Kakakku Menyodorkan Perjanjian Pranikah karena Calon Istriku “Punya Tiga Anak”, Tapi Satu Nomor Sertifikat di Lampirannya Membuat Mira Bertanya, “Kenapa Rumah Ibu Saya Ada di Daftar Aset Keluarga Mas?

Avatar penulis
Cerita 01
25 menit baca 68 tayangan
Kakakku Menyodorkan Perjanjian Pranikah karena Calon Istriku “Punya Tiga Anak”, Tapi Satu Nomor Sertifikat di Lampirannya Membuat Mira Bertanya, “Kenapa Rumah Ibu Saya Ada di Daftar Aset Keluarga Mas?
Indeks

BAGIAN 2

Mira menelepon Doni di depan mataku.

Tidak pakai pengeras suara.

Aku hanya melihat wajahnya berubah selama percakapan.

“Mas Doni, rumah Ibu sudah dijual?”

Entah apa jawaban adiknya.

Mira mengerutkan kening.

“Jangan jawab muter-muter. Saya cuma tanya satu hal.”

Dia berjalan ke dekat jendela.

“Tahun 2021 Ibu menerima Rp340 juta?”

Diam.

“Terus uang yang saya kirim tiap bulan itu buat apa?”

Tangannya mulai gemetar.

Aku berdiri, tapi tidak mendekat.

Akhirnya Mira berkata, “Besok aku pulang.”

Lalu telepon ditutup.

“Apa katanya?”

Kakakku Menyodorkan Perjanjian Pranikah karena Calon Istriku “Punya Tiga Anak”, Tapi Satu Nomor Sertifikat di Lampirannya Membuat Mira Bertanya, “Kenapa Rumah Ibu Saya Ada di Daftar Aset Keluarga Mas?

Mira menatap layar.

“Katanya saya salah paham.”

“Bagian mana?”

“Itu juga dia enggak bisa jelaskan.”

Lima menit kemudian ibunya menelepon.

Kali ini Mira menyalakan pengeras suara.

“Kamu kenapa bikin Doni panik?” suara Bu Sulastri terdengar tajam.

“Ibu jual rumah?”

“Jangan bicara seperti Ibu jual rumah buat foya-foya.”

“Jadi benar?”

“Dulu kita enggak punya pilihan.”

Mira memejamkan mata sebentar.

“Kenapa Ibu bilang uang yang saya kirim buat cicilan rumah?”

“Karena rumah itu tetap kita tempati.”

“Itu bukan jawaban.”

“Ibu capek kalau harus jelaskan dari awal lewat telepon.”

“Enam tahun, Bu.”

Suara di seberang melemah sedikit.

“Kamu pulang saja.”

“Aku akan pulang.”

Sebelum menutup telepon, Bu Sulastri berkata, “Jangan bawa calon suamimu. Ini urusan keluarga.”

Mira menatapku.

Aku tidak tersinggung.

Justru kalimat itu membuat semuanya semakin jelas.

Mereka tidak ingin aku mendengar.

Hari itu aku meminta bagian keuangan perusahaan menyiapkan riwayat pembayaran pembelian tanah tersebut.

Aku juga meminta Bayu hadir.

Dia datang sore hari dengan wajah yang menunjukkan dia sudah kehabisan kesabaran.

“Semua pembayaran perusahaan lengkap,” katanya sambil mendorong lembar cetak ke arahku.

Rp420 juta pada 2019.

Rp340 juta pada 2021.

Masuk ke rekening Bu Sulastri.

Tidak ada cicilan lanjutan.

Tidak ada pembayaran dari Mira.

Tidak ada utang yang tersisa kepada perusahaan kami.

“Jadi kalian membeli seluruh tanah itu?” tanyaku.

“Iya.”

“Kenapa baru akan dikosongkan sekarang?”

“Karena ibunya minta waktu lima tahun. Kita setuju.”

“Kenapa?”

Bayu mengangkat bahu.

“Demi anak-anak yang masih sekolah.”

Mira, yang duduk di ujung meja, tiba-tiba bertanya, “Mas Bayu tahu saya?”

Bayu mengernyit.

“Maksudnya?”

“Waktu Bu Sulastri menjual sisa tanah, beliau pernah menyebut anak perempuan yang bekerja di Solo?”

Bayu terdiam beberapa detik.

“Pernah.”

Aku menatap kakakku.

“Maksudmu?”

“Dia bilang ada anak perempuannya yang rutin mengirim uang dan tidak boleh tahu dulu soal penjualan.”

Mira kehilangan warna di wajahnya.

“Dan Mas setuju?”

“Aku bukan keluarga kalian, Mira. Aku membeli tanah dari pemilik sahnya. Dokumennya dibuat di PPAT. Uangnya dibayar. Aku tidak punya kewajiban mengatur apa yang seorang ibu ceritakan kepada anaknya.”

Jawaban Bayu dingin.

Tapi tidak sepenuhnya salah.

Itulah yang membuatnya lebih menyakitkan.

Aku bertanya, “Kenapa Bu Sulastri minta dirahasiakan?”

Bayu membuka ponselnya.

“Aku masih punya pesannya.”

Dia menggulir percakapan lama.

Kemudian menunjukkan layar kepada kami.

Pesan itu dikirim November 2021.

Pak Bayu, mohon soal sisa tanah jangan disampaikan ke Mira dulu. Dia pasti menolak karena terlalu memikirkan rumah ini. Biar anak-anak sekolah tenang sampai waktunya pindah. Urusan uang bulanan biar saya yang bicara sama dia.

Mira membaca sampai selesai.

Tidak menangis.

Dia hanya mengambil tasnya.

“Aku mau pulang ke Klaten sekarang.”

“Malam-malam?” tanyaku.

“Iya.”

