BAGIAN 2
“Aku pernah ubah, Dok.”
Suara Dina begitu pelan sampai aku sempat mengira aku salah dengar.
Bima langsung menoleh.
“Nggak usah ngomong seolah-olah kamu melakukan itu terus.”
Dina memandangnya.
“Aku nggak bilang terus.”
Dokter tidak bereaksi pada ketegangan mereka.
“Yang penting sekarang bukan mencari siapa yang salah. Saya perlu tahu pola sebenarnya supaya kami bisa menangani Naufal dengan tepat.”
Aku duduk diam.
Dina mulai menjelaskan.
Beberapa minggu terakhir, persediaan susu Naufal memang dibuat bertahan lebih lama.
Tidak setiap botol.
Tidak juga sejak lahir.
Awalnya hanya sesekali.

Menurut Dina, Bima mengatakan pengeluaran rumah mereka sedang terlalu besar.
Popok.
Obat.
Kontrol dokter.
Susu.
Kontrakan.
Cicilan motor.
“Mas bilang cuma sementara,” kata Dina.
Aku memandang menantuku.
Bima mengusap wajah.
“Gaji bulan ini memang lagi kepotong banyak, Bu.”
“Kenapa?”
“Nanti kita bicarakan.”
“Aku sedang bertanya sekarang.”
“Ini rumah sakit.”
“Justru karena kita ada di rumah sakit.”
Dina memegang lenganku.
“Ma.”
Aku berhenti.
Dokter menjelaskan bahwa susu bayi harus disiapkan sesuai petunjuk dan kebutuhan bayi, bukan berdasarkan keinginan agar persediaan bertahan lebih lama. Kondisi Naufal perlu dipantau dan diperbaiki secara bertahap.
Mendengar itu, kemarahanku tidak langsung meledak.
Aneh sekali.
Aku justru merasa kosong.
Aku menatap bayi yang sedang berbaring di tempat tidur kecil.
Tiga bulan.
Dia bahkan belum bisa mengatakan lapar.
Belum bisa mengatakan haus.
Orang dewasa di sekelilingnya yang seharusnya membaca kebutuhannya.
Aku menoleh kepada Dina.
“Kenapa nggak bilang Mama kalau kalian lagi kesulitan?”
Dia menangis.
“Aku malu.”
“Untuk beli susu anakmu?”
“Bukan begitu.”
Bima memotong.
“Kami nggak minta bantuan karena sebenarnya masih bisa mengatasi.”
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
“Naufal masuk IGD.”
“Itu bukan karena kami nggak mampu beli susu.”
“Terus karena apa?”
Bima menatapku beberapa detik.
“Karena kami salah memperkirakan.”
Kalimat itu membuatku lebih marah daripada jika dia berteriak.
Salah memperkirakan.
Seolah sedang membahas stok semen di gudang tempatnya bekerja.
Dokter meminta kami menurunkan emosi dan memberi waktu kepada tim medis.
Naufal harus diobservasi.
Dina tinggal di sampingnya.
Bima keluar untuk menerima telepon.
Aku mengikutinya.
Dia sedang berdiri di ujung koridor, berbicara cepat.
“Pokoknya jangan telepon aku terus. Aku lagi di rumah sakit.”
Dia menutup telepon begitu melihatku.
“Siapa?”
“Teman kerja.”
“Teman kerja yang mana?”
Bima memasukkan ponsel ke saku.
“Bu, saya tahu Ibu marah. Saya juga panik.”
“Gajimu dipotong untuk apa?”
Rahangnya mengeras.
“Nanti.”
Aku hampir membentaknya.
Tapi kemudian aku ingat satu hal.
Dua bulan sebelumnya, Bima pernah datang ke rumahku sendirian.
Dia bertanya apakah aku berniat menjual sebidang tanah kecil peninggalan suamiku di pinggir Kabupaten Malang.
Kupikir dia hanya penasaran.
Katanya ada kenalannya mencari tanah.
Aku menjawab tidak.
Tanah itu kusimpan sebagai pegangan hari tua.
Saat itu Bima hanya berkata, “Sayang kalau cuma ditumbuhi rumput.”
Aku tidak pernah memikirkannya lagi.
Sekarang kalimat itu kembali.
Aku masuk ke kamar dan bertanya kepada Dina.
“Keuangan kalian sebenarnya kenapa?”
Dina tidak langsung menjawab.
