Aku Datang ke Rumah Pengusaha Kaya Itu Hanya untuk Memasak dan Merapikan Rumah, Tapi Empat Putrinya Terus Mengunci Satu Kamar, Sampai Aku Mengerti Mereka Bukan Sedang Nakal, Mereka Sedang Menjaga Sesuatu dari Keluarga Sendiri

Avatar penulis
Cerita 01
25 menit baca 230 tayangan
Aku Datang ke Rumah Pengusaha Kaya Itu Hanya untuk Memasak dan Merapikan Rumah, Tapi Empat Putrinya Terus Mengunci Satu Kamar, Sampai Aku Mengerti Mereka Bukan Sedang Nakal, Mereka Sedang Menjaga Sesuatu dari Keluarga Sendiri
Indeks

BAGIAN 2

Aku tidak menjawab pertanyaan Bintang.

Aku hanya mengambil segelas air dan menyuruhnya menyelesaikan PR.

Namun malam itu aku tidak bisa berhenti memikirkan dua kalimat Yuni.

Uang sewa properti Maya.

Anak-anak tidak perlu tahu.

Aku bukan keluarga mereka.

Aku juga bukan akuntan.

Tapi aku tahu bagaimana rasanya ketika seseorang berkata, “Tidak usah tahu, nanti malah bingung.”

Dulu adikku pernah menggunakan kalimat hampir sama ketika meminjam sertifikat motor almarhum suamiku untuk “sekadar syarat usaha”.

Tiga bulan kemudian aku yang harus menutup cicilannya.

Sejak itu aku belajar, ketidaktahuan jarang membuat masalah menjadi lebih kecil.

Paginya aku memberikan amplop tagihan Gresik kepada Dimas.

“Tante Yuni sudah lihat ini kemarin.”

Ia mengernyit.

“Kenapa kembali ke kamu?”

“Aku ambil dari meja dapur sebelum dibuang.”

Dimas membaca nama istrinya.

“Rumah Gresik masih ada?”

Pertanyaan itu membuatku memandangnya.

“Bapak tidak tahu?”

Ia tidak langsung menjawab.

Ternyata Maya memiliki dua rumah kecil di Gresik yang sudah disewakan sejak sebelum menikah. Ada juga sebuah ruko kecil di daerah Wonokromo yang diwarisinya dari ayahnya.

Selama Maya hidup, uang sewanya digunakan untuk kebutuhan pendidikan anak-anak.

Setelah Maya meninggal, Dimas menyerahkan hampir semua administrasi kepada Yuni.

“Aku tidak sanggup melihat dokumen waktu itu,” katanya.

“Semua?”

“Untuk beberapa bulan.”

“Sekarang sudah empat belas bulan.”

Dimas menatap amplop lagi.

Aku bisa melihat ia tidak suka kalimatku.

Tapi ia tidak membantah.

Siangnya Yuni datang dan langsung masuk ruang kerja Dimas.

Mereka berbicara hampir satu jam.

Ketika keluar, wajah Yuni tegang.

Ia menemukanku di dapur.

“Bu Ratih.”

“Iya?”

“Mulai sekarang tugas Ibu cukup urusan dapur dan rumah.”

Aku mengangguk.

“Memang itu tugas saya.”

“Jangan membuat anak-anak semakin curiga.”

Aku meletakkan sendok.

“Curiga tentang apa?”

Yuni diam sepersekian detik terlalu lama.

“Pokoknya jangan ikut urusan yang bukan urusan Ibu.”

Setelah ia pergi, Kezia berdiri di pintu dapur.

“Tante Yuni marah?”

“Sedikit.”

“Berarti Ibu benar-benar bikin dia takut.”

“Aku tidak bikin siapa-siapa takut.”

Kezia tersenyum hambar.

“Itu masalahnya. Di rumah ini semua orang biasanya takut sama dia.”

Sore itu Naya akhirnya membuka kamar kerja ibunya.

Bukan untukku.

Untuk Dimas.

Ia berdiri di lorong sambil membawa kunci kecil.

“Papa mau lihat apa yang sebenarnya kami jaga?”

Dimas memandangku, lalu anaknya.

Pintu terbuka.

Ruangan itu tidak penuh emas atau sertifikat bertumpuk seperti dalam sinetron.

Hanya meja, lemari kayu, buku resep, map sekolah, beberapa foto, dan satu rak berisi dokumen.

Naya mengambil sebuah buku agenda bersampul cokelat.

“Ini catatan Mama.”

Dimas langsung menegang.

“Aku tidak mau membaca buku pribadi Mama kalian.”

“Ini bukan diary.”

Naya membukanya.

Di beberapa halaman ada daftar sederhana.

Gresik 1.

Gresik 2.

Ruko Wonokromo.

Di sampingnya tertulis nominal sewa, tanggal masuk, biaya sekolah, uang les, tabungan kuliah.

Halaman terakhir berhenti dua minggu sebelum Maya meninggal.

Dimas membaca cukup lama.

“Aku pikir uang dari properti itu masuk rekening pendidikan.”

Naya menatap ayahnya.

“Aku juga.”

Keesokan harinya Dimas meminta Yuni membawa laporan keuangan.

Yuni tidak datang.

Katanya rapat.

Hari berikutnya, katanya menemui bank.

Hari ketiga, katanya pusing.

Dimas mulai menelepon sendiri penyewa rumah di Gresik.

Jawaban pertama membuat wajahnya pucat.

Mereka selalu membayar tepat waktu.

Ke rekening yang diberikan Yuni.

Bukan rekening pendidikan anak.

Dimas duduk di meja makan sambil menekan kedua tangannya ke wajah.

“Berapa lama?” tanyaku.

“Sebelas bulan.”

“Jumlahnya?”

“Kalau dua rumah dan ruko… sekitar Rp27 juta sebulan.”

