Nama Misterius dalam Dokumen Lama Membuka Rahasia Suamiku, Sementara Kebohongan Ardi dan Sari Mulai Terbongkar Satu per Satu

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 61 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Nama Misterius dalam Dokumen Lama Membuka Rahasia Suamiku, Sementara Kebohongan Ardi dan Sari Mulai Terbongkar Satu per Satu

Perempuan itu menarik kursi dan duduk tepat di seberang Ardi. Tidak seorang pun berbicara. Bahkan suara kendaraan dari jalan di depan warung terasa lebih jelas daripada biasanya.

Sari masih memegang dokumen tua itu dengan tangan gemetar.

—Siapa Raka Pradana?

Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulutnya.

Ardi langsung menoleh kepadaku.

—Ibu tahu siapa dia?

Aku tidak menjawab. Aku sendiri baru mengetahui seluruh kebenarannya malam sebelumnya.

Perempuan paruh baya itu kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Ratih. Ia pernah bekerja bersama mendiang suamiku lebih dari tiga puluh tahun lalu.

Ratih membuka map kedua.

—Tanah ini dahulu bukan sepenuhnya milik ayahmu.

Ardi mengerutkan kening.

—Tapi sertifikatnya atas nama Ibu.

—Sekarang, iya. Namun kamu belum mengetahui bagaimana tanah ini diperoleh.

Ratih kemudian menceritakan sesuatu yang bahkan tidak pernah disampaikan suamiku kepadaku.

Puluhan tahun lalu, ketika kami masih hidup sangat sederhana, suamiku membuka usaha bersama sahabatnya. Mereka menyewa sebuah tempat kecil, bekerja dari pagi hingga malam, lalu mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli tanah.

Sahabat itu bernama Raka.

Namun sebelum proses pembelian selesai, Raka meninggal karena sakit.

Ia meninggalkan seorang anak perempuan yang masih sangat kecil.

Sebelum meninggal, Raka menyerahkan sebagian tabungannya kepada suamiku. Uang itulah yang kemudian menjadi bagian penting dari pembayaran awal tanah tempat warung kami berdiri.

—Ayahmu tidak pernah menganggap uang itu miliknya, kata Ratih.

Ardi menunjuk dokumen.

—Kalau begitu kenapa nama Raka tertulis sebagai penerima manfaat?

Ratih menggeleng.

—Baca lebih teliti.

Pengacara yang datang bersamanya mengambil dokumen tersebut.

Ia menjelaskan bahwa surat itu bukan berarti tanah otomatis menjadi milik Raka ataupun keluarganya.

Suamiku telah membuat sebuah amanat.

Jika suatu hari tanah dijual atau dikembangkan dalam nilai besar, sebagian hasilnya harus diberikan kepada keturunan Raka sebagai pengembalian modal keluarga mereka.

Namun ada ketentuan kedua yang jauh lebih mengejutkan.

Hak pengelolaan tanah hanya boleh diwariskan kepada anak kami apabila anak tersebut menjaga warung dan menggunakannya untuk menopang keluarga.

Jika tanah hendak dijadikan jaminan utang tanpa persetujuanku, hak tersebut gugur.

Ardi membeku.

Sari buru-buru bertanya:

—Berarti tanahnya tetap milik Ibu?

Pengacara mengangguk.

—Sepenuhnya. Dan selama beliau hidup serta sehat secara hukum, tidak seorang pun berhak memindahkan atau menjaminkan aset tersebut tanpa persetujuan sah beliau.

Aku menatap Ardi.

—Itu sebabnya tanda tangan yang kuberikan kepadamu sengaja kubuat berbeda.

Wajah anakku berubah.

—Jadi Ibu menjebakku?

Aku hampir tertawa mendengarnya.

—Menjebakmu? Kamu mengatakan itu surat izin usaha.

—Aku hanya mencoba menyelamatkan bisnisku!

—Dengan mempertaruhkan rumah dan warung ibumu?

Ardi terdiam.

Sari tiba-tiba ikut bicara.

—Kami akan membayarnya kembali!

Aku menoleh kepadanya.

—Dengan apa?

Tidak ada jawaban.

Pengacaraku lalu mengeluarkan dokumen lain.

Ternyata utang usaha Ardi jauh lebih besar daripada yang mereka akui.

Mereka tidak hanya membutuhkan modal.

Mereka sedang dikejar beberapa kewajiban pembayaran.

Lebih menyakitkan lagi, selama berbulan-bulan mereka telah menghitung nilai tanahku, memperkirakan pinjaman yang bisa diperoleh, bahkan membuat rancangan pembangunan tanpa pernah bertanya kepadaku.

Aku memandang putraku.

—Kamu sudah merencanakan semuanya?

Ardi menunduk.

Sari justru mulai menangis.

—Kami panik.

Aku tidak membentaknya.

