Di Usia 78 Tahun Aku Pergi ke Yogyakarta Meminta Bantuan Anakku untuk Operasi, Tapi Ia Hanya Memberiku Kotak Bakpia dan Berkata, “Jangan Tanda Tangan Apa Pun Malam Ini”
BAGIAN 1
“Bu, aku tidak akan kasih uang tunai hari ini.”
Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut anak sulungku setelah aku menempuh perjalanan hampir dua jam dari Klaten ke Yogyakarta untuk meminta bantuan biaya operasi.
Aku masih berdiri di teras rumahnya, memegang map biru berisi hasil USG dan surat dari rumah sakit.
Dimas tidak membentakku.
Ia juga tidak mengusirku.
Justru itu yang membuat rasanya lebih berat.
Ia mengambil sebuah kotak bakpia dari meja dekat pintu, menyerahkannya kepadaku, lalu berkata pelan, “Bawa ini pulang. Dan, Bu… apa pun yang Mbak Rini minta Ibu tanda tangani malam ini, jangan.”
Aku menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Dimas hanya menggeleng.
“Baca dulu isi kotaknya di rumah.”
Aku pulang dengan perasaan yang jauh lebih buruk daripada ketika berangkat.
Namaku Lestari. Usia tujuh puluh delapan tahun membuat lututku tidak lagi bisa diajak terburu-buru, tetapi selama beberapa tahun terakhir aku masih tinggal sendiri di rumah peninggalan suamiku di pinggir Klaten.
Rumah itu tidak besar.
Di sampingnya berdiri dua kios kecil yang dulu dibangun almarhum Pak Joko sedikit demi sedikit dari uang pesangonnya.
Satu disewa penjahit.
Satu lagi dipakai untuk toko pakan burung.

Sejak suamiku meninggal sembilan tahun lalu, anak perempuanku, Rini, yang paling sering datang.
Rumahnya hanya sekitar lima belas menit naik motor.
Ia yang mengurus tagihan listrik, menemani kontrol, mengambil obat, bahkan menyimpan kartu ATM-ku karena menurutnya aku sering salah memasukkan PIN.
“Aku saja yang pegang, Bu,” katanya waktu itu. “Kalau Ibu butuh apa-apa bilang. Zaman sekarang banyak penipuan.”
Aku menurut.
Rini memang selalu menjadi anak yang paling cekatan.
Kalau keran bocor, dia menelepon tukang.
Kalau aku demam, dia datang membawa bubur.
Kalau penyewa kios terlambat, dia yang menagih.
Dimas berbeda.
Ia tinggal di Yogyakarta, menjalankan usaha percetakan kecil yang berkembang cukup baik. Ia jarang pulang, terutama setelah beberapa kali berselisih dengan adiknya.
Rini sering mengeluh tentangnya.
“Mas Dimas itu sekarang kalau soal keluarga hitung-hitungan sekali.”
Aku biasanya menyuruhnya berhenti.
“Jangan ngomong begitu tentang kakakmu.”
Tetapi diam-diam, aku juga kecewa.
Dimas memang menelepon sesekali, tetapi hampir selalu singkat.
“Obat cukup, Bu?”
“Cukup.”
“Rumah aman?”
“Aman.”
Setelah itu percakapan selesai.
Aku terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa kadang-kadang aku ingin ia bertanya lebih lama.
Masalah operasi itu muncul setelah dua kali aku masuk IGD karena nyeri hebat di perut kanan atas.
Dokter mengatakan ada batu empedu dan peradangan yang terus berulang. Setelah beberapa pemeriksaan, aku mendapat rujukan untuk konsultasi bedah.
Aku tidak terlalu mengerti istilah medis.
Yang kuingat hanya kalimat dokter:
“Jangan dibiarkan terlalu lama kalau serangannya makin sering.”
Rini yang kemudian mengurus semuanya.
Tiga hari setelah kontrol, ia datang membawa ponselnya.
“Ibu, kalau mau cepat, kita harus siapkan sekitar Rp42 juta.”
Aku hampir menjatuhkan gelas.
“Empat puluh dua juta?”
“Iya.”
“Bukannya pakai BPJS?”
Rini menghela napas seperti orang yang sudah terlalu capek menjelaskan.
“Bisa, tapi panjang. Katanya kamar penuh, jadwalnya lama. Kalau kondisi Ibu memburuk bagaimana?”
Ia menunjukkan foto rincian biaya di layar.
Tulisan kecil-kecil.
Aku hanya sempat melihat angka Rp41.750.000.
“Terus dari mana uang sebanyak itu?”
Rini diam cukup lama.
Kemudian ia berkata, “Kios depan bisa dijual.”
Aku langsung menoleh.
“Jangan.”
Kios itu bukan sekadar bangunan.
Pak Joko membuat fondasinya sendiri bersama dua tukang dari kampung. Selama bertahun-tahun, uang sewa kios itulah yang kupikir membantu membayar sebagian obat dan kebutuhan rumah.
Rini memegang tanganku.
“Bu, bangunan bisa dicari lagi. Kesehatan tidak.”
“Aku tidak mau menjual peninggalan bapakmu hanya karena sekali sakit.”
“Kalau begitu minta Mas Dimas.”
Cara ia mengucapkannya membuatku tidak nyaman.
“Aku tidak mau merepotkan.”
“Dia mampu.”
“Belum tentu.”
Rini tertawa pendek.
“Bu, dia renovasi rumah tahun lalu. Mobilnya juga baru. Masa untuk operasi ibunya sendiri tidak bisa?”
Aku tidak langsung setuju.
Dua malam aku memikirkannya.
Akhirnya, karena nyeri kembali datang setelah makan malam, aku menyerah.
Aku menelepon Dimas.
“Aku mau ke rumahmu besok.”
Ia terdengar terkejut.
“Kenapa Ibu tidak bilang saja? Aku yang ke Klaten.”
“Tidak apa-apa. Aku bisa naik travel.”
Saat aku tiba, Dimas baru pulang dari tempat usahanya.
Menantuku, Ayu, membawakan teh hangat dan pisang rebus.
Tidak ada wajah masam.
Tidak ada kesan mereka terganggu.
Justru Dimas terlihat gelisah ketika melihat map rumah sakitku.
Ia membaca lembar demi lembar.
“Siapa yang bilang harus bayar Rp42 juta?”
“Rini.”
“Dari rumah sakit mana?”
Aku menunjukkan foto di ponsel.
Dimas memperbesar gambar itu.
“Bu, ini bukan surat tagihan. Ini estimasi biaya dari rumah sakit swasta.”
“Apa bedanya?”
“Banyak.”
Ia menatapku.
“Rujukan BPJS Ibu masih aktif?”
“Aku tidak tahu. Semua diurus Rini.”
Dimas mengusap wajahnya.
Kebiasaannya sejak kecil kalau sedang menahan emosi.
“Terus kios mau dijual?”
Aku terdiam.
Itu saja sudah menjadi jawaban.
Ia bangkit dari kursinya.
“Harga berapa?”
“Katanya ada yang berani Rp330 juta.”
Dimas berhenti berjalan.
“Siapa pembelinya?”
“Temannya Hendra.”
Hendra adalah suami Rini.
Dimas memejamkan mata beberapa detik.
Kemudian ia bertanya, “Rini sudah kasih surat apa pun ke Ibu?”
“Belum. Katanya malam ini mau datang membawa dokumen supaya minggu depan bisa dibawa ke PPAT.”