Aku menghitung dalam kepala.

Hampir Rp300 juta.

Namun malam itu cerita berubah lagi.

Yuni akhirnya datang.

Ia tidak menyangkal.

“Aku pakai untuk perusahaan,” katanya.

Dimas berdiri.

“Kamu ambil uang anak-anak?”

“Jangan bilang seperti aku mencuri.”

“Lalu apa namanya?”

“Kamu yang bilang pakai dulu kalau perusahaan butuh.”

Dimas membisu.

Aku melihat Naya yang berdiri di tangga.

Wajahnya berubah.

Yuni melanjutkan.

“Tiga minggu setelah Maya meninggal. Kamu tanda tangan surat pengelolaan. Kamu bilang aku urus semuanya. Kamu bilang kalau kas perusahaan seret, ambil dari yang bisa dipakai sementara.”

Dimas tidak menyangkal.

Saat itulah aku mengerti masalah sebenarnya jauh lebih buruk daripada yang kami duga.

Yuni memang mengambil keputusan.

Tapi Dimas pernah membuka pintunya.

Dan mungkin selama setahun terakhir, ia memilih tidak melihat ke mana pintu itu membawa keluarganya.

Naya turun satu anak tangga.

“Jadi Papa tahu?”

Dimas menoleh.

“Naya…”

“Papa tahu?”

Tidak ada orang di ruangan itu yang berani menjawab.

Bagian 3 dimulai dari jawaban yang akhirnya diberikan Dimas, dan alasan sebenarnya rumah itu hendak dijual.

Aku Datang ke Rumah Pengusaha Kaya Itu Hanya untuk Memasak dan Merapikan Rumah, Tapi Empat Putrinya Terus Mengunci Satu Kamar, Sampai Aku Mengerti Mereka Bukan Sedang Nakal, Mereka Sedang Menjaga Sesuatu dari Keluarga Sendiri

BAGIAN 3

“Papa tahu di awal.”

Suara Dimas pelan.

Naya tidak bergerak.

Dari dapur terdengar bunyi rice cooker berpindah ke mode hangat. Suara kecil, biasa, hampir memalukan karena rumah itu sedang berada pada titik yang sama sekali tidak biasa.

“Di awal itu kapan?” tanya Naya.

“Tiga minggu setelah Mama meninggal.”

“Dan sekarang sudah empat belas bulan.”

“Iya.”

“Papa tahu uang sewa Mama dipakai?”

“Aku tahu Yuni pakai sebagian untuk menutup kebutuhan perusahaan sementara.”

“Sebagian?”

Dimas menoleh kepada kakaknya.

“Berapa sebenarnya?”

Yuni menarik kursi dan duduk.

“Aku sudah bilang. Tidak semuanya.”

“Berapa?”

“Dimas…”

“Berapa, Mbak?”

Nada suaranya berubah.

Yuni membuka tas.

Ia mengeluarkan ponsel, lalu sebuah buku kecil.

“Aku hitung dulu.”

Naya tertawa pendek.

“Lucu.”

Semua menoleh kepadanya.

“Kalau uang sekolahku telat dua hari, Tante Yuni bisa kirim pesan panjang di grup keluarga. Kalau uang Mama dipakai sebelas bulan, harus dihitung dulu?”

“Naya,” kata Dimas.

“Jangan suruh aku sopan sekarang.”

Yuni menarik napas.

“Aku tidak pernah bilang kamu harus diam.”

“Tidak perlu. Semua orang di rumah ini sudah tahu kalau Tante datang, kami harus berhenti bicara.”

Aku berdiri dekat pintu dapur.

Seharusnya aku pergi.

Itu percakapan keluarga.

Tapi Bintang sedang duduk di kursi kecil dekat tangga, memeluk lutut.

Lala berdiri di belakangnya.

Kezia baru turun dari lantai atas.

Tidak ada seorang pun yang menyuruh mereka masuk kamar.

Jadi aku tetap di sana.

Yuni membuka aplikasi perbankan.

“Total yang dipakai sekitar Rp238 juta.”

Dimas memandangnya tanpa berkedip.

“Dua ratus tiga puluh delapan?”

“Sebagian sudah kembali.”

“Berapa?”

“Rp60 juta.”

Naya menutup mata.

Berarti masih sekitar Rp178 juta.

“Kenapa?” tanya Kezia.

Itulah pertama kalinya ia bicara.

Yuni menatap keponakannya.

“Karena perusahaan sedang kesulitan.”

“Papa punya perusahaan,” kata Kezia. “Mama punya rumah kontrakan. Kenapa uang Mama harus menyelamatkan perusahaan Papa?”

“Karena kalau perusahaan itu jatuh, bukan cuma Papa kalian yang rugi. Ada delapan puluh lebih karyawan.”

“Apa mereka tahu uang gajinya dari uang pendidikan kami?”

“Jangan dipelintir.”

“Aku cuma tanya.”

Dimas memotong.

“Masalah perusahaan separah apa?”

Yuni menatapnya.

“Kamu benar-benar mau membahas ini di depan anak-anak?”

Naya menjawab lebih dulu.

“Iya.”

“Naya.”

“Katanya kami sudah cukup besar untuk tinggal terpisah. Berarti cukup besar juga untuk dengar alasan rumah Mama mau dijual.”

Wajah Dimas berubah.

Ia memandang Yuni.

“Rumah ini bukan rumah Maya.”

Kali ini Yuni yang berkata.

Dimas langsung menoleh.

“Maksudmu?”

“Rumah ini atas nama kalian berdua.”

Naya menggeleng.

“Bukan itu maksudku.”

Yuni menutup ponsel.

“Rumah ini besar. Biaya perawatannya tinggi. Kamu sendiri sudah setuju pindah.”

“Aku setuju mempertimbangkan.”

“Dimas, kita sudah bicara.”

“Bicara bukan berarti setuju.”