“Aku ikut.”

Dia hendak menolak.

Lalu mengingat pesan ibunya.

Akhirnya dia berkata, “Mas boleh ikut. Tapi satu hal.”

“Apa?”

“Jangan beli masalah ini dari saya.”

Aku tidak langsung memahami.

Mira menatapku lurus.

“Kalau ternyata keluarga saya memang melakukan ini, jangan selesaikan dengan uang Mas. Saya sudah terlalu lama hidup dalam keluarga yang menganggap setiap masalah bisa ditutup oleh orang yang paling mampu membayar.”

Kalimat itu ikut bersamaku sepanjang perjalanan ke Klaten.

Dua jam kemudian kami berhenti di depan rumah bercat hijau pucat yang selama ini hanya kulihat dari foto.

Lampu teras masih menyala.

Sebuah motor tua terparkir di samping pagar.

Raka membuka pintu.

Dia tersenyum melihat Mira, lalu wajahnya berubah ketika melihatku.

“Tante kok malam-malam?”

Mira memeluknya sebentar.

“Eyang sama Om Doni di dalam?”

Raka mengangguk.

Sebelum kami masuk, dia menahan lengan Mira.

“Tante…”

“Apa?”

Raka menelan ludah.

“Tadi Om Doni bilang mulai akhir tahun kami mungkin harus pindah.”

Mira diam.

“Katanya Tante sudah tahu.”

Aku melihat sesuatu di wajah Mira saat itu.

Bukan lagi kebingungan.

Bukan kesedihan.

Sesuatu yang lebih tenang.

Lebih berbahaya bagi orang-orang yang selama ini mengandalkan kesabarannya.

Dia melepas sandal di depan pintu.

“Sekarang Tante tahu,” katanya.

Lalu dia masuk.

Saat itu Mira sudah tidak mencari penjelasan kecil. Dia ingin tahu siapa yang selama enam tahun memutuskan bahwa penghasilannya boleh dipakai, rumah boleh dijual, dan hidupnya boleh diatur tanpa memberitahunya. Bagian 3 adalah malam ketika semuanya akhirnya dibicarakan di meja makan yang sama.

BAGIAN 3

Bu Sulastri sedang duduk di meja makan ketika kami masuk.

Doni berdiri dekat dispenser.

Usianya tiga puluh tujuh tahun, tubuhnya lebih besar daripada yang kubayangkan dari foto. Kausnya kusut dan rambutnya tampak seperti baru beberapa kali disisir dengan tangan.

Begitu melihatku, wajahnya langsung tidak senang.

“Mbak, aku sudah bilang ini urusan keluarga.”

Mira meletakkan tas di kursi.

“Mas Arief calon suamiku empat hari lagi.”

Doni tertawa pendek.

“Belum jadi suami.”

Aku hampir menjawab, tapi Mira mengangkat telapak tangan kecil ke arahku.

Dia ingin menangani ini sendiri.

Bu Sulastri menunjuk kursi.

“Duduk dulu. Jangan bikin anak-anak dengar.”

“Anak-anak sudah tahu mereka harus pindah,” kata Mira.

Ibunya terdiam.

Dari kamar belakang terdengar suara televisi dikecilkan.

Mira menarik kursi dan duduk.

“Aku mau tanya satu kali saja, Bu. Rumah ini sudah dijual seluruhnya?”

Bu Sulastri menunduk.

“Iya.”

“Kapan?”

“Bagian belakang tahun 2019. Sisanya 2021.”

“Kenapa aku enggak tahu?”

Doni menyela.

“Karena kalau kamu tahu, kamu pasti ribut.”

Mira menoleh kepadanya.

“Aku bicara sama Ibu.”

Doni mengatupkan mulut.

Bu Sulastri meremas ujung taplak meja.

“Waktu Nia meninggal, utang rumah ini masih ada.”

Mira mengangguk.

“Aku tahu.”

Tidak semua masalah mereka dimulai tahun 2021.

Bertahun-tahun sebelumnya, almarhumah Nia dan suaminya membuka usaha mebel kecil. Bu Sulastri membantu dengan menjaminkan rumah kepada bank.

Usaha itu tidak bertahan.

Suami Nia pergi.

Nia jatuh sakit.

Cicilan berhenti.

Setelah Nia meninggal, bank mulai menagih serius.

Pada 2019, perusahaan keluargaku sedang mencari akses tambahan menuju gudang yang kebetulan berbatasan dengan bagian belakang tanah Bu Sulastri.

Bayu menawarkan membeli sebagian lahan.

Harga Rp420 juta cukup untuk melunasi sisa utang bank dan biaya lain.

Kesepakatan itu menyelamatkan rumah bagian depan dari kemungkinan lelang.

Setidaknya untuk sementara.

“Aku tahu yang itu,” kata Mira. “Ibu bilang sebagian tanah belakang dijual supaya rumah tetap aman.”

“Memang begitu,” jawab ibunya.

“Lalu dua tahun kemudian kenapa sisanya dijual?”

Bu Sulastri melirik Doni.

Gerakan kecil itu cukup.

Mira ikut melihat adiknya.

Doni mengembuskan napas.

“Usahaku waktu pandemi jatuh.”

“Terus?”

“Aku punya utang.”

“Berapa?”

Doni tidak menjawab.

“Berapa, Don?”

“Sekitar dua ratusan.”

“Dua ratus berapa?”

“Dua ratus enam puluh juta.”

Mira tersenyum tanpa humor.

Aku mengenal ekspresi itu.

Dia biasa memasangnya ketika seorang tukang mengatakan harga material “kurang lebih” tanpa mau memberikan rincian.

“Kamu utang Rp260 juta, lalu rumah Ibu dijual Rp340 juta?”

“Jangan bikin seolah-olah aku mengambil semuanya.”