“Utang?”
Dia menatap Naufal.
“Aku nggak tahu semuanya.”
“Dina.”
“Mas Bima bilang ada urusan keluarga.”
“Keluarga siapa?”
“Keluarganya.”
Sedikit demi sedikit, cerita yang awalnya kukira hanya soal susu mulai berubah bentuk.
Adik laki-laki Bima, Arman, membuka bengkel motor hampir dua tahun lalu.
Usahanya sempat bagus.
Kemudian dia pindah tempat, mengambil pinjaman untuk renovasi dan membeli peralatan.
Bima membantu.
Awalnya beberapa juta.
Lalu lebih banyak.
“Ibu Mertua bilang kalau bengkel itu tutup, Arman nggak punya penghasilan,” kata Dina.
“Berapa yang Bima kasih?”
“Aku nggak tahu.”
“Kamu istrinya.”
“Aku tahu.”
Nada suaranya membuatku berhenti.
Bukan marah kepadaku.
Marah kepada dirinya sendiri.
Tiga bulan sebelumnya, Bima mulai memegang hampir seluruh pengeluaran rumah.
Katanya supaya keuangan lebih teratur karena Dina sedang cuti.
Uang belanja dikirim mingguan.
Dina tidak lagi memegang kartu ATM rekening tempat gaji Bima masuk.
Aku merasakan sesuatu bergerak pelan di perutku.
“Tabunganmu waktu kerja dulu?”
Dina menatapku.
“Masih ada.”
“Berapa?”
“Sekitar Rp38 juta terakhir kali aku cek.”
“Kapan terakhir?”
Dia berpikir.
“Hampir dua bulan.”
Aku membuka mulut untuk bicara, tapi pintu kamar terbuka.
Bima masuk.
“Bu, tolong jangan bikin Dina tambah stres.”
Aku berdiri.
“Berikan ponselmu ke Dina.”
“Apa?”
“Mobile banking rekening tabungannya.”
“Itu rekening Dina.”
“Makanya.”
Bima menatap istrinya.
Dina tidak bergerak.
Akhirnya dia mengambil ponselnya sendiri dan membuka aplikasi bank.
Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
“Mas.”
Bima membuang pandangan.
“Mas.”
“Aku bisa jelasin.”
“Kenapa saldo aku tinggal sembilan juta?”
Aku ikut melihat layar.
Ada beberapa transfer.
Nominalnya tidak sama.
Rp6 juta.
Rp8 juta.
Rp5 juta.
Rp10 juta.
Sebagian menuju rekening yang tidak kukenal.
Dina menutup mulut.
“Ini siapa?”
Bima duduk.
“Arman.”
Dina mulai menangis lagi.
“Kamu bilang cuma pinjam Rp5 juta.”
“Aku mau ganti.”
“Pakai apa?”
“Aku lagi cari cara.”
Saat itu aku mengira akhirnya mengerti.
Bima mengambil uang istrinya untuk menolong adiknya.
Karena malu mengaku, dia mulai menghemat kebutuhan rumah.
Aku salah.
Sore menjelang malam, ketika Dina sedang menemani Naufal dan Bima pergi membeli makanan, ponsel Dina yang tergeletak di meja berbunyi.
Sebuah SMS masuk dari bank yang namanya kukenal.
Bukan pemberitahuan transaksi.
Pesannya meminta Dina menghubungi bank terkait pengajuan pinjaman yang belum selesai diverifikasi.
Dina membacanya dua kali.
“Aku nggak pernah ajukan pinjaman.”
Aku menatapnya.
“Nominalnya?”
Dia membuka pesan berikutnya.
Wajahnya langsung pucat.
Rp120 juta.
Dan di bagian bawah tercantum satu jenis dokumen yang sudah diunggah sebagai pendukung pengajuan.
Slip penghasilan lama Dina.
Serta foto KTP-nya.
Kali ini masalahnya bukan lagi tentang Bima membantu adiknya.
Seseorang sedang mencoba membuat utang baru atas nama putriku.
Dan orang itu memiliki dokumen yang seharusnya hanya ada di lemari kamar mereka.
Malam itu aku tahu kami belum melihat seluruh masalahnya. Kalau kamu jadi Dina, apakah kamu masih akan menunggu penjelasan suami, atau langsung mengamankan semua rekening dan dokumenmu? Bagian 3 adalah saat kami akhirnya mengetahui seberapa jauh semuanya sudah berjalan.
