Saat Kelas Dua SMP Aku Menyelamatkan Pemilik Pabrik dari Saluran Air Belakang Gudang Rongsokan, Dua Puluh Enam Tahun Kemudian Anaknya Datang Membawa Surat yang Mengatakan Rumah Ibuku Harus Dikosongkan dalam Tiga Puluh Hari

Avatar penulis
Cerita 01
35 menit baca 310 tayangan
Saat Kelas Dua SMP Aku Menyelamatkan Pemilik Pabrik dari Saluran Air Belakang Gudang Rongsokan, Dua Puluh Enam Tahun Kemudian Anaknya Datang Membawa Surat yang Mengatakan Rumah Ibuku Harus Dikosongkan dalam Tiga Puluh Hari
Indeks

BAGIAN 2

Aku tidak menelepon Raka.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memutuskan tidak memberi keluargaku kesempatan menyiapkan jawaban sebelum aku tahu pertanyaannya.

Pukul delapan pagi besoknya, aku izin terlambat ke sekolah lalu pergi ke alamat kantor PPAT yang tercetak di surat lama itu.

Kantornya masih ada, tetapi papan namanya sudah berubah.

Pak Surya, PPAT yang dulu menangani berkas Ibu, sudah pensiun.

Putrinya meneruskan kantor tersebut.

Aku menunjukkan fotokopi yang kubawa.

Dia tidak langsung memberi jawaban.

“Arsip tahun segini sebagian sudah dipindah,” katanya. “Saya harus cek buku agenda dan berkas lama. Ibu punya hubungan apa dengan Bu Sulastri?”

“Anaknya.”

Dia melihat surat itu lagi.

Saat Kelas Dua SMP Aku Menyelamatkan Pemilik Pabrik dari Saluran Air Belakang Gudang Rongsokan, Dua Puluh Enam Tahun Kemudian Anaknya Datang Membawa Surat yang Mengatakan Rumah Ibuku Harus Dikosongkan dalam Tiga Puluh Hari

“Kalau begitu tinggalkan nomor telepon. Saya coba cari.”

Sebelum pergi, aku bertanya, “Nama Raka Prasetyo ada di sini sebagai penerima berkas. Artinya apa?”

“Belum tentu menerima sertifikat,” jawabnya hati-hati. “Bisa surat, salinan, atau berkas lanjutan. Saya enggak mau menebak sebelum lihat arsip.”

Jawaban itu justru membuat pikiranku semakin penuh.

Siang harinya Bayu menelepon.

“Mbak Naya sudah pikir-pikir?”

“Aku sedang cari dokumen Ibu.”

Hening.

Hanya sebentar.

Tapi cukup untuk kudengar.

“Dokumen apa?”

“Kamu tadi bilang enggak tahu detail zaman Bapak. Kenapa sekarang penasaran?”

Nada suaranya mengeras.

“Karena kita ada deadline.”

“Kalau rumah ini memang milik perusahaan, tiga puluh hari atau tiga puluh satu hari seharusnya enggak mengubah kebenaran.”

Dia menurunkan suaranya.

“Mbak, aku menghargai apa yang dulu Mbak lakukan untuk Bapak. Serius. Tapi jangan sampai rasa terima kasih Bapak dulu membuat kita mencampuradukkan hak.”

Aku menahan ponsel menjauh dari telinga sesaat.

Jadi itulah narasinya.

Kami tinggal di rumah itu karena rasa terima kasih seorang lelaki kaya kepada anak pemulung yang pernah menyelamatkannya.

Bukan karena Ibu membayar.

Bukan karena Ibu bekerja dua puluh satu tahun dengan tangan yang akhirnya kaku karena radang sendi.

Sore hari aku menemui mantan rekan Ibu, Bu Endang, yang sekarang menjual nasi pecel dekat pabrik.

Begitu kusebut “program kavling”, dia langsung mengangguk.

“Dulu ada dua belas orang yang ikut.”

“Jadi memang bukan rumah dinas?”

“Beda. Rumah dinas ada di belakang bengkel lama. Kavling karyawan yang ini dijual murah, dipotong gaji.”

“Semua dapat sertifikat?”

Wajah Bu Endang berubah.

“Enggak langsung. Dulu tanah induknya masih proses pecah. Ada yang selesai cepat. Ada yang bertahun-tahun.”

“Punya Ibu?”

Dia mengaduk es teh perlahan.

“Seingatku, Bu Sulastri sudah lunas.”

Aku pulang dengan dugaan sederhana: mungkin semua ini cuma kekacauan administrasi lama.

Mungkin Bayu benar-benar tidak tahu.

Mungkin Raka mengambil berkas untuk membantu dan lupa memberitahuku.

Aku hampir mempercayai jawaban itu sampai malamnya Raka datang tanpa memberi kabar.

Dia berdiri di ruang tamu sambil memegang helm.

“Mbak datang ke kantor PPAT?”

Aku menatapnya.

“Dari mana kamu tahu?”

“Bayu telepon aku.”

Nah.

Aku menyilangkan tangan.

“Kenapa Bayu meneleponmu soal rumah yang katanya milik perusahaan?”

Raka mengusap wajah.

“Karena aku cuma mau masalah ini selesai baik-baik.”

“Berkas apa yang kamu ambil enam bulan setelah Ibu meninggal?”

Dia tidak langsung menjawab.

“Raka.”

“Cuma dokumen lama.”

“Dokumen apa?”

“Salinan pembayaran.”

“Kenapa enggak pernah kamu kasih ke aku?”

Dia duduk tanpa kuminta.

“Mbak, dengerin dulu. Waktu itu status tanahnya belum jelas. Bayu bilang daripada ribut nanti, mending dibereskan sekalian.”

“Dibereskan bagaimana?”

Raka menatap lantai.

Aku mengenal gerakan itu sejak kecil.

Kalau dia berbohong, dia selalu menggosok sisi jempolnya dengan kuku telunjuk.

Dia sedang melakukannya sekarang.

“Bayu pernah kasih uang kompensasi.”

Aku tidak langsung memahami kalimat itu.

“Kompensasi apa?”

“Untuk rumah.”

“Ke siapa?”

Tidak ada jawaban.

“Ke siapa, Raka?”

Dia akhirnya mengangkat wajah.

“Ke aku.”

“Berapa?”

“Rp180 juta.”

Suara kulkas dari dapur tiba-tiba terdengar terlalu keras.

“Kapan?”

“Dua tahun lalu.”

Aku berdiri.

“Dua tahun lalu?”

“Mbak, aku waktu itu sedang ada masalah.”

“Aku tanya uang itu kompensasi untuk apa.”

“Katanya nanti kalau perusahaan jual tanah, kita pindah tanpa tuntutan.”

“Kita?”

Raka ikut berdiri.

“Aku pikir aku bisa bicara sama Mbak setelah semuanya jelas.”

“Jadi kamu menerima uang atas rumah yang bukan kamu tempati, dari orang yang sekarang datang menyuruh aku keluar?”

“Aku juga anak Ibu!”

“Justru karena kamu anak Ibu, kamu tahu rumah ini dibayar dari gajinya!”

“Dan Mbak yang tinggal di sini sendirian selama bertahun-tahun!”

Kalimat itu keluar lebih keras daripada yang mungkin dia rencanakan.

Kami sama-sama diam.

Akhirnya aku melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah dia ucapkan.

Bukan cuma utang.

Bukan cuma takut.

Ada iri lama di sana.

Sebelum kami sempat bicara lagi, ponselku berdering.

Nomor kantor PPAT.

Aku menjawab.

Perempuan yang kutemui pagi tadi berbicara pelan.

“Bu Naya, kami menemukan sebagian arsipnya.”

Aku menahan napas.

“Ada berita acara pembayaran dan surat lama dari Pak Hendra Wijaya yang meminta kavling Blok C-7 diproses untuk Bu Sulastri setelah lunas.”

Aku menatap Raka.

“Lalu?”

“Tapi ada dokumen lain yang lebih baru. Tahun 2023 seseorang membawa surat pernyataan bahwa ahli waris Bu Sulastri bersedia melepaskan seluruh klaim atas kavling itu setelah menerima kompensasi.”