“Berapa yang kamu ambil?”

“Aku enggak ambil. Ibu bantu.”

“Berapa?”

Bu Sulastri menyela.

“Rp230 juta.”

Mira menatap ibunya.

“Untuk utang Doni?”

“Iya.”

“Sisanya?”

“Buat kebutuhan rumah. Sekolah anak-anak. Perbaikan atap. Biaya waktu Bimo masuk rumah sakit.”

Mira mengangguk pelan.

Kemudian mengambil ponselnya.

“Aku mulai transfer rutin Januari 2020.”

Dia membuka catatan.

“Rata-rata Rp4,5 juta sebulan. Kadang lebih.”

Doni mulai gelisah.

Mira menghitung tanpa kalkulator beberapa saat, lalu menyerah dan membuka aplikasi.

“Enam tahun lebih. Totalnya hampir Rp350 juta.”

Bu Sulastri berkata, “Tidak semuanya ke Doni.”

“Aku tahu. Aku tidak bilang semuanya ke dia.”

Nada Mira tetap tenang.

“Itulah kenapa aku mau laporan.”

Doni tertawa kecil.

“Laporan apa? Kita keluarga, Mbak.”

Mira menoleh.

“Kalimat itu yang bikin kita sampai di sini.”

“Jangan lebay.”

“Aku enggak lebay.”

“Dari dulu kamu memang paling merasa berkorban.”

Mira terdiam.

Aku melihat tangannya yang tadi berada di atas meja perlahan masuk ke pangkuan.

Doni melanjutkan.

“Kamu kerja di Solo. Gaji bagus. Enggak punya anak. Mau uangmu dipakai buat apa?”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Bukan teriakan.

Justru karena diucapkan seperti sesuatu yang masuk akal, suasana di ruangan berubah.

Mira menatap adiknya cukup lama.

“Kamu benar-benar berpikir begitu?”

Doni mengangkat bahu.

“Aku cuma realistis.”

“Jadi karena aku enggak punya anak kandung, uangku otomatis jadi dana darurat keluarga?”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Bu Sulastri mengetuk meja.

“Sudah, jangan serang adikmu terus.”

Mira berbalik kepada ibunya.

“Ibu juga berpikir begitu?”

“Mira…”

“Ibu bilang setiap bulan uangku buat mempertahankan rumah ini.”

“Rumah ini memang dipakai keluarga.”

“Itu bukan yang kutanya.”

“Ibu takut kamu berhenti kirim.”

Akhirnya kalimat itu keluar.

Tidak keras.

Tidak dramatis.

Tapi setelah kalimat itu, tidak ada lagi yang perlu kami tebak.

Mira menyandarkan punggung.

“Jadi Ibu sengaja bohong.”

Bu Sulastri langsung membela diri.

“Jangan pakai kata bohong ke orang tua.”

“Kalau Ibu bilang rumah belum aman supaya aku terus mengirim uang, padahal rumah sudah dijual, itu namanya apa?”

“Ibu melakukan semua ini supaya keluarga tetap jalan.”

“Dengan membuatku membayar sesuatu yang sudah enggak ada?”

“Uangnya dipakai untuk keponakanmu juga!”

Dari lorong terdengar suara kecil.

“Tante.”

Sela berdiri di sana.

Wajahnya pucat.

Di belakangnya ada Bimo.

Raka buru-buru keluar kamar dan menarik kedua adiknya.

“Masuk dulu.”

Mira berdiri.

“Sela, Bimo, masuk kamar dulu ya.”

“Tapi…”

“Nanti Tante jelaskan.”

Anak-anak akhirnya pergi.

Bu Sulastri mulai menangis.

“Mereka sudah enggak punya ibu. Kalau Ibu tidak mikirin mereka, siapa?”

Mira menarik kursinya kembali.

“Aku.”

“Iya. Kamu.”

“Lalu kenapa Ibu enggak pernah percaya aku cukup dewasa untuk tahu keadaan sebenarnya?”

Bu Sulastri menyeka pipinya.

“Karena kamu selalu bilang jangan jual rumah.”

“Karena kupikir rumah ini masih milik kita.”

“Kamu terlalu keras soal itu.”

“Aku keras karena aku mengirim hampir separuh gajiku setiap bulan.”

Doni memotong.

“Uang itu juga bayar makan mereka.”

“Aku tidak pernah keberatan bayar makan anak-anak.”

“Terus masalahmu apa?”

Mira menatap adiknya.

“Masalahku adalah kalian membiarkan aku berpikir sedang membayar sesuatu yang berbeda.”

Doni hendak bicara lagi.

Mira menaikkan suara untuk pertama kalinya.

“Dan jangan bilang uang ini semuanya untuk anak-anak.”

Doni terdiam.

“Mobilmu beli kapan?”

Wajah Doni berubah.

Bu Sulastri langsung berkata, “Mobil itu buat usaha.”

“Pickup lama sudah cukup buat usaha bengkelmu.”

“Itu bukan mobil mewah.”

“Aku enggak bilang mewah.”

Mira membuka transfer.

“Agustus tahun lalu aku kirim Rp12 juta karena katanya Sela harus bayar sekolah dan genteng bocor.”

Dia menatap Doni.

“Dua minggu setelah itu kamu unggah foto mobil baru.”

Doni tertawa gugup.

“Mobil bekas.”

“Berapa harganya?”

“Enggak ada hubungannya.”

“Nah.”

Mira mengangguk.

“Sekarang baru benar.”

Dia menatap ibunya.

“Aku enggak akan memperdebatkan uang yang benar-benar dipakai untuk Raka, Sela, Bimo. Aku memang ingin bantu mereka.”

Lalu matanya kembali kepada Doni.