“Jangan sekarang pura-pura tidak tahu.”

Aku melihat rahang Dimas mengeras.

Mereka tidak lagi bicara sebagai kakak dan adik.

Mereka bicara sebagai dua orang yang sudah bertahun-tahun membagi kekuasaan tanpa pernah menentukan batasnya.

Yuni bersandar.

“Perusahaan kehilangan dua kontrak besar tahun lalu. Ada cicilan gudang. Ada kendaraan operasional. Ada kewajiban ke vendor. Kamu menghilang dari kantor hampir dua bulan setelah Maya meninggal.”

Dimas menunduk.

“Aku tahu.”

“Aku yang pegang semuanya.”

“Aku tahu.”

“Aku yang bicara dengan karyawan. Aku yang hadapi bank. Aku yang pastikan gaji tetap jalan. Sekarang kamu bicara seolah aku mengambil uang untuk beli tas?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Tapi cara kalian menatapku sama saja.”

Naya menyela.

“Karena Tante tidak pernah bilang.”

“Kamu anak-anak.”

“Aku dua puluh dua.”

“Waktu itu kamu bahkan berhenti kuliah.”

“Karena Mama meninggal!”

Suara Naya meninggi untuk pertama kalinya.

Bintang tersentak.

Aku berjalan mendekatinya dan meletakkan tangan di pundaknya.

Naya menyadari itu.

Ia menurunkan suara.

“Maaf, Bintang.”

Yuni mengusap dahinya.

“Aku juga kehilangan adik ipar.”

“Mama bukan angka di laporan keuangan.”

“Aku tidak pernah bilang begitu.”

“Tapi semua yang Mama tinggalkan langsung berubah jadi sesuatu yang bisa dipakai.”

Kalimat itu membuat ruangan kembali tenang.

Dimas duduk.

Kursinya bergeser sedikit.

“Kenapa rumah ini harus dijual?”

Yuni menatapnya.

“Karena itu jalan paling sederhana.”

“Untuk apa?”

“Menutup kewajiban jangka pendek. Sisanya bisa kamu pakai beli rumah lebih kecil.”

“Berapa yang kamu rencanakan masuk ke perusahaan?”

Yuni tidak menjawab.

“Mbak.”

“Sekitar Rp1,1 miliar.”

Lala yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata, “Jadi benar.”

Semua melihatnya.

Ia turun dua anak tangga.

“Benar apa?”

“Tante pernah bilang ke orang telepon kalau rumah ini harus kosong dulu. Kalau sudah kosong Papa lebih gampang setuju.”

Yuni berdiri.

“Kamu menguping?”

“Aku lewat.”

“Kamu selalu begitu. Dengarkan percakapan orang, lalu salah paham.”

“Aku nggak salah dengar.”

“Lala.”

“Terus kenapa kardus kami sudah ada nama kota?”

Yuni membuka mulut.

Tidak ada jawaban langsung.

Aku melihat Dimas.

Ia baru sekarang tampak benar-benar memahami gambar besar yang selama ini tersebar dalam potongan kecil di rumahnya.

Anak-anaknya bukan sedang menolak pindah.

Mereka mengira akan dibagi.

Rumah akan dijual.

Uang ibunya sudah dipakai.

Kamar ibunya terus dicari.

Dan semua itu dilakukan oleh orang dewasa yang mengatakan kepada mereka, “Tidak usah ikut pusing.”

Dimas bangkit.

“Kardus itu siapa yang buat?”

“Aku.”

“Kenapa?”

“Karena kita harus realistis.”

“Mereka anakku.”

“Aku tahu.”

“Kenapa ada empat kota?”

“Karena kamu bilang kamu tidak sanggup mengurus semuanya sambil mengembalikan perusahaan.”

“Aku bilang aku capek.”

“Dan aku memberi solusi.”

“Dengan memisahkan mereka?”

“Untuk sementara.”

Bintang mengangkat kepala.

“Berapa lama sementara?”

Yuni menoleh kepadanya.

Anak delapan tahun itu bertanya lagi.

“Kalau aku di rumah Tante Mira di Sidoarjo, Lala sama Tante Yuni, Kak Naya di Bandung, Kak Kezia di Malang… kapan kami tinggal bareng lagi?”

Tidak ada yang menjawab.

Bintang turun dari kursi.

Ia memegang ujung bajuku.

“Papa ikut siapa?”

Pertanyaan itu kecil.

Tidak keras.

Tapi Dimas langsung memalingkan wajah.

Ia berjalan ke jendela.

Tangannya bertumpu di kusen.

Beberapa detik kemudian bahunya turun.

“Aku tidak tahu kalian pikir begitu.”

Lala menyilangkan tangan.

“Karena Papa nggak pernah tanya.”

Dimas menoleh.

“Aku pikir kalian marah karena Mama meninggal.”

“Kami memang marah,” katanya.

“Pada siapa?”

“Kadang Mama.”

Wajah Lala berubah.

“Karena Mama pergi.”

Ia menggosok hidung.

“Kadang sama Papa karena setelah Mama pergi Papa juga kayak ikut pergi.”

Dimas memejamkan mata.

Lala melanjutkan.

“Kalau Tante Yuni datang, Papa selalu bilang, ‘Ikuti Tante dulu.’ Kalau guru datang, Papa bilang, ‘Ikuti dulu.’ Kalau kami protes, Papa bilang kami masih sedih.”

“Aku memang pikir kalian masih sedih.”

“Kami sedih. Bukan bodoh.”

Aku melihat Dimas seperti menerima pukulan yang sebenarnya sudah datang berkali-kali, hanya baru sekarang ia berhenti menghindar.

Yuni mengambil tasnya.

“Percakapan ini tidak produktif.”

Naya berdiri menghalangi.

“Belum selesai.”

“Jangan kurang ajar.”