Tanganku mencengkeram ponsel.

“Saya tidak pernah menandatangani apa pun.”

Perempuan itu diam sejenak.

“Itulah sebabnya saya menyarankan Ibu datang besok.”

“Kenapa?”

“Karena di surat tersebut ada nama Ibu juga.”

Aku memandang Raka.

Wajahnya sudah pucat.

“Dan ada tanda tangan yang ditulis sebagai tanda tangan Ibu.”

Saat itulah aku tidak lagi bertanya apakah adikku menyembunyikan sesuatu.

Pertanyaannya berubah.

Seberapa jauh dia sudah memakai namaku untuk menjual hak yang bahkan belum sempat kupahami?

Bagian 3 dimulai dari pagi ketika aku membawa dokumen itu pulang dan memutuskan tidak seorang pun lagi boleh berbicara atas namaku.

BAGIAN 3

Aku datang ke kantor PPAT pukul sembilan kurang sepuluh menit.

Raka sudah menungguku di parkiran.

Dia berdiri di samping mobilnya dengan kaus polo abu-abu yang kusut dan mata yang tampak kurang tidur.

“Mbak.”

Aku berjalan melewatinya.

“Nanti kita bicara di dalam.”

Dia mengikuti.

“Mbak, aku bisa jelasin.”

“Bagus. Berarti nanti enggak perlu banyak ditanya.”

“Mbak jangan begini.”

Aku berhenti di depan pintu kaca kantor.

“Begini bagaimana?”

Dia menatapku, lalu menurunkan suara.

“Kayak aku penjahat.”

Aku hampir menjawab.

Tapi pintu dibuka dari dalam oleh seorang pegawai.

Aku masuk.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak merasa wajib menghibur adikku hanya karena dia tidak nyaman menghadapi akibat dari tindakannya sendiri.

Putri Pak Surya memperkenalkan dirinya sebagai Ratih.

Di meja kerjanya sudah ada map tebal yang warnanya hampir kecokelatan.

“Ada beberapa hal yang harus saya jelaskan dulu,” katanya. “Saya tidak bisa memastikan status hukum akhir hanya dari arsip ini. Tapi saya bisa menunjukkan dokumen yang tersimpan di kantor.”

“Itu cukup.”

Ratih membuka halaman pertama.

Di sana ada daftar peserta program kavling karyawan tahun 1997.

Nama Ibu di nomor sembilan.

Sulastri.

Blok C-7.

Luas seratus dua puluh enam meter persegi.

Harga awal Rp31,5 juta.

Bagi orang sekarang jumlah itu mungkin terdengar kecil.

Bagi Ibu saat itu, itu lebih dari empat tahun penghasilannya.

Aku menyentuh ujung kertas.

“Jadi Ibu memang membeli.”

Ratih mengangguk.

“Berdasarkan catatan ini, iya. Pembayaran dilakukan melalui koperasi dan beberapa pembayaran langsung.”

Raka duduk di sampingku.

Dia tidak bicara.

Ratih membuka bukti-bukti potongan gaji.

Aku mengenali nomor induk karyawan Ibu.

Ada puluhan baris.

Tahun demi tahun.

Setiap bulan.

Tidak besar.

Tapi terus-menerus.

Sampai lunas.

Aku tiba-tiba teringat tangan Ibu saat menghitung uang belanja.

Dia selalu memisahkan uang ke beberapa amplop.

Listrik.

Belanja.

Sekolah.

Obat.

Kalau aku meminta membeli sepatu baru padahal yang lama masih bisa dijahit, dia akan tersenyum.

“Bulan depan, ya.”

Aku dulu mengira kami terus hidup sederhana karena Ibu terlalu takut membelanjakan uang.

Ternyata setiap bulan ada bagian dari gajinya yang sedang berubah menjadi tanah di bawah kakiku.

Ratih mengeluarkan surat lain.

Surat dari Pak Hendra kepada pengurus koperasi dan kantor pertanahan internal perusahaan.

Isinya sederhana.

Setelah pembayaran selesai, perusahaan diminta membantu proses pemisahan kavling dari bidang induk dan pengalihan kepada masing-masing peserta program.

Tanggalnya 2009.

“Kenapa enggak pernah selesai?” tanyaku.

Ratih menggeleng.

“Ada masalah pemecahan bidang induk waktu itu. Dari catatan Pak Surya, beberapa berkas tertunda. Lalu perusahaan berganti pengelola administrasi.”

“Berarti sertifikat masih bukan atas nama Ibu?”

“Yang bisa saya katakan, proses pengalihannya belum tuntas berdasarkan arsip kami.”

Raka akhirnya bicara.

“Nah. Kan. Berarti belum punya Ibu sepenuhnya.”

Aku menoleh kepadanya.

Ratih langsung berkata, “Pak, pembayaran dan penyelesaian administrasi itu dua hal berbeda. Jangan disimpulkan terlalu jauh.”

Raka menutup mulut.

Ratih kemudian mengeluarkan dokumen tahun 2023.

Itulah surat yang disebutnya melalui telepon.

Judulnya:

Pernyataan Kesediaan Penyelesaian dan Pelepasan Klaim.

Di bagian bawah tercantum nama Raka Prasetyo.

Dan namaku.

Aku memandangi tanda tangan yang katanya milikku.

Bentuk huruf N-nya bahkan salah.

Aku selalu menulis N dengan satu tarikan panjang.

Orang yang meniru tanda tanganku membuat tiga garis terpisah.

“Ini bukan tanda tanganku.”

Ratih mengangguk.

“Karena itu kemarin saya tidak mau bicara panjang lewat telepon.”

Aku menoleh kepada Raka.

“Siapa yang bikin?”

Dia menelan ludah.

“Mbak…”

“Siapa?”

“Bukan aku yang niru.”

“Lalu siapa?”

“Bayu punya staf yang urus.”

Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser.

Ratih mengangkat tangan.

“Bu Naya, sebaiknya kita tetap tenang.”

Aku tidak berteriak.

Justru suaraku keluar sangat pelan.

“Kamu kasih mereka contoh tanda tanganku?”

Raka menggeleng.

“Enggak.”

“Data KTP?”

Dia diam.

“Raka.”

“Aku pernah kirim foto KK dan KTP waktu urus BPJS anakku.”

Aku menutup mata sebentar.

“Ke Bayu?”

“Ke staf dia.”

“Kenapa?”

“Waktu itu dia bilang butuh bukti ahli waris.”

“Dan kamu enggak tanya buat apa?”

“Aku lagi butuh uang, Mbak!”

Ratih menunduk, memberi kami ruang tanpa benar-benar meninggalkan meja.

Raka memegang rambutnya.

“Usahaku waktu itu kacau. Supplier ngejar. Aku punya utang ke dua orang. Kalau enggak bayar, barangku ditarik. Aku butuh Rp140 juta cepat.”

“Jadi kamu jual rumah Ibu?”

“Aku enggak jual!”

“Kamu menerima Rp180 juta supaya kita melepaskan klaim.”

“Aku pikir itu kompensasi!”

“Untuk sesuatu yang tidak pernah kamu bayar?”

Wajah Raka memerah.

“Aku juga anak Ibu!”

“Nah, kalau begitu kenapa kamu enggak bicara denganku?”

“Karena aku tahu Mbak pasti nolak!”

Jawabannya menggantung di antara kami.

Aku mengangguk pelan.

“Jadi kamu tahu.”

“Apa?”

“Kamu tahu aku punya hak untuk menolak. Itu sebabnya kamu enggak tanya.”

Dia membuka mulut.

Tidak ada kata yang keluar.

Ratih mendorong fotokopi surat itu ke arahku.

“Kami bisa membuatkan salinan arsip yang diperbolehkan. Untuk langkah berikutnya, Ibu mungkin perlu berkonsultasi dengan pihak yang memahami masalah pertanahan dan perjanjian lebih lengkap.”

Aku mengangguk.

“Ada satu hal lagi.”

Ratih mengambil lembar kecil dari belakang map.

