atas namaku sendiri.
Arga tidak pernah tahu tentang rekening itu.
Bukan karena aku menyembunyikan harta.
Melainkan karena rekening tersebut sudah ada sebelum kami menikah.
Setelah ibu meninggal, sebuah ruko kecil di Solo diwariskan kepadaku.
Bukan gedung besar.
Bukan harta miliaran.
Hanya satu bangunan dua lantai yang disewa toko alat tulis dan tempat les.
Selama bertahun-tahun uang sewanya masuk ke rekening tersebut.
Aku hampir tidak pernah menyentuhnya.
Arga pernah bertanya.
Aku menjelaskan.
Dia tidak tertarik.
“Uang receh,” katanya waktu itu.
Ternyata “uang receh” itu cukup untuk membuatku tidak perlu meminta satu rupiah pun darinya ketika akhirnya pergi.
Tiga hari setelah malam di klub, Arga menelepon.
Aku tidak mengangkat.
Dia menelepon lagi.
Dan lagi.
Pesan masuk.
Kita perlu bicara.
Aku tidak menjawab.
Lima menit kemudian:
Masalah kantor jadi besar gara-gara laporanmu.
Aku membaca.
Lalu meletakkan ponsel.
Pesan berikutnya datang:
Kamu puas sekarang?
Aku akhirnya membalas.
Belum ada keputusan. Itu bukan urusanku.
Dia langsung menelepon.
Kali ini kuangkat.
“Sari!”
“Apa?”
“Kamu cabut laporan.”
“Tidak.”
“Gara-gara masalah rumah tangga, kamu mau hancurin karier orang?”
Aku tertawa kecil.
“Arga, laporan saya hanya berisi apa yang kamu lakukan. Kalau faktanya tidak merusak kariermu, seharusnya kamu tidak perlu takut.”
Dia diam.
Aku menambahkan, “Dan jangan sebut penggunaan kendaraan dinas, penahanan dokumen, serta intimidasi di fasilitas kantor sebagai masalah rumah tangga.”
“Aku cuma marah.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu bagaimana sifatku.”
“Aku juga tahu.”
“Terus kenapa sekarang tiba-tiba begini?”
Pertanyaan itu justru terdengar aneh.
“Karena dulu aku masih ingin mempertahankan pernikahan.”
Aku menarik napas.
“Sekarang tidak.”
Suara Arga berubah pelan.
“Sari.”
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, nadanya terdengar seperti laki-laki yang pernah kukenal.
“Aku bisa selesaikan Nabila.”
Aku memejamkan mata.
Lucu.
Masih saja dia merasa perempuan adalah masalah yang bisa “diselesaikan”.
“Aku nggak minta.”
“Kehamilan itu—”
“Bukan urusanku.”
“Aku bisa suruh dia pergi.”
“Bukan urusanku.”
“Kita tujuh tahun, Sar.”
“Nah.”
Aku tersenyum pahit.
“Ternyata kamu masih ingat.”
Dia terdiam.
Aku menutup telepon.
Hari kelima, surat pemanggilan resmi keluar.
Arga diperiksa lebih lanjut.
Promosi yang sedang dia tunggu ditunda sampai pemeriksaan selesai.
Dia juga dicopot sementara dari salah satu posisi koordinasi yang memungkinkannya mengakses kendaraan tertentu.
Aku tidak tahu detail seluruh prosesnya.
Dan sengaja tidak mencari tahu lebih jauh daripada yang perlu.
Perceraian kami berjalan.
Untuk bagian ini, Arga ternyata jauh lebih sulit daripada saat pertama menyodorkan surat.
Di klub dia ingin aku menandatangani secepat mungkin.
Seminggu kemudian, dia justru mulai memperlambat.
Mengubah pernyataan.
Meminta mediasi tambahan.
Menyampaikan melalui pengacara bahwa aku sedang “emosional”.
Pengacaraku, Bu Maya, hanya tertawa ketika membaca suratnya.
“Lucu.”
“Apa?”
“Laki-laki ini yang bawa perjanjian cerai duluan, sekarang bilang kamu emosional karena kamu setuju.”
Aku tidak tertawa.
Aku sudah terlalu lelah.