BAGIAN 3
Dina tidak menunggu Bima kembali.
Dia langsung menelepon layanan resmi bank dari nomor yang tercantum di aplikasi, bukan dari SMS.
Aku duduk di sampingnya.
Tangannya gemetar saat menjawab pertanyaan verifikasi.
Petugas menjelaskan bahwa memang ada pengajuan pinjaman atas namanya, tetapi proses belum selesai karena masih membutuhkan beberapa konfirmasi.
Dina mengatakan dia tidak pernah mengajukannya.
Petugas menyarankan agar proses diblokir dan ia datang ke cabang pada hari kerja berikutnya untuk membuat pernyataan serta mengamankan akses rekening.
Begitu telepon berakhir, Dina menunduk.
“Ma.”
Aku memegang tangannya.
“Jangan pikirkan semuanya sekaligus.”
“Aku tinggal serumah sama dia.”
Aku tahu maksudnya.
Dokumen itu diambil bukan dari dompet orang asing.
Bukan dari meja kantor.
Bukan dari sampah.
Dari rumahnya sendiri.
Bima kembali membawa dua kotak nasi.
Begitu masuk, dia berhenti.
Dia melihat wajah Dina.
Lalu melihat ponsel di tangannya.
“Makan dulu,” katanya.
Dina tidak bergerak.
“Aku nggak lapar.”
“Nanti sakit.”
“Ada pengajuan pinjaman Rp120 juta atas namaku.”
Kotak makanan di tangan Bima perlahan turun.
Tidak jatuh.
Dia hanya menggenggamnya lebih kuat.
Aku memperhatikan wajahnya.
Untuk beberapa detik, tidak ada penyangkalan.
Itu sudah cukup bagiku.
Dina berdiri.
“Kamu yang ajukan?”
Bima melihat ke arah pintu kamar perawatan.
“Jangan di sini.”
“Jawab.”
“Dina.”
“Aku tanya satu kali lagi.”
Suara putriku rendah.
“Kamu yang mengajukan pinjaman pakai KTP aku?”
Bima mengembuskan napas.
“Aku baru mulai proses.”
Dina menatapnya seolah baru saja mendengar bahasa yang tidak ia mengerti.
“Baru mulai?”
“Belum cair.”
“Jadi kalau belum cair, nggak apa-apa?”
“Bukan begitu.”
Aku berdiri.
“Untuk apa Rp120 juta?”
Bima tidak menjawab.
“Bengkel Arman?” tanyaku.
Dia mengusap rambutnya.
“Sebagian.”
“Sebagian lagi?”
“Bu, saya lagi banyak masalah.”
“Semua orang punya masalah. Tidak semua orang memakai identitas istrinya untuk membuat utang.”
“Saya belum memalsukan tanda tangan apa pun.”
“Berarti itu pembelaanmu?”
Dia memandangku tajam.
“Saya bilang prosesnya belum selesai.”
Dina terduduk.
Bukan karena memaafkan.
Seperti kakinya mendadak kehilangan tenaga.
Aku mengambil salah satu kotak nasi dan meletakkannya di meja.
“Bima, duduk.”
“Saya nggak mau bikin keributan di rumah sakit.”
“Kita tidak sedang membuat keributan. Kita sedang membicarakan alasan cucuku dehidrasi sementara uang istrinya keluar tanpa sepengetahuannya dan ada pinjaman Rp120 juta atas namanya.”
Dia akhirnya duduk.
“Aku jelasin,” katanya kepada Dina.
“Jangan jelasin dari tengah,” jawab Dina. “Dari awal.”
Bima menatap tangannya.
Arman memang membuka bengkel dengan modal pinjaman.
Bima menjadi orang pertama yang membantu ketika usaha adiknya mulai kesulitan.
Awalnya Rp4 juta.
Lalu Rp7 juta.
Kemudian Rp12 juta.
Ibunya, Bu Yani, tahu Bima membantu.
Dina hanya tahu sebagian.
“Kenapa kamu bohong?” tanyanya.
“Karena setiap kali aku bilang soal Arman, kamu langsung kelihatan nggak suka.”
“Aku pernah melarang kamu bantu adikmu?”
“Nggak.”
“Terus?”
“Kamu pernah bilang kami harus punya batas.”
Dina tertawa hambar.