“Pak Surya menulis catatan tangan setelah pertemuan dengan Pak Hendra tahun 2019.”

Aku membacanya.

Pak Hendra meminta seluruh berkas kavling karyawan lama diselesaikan sebelum restrukturisasi aset perusahaan.

“2019?”

“Iya.”

“Berarti Pak Hendra masih mengurus ini sepuluh tahun setelah Ibu lunas.”

“Kelihatannya begitu.”

“Kenapa tidak selesai?”

Ratih menunjuk catatan bawah.

Ditunda menunggu dokumen bidang induk dari PT. WJP.

Perusahaan keluarga Wijaya.

Aku memasukkan salinan ke dalam tas.

Lalu aku menatap Raka.

“Kita ke rumah Bayu.”

Dia langsung mengangkat kepala.

“Sekarang?”

“Iya.”

“Mbak, jangan emosional.”

Aku tertawa pendek.

“Kamu memalsukan persetujuanku, menerima Rp180 juta, lalu minta aku jangan emosional?”

“Aku bilang bukan aku yang palsuin!”

“Tapi kamu mengambil uangnya.”

Raka menunduk lagi.

Aku menelepon Bayu dari parkiran.

Dia menjawab pada dering ketiga.

“Gimana, Mbak?”

“Aku baru keluar dari kantor PPAT.”

Tidak ada suara.

“Aku mau ketemu kamu.”

“Hari ini aku padat.”

“Aku membawa surat pelepasan klaim dengan tanda tangan palsu atas namaku.”

Kesunyian di ujung telepon berlangsung lebih lama kali ini.

“Aku enggak ngerti maksud Mbak.”

“Bagus. Kita bahas supaya kamu ngerti.”

“Mbak Naya, aku ada rapat.”

“Kalau kamu tidak mau bertemu, besok aku akan kirim surat tertulis bahwa aku menolak pengosongan dan tidak pernah menandatangani pelepasan apa pun. Setelah itu aku akan minta semua komunikasi lewat jalur resmi.”

“Mbak jangan mengancam.”

“Aku tidak mengancam. Aku memberitahu apa yang akan kulakukan.”

Dia menarik napas.

“Datang jam satu.”

Aku memutus sambungan.

Raka memandangku.

“Mbak mau bawa masalah ini sejauh apa?”

Aku memasukkan ponsel ke tas.

“Sampai orang berhenti memakai namaku tanpa izin.”


Kantor pusat perusahaan Wijaya tidak semegah yang kubayangkan ketika masih kecil.

Dulu bagiku gedung dua lantai dengan pintu kaca itu tampak seperti hotel.

Sekarang cat dinding luarnya mulai kusam.

Di halaman ada dua truk tua.

Satu gudang belakang sudah kosong.

Baru saat itulah aku menyadari sesuatu yang selama ini tidak kuperhatikan.

Perusahaan itu juga sedang kesulitan.

Bayu menunggu kami di ruang rapat kecil bersama adiknya, Mira.

Aku mengenal Mira sejak kecil, tetapi kami jarang bertemu setelah dia pindah ke Bandung.

Dia berusia sekitar empat puluh tahun sekarang, rambutnya dipotong pendek, kacamata tipis di wajah.

Waktu Bayu datang ke rumahku dua hari lalu, aku mengira seluruh keluarga Wijaya sudah sepakat.

Melihat Mira duduk di sana dengan bibir rapat, aku mulai ragu.

Bayu menunjuk kursi.

“Duduk.”

Aku tetap berdiri.

“Kamu tahu soal surat ini?”

Aku meletakkan fotokopinya di meja.

Bayu melihat sekilas.

“Surat penyelesaian.”

“Tanda tanganku palsu.”

Mira langsung menoleh kepadanya.

“Apa?”

Bayu mengerutkan kening.

“Jangan pakai kata palsu sembarangan.”

“Ini bukan tanda tanganku.”

“Bisa saja kamu lupa.”

Aku mengeluarkan KTP dan menaruhnya di meja.

“Tanda tanganku ada di sini.”

Lalu kutaruh kartu pegawai sekolahku.

“Ini juga.”

Lalu fotokopi formulir bank.

“Ini lagi.”

Aku menunjuk tanda tangan pada surat pelepasan.

“Dan itu bukan milikku.”

Bayu memandang Raka.

“Rak?”

Raka mengusap pahanya.

“Aku dulu sudah bilang Naya belum setuju.”

Bayu langsung berdiri.

“Kamu bilang kakakmu enggak masalah asal kompensasinya jelas!”

“Aku bilang nanti aku bicara!”

“Jangan ubah cerita.”

Mira membuka surat dengan cepat.

“Bayu, siapa yang urus dokumen ini?”

“Staf legal lama.”

“Siapa?”

“Anton.”

“Anton sudah keluar tahun lalu.”

“Terus?”

Mira meletakkan surat lebih keras.

“Terus kenapa ada tanda tangan Naya kalau Naya enggak pernah datang?”

Bayu menatapku.

“Kalau memang ada kesalahan administrasi, kita perbaiki.”

Aku hampir tidak percaya.

“Kesalahan administrasi?”

“Itu istilahnya.”

“Orang menandatangani namaku tanpa izin, lalu adikku menerima Rp180 juta dari perusahaanmu. Kamu menyebutnya kesalahan administrasi?”

“Uang itu kompensasi.”

“Untuk hak siapa?”

“Ahli waris Bu Sulastri.”

“Ahli warisnya dua orang.”

Bayu menunjuk Raka.

“Dia bilang mewakili keluarga.”

“Dengan surat kuasa apa?”

Tidak ada jawaban.

Aku melanjutkan.

“Ibu membayar kavling itu sampai lunas.”

“Kavlingnya belum pernah resmi lepas dari aset perusahaan.”

Mira memotong.

“Karena siapa prosesnya enggak selesai, Mas?”

Bayu menatap adiknya.

“Jangan mulai.”

“Aku cuma tanya.”

“Kamu enggak pegang operasional selama tujuh tahun terakhir.”

“Justru itu. Aku baru lihat daftar aset yang mau dijual bulan lalu dan sudah bilang ada kavling karyawan lama yang harus dibereskan.”

Bayu mengusap wajah.

“Naya, aku jelaskan dari awal.”

Aku duduk.

“Silakan.”

Dia membuka laptop.

“Perusahaan punya utang bank dan utang supplier. Tiga tahun lalu kami ekspansi mesin. Pasar turun. Dua klien besar berhenti kontrak.”

“Hubungannya dengan rumahku?”

“Kami harus jual bidang barat untuk menutup sebagian kewajiban.”

“Masih belum menjawab.”

“Bidang induknya termasuk rumahmu.”

“Karena proses Ibu tidak pernah diselesaikan perusahaan.”

“Itu administrasi lama!”

“Administrasi lama yang sekarang mau kamu gunakan supaya bidangnya kelihatan bersih saat dijual.”

Bayu memukul meja dengan telapak tangan.

“Jangan seolah-olah aku mencuri rumah orang!”

Mira memandangnya.

Aku tidak mundur.

“Kalau bukan, kenapa kamu membayar adikku diam-diam?”

Bayu menunjuk Raka.

“Karena dia datang ke aku!”

Aku menoleh.

Raka pucat.

Bayu melanjutkan sebelum Raka sempat bicara.

“Dia yang datang bilang rumah itu ditempati Mbak Naya tapi dia juga ahli waris. Dia bilang kalau perusahaan mau membereskan aset, dia mau kompensasi bagian keluarga.”

“Kamu enggak merasa aneh?”

“Aku tanya soal kakaknya. Dia bilang sudah dibicarakan.”

“Tanpa surat kuasa?”

“Makanya dibuat surat penyelesaian.”

“Yang tanda tanganku dipalsukan.”

“Yang itu aku enggak tahu!”

Mira menatap kakaknya tajam.

“Mas, jangan bohong kalau aku ada di sini.”

Bayu membalik badan.

“Kamu tahu apa?”

“Aku tahu Bapak pernah marah waktu menemukan berkas kavling karyawan masih dimasukkan daftar aset perusahaan.”