Dimas berjalan ke ruang kerjanya.
Aku menunggu.
Ia kembali membawa kotak bakpia yang belum dibuka.
“Masukkan ini ke tas Ibu.”
Aku mulai kesal.
“Aku datang bukan minta oleh-oleh, Mas.”
“Aku tahu.”
“Kalau memang kamu tidak mau membantu, bilang saja.”
Ayu langsung menoleh kepada suaminya.
Dimas tidak marah.
Ia duduk di depanku.
“Bu, aku akan bantu operasi Ibu kalau memang ada biaya yang tidak ditanggung. Tapi aku tidak akan kasih uang sebelum kita tahu sebenarnya uang Ibu ke mana.”
Aku menatapnya lama.
“Uang apa?”
Dimas tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi berubah pikiran.
“Pulanglah dulu.”
“Kenapa tidak bilang sekarang?”
“Karena kalau aku bilang tanpa Ibu melihat sendiri, Ibu akan pikir aku sedang menjelek-jelekkan Rini.”
Aku berdiri.
Hatiku panas.
“Dia adikmu.”
“Aku tahu.”
“Dia yang merawat Ibu selama ini.”
“Aku juga tahu.”
“Jangan karena kalian tidak akur lalu kamu menuduh macam-macam.”
Dimas mengangguk perlahan.
“Makanya aku tidak menuduh.”
Ia menunjuk kotak itu.
“Aku cuma minta Ibu membaca.”
Aku pulang sore itu dengan mulut pahit.
Sepanjang jalan, aku membela Rini di dalam kepala.
Mungkin Dimas memang sejak dulu tidak suka cara adiknya mengatur rumah.
Mungkin ia merasa Rini terlalu ikut campur.
Mungkin ini hanya urusan lama mereka.
Aku bahkan sempat berpikir membuang kotak itu.
Ketika sampai rumah, lampu teras sudah menyala.
Ada pesan dari Rini.
Bu, nanti habis Isya aku sama Mas Hendra datang. Dokumennya sudah siap. Tinggal tanda tangan beberapa bagian supaya proses penjualan kios bisa jalan. Jangan makan terlalu malam ya.
Aku meletakkan ponsel.
Kotak bakpia dari Dimas masih berada di dalam tas kainku.
Aku membukanya dengan kesal.
Di atas memang ada enam buah bakpia.
Namun di bawah sekat karton, ada map tipis berwarna cokelat.
Tanganku berhenti.
Di dalamnya ada tiga lembar kertas.
Lembar pertama adalah salinan pesan yang pernah dikirim Rini ke grup WhatsApp keluarga tiga minggu sebelumnya lalu dihapus beberapa menit kemudian.
Aku tidak pernah sempat membacanya.
Dimas rupanya menyimpannya.
Lembar kedua adalah draft surat kuasa.
Namaku tercetak jelas sebagai pemberi kuasa.
Nama Rini tercetak sebagai penerima kuasa untuk mengurus penjualan kios dan menerima pembayaran.
Tetapi bukan itu yang membuat tengkukku terasa panas.
Di lembar ketiga ada fotokopi penawaran pembelian kios.
Alamatnya benar.
Luas tanahnya benar.
Nama calon pembelinya sama dengan yang disebut Rini.
Aku membaca angka itu sekali.
Kemudian sekali lagi.
Rini mengatakan kepadaku bahwa kios itu hanya laku sekitar Rp330 juta.
Di kertas yang kupegang, pembeli menawarkan:
Rp515.000.000.
Selisihnya Rp185 juta.
Di bagian bawah ada tulisan tangan Hendra:
Rp330 jt untuk Ibu. Sisanya bereskan kewajiban dulu. Jangan dibahas sebelum surat kuasa ditandatangani.
Aku tidak tahu “kewajiban” apa yang dimaksud.
Tetapi untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, aku bertanya pada diriku sendiri sesuatu yang seharusnya sudah kutanyakan sejak lama.
Kalau harga kios saja bisa disembunyikan dariku…
berapa banyak hal lain yang selama ini tidak pernah benar-benar kuketahui?
Tiga menit kemudian terdengar suara motor berhenti di depan pagar.
Rini dan Hendra datang membawa map hitam.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak menyambut mereka dengan berkata, “Masuk saja, pintunya tidak dikunci.”
Aku berdiri di balik pintu dan bertanya,
“Rin… sebenarnya kios Ibu mau kamu jual berapa?”
BAGIAN 2
Di luar pintu, tidak ada jawaban selama beberapa detik.
Kemudian Rini tertawa kecil.
“Ya ampun, Bu. Kok tiba-tiba nanya harga lagi?”
Aku membuka pintu.
Rini masih mengenakan helm. Hendra berdiri di belakangnya sambil memegang map hitam.
“Masuk.”
Mereka duduk di ruang tamu.
Aku tidak membuatkan teh seperti biasanya.
Rini memperhatikan meja yang kosong.
“Mbak Sumi tadi tidak mampir?”
Ia sengaja menyebut tetangga, mungkin agar pembicaraan beralih.
Aku duduk berhadapan dengannya.
“Berapa harga kios?”
“Kan kemarin sudah aku bilang. Sekitar Rp330 juta.”
“Sekitar?”
Hendra menyela.
“Bu, harga properti itu tergantung pembeli. Yang penting cepat cair supaya operasi tidak tertunda.”
Aku mengambil napas.
“Kalau Rp515 juta bagaimana?”
Wajah Rini berubah.
Tidak banyak.
Hanya cukup untuk membuatku melihat sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah kucari.
Ketakutan.
“Dari mana Ibu dapat angka itu?”
Aku tidak menjawab.
Hendra meletakkan map di meja.
“Mas Dimas lagi, ya?”
Rini langsung menoleh kepadanya.
“Mas.”
“Apa? Memang pasti dia.”
Aku menatap mereka.
“Jadi angka itu benar?”
Rini melepas helm perlahan.
“Bu, tidak sesederhana itu.”
Kalimat itu membuatku justru semakin yakin.
“Jelaskan.”
Ia merapatkan bibir.
“Penawaran awal memang segitu. Tapi ada biaya ini itu.”
“Biaya apa sampai Rp185 juta?”
“Renovasi, pajak, urusan surat, komisi…”
Aku menggeleng.
“Jangan asal menyebut.”
Rini mulai meninggikan suara.
“Ibu tahu apa soal jual beli tanah?”
“Tidak banyak.”
Aku menunjuk map hitam.
“Makanya aku bertanya.”
Hendra mencondongkan tubuh.
“Bu, tujuan kami kan supaya Ibu cepat operasi.”
“Kalau begitu kenapa aku harus memberi kuasa kepada Rini untuk menerima uang penjualan?”
Kali ini Hendra tidak segera menjawab.
Rini melihat suaminya.
Aku sudah mendapat jawabannya tanpa perlu kata-kata.
Aku berdiri.
“Pulang dulu.”
“Bu.”
“Besok kita bicara lagi.”
“Dokumennya harus segera diproses.”
Aku menatap Rini.
“Tubuh yang mau dioperasi tubuhku. Kios yang mau dijual kiosku. Kenapa kalian yang terburu-buru?”
Rini memerah.
“Ibu sekarang curiga sama aku cuma karena Mas Dimas kasih satu kertas?”
“Pulang dulu, Rin.”
Ia mengambil tasnya.