“Dan menurutmu solusinya bohong?”
Bima diam.
Ternyata masalah Arman jauh lebih besar daripada yang diketahui Dina.
Ada pinjaman usaha.
Tunggakan sewa.
Utang kepada pemasok suku cadang.
Beberapa pelanggan meminta pengembalian uang karena servis tidak selesai.
Arman menutup satu lubang dengan lubang lain.
Bima ikut masuk karena merasa jika berhenti membantu, semua uang yang sudah diberikan sebelumnya akan hilang.
“Kalau bengkel itu tutup sekarang, uangku nggak akan balik sama sekali,” katanya.
Aku menatapnya.
“Jadi kamu terus tambah uang supaya uang lama mungkin kembali?”
“Bukan cuma itu.”
“Lalu apa?”
“Arman adikku.”
Kalimat itu keluar dengan cepat.
Hampir refleks.
“Ibu sendirian. Sejak Bapak meninggal, saya yang diminta jaga keluarga.”
Aku diam.
Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu selain pembelaan dalam dirinya.
Takut.
Bima adalah anak sulung.
Ayahnya meninggal sebelas tahun lalu.
Adiknya saat itu baru lulus SMA.
Selama bertahun-tahun, keluarganya menganggap Bima orang yang bisa membereskan segalanya.
Tagihan rumah sakit ibunya.
Biaya kuliah Arman.
Perbaikan rumah.
Uang Lebaran.
Saat bengkel bermasalah, semua mata kembali kepadanya.
Aku memahami beban itu.
Tapi memahami bukan berarti membenarkan.
“Kalau masalahnya sebesar ini,” kataku, “kenapa kamu malah mengurangi kebutuhan Naufal?”
Bima menggeleng.
“Saya nggak bermaksud mengurangi kebutuhan dia.”
“Lalu apa namanya?”
“Aku pikir cuma sedikit lebih hemat.”
Dina menatap suaminya.
“Mas, kamu yang bilang satu kaleng harus tahan lebih lama.”
“Aku juga bilang kalau Naufal kelihatan lapar, buat lagi.”
“Kamu marah waktu susu habis cepat.”
“Aku nggak marah.”
“Kamu banting tutup kalengnya.”
Bima menutup mata.
Aku tidak pernah tahu soal itu.
Dina melanjutkan, suaranya mulai bergetar.
“Waktu aku bilang mau beli susu karena tinggal sedikit, kamu tanya kenapa bayi sekecil itu bisa menghabiskan uang sebanyak itu.”
“Aku lagi stres.”
“Kamu ngomong, ‘Anak orang lain juga minum susu, nggak bangkrut orang tuanya.’”
Bima tidak menjawab.
Aku melihat bagaimana rasa malu bekerja di keluarga.
Tidak selalu berbentuk teriakan.
Kadang seseorang hanya berhenti menceritakan hal kecil.
Lalu berhenti bertanya.
Kemudian mulai mengubah cara hidupnya supaya tidak memicu kemarahan orang lain.
Dina tidak dipukul.
Tidak dikurung.
Bima tidak pernah mengambil ponselnya.
Kalau dilihat dari luar, rumah tangga mereka biasa saja.
Tetapi sedikit demi sedikit, keputusan penting hanya bergerak satu arah.
Uang.
Pengeluaran.
Tabungan.
Bahkan susu bayi.
Semua melewati Bima.
“Aku pikir cuma sementara,” Dina berkata. “Aku pikir nanti kalau kondisi kerja Mas membaik, semuanya normal lagi.”
Bima memandangnya.
“Aku memang mau memperbaiki.”
“Kapan?”
“Setelah urusan Arman selesai.”
“Kalau nggak selesai?”
Tidak ada jawaban.
Dina menarik napas.
“Berarti hidup Naufal juga harus menunggu bengkel Arman sehat dulu?”
Bima menunduk.
Itulah kalimat yang akhirnya membuat ruangan berhenti terasa seperti tempat pertengkaran.
Karena masalahnya menjadi sangat sederhana.
Seorang bayi tidak bisa menunggu masalah orang dewasa selesai.
Malam itu Naufal tetap dirawat.
Kondisinya stabil, tetapi dokter ingin memastikan cairan dan elektrolitnya pulih dengan baik serta pola pemberian susu setelah pulang aman.
Aku tidur di kursi.
Dina hampir tidak tidur sama sekali.
