BAGIAN 2 — Foto dari Bandara Membuka Jejak Pengkhianatan Delapan Tahun, Tetapi Satu Nama dalam Dokumen Membuat Ibu Akhirnya Mengakui Semuanya
Aku menatap foto diriku di layar ponsel sampai jemariku terasa dingin. Foto itu jelas diambil dari jarak tidak terlalu jauh. Aku mengenakan pakaian yang sama seperti saat turun dari pesawat kemarin, bahkan koper biru yang kutarik masih terlihat di sudut gambar. Artinya, seseorang telah mengetahui kepulanganku sejak aku menginjakkan kaki di bandara. Lebih buruk lagi, orang itu mengikuti pergerakanku.
Aku mengangkat ponsel dan menatap Ibu.
—Siapa orang ini?
Ibu menangis semakin keras.
Adikku justru maju selangkah.
—Berikan ponselnya kepadaku, Kak.
Aku mundur.
—Jangan mendekat.
—Kakak tidak mengerti masalahnya.
—Kalau begitu jelaskan!
Suara itu keluar lebih keras daripada yang kuinginkan. Keponakanku yang masih berdiri di lorong langsung terkejut. Aku segera menoleh kepadanya.
—Sayang, turunlah. Tunggu Bibi di ruang tamu.
Anak itu mengangguk lalu berlari turun.
Setelah dia pergi, aku menutup pintu kamar dan kembali membuka percakapan di ponsel.
Ada ratusan pesan.
Sebagian telah dihapus, tetapi cukup banyak yang masih tersimpan.
Aku menggulir ke atas.
Semakin kubaca, semakin sulit bernapas.
Mereka membicarakan pengiriman uangku.
Tanggal transfer.
Jumlahnya.
Bahkan kapan biasanya aku menerima gaji.
Ada kalimat seperti, “Dia pasti mengirim kalau ibunya yang meminta,” dan, “Jangan minta terlalu besar sekaligus, nanti dia curiga.”
Aku menatap Ibu.
—Jadi setiap kali Ibu menelepon mengatakan rumah rusak…
Ibu menutup wajah.
—Tidak semuanya bohong.
—Tidak semuanya?
Aku tertawa getir.
—Itu pembelaan Ibu?
Adikku menghantam telapak tangannya ke meja.
—Aku yang melakukannya! Jangan salahkan Ibu!
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya, dia akhirnya mengaku.
Delapan tahun lalu, tak lama setelah aku mulai bekerja jauh dari rumah, dia membuka usaha bersama seorang kenalan. Usaha itu gagal. Bukannya berhenti, dia meminjam uang untuk menutup kerugian. Ketika utang bertambah, kenalannya menawarkan cara mendapatkan modal dengan menggunakan dokumen keluarga.
Awalnya hanya salinan identitasku yang tersimpan di rumah.
Kemudian mereka membutuhkan tanda tangan.
Adikku mengambil tanda tanganku dari dokumen lama dan menirunya.
—Lalu rumah ini? —tanyaku.
Dia menunduk.
—Sebagian uang dari Kakak memang dipakai membangunnya.
—Sebagian?
Dia tidak menjawab.
Aku membuka salah satu map di meja.
Di dalamnya terdapat daftar transfer.
Aku mengenali semua angka itu.
Uang yang kukirim untuk operasi Ibu.
Uang untuk memperbaiki atap.
Uang untuk modal usaha.
Uang sekolah keponakanku.
Beberapa kebutuhan memang nyata.
Namun banyak yang ternyata tidak pernah ada.
Aku menemukan satu transfer besar yang kukirim tiga tahun lalu karena Ibu mengatakan dirinya harus menjalani tindakan medis.
Aku menatap Ibu.
—Waktu itu Ibu sakit?
Air matanya jatuh.
—Tidak separah yang Ibu katakan.
Aku merasa seperti ditampar.
—Aku mengambil pekerjaan tambahan selama enam bulan untuk membayar itu.
—Maafkan Ibu.
Aku tidak menjawab.
Maaf terasa terlalu kecil untuk delapan tahun hidup yang kubangun di atas kebohongan.
Namun masih ada satu pertanyaan.
—Apa maksud “pengalihan hak setelah aku kembali ke luar negeri”?
Adikku semakin pucat.
Aku membuka map berikutnya.
Di dalamnya ada rancangan surat kuasa.
Namaku tercetak sebagai pemberi kuasa.
Jika dokumen itu berhasil disahkan, seseorang dapat mengurus beberapa aset dan rekening atas namaku.
Aku membaca nama penerima kuasa.
Bukan adikku.
Nama itu sama dengan nama yang muncul berulang kali dalam percakapan ponsel.
Aku menunjukkannya.
—Siapa dia?
Ibu tiba-tiba memegang lenganku.
—Jangan temui orang itu sendirian.
Nada suaranya membuatku terdiam.
Adikku akhirnya mengaku bahwa orang tersebut adalah mantan rekan bisnisnya. Selama bertahun-tahun, dialah yang membantu membuat dokumen, mengatur pinjaman, dan memanfaatkan identitasku.
Namun enam bulan terakhir, semuanya berubah.
Pria itu tidak lagi hanya meminta utangnya dikembalikan.
Dia menginginkan rumah.