“Aku tidak kurang ajar. Aku mau tahu kenapa Tante tiga kali masuk kamar Mama.”

Yuni menatap Dimas.

Lalu aku.

Seolah-olah keberadaanku adalah penghinaan tambahan.

“Karena aku mencari surat pengelolaan properti.”

“Yang mana?”

“Dokumen lama Maya.”

“Untuk apa?”

“Supaya semuanya jelas.”

“Jelas untuk siapa?”

“Naya, cukup.”

“Belum.”

Yuni menaikkan suara.

“Kamu pikir gampang mengurus keluarga ini? Ayahmu hampir tidak bisa bekerja. Adik-adikmu berantakan. Kamu berhenti kuliah. Kezia menolak ikut bimbingan masuk universitas. Lala bikin masalah di sekolah. Bintang tidur hanya kalau lampu kamar dinyalakan semua.”

Bintang menunduk.

Aku merasakan tangannya mencengkeram bajuku.

Yuni terus bicara.

“Aku yang datang setiap hari. Aku yang urus tagihan. Aku yang bicara dengan guru. Aku yang pegang perusahaan. Aku yang telepon bank. Aku yang urus penyewa. Aku yang membereskan semuanya.”

“Kami tidak minta dibereskan,” kata Naya.

Yuni terdiam.

“Kami minta diberi tahu.”

Kalimat itu mengubah sesuatu.

Bukan pada Yuni.

Pada Dimas.

Ia kembali ke meja.

“Mulai malam ini, tidak ada keputusan lagi tentang rumah tanpa anak-anak tahu.”

Yuni menatapnya.

“Jangan emosional.”

“Aku justru baru berhenti lari dari emosi.”

“Kamu mau perusahaan hancur?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Aku akan cari cara lain.”

“Cara lain tidak muncul hanya karena kamu bilang begitu.”

“Benar.”

Dimas mengambil ponselnya.

“Aku akan mulai dari laporan lengkap.”

“Untuk apa?”

“Besok pagi aku mau semua transaksi dua belas bulan terakhir. Perusahaan, rekening pengelolaan properti Maya, pembayaran sekolah, semuanya.”

Yuni tersenyum kaku.

“Kamu tidak percaya padaku?”

“Aku percaya terlalu banyak tanpa melihat.”

“Jadi sekarang salahku?”

Dimas menatap kakaknya cukup lama.

“Tidak semuanya.”

Yuni tidak menyangka jawaban itu.

Begitu pula anak-anaknya.

“Aku yang kasih kamu wewenang,” lanjut Dimas. “Aku juga yang sengaja tidak bertanya karena setiap kali kamu bilang ada masalah, aku cuma mau masalah itu hilang.”

Ia menarik napas.

“Aku menjadikan kamu tempat untuk meletakkan semua yang tidak sanggup kuhadapi.”

Yuni mengangkat dagu.

“Setidaknya aku menghadapinya.”

“Iya.”

Dimas mengangguk.

“Dan aku berterima kasih untuk itu.”

Naya tampak hendak protes, tapi Dimas mengangkat tangan.

“Tapi membantu tidak berarti kamu boleh memutuskan hidup anak-anakku.”

“Aku melakukan yang menurutku perlu.”

“Tanpa bertanya.”

“Kalau aku bertanya setiap saat, tidak ada satu pun keputusan selesai.”

“Mungkin memang seharusnya tidak semua keputusan cepat selesai.”

Yuni diam.

Aku tahu dari wajahnya bahwa kalimat terakhir itu menyakitkan.

Orang seperti Yuni hidup dengan keyakinan bahwa cepat berarti kuat.

Rapi berarti benar.

Masalah yang selesai berarti masalah yang baik.

Ia tidak terbiasa mendengar bahwa beberapa hal perlu diperlambat karena di dalamnya ada manusia.

Malam itu Yuni pergi tanpa makan.

Tidak ada pintu dibanting.

Tidak ada teriakan.

Hanya suara pagar besi terbuka, lalu mobilnya keluar.

Justru karena tenang, kepergiannya terasa berat.

Setelah itu, tidak seorang pun bergerak selama hampir satu menit.

Aku akhirnya berkata, “Supnya dingin.”

Kezia menatapku.

Lalu tertawa kecil.

Lala ikut tertawa.

Bahkan Naya menutup wajah sambil menggeleng.

Dimas memandang kami.

“Kenapa?”

“Karena Bu Ratih,” kata Kezia, “selalu tahu kapan orang sudah terlalu banyak ngomong.”

Aku memanaskan sup.

Malam itu untuk pertama kalinya sejak aku bekerja di sana, lima orang duduk di meja makan yang sama.

Kursi keenam, kursi yang dulu milik Maya, tetap kosong.

Tapi kali ini mereka tidak pura-pura tidak melihatnya.


Keesokan paginya Dimas tidak pergi ke kantor.

Pukul delapan, meja makan berubah menjadi meja pemeriksaan dokumen.

Aku sempat mengatakan bahwa aku bisa pergi ke dapur.

Naya menahanku.

“Bu Ratih sudah dengar terlalu banyak. Duduk saja.”

“Aku ini orang luar.”

Dimas menatapku.

“Kadang orang luar justru satu-satunya yang bertanya hal yang kami hindari.”

Aku tidak yakin itu pujian.

Tapi aku duduk.

Yuni datang pukul sembilan lewat dua puluh.

Ia membawa dua map tebal.

Wajahnya tidak lagi marah.

Lebih lelah.

“Aku tidak bisa lama,” katanya.

Dimas membuka map pertama.

Selama dua jam mereka memeriksa catatan.

Kali ini tidak ada tuduhan liar.

Angka-angka bicara cukup jelas.

Uang sewa tiga properti Maya memang masuk ke rekening pengelolaan yang dipegang Yuni.

Sebagian dipakai untuk biaya sekolah dan pajak properti.