Ruangan hening.

Aku menoleh kepada Mira.

“Kapan?”

“Sekitar akhir 2019.”

Catatan Pak Surya.

Potongan puzzle itu masuk ke tempatnya.

Mira melanjutkan, “Bapak minta semua peserta lama diselesaikan. Tapi awal 2020 beliau sakit. Setelah itu pandemi. Banyak hal berhenti.”

Bayu menyela.

“Dan perusahaan hampir mati! Kamu pikir aku punya waktu ngurus berkas tiga puluh tahun lalu waktu gaji karyawan aja nyaris enggak bisa dibayar?”

Mira mengangguk kecil.

“Aku tahu perusahaan susah.”

“Nah.”

“Tapi kesulitan perusahaan tidak mengubah uang yang sudah dibayar Bu Sulastri menjadi milik kita.”

Wajah Bayu menegang.

“Enak kamu ngomong. Kamu tinggal di Bandung. Aku yang tiap bulan pikir gaji.”

Mira balas menatap.

“Dan karena kamu yang mikir gaji, kamu juga yang harus tahu batas mana aset perusahaan dan mana kewajiban perusahaan kepada orang.”

Bayu mendorong kursinya ke belakang.

“Semua orang sekarang paling benar.”

Aku memandang Raka.

Dia duduk membungkuk, kedua tangannya saling menggenggam.

“Raka.”

Dia mengangkat wajah.

“Kamu datang ke Bayu duluan?”

Dia tidak menjawab.

“Jawab.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Sudah kubilang aku punya utang.”

“Bukan itu. Kenapa rumah Ibu?”

Dia tertawa hambar.

“Karena apa lagi yang aku punya?”

Aku terdiam.

Raka memandangku dengan mata merah.

“Mbak punya rumah ini.”

“Ini rumah Ibu.”

“Mbak yang tinggal.”

“Kamu juga bisa tinggal kalau dulu mau membantu Ibu.”

“Lihat? Selalu begitu.”

“Apa?”

“Sejak dulu Mbak yang baik.”

Aku menggeleng.

“Aku enggak pernah bilang begitu.”

“Enggak perlu. Semua orang bilang.”

Dia menunjuk ke arah dinding, seolah-olah seluruh masa kecil kami berdiri di sana.

“Naya yang menyelamatkan Pak Hendra. Naya dapat beasiswa. Naya pintar. Naya kerja tetap. Naya yang nemenin Ibu. Naya yang tahu semuanya.”

Aku memandangnya lama.

“Jadi ini tentang itu?”

“Bukan.”

“Lalu?”

Raka tertawa lagi, kali ini suaranya pecah.

“Waktu aku minta modal pertama kali, Ibu bilang enggak punya uang. Tiga bulan kemudian dapur rumah direnovasi.”

“Dapur bocor.”

“Waktu anakku masuk sekolah, Ibu cuma kasih Rp2 juta. Waktu Mbak butuh kuliah malam, Ibu jual gelang.”

Aku menatapnya.

“Aku bayar kembali uang kuliah itu.”

“Tapi kesempatan selalu datang ke Mbak dulu.”

Aku mulai memahami luka yang tidak pernah dia bicarakan.

Tapi memahami bukan berarti membenarkan.

“Raka,” kataku, “kalau kamu merasa Ibu tidak adil, kamu seharusnya marah kepada Ibu. Atau kepadaku. Bukan menjual keputusan atas rumahnya diam-diam.”

“Aku cuma ambil bagianku.”

“Bagian tidak diambil dengan tanda tangan orang lain.”

“Aku enggak palsuin!”

“Tapi kamu membiarkan perusahaan percaya aku setuju.”

Dia tidak membantah.

Aku menatapnya sampai dia menunduk.

Bayu berdiri di jendela.

Aku berkata, “Uangnya ke mana?”

Raka mengusap wajah.

“Habis.”

“Semua?”

Dia mengangguk.

“Bayar supplier. Bayar utang. Sebagian buat nutup pinjaman aplikasi.”

Aku memejamkan mata.

Bukan karena Rp180 juta.

Karena selama dua tahun adikku datang ke rumah ini saat Lebaran, makan opor buatan kami, duduk di teras, melihat foto Ibu di dinding, sambil tahu dia sudah menerima uang agar rumah itu bisa dilepaskan.

“Mbak…”

“Jangan dulu.”

Dia diam.

Mira bertanya kepada Bayu, “Uang Rp180 juta dicatat sebagai apa?”

“Uang muka penyelesaian penghuni.”

“Penghuni?”

“Ya.”

Mira menggeleng.

“Bu Sulastri pembeli program kavling, bukan penghuni rumah dinas.”

Bayu menatap tajam.

“Kamu mau bantu siapa sebenarnya?”

Mira menjawab pelan.

“Bantu supaya kesalahan Bapak dulu tidak kita jadikan alasan membuat kesalahan baru.”

“Kesalahan Bapak?”

“Dia menunda terlalu banyak urusan administratif karena terlalu percaya semua bisa dibereskan nanti.”

Bayu tertawa pendek.

“Nah. Akhirnya Bapak juga salah.”

“Memang. Dan karena beliau ayah kita, bukan berarti kita harus pura-pura tidak melihatnya.”

Aku memandang Mira.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ada seseorang dari keluarga Wijaya yang tidak berbicara kepadaku sebagai gadis miskin yang pernah diberi bantuan.

Dia berbicara tentang transaksi.

Tentang kewajiban.

Tentang sesuatu yang dibayar Ibu.

Itu lebih menenangkan daripada rasa kasihan.

“Aku mau ketemu Pak Hendra,” kataku.

Bayu langsung berbalik.

“Bapak sekarang gampang capek.”

“Aku tahu.”

“Dokter bilang jangan dibuat stres.”

“Aku tidak mau menyeret beliau ke rapat.”

“Terus?”

“Aku cuma mau tanya satu hal.”

Mira mengangguk.

“Aku bisa atur.”

Bayu menatapnya.

“Mir.”

“Mas, Bapak berhak tahu tanah program karyawan yang dia suruh selesaikan ternyata masuk penjualan.”

Bayu menutup laptopnya.

“Aku tidak setuju.”

Aku berdiri.

“Itu ayahmu. Silakan. Tapi tanpa jawaban beliau pun aku tetap tidak akan tanda tangan pengosongan.”

Bayu memandangku lama.

“Kalau transaksi gagal gara-gara satu kavling ini, ada puluhan orang yang terdampak.”

Nah.

Akhirnya kalimat itu datang.

Bukan lagi soal hukum.

Bukan lagi administrasi.

Sekarang giliran rasa bersalah.

Aku mengenalnya.

Dulu Ibu sering mengalah karena kalimat seperti itu.

Demi keluarga.

Demi pekerjaan.

Demi jangan bikin orang susah.

Aku mengambil surat pengosongan dari tas.

“Aku juga tidak mau karyawan kehilangan pekerjaan.”

Bayu mengangguk seperti baru saja menemukan celah.

“Tuh.”

“Tapi kalau usaha hanya bisa diselamatkan dengan mengambil sesuatu yang sudah dibayar orang lain, itu bukan penyelamatan. Itu memindahkan kerugian.”

Bayu mengatupkan rahang.

“Aku enggak bilang mengambil.”

“Bagus. Berarti keluarkan kavling Ibu dari transaksi sampai statusnya selesai.”

“Itu enggak sederhana.”

“Masalahnya memang tidak sederhana. Tapi tiga puluh hari lalu kamu ingin membuatnya sederhana dengan menyuruhku pergi.”

Aku merobek surat pengosongan itu menjadi dua.

Bukan karena surat itu otomatis tidak berlaku setelah dirobek.

Aku tahu dunia nyata tidak bekerja seperti sinetron.

Aku merobeknya karena aku tidak mau lagi melihat kertas itu di rumah Ibu.

Aku menaruh potongannya di meja Bayu.

“Mulai hari ini, kirim apa pun secara tertulis.”

Lalu aku pergi.


Aku bertemu Pak Hendra empat hari kemudian.