Sebelum pergi, ia berkata dengan suara bergetar, “Aku yang sembilan tahun mondar-mandir mengurus Ibu. Sekarang Mas Dimas datang bawa beberapa lembar kertas, langsung dia yang dipercaya.”
Aku ingin membantah.
Tetapi kata-katanya mengenai bagian diriku yang paling lemah.
Rasa bersalah.
Pintu tertutup.
Aku hampir meneleponnya kembali.
Hampir.
Kemudian ponselku berdering.
Nomor yang tidak kusimpan.
“Bu Lestari?”
“Iya.”
“Saya Wahyu, Bu. Yang sewa kios sebelah.”
“Oh, iya, Mas.”
“Maaf malam-malam. Mbak Rini bilang mulai bulan depan uang sewanya jangan ditransfer dulu karena kios mau dijual. Jadi saya mau memastikan, uang sewa bulan ini tetap ke rekening biasa?”
Aku mengernyit.
“Rekening siapa?”
Di seberang terdengar jeda.
“Ya… rekening Mbak Rini.”
Tanganku otomatis menggenggam ujung meja.
“Berapa kamu bayar tiap bulan?”
“Rp3,4 juta, Bu.”
Aku duduk perlahan.
Selama bertahun-tahun, Rini mengatakan kedua kios menghasilkan sekitar Rp4 juta sampai Rp4,5 juta total per bulan sebelum biaya perbaikan.
“Sejak kapan Rp3,4 juta?”
“Hampir tiga tahun, Bu.”
“Ada kenaikan sebelumnya?”
“Iya. Waktu awal saya masuk Rp2,7 juta.”
Aku menutup mata.
Itu baru satu kios.
Belum kios satunya.
“Mas Wahyu, besok jangan transfer dulu ke siapa pun. Nanti saya kabari.”
Setelah telepon ditutup, aku langsung menelepon Dimas.
Ia mengangkat sebelum dering kedua.
“Sudah dibuka?”
“Kenapa kamu tahu soal surat itu?”
“Rini pernah kirim file ke grup keluarga, lalu hapus. Aku sudah sempat unduh.”
“Kenapa tidak bilang sejak saat itu?”
Dimas diam.
“Aku ingin bicara langsung. Tapi setiap aku tanya soal kios, Rini bilang Ibu sudah setuju.”
“Aku belum pernah setuju.”
“Aku tahu sekarang.”
Aku menceritakan telepon Wahyu.
Dimas mengembuskan napas panjang.
“Bu, besok jangan bicara lagi sama Rini dulu. Cek semuanya.”
“Apa lagi yang harus dicek?”
“Kontrak sewa. Rekening. BPJS. Semua yang selama ini dipegang dia.”
Aku hampir tersinggung.
Tetapi sesuatu dalam diriku sudah berubah.
Keesokan paginya, sebelum Rini datang, aku pergi ke kios.
Wahyu menyerahkan fotokopi kontraknya.
Penyewa kios sebelah, Bu Marni, melakukan hal yang sama.
Dari dua kontrak itu, sewa total saat ini mencapai Rp6,2 juta per bulan.
Rini setiap bulan hanya memberikan sekitar Rp2 juta sampai Rp2,5 juta untuk kebutuhan rumahku dan selalu mengatakan sisanya habis untuk perbaikan, pajak, serta tagihan.
Aku mulai menghitung dengan buku tulis kecil milik almarhum suamiku.
Angkanya membuat kepalaku pening.
Tetapi itu belum semuanya.
Siang hari, aku meminta Rini mengembalikan kartu ATM-ku.
Ia datang dengan wajah tegang.
“Untuk apa?”
“Mau cetak mutasi.”
“Ibu sekarang percaya bank daripada anak sendiri?”
“Ini bukan soal percaya.”
“Terus soal apa?”
“Soal uangku.”
Untuk pertama kalinya aku melihat anak perempuanku seperti melihat orang dewasa lain, bukan anak kecil yang dulu selalu tidur sambil memegang ujung bajuku.
Ia mengambil kartu dari dompetnya.
Meletakkannya di meja.
Keras.
“Silakan.”
Sebelum pergi, ia berbalik.
“Kalau sudah lihat semuanya, jangan cuma lihat uang yang keluar. Lihat juga siapa yang selama ini mengurus hidup Ibu.”
Aku tidak menjawab.
Sore itu Dimas menemaniku ke bank.
Dari mutasi rekening, aku menemukan sesuatu yang tidak kuharapkan.
Selama empat tahun terakhir, ada transfer rutin Rp1,5 juta hampir setiap bulan dari rekening usaha Dimas.
Uang itu masuk.
Beberapa jam kemudian atau keesokan harinya, uang yang hampir sama selalu dipindahkan ke rekening Rini.
Aku menatap layar terlalu lama.
“Ini uang apa?”
Dimas menunduk.
“Untuk Ibu.”
“Kenapa aku tidak pernah tahu?”
“Aku kira Rini memberikannya.”
Aku menatap anakku.
“Dia bilang kamu jarang membantu.”
Dimas mengangkat wajah.
Dan untuk pertama kalinya, kemarahan di antara kami tidak mengarah kepada Rini.
Melainkan kepada semua tahun ketika kami terlalu malas, terlalu sungkan, dan terlalu gengsi untuk bertanya langsung satu sama lain.
Namun sebelum kami sempat bicara lebih jauh, teleponku berdering.
Rini.
Aku tidak langsung mengangkat.
Ia menelepon lagi.
Kali ini aku jawab.
Suara Rini terdengar berbeda.
Tidak marah.
Ketakutan.
“Bu… jangan pergi ke bank lagi.”
“Kenapa?”
“Hendra sedang punya masalah.”
“Masalah apa?”
Rini mulai menangis.
Lalu ia mengatakan satu kalimat yang membuat soal Rp185 juta tadi tiba-tiba terasa jauh lebih kecil.
“Kalau kios itu tidak dijual bulan ini, orang yang memberi utang ke Hendra akan datang ke rumah Ibu.”
BAGIAN 3
Aku tidak menjawab Rini selama beberapa detik.
Di sampingku, Dimas duduk kaku di kursi plastik bank.
Tangannya mengepal di atas paha.
“Utang berapa?” tanyaku.
Di telepon, Rini menarik napas berkali-kali.
“Aku tidak tahu angka pastinya.”
“Jangan bohong lagi.”
“Aku serius, Bu.”
“Suamimu berutang, kamu mau menjual kiosku, dan kamu bilang tidak tahu angkanya?”
“Mas Hendra yang pegang semua.”
“Lalu kenapa uang sewa kios masuk ke rekeningmu?”
Tidak ada jawaban.
Aku berdiri.
Dimas ikut berdiri, tetapi aku mengangkat tangan.
Aku ingin menyelesaikan telepon itu sendiri.
“Rin, dengar Ibu baik-baik. Mulai hari ini jangan gunakan kartu ATM Ibu. Jangan ambil uang sewa. Jangan bawa surat apa pun untuk ditandatangani. Nanti malam kamu dan Hendra datang ke rumah.”
“Bu, jangan libatkan Mas Dimas.”
“Ini rumah Ibu.”
“Dia akan mempermalukan kami.”
Kalimat itu membuatku berhenti.
“Yang kamu takutkan sekarang malu?”
Rini menangis.
“Bu, aku bisa jelaskan.”
“Bagus. Jelaskan nanti malam.”
Aku menutup telepon.
Tanganku gemetar setelahnya.
Dimas ingin mengambil ponselku, mungkin takut jatuh.
Aku memasukkannya sendiri ke dalam tas.
