BAGIAN 2 — NAMAKU DI KONTRAK LAMA MEMBUNGKAM MEREKA, NAMUN BUKTI BERIKUTNYA MEMBUKA RAHASIA UANG YANG SELAMA INI DISEMBUNYIKAN SUAMIKU
Namaku tercetak jelas di halaman pertama kontrak itu.
Suamiku membaca dokumen tersebut sekali lagi, seolah berharap tulisan di sana akan berubah jika dia menatapnya cukup lama.
Adik perempuannya yang beberapa menit lalu masih tersenyum menerima ucapan selamat kini berdiri kaku.
Ibu mertuaku langsung merebut dokumen itu.
—Apa maksudnya ini?
Perwakilan bank menjawab dengan tenang.
—Empat tahun lalu, modal awal terbesar untuk usaha lama berasal dari dana milik istri putra Ibu. Berdasarkan dokumen pendirian dan bukti transaksi yang tersimpan, beliau memegang bagian terbesar dari usaha tersebut.
Ibu mertuaku menatapku.
—Tidak mungkin! Dia hanya menjual beberapa perhiasan!
Aku tersenyum tipis.
—Beberapa perhiasan, seluruh tabunganku, dan uang yang kutambahkan beberapa kali ketika toko kekurangan modal.
Suamiku tiba-tiba berkata,
—Tapi selama dua tahun terakhir aku yang mengelola toko!
—Mengelola bukan berarti memiliki semuanya.
Pria dari bank membuka dokumen berikutnya.
Bukti transfer.
Perjanjian modal.
Catatan pembayaran sewa.
Faktur pembelian peralatan.
Semuanya mencantumkan namaku.
Wajah suamiku semakin pucat.
Namun aku belum selesai.
Aku mengeluarkan salinan dokumen yang kudapatkan sehari sebelumnya.
—Sekarang kita bicara tentang ini.
Aku meletakkan bukti pembayaran rumah milik adik perempuannya di atas meja.
Lalu dokumen mobil.
Kemudian catatan dua simpanan uang dan biaya renovasi toko baru.
Para tamu mulai berbisik.
Adik suamiku langsung panik.
—Kak, kenapa semua itu dibawa ke sini? Ini urusan keluarga!
Aku menatapnya.
—Benar. Seharusnya ini urusan keluarga. Tapi kalian memilih mengadakan pesta untuk merayakan sesuatu yang dibeli menggunakan uang usaha kami tanpa persetujuanku.
Dia menatap kakaknya meminta bantuan.
Suamiku maju satu langkah.
—Kita pulang dan bicarakan semuanya. Jangan mempermalukan keluarga di depan orang banyak.
Aku hampir tertawa.
Kemarin, mereka tidak merasa sedang mempermalukanku ketika menyuruhku memakai celemek dan membantu melayani tamu di toko yang dibeli dari uangku.
Sekarang setelah kebenaran terbuka, tiba-tiba kehormatan keluarga menjadi penting.
—Aku tidak datang untuk mempermalukan siapa pun. Aku datang karena namaku digunakan tanpa izin.
Perwakilan dari kantor notaris kemudian maju.
Dia menunjukkan salinan dokumen pengalihan.
—Kami sudah membandingkan tanda tangan dalam dokumen ini dengan beberapa dokumen resmi sebelumnya. Ada perbedaan yang cukup jelas sehingga proses pengalihan kami hentikan sampai persoalan ini diselesaikan.
Adik suamiku langsung menatap kakaknya.
—Bukankah Kakak bilang semuanya sudah selesai?
Suamiku membentaknya.
—Diam!
Untuk pertama kalinya, aku melihat kepanikan nyata di wajahnya.
Aku bertanya,
—Siapa yang menandatangani namaku?
Dia tidak menjawab.
—Aku bertanya sekali lagi. Siapa yang memalsukan tanda tanganku?
Ibu mertuaku tiba-tiba berkata,
—Sudahlah! Memangnya kenapa kalau kami yang melakukannya? Kalian suami istri. Anak laki-lakiku sudah bekerja keras membesarkan usaha itu. Masa memberikan satu toko kepada adiknya saja harus meminta izinmu?
Semua orang terdiam.
Suamiku menoleh tajam kepada ibunya.
—Bu!
Tetapi sudah terlambat.
Aku memandang perempuan yang pernah kurawat berbulan-bulan setelah operasi.
—Jadi Ibu tahu?
Dia baru menyadari kesalahannya.
—Aku… maksudku…
Aku mengangguk perlahan.
Ternyata bukan hanya suamiku.
Mereka merencanakan semuanya bersama-sama.
Namun sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi.
Adik suamiku tiba-tiba berkata,
—Aku tidak tahu soal tanda tangan palsu!
Dia mundur beberapa langkah.
—Kakak hanya bilang Kakak dan Kakak Ipar sudah sepakat memberikan toko lama kepadaku setelah toko baru dibuka.
Suamiku langsung membentak,
—Jangan berpura-pura!
—Aku memang tidak tahu!
Dia mulai menangis.