Aku hanya bertanya:

—Lalu rencana mengirimku tinggal bersama bibiku juga karena kalian panik?

Kepala Ardi langsung terangkat.

Ia tahu aku mendengarnya.

—Ibu…

—Aku berdiri di balik pintu ketika kalian membicarakannya.

Air mata yang tadi kutahan akhirnya memenuhi mataku.

—Aku memberikan tempat usaha kepadamu tanpa meminta sewa. Aku membantu membesarkan anakmu. Ketika usahamu pertama kali rugi, aku memakai tabunganku untuk membantumu. Tetapi dalam rencana masa depanmu, aku bahkan tidak mendapat kamar di rumahku sendiri.

Ardi menutup wajah.

Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, kesombongannya benar-benar runtuh.

Namun aku belum selesai.

Aku menoleh kepada Ratih.

—Di mana anak Raka sekarang?

Ratih tersenyum tipis.

—Itulah alasan saya datang.

Ia membuka ponselnya dan menunjukkan foto seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun bersama dua anak.

Namanya Maya.

Ia tinggal jauh dari kami dan bekerja sebagai guru.

Maya bahkan tidak mengetahui bahwa keluarganya memiliki hubungan dengan tanah tersebut.

Ayahku—suamiku—ternyata pernah mencoba mencarinya, tetapi gagal mendapatkan alamat yang benar sebelum kesehatannya memburuk.

—Maya tidak meminta tanah ini, jelas Ratih. Ketika saya menghubunginya dan menjelaskan semuanya, dia hanya mengatakan satu hal: kalau memang ayahnya pernah membantu, dia tidak ingin bantuan itu menjadi alasan untuk menghancurkan keluarga orang lain.

Aku menunduk.

Entah mengapa kalimat itu membuat dadaku sesak.

Seorang perempuan yang tidak pernah menerima apa pun dariku justru lebih memikirkan keluargaku daripada anakku sendiri.

Ardi perlahan duduk.

—Berapa bagian yang menjadi haknya?

Pengacara menyebutkan persentasenya.

Tidak sebesar yang kami takutkan, tetapi nilainya tetap sangat berarti karena harga tanah telah meningkat berkali-kali lipat.

Ardi menatap meja.

Kemudian ia berkata pelan:

—Kalau tanah tidak bisa dijaminkan, aku mungkin kehilangan usahaku.

Aku memandangnya lama.

—Mungkin.

Ia menatapku dengan mata merah.

—Ibu tidak akan membantu?

Aku menarik napas.

—Aku pernah membantu berkali-kali. Tetapi setiap kali aku menyelamatkanmu, kamu belajar bahwa selalu ada sesuatu milik Ibu yang bisa digunakan untuk memperbaiki kesalahanmu.

Ardi tidak mampu membalas.

Hari itu, aku membuat keputusan yang selama bertahun-tahun tidak pernah berani kubuat.

Aku mencabut izin Ardi dan Sari menggunakan bagian belakang warung untuk usaha mereka.

Aku juga mengubah seluruh akses rekening, dokumen, dan surat penting.

Mereka diberi waktu satu bulan untuk memindahkan barang-barangnya.

Sari menangis.

Ardi tidak mengatakan apa-apa.

Sebelum pergi, ia berhenti di pintu.

—Apa Ibu masih menganggapku anak?

Pertanyaan itu hampir menghancurkan pertahananku.

Aku berjalan mendekatinya.

—Kamu tetap anakku. Justru karena itu Ibu tidak akan membiarkanmu menjadi orang yang mengambil milik ibunya sendiri lalu menyebutnya sebagai hak warisan.

Ardi menunduk dan pergi.

Aku mengira semuanya berakhir di sana.

Ternyata tidak.

Tiga minggu kemudian, ketika batas waktu pemindahan usaha hampir selesai, sebuah amplop dikirim ke warung.

Di dalamnya terdapat salinan laporan transaksi.

Aku membacanya sekali.

Lalu dua kali.

Ada transfer yang tidak pernah kukenal.

Jumlahnya besar.

Dan semuanya berasal dari rekening usaha Ardi menuju sebuah rekening atas nama orang lain.

Aku segera menelepon pengacara.

Ia memeriksanya dan malam itu meneleponku kembali.

—Besok jangan temui Ardi sendirian.

Jantungku langsung berdegup cepat.

—Kenapa?

Ia terdiam sebentar sebelum menjawab:

—Karena berdasarkan dokumen yang baru saya temukan, kemungkinan besar putra Ibu sendiri tidak tahu uang itu pergi ke mana.

Aku menggenggam telepon lebih erat.

—Lalu siapa yang mengambilnya?

Pengacara menyebut sebuah nama.

Aku berdiri membeku di dapur.

Itu adalah nama yang sangat kukenal.

Dan untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa mungkin Ardi bukan satu-satunya orang yang selama ini berbohong kepadaku.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)