“Ayo.”
“Kita ke mana?”
“Rumah sakit.”
Dimas mengerutkan kening.
“Ibu kuat?”
“Justru karena sudah capek dibohongi, aku ingin tahu satu hal yang paling sederhana dulu.”
Kami pergi ke rumah sakit yang namanya tercantum dalam rujukanku.
Aku membawa kartu BPJS, KTP, dan map biru.
Di loket, setelah nomor antreanku dipanggil, petugas memeriksa berkas cukup lama.
“Rujukan Ibu masih aktif.”
Aku menatap Dimas.
“Jadwal konsultasi bedah sudah pernah dibuat?”
Petugas melihat layar.
“Sudah. Dua minggu lalu. Ada catatan pasien tidak hadir.”
Aku tercekat.
“Aku tidak pernah diberi tahu.”
Petugas itu tentu tidak tahu apa yang sedang terjadi di keluargaku. Ia hanya menjelaskan prosedur sebagaimana pekerjaannya.
Setelah beberapa pemeriksaan ulang dan penjadwalan, kami mendapat penjelasan bahwa aku tetap bisa menjalani proses melalui BPJS sesuai indikasi medis dan prosedur rujukan yang berlaku. Dokter harus mengevaluasi kembali kondisiku karena aku melewatkan jadwal sebelumnya.
Tidak ada seseorang yang meminta Rp42 juta.
Tidak ada kewajiban menjual kios.
Estimasi Rp41.750.000 yang ditunjukkan Rini memang berasal dari sebuah rumah sakit swasta.
Pilihan itu nyata.
Tetapi itu bukan satu-satunya jalan seperti yang selama ini ia katakan.
Di parkiran aku duduk di bangku beton.
Dimas membawakan air mineral.
Aku tidak langsung minum.
“Apa dia ingin Ibu mati?” tanyaku pelan.
Dimas menatapku cepat.
“Jangan bilang begitu.”
“Kalau jadwalku ada, kenapa dia bilang tidak ada?”
“Aku tidak tahu.”
“Kamu membelanya?”
“Tidak.”
Ia duduk di sampingku.
“Tapi kalau kita mulai menganggap semua yang dia lakukan karena dia ingin mencelakakan Ibu, kita akan berhenti mencari apa yang sebenarnya terjadi.”
Aku menatap wajah anakku.
Ada garis di sekitar matanya yang dulu tidak ada.
Tiba-tiba aku sadar, anak sulungku sudah berusia lima puluh tiga tahun.
Di kepalaku, kadang ia masih anak laki-laki dua belas tahun yang pulang dengan lutut berdarah setelah jatuh dari sepeda.
Aku mengusap tutup botol air.
“Kenapa kalian berdua bisa sampai begini?”
Dimas tidak langsung menjawab.
“Aku juga salah.”
Aku menoleh.
“Aku sudah lama tahu Rini terlalu banyak mengatur uang Ibu.”
“Sejak kapan?”
“Sekitar empat tahun lalu.”
Aku menahan napas.
“Dan kamu diam?”
“Aku pernah tanya.”
“Ke siapa?”
“Ke Rini.”
Aku hampir tertawa karena kesal.
“Kenapa bukan ke Ibu?”
Dimas menunduk.
“Karena setiap kali aku tanya langsung soal uang, Ibu bilang tidak usah ikut campur.”
Aku ingin membantah.
Kemudian aku ingat.
Beberapa tahun lalu ia pernah berkata, “Bu, kios jangan semua diserahkan Rini.”
Aku menjawab, “Adikmu yang tinggal dekat. Jangan cari masalah.”
Pernah juga ia menawarkan membuka rekening baru.
Aku marah.
“Jangan bikin adikmu merasa tidak dipercaya.”
Aku mengembuskan napas.
Aku memang melakukan itu.
Aku selalu menganggap menjaga perdamaian berarti mencegah satu anak bertanya terlalu banyak kepada anak lainnya.
Ternyata diam tidak menghilangkan masalah.
Diam hanya membuat masalah tumbuh di tempat yang tidak kulihat.
“Aku transfer uang tiap bulan,” lanjut Dimas. “Awalnya langsung ke rekening Ibu. Rini bilang lebih mudah kalau dia yang mengatur karena dia yang belanja obat dan kebutuhan.”
“Dan kamu percaya.”
“Iya.”
“Kita ternyata sama-sama bodoh.”
Dimas tersenyum hambar.
“Untuk bagian itu, mungkin iya.”
Malamnya, Rini dan Hendra datang pukul setengah delapan.
Aku sudah menyiapkan meja makan.
Bukan makanan.
Kertas.
Kontrak sewa dua kios.
Mutasi rekening.
Salinan surat kuasa.
Penawaran Rp515 juta.
Dan estimasi rumah sakit.
Kotak bakpia dari Dimas masih berada di ujung meja.
Aku sengaja membiarkannya di sana.
Rini langsung melihat semua kertas itu.
Wajahnya pucat.
Hendra menarik kursi.
Dimas duduk di samping jendela.
Ayu tidak ikut.
Aku meminta ia tetap di Yogyakarta karena ini urusan kami berempat.
“Mulai dari utang,” kataku.
Hendra membersihkan tenggorokan.
“Bu, sebenarnya ini masalah usaha.”
“Usaha apa?”
“Distribusi bahan bangunan.”
Aku tahu ia pernah bekerja sama dengan seorang teman dari Solo, tetapi tidak pernah bertanya banyak.
“Berapa?”
Hendra diam.
Dimas menyandarkan punggung.
“Mas Hendra, jangan bikin Ibu bertanya tiga kali.”
Hendra menatap tajam.
“Aku bicara sama Ibu, bukan sama kamu.”
Aku mengangkat telapak tangan.
“Benar. Jawab Ibu.”
“Sekitar Rp270 juta.”
Rini menutup wajah.
Aku menatap mereka bergantian.
“Utang ke bank?”
“Sebagian.”
“Sebagian lagi?”
“Supplier.”
“Dan?”
Ia menelan ludah.
“Pinjaman pribadi.”
“Berapa yang pinjaman pribadi?”
“Sekitar Rp110 juta.”
Aku menarik napas perlahan.
“Jatuh tempo?”
“Sudah lewat.”
“Makanya kalian mau menjual kiosku?”
Rini segera menyela.
“Bu, bukan begitu.”
Aku menoleh kepadanya.
“Sekarang giliranmu.”
Rini menarik kursi lebih dekat.
“Aku memang salah tidak cerita.”
“Bukan cuma itu.”
“Aku tahu.”
“Uang sewa.”
“Iya.”
“Uang dari Dimas.”
“Iya.”
“Jadwal rumah sakit.”
Rini menunduk.
“Iya.”
Suaranya hampir tidak terdengar.
Aku merasa marah.
Tetapi yang lebih menyakitkan adalah melihat anakku mengakui satu demi satu kebohongan dengan suara yang sudah tidak punya tenaga untuk menyangkal.
“Kenapa?”
Rini mengusap hidung.
“Awalnya bukan begini.”
“Awalnya bagaimana?”
“Waktu usaha Hendra mulai macet dua tahun lalu, kami cuma kurang beberapa juta untuk bayar supplier. Aku pakai uang sewa kios.”
“Tanpa bilang ke Ibu.”
“Aku mau ganti bulan berikutnya.”
“Lalu?”
“Bulan berikutnya ada cicilan mobil operasional. Setelah itu biaya sekolah Raka. Hendra belum dapat pembayaran proyek. Terus… ya, menumpuk.”