“Tapi bagian yang kamu pakai untuk utangmu, gaya hidupmu, atau usahamu harus dihitung.”

Doni berdiri.

“Jadi sekarang kamu mau menagih adik sendiri?”

“Aku mau tahu jumlahnya.”

“Kamu sudah mau jadi istri orang kaya, terus sekarang mendadak hitung-hitungan?”

Aku bergerak sedikit.

Mira kembali mengangkat tangan kepadaku.

“Jangan.”

Dia menatap Doni.

“Ulangi.”

“Apa?”

“Kalimat barusan.”

Doni menelan ludah.

Mira berkata, “Menurutmu karena aku menikah dengan Mas Arief, semua uang yang sudah kamu pakai tidak perlu dibicarakan?”

“Aku enggak bilang begitu.”

“Kamu baru saja bilang begitu.”

“Maksudku hidupmu sebentar lagi enggak susah.”

Mira tertawa pendek.

“Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan. Kamu menganggap uangku milik keluarga, atau kamu menganggap suamiku nanti akan menggantikan semua yang kalian ambil.”

Bu Sulastri menatapku.

“Mbakmu ini dari dulu kalau marah susah dibilangin.”

Mira menggeleng.

“Enggak, Bu.”

Suaranya turun.

“Justru masalahnya aku terlalu gampang dibilangin.”

Ruangan itu hening cukup lama.

Kemudian Mira mengambil buku tulis kecil dari tas.

Dia sering membawanya untuk mencatat belanja.

“Aku mau begini.”

Doni mendengus.

“Nah, mulai.”

“Mulai bulan ini aku berhenti transfer ke rekeningmu.”

Doni langsung melihat ibunya.

“Mbak…”

“Biaya sekolah Raka, Sela, dan Bimo akan kubayar langsung.”

“Makan mereka?”

“Aku bicara sama Raka dan Ibu. Kita buat anggaran.”

“Ibu harus laporan ke anak sendiri?”

Mira menatap ibunya.

“Kalau memakai uangku, iya.”

Bu Sulastri tersinggung.

“Kamu memperlakukan Ibu seperti orang asing.”

“Tidak.”

Mira menghela napas.

“Aku memperlakukan uang seperti uang. Selama ini kita terlalu sering menyebut uang sebagai kasih sayang sampai enggak ada yang tahu batasnya.”

Aku tidak pernah mendengar Mira bicara sebanyak itu dalam satu malam.

Tapi rupanya enam tahun diam punya suaranya sendiri ketika akhirnya keluar.

Doni mondar-mandir.

“Terus rumah ini bagaimana?”

Mira tidak menjawab.

Dia menoleh kepadaku.

Baru kali itu dia meminta aku masuk dalam percakapan.

Aku duduk lebih tegak.

“Secara dokumen yang kulihat, perusahaan sudah membayar pembelian penuh.”

Bu Sulastri menunduk.

Aku melanjutkan, “Tapi proses pengalihan akhir sebagian bidang masih belum selesai karena pemecahan sertifikat dan urusan lain. Aku tidak akan menjanjikan rumah ini otomatis kembali. Itu bukan keputusan yang bisa kubuat sendiri.”

Doni menatapku curiga.

“Jadi perusahaan mau usir kami?”

“Batas tinggal yang tertulis sampai akhir tahun.”

Bu Sulastri mulai menangis lagi.

“Anak-anak mau ke mana?”

Mira memejamkan mata.

Aku tahu itu kalimat yang paling mungkin menghancurkan keputusannya.

Selama bertahun-tahun, setiap kali dia hendak berkata tidak, seseorang hanya perlu menyebut tiga nama.

Raka.

Sela.

Bimo.

Kali ini dia tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian, dia berkata, “Anak-anak tidak akan telantar.”

Doni mengangkat tangan.

“Nah. Berarti rumahnya dibeli balik saja sama Mas Arief.”

Mira menatapnya.

Aku pun menatapnya.

Doni tampak bingung mengapa tidak ada yang menganggap usul itu cemerlang.

“Kan mampu,” lanjutnya.

Mira berdiri.

“Ini yang terakhir.”

“Apa lagi?”

“Jangan pernah membuat rencana memakai uang suamiku.”

“Mbak, aku cuma kasih solusi.”

“Bukan.”

Mira memasukkan ponselnya ke tas.

“Kamu sedang mencari orang berikutnya yang bisa menanggung keputusanmu.”


Kami tidur di rumah itu malam tersebut.

Aku di ruang tamu bersama Raka.

Mira tidur dengan Sela dan Bimo.

Sekitar pukul lima pagi aku terbangun karena suara pintu depan.

Raka sedang duduk di teras.

Aku ikut keluar.

Anak itu baru sembilan belas tahun, tetapi cara duduknya membuatnya terlihat lebih tua.

“Om,” katanya canggung.

Aku hampir tertawa mendengar panggilan itu.

“Panggil Arief saja.”

“Nanti Tante marah.”

“Kalau begitu Om saja.”

Kami duduk beberapa saat.

Raka bertanya, “Rumah ini benar-benar sudah bukan punya Eyang?”

“Secara kesepakatan jual beli, sudah.”

Dia mengangguk.

Anehnya dia tidak panik seperti yang kuduga.

“Kalau pindah ya pindah.”

Aku menoleh.

“Kamu enggak sedih?”

“Sedih.”

Dia mengusap wajah.

“Tapi aku lebih enggak suka Tante Mira terus kirim uang karena merasa harus menyelamatkan semuanya.”

Aku diam.

Raka melanjutkan, “Dulu aku pikir Tante memang banyak uang. Baru waktu SMA aku tahu gajinya biasa saja.”

Kalimat itu membuatku menatap halaman kecil di depan rumah.

Ada pot cabai di dekat pagar.