Rumahnya di Surabaya masih rumah lama yang pernah kudatangi bersama Ibu bertahun-tahun lalu.

Besar, tapi bukan istana.

Pohon mangga di halaman sudah jauh lebih tinggi.

Pak Hendra duduk di kursi roda dekat pintu ruang keluarga.

Tubuhnya lebih kurus.

Rambutnya hampir seluruhnya putih.

Setelah stroke, bicaranya sedikit lambat.

Tapi matanya masih sama.

Dia menatapku lama, lalu tersenyum.

“Naya.”

Aku mendekat dan mencium tangannya.

“Pak.”

“Kamu… masih kurus.”

Aku tertawa tanpa sengaja.

“Bapak masih suka komentar begitu.”

Mira duduk di sofa seberang.

Bayu tidak datang.

Aku tidak langsung bicara soal tanah.

Kami membicarakan sekolah tempatku bekerja.

Tentang Ibu.

Tentang bagaimana Pak Hendra selalu membeli rengginang Ibu terlalu banyak setiap Lebaran.

Lalu aku mengeluarkan buku koperasi hijau.

Aku meletakkannya di meja kecil.

Pak Hendra melihat sampulnya.

Wajahnya berubah.

“Itu punya Ibu.”

“Iya.”

Dia membuka halaman perlahan.

Jarinya berhenti di baris terakhir.

Lunas.

Aku berkata, “Pak, saya mau tanya satu hal.”

Dia mengangguk.

“Rumah yang ditempati Ibu dulu… itu pemberian Bapak?”

Pak Hendra mengangkat wajah.

“Pemberian?”

“Atau rumah dinas?”

Dia menggeleng keras.

“Bukan.”

Aku menahan napas.

“Jadi?”

“Beli.”

Satu kata.

Hanya itu.

Tapi tenggorokanku terasa penuh.

“Kenapa Ibu selalu bilang Bapak membantu kami?”

Pak Hendra mengangkat tangan kirinya dan menunjuk buku itu.

“Saya bantu harga. Bantu cicilan. Ibumu bayar.”

Mira menunduk.

Aku tersenyum kecil.

“Kenapa Bapak enggak pernah bilang ke saya?”

Pak Hendra memandangku seperti pertanyaanku aneh.

“Itu urusan saya sama ibumu.”

Lalu dia tersenyum tipis.

“Dia galak kalau soal harga diri.”

Aku tertawa, lalu mataku panas.

Itu benar.

Sangat benar.

Pak Hendra melanjutkan dengan susah payah.

“Waktu kamu sekolah… dia pernah bilang, jangan bikin anak saya merasa hidupnya hadiah orang.”

Aku tidak bisa menjawab.

Selama bertahun-tahun aku percaya Pak Hendra adalah orang yang mengubah nasib kami.

Ternyata Ibu menjaga agar aku tidak tumbuh sebagai anak yang merasa seluruh hidupnya adalah utang budi.

Pak Hendra membuka halaman lain.

“Dulu… harga tanah naik. Saya bisa kasih.”

Dia berhenti untuk menarik napas.

“Tapi ibumu bilang… kalau gratis, bukan rumah saya.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

Mira mengambilkan air.

Pak Hendra minum.

Lalu dia berkata, “Dia bayar semuanya.”

Aku mengangguk.

“Pak, kenapa proses suratnya tidak selesai?”

Wajahnya meredup.

“Itu salah saya.”

Mira menatap ayahnya.

Pak Hendra mengetuk ujung buku koperasi.

“Perusahaan berkembang cepat. Tanah pecah banyak. Saya pikir nanti.”

Dia menggeleng.

“Nanti jadi lama.”

Tidak ada alasan panjang.

Tidak ada pembelaan.

Aku justru lebih menghargainya karena itu.

“Bayu sekarang mau jual tanah pabrik.”

Pak Hendra diam.

“Rumah Ibu masuk daftar aset.”

Dia memejamkan mata sebentar.

Mira berkata, “Pak, aku sudah minta transaksi bidang barat ditahan sementara.”

Pak Hendra membuka mata.

“Bayu tahu?”

“Tahu.”

“Marah?”

Mira tersenyum kecil.

“Lumayan.”

Pak Hendra menghembuskan napas.

“Panggil.”

Mira mengangkat telepon.

Aku langsung berkata, “Pak, saya tidak mau Bapak bertengkar dengan anak Bapak karena saya.”

Pak Hendra mengangkat alis.

“Bukan karena kamu.”

Dia menunjuk buku koperasi lagi.

“Karena ini.”

Bayu datang sekitar empat puluh menit kemudian.

Dia masuk dengan wajah tegang.

Begitu melihatku, dia berhenti.

“Bapak manggil?”

Pak Hendra menunjuk sofa.

“Duduk.”

Bayu duduk.

Mira tetap di tempatnya.

Aku sebenarnya ingin pergi.

Pak Hendra menggeleng saat aku berdiri.

“Tetap.”

Bayu memandang buku koperasi di meja.

“Bapak sudah tahu?”

“Iya.”

“Bapak enggak tahu kondisi perusahaan sekarang.”

Pak Hendra menatap anaknya lama.

“Justru tahu.”

“Kalau bidang barat enggak dijual bulan ini, bank bisa tekan lebih keras.”

“Jual.”

Bayu menatapnya.

“Tapi?”

Pak Hendra menunjukku.

“Bukan punya Sulastri.”

Bayu mengusap wajah.

“Pak, sertifikat induknya masih perusahaan.”

“Karena saya lambat.”

“Secara dokumen sekarang itu masih satu bidang!”

Mira berkata, “Makanya diselesaikan pemisahannya.”

Bayu berdiri.

“Kalian ngomong gampang!”

Pak Hendra tidak menaikkan suara.

“Bayu.”

Bayu masih berdiri.

“Duduk.”

Ada sesuatu dalam nada tua itu yang membuat Bayu akhirnya kembali ke kursi.

Pak Hendra berkata perlahan, “Kalau perusahaan utang, bayar utang.”

Bayu mengangguk kesal.

“Ya.”

“Kalau tanah orang, jangan jual.”

“Masalahnya itu belum tanah orang secara administrasi!”

“Uangnya sudah orang bayar.”

Bayu tidak menjawab.

Pak Hendra menunjuk meja.

“Dulu saya miskin.”

Bayu menghela napas.

“Pak…”

“Saya tahu rasanya bayar sedikit-sedikit.”

Bayu terdiam.

Pak Hendra melanjutkan, “Jangan karena kertas belum selesai, uang orang hilang.”

“Terus Rp180 juta yang sudah dibayar ke Raka gimana?”

Semua mata beralih kepada adikku yang tidak ada di ruangan.

Aku menjawab.

“Itu urusan Raka.”

Bayu menatapku.

“Dia ahli waris.”

“Aku juga.”

“Uangnya sudah dia terima.”

“Aku tidak pernah menerima atau menyetujui.”

“Kalau dia enggak mampu mengembalikan?”

Aku menarik napas.

Inilah keputusan yang paling berat.

Karena jalan termudah sebenarnya adalah memakai tabunganku.

Aku punya sekitar Rp230 juta.

Tabungan bertahun-tahun.

Kalau kubayar Rp180 juta kepada perusahaan, masalah mungkin cepat selesai.

Raka akan selamat lagi.

Bayu berhenti mengejar.

Semua orang bisa pulang.

Itulah yang selalu kulakukan di keluarga.

Saat Raka kuliah, aku membantu uang kos.

Saat usahanya pertama gagal, aku menutup tunggakan motornya.

Saat Ibu sakit, aku yang mengambil cuti.

Aku selalu menjadi orang yang membereskan.

Tapi justru karena itu Raka mungkin percaya kali ini pun aku akan melakukan hal sama.

Aku menatap Bayu.

“Aku tidak akan membayar utang Raka.”

Mira melihatku.

Aku melanjutkan.

“Kalau ada bagian dari Rp180 juta yang secara sah memang merupakan hak Raka sebagai ahli waris dan disepakati bersama nanti, kita bisa bicarakan setelah status rumah jelas.”

Bayu membuka mulut.

Aku mengangkat tangan.