Bima pergi sekitar pukul sebelas setelah kami sepakat dia kembali besok pagi.
Sebelum pergi, dia bertanya kepada Dina, “Kamu mau aku pulang ke rumah dulu?”
Dina menjawab, “Pulang ke rumah Ibumu.”
Bima terdiam.
“Dina.”
“Aku belum mau satu rumah sama kamu.”
“Karena ini?”
Dina menatapnya lama.
“Masih kamu tanya karena ini?”
Dia tidak menjawab.
Pagi berikutnya Bu Yani datang.
Aku sudah mengenalnya sejak anak-anak kami menikah.
Usianya enam puluh tiga tahun. Perempuan kecil dengan suara lembut, selalu membawa buah kalau datang.
Hari itu dia membawa satu kantong jeruk.
Begitu masuk, matanya langsung merah melihat Naufal.
“Ya Allah, cucuku.”
Dina berdiri.
Bu Yani memeluknya.
“Apa kata dokter?”
Dina menjelaskan singkat.
Aku memperhatikan wajah Bu Yani ketika mendengar soal susu.
Ekspresinya berubah.
“Bima bilang kalian lagi ngirit,” katanya.
Dina menatapnya.
“Ibu tahu?”
“Bukan soal susu.”
Bu Yani buru-buru menggeleng.
“Ibu pikir paling ngurangi makan di luar, jajan, begitu.”
Aku bertanya, “Ibu tahu soal uang untuk Arman?”
Dia menunduk.
“Tahu Bima bantu.”
“Berapa?”
“Tidak tahu tepatnya.”
Dina membuka ponselnya.
“Dari tabunganku saja hampir Rp30 juta.”
Bu Yani memandang anak menantunya.
“Tabunganmu?”
“Iya.”
Wajah perempuan itu benar-benar berubah.
“Aku kira uang Bima.”
Aku percaya dia tidak sedang berakting.
Tapi itu tidak berarti dia sama sekali tidak punya peran.
Dina bertanya pelan, “Ibu pernah minta Mas Bima jangan berhenti bantu Arman?”
Bu Yani duduk.
“Ibu bilang kalau kakak nggak bantu adiknya, siapa lagi?”
Aku memejamkan mata sebentar.
Kalimat itu.
Begitu biasa.
Begitu sering diucapkan orang tua kepada anak.
Kadang hanya menjadi permintaan.
Kadang menjadi beban yang dibawa sampai ke rumah tangga anak itu sendiri.
Bu Yani mulai menangis.
“Ibu nggak tahu sampai begini.”
Dina tidak memeluknya.
“Aku percaya Ibu nggak tahu soal susunya.”
Bu Yani mengangguk cepat.
“Tapi Ibu tahu Mas Bima terus kasih uang walaupun kami baru punya bayi.”
Perempuan itu diam.
Dina meneruskan.
“Kenapa nggak pernah ada yang bilang ke Arman bahwa bengkel itu mungkin memang harus berhenti?”
Bu Yani mengusap air mata.
“Karena Arman sudah keluar banyak uang.”
“Bukan uangnya saja, Bu.”
“Itu usaha satu-satunya.”
“Kalau usaha itu cuma bisa hidup karena kakaknya diam-diam mengambil uang istrinya, berarti usaha itu sebenarnya sudah nggak sehat.”
Bu Yani tidak membantah.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat seorang ibu menyadari bahwa cara dia meminta seorang anak menyelamatkan anak yang lain ternyata punya korban yang tidak pernah dia hitung.
Senin pagi, setelah Naufal diizinkan pulang, aku membawa Dina langsung ke bank.
Kami tidak menunggu.
Pengajuan pinjaman dibatalkan.
Akses rekening diperbarui.
Kata sandi diganti.
Dina meminta kartu ATM baru.
Dia juga memeriksa seluruh transaksi beberapa bulan terakhir.
Saat itulah kami mengetahui bahwa uang yang diambil dari tabungannya bukan satu-satunya.
Ada transfer dari rekening bersama mereka.
Ada pencairan deposito kecil yang dulu dibuat setelah menikah.
Ada pembayaran kartu kredit yang tidak Dina kenali.
Tidak semuanya untuk Arman.
Sebagian untuk membayar utang lain yang digunakan Bima menutup kekurangan sebelumnya.
Jumlah totalnya sekitar Rp74 juta.
Belum termasuk uang milik Dina.