Aku menatap Hendra.
“Kenapa kamu diam?”
Ia mengencangkan rahang.
“Karena waktu itu saya pikir usaha akan pulih.”
“Jadi uang orang tua kalian pakai sebagai modal tanpa izin?”
“Bu, jangan seolah-olah kami tidak pernah keluar uang untuk Ibu juga.”
Rini menoleh tajam kepada suaminya.
“Mas, jangan.”
Tetapi kalimat itu sudah keluar.
Aku menatap Hendra.
“Lanjutkan.”
Ia terlihat menyesal, tetapi gengsinya lebih besar.
“Kami yang antar kontrol. Kami yang belanja. Kami yang kalau genteng bocor cari tukang. Kami yang tinggal dekat. Mas Dimas cuma transfer.”
Dimas duduk lebih tegak.
Aku berkata, “Jangan bawa Dimas dulu.”
Hendra masih kesal.
“Saya cuma bilang kenyataannya.”
“Kalau kalian merasa biaya merawat Ibu terlalu berat, kalian bisa bilang.”
Rini menangis lagi.
“Kalau aku bilang, Ibu pasti bilang aku hitung-hitungan.”
Aku membuka mulut.
Tidak ada kata yang keluar.
Karena ia benar.
Dulu, ketika Rini pernah berkata uang bensin dan obat mulai banyak, aku pernah menjawab, “Masa sama ibu sendiri dihitung?”
Aku mengucapkannya sambil bercanda.
Setidaknya menurutku.
Mungkin bagi Rini, kalimat itu tinggal lebih lama.
Aku memandang anak perempuanku.
“Jadi kamu mengambil uang sewa karena merasa itu hakmu?”
Rini menggeleng cepat.
“Bukan hak.”
“Lalu?”
“Entahlah.”
Ia mengusap air mata dengan telapak tangan.
“Aku capek, Bu.”
Ruang makan menjadi hening.
Dimas membuka mulut, tetapi aku memberi isyarat agar ia diam.
Aku ingin mendengar.
Rini menatap meja.
“Setiap Ibu sakit, aku yang dipanggil. Setiap ada tagihan, aku. Kalau penyewa komplain, aku. Kalau malam-malam Ibu pusing, aku. Waktu anakku sakit bersamaan sama Ibu kontrol, aku tetap antar Ibu dulu.”
Aku merasakan sesuatu menekan dadaku.
Bukan karena aku merasa bersalah atas keberadaanku.
Tetapi karena selama ini aku selalu melihat bantuan Rini sebagai sesuatu yang otomatis.
Karena ia anak perempuan.
Karena rumahnya dekat.
Karena ia “paling bisa diandalkan”.
Aku tidak pernah bertanya apakah ia masih sanggup.
Rini melanjutkan.
“Terus setiap kali Mas Dimas transfer, Ibu bilang, ‘Dimas sekarang sudah jarang ingat Ibu.’ Aku marah.”
Aku menoleh kepada Dimas.
Ia menatap adiknya.
“Kenapa kamu tidak bilang uang itu dari aku?”
Rini tertawa pahit.
“Buat apa? Supaya Mas jadi anak baik yang kirim uang, aku jadi tukang antar obat?”
“Rin.”
“Memang begitu!”
Dimas berdiri.
“Jadi karena kamu kesal sama aku, uang Ibu kamu pakai buat utang suamimu?”
“Jangan sok suci!”
“Cukup.”
Suara itu keluar dari mulutku lebih keras daripada yang kukira mampu.
Keduanya diam.
Aku menunjuk kursi Dimas.
“Duduk.”
Ia duduk kembali.
Aku menatap Rini.
“Aku mengerti kamu capek.”
Rini menutup mulut dengan tangan.
“Tapi mendengarkan alasanmu bukan berarti membenarkan caramu.”
Ia menangis tanpa suara.
“Kalau kamu merasa tenagamu tidak dihargai, kamu boleh marah.”
Aku mengetuk mutasi rekening dengan ujung jari.
“Tapi kamu tidak boleh menjadikan rekeningku gaji yang kamu tentukan sendiri.”
Aku menunjuk penawaran kios.
“Kamu juga tidak boleh menjual asetku diam-diam untuk menutup utang rumah tanggamu.”
“Bu, aku tidak akan mengambil semuanya.”
“Apa bedanya?”
“Rp330 juta tetap untuk Ibu.”
Aku menatapnya.
“Kamu dengar kalimatmu sendiri?”
Rini terdiam.
“Kios itu milikku. Bukan berarti kamu boleh memutuskan berapa bagian uangku yang boleh tetap menjadi milikku.”
Hendra mencondongkan badan.
“Bu, kami niatnya akan mengganti.”
“Dengan apa?”
Ia diam.
“Usahamu sedang rugi. Utangmu Rp270 juta. Kamu ingin mengambil selisih Rp185 juta dari penjualan kios. Dengan apa kamu menggantinya?”
Tidak ada jawaban.
Aku mendorong kertas estimasi operasi ke tengah meja.
“Sekarang soal ini.”
Rini memejamkan mata.
“Rujukan BPJS Ibu masih aktif.”
Rini mulai terisak.
“Kenapa kamu bilang tidak bisa?”
“Aku takut Ibu tidak mau jual kios kalau tidak merasa mendesak.”
Kalimat itu masuk ke telingaku pelan-pelan.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada gelas pecah.
Justru karena ia mengatakannya begitu pelan, rasanya lebih menyakitkan.
“Kamu membuat Ibu takut soal kesehatan supaya Ibu mau menjual kios?”
“Bu…”
“Jawab.”
“Iya.”
Dimas memukul meja dengan telapak tangan.
Aku menoleh.
“Mas.”
Ia menarik tangannya.
“Maaf.”
Aku kembali memandang Rini.
“Kalau Dimas kemarin langsung kasih Rp42 juta, apa yang kamu lakukan?”
Rini menunduk.
“Bayar sebagian utang Hendra.”
Dimas tertawa sekali.
Bukan karena lucu.
“Jadi operasi Ibu apa?”
“Aku tetap akan urus!”
“Dengan uang apa?”
“Mas Dimas, jangan!”
Aku berdiri.
Seketika keduanya diam lagi.
Aku masuk ke kamar.
Dari lemari plastik aku mengambil satu map tua.
Di dalamnya ada sertifikat rumah dan kios.
Sejak Pak Joko meninggal, dokumen itu kusimpan sendiri.
Rini beberapa kali meminta agar dipindahkan ke rumahnya karena katanya lebih aman.
Aku selalu menolak.
Ternyata penolakanku yang dianggap keras kepala itulah satu-satunya batas yang masih tersisa.
Aku kembali ke ruang makan.
“Lihat ini.”
Rini melihat map.
“Mulai malam ini, tidak seorang pun memegang dokumen rumah selain Ibu.”
Aku menatap Hendra.
“Kios tidak dijual.”
Wajahnya berubah.
“Bu, kalau tidak dijual, masalah kami…”
“Masalah kalian tetap masalah kalian.”
“Orang yang memberi pinjaman bisa datang ke sini.”
“Kalau mereka datang, Ibu akan bilang utangnya bukan utang Ibu.”
“Mereka tidak akan peduli.”
“Kalau ada ancaman, kita tangani sesuai caranya. Tetapi Ibu tidak akan menjual rumah karena takut pada akibat keputusan yang tidak pernah Ibu buat.”
