PINTU RUANG KERJA TERBUKA, DAN PENGAKUAN ARGA TENTANG BAYI YANG DIANGGAP TELAH TIADA MENGUBAH SELURUH HIDUPKU DALAM SATU MALAM

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 83 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — PINTU RUANG KERJA TERBUKA, DAN PENGAKUAN ARGA TENTANG BAYI YANG DIANGGAP TELAH TIADA MENGUBAH SELURUH HIDUPKU DALAM SATU MALAM

Langkah kaki Arga berhenti tepat di depan pintu ruang kerja.

Aku berdiri dengan ponsel lamanya di tangan. Dadaku berdebar begitu keras sampai aku hampir tidak mendengar suara gagang pintu bergerak.

Pintu terbuka.

Arga berdiri di sana.

Dia masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat meninggalkan rumah pagi tadi. Tidak ada koper perjalanan. Tidak ada wajah lelah setelah perjalanan jauh.

Artinya sejak awal dia tidak pernah pergi ke luar kota.

Tatapan Arga langsung jatuh pada ponsel di tanganku.

Wajahnya memucat.

—Kamu sudah melihat semuanya?

Aku mundur satu langkah.

—Belum. Tapi sekarang kamu akan menceritakan semuanya.

Arga masuk lalu menutup pintu.

—Aku bisa menjelaskan.

—Enam tahun, Arga. Kamu punya enam tahun untuk menjelaskan.

Dia menunduk.

Aku menunjukkan foto hasil tes DNA.

—Anak itu siapa?

Arga tidak menjawab.

—Kalau dia bukan anakmu, mengapa dia memanggilmu Ayah?

—Karena aku yang memintanya.

Jawaban itu membuatku semakin bingung.

—Kenapa?

Arga menarik kursi, tetapi aku langsung berkata:

—Jangan duduk. Aku ingin kamu menatapku ketika mengatakan yang sebenarnya.

Dia akhirnya mengangkat kepala.

—Karena anak itu bukan putriku.

Arga berhenti sebentar.

—Dia putrimu.

Aku merasa seluruh ruangan berputar.

—Apa?

—Anak perempuan itu adalah anak kandungmu.

Aku tertawa kecil karena begitu mustahilnya kalimat tersebut.

—Aku hanya pernah melahirkan satu anak.

Wajah Arga berubah.

Bukan rasa bersalah semata.

Ada kesedihan yang sangat dalam.

—Tidak. Kamu pernah melahirkan dua anak.

Tanganku melemah.

Enam tahun lalu, sebelum putra kami lahir, aku memang pernah hamil.

Kehamilan pertamaku berakhir dengan sebuah malam yang selama bertahun-tahun berusaha kulupakan.

Saat usia kandunganku hampir delapan bulan, aku mengalami pendarahan hebat.

Aku dibawa ke sebuah rumah sakit swasta.

Aku hanya mengingat lampu putih di atas ranjang, suara orang-orang berlari dan tangan Arga menggenggam tanganku sebelum aku kehilangan kesadaran.

Ketika terbangun, ibu mertuaku duduk di samping ranjang.

Arga berdiri dekat jendela.

Mereka mengatakan bayiku tidak berhasil diselamatkan.

Aku tidak pernah melihatnya.

Dokter mengatakan kondisiku terlalu lemah.

Pemakaman diurus keluarga karena aku masih dirawat.

Selama bertahun-tahun, aku hidup dengan keyakinan bahwa anak pertamaku telah tiada.

Aku menatap Arga.

—Jangan gunakan anakku yang sudah meninggal untuk membuat kebohongan baru.

Air mata memenuhi matanya.

—Dia tidak meninggal.

Aku menamparnya.

Suara tamparan terdengar keras.

Arga tidak melawan.

—Kamu tahu?

—Aku baru tahu beberapa bulan setelah kejadian itu.

Aku hampir tidak mampu berdiri.

Arga membuka sebuah folder tersembunyi di lemari.

Di dalamnya ada salinan dokumen rumah sakit.

—Malam itu kamu melahirkan seorang bayi perempuan. Dia lahir prematur dan harus dirawat intensif. Ayahmu datang ke rumah sakit. Ibuku juga ada di sana.

—Lalu kenapa semua orang mengatakan dia meninggal?

Arga menutup mata.

—Karena ada persoalan warisan.

Aku teringat dokumen lama tadi.

Ayahku berasal dari keluarga yang memiliki beberapa bidang tanah dan usaha yang diwariskan turun-temurun. Aku anak tunggal.

Dalam perjanjian lama keluarga, jika aku mempunyai dua keturunan langsung, sebagian aset tertentu akan otomatis dialihkan kepada kedua anak tersebut dan tidak dapat dijual oleh wali keluarga.

Aku mulai memahami sesuatu yang jauh lebih buruk.

—Ayahku melakukan ini?

—Tidak.

Arga cepat menggeleng.

