BAGIAN 2 — Nama Pamanku Muncul dalam Dokumen 60 Miliar, tetapi Rekaman Rahasia Membuktikan Suamiku Telah Merencanakan Semuanya Jauh Sebelum Pernikahan Kami
Nama yang tercantum di bawah tanda tangan suamiku adalah nama pamanku sendiri, adik kandung ayah yang selama hampir lima belas tahun dipercaya mengurus bagian pengadaan perusahaan keluarga.
Aku menatap dokumen itu sampai pandanganku terasa kabur.
—Ayah… kenapa nama Paman ada di sini?
Wajah Ayah mengeras.
—Itulah alasan Ayah memintamu membaca sampai akhir.
Kepala bagian audit kemudian meletakkan laptop di depanku. Dari hasil pemeriksaan awal, sebagian besar pembayaran 60 miliar rupiah disetujui melalui akun internal milik pamanku. Perusahaan pemasok milik ibu mertuaku hanyalah salah satu dari beberapa perusahaan yang menerima aliran dana.
Aku merasa seolah lantai di bawah kakiku runtuh.
Pamanku adalah orang yang menggendongku saat kecil. Ketika aku mulai bekerja di perusahaan keluarga, dialah yang mengajariku membaca laporan pengadaan.
Bagaimana mungkin dia melakukan ini?
Suara suamiku masih terdengar dari telepon.
—Sekarang kamu sudah tahu, kan? Jangan merasa keluargamu lebih bersih daripada keluargaku.
Nada takutnya telah berubah menjadi percaya diri.
—Kalau masalah ini dibongkar, bukan cuma aku yang jatuh. Keluargamu juga akan hancur. Jadi jangan bertindak bodoh.
Aku memejamkan mata beberapa detik.
Lalu aku bertanya:
—Jadi sejak awal kamu tahu Paman terlibat?
Dia terdiam.
Hanya dua detik.
Tetapi dua detik itu cukup memberiku jawaban.
Aku menyalakan pengeras suara.
—Jawab aku.
—Aku tidak tahu apa-apa.
—Kalau tidak tahu, kenapa kamu langsung mengatakan keluargaku akan ikut hancur padahal aku belum menyebut nama siapa pun?
Telepon mendadak sunyi.
Kemudian sambungan diputus.
Ayah menatapku.
—Jangan hubungi dia lagi. Mulai sekarang biarkan tim hukum yang bekerja.
Namun belum sampai sepuluh menit, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Kalau ingin tahu bagaimana semuanya dimulai, datanglah ke ruang arsip lantai bawah. Sendirian.”
Aku menunjukkan pesan itu kepada Ayah.
Tentu saja beliau melarangku pergi sendirian. Akhirnya kepala keamanan ikut turun, tetapi menunggu di luar.
Di dalam ruang arsip, seseorang telah menungguku.
Pamanku.
Wajahnya pucat dan matanya merah seperti tidak tidur semalaman.
Aku berdiri beberapa meter darinya.
—Kenapa?
Pamanku tidak membela diri.
Dia justru mengeluarkan sebuah perekam suara kecil dari sakunya dan meletakkannya di atas meja.
—Karena aku pengecut.
Aku terdiam.
Dia menjelaskan bahwa dua tahun lalu, ketika perusahaan sedang memperbarui sistem pemasok, suamiku—yang saat itu masih menjadi calon suamiku—menemukan kelemahan dalam prosedur persetujuan pembayaran.
Dia mendekati pamanku.
Awalnya hanya meminta bantuan memasukkan satu pemasok baru.
Kemudian dua.
Kemudian mulai ada faktur dengan nilai yang sengaja dinaikkan.
Pamanku mendapat komisi.
Awalnya ratusan juta.
Lalu jumlahnya membesar.
Ketika pamanku ingin berhenti, suamiku sudah memiliki bukti transaksi pertama dan mengancam akan menyerahkannya kepada Ayah.
—Aku takut kehilangan semuanya.
Suara pamanku bergetar.
—Jabatan, keluarga, nama baik. Jadi aku terus menuruti dia.
Aku menatapnya tanpa simpati.
—Paman bukan korban. Paman mengambil uang itu.
Dia menundukkan kepala.
—Aku tahu.
Untuk pertama kalinya, dia tidak mencari alasan.
Kemudian dia mendorong alat perekam itu ke arahku.
—Karena itu selama enam bulan terakhir aku mulai merekam percakapan kami. Aku tahu suatu hari dia akan membuangku.
Aku menekan tombol putar.
Suara suamiku langsung memenuhi ruangan.
“Setelah perusahaan pemasok kita cukup besar, aku tidak membutuhkan keluarga istrimu lagi.”
Lalu suara pamanku terdengar.