—Aku tahu uang toko baru berasal dari Kakak. Aku salah karena menerimanya. Tapi aku tidak tahu Kakak memalsukan tanda tangan!
Pertengkaran mereka pecah di depan semua orang.
Aku tidak ikut campur.
Aku sudah terlalu lelah.
Aku hanya berkata kepada perwakilan bank,
—Lakukan sesuai prosedur.
Lalu aku berbalik pergi.
Suamiku mengejarku sampai ke tempat parkir.
Dia menarik lenganku.
—Tunggu!
Aku melepaskan tangannya.
—Jangan sentuh aku.
—Kamu benar-benar mau menghancurkan semua yang kita bangun selama empat tahun hanya karena masalah uang?
Aku menatapnya tak percaya.
—Masalah uang?
—Aku mengaku aku salah. Tapi aku melakukan semuanya untuk keluargaku.
—Lalu aku ini siapa?
Dia terdiam.
Aku melanjutkan,
—Empat tahun lalu ketika kamu tidak punya modal, siapa yang menjual peninggalan ibunya? Ketika toko rugi berbulan-bulan, siapa yang menggunakan tabungannya? Ketika ibumu operasi, siapa yang meninggalkan toko untuk merawat beliau?
Dia menunduk.
—Aku tahu.
—Tidak. Kamu tidak tahu. Kalau kamu tahu, kamu tidak akan menganggap semua yang kulakukan sebagai sesuatu yang tidak bernilai hanya karena aku tidak menerima gaji.
Dia mencoba menggenggam tanganku.
Aku mundur.
—Aku bisa mengembalikan semuanya.
—Yang hilang bukan cuma uang.
Aku membuka pintu mobil.
Sebelum masuk, aku mengatakan kalimat yang sebenarnya sudah kupikirkan sejak malam sebelumnya.
—Aku ingin bercerai.
Wajahnya berubah.
—Jangan bercanda.
—Aku tidak bercanda.
—Hanya karena satu kesalahan?
Aku menatapnya.
—Memalsukan tanda tanganku, mengambil uang usaha, membeli aset diam-diam, berbohong kepadaku selama lebih dari setahun, lalu membiarkan keluargamu menganggapku perempuan tidak berguna. Menurutmu itu satu kesalahan?
Dia tidak bisa menjawab.
Aku masuk ke mobil dan pergi.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidur di rumah kontrakan kecil yang kusewa atas namaku sendiri.
Anehnya, aku tidur lebih nyenyak daripada yang kubayangkan.
Beberapa hari kemudian, hasil pemeriksaan keuangan selesai.
Jumlah uang yang dialihkan ternyata jauh lebih besar daripada perkiraanku.
Namun ada satu kabar baik.
Karena dokumen usaha lama sangat lengkap, bagian kepemilikanku dapat dibuktikan dengan jelas.
Pengalihan toko dihentikan.
Aset yang dibeli menggunakan dana usaha mulai diperiksa satu per satu.
Suamiku terus menelepon.
Aku tidak menjawab.
Kemudian pesan-pesannya berubah.
Awalnya dia marah.
Lalu menyalahkanku.
Kemudian memohon.
“Aku salah.”
“Aku akan menjual mobil itu.”
“Rumah juga bisa kita ambil kembali.”
“Kita mulai dari awal.”
Aku hanya membalas satu kali.
“Kita akan menyelesaikan semuanya melalui jalur yang benar.”
Dua minggu kemudian, kami bertemu bersama penasihat hukum dan akuntan.
Suamiku terlihat jauh lebih kurus.
Di hadapanku, dia menandatangani kesepakatan untuk mengembalikan dana usaha yang dapat dipertanggungjawabkan.
Toko baru tidak jadi dibuka.
Mobil dijual.
Sebagian dana dikembalikan.
Rumah yang dibeli atas nama adiknya kemudian masuk ke dalam proses penyelesaian aset sesuai dokumen transaksi yang tersedia.
Namun sebelum pertemuan berakhir, suamiku menatapku dan berkata,
—Kalau semua uang itu sudah kembali, apakah kamu masih akan bercerai?
Aku menutup map di hadapanku.
—Ya.
Matanya memerah.
—Kenapa?
Aku berdiri.
—Karena uang bisa dikembalikan. Kepercayaan tidak selalu bisa.
Aku meninggalkan ruangan.
Kupikir setelah itu semuanya akan berakhir.
Ternyata aku salah.
Tiga hari kemudian, aku menerima telepon dari seorang pemasok lama.
Dia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.
—Bu, ada satu hal yang sebaiknya Ibu lihat sendiri. Ini berkaitan dengan toko lama dan sudah berlangsung hampir dua tahun.
Aku terdiam.
—Apa?
Dia menarik napas.
—Suami Ibu bukan hanya memindahkan uang.
—Lalu apa?
Jawabannya membuatku menggenggam ponsel lebih erat.
—Dia diam-diam menjual sebagian barang menggunakan pembukuan kedua. Dan saya tahu di mana buku itu disimpan.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