Namun kejutan terbesar datang dari Nabila.
Dua minggu setelah malam di klub, dia meminta bertemu.
Awalnya aku menolak.
Dia mengirim satu pesan.
Saya punya sesuatu yang berkaitan dengan uang Ibu.
Akhirnya kami bertemu di sebuah kedai kopi di Surabaya Barat.
Nabila datang tanpa Arga.
Wajahnya jauh berbeda dari malam di klub.
Tidak ada tas mahal.
Tidak ada riasan sempurna.
Dia meletakkan ponsel di meja.
“Saya mau minta maaf.”
Aku tidak menjawab.
Dia melanjutkan.
“Saya tahu dia menikah.”
“Berarti kita tidak perlu berpura-pura kamu korban penuh.”
Dia menunduk.
“Iya.”
Aku menghargai setidaknya dia tidak berbohong.
“Tapi saya nggak tahu soal uang Ibu.”
Dia membuka beberapa tangkapan layar.
Arga pernah mengirim pesan kepadanya.
Dana renovasi rumah dari tabungan keluarga sudah aman. Sari nggak akan tahu.
Pesan lain.
Nanti setelah cerai, sebagian deposito dia tetap bisa kita pakai karena semua selama menikah harusnya milik bersama.
Jari-jariku berhenti.
Nabila berkata, “Saya pikir itu deposito Mas Arga.”
Aku mengambil foto seluruh percakapan dengan izin darinya.
“Kenapa kamu kasih ini ke saya?”
Dia tertawa pahit.
“Karena dia juga bohong ke keluarga saya.”
Ternyata ayah Nabila sudah menyerahkan seratus lima puluh juta rupiah kepada Arga.
Bukan untuk renovasi rumah.
Arga menggunakannya untuk membayar utang konsumtif yang tidak pernah kuketahui.
Sebagian berasal dari pembelian jam tangan.
Perjalanan.
Hotel.
Dan pengeluaran lain.
Aku menatap Nabila.
“Kamu masih mau menikah dengannya?”
Dia menggeleng.
“Tidak.”
“Bagaimana dengan bayi?”
Untuk pertama kalinya, wajahnya benar-benar runtuh.
“Bayi tetap anak saya.”
Jawaban itu membuatku diam.
Dia melakukan kesalahan besar.
Namun bayi itu tidak bersalah.
Aku berkata, “Kalau benar anak Arga, urus tanggung jawabnya secara hukum. Jangan bergantung pada janji.”
Nabila mengangguk.
Sebelum pergi, dia berkata pelan, “Mbak Sari.”
Aku menoleh.
“Malam itu, waktu Mas Arga menyuruh Mbak minum… saya harusnya bilang berhenti.”
Aku tidak mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Karena memang tidak.
Aku hanya menjawab, “Iya. Harusnya.”
Tiga bulan kemudian, perceraian kami selesai.
Tidak ada adegan Arga berlutut.
Tidak ada hujan.
Tidak ada teriakan di depan pengadilan.
Kehidupan nyata ternyata lebih sunyi daripada drama.
Aku keluar dari gedung dengan map di tangan.
Arga menunggu di tangga.
Dia terlihat lebih kurus.
Seragamnya rapi.
Namun wajahnya tidak lagi memiliki kesombongan yang biasa.
“Sari.”
Aku berhenti.
Dia mendekat.
“Nabila pergi.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Dia tinggal sama orang tuanya.”
“Bagus.”
“Aku juga sudah kembalikan uang bapaknya sebagian.”
Aku mengangguk.
“Semoga sisanya cepat.”
Dia menatapku.
“Kamu berubah.”
Aku hampir tersenyum.
“Tidak.”
“Aku kenal kamu.”
“Justru itu masalahnya, Arga.”
Aku memandang matanya.
“Kamu berhenti mengenalku sejak lama.”
Dia menghela napas.
“Aku dapat penempatan baru.”
Aku tahu.
Dimas pernah memberi kabar singkat.
Hasil pemeriksaan membuat Arga kehilangan kesempatan promosi tahun itu.
Dia dipindahkan ke posisi administratif di luar Surabaya.
Beberapa catatan disiplin masuk ke evaluasinya.
Kariernya tidak berakhir total.