Sebagian masuk perusahaan sebagai dana sementara.

Jumlah yang belum kembali Rp178 juta.

Lebih besar dari yang awalnya dibayangkan anak-anak, tapi lebih kecil dari yang dikhawatirkan Dimas.

Masalah terbesar justru bukan nominal itu.

Masalahnya adalah kebiasaan.

Ketika perusahaan kekurangan kas, Yuni mengambil dari rekening tersebut.

Ketika bulan berikutnya ada pemasukan, sebagian dikembalikan.

Ketika ada masalah lagi, diambil lagi.

Tidak pernah ada batas.

Tidak pernah ada tanggal penyelesaian.

Dan setelah beberapa bulan, semua orang yang terlibat mulai menganggapnya normal.

Naya menunjuk satu transaksi.

“Ini Rp45 juta ke perusahaan bulan Februari.”

“Iya,” kata Yuni.

“Maret ada Rp30 juta.”

“Iya.”

“April Rp22 juta.”

“Iya.”

“Kenapa makin sering?”

“Karena keadaan perusahaan memburuk.”

Dimas membolak-balik laporan.

“Aku tidak pernah menerima laporan ini.”

“Aku kirim ke email.”

“Email kantor?”

“Iya.”

“Aku punya ratusan email per hari.”

“Aku tidak bisa membaca untukmu.”

Dimas mengangguk.

“Benar.”

Ia tidak membela diri.

Itu mungkin satu-satunya hal yang membuat percakapan tetap bisa berjalan.

“Kesalahanku bukan karena tidak tahu,” katanya. “Kesalahanku karena aku memilih tidak mau tahu.”

Naya menatap ayahnya.

Ada sesuatu di wajahnya yang sedikit melunak.

Sedikit saja.

Lalu mereka membahas rumah.

Ternyata Yuni memang sudah meminta seorang agen properti melakukan penilaian awal.

Belum ada perjanjian penjualan.

Belum ada pembeli.

Belum ada tanda tangan Dimas.

Tidak ada kejahatan rahasia besar.

Hanya serangkaian langkah kecil yang sengaja dibuat supaya satu keputusan besar terasa seperti tahap berikutnya yang tidak bisa dihindari.

Itu justru membuatku lebih tidak nyaman.

Banyak batas dilanggar bukan dengan satu tendangan.

Melainkan dengan orang yang terus maju setengah langkah sambil berkata, “Kan belum apa-apa.”

“Kenapa Rp1,1 miliar?” tanya Dimas.

Yuni menunjukkan proyeksi kas.

“Kalau kita tutup kewajiban vendor utama dan kurangi cicilan jangka pendek, perusahaan dapat enam sampai delapan bulan untuk bernapas.”

“Kemudian?”

“Cari investor atau lepaskan satu jalur usaha.”

“Kenapa bukan itu yang kita lakukan dari awal?”

“Karena investor akan minta kendali.”

“Jadi kamu lebih memilih mengambil uang keluarga.”

“Aku memilih mempertahankan usaha Ayah.”

Itu pertama kali Yuni menyebut ayah mereka.

Dimas menutup map.

Perusahaan itu ternyata bukan hanya perusahaan bagi Yuni.

Ayah mereka merintisnya dengan dua truk bekas.

Yuni bekerja di sana sejak usia dua puluh satu.

Dimas masuk kemudian dan menjadi wajah perusahaan saat bisnis berkembang.

Nama Dimas lebih sering muncul di koran.

Foto Dimas ada di acara perusahaan.

Tapi Yuni yang mengingat nama sopir lama, tanggal kredit kendaraan pertama, bahkan kebiasaan ayahnya mencatat bensin dengan pulpen merah.

“Aku sudah tiga puluh tahun di sana,” katanya.

Suaranya lebih rendah.

“Kalau perusahaan itu jatuh setahun setelah Ayah meninggal dan beberapa bulan setelah Maya meninggal, aku mau bilang apa? Bahwa aku gagal menjaga satu-satunya hal yang keluarga kita bangun bersama?”

Dimas menatap kakaknya.

“Mbak.”

“Jangan.”

Yuni menahan napas.

“Aku tahu aku salah menggunakan uang itu tanpa menjelaskan. Tapi jangan duduk di sini dan perlakukan aku seperti aku menikmati semua ini.”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Kemarahan yang sederhana memang lebih nyaman.

Yuni serakah.

Dimas lemah.

Anak-anak nakal.

Kalau semua orang bisa diberi satu label, hidup mudah.

Masalahnya, manusia jarang sesederhana itu.

Dimas berkata, “Aku tidak menganggap Mbak jahat.”

“Anak-anakmu menganggap begitu.”

Naya menarik napas.

“Aku marah.”

Yuni memandangnya.

“Tapi aku nggak pikir Tante jahat.”

Yuni tampak terkejut.

Naya melanjutkan.

“Aku pikir Tante terlalu yakin kalau hanya Tante yang tahu cara menyelamatkan semua orang.”

Kali ini Yuni tidak membantah.

Kezia berkata dari ujung meja, “Kadang yang diselamatkan juga pengin ditanya.”

Aku menatap gadis itu.

Ia hampir tidak pernah bicara panjang.

Namun pagi itu setiap kalimatnya tepat mengenai tempat yang sakit.


Keputusan pertama dibuat sebelum makan siang.

Rekening hasil sewa properti Maya tidak lagi dikelola Yuni sendiri.

Dimas mengambil kembali akses administrasinya dan meminta setiap pemasukan serta pengeluaran dicatat terpisah.

Naya boleh melihat laporan bulanannya.

Bukan karena ia mengambil alih peran orang tua, tapi karena ia sudah dewasa dan aset tersebut memang berkaitan dengan peninggalan ibunya serta kebutuhan empat bersaudara.

Keputusan kedua lebih sulit.