Dua sandal sekolah diletakkan terbalik di teras.

Sepeda Bimo bersandar pada dinding.

Rumah itu tidak mewah.

Tapi segala sesuatu di dalamnya terlihat seperti alasan yang cukup kuat bagi Mira untuk terus merasa bersalah.

“Tante kalian sayang kalian,” kataku.

“Aku tahu.”

Raka menatapku.

“Makanya jangan kasih dia rumah cuma supaya masalah selesai.”

Aku tersenyum tipis.

“Kalian ternyata sama.”

“Siapa?”

“Kamu sama Tante Mira.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Raka tertawa.


Kami kembali ke Solo siang berikutnya.

Akad tetap berlangsung empat hari kemudian.

Bukan karena masalah selesai.

Justru karena kami memutuskan satu masalah keluarga tidak boleh menentukan apakah kami percaya satu sama lain.

Bayu datang.

Mama juga.

Sebelum akad, Mama meminta bicara denganku sendiri.

“Kamu yakin?”

“Iya.”

“Kamu baru masuk urusan keluarga mereka dan sudah seruwet ini.”

Aku tersenyum.

“Keluarga kita juga enggak sederhana.”

Mama tidak suka jawaban itu.

“Mama cuma takut nanti semuanya jadi tanggunganmu.”

Aku memandangnya.

“Kalau Mira punya tiga anak kandung sekalipun, itu tetap bukan alasan memperlakukannya seperti ancaman.”

“Mama enggak pernah bilang ancaman.”

“Perjanjian pranikah empat hari sebelum akad, lengkap dengan daftar aset, lalu kalimat soal tiga anak di meja makan?”

Mama terdiam.

Aku melanjutkan, “Perjanjiannya tetap kami pakai.”

Mama tampak kaget.

“Serius?”

“Serius. Tapi dibuat ulang. Dengan pengacara yang mewakili kami masing-masing. Bukan dokumen yang disodorkan keluarga sebagai tes.”

Mama menatapku cukup lama.

“Dia meminta itu?”

“Aku juga.”

Pagi itu aku memahami sesuatu.

Batas tidak selalu berarti menolak semua hal yang diinginkan keluarga.

Kadang batas berarti mengambil sesuatu yang pada dasarnya masuk akal, lalu menghapus penghinaan yang menyertainya.

Aku dan Mira menikah.

Tidak ada kejutan besar saat akad.

Tidak ada orang datang membawa bukti.

Tidak ada Doni berdiri mengaku dosa.

Setelah ijab kabul, Mira menyalamiku dengan tangan dingin.

Aku berbisik, “Masih mau kabur?”

Dia menjawab pelan, “Mas yang masih sempat kabur.”

Kami sama-sama tersenyum.

Malam pertama kami justru dihabiskan membuka amplop sumbangan dan memindahkan bunga karena aromanya membuatku bersin.

Sebelum tidur Mira berkata, “Mas.”

“Hm?”

“Besok jangan langsung urus rumah.”

Aku menoleh.

“Kenapa?”

“Saya mau pikirkan dulu apakah rumah itu memang harus diselamatkan.”

Itu pertama kalinya dia mengatakan hal tersebut.

Selama enam tahun, pikirannya hanya punya satu tujuan.

Mempertahankan rumah.

Kini dia mulai bertanya apakah rumah yang membuatnya terus dimanipulasi pantas dibeli kembali dengan pengorbanan baru.


Seminggu setelah menikah, kami mengadakan pertemuan di kantor perusahaan.

Aku, Bayu, direktur keuangan, seorang PPAT yang sudah lama menangani tanah perusahaan, dan Mira hadir.

Aku sengaja meminta Mama tidak ikut.

Bukan karena dia tidak punya saham, tetapi karena aku ingin pembahasan itu menjadi transaksi yang jelas, bukan sidang keluarga.

PPAT menjelaskan statusnya dengan bahasa yang cukup sederhana.

Bagian belakang tanah sudah selesai prosesnya.

Bagian depan berikut rumah masih membutuhkan penyelesaian administrasi, tetapi secara kontraktual Bu Sulastri sudah menerima pembayaran dan berkewajiban menyerahkan sesuai jadwal.

Mira bertanya, “Kalau saya ingin membeli kembali bagian depan?”

Bayu langsung bersandar.

“Kamu serius?”

“Belum tahu. Saya cuma bertanya.”

PPAT menjelaskan itu mungkin kalau perusahaan setuju menjual kembali setelah bidang dipisah dengan jelas.

Harga harus ditentukan secara wajar.

Tidak bisa hanya mencoret dokumen lama.

Mira mengangguk.

“Kalau saya tidak membeli?”

“Setelah batas waktu berakhir, keluarga harus menyerahkan rumah.”

Dia tidak bicara lagi selama beberapa menit.

Bayu akhirnya berkata, “Mira, aku mau jelas. Perusahaan tidak mengambil tanah itu diam-diam.”

“Saya tahu.”

“Ibumu datang sendiri waktu penjualan kedua.”

“Saya juga tahu.”

“Aku bahkan tanya dua kali apakah semua keluarga setuju.”

Mira menatapnya.

“Beliau jawab apa?”

“Katanya iya.”

Mira tersenyum pahit.

“Ternyata definisi ‘keluarga’ bisa berubah tergantung siapa yang sedang duduk di depan meja.”

Bayu menunduk.

Lalu berkata, “Aku seharusnya tidak memasukkan tanah itu ke lampiran perjanjian nikah tanpa bicara dengan Arief dulu.”

“Mas seharusnya juga tidak bicara soal saya punya tiga anak seperti itu sesuatu yang menurunkan nilai saya.”

Bayu terdiam.

Aku memandang kakakku.

Dia terlihat ingin membela diri.