Dan lebih dari itu, dia mengetahui bahwa aku memiliki tabungan serta investasi dari hasil bekerja bertahun-tahun.
Rencana terakhir mereka adalah membuatku menandatangani beberapa dokumen dengan alasan pengurusan kepemilikan rumah. Setelah aku kembali bekerja di luar negeri, dokumen-dokumen tersebut akan digunakan untuk menyelesaikan pengalihan.
Aku memandang adikku lama sekali.
—Kamu benar-benar berniat melakukan itu?
Dia menangis.
—Awalnya aku pikir setelah semuanya selesai, aku bisa mengembalikannya sebelum Kakak tahu.
—Delapan tahun, dan kamu masih mengatakan “akan mengembalikannya”?
Dia tidak mampu menjawab.
Tiba-tiba ponsel di tanganku kembali bergetar.
Pesan baru masuk.
“Pukul dua siang. Tempat biasa. Bawa dokumennya. Jangan bawa kakakmu.”
Aku melihat jam.
Pukul sebelas lewat dua puluh.
Ada hampir tiga jam.
Aku langsung memotret seluruh isi kamar dengan ponselku sendiri. Setiap dokumen, stempel, papan di dinding, pesan, dan surat kuasa kusimpan.
Adikku memperhatikanku.
—Kakak mau melakukan apa?
—Hal yang seharusnya kulakukan sejak awal. Melindungi hidupku sendiri.
Aku menelepon seseorang.
Bukan polisi terlebih dahulu.
Bukan pula bank.
Aku menelepon seorang perempuan yang dulu bekerja bersamaku dan kini menangani urusan hukum perusahaan. Setelah mendengar ceritaku, dia hanya mengatakan satu hal:
—Jangan tanda tangani apa pun. Simpan semua bukti. Aku akan menghubungkanmu dengan orang yang bisa menangani ini secara resmi.
Dalam waktu kurang dari dua jam, kami mulai menghubungi lembaga keuangan terkait untuk meminta pembekuan sementara terhadap proses yang menggunakan identitasku dan melaporkan dugaan pemalsuan.
Lalu aku membuat keputusan yang membuat adikku terkejut.
—Kamu tetap pergi ke pertemuan pukul dua.
Dia menatapku ketakutan.
—Apa?
—Kamu akan pergi seperti biasa.
—Lalu?
Aku menatap ponsel di tanganku.
—Dan kali ini, kamu tidak pergi untuk berbohong kepadaku. Kamu pergi untuk membantu menghentikannya.
Pukul dua kurang beberapa menit, adikku memasuki sebuah kedai kecil di kawasan komersial.
Aku tidak duduk bersamanya.
Aku menunggu di tempat lain bersama orang yang mendampingiku secara hukum.
Pria yang selama delapan tahun mengatur semuanya datang beberapa menit kemudian.
Adikku membawa map kosong.
Mereka berbicara hampir dua puluh menit.
Lalu teleponku menerima pesan dari adikku.
“Hari ini dia membawa dokumen asli.”
Jantungku berdegup keras.
Beberapa saat kemudian, orang yang mendampingiku memberi isyarat.
Kami masuk.
Pria itu langsung berdiri ketika melihatku.
Wajahnya berubah.
—Kenapa dia ada di sini?
Aku berhenti di depan mejanya.
Di sana terdapat beberapa dokumen.
Dan benar saja, namaku tercetak di semuanya.
Aku menarik kursi lalu duduk.
—Karena selama delapan tahun kalian menggunakan namaku tanpa izin. Hari ini aku ingin mendengar sendiri apa yang kalian rencanakan.
Pria itu menatap adikku tajam.
—Kamu menjebakku?
Adikku tidak menjawab.
Aku mengeluarkan salinan bukti.
—Tidak. Kalian menjebak diri kalian sendiri sejak pertama kali memalsukan tanda tanganku.
Untuk pertama kalinya, kesombongan pria itu menghilang.
Pertemuan itu berakhir bukan dengan tanda tanganku, melainkan dengan dokumen-dokumen yang diamankan sebagai bukti dan laporan resmi yang mulai diproses.
Malamnya aku pulang ke rumah.
Ibu duduk sendirian di ruang makan.
Adikku belum berani menatapku.
Aku mengira semuanya sudah selesai.
Ternyata belum.
Ketika aku kembali memeriksa kamar terkunci itu, aku menemukan sebuah amplop tua terselip di belakang lemari putih.
Namaku tertulis di depannya.
Tulisan tangan itu langsung kukenali.
Itu tulisan tangan mendiang Ayah.
Aku membuka amplop dengan tangan gemetar.
Di dalamnya terdapat surat dan salinan sebuah dokumen lama.
Baris pertama surat itu membuatku terpaku.
“Kalau suatu hari kamu membaca surat ini, berarti ketakutan Ayah tentang keluarga kita benar-benar terjadi.”
Aku mengangkat kepala.
Ibu berdiri di ambang pintu.
Wajahnya berubah ketika melihat amplop tersebut.
—Dari mana kamu menemukan itu?
Aku menatapnya.
—Ayah sudah tahu, bukan?
Ibu mulai menangis lagi.
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa rahasia delapan tahun ini ternyata telah dimulai jauh sebelum aku meninggalkan rumah.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