Aku duduk di kursi bank sambil melihat putriku membaca angka demi angka.
Wajahnya kosong.
“Ma.”
“Ya?”
“Aku tinggal sama orang yang punya utang, tapi aku bahkan nggak tahu kami punya utang.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Dalam perjalanan pulang, aku berkata, “Kamu tinggal dulu sama Mama.”
Dina menggeleng.
“Aku nggak mau merepotkan.”
Aku hampir marah.
“Dina.”
Dia menatapku.
“Kalau rumah Mama nggak boleh dipakai ketika anak Mama butuh tempat aman, terus buat apa Mama punya rumah?”
Baru kali itu dia tersenyum sedikit.
Tiga hari kemudian Bima datang.
Bukan sendirian.
Dia membawa Bu Yani dan Arman.
Aku sebenarnya tidak menginginkan pertemuan keluarga besar.
Tapi Dina berkata dia ingin semua dibicarakan di depan orang yang selama ini namanya dipakai sebagai alasan.
Kami duduk di ruang tamuku.
Pintu warung sudah ditutup.
Naufal tidur di kamar.
Arman duduk paling ujung.
Dia berusia dua puluh sembilan tahun, tubuhnya kurus, rambutnya sedikit panjang.
Selama empat tahun aku mengenalnya hanya sebagai adik Bima yang banyak bercanda.
Hari itu dia hampir tidak mengangkat wajah.
Bima membawa sebuah map.
“Aku sudah tulis semua utang yang aku tahu.”
Dina tidak langsung mengambilnya.
“Yang kamu tahu?”
“Beberapa pinjaman atas nama Arman aku nggak punya datanya lengkap.”
Arman bicara.
“Aku bawa.”
Dia mengeluarkan beberapa kertas.
Bu Yani langsung berkata, “Yang penting sekarang kita cari jalan keluar.”
Aku menatapnya.
“Ibu, maaf. Sebelum cari jalan keluar, kita harus tahu dulu jalan masuknya dari mana.”
Dia terdiam.
Kami membicarakan semuanya hampir tiga jam.
Bukan dengan pidato panjang.
Lebih banyak kalimat yang terputus.
Pertanyaan yang diulang.
Angka yang membuat orang saling memandang.
Arman mengaku bengkel sebenarnya sudah tidak menghasilkan keuntungan selama tujuh bulan.
Dia terus bertahan karena merasa malu tutup setelah berkali-kali bercerita kepada keluarga bahwa usahanya berkembang.
“Aku pikir kalau dapat tambahan modal sekali lagi, bisa balik,” katanya.
Bima langsung berkata, “Makanya aku bantu.”
Arman menoleh kepada kakaknya.
“Kamu juga nggak pernah bilang uangnya dari Mbak Dina.”
Bima diam.
“Aku pikir uangmu sendiri.”
“Kalau aku bilang uang Dina, kamu mau berhenti?”
Arman tidak menjawab.
Dina menatapnya.
“Aku mau dengar.”
Arman mengusap tengkuk.
“Mungkin.”
“Mungkin?”
“Aku nggak tahu.”
Setidaknya dia tidak berbohong.
Bu Yani mulai menangis lagi.
“Semua ini karena Ibu selalu bilang kalian harus saling bantu.”
Arman berkata, “Bukan cuma karena Ibu.”
Bima langsung menyela.
“Nggak usah bawa Ibu.”
“Aku cuma bilang bukan cuma karena Ibu.”
Arman menatap kakaknya.
“Kak Bima juga gengsi.”
Bima mengangkat kepala.
“Apa?”
“Kamu nggak mau bilang ke Mbak Dina kalau kamu nggak sanggup.”
“Itu bukan gengsi.”
“Terus apa?”
Bima berdiri.
Aku langsung berkata, “Duduk.”
Dia menatapku.
Mungkin kalau kami berada di rumahnya, dia akan pergi.
Tapi itu rumahku.
Setelah beberapa detik, dia duduk lagi.
Arman melanjutkan.
“Setiap aku bilang bengkel susah, Kak Bima selalu bilang, ‘Tenang, nanti aku pikirkan.’ Kamu suka jadi orang yang bisa beresin semuanya.”
Kalimat itu mengenai sesuatu yang selama ini tidak terlihat.
Bima tidak menjawab lama.
Kemudian dia berkata, “Karena kalau aku nggak beresin, siapa?”