“Tapi uang yang dia terima dengan mengatakan aku setuju padahal aku tidak tahu, itu bukan kewajibanku.”

“Perusahaan enggak bisa kehilangan Rp180 juta begitu saja.”

“Aku juga enggak meminta perusahaan kehilangan.”

Aku menoleh kepada Pak Hendra.

Lalu kembali kepada Bayu.

“Tagih orang yang menerima.”

Bayu tertawa tanpa humor.

“Adikmu sendiri.”

“Iya.”

“Kamu tega?”

Pertanyaan itu seharusnya menusuk.

Anehnya, tidak.

Aku menjawab, “Aku lebih tega membiarkan adikku membayar akibat keputusannya daripada mengajarinya sekali lagi bahwa aku akan datang membawa uang setiap kali dia membuat masalah.”

Pak Hendra mengangguk kecil.

Tidak bangga.

Tidak tersenyum.

Hanya mengangguk.

Bayu menyandarkan tubuh.

“Terus transaksi?”

Mira menjawab, “Pembeli sudah kuberi tahu ada satu bagian yang masih perlu klarifikasi batas. Mereka mau menunggu revisi luas.”

Bayu menoleh tajam.

“Kamu sudah bicara ke mereka?”

“Iya.”

“Kapan?”

“Pagi tadi.”

“Kamu gila?”

“Lebih baik sekarang daripada ketahuan setelah transaksi.”

Bayu berdiri lagi.

“Kamu tahu kita bisa kehilangan harga bagus?”

Mira juga berdiri.

“Dan kamu tahu kita bisa kehilangan jauh lebih banyak kalau menjual sesuatu yang sedang disengketakan?”

“Aku enggak mau dengar kuliah.”

“Mas, aku bukan musuhmu.”

“Kamu selalu gampang jadi orang baik karena bukan kamu yang pegang beban.”

Mira berhenti.

Kalimat itu jelas mengenai sesuatu yang jauh lebih tua daripada urusan rumahku.

Pak Hendra memandang kedua anaknya.

Aku tiba-tiba melihat keluarga Wijaya bukan sebagai keluarga kaya yang selama ini tampak selalu aman.

Mereka juga punya luka.

Bayu anak sulung yang bertahun-tahun diminta meneruskan perusahaan.

Mira pergi dan membangun hidup sendiri.

Pak Hendra meninggalkan sistem lama yang tidak rapi.

Kesulitan mereka nyata.

Tapi kesulitan itu tetap tidak memberi siapa pun hak memakai milik orang lain.

Aku mengambil buku koperasi.

“Saya pulang dulu, Pak.”

Pak Hendra memegang pergelangan tanganku sebentar.

“Naya.”

“Iya?”

“Rumah itu… ibumu.”

Aku mengangguk.

“Sekarang saya tahu.”


Raka datang ke rumah tiga malam kemudian.

Kali ini dia tidak membawa helm ke dalam.

Dia meletakkannya di teras.

Aku sedang memotong daun bawang di dapur ketika dia masuk.

“Boleh ngobrol?”

“Duduk.”

Dia duduk di meja makan.

Aku menyelesaikan potongan terakhir, mencuci tangan, lalu membuat dua gelas teh.

Kebiasaan Ibu.

Seberapa pun marahnya dia, tamu tetap diberi minum.

Raka menatap gelas.

“Bayu minta jadwal pengembalian.”

Aku duduk di depannya.

“Bagus.”

“Mbak serius enggak mau bantu?”

Aku tidak langsung menjawab.

“Bantu yang bagaimana?”

“Pinjemin dulu.”

“Rp180 juta?”

“Enggak harus semua.”

“Berapa?”

“Minimal Rp100 juta. Nanti aku cicil ke Mbak.”

Aku menatapnya.

“Seperti cicilan motor dulu?”

Dia mengerutkan kening.

“Itu sudah lama.”

“Seperti modal toko aksesori?”

“Mbak mau ngungkit semua?”

“Tidak. Aku sedang melihat pola.”

Raka menggeser gelas.

“Aku tahu aku salah.”

“Bagian mana yang kamu anggap salah?”

Dia kesal.

“Ya semuanya.”

“Bukan begitu.”

“Maksudnya?”

“Aku perlu tahu kamu paham.”

Raka menatapku.

Aku berkata, “Kamu salah karena butuh uang?”

Dia menggeleng.

“Enggak.”

“Karena usaha gagal?”

“Enggak.”

“Karena punya utang?”

Dia diam sebentar.

“Bukan.”

“Lalu?”

Dia menarik napas panjang.

“Karena aku ambil keputusan soal rumah tanpa ngomong ke Mbak.”

“Lagi.”

“Karena aku bilang ke Bayu seolah-olah Mbak setuju.”

“Lagi.”

Raka menatapku kesal.

“Mbak ini lagi menginterogasi?”

“Kalau kamu mau aku percaya lagi, iya.”

Dia berdiri, berjalan dua langkah, lalu kembali duduk.

“Karena aku pakai data Mbak.”

Aku mengangguk.

“Dan?”

Dia menunduk.

“Karena… aku tahu kemungkinan besar Mbak enggak akan setuju. Tapi aku tetap ambil uang.”

Aku mengambil gelas teh.

“Sekarang baru kita bicara.”

Dia tersenyum pahit.

“Mbak senang?”

“Enggak.”

“Kelihatannya puas.”

Aku meletakkan gelas.

“Raka, aku kehilangan kepercayaan sama kamu. Apa yang harus kupuaskan dari situ?”

Dia diam.

Dari luar terdengar suara anak-anak bermain badminton di gang.

Raka berkata, “Aku iri sama Mbak.”

Kali ini kalimat itu tidak keluar dalam kemarahan.

Lebih kecil.

Lebih memalukan baginya.

Aku menunggu.

“Dari dulu.”

“Aku tahu sekarang.”

“Bukan cuma karena sekolah.”

“Terus?”

“Karena Ibu selalu percaya Mbak.”

Aku hampir menjawab bahwa Ibu percaya padanya juga.

Tapi itu mungkin bukan yang dia rasakan.

Jadi aku diam.

Raka mengusap meja dengan ujung jari.

“Kalau Mbak bilang pulang jam sembilan, Ibu tunggu. Kalau aku bilang pulang jam sembilan, jam delapan sudah ditelepon tiga kali.”

“Kamu sering pulang jam satu.”

“Ya.”

Kami sama-sama tersenyum tipis.

Lalu wajahnya kembali serius.

“Aku merasa kalau rumah ini akhirnya jadi milik Mbak, berarti sekali lagi semua yang bagus jatuh ke Mbak.”

“Itu bukan keputusan yang kubuat.”

“Aku tahu.”

“Ibu membayar rumah ini.”

“Aku tahu sekarang.”

“Kamu juga ahli waris Ibu.”

Dia memandangku.

Aku melanjutkan, “Kalau nanti setelah statusnya jelas ternyata rumah itu harus dibicarakan sebagai warisan kita berdua, aku tidak akan mengambil bagianmu.”

Raka tampak kaget.

“Tapi kamu juga enggak bisa menjual bagianku tanpa bicara.”

Dia menunduk.

“Iya.”

“Aku tidak sedang merebut rumah ini dari kamu.”

“Iya.”

“Aku sedang menghentikan orang lain memutuskan sebelum kita sendiri menyelesaikannya.”

Raka menarik napas.

“Terus uang Bayu?”

“Kamu cicil.”

“Dengan apa?”

“Jual mobil.”

Wajahnya langsung berubah.

“Mbak.”

“Mobilmu masih ada.”

“Itu buat antar anak.”

“Kamu punya motor.”

“Istriku…”

“Raka.”

Dia diam.

“Kamu menerima Rp180 juta. Aku bahkan tidak tahu sampai dua tahun kemudian. Jangan datang ke rumah ini lalu meminta aku memilih barang apa dari hidupku yang harus kulepas supaya barangmu tetap utuh.”

Dia memandangku lama.

“Aku takut istriku tahu.”

“Nah.”

Dia tertawa getir.

“Gampang buat Mbak.”