Rp178 juta harus dikembalikan.

Yuni berkata perusahaan tidak bisa mengembalikannya sekaligus.

Dimas tidak memaksa.

Mereka membuat jadwal pembayaran.

Sebagian dari gaji dan pembagian keuntungan Dimas akan langsung masuk ke rekening tersebut setiap bulan.

Selain itu, Dimas memutuskan menjual mobil keduanya.

Mobil hitam yang hampir tidak pernah dipakai tetapi selalu mengilap di carport.

Ketika mendengar itu, Lala bertanya, “Papa sedih?”

Dimas melihat mobil dari jendela.

“Sedikit.”

“Bagus.”

“Kenapa bagus?”

“Berarti cuma kami yang nggak harus kehilangan sesuatu.”

Dimas tertawa untuk pertama kalinya.

“Mulutmu memang dari dulu begitu?”

Lala mengangkat bahu.

“Papa baru sering di rumah sekarang.”

Keputusan ketiga membuat Yuni paling marah.

Rumah tidak dijual.

Setidaknya selama satu tahun.

“Tidak masuk akal,” katanya.

“Mungkin,” jawab Dimas.

“Kamu tetap punya biaya besar.”

“Aku tahu.”

“Perusahaan juga belum aman.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa?”

Dimas melihat keempat anaknya.

“Karena aku hampir menjual rumah bukan karena itu keputusan terbaik. Aku hampir menjualnya karena aku ingin semua hal yang mengingatkanku pada Maya hilang dari depan mata.”

Tidak ada yang bicara.

Ia menatap kursi kosong.

“Aku pikir kalau rumah lebih kecil, barang lebih sedikit, anak-anak punya kesibukan masing-masing, aku bisa bernapas lagi.”

Naya menggigit bibir.

“Aku bahkan meyakinkan diri bahwa memisahkan kalian sementara itu praktis.”

Bintang bertanya, “Papa mau kami pergi karena sedih lihat kami?”

Dimas langsung memandang anak bungsunya.

“Bukan karena kalian.”

“Tapi kami mirip Mama.”

Pertanyaan itu membuat Dimas berhenti.

Bintang memiliki mata ibunya.

Aku pernah melihat foto Maya di ruang keluarga.

Bahkan orang luar bisa melihat kemiripannya.

Dimas berjalan ke anaknya dan berlutut.

“Iya. Kadang Papa lihat kalian dan ingat Mama.”

“Terus sakit?”

“Iya.”

“Kalau aku pergi, nggak sakit?”

Dimas menggeleng.

“Mungkin lebih sakit.”

Bintang mengangguk seolah baru menerima informasi tentang matematika.

“Ya sudah. Aku di sini.”

Lalu ia kembali menggambar.

Kadang orang dewasa memerlukan rapat empat jam untuk sampai ke tempat yang dicapai anak delapan tahun dalam enam kata.


Aku mengira setelah pertemuan itu masalah selesai.

Ternyata tidak.

Masalah keluarga tidak bekerja seperti noda di meja yang bisa hilang sekali lap.

Hari-hari berikutnya justru sulit.

Yuni berhenti datang setiap pagi.

Namun ketika tidak datang, semua orang sadar berapa banyak hal yang selama ini ia kerjakan.

Tagihan internet hampir terlambat.

Salah satu penyewa menelepon soal talang bocor.

Sekolah Bintang meminta tanda tangan kegiatan.

Obat alergi Lala habis.

Dimas lupa jadwal kontrol gigi Kezia.

Pada hari keempat, ia berdiri di dapur dengan tiga amplop dan berkata, “Aku tidak tahu rumah ini punya sebanyak ini tanggal jatuh tempo.”

Aku menyerahkan kalender meja.

“Makanya rumah tangga juga pekerjaan.”

Ia mengangguk.

“Aku dulu pikir Maya terlalu banyak membuat daftar.”

“Mungkin karena kalau tidak dibuat daftar, semua orang lain lupa.”

Ia tersenyum malu.

Aku tidak menggantikan Maya.

Aku juga tidak mencoba.

Aku mulai mengajari mereka membagi tugas.

Naya mengurus jadwal penyewa bersama ayahnya.

Kezia mencatat pembayaran rutin rumah.

Lala bertanggung jawab pada kebutuhan sekolahnya sendiri dan mengingatkan ayahnya, bukan menunggu Yuni.

Bintang bertugas sangat penting menurut versinya: memastikan galon air tidak habis.

Dimas memasang papan putih di dapur.

Minggu pertama isinya kacau.

Tiga orang menulis dengan warna berbeda.

Lala menggambar kumis pada foto ayahnya.

Bintang mencatat:

BELI SUSU.

BAYAR LISTRIK.

JANGAN JUAL RUMAH.

Dimas tidak menghapus baris terakhir.


Masalah perusahaan juga tidak sembuh dalam semalam.

Dimas mulai kembali ke kantor penuh waktu, tapi dengan cara berbeda.

Ia meminta laporan kas langsung.

Ia bertemu bank.

Ia meninjau kontrak yang selama ini hanya diserahkan kepada Yuni.

Mereka akhirnya memutuskan menutup satu layanan distribusi yang selama dua tahun terus rugi.

Keputusan itu menyakitkan.

Beberapa kendaraan dijual.

Beberapa karyawan dipindahkan.

Ada pengurangan bonus manajemen.

Namun tidak ada lagi uang properti Maya yang digunakan.

Suatu sore, hampir satu bulan setelah pertengkaran besar, Yuni datang ke rumah.

Aku sedang membuat perkedel.

Ia berdiri di pintu dapur.

“Bu Ratih.”

Aku menoleh.

“Iya?”

“Dimas ada?”

“Belum pulang.”

Ia mengangguk.

Lalu melihat papan putih.

Tulisan Bintang masih ada meski sudah ditimpa banyak catatan lain.