Namun jalur cepat yang selama bertahun-tahun dia banggakan terhenti.
Dan untuk laki-laki seperti Arga, itu jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan uang.
Dia berkata, “Aku mungkin pindah bulan depan.”
“Semoga lancar.”
“Sari.”
Aku hendak pergi.
Dia memanggil lagi.
“Apa nggak ada sedikit pun yang bisa kita perbaiki?”
Aku menatapnya.
Dulu aku membayangkan hari ketika dia menyesal.
Kupikir aku akan puas.
Ternyata tidak.
Yang kurasakan hanya tenang.
“Arga.”
“Ya?”
“Yang rusak bukan satu kejadian.”
Aku menunjuk dada.
“Kamu bertahun-tahun membuatku merasa semua yang aku punya berasal darimu. Kamu mengecilkan pekerjaanku, keluargaku, kemampuan saya, umur saya.”
Aku tersenyum tipis.
“Lalu kamu heran kenapa satu hari saya bisa pergi.”
Dia tidak membantah.
Aku melanjutkan.
“Kamu tidak kehilangan aku pada malam di klub.”
Matanya terangkat.
“Kamu kehilangan aku sedikit demi sedikit setiap kali kamu membuatku merasa tidak berharga, lalu menganggap aku akan tetap tinggal.”
Itu percakapan terakhir kami sebagai suami istri.
Aku pergi ke Bali dua minggu kemudian.
Pekerjaan pertamaku bukan posisi mewah.
Aku menjadi trainer untuk staf hotel baru.
Hari pertama, tanganku gemetar saat berdiri di depan tiga puluh dua peserta.
Sudah tujuh tahun aku tidak mengajar.
Aku membuka presentasi.
Lalu seorang peserta muda mengangkat tangan.
“Bu, dulu Ibu kerja di bagian apa?”
Aku berhenti.
Dulu pertanyaan tentang masa laluku selalu membuatku waspada karena Arga menggunakannya sebagai senjata.
Hari itu aku menjawab tanpa malu.
“Saya mulai dari banquet service.”
Aku tersenyum.
“Saya mengangkat kursi. Mengatur meja. Menemani tamu. Menghadapi komplain. Membersihkan ruangan setelah acara selesai.”
Mereka tertawa kecil.
Aku melanjutkan.
“Lalu saya jadi supervisor.”
“Setelah itu manager.”
“Dan sekarang saya berdiri di sini.”
Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, masa laluku kembali menjadi milikku sendiri.
Bukan sesuatu yang harus kusembunyikan.
Setahun kemudian, aku menerima tawaran mengelola pusat pelatihan internal.
Aku pindah ke posisi yang lebih senior.
Ruko peninggalan ibu di Solo direnovasi.
Lantai atas kuubah menjadi ruang kelas kecil bekerja sama dengan Ratna.
Setiap dua bulan sekali kami mengadakan pelatihan murah untuk perempuan yang ingin kembali bekerja setelah lama berhenti karena menikah atau mengurus keluarga.
Peserta pertama hanya sembilan orang.
Peserta angkatan keenam mencapai empat puluh tujuh.
Suatu sore, seorang perempuan berusia empat puluh dua tahun datang menemuiku setelah kelas.
“Bu Sari.”
“Ya?”
Dia memegang sertifikatnya erat-erat.
“Suami saya selalu bilang saya nggak akan bisa kerja lagi karena sudah terlalu tua.”
Aku menatapnya.
Kalimat itu terasa familiar.
“Terus?”
Dia tertawa.
“Besok saya mulai kerja di hotel.”
Aku ikut tertawa.
“Maka malam ini tidur yang cukup.”
Dia mengangguk berkali-kali.
Setelah dia pergi, aku duduk sendirian di kelas.
Matahari sore masuk dari jendela.
Di atas meja ada sebuah kotak kecil.
Aku membukanya.
Cincin pernikahanku.
Ternyata malam di klub, setelah Arga menyapu meja, Rika mengambil cincin itu dari lantai lalu menyimpannya.
Berbulan-bulan kemudian dia mengirimkannya kepadaku.
Aku tidak pernah memakai cincin itu lagi.
Bukan karena membencinya.