“Tidak.”

“Aku bisa hancur rumah tangga.”

“Mungkin.”

Dia menatapku.

Aku berkata lebih pelan, “Tapi kalau kamu menyembunyikannya lagi, kamu cuma memindahkan hari kehancurannya.”

Dia menekan bibir.

“Aku malu.”

“Aku tahu.”

“Anak-anak ngira bisnis Ayahnya bagus.”

“Rasa malu bukan rencana pembayaran.”

Dia menutup wajah dengan kedua tangan.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat adikku bukan sebagai orang yang mengkhianatiku.

Aku melihat anak laki-laki yang tumbuh menjadi lelaki dewasa sambil terus mencoba terlihat lebih berhasil daripada kenyataannya.

Gengsi.

Takut dianggap gagal.

Takut dibandingkan.

Utang yang ditutup utang lain.

Lalu satu keputusan buruk membuka jalan untuk keputusan yang lebih buruk.

Aku bisa memahami jalan yang membawanya sampai ke sini.

Tapi aku tidak akan berjalan bersamanya lebih jauh.

“Aku bisa bantu satu hal,” kataku.

Dia menurunkan tangan.

“Apa?”

“Aku temani kamu bicara sama istrimu.”

Wajahnya langsung pucat.

“Mbak.”

“Kamu bilang mau bantuan.”

“Bukan bantuan begitu.”

“Justru itu bantuan yang kamu butuhkan.”

Dia tertawa kecil tanpa senang.

“Kejam.”

“Bisa jadi.”

Aku mendorong gelas teh kepadanya.

“Tapi gratis.”

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Raka benar-benar tertawa.

Hanya sebentar.

Lalu matanya berair.


Seminggu kemudian, dia mengatakan semuanya kepada istrinya, Dini.

Aku tidak duduk di ruangan saat pengakuannya.

Aku hanya menunggu di teras rumah mereka.

Dari dalam terdengar suara Dini meninggi dua kali.

Lalu tangis.

Lalu hening cukup lama.

Raka keluar hampir satu jam kemudian.

Wajahnya kusut.

“Dia enggak pergi.”

“Bagus.”

“Tapi katanya dia mau pegang semua keuangan mulai sekarang.”

“Lebih bagus.”

Raka menatapku.

“Mbak senang banget hidupku diatur.”

Aku mengangkat bahu.

“Kali ini bukan aku.”

Dini kemudian keluar.

Matanya merah.

Dia tidak memelukku atau membuat adegan dramatis.

Dia hanya berkata, “Mbak Naya, maaf saya enggak tahu.”

“Kamu enggak perlu minta maaf.”

Dia mengangguk.

“Kami akan jual mobil.”

Raka mendesah.

Aku pura-pura tidak melihat.

Mereka juga menutup gudang sewaan yang terus merugi dan menjual sisa stok.

Bayu menerima pembayaran awal Rp63 juta dari penjualan mobil.

Sisanya dibuatkan jadwal pembayaran tertulis.

Aku tidak ikut menandatangani.

Itu utang Raka.

Bukan utang keluarga.

Perbedaan kecil itu ternyata mengubah banyak hal.


Proses rumah tidak selesai dalam seminggu.

Tidak juga sebulan.

Dunia nyata jauh lebih membosankan daripada cerita Facebook.

Ada peta lama yang harus dicocokkan.

Batas bidang yang perlu diukur ulang.

Dokumen perusahaan yang harus ditemukan.

Ada biaya.

Ada antrean.

Ada dua kali aku harus izin dari sekolah.

Ada hari ketika aku pulang dengan kepala sakit karena satu kantor mengatakan berkas harus dilengkapi dari kantor lain.

Aku juga menggunakan jasa profesional untuk memastikan aku tidak menandatangani sesuatu yang tidak kupahami.

Kali ini setiap halaman kubaca.

Setiap nominal kutanya.

Setiap orang yang berkata, “Sudah, Bu, ini standar,” kubalas, “Tolong jelaskan standarnya.”

Aku tidak lagi malu terlihat cerewet.

Dua puluh enam tahun sebelumnya, Ibu membayar rumah itu dengan potongan kecil setiap bulan.

Aku merasa paling tidak aku bisa membayar rasa tidak enak dengan beberapa pertanyaan tambahan.

Mira membantu membuka arsip perusahaan.

Bukan dengan memberikan rumah kepadaku.

Bukan dengan memerintahkan semua orang menuruti keinginanku.

Dia hanya melakukan satu hal penting: dia tidak menyembunyikan dokumen yang ada.

Dari berkas itu diketahui bahwa sebelas dari dua belas peserta program kavling karyawan lama sudah diselesaikan bertahun-tahun sebelumnya.

Hanya kavling Ibu yang tertinggal karena saat proses akhir dimulai, Ibu sempat pindah alamat administrasi dan beberapa dokumen bolak-balik.

Ironis.

Rumah yang paling lama ditempati justru paling lama belum dibereskan kertasnya.

Bayu akhirnya setuju mengeluarkan seratus dua puluh enam meter persegi kavling kami dari luas tanah yang ditawarkan kepada pembeli.

Pembelinya tidak mundur.

Harga transaksi memang sedikit berubah.

Tapi pabrik tetap bisa menjual lahan lain dan membayar sebagian besar utang bank.

Tidak ada ratusan karyawan yang kehilangan pekerjaan karena rumahku.

Tidak ada kiamat.

Kadang-kadang ancaman besar memang terdengar menakutkan hanya karena belum diperiksa.

Dua bulan kemudian Bayu datang lagi ke rumahku.

Kali ini sendirian.

Aku sedang menyiram tanaman di teras.

Dia berdiri di dekat pagar.

“Aku boleh masuk?”

Aku mematikan selang.

“Masuk.”

Dia duduk di kursi yang sama tempat dulu dia meletakkan surat pengosongan.

Beberapa detik kami tidak bicara.

“Aku minta maaf,” katanya akhirnya.

Aku menatapnya.

Dia mengusap tangannya.

“Bukan cuma soal surat.”

Aku menunggu.

“Aku terlalu yakin kalau sesuatu masih tercatat di perusahaan berarti perusahaan punya hak penuh atasnya.”

Aku mengangguk.

“Dan aku…”

Dia berhenti.

“Waktu lihat rumah ini, aku selalu mikir Bapak terlalu baik sama keluarga Mbak.”

Aku tidak marah mendengar itu.

Mungkin karena sekarang aku tahu kebenarannya.

“Bapakmu memang baik.”

Bayu terlihat sedikit kaget.

“Tapi Ibu juga membayar rumah ini.”

“Iya.”

“Dua hal itu bisa benar bersamaan.”

Dia menunduk.

“Bapak bilang hal yang sama.”

Aku tersenyum tipis.

Bayu melihat pot cabai.

“Dulu aku benci cerita soal Mbak.”

Aku mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Setiap kali aku malas sekolah, Bapak bilang, ‘Naya habis mulung rongsok masih bisa belajar malam.’”

Aku tertawa.

“Kasihan kamu.”

Dia ikut tersenyum.

“Setiap kali aku buang makanan, Bapak juga bawa nama Mbak.”

“Wah, itu bukan salahku.”

“Aku tahu.”

Kami diam.

Bayu berkata, “Mungkin aku juga punya rasa kesal yang enggak pernah pantas diarahkan ke Mbak.”

Kalimat itu mengingatkanku pada Raka.

Dua lelaki dari keluarga berbeda.

Sama-sama membawa luka lama.

Sama-sama membiarkan luka itu menjadi alasan untuk membuat keputusan yang merugikan orang lain.

Bedanya hanya pakaian dan jumlah uangnya.

“Aku terima permintaan maafmu,” kataku.

Bayu mengangguk.

“Tapi aku tetap mau semua soal tanah lewat tertulis.”

Dia tertawa kecil.

“Pasti.”

“Dan aku enggak mau lagi ada pegawai datang membawa surat tanpa penjelasan.”

“Pasti.”

“Dan kalau Raka telat bayar, jangan telepon aku.”

Dia menatapku.

Aku menatap balik.

“Baik.”