JANGAN JUAL RUMAH.

Yuni tersenyum tipis.

“Anak itu keras kepala.”

“Mirip keluarga Wicaksono mungkin.”

Ia menatapku.

Untuk sesaat aku takut sudah bicara terlalu jauh.

Tapi ia justru menarik kursi.

“Aku marah sama Ibu waktu itu.”

“Aku tahu.”

“Ibu ikut campur.”

“Sedikit.”

“Banyak.”

Aku tertawa.

“Baik. Banyak.”

Ia melihat tangannya.

“Aku pikir kalau aku berhenti pegang semuanya, semuanya akan jatuh.”

Aku tidak menjawab.

Yuni melanjutkan sendiri.

“Sekarang ternyata tidak.”

“Tidak langsung.”

“Perusahaan masih pusing.”

“Rumah ini juga masih berantakan.”

Ia menoleh ke ruang keluarga.

Ada buku Lala di sofa.

Sepatu Bintang terbalik dekat tangga.

Tas kuliah Naya di lantai.

Rumah itu memang jauh dari rapi.

Tapi tidak lagi terasa seperti tempat orang menunggu sesuatu pecah.

“Aku mungkin terlalu lama menjadi orang yang paling bisa diandalkan,” kata Yuni.

“Bisa diandalkan itu enak.”

“Capek.”

“Juga bikin orang lupa kapan harus minta izin.”

Ia menatapku.

Aku melanjutkan menggoreng perkedel.

Beberapa menit kemudian Yuni berkata, “Ibu selalu bicara begini ke majikan?”

“Tidak.”

“Syukurlah.”

Kami sama-sama tertawa.

Hubungan tidak langsung pulih.

Naya masih menjaga jarak dengan tantenya.

Lala bahkan beberapa kali tidak mau menjawab ketika Yuni menyapa.

Tapi Bintang tetap memeluknya saat ia datang.

Anak kecil kadang punya kemampuan menyimpan dua kebenaran sekaligus.

Aku sayang Tante.

Aku marah pada Tante.

Orang dewasa sering merasa harus memilih salah satunya.


Dua bulan kemudian, Naya kembali ke Bandung.

Kali ini ia pergi bukan karena dipisahkan.

Ia sendiri yang memutuskan melanjutkan kuliah.

Malam sebelum keberangkatan, ia duduk di dapur bersamaku.

“Bu Ratih.”

“Hm?”

“Dulu aku pikir kalau aku pergi, rumah ini bakal dijual.”

“Sekarang?”

“Sekarang kalau Papa jual tanpa bilang, aku pulang bawa palu.”

Aku tertawa.

“Jangan begitu. Bicara dulu.”

“Bu Ratih selalu menyuruh orang bicara.”

“Karena kalau orang tidak bicara, biasanya dokumen yang bicara.”

Ia tersenyum.

Kemudian wajahnya serius.

“Aku benci Papa cukup lama.”

“Masih?”

“Aku nggak tahu.”

“Itu jawaban yang boleh.”

Ia menatap meja.

“Aku kira dia pilih perusahaan daripada kami.”

“Kadang orang tidak sedang memilih siapa yang paling penting.”

“Terus?”

“Kadang mereka cuma lari ke tempat yang paling mereka mengerti.”

Naya mengangguk.

“Papa ngerti perusahaan.”

“Dan tidak ngerti empat anak perempuan.”

“Itu jelas.”

Kami tertawa.

Sebelum tidur, Naya meninggalkan kunci kamar kerja Maya di atas meja ayahnya.

Paginya Dimas memanggilnya.

“Kamu tidak mau pegang?”

Naya menggeleng.

“Kamar Mama nggak perlu dijaga lagi kalau semua orang berhenti nyari sesuatu diam-diam.”

Dimas menggenggam kunci itu.

“Aku boleh masuk?”

“Boleh.”

“Sendiri?”

“Jangan mulai sok sedih.”

Mata Dimas memerah.

Naya memeluknya duluan.

Tidak lama.

Tapi cukup.


Tiga minggu setelah Naya kembali kuliah, kamar kerja Maya dibuka.

Bukan dibongkar.

Bukan dikosongkan.

Mereka membersihkannya bersama.

Beberapa pakaian disumbangkan.

Dokumen disortir.

Buku resep tetap disimpan.

Meja Maya dipindahkan dekat jendela dan dipakai Lala belajar.

Bintang mengambil satu laci untuk kertas gambarnya.

Satu rak dibiarkan berisi barang-barang lama.

“Apa nggak sedih?” tanyaku kepada Dimas.

Ia berdiri di pintu.

“Sedih.”

“Terus?”

“Sekarang aku tahu sedih bukan berarti harus menutup pintu.”

Aku tidak menjawab.

Kadang majikan juga bisa mengatakan sesuatu yang tidak bodoh.


Enam bulan setelah aku pertama datang, pekerjaanku di rumah itu masih ada.

Bukan tiga minggu.

Tapi juga bukan sebagai pengasuh empat anak.

Aku datang empat hari dalam seminggu untuk memasak dan membantu mengatur rumah.

Gajiku jelas.

Jam kerjaku jelas.

Tugas juga jelas.

Aku sengaja meminta begitu.

Aku pernah terlalu banyak membantu keluarga sendiri sampai orang lupa bantuan juga punya batas.

Aku tidak mau mengulangi kebiasaan itu di rumah orang lain.

Dimas menerima.

“Kalau aku mulai kasih tugas aneh, bilang.”

“Aku pasti bilang.”

“Sepertinya memang begitu.”

Perusahaan mereka perlahan stabil.

Belum kembali seperti dulu.

Yuni tetap bekerja di sana, tapi tidak lagi memegang semua keputusan sendiri.

Mereka merekrut kepala keuangan profesional.

Awalnya Yuni paling menentang.