—Ayahmu justru berusaha menghentikannya.

Dia menyerahkan sebuah surat kepadaku.

Tulisan tangan ayahku.

“Jika suatu hari kamu membaca surat ini, berarti aku gagal mengembalikan sesuatu yang seharusnya tidak pernah diambil darimu.”

Air mataku jatuh.

Arga melanjutkan.

Orang yang mengatur semuanya ternyata paman dari pihak ayahku, yang saat itu mengelola sebagian besar aset keluarga.

Jika bayi keduaku tercatat hidup, kendalinya terhadap sejumlah tanah dan usaha akan berakhir.

Maka melalui seseorang di rumah sakit, kelahiran anakku disembunyikan.

Bayi itu dipindahkan.

Dokumen dibuat seolah dia tidak selamat.

—Lalu ibu kamu?

—Ibuku mengetahui ada sesuatu yang salah. Dia menemukan bayi itu beberapa hari kemudian melalui seorang perawat yang merasa bersalah.

—Kenapa tidak langsung memberitahuku?

Arga menunduk.

—Karena mereka mengancam kami.

Keluarga yang terlibat memiliki dokumen, uang, dan hubungan yang cukup kuat untuk membuat siapa pun ketakutan.

Ayahku diam-diam berusaha mengumpulkan bukti.

Ibu mertua membantu menyembunyikan anak itu sementara.

Awalnya hanya beberapa minggu.

Kemudian menjadi berbulan-bulan.

Lalu bertahun-tahun.

—Dan kamu membiarkan aku menangisi anakku selama enam tahun?

Suara Arga pecah.

—Itulah kesalahan terbesar dalam hidupku.

Dia mengetahui kebenaran ketika anak itu berusia empat bulan.

Namun saat itu, ayahku memintanya menunggu sampai bukti cukup kuat.

Arga menurut.

Setelah ayahku meninggal empat tahun lalu, Arga seharusnya memberitahuku.

Tetapi dia takut.

Takut aku akan membencinya.

Takut orang-orang yang dulu menyembunyikan anak itu akan kembali.

Takut kehilangan keluarga kami.

Maka dia melakukan sesuatu yang justru membuat semuanya semakin buruk.

Dia terus berbohong.

Aku membuka foto perempuan muda yang sering datang ke rumah itu.

—Dia siapa?

—Perawat yang membantu menyelamatkan anak kita. Setelah kejadian itu, dia meninggalkan rumah sakit. Dia membantu ibu merawatnya.

—Dan kakakmu?

—Dia membayar kebutuhan tambahan supaya transaksi dari rekening kita tidak terlalu mencolok.

Aku menatap Arga lama sekali.

Kemudian sebuah pikiran menghantamku.

—Siapa nama anakku?

Arga terdiam.

—Naira.

Aku menutup mulut.

Nama itu.

Nama yang pernah kutulis di halaman belakang buku kehamilanku.

Jika bayiku perempuan, aku ingin memanggilnya Naira.

Aku tidak pernah memberitahu siapa pun selain Arga.

Lututku melemas.

—Aku mau bertemu dengannya.

—Sekarang?

—Sekarang.

Kurang dari satu jam kemudian kami berhenti di depan rumah yang selama tiga tahun dibayar Arga secara diam-diam.

Ibu mertuaku membuka pintu.

Begitu melihatku, wajahnya langsung berubah.

Dia tidak mengatakan apa pun.

Dia hanya menangis.

—Di mana dia?

Ibu mertua menunjuk ruang belakang.

Aku berjalan perlahan.

Naira sedang duduk di meja kecil, menggambar rumah dengan krayon.

Dia mengangkat kepala ketika melihatku.

Mata itu.

Aku baru menyadarinya sekarang.

Bentuk matanya sama seperti mataku.

Naira berdiri.

—Tante yang kemarin ada di mobil, ya?

Aku tidak mampu menjawab.

Dia menatap Arga.

—Ayah, siapa dia?

Arga berlutut.

Air matanya jatuh.

—Naira, ada sesuatu yang harus Ayah ceritakan.

Namun sebelum dia sempat melanjutkan, terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.

Ibu mertua melihat keluar jendela.

Wajahnya langsung pucat.

—Arga…

—Kenapa?

—Mereka datang.

Dua pria turun dari sebuah mobil.

Salah satunya membawa map tebal.

Pria yang lebih tua berjalan menuju pintu dan berkata dengan suara keras:

—Kami datang untuk membawa anak itu. Perintah pengadilan sudah keluar pagi ini.

Aku spontan menarik Naira ke belakang tubuhku.

—Siapa kalian?

Pria itu menatapku lama.

Kemudian tersenyum tipis.

—Akhirnya kamu tahu juga bahwa putrimu masih hidup.

Dia mengangkat map di tangannya.

—Sayangnya, mengetahui kebenaran dan bisa membawa pulang anakmu adalah dua hal yang sangat berbeda.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)