Akhirnya hanya berkata, “Iya.”

Mira tampak sedikit terkejut.

Bayu melanjutkan, “Aku salah soal itu.”

Tidak ada pelukan.

Tidak perlu.

Kadang permintaan maaf yang paling layak dipercaya justru yang tidak berusaha membeli pengampunan.


Masalah dengan Doni lebih sulit.

Mira meminta seluruh pengeluaran enam tahun terakhir dicatat.

Doni menolak selama hampir dua minggu.

Dia bilang kuitansi hilang.

Dia bilang warung sering tidak memberi nota.

Dia bilang keluarga bukan perusahaan.

Mira tidak marah.

Dia hanya tidak mengirim uang lagi.

Pada hari kesebelas, Doni menelepon.

“Uang listrik rumah belum dibayar.”

Mira menjawab, “Kirim tagihannya.”

“Transfer ke aku saja.”

“Kirim tagihannya.”

“Mbak, masa listrik saja…”

“Kirim tagihannya.”

Doni akhirnya mengirim foto.

Mira membayar langsung melalui aplikasi.

Hari berikutnya Sela butuh uang sekolah.

Mira menelepon sekolah, meminta nomor pembayaran, lalu membayar sendiri.

Bimo butuh obat.

Dia mengirim uang ke Raka setelah mendapat foto resep dan struk apotek.

Semakin sedikit uang melewati Doni, semakin cepat Doni mulai mengingat di mana dokumen-dokumen lama disimpan.

Tiga minggu kemudian dia datang ke rumah kami membawa satu tas plastik berisi kuitansi kusut.

Mira menyebarkannya di meja makan.

Aku membantu mengurutkan tahun.

Hasilnya tidak sempurna.

Tapi cukup untuk melihat pola.

Sebagian besar uang Mira memang habis untuk rumah tangga Bu Sulastri dan ketiga anak.

Namun ada puluhan transfer yang sulit dijelaskan.

Cicilan kendaraan.

Modal bengkel.

Pembayaran kartu kredit.

Uang muka motor milik istri Doni.

Beberapa pinjaman pribadi.

Total yang paling masuk akal kami hitung sekitar Rp96 juta.

Doni duduk diam ketika angka itu disebut.

Mira bertanya, “Kamu bisa bayar berapa?”

“Mbak serius?”

“Iya.”

“Aku enggak punya Rp96 juta.”

“Aku juga tidak minta sekaligus.”

Doni tertawa sinis.

“Jadi mau dicicil?”

“Iya.”

“Ke kakak sendiri?”

“Ke aku.”

“Ibu tahu ini?”

Bu Sulastri memang tidak ikut.

Mira menjawab, “Aku tidak perlu izin Ibu untuk meminta uangku kembali.”

Doni berdiri.

“Aku enggak akan tanda tangan apa-apa.”

Mira tidak mengejarnya.

“Tidak apa-apa.”

Doni berhenti.

“Terus?”

“Kalau kamu tidak mau membuat kesepakatan, aku anggap Rp96 juta itu pelajaran yang mahal.”

Dia tampak lega terlalu cepat.

Mira melanjutkan, “Tapi mulai hari ini jangan pernah minta uang kepadaku lagi untuk utang, usaha, kendaraan, atau kebutuhan rumah tanggamu.”

Wajah Doni langsung berubah.

“Jadi aku diputus sebagai adik?”

“Enggak.”

“Apa bedanya?”

“Kalau kamu sakit, aku datang.”

Mira menatapnya.

“Kalau kamu punya hajatan, aku datang.”

“Kalau anakmu nanti sekolah dan aku mampu bantu, kita bicara.”

“Tapi utang yang kamu buat sendiri bukan lagi tanggung jawabku.”

Doni mendengus.

“Enak ya ngomong begitu setelah nikah sama orang berada.”

Mira mengambil sebuah kunci mobil dari meja.

“Itu kunci mobil Mas Arief.”

Doni diam.

“Bukan kunci hidupku.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat Doni tidak punya kalimat balasan.


Akhirnya justru Doni yang kembali dua minggu kemudian.

Dia menjual mobil yang selama ini dia banggakan.

Bukan karena kami menyuruh.

Bengkelnya kesulitan uang tunai dan dia sadar tidak ada lagi transfer Mira yang bisa dipakai menutup kekurangan.

Dari penjualan itu dia mengembalikan Rp35 juta.

Sisanya kami buat jadwal Rp2 juta per bulan.

Mira tidak yakin dia akan selalu disiplin.

Tapi masalah utamanya bukan jumlah uang.

Untuk pertama kalinya, Doni harus merencanakan hidup tanpa memasukkan penghasilan kakaknya sebagai pos tetap.

Bu Sulastri lebih lama menerima perubahan tersebut.

Dia beberapa kali menelepon sambil menangis.

Kadang mengatakan Mira berubah setelah menikah.

Kadang mengatakan aku memisahkan anak dari ibu.

Mira tetap menelepon setiap dua atau tiga hari.

Tetap mengirim obat.

Tetap pulang ke Klaten.

Bedanya, dia tidak lagi mengirim uang tanpa tahu untuk apa.

Suatu kali Bu Sulastri berkata, “Dulu kamu enggak pernah sekeras ini.”

Mira menjawab pelan, “Dulu Ibu enggak pernah memberi saya kesempatan tahu seberapa keras saya harus jadi.”

Setelah itu mereka tidak bicara hampir seminggu.

Mira sedih.

Aku tahu karena dia membersihkan dapur tengah malam setiap kali pikirannya penuh.

Aku menemukannya mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih.

“Kamu mau aku bicara sama Ibu?”

“Jangan.”

“Kamu marah?”

“Sedih.”

Dia melipat kain lap.

