Orang dari Masa Lalu Membuka Rahasia Rumah Itu, Sementara Satu Nama dalam Dokumen Membuat Pengkhianatan Keluargaku Terlihat Jauh Lebih Dalam

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 104 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Orang dari Masa Lalu Membuka Rahasia Rumah Itu, Sementara Satu Nama dalam Dokumen Membuat Pengkhianatan Keluargaku Terlihat Jauh Lebih Dalam

Aku berdiri terpaku menatap pintu.

Suara itu sudah bertahun-tahun tidak kudengar, tetapi aku masih mengenalinya.

Aku berjalan perlahan lalu membuka pintu.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di sana. Rambutnya sudah banyak memutih. Di tangannya ada map hitam yang tampak tua.

Aku hampir tidak percaya.

—Pak?

Dia adalah mantan rekan kerja suamiku.

Dulu mereka bekerja bersama selama belasan tahun. Setelah suamiku meninggal, ia beberapa kali datang membantuku mengurus dokumen, lalu pindah mengikuti keluarganya dan kami kehilangan kontak.

Tatapannya berpindah dari wajahku kepada adikku.

—Sepertinya saya datang tepat waktu.

Adikku langsung berdiri.

—Ini urusan keluarga kami. Bapak tidak perlu ikut campur.

Pria itu tersenyum tipis.

—Kalau benar hanya urusan keluarga, saya tidak akan datang.

Ia masuk dan meletakkan map hitam di meja.

Aku menunjuk nama penerima rumah pada dokumen di depanku.

—Apa Bapak tahu orang ini?

Dia tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, ia membuka map yang dibawanya dan mengeluarkan beberapa lembar fotokopi lama.

—Suamimu pernah meminta saya menyimpan ini.

Aku semakin bingung.

—Suamiku?

—Beberapa bulan sebelum meninggal, dia mulai curiga ada seseorang yang berusaha mendapatkan rumah ini melalui keluargamu.

Ruangan mendadak sunyi.

Ibuku masih tersambung melalui pengeras suara.

Dari telepon terdengar napasnya yang semakin berat.

Aku melihat dokumen lama itu.

Di salah satu lembar terdapat nama yang sama dengan nama calon penerima rumah.

—Siapa dia?

Pria itu menarik napas panjang.

—Orang yang dulu meminjamkan uang kepada adikmu.

Aku menoleh tajam.

Adikku langsung berkata:

—Itu sudah lama!

—Benar, sudah lama. Tapi utangnya belum pernah benar-benar selesai.

Mantan rekan suamiku kemudian menjelaskan semuanya.

Beberapa tahun sebelumnya, tanpa sepengetahuanku, adikku pernah mencoba membuka usaha bersama seorang kenalan. Usahanya gagal dan meninggalkan utang besar.

Saat itu suamiku mengetahuinya.

Adikku pernah datang meminta bantuan.

Namun suamiku menolak memberikan rumah kami sebagai jaminan.

Ia hanya bersedia membantu sebagian kecil utang dengan syarat adikku harus menyelesaikan sisanya sendiri.

Rupanya sejak saat itulah rumah ini mulai diincar.

—Suamimu khawatir suatu hari mereka akan memanfaatkan kebaikanmu.

Aku menatap map di meja.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Beberapa minggu sebelum meninggal, suamiku pernah berkata kepadaku:

“Kalau suatu hari ada orang meminta dokumen rumah, jangan berikan kepada siapa pun, bahkan keluarga sendiri.”

Saat itu kupikir ia hanya terlalu berhati-hati.

Sekarang baru kupahami.

Aku menatap adikku.

—Jadi dua tahun lalu, ketika kamu datang mengatakan kehilangan pekerjaan…

Ia menunduk.

—Aku memang kehilangan pekerjaan.

—Tapi warung itu bukan tujuan sebenarnya?

Adik iparku buru-buru menjawab:

—Awalnya memang untuk berjualan!

—Awalnya?

Ia langsung terdiam.

Pria berkemeja yang sejak tadi memeriksa dokumen menutup laptopnya.

—Kami perlu menghentikan proses kerja sama ini sampai status seluruh dokumen jelas.

Adikku panik.

—Tidak bisa! Kami sudah menerima uang muka!

—Itu justru masalahnya.

Perempuan pembawa dokumen ikut berkata:

—Jika pemilik rumah tidak pernah memberikan persetujuan, transaksi itu harus diperiksa kembali.

Aku melihat adikku.

—Berapa banyak utangmu?

Ia tidak menjawab.

—Aku bertanya, berapa banyak?

Adik iparku tiba-tiba menangis.

—Kak, kami tidak punya pilihan.

Aku hampir tertawa mendengarnya.

—Tidak punya pilihan?

Aku menunjuk lantai.

—Aku memberi kalian tempat ini gratis selama dua tahun. Aku membayar listrik dan air tiga bulan pertama. Aku membelikan peralatan. Kalian menghasilkan uang di rumahku. Lalu pilihan kalian adalah memalsukan tanda tanganku?