Dua bulan kemudian justru dia yang berkata, “Ternyata enak juga ada orang lain yang pusing soal angka.”

Rp178 juta belum sepenuhnya kembali, tapi jadwal pembayaran berjalan.

Setiap bulan Naya menerima laporan.

Kadang ia bahkan tidak membukanya.

“Itu bukan berarti aku nggak peduli,” katanya sekali.

“Aku cuma sekarang tahu kalau aku mau lihat, datanya ada.”

Dan ternyata itu yang selama ini ia cari.

Bukan kendali.

Kepastian bahwa tidak ada lagi orang yang akan berkata, “Kamu tidak perlu tahu.”

Hubungan Dimas dan Yuni berubah.

Tidak sedekat dulu.

Mungkin tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya.

Namun menurutku, kedekatan lama mereka memang terlalu banyak dibangun dari ketergantungan.

Sekarang ketika Yuni datang, ia mengetuk pintu kamar kerja.

Ia tidak mengambil amplop di meja tanpa bertanya.

Dan ketika memberikan saran, ia mulai memakai kalimat baru.

“Menurutmu bagaimana?”

Bagi orang lain, itu kalimat biasa.

Di keluarga mereka, itu hampir seperti renovasi besar.


Pada suatu Sabtu pagi, aku tiba pukul tujuh.

Pagar besi terbuka.

Motor Kezia ada di carport.

Dari dalam terdengar suara Bintang berteriak bahwa susunya habis.

Lala menjawab dari lantai atas bahwa itu bukan urusannya.

Dimas menyuruh keduanya berhenti berteriak.

Rumah itu ribut.

Sangat ribut.

Aku masuk ke dapur dan melihat papan putih.

Jadwal baru sudah penuh.

Kezia diterima kuliah di Surabaya dan memilih tetap tinggal di rumah.

Naya akan pulang bulan depan.

Lala punya ujian.

Bintang punya lomba menggambar.

Di bagian bawah papan ada tulisan kecil dengan spidol ungu.

BELI SUSU.

Dan di bawahnya:

SEMUA PULANG SAAT ULANG TAHUN PAPA.

Aku membuka lemari, mengambil wajan, lalu mendengar langkah kaki kecil.

Bintang muncul.

Ia sekarang lebih tinggi sedikit.

“Bu Ratih.”

“Iya?”

Ia menyerahkan kertas gambar.

Rumah yang sama.

Empat jendela.

Empat anak perempuan.

Tapi kali ini ada pintu.

Di depannya berdiri seorang laki-laki.

Di samping rumah ada satu perempuan dengan celemek.

Aku menunjuk gambar perempuan itu.

“Ini siapa?”

“Bu Ratih.”

“Kenapa aku di luar rumah?”

“Karena kata Bu Ratih sendiri, ini bukan rumah Bu Ratih.”

Aku tertawa.

Anak itu memang pendengar yang terlalu baik.

“Bagus.”

Aku menunjuk pintu.

“Sekarang ada pintunya.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Bintang mengangkat bahu.

“Biar orang bisa pergi.”

Lalu ia menunjuk gambar lagi.

“Bisa pulang juga.”

Aku memandang kertas itu cukup lama.

Dulu aku datang ke rumah tersebut karena mengira keluarga kaya hanya membutuhkan seseorang untuk membersihkan kekacauan.

Ternyata rumah tidak pernah benar-benar kacau karena mainan, piring kotor, atau kamar yang dikunci.

Rumah menjadi kacau ketika orang-orang di dalamnya berhenti saling memberi tahu apa yang mereka takutkan.

Dimas takut kehilangan perusahaan ayahnya sekaligus menghadapi kehilangan istrinya.

Yuni takut semua yang ia jaga selama tiga puluh tahun runtuh kalau ia berhenti memegang kendali.

Naya takut keluarganya akan dibongkar menjadi beberapa kota.

Lala takut tidak ada orang dewasa yang akan mendengarnya.

Kezia takut bicara hanya akan menambah masalah.

Bintang cuma takut suatu pagi semua orang pergi ke rumah yang berbeda.

Tidak ada satu pun dari mereka yang sembuh hanya karena aku datang.

Aku bukan penyelamat.

Aku hanya orang yang kebetulan berada di dapur ketika mereka mulai berhenti berpura-pura.

Sisanya mereka lakukan sendiri.

Dimas mulai bertanya.

Anak-anak mulai menjawab.

Yuni mulai melepaskan.

Dan rumah itu akhirnya kembali menjadi rumah, bukan gudang untuk menyimpan ketakutan yang tidak pernah dibicarakan.

Aku menempelkan gambar Bintang di kulkas.

Lalu aku menyalakan kompor.

Di luar, pagar besi kembali berbunyi.

Kezia baru pulang membawa roti.

Lala berteriak dari lantai atas.

Dimas mencari kunci mobil.

Bintang membuka kulkas dan langsung protes karena susunya benar-benar habis.

Aku berdiri di tengah semua suara itu sambil memecahkan telur ke dalam mangkuk.

Enam bulan lalu, rumah ini begitu sunyi sampai orang-orang takut membuka satu pintu.

Pagi itu tidak ada satu pun pintu yang dikunci.

Dan menurutku, itu sudah cukup.

Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, dan keberanian untuk membicarakan hal-hal penting sebelum diam berubah menjadi luka. Kalau kamu berada di posisi Dimas, apakah kamu akan mengambil keputusan yang sama untuk mempertahankan rumah dan memperbaiki semuanya perlahan? Atau kalau kamu menjadi Naya, apakah kamu masih bisa mempercayai keluarga setelah mengetahui apa yang terjadi? Aku ingin membaca pendapatmu. Jika cerita ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, kamu juga boleh membagikannya kepada orang lain yang mungkin membutuhkan pengingat bahwa membantu keluarga tetap membutuhkan batas.