“Dari kecil saya pikir anak baik itu anak yang enggak bikin orang tua susah.”

Aku duduk di kursi dapur.

“Sekarang?”

“Sekarang saya pikir kadang kita bikin orang tua kecewa justru supaya kita enggak terus saling merusak.”

Aku tidak menjawab.

Tidak ada jawaban yang lebih baik.


Dua bulan sebelum batas pengosongan, perusahaan mendapat hasil pengukuran baru.

Ternyata jalur akses gudang hanya benar-benar membutuhkan bagian belakang tanah.

Rumah depan tidak penting untuk operasional.

Bayu mengusulkan menjualnya.

Kami menggunakan penilai independen.

Nilai wajarnya lebih tinggi daripada tahun 2021.

Mira membaca hasil penilaian tanpa ekspresi.

“Aku enggak sanggup beli sendiri,” katanya malam itu.

Aku sudah tahu.

Kami duduk di teras rumah setelah makan malam.

“Aku bisa beli,” kataku.

Dia menoleh.

“Aku tahu.”

“Sebagai suamimu.”

“Saya juga tahu.”

“Bukan sebagai penyelamat.”

Mira tersenyum kecil.

“Kalau Mas perlu mengatakan kalimat terakhir itu, berarti Mas juga tahu kenapa saya ragu.”

Aku tertawa.

“Benar.”

Kami diam.

Kemudian dia berkata sesuatu yang tidak kuduga.

“Saya enggak mau beli rumah itu.”

Aku menatapnya.

“Serius?”

“Iya.”

“Tapi anak-anak?”

“Raka sudah kerja sambil kuliah. Sela sebentar lagi lulus. Bimo bisa ikut Ibu pindah ke rumah sewa dekat sekolah.”

“Bu Sulastri?”

“Mau tidak mau harus menerima.”

“Kamu yakin?”

Mira menatap halaman.

“Enam tahun saya hidup dengan pikiran kalau rumah itu hilang, berarti saya gagal menjaga keluarga.”

Dia menarik napas.

“Sekarang saya sadar, rumah itu sudah hilang lima tahun lalu. Yang membuat saya tetap terikat bukan sertifikat.”

“Apa?”

“Rasa bersalah.”

Itulah keputusan yang akhirnya kami ambil.

Kami tidak membeli kembali rumah tersebut.

Bukan karena tidak mampu.

Justru karena Mira tidak mau memulai pernikahan dengan mengeluarkan ratusan juta rupiah untuk menghapus akibat keputusan yang dibuat orang lain tanpa sepengetahuannya.

Perusahaan memberi tambahan waktu empat bulan agar Bimo menyelesaikan semester dan keluarga bisa pindah dengan tenang.

Keputusan itu dibahas resmi.

Bayu setuju.

Aku tidak meminta perusahaan memberikannya gratis.

Mira juga tidak meminta diskon istimewa.

Bu Sulastri marah ketika mendengarnya.

“Kamu tega rumah keluarga jatuh ke orang lain?”

Mira menjawab, “Rumah itu sudah Ibu jual, Bu.”

“Ibu jual karena keadaan!”

“Aku tahu.”

“Kalau suamimu mampu beli kembali, kenapa tidak?”

Mira menatap ibunya lama.

“Karena kemampuan Mas Arief bukan warisan keluarga kita.”

Bu Sulastri menangis.

Tapi Mira tidak mengubah keputusan.

Sebulan kemudian kami membantu mencarikan rumah kontrakan tiga kamar tidak jauh dari sekolah Bimo.

Mira membayar deposit dan enam bulan sewa pertama.

Setelah itu biaya rumah akan dibagi.

Raka menyumbang dari penghasilannya.

Bu Sulastri memakai sebagian uang pensiun kecil dari almarhum suaminya.

Doni mendapat bagian tetap.

Jika dia terlambat, tidak ada lagi Mira yang otomatis menutup kekurangan.

Hari pindahan, aku datang membawa mobil bak kecil dari toko.

Doni juga datang.

Kami mengangkat lemari, kasur, dispenser, kardus piring, kipas angin, dan entah berapa banyak toples plastik yang menurut Bu Sulastri “masih bagus” meskipun sebagian tutupnya sudah tidak cocok.

Menjelang sore rumah lama mulai kosong.

Sela menangis ketika mencabut foto ibunya dari dinding.

Mira memeluknya.

Bimo terus bertanya apakah sepeda boleh dibawa.

“Ya jelas boleh,” kata Raka. “Yang dijual tanahnya, bukan sepedamu.”

Untuk pertama kalinya hari itu semua orang tertawa.

Bu Sulastri adalah orang terakhir yang keluar.

Dia berdiri di ruang tamu kosong cukup lama.

Mira menghampiri.

“Ibu marah sama aku?”

Bu Sulastri tidak langsung menjawab.

“Ada orang tua yang merasa anaknya milik mereka,” katanya akhirnya.

Mira menunggu.

“Ibu mungkin salah satunya.”

Mira menunduk.

Bu Sulastri melanjutkan, “Waktu kamu mulai kerja dan kirim uang, Ibu merasa akhirnya ada satu orang yang bisa diandalkan.”

“Bu…”

“Ibu salah karena lama-lama Ibu menganggap kamu pasti akan selalu mengerti.”

Matanya berair.

“Padahal orang yang selalu kita suruh mengerti juga bisa capek.”

Mira menggigit bibir.

“Aku masih anak Ibu.”

“Ibu tahu.”

“Tapi aku enggak bisa hidup terus seperti dulu.”

Bu Sulastri mengangguk.

Tidak ada permintaan maaf panjang.

Tidak ada pelukan dramatis.

Mira hanya mengambil tas kain ibunya.

“Ayo. Rumah baru belum ada gorden.”