Hendra berdiri.
“Jadi Ibu tega melihat kami hancur?”
Pertanyaan itu begitu familiar.
Bentuknya berbeda, tetapi isinya sama dengan banyak kalimat yang kudengar seumur hidup.
Kita keluarga.
Masa tidak mau membantu?
Anak harus mengerti orang tua.
Orang tua harus mengerti anak.
Semua bisa benar.
Semua juga bisa dipakai untuk memaksa.
Aku menatap Hendra.
“Ibu tidak ingin kalian hancur.”
“Terus?”
“Tapi selama ini kalian menyebut menutup kesalahan kalian sebagai menyelamatkan keluarga.”
Ia menggeleng.
“Kalau usaha saya berhenti, kami tidak punya penghasilan.”
“Jual mobil kedua kalian.”
Hendra langsung diam.
Rini menoleh kepadanya.
Aku melanjutkan.
“Kurangi gaya hidup. Bicara dengan supplier. Negosiasikan utang. Jual barang yang memang milik kalian.”
Hendra mengencangkan rahang.
“Mobil itu dipakai kerja.”
“Kalian punya dua.”
“Yang satu atas nama Rini.”
“Lebih bagus. Berarti kalian punya pilihan.”
Rini berkata, “Bu, kalau kami jual mobil, anak-anak bagaimana?”
“Kalian masih punya satu.”
“Nilainya turun.”
Aku menatapnya.
“Kios Ibu juga bukan tumbuh kembali setelah dijual.”
Rini tidak menjawab.
Dimas menunduk.
Aku tahu ia sedang menahan senyum pahit.
Aku tidak ingin malam itu berubah menjadi kemenangan Dimas atas Rini.
Ini bukan pertandingan.
“Ada lagi,” kataku.
Aku mengeluarkan buku kecil tempat aku menghitung uang sewa.
“Besok kita hitung ulang tiga tahun terakhir.”
Rini memucat.
“Aku tidak punya semua catatannya.”
“Kita punya kontrak penyewa.”
“Ada biaya perbaikan.”
“Tulis.”
“Pajak.”
“Tulis.”
“Obat Ibu.”
“Tulis.”
Aku mendorong sebuah buku kosong kepadanya.
“Yang benar-benar dipakai untuk Ibu, kita kurangi. Yang dipakai keluarga kalian tanpa izin, kita catat sebagai utang.”
Hendra langsung berkata, “Kami tidak mungkin bayar sekaligus.”
“Aku tidak minta sekaligus.”
Rini menatapku seolah tidak percaya.
Aku juga tidak percaya pada diriku sendiri.
Selama bertahun-tahun aku takut berkata tegas karena kupikir ketegasan akan memecahkan keluarga.
Malam itu akhirnya aku mengerti.
Keluarga kami sudah retak.
Aku hanya selama ini meletakkan taplak di atas retakannya.
“Kalian bayar semampunya setiap bulan,” kataku. “Tapi harus ada angka yang jelas.”
Rini menangis.
“Kalau aku tidak sanggup?”
“Katakan.”
“Ibu akan benci aku.”
Aku duduk kembali.
“Kalau Ibu benar-benar ingin membencimu, mungkin malam ini lebih mudah kalau Ibu mengusirmu dan tidak mau melihatmu lagi.”
Rini mengangkat wajah.
“Aku marah sekali sama kamu.”
Suaraku mulai bergetar.
“Aku juga kecewa. Mungkin butuh waktu lama sampai bisa percaya lagi.”
Air mata mengalir di wajahnya.
“Tapi kamu tetap anak Ibu.”
Aku berhenti sebentar.
“Menjadi anak Ibu tidak membuatmu kebal dari akibat.”
Rini menutupi wajah.
Itulah pertama kalinya malam itu ia benar-benar menangis.
Bukan tangisan karena ketahuan.
Bukan karena takut utang.
Tangisannya terdengar seperti seseorang yang sudah terlalu lama mempertahankan alasan yang bahkan ia sendiri tidak lagi percaya.
Hendra tidak menangis.
Ia berdiri dekat pintu, wajahnya keras.
“Aku akan cari jalan lain,” katanya.
Aku mengangguk.
“Bagus.”
Ia mungkin berharap aku memanggilnya kembali.
Aku tidak.
Rini berdiri beberapa saat kemudian.
Sebelum keluar, ia melihat kotak bakpia.
“Mas Dimas yang kasih?”
“Iya.”
Ia tertawa kecil, pahit.
“Hebat. Sekali kasih kotak, semuanya selesai.”
Dimas langsung berdiri.
Tetapi aku mendahuluinya.
“Tidak.”
Rini menatapku.
“Dimas juga punya kesalahan.”
Sekarang Dimas yang terdiam.
Aku melihatnya.
“Dia pikir transfer uang berarti tugasnya selesai.”
Dimas mengangguk perlahan.
“Benar.”
“Dia tahu ada yang tidak beres, tetapi lebih memilih berdebat denganmu daripada datang bicara langsung dengan Ibu.”
“Iya.”
“Dan Ibu sendiri berkali-kali menyuruhnya tidak ikut campur karena takut kalian bertengkar.”
Aku menatap keduanya.
“Jadi jangan ada satu orang di ruangan ini yang pulang merasa paling benar.”
Rini menggigit bibir.
Kemudian pergi.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Sekitar pukul sebelas, ponselku berbunyi.
Pesan dari Dimas.
Bu, maaf aku selama ini lebih mudah transfer uang daripada pulang.
Aku membaca berkali-kali.
Aku mengetik:
Ibu juga minta maaf karena selalu bilang tidak apa-apa padahal kadang-kadang Ibu ingin kamu pulang.
Aku hampir menghapusnya karena malu.
Kemudian kukirim.
Beberapa menit kemudian ia membalas.
Minggu depan aku pulang. Tidak perlu ada masalah dulu baru pulang.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tersenyum membaca pesan anakku tanpa merasa ada sesuatu yang belum dikatakan.
Tiga hari berikutnya tidak menyenangkan.
Rini tidak datang.
Biasanya paling lambat dua hari sekali suara motornya sudah terdengar di depan pagar.
Rumahku terasa terlalu sunyi.
Aku beberapa kali ingin menelepon.
Kemudian aku mengingatkan diriku bahwa memberi ruang bukan berarti membuang anak.
Aku mengurus rekening baru untuk menerima uang sewa langsung.
Bukan karena rekening lama tidak aman lagi, tetapi aku ingin memisahkan pemasukan kios dari kebutuhan lain.
Kartu ATM kupegang sendiri.
Dimas mengajariku menggunakan mobile banking di ponsel dengan tulisan diperbesar.
Aku salah memasukkan PIN dua kali.
Dimas tertawa.
Aku mencubit lengannya.
“Jangan mentang-mentang Ibu tua.”
“Aku tidak bilang apa-apa.”
“Mukamu bilang.”
Kami tertawa.
Sudah lama sekali rasanya aku tidak tertawa bersamanya.
Pada hari keempat, kami mulai menghitung uang.
Wahyu dan Bu Marni memberikan salinan bukti transfer yang masih mereka simpan.
Sebagian juga ada dalam riwayat rekening Rini setelah ia akhirnya setuju menunjukkan catatan.
Tidak semua uang hilang.
Itu penting bagiku.
Ada biaya obat.
Ada pembayaran PBB.
Ada perbaikan atap kios.
Ada ongkos kontrol.
Ada penggantian pompa air.