Baru setelah itu aku membuatkan kopi.


Empat bulan setelah Bayu pertama kali datang membawa surat pengosongan, proses utama rumah akhirnya selesai sejauh yang diperlukan untuk mengakui bahwa kavling itu bukan rumah dinas perusahaan.

Masih ada tahap administrasi lanjutan yang harus kuurus, tetapi untuk pertama kalinya tidak ada lagi pihak yang meminta aku keluar.

Persoalan warisan antara aku dan Raka juga kami tulis dengan jelas.

Aku tetap tinggal di rumah.

Raka tidak kehilangan haknya begitu saja, tetapi dia juga tidak bisa lagi mengambil keputusan sendiri.

Kami sepakat bahwa selama aku menempati dan merawat rumah, tidak ada penjualan tanpa persetujuan kami berdua.

Kalau suatu hari salah satu dari kami ingin menyelesaikan bagian masing-masing, kami akan membicarakannya secara terbuka dan tertulis.

Dulu hal seperti itu mungkin terdengar terlalu kaku bagiku.

Keluarga sendiri kok pakai tulisan.

Sekarang aku justru tidur lebih tenang karena ada tulisan.

Cinta tidak menjadi lebih kecil hanya karena batas dibuat jelas.

Kadang batas itulah yang membuat cinta tidak berubah menjadi kewajiban tanpa ujung.

Raka masih mencicil uang kepada Bayu.

Hubungan kami belum kembali seperti dulu.

Ada hari ketika dia menelepon hanya untuk menanyakan kabarku.

Ada hari ketika pesanku baru dibalas dua hari kemudian.

Saat Lebaran berikutnya, dia datang bersama Dini dan anak-anak.

Dia tidak lagi membawa mobil.

Mereka datang naik mobil sewaan bersama keluarga Dini.

Aku tidak mengomentari itu.

Saat kami membereskan meja makan, dia berdiri di depan foto Ibu.

“Kalau Ibu tahu aku ngapain, pasti aku dilempar centong.”

Aku menahan senyum.

“Bukan centong.”

“Apa?”

“Sendal.”

Raka tertawa.

“Lebih sakit.”

Lalu dia terdiam.

“Mbak.”

“Ya?”

“Maaf.”

Kali ini tidak ada penjelasan.

Tidak ada “tapi”.

Aku mengangguk.

“Aku dengar.”

Aku belum mengatakan semuanya sudah baik.

Karena memang belum.

Maaf bukan mesin yang menghapus dua tahun kebohongan.

Tapi setidaknya kali ini dia tidak memintaku melupakan supaya dia merasa lebih nyaman.

Itu sudah perubahan.

Pak Hendra meninggal delapan bulan setelah urusan tanah mulai dibereskan.

Bukan secara tiba-tiba.

Kondisinya memang menurun.

Aku sempat menjenguk dua kali lagi.

Pada kunjungan terakhir, dia sulit bicara panjang.

Aku membawa rengginang seperti yang dulu dibuat Ibu, dibeli dari tetangga karena aku tidak bisa membuatnya.

Dia mencicipi sedikit lalu tertawa.

“Bukan buatan Sulastri.”

Aku ikut tertawa.

“Ketahuan.”

Sebelum pulang, aku berkata kepadanya, “Pak, terima kasih dulu sudah membantu Ibu dapat kerja.”

Dia mengangguk.

“Dan sekolah saya.”

Dia menatapku.

Aku menambahkan, “Tapi sekarang saya juga tahu Ibu membayar rumahnya sendiri.”

Ada senyum kecil di wajahnya.

“Bagus.”

Hanya itu.

Bagus.

Seolah-olah itulah yang sejak awal ingin dia pastikan aku mengerti.

Aku pulang sore itu tanpa perasaan bahwa aku baru berpamitan dengan orang yang menyelamatkan hidupku.

Karena sebenarnya hubungan kami tidak pernah sesederhana siapa menyelamatkan siapa.

Aku menarik orang dari saluran air ketika berusia empat belas tahun.

Dia membuka satu pintu bagi Ibu untuk mendapat pekerjaan tetap.

Ibu bekerja dua puluh satu tahun.

Dari gajinya, dia membayar rumah.

Dari sekolah yang kubiayai dengan bantuan yayasan, aku mendapatkan pekerjaan.

Dari pekerjaanku, aku merawat Ibu di tahun-tahun terakhirnya.

Tidak ada satu pahlawan.

Tidak ada satu orang kaya yang datang lalu mengubah semuanya dengan uang.

Hidup kami berubah karena banyak keputusan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Termasuk keputusan untuk tidak menyerah ketika sesuatu terasa tidak adil.


Sekarang, hampir setahun setelah Bayu membawa surat pengosongan itu, setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah aku masih membuka pagar besi yang sama.

Bunyinya sedikit berdecit.

Aku sudah berkali-kali berniat memberi oli, tapi selalu lupa.

Di sisi teras, pot cabai Ibu masih ada.

Sebagian sudah kuganti karena tanaman lama mati.

Di lemari ruang tengah, buku koperasi hijau kusimpan dalam map bening bersama semua dokumen rumah.

Dulu kotak dokumen Ibu membuatku kesal.

Mengapa kuitansi dua puluh tahun lalu masih disimpan?

Mengapa bukti pembayaran kecil tidak dibuang?

Sekarang aku tahu.

Kadang hidup seseorang bisa berdiri di atas kertas yang dianggap tidak penting oleh orang lain.

Pada suatu Sabtu pagi, Raka datang untuk membantu memperbaiki engsel pagar.

Dia berjongkok dengan kunci pas di tangan.

“Ini dari dulu bunyinya begini?”

“Dari sebelum Ibu meninggal.”

“Kenapa enggak diperbaiki?”

Aku menyerahkan botol oli.

“Katanya bisa.”

Dia mendengus.

“Pelit.”

“Belajar dari Ibu.”

Dia tertawa.

Setelah selesai, dia membuka dan menutup pagar dua kali.

Tidak ada bunyi.

Aku malah merasa aneh.

“Lebih enak dulu ada suaranya.”

Raka menatapku.

“Mau dibikin rusak lagi?”

“Jangan.”

Dia tertawa.

Sebelum pulang, dia berhenti di pintu.

“Mbak.”

“Hm?”

“Kalau nanti cicilan Bayu selesai…”

Aku menunggu.

“Enggak usah bilang apa-apa.”

Aku mengangguk.

“Baik.”

Dia memasang helm.

Lalu pergi.

Aku berdiri beberapa saat di teras.

Dua puluh enam tahun lalu aku mengumpulkan besi tua karena setiap kilogram punya harga.

Sekarang aku tahu tidak semua yang berharga bisa ditimbang.

Ada rumah yang nilainya bukan pada luas tanahnya.

Ada bantuan yang tidak membuat penerimanya menjadi milik pemberi.

Ada saudara yang tetap kita sayangi tanpa harus terus-menerus kita selamatkan.

Dan ada kata tidak yang terkadang justru menyelamatkan sesuatu yang lebih besar daripada uang.

Aku menutup pagar.

Kali ini tidak ada bunyi berdecit.

Hanya suara kunci yang masuk ke lubangnya dengan pas.

Untuk pertama kalinya sejak Bayu datang membawa map biru, aku tidak merasa sedang menjaga rumah yang sewaktu-waktu bisa diminta kembali.

Aku sedang mengunci rumah yang dibayar Ibu, sedikit demi sedikit, dari hasil tangannya sendiri.

Dan itu terasa cukup.

Terima kasih sudah mengikuti kisah ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, rezeki yang baik, serta keberanian untuk menjaga batas tanpa kehilangan kasih sayang. Kalau kamu berada di posisiku, apakah kamu akan tetap membantu Raka membayar utangnya karena dia saudara sendiri, atau membiarkannya bertanggung jawab seperti yang kulakukan? Aku ingin membaca pendapatmu. Kalau cerita ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, kamu boleh membagikannya kepada orang lain yang mungkin juga pernah merasa bahwa berkata “tidak” kepada keluarga bukan berarti berhenti menyayangi mereka.