Bu Sulastri menjawab, “Yang bunga jangan. Norak.”

Mira tertawa kecil.

“Berarti Ibu sudah mendingan.”

Mereka berjalan keluar bersama.

Aku mengikuti di belakang sambil membawa pot cabai dari teras.


Enam bulan setelah kami menikah, hidup kami jauh lebih tenang.

Bukan sempurna.

Doni pernah terlambat mencicil dua bulan.

Mira tidak mengejar sambil marah.

Dia hanya mengingatkan satu kali.

Bulan berikutnya Doni membayar tiga bulan sekaligus.

Bengkel kecilnya perlahan membaik setelah dia berhenti berganti kendaraan demi gengsi.

Hubungannya dengan Mira masih kaku, tetapi mereka sudah bisa makan satu meja tanpa saling menyindir.

Bu Sulastri kadang masih berkata, “Dulu kalau Ibu minta uang kamu enggak banyak tanya.”

Sekarang Mira menjawab, “Makanya dulu uang saya cepat habis.”

Anehnya, beberapa bulan kemudian ibunya mulai terbiasa.

Raka melanjutkan kuliah malam.

Sela lulus sekolah dan diterima bekerja sebagai kasir di apotek sambil menyiapkan pendaftaran kuliah.

Bimo masih paling sering meminta uang.

Tapi permintaannya berupa pulsa, buku gambar, atau sepatu futsal.

Mira biasanya mengabulkan setengah.

“Kenapa enggak semua?” tanyaku sekali.

“Biar dia belajar minta sisanya ke kakaknya.”

Aku tertawa.

Hubunganku dengan Bayu juga berubah.

Kami tetap mengelola usaha bersama.

Namun sekarang keputusan mengenai aset keluarga ditulis lebih jelas.

Tidak ada lagi kalimat, “nanti kita atur.”

Tidak ada lagi tanah yang dianggap milik bersama hanya karena pernah dibicarakan saat makan siang.

Mama membutuhkan waktu lebih lama menerima Mira.

Suatu Minggu dia datang membawa buah.

Mira membuatkan teh.

Mama duduk beberapa menit sebelum berkata, “Anak-anak di Klaten sehat?”

Mira tersenyum.

“Sehat.”

“Yang paling kecil kelas berapa?”

Mira menjawab.

Tidak ada permintaan maaf.

Tapi setelah itu Mama tidak pernah lagi menyebut mereka sebagai “tiga tanggungan”.

Buatku, itu cukup untuk saat ini.


Setahun setelah pernikahan kami, aku pulang agak malam dan menemukan Mira duduk di meja makan.

Di depannya ada tiga amplop.

Satu bertuliskan rumah tangga.

Satu tabungan.

Satu lagi Klaten.

Aku meletakkan kunci mobil.

“Ini apaan?”

“Anggaran bulan depan.”

Aku membuka amplop Klaten.

Jumlahnya jauh lebih kecil daripada uang yang dulu rutin dia kirim.

“Kok segini?”

Mira mengangkat alis.

“Kurang?”

“Bukan. Biasanya kamu…”

Aku berhenti sendiri.

Dia tersenyum.

“Biasanya saya merasa semua kekurangan orang lain harus saya isi.”

Aku duduk di depannya.

“Sekarang?”

“Sekarang saya tanya dulu lubangnya dibuat siapa.”

Aku tertawa begitu keras sampai dia menyuruhku mengecilkan suara.

Ponselnya berbunyi.

Grup WhatsApp keluarga.

Doni mengirim foto atap rumah kontrakan yang bocor.

Di bawahnya ada pesan:

Mbak, nanti kalau sempat kita hitung biaya perbaikan. Aku bisa tanggung separuh.

Mira membaca.

Tidak langsung menjawab.

Dia meletakkan ponselnya telungkup di meja.

Kemudian berdiri mengambil dua gelas teh.

Dulu, setiap pesan dari keluarganya membuat tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.

Sekarang dia bisa membiarkan pesan menunggu.

Bukan karena tidak sayang.

Justru karena akhirnya dia mengerti bahwa sayang tidak harus selalu dibuktikan dengan menjadi orang pertama yang membuka dompet.

Aku melihat tiga amplop di meja.

Satu untuk rumah kami.

Satu untuk masa depan Mira sendiri.

Satu untuk keluarga yang tetap dia cintai, tetapi tidak lagi dia biarkan menentukan hidupnya.

Di luar, gerimis mulai turun.

Mira duduk di kursi sebelahku dan mendorong satu gelas teh ke arahku.

“Mas.”

“Hm?”

“Besok ingat bayar tukang kebun.”

Aku tersenyum.

“Bukannya kamu yang biasa ingat?”

“Makanya sekarang saya ingatkan Mas.”

Kami tertawa.

Dan anehnya, dari semua hal yang terjadi sejak map biru diletakkan di depan kami setahun lalu, momen kecil itulah yang paling membuatku lega.

Tidak ada rumah lama yang berhasil kami selamatkan.

Tidak ada keluarga yang berubah sempurna.

Tidak ada uang yang kembali seluruhnya.

Tapi Mira akhirnya punya sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar dia miliki.

Hak untuk mengatakan:

cukup.

Dan tetap mencintai keluarganya setelah itu.

Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, serta hubungan yang saling menghargai tanpa menjadikan rasa sayang sebagai alasan untuk melewati batas. Kalau kamu berada di posisi Mira, apakah kamu akan membeli kembali rumah itu jika sebenarnya mampu, atau memilih melepaskannya seperti yang dia lakukan? Aku ingin membaca pendapatmu di kolom komentar. Kalau cerita ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, kamu juga boleh membagikannya kepada orang lain yang mungkin pernah merasa harus selalu menjadi orang yang “paling mengerti” dalam keluarga.