Ada belanja bulanan yang memang untukku.
Rini ternyata benar tentang satu hal: merawat seseorang memang membutuhkan uang yang sering tidak terlihat oleh orang yang datang sebulan sekali.
Tetapi setelah semua pengeluaran yang masuk akal dikurangi, masih ada sekitar Rp86 juta yang selama tiga tahun digunakan untuk kebutuhan keluarga Rini dan usaha Hendra tanpa pernah meminta izinku.
Belum termasuk transfer rutin Dimas sekitar Rp72 juta selama empat tahun.
Sebagian digunakan untukku.
Sebagian lagi bercampur dengan kebutuhan rumah Rini.
Kami tidak bisa membuktikan sampai rupiah terakhir.
Aku memutuskan tidak mengejar angka yang tidak bisa dipastikan.
Aku hanya mencatat Rp104 juta sebagai jumlah yang Rini dan Hendra akui telah digunakan bukan untuk kebutuhanku.
Dimas tidak setuju.
“Harusnya lebih.”
“Aku tahu.”
“Bu, jangan terlalu lunak lagi.”
Aku menatapnya.
“Batas bukan berarti harus menghukum sampai habis.”
Ia diam.
“Aku ingin angka yang bisa mereka bayar. Bukan angka untuk membuatku merasa menang.”
Akhirnya kami membuat pernyataan sederhana yang jelas.
Bukan untuk mengambil rumah mereka.
Bukan untuk mempermalukan.
Rini dan Hendra akan mengembalikan Rp104 juta secara bertahap, minimal Rp2 juta per bulan setelah kondisi usaha mereka distabilkan.
Kalau ada bulan mereka tidak mampu, mereka harus memberi tahu.
Tidak boleh ada lagi potong diam-diam.
Tidak ada lagi uang sewa masuk ke rekening mereka.
Tidak ada lagi surat kuasa.
Dimas berkata, “Kalau perlu konsultasi sama orang yang paham hukum supaya dokumennya jelas.”
Aku setuju.
Bukan untuk menyeret anakku ke pengadilan.
Justru karena selama ini terlalu banyak kesepakatan keluarga hanya dibuat lewat kalimat:
Nanti saja.
Percaya sama saudara sendiri.
Tidak usah pakai hitam di atas putih.
Aku sudah cukup hidup dengan kalimat-kalimat semacam itu.
Masalah utang Hendra ternyata tidak hilang dengan keputusan kami.
Ia menjual mobil keduanya.
Itu menutup sebagian pinjaman pribadi.
Ia juga melepas beberapa peralatan gudang yang jarang digunakan dan berbicara ulang dengan dua supplier.
Usahanya mengecil.
Mereka harus memindahkan anak bungsunya dari les mahal.
Rini menjual beberapa perhiasan.
Aku tahu semua itu karena sebulan kemudian ia akhirnya datang.
Tidak membawa bubur.
Tidak membawa obat.
Tidak membawa alasan.
Ia duduk di teras dengan tangan kosong.
“Aku marah sama Ibu beberapa minggu ini.”
Aku menyiram tanaman cabai dalam pot.
“Aku tahu.”
“Kadang aku masih merasa Ibu lebih percaya Mas Dimas.”
Aku meletakkan gayung.
“Kalau Ibu sepenuhnya percaya Dimas, Ibu pasti langsung kasih dia sertifikat untuk disimpan.”
Rini tersenyum tipis.
“Terus?”
“Sertifikat tetap di kamar Ibu.”
Ia tertawa pelan.
Itulah tawa pertama di antara kami sejak malam itu.
Kemudian wajahnya serius.
“Aku capek, Bu.”
“Kamu pernah bilang.”
“Bukan cuma soal Ibu.”
Aku menunggu.
“Hendra terlalu lama bilang usahanya sebentar lagi membaik. Aku ikut percaya karena kalau tidak percaya, aku harus mengakui kami sedang tenggelam.”
Aku duduk di kursi sebelahnya.
“Lalu uang sewa Ibu jadi pelampung.”
Rini menunduk.
“Iya.”
“Dan ketika pelampung itu kurang, kiosnya mau kalian jual.”
Air matanya keluar.
“Iya.”
Aku mengangguk.
Tidak ada gunanya memaksanya mengucapkan seratus kali.
“Kamu tahu bagian yang paling menyakitkan?”
Rini mengusap pipi.
“Apa?”
“Bukan uang.”
Ia menatapku.
“Kalau kamu datang dan bilang, ‘Bu, aku sedang kesulitan, boleh pinjam Rp10 juta?’ mungkin Ibu akan bantu.”
“Aku takut Ibu bilang tidak.”
“Itulah hak Ibu.”
Rini menunduk lagi.
“Aku tahu sekarang.”
Aku memandang jalan depan rumah.
Ada anak sekolah bersepeda lewat.
“Dan soal kamu merawat Ibu…”
Rini diam.
“Ibu memang kurang menghargai.”
Ia menoleh cepat.
“Aku bukan bilang semua yang kamu lakukan jadi benar.”
“Aku tahu.”
“Tapi Ibu terlalu sering menganggap karena kamu anak perempuan dan tinggal dekat, maka kamu otomatis harus ada.”
Bibir Rini bergetar.
“Aku kesal waktu Mas Dimas cuma kirim uang.”
“Seharusnya kamu bilang.”
“Kalau aku bilang, nanti aku dibilang tidak ikhlas.”
Aku menghela napas.
“Budaya keluarga kita kadang aneh.”
Rini tersenyum kecil.
“Kalau bilang capek dianggap tidak ikhlas. Kalau bilang butuh uang dianggap hitung-hitungan.”
“Kalau diam, akhirnya mengambil sendiri.”
Ia menutup wajah karena malu.
“Bu.”
Aku tertawa kecil.
“Kan itu yang terjadi.”
Ia ikut tertawa sambil menangis.
Hari itu kami membuat aturan baru yang bahkan lebih penting daripada soal uang.
Rini tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab kepadaku.
Dimas pulang dua kali sebulan jika pekerjaannya memungkinkan.
Kalau aku kontrol dan Rini sibuk, Dimas bergantian.
Aku juga mulai berani meminta bantuan tetangga untuk hal kecil daripada selalu menelepon anak.
Dan kalau memang ada biaya, kami bicara jelas.
Tidak ada lagi kata “nanti dihitung”.
Tidak ada lagi “tidak usah, keluarga sendiri”.
Operasiku akhirnya dilakukan melalui jalur yang dijelaskan rumah sakit setelah evaluasi dokter.
Aku harus menunggu jadwal.
Bukan selama yang ditakut-takutkan Rini.
Dimas ingin membayar semua kebutuhan tambahan.
Aku menolak sebagian.
“Aku punya uang sewa.”
“Bu, simpan saja.”
“Nah, ini penyakitmu.”
“Apa?”
“Menganggap membantu berarti mengambil alih.”
Ia tertawa.
Akhirnya kami sepakat.
Aku menggunakan uangku sendiri untuk kebutuhan pribadiku.
Dimas membantu transportasi dan beberapa kebutuhan selama pemulihan.
Rini datang sehari sebelum aku masuk rumah sakit.
Ia membawa tas berisi baju tidur dan kain panjang.
“Ini yang gampang dipakai.”
Aku menerimanya.
“Terima kasih.”
Ia berdiri canggung di depan tempat tidur.
“Bu.”
“Hm?”
“Maaf.”
Aku melihatnya.