“Bagaimana dengan istrimu?”
Suamiku tertawa.
“Aku menikahinya justru karena dia jalan termudah masuk ke perusahaan.”
Dadaku seperti ditusuk sesuatu.
Rekaman berlanjut.
“Kalau nanti aku sudah menguasai jaringan distribusi dan pemasok, aku tinggal membuatnya menandatangani beberapa dokumen. Kalau dia menolak, ada cara lain. Selama kami punya anak, dia tidak akan mudah pergi.”
Tanganku gemetar.
Tiba-tiba aku teringat bagaimana selama beberapa bulan terakhir suamiku berkali-kali membicarakan anak.
Aku selama ini menganggapnya hanya keinginan biasa seorang suami.
Ternyata baginya, seorang anak bahkan bisa menjadi alat untuk mengikatku.
Pamanku kemudian menyerahkan sebuah perangkat penyimpanan.
—Semua salinan transaksi ada di sini. Aku juga sudah membuat pernyataan tertulis. Aku siap bertanggung jawab.
Aku mengambilnya.
—Paman tahu ini mungkin berarti kehilangan jabatan dan menghadapi proses hukum?
Dia mengangguk.
—Aku tahu.
Aku meninggalkan ruang arsip tanpa mengatakan apa pun lagi.
Pengkhianatan tetaplah pengkhianatan, bahkan ketika dilakukan oleh keluarga sendiri.
Sore itu, tim hukum menyerahkan seluruh bukti kepada pihak berwenang dan bank terkait. Akses ke rekening perusahaan mencurigakan dibekukan sesuai prosedur, sementara pamanku dinonaktifkan dari seluruh jabatan sampai pemeriksaan selesai.
Tetapi kejutan terbesar datang menjelang malam.
Tim audit menemukan sesuatu pada uang muka rumah yang dibayar untuk Rani.
Rumah itu ternyata bukan dibeli untuk Rani seorang.
Dokumen pemesanan mencantumkan dua calon pemilik.
Rani.
Dan suamiku.
Tanggal pemesanan?
Empat bulan setelah pernikahan kami.
Aku tertawa ketika melihatnya.
Bukan karena lucu.
Melainkan karena akhirnya semua kepingan tersusun sempurna.
Rani bukan sekadar sahabat lama.
Dan liburan itu bukan kebetulan.
Mereka sudah menyiapkan kehidupan bersama menggunakan uangku.
Malam itu suamiku akhirnya kembali.
Perjalanan mereka gagal total. Setelah kartu diblokir dan rekening perusahaan mereka bermasalah, mereka tidak jadi terbang.
Dia datang ke rumah bersama ibu dan adiknya.
Rani tidak terlihat.
Begitu pintu terbuka, ibu mertuaku langsung berteriak:
—Kamu keterlaluan! Gara-gara kamu kami dipermalukan di bandara!
Aku duduk tenang di ruang tamu.
Di atas meja hanya ada satu benda.
Tas edisi terbatas milikku yang tadi pagi dibawa Rani.
Suamiku melihatnya dan wajahnya langsung berubah.
—Kenapa tas itu ada di sini?
Aku tersenyum.
—Rani mengirimkannya kembali lewat kurir.
Aku mendorong sebuah amplop ke arahnya.
—Bersama ini.
Dia membuka amplop.
Wajahnya seketika pucat.
Itu salinan dokumen pemesanan rumah atas nama mereka berdua.
Ibunya menatap dokumen itu.
—Rumah apa ini?
Suamiku buru-buru meremas kertas tersebut.
—Ini salah paham.
—Benarkah?
Aku menyalakan perekam suara.
Dan suara suamiku sendiri memenuhi ruang tamu.
“Aku menikahinya justru karena dia jalan termudah masuk ke perusahaan.”
Tidak ada seorang pun bergerak.
Wajah ibu mertuaku berubah putih.
Adik iparku menutup mulut.
Sedangkan suamiku menatapku seperti baru melihat orang asing.
Aku berdiri.
—Besok pagi, pengacaraku akan mengirimkan dokumen perceraian.
Dia tiba-tiba meraih lenganku.
—Tunggu. Kita masih bisa membicarakan semuanya.
Aku menarik tanganku.
—Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.
Tetapi tepat ketika aku hendak naik ke lantai atas, ponsel suamiku berdering.
Dia melihat layar.
Wajahnya seketika kehilangan seluruh warna.
Aku sempat melihat nama penelepon.
Rani.
Dia mengangkatnya dengan tangan gemetar.
Dan kalimat pertama Rani membuat semua orang di ruangan itu membeku.
—Kamu harus pergi sekarang. Mereka sudah menemukan rekening yang kita sembunyikan.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