Dina tertawa pendek.
“Naufal ternyata yang bayar.”
Bima menutup wajah dengan kedua tangan.
Tidak ada yang bicara.
Dina tidak menangis.
Justru itu yang membuat suasana lebih berat.
“Aku mau bilang sesuatu,” katanya akhirnya.
Bima menurunkan tangannya.
“Aku belum tahu apakah aku masih mau mempertahankan pernikahan ini.”
Bu Yani mengangkat wajah.
“Dina…”
“Bu, tolong.”
Nada suaranya tidak kasar.
Tapi cukup.
“Aku nggak bilang pasti cerai. Aku juga nggak bilang pasti balik.”
Dia memandang Bima.
“Tapi aku nggak mau tinggal satu rumah dulu.”
Bima membuka mulut.
Dina meneruskan sebelum dia bicara.
“Aku mau semua utang dibuka. Semua rekening. Semua kartu kredit. Aku mau kamu berhenti menggunakan dataku untuk apa pun. Dan mulai sekarang kebutuhan Naufal tidak boleh dikurangi untuk membayar masalah keluargamu.”
“Itu jelas.”
“Dulu juga harusnya jelas.”
Bima terdiam.
“Aku akan perbaiki.”
“Caranya?”
Pertanyaan itu sederhana.
Bima tidak punya jawaban.
Aku melihat ini sering terjadi dalam keluarga.
Orang mengatakan akan memperbaiki keadaan karena kata itu terdengar baik.
Tapi memperbaiki bukan perasaan.
Memperbaiki membutuhkan angka.
Waktu.
Keputusan.
Dan sesuatu yang harus dikorbankan.
Aku kemudian bertanya kepada Arman, “Bengkelnya bagaimana?”
Dia menunduk.
“Aku tutup.”
Bu Yani langsung menoleh.
“Man.”
“Bu, sudah.”
Arman tidak pernah bicara setegas itu kepada ibunya selama aku mengenalnya.
“Aku sudah ngomong sama pemilik tempat. Akhir bulan aku keluar.”
“Terus kamu kerja apa?”
“Aku cari kerja.”
“Bengkel itu kan…”
“Sudah rugi, Bu.”
Bu Yani terdiam.
Arman melanjutkan, “Kalau dipaksa hidup, yang hidup cuma utangnya.”
Kalimat itu menjadi awal dari sesuatu.
Bukan keajaiban.
Tidak semua utang hilang setelah bengkel tutup.
Sebagian peralatan dijual.
Hasilnya dipakai membayar tunggakan.
Motor kedua Bima dijual.
Dia juga membatalkan rencana mengganti mobil kantor dengan kendaraan pribadi yang selama ini dia cicil.
Beberapa bulan berikutnya dia hidup jauh lebih sederhana.
Yang paling sulit justru bukan menjual barang.
Melainkan berhenti menjadi orang yang selalu berkata, “Nanti aku bereskan.”
Arman mendapat pekerjaan sebagai mekanik di bengkel milik orang lain.
Gajinya tidak sebesar keuntungan yang dulu dia bayangkan.
Tapi tiap bulan dia mulai membayar kembali sebagian uang kepada Bima.
Bima lalu mengembalikan uang Dina sedikit demi sedikit.
Tidak langsung lunas.
Dina tidak mau berpura-pura semuanya selesai hanya karena sudah ada niat baik.
Dia kembali mengambil pekerjaan administrasi paruh waktu dari rumah ketika Naufal berusia lima bulan.
Rekening pendapatannya sepenuhnya dia kelola sendiri.
Pengeluaran rumah dicatat bersama.
Bukan karena suami istri harus hidup seperti auditor.
Tapi karena setelah kepercayaan rusak, kalimat “percaya saja” tidak cukup.
Bima juga mulai mengikuti konseling keuangan dan konseling pribadi.
Awalnya dia tidak mau.
Katanya masalahnya hanya utang.
Dina menjawab, “Utang bukan alasan kamu mengambil keputusan atas hidup orang lain.”
Kalimat itu akhirnya membuatnya datang.
Aku tidak tahu apa yang dibicarakan Bima dalam sesi-sesi itu.
Aku juga tidak perlu tahu semuanya.
Yang kutahu, beberapa minggu kemudian dia datang ke rumahku tanpa membawa alasan.
Hari itu hujan.
Aku sedang menutup etalase warung ketika motornya berhenti.