Ia sudah meminta maaf sebelumnya.
Tapi kali ini nadanya berbeda.
Mungkin karena tidak ada kertas, tidak ada uang, tidak ada siapa-siapa yang menonton.
“Aku maafkan.”
Matanya langsung penuh air.
Aku mengangkat tangan.
“Tapi kartu ATM tetap sama Ibu.”
Rini tertawa sambil menangis.
“Iya, Bu.”
“Dan kalau butuh uang, bilang.”
“Iya.”
“Jangan ambil sendiri.”
“Iya.”
“Dan jangan bersekongkol sama suami.”
“Bu!”
Aku ikut tertawa.
Dimas yang baru masuk kamar membawa air mineral menatap kami.
“Ada apa?”
Rini menghapus air mata.
“Ibu mulai galak.”
Dimas meletakkan botol.
“Bagus.”
Aku melempar bantal kecil ke arahnya.
Untuk beberapa menit, kami bertiga tertawa seperti keluarga yang dulu kukira sudah hilang.
Tetapi aku tahu sesuatu telah berubah.
Kami tidak kembali ke keadaan lama.
Dan itu justru baik.
Keadaan lama adalah tempat semua masalah tumbuh.
Tiga bulan setelah operasi, kondisiku jauh lebih baik.
Aku sudah bisa memasak sederhana.
Kadang berjalan ke warung sendiri.
Uang sewa masuk langsung ke rekeningku setiap awal bulan.
Wahyu bahkan pernah menelepon karena transfernya terlambat satu hari.
“Maaf, Bu, kemarin bank error.”
Aku tertawa.
“Tenang saja. Yang penting bilang.”
Aku tidak pernah menyangka kalimat sederhana itu akan terasa begitu melegakan.
Yang penting bilang.
Mungkin itu yang seharusnya dilakukan keluarga kami sejak awal.
Hendra masih berjuang dengan usahanya.
Ia tidak lagi memakai gudang besar dan memilih mengerjakan proyek lebih kecil.
Hubunganku dengannya sopan.
Belum hangat.
Aku tidak memaksakan.
Setiap bulan, Rini mentransfer cicilan pengembalian sesuai kesepakatan.
Kadang Rp2 juta.
Pernah satu bulan hanya Rp1 juta karena anaknya sakit.
Ia menelepon lebih dulu.
“Bu, bulan ini boleh kurang?”
“Boleh.”
“Bulan depan aku tambah.”
“Kalau mampu.”
Sederhana.
Aneh sekali bagaimana uang bisa terasa jauh lebih ringan ketika tidak disembunyikan.
Dimas juga berubah.
Ia masih sering sibuk.
Tetapi sekarang kalau tidak bisa pulang, ia menelepon lebih lama.
Bukan hanya bertanya obat.
Kadang ia mengeluh tentang pegawainya.
Kadang bertanya resep sayur lodeh.
Kadang tidak ada hal penting sama sekali.
Suatu sore ia datang membawa kotak bakpia dari toko yang sama seperti hari ketika semuanya terbuka.
Ia meletakkannya di meja.
Aku langsung menatap.
“Ini ada surat rahasia lagi?”
Dimas tertawa.
“Tidak. Isinya benar-benar bakpia.”
“Yakin?”
“Buka saja.”
Aku membuka tutupnya.
Benar.
Bakpia semua.
Rini yang sedang memotong pepaya di dapur berkata, “Coba bongkar bawahnya, Bu. Siapa tahu Mas Dimas simpan sertifikat tanah.”
Dimas mendengus.
“Kamu jangan mulai.”
Aku memandang mereka.
Dulu suara saling sindir seperti itu akan membuatku panik.
Aku pasti langsung berkata:
“Sudah, jangan ribut.”
Sore itu aku tidak mengatakan apa-apa.
Aku mendengarkan.
Rini memotong pepaya.
Dimas membuka termos.
Mereka masih bisa berbeda pendapat.
Masih ada luka.
Masih ada bagian yang mungkin tidak akan kembali seperti dulu.
Tetapi aku tidak lagi merasa tugasku adalah membuat semua orang tersenyum setiap saat.
Tugasku bukan menjaga keluarga agar tidak pernah bertengkar.
Tugasku adalah memastikan aku tidak kehilangan diriku sendiri hanya supaya semua orang tampak rukun.
Aku mengambil satu bakpia.
Kotak itu mengingatkanku pada hari ketika aku pulang dari Yogyakarta sambil merasa anakku menolakku.
Ternyata yang paling berharga di dalam kotak itu bukan uang.
Bahkan bukan kertas penawaran Rp515 juta.
Yang paling berharga adalah pertanyaan yang akhirnya dipaksanya masuk ke dalam hidupku:
Ibu sebenarnya tahu tidak apa yang terjadi dengan milik Ibu sendiri?
Jawabannya saat itu adalah tidak.
Sekarang jawabannya berbeda.
Aku tahu berapa uang yang masuk.
Aku tahu kapan harus kontrol.
Aku tahu di mana sertifikatku.
Aku tahu kepada siapa aku bisa meminta bantuan.
Dan yang paling penting, aku tahu bahwa berkata “tidak” kepada anak bukan berarti berhenti menjadi ibu.
Sore semakin redup.
Aku menutup kotak bakpia setelah mengambil satu lagi.
Rini memprotes.
“Bu, nanti gula.”
Aku menatapnya.
“Punyaku.”
Ia tertawa.
“Iya, iya. Punya Ibu.”
Aku membawa piring kecil ke teras.
Ponselku berbunyi di meja.
Grup WhatsApp keluarga.
Dulu setiap kali melihat nama grup itu, aku sering merasa harus segera menjawab, segera menenangkan, segera menyetujui sesuatu supaya tidak ada yang tersinggung.
Aku membaca pesannya.
Dimas menanyakan jadwal makan bersama bulan depan.
Rini menjawab ia harus mengecek jadwal anak-anak.
Aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah.
Tidak ada yang harus diselesaikan malam itu.
Di halaman, dua kios milik Pak Joko masih berdiri.
Lampunya menyala.
Suara mesin jahit terdengar dari kios pertama.
Dari kios kedua terdengar Wahyu berbicara dengan seorang pelanggan.
Aku menggigit bakpia pelan-pelan sambil melihat kedua pintu itu.
Dulu aku mengira warisan suamiku adalah rumah dan dua kios kecil.
Sekarang aku tahu ada satu warisan lain yang baru kupahami setelah usiaku hampir delapan puluh tahun.
Sesuatu yang tidak tertulis di sertifikat.
Hak untuk tetap menyayangi keluarga tanpa menyerahkan seluruh kendali atas hidup sendiri.
Dan untuk pertama kalinya sejak Pak Joko meninggal, rumah itu tidak terasa seperti tempat yang harus kujaga untuk anak-anak.
Rumah itu kembali terasa sebagai rumahku.
Terima kasih sudah mengikuti kisah ini sampai selesai. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, rezeki yang cukup, serta keberanian untuk membicarakan hal-hal sulit sebelum diam berubah menjadi luka. Kalau kamu berada di posisiku, apakah kamu masih akan memberi Rini kesempatan memperbaiki kesalahannya, atau memilih memutus hubungan setelah mengetahui semua yang ia lakukan? Aku ingin membaca pendapatmu di kolom komentar. Jika cerita ini terasa dekat dengan kehidupan seseorang yang kamu kenal, kamu boleh membagikannya dan mengikuti halaman ini untuk kisah berikutnya.