—Kami berniat mengembalikannya nanti.

—Mengembalikan apa? Rumahku?

Adikku akhirnya kehilangan kesabaran.

—Kakak hidup sendiri! Kakak tidak punya anak! Kalau rumah sebesar ini akhirnya diwariskan kepada keluarga, apa bedanya sekarang atau nanti?

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada semua dokumen palsu di meja.

Jadi begitulah mereka melihatku.

Seorang perempuan tanpa anak.

Seorang janda yang suatu hari akan meninggal.

Dan rumahku hanyalah sesuatu yang sedang menunggu dibagikan.

Dari pengeras suara tiba-tiba terdengar suara Ibu.

—Cukup!

Kami semua terdiam.

Suara Ibu bergetar.

—Kamu bilang kepada Ibu hanya perlu tanda tangan untuk memperpanjang izin warung.

Adikku menegang.

—Ibu…

—Kamu tidak pernah bilang akan mengambil rumah kakakmu!

Untuk pertama kalinya aku sadar bahwa Ibu memang membantu mereka, tetapi mungkin ia tidak mengetahui seluruh rencana.

Aku mengambil telepon.

—Ibu, tanda tangan apa yang Ibu berikan?

Ibu terisak.

Beberapa minggu sebelumnya, adikku membawa sebuah dokumen dan mengatakan diperlukan saksi keluarga untuk kerja sama bisnis.

Ibu menandatanganinya tanpa membaca dengan teliti.

Ia juga menyerahkan salinan kartu keluarga lama karena adikku mengatakan diperlukan untuk verifikasi hubungan keluarga.

Aku memejamkan mata.

Itulah sebabnya mereka memiliki begitu banyak informasi pribadiku.

Adikku membantah:

—Aku tidak pernah berniat membuat Kakak kehilangan rumah!

Pria tua di sampingku mengeluarkan satu lembar lagi.

—Kalau begitu, jelaskan ini.

Itu adalah salinan percakapan dan bukti pertemuan antara adikku dengan orang yang namanya tercantum sebagai calon penerima rumah.

Ada satu kalimat yang membuat wajah adikku benar-benar kehilangan warna.

“Begitu rumah dialihkan, sisa utang dianggap lunas.”

Aku menatapnya.

—Kamu menukar rumahku dengan utangmu?

Ia jatuh duduk.

Adik iparku mulai menangis lebih keras.

Namun kali ini aku tidak merasa iba.

Aku justru merasa sangat tenang.

Aku mengumpulkan seluruh dokumen di meja.

—Tidak ada satu lembar pun yang dibawa keluar sebelum semuanya disalin.

Lalu aku menghubungi seorang kenalan yang bekerja di bidang hukum dan meminta bantuan.

Siang itu juga, kami membuat catatan lengkap mengenai dokumen yang diduga dipalsukan, transaksi yang telah terjadi, serta permohonan pengalihan yang belum selesai.

Aku juga meminta agar tidak ada proses apa pun terhadap rumahku tanpa verifikasi langsung dariku.

Adikku duduk di sudut ruangan seperti kehilangan tenaga.

Menjelang sore, aku berdiri di depan pintu warung.

—Kalian punya tiga hari untuk mengeluarkan barang pribadi kalian.

Adik iparku menatapku tak percaya.

—Kakak benar-benar mengusir kami?

—Aku sedang mengambil kembali rumahku.

Adikku berdiri.

—Kalau aku pergi sekarang, usahaku habis.

Aku memandangnya lama.

—Dua tahun lalu kamu datang sebagai adikku. Aku membuka pintu.

Aku menunjuk dokumen di meja.

—Hari ini aku tahu kamu menggunakan pintu yang kubuka untuk mencoba mengambil seluruh rumah.

Ia tidak mampu menatapku.

Malam itu, setelah semua orang pergi, aku duduk sendirian di lantai bawah.

Untuk pertama kalinya setelah dua tahun, warung itu sunyi.

Aku melihat bekas minyak di dinding, meja-meja yang memenuhi ruangan, dan gudang yang kuncinya bahkan bukan milikku.

Aku mengambil palu kecil dari kotak peralatan.

Dengan tanganku sendiri, kulepaskan papan bertuliskan “Cabang 1”.

Saat papan itu jatuh ke lantai, aku merasa seolah sesuatu yang berat ikut terlepas dari dadaku.

Namun aku belum tahu bahwa keesokan paginya, satu pesan dari nomor tak dikenal akan membalik keadaan sekali lagi.

Pesan itu hanya berisi sebuah foto.

Foto adikku sedang menyerahkan map cokelat kepada seseorang.

Di bawahnya terdapat satu kalimat:

“Kalau Ibu ingin tahu siapa yang membuat rencana pemalsuan dokumen itu, datanglah besok pagi. Adik Ibu bukan orang yang memulainya.”

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)