Aku hanya tidak membutuhkannya.
Akhirnya cincin itu kujual.
Uangnya kupakai membeli dua laptop bekas untuk ruang pelatihan.
Ratna sempat tertawa ketika mendengar.
“Romantis banget.”
Aku ikut tertawa.
“Lebih berguna.”
Beberapa bulan sesudahnya, aku bertemu Dimas saat sedang transit di Surabaya.
Kami minum kopi sebentar.
Sebelum berpisah dia berkata, “Arga sekarang lebih pendiam.”
Aku mengangguk.
“Semoga jadi lebih baik.”
Dimas terlihat heran.
“Kamu nggak benci?”
Aku berpikir sebentar.
“Pernah.”
“Sekarang?”
Aku melihat jalan di luar kedai.
“Sekarang dia cuma bagian dari hidup yang sudah lewat.”
Dan ternyata, itulah kemenangan terbesar.
Bukan saat promosi Arga ditunda.
Bukan saat Nabila meninggalkannya.
Bukan saat kebohongan tentang rumah, mobil, dan uangnya terbongkar.
Bukan pula ketika orang-orang yang pernah menertawakanku akhirnya meminta maaf.
Kemenangan terbesar adalah ketika namanya sudah tidak lagi menentukan bagaimana perasaanku tentang diriku sendiri.
Dua tahun setelah malam di klub itu, aku kembali ke Surabaya untuk sebuah konferensi industri.
Acara selesai hampir pukul sembilan malam.
Aku berjalan melewati ballroom sambil membawa laptop.
Seorang staf baru mengejarku.
“Bu Sari!”
Aku berhenti.
“Besok sesi Ibu jam sembilan, kan?”
“Iya.”
Dia tersenyum.
“Saya sudah baca profil Ibu. Katanya dulu Ibu pernah berhenti kerja lama sekali?”
“Tujuh tahun.”
“Terus bisa mulai lagi?”
Aku tersenyum.
“Bisa.”
“Sulit?”
“Sangat.”
Dia menatapku seolah menunggu jawaban lebih panjang.
Aku akhirnya berkata:
“Yang paling sulit bukan belajar bekerja lagi.”
“Lalu?”
“Berhenti percaya pada orang yang terus bilang kita tidak mampu.”
Dia terdiam.
Aku masuk ke lift.
Pintu hampir tertutup ketika ponselku bergetar.
Sebuah pesan dari Ratna.
Foto kelas pelatihan di Solo.
Empat puluh orang perempuan sedang mengangkat sertifikat.
Di bawahnya ada tulisan:
Angkatan 11 selesai. Enam belas peserta sudah dapat kerja.
Aku tersenyum sendiri.
Lift bergerak turun.
Dulu Arga pernah mengatakan bahwa tanpa dirinya, aku tidak akan bisa hidup.
Dia benar tentang satu hal.
Aku memang tidak hidup seperti dulu setelah meninggalkannya.
Aku hidup jauh lebih baik.
Aku tidak lagi menunggu seseorang pulang.
Tidak lagi mengukur harga diriku dari seberapa lama seorang laki-laki memilih tinggal.
Tidak lagi takut pada usia.
Tidak lagi malu terhadap pekerjaanku.
Tidak lagi meminta izin untuk memiliki rencana.
Dan yang terpenting—
aku akhirnya mengerti bahwa meninggalkan sebuah pernikahan bukan berarti hidupku gagal.
Kadang-kadang, kegagalan yang sebenarnya adalah bertahan terlalu lama di tempat yang membuat kita lupa siapa diri kita.
Malam ketika Arga menyuruhku menaruh barang-barangku satu per satu di atas meja, dia mengira sedang mengajariku bahwa aku tidak memiliki apa-apa tanpa dirinya.
Dia tidak pernah menyadari bahwa malam itu justru aku sedang mengembalikan semua yang bukan milikku.
Jam.
Bros.
Syal.
Jaket.
Cincin.
Rumah dinas.
Nama belakangnya.
Rasa takutku.
Satu per satu kulepaskan.
Dan ketika aku berjalan keluar membawa pasporku sendiri, untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, kedua tanganku memang hampir kosong.
Tetapi hidupku akhirnya kembali penuh.