Dia masuk sambil melepaskan sandal di depan pintu.
“Bu.”
Aku menunjuk kursi.
“Mau teh?”
“Boleh.”
Aku membuat dua gelas.
Kami duduk berhadapan.
Beberapa menit dia hanya melihat meja.
“Aku mau minta maaf.”
Aku menunggu.
“Bukan cuma soal Naufal.”
Aku tetap diam.
“Saya selama ini pikir kalau saya punya niat baik, cara saya otomatis benar.”
Aku mengangkat alis.
Dia tersenyum pahit.
“Kata konselor saya begitu.”
“Bagus juga konselornya.”
Dia tertawa pelan untuk pertama kalinya.
Kemudian wajahnya serius lagi.
“Saya memang mau bantu Arman.”
“Aku tahu.”
“Saya juga takut Ibu saya kecewa.”
“Aku juga tahu.”
“Tapi ternyata saya lebih takut terlihat gagal daripada benar-benar mengakui saya nggak sanggup.”
Itulah bagian yang tidak pernah dia katakan sebelumnya.
Bukan uang.
Bukan Arman.
Bukan ibunya.
Harga dirinya.
Bima bekerja di lingkungan di mana semua orang menganggapnya mapan.
Supervisor.
Punya keluarga.
Punya mobil cicilan.
Adik punya usaha.
Setiap Lebaran dia yang mentraktir.
Setiap ibunya butuh sesuatu, dia yang membayar.
Saat masalah datang bertubi-tubi, dia tidak tahu bagaimana mengatakan satu kalimat sederhana.
Aku tidak punya uang.
Maka dia mengambil dari tempat lain.
Mengatur pengeluaran lebih ketat.
Menekan Dina.
Menunda kebutuhan.
Lalu berbohong untuk mempertahankan gambaran bahwa dia masih mampu.
“Apa Dina tahu kamu sadar soal ini?”
“Sudah.”
“Terus?”
“Dia bilang sadar bukan berarti dia langsung percaya.”
Aku mengangguk.
“Benar.”
Bima memandang pintu kamar tempat Naufal tidur.
“Bu.”
“Ya?”
“Waktu di rumah sakit, saya sempat marah sama Ibu.”
“Aku tahu.”
“Saya pikir Ibu mau menghancurkan rumah tangga kami.”
Aku mengaduk teh yang sebenarnya sudah tidak perlu diaduk.
“Kalau rumah tanggamu bisa hancur hanya karena semua orang tahu kondisi sebenarnya, masalahnya bukan orang yang membuka pintu.”
Dia menunduk.
“Aku paham sekarang.”
Aku tidak langsung percaya.
Tapi aku mendengar.
Ada perbedaan.
Dua bulan berikutnya Dina masih tinggal bersamaku.
Bima datang untuk melihat Naufal hampir setiap hari setelah bekerja.
Kadang Dina duduk di ruang tamu.
Kadang tidak.
Aku sengaja tidak menjadi perantara.
Kalau Bima ingin bicara dengan istrinya, dia bicara sendiri.
Kalau Dina marah, dia menyampaikan sendiri.
Aku sudah terlalu lama percaya bahwa tugas seorang ibu adalah membuat semua orang akur.
Sekarang aku melihat ada pertengkaran yang memang perlu terjadi.
Ada kekecewaan yang tidak boleh ditutup dengan nasi kotak dan kalimat, “Sudahlah, namanya keluarga.”
Bu Yani juga berubah perlahan.
Tidak drastis.
Suatu sore dia meneleponku.
“Bu Mira.”
“Ya?”
“Arman bulan ini kasih Ibu uang.”
“Bagus.”
“Tapi Ibu kembalikan.”
Aku terkejut.
“Kenapa?”
“Dia baru kerja. Biar dipakai bayar utang.”
Kami terdiam.
Lalu dia berkata, “Saya pikir selama ini kalau anak sulung bantu adiknya itu biasa.”
“Memang biasa.”
“Tapi mungkin saya terlalu sering menganggap Bima pasti bisa.”
Aku tidak menyalahkannya panjang lebar.
Dia sudah mengerti bagian yang perlu dia mengerti.
“Kadang anak yang kelihatan paling kuat justru paling jarang ditanya masih sanggup atau tidak.”
Bu Yani menarik napas.
“Iya.”
Sekitar lima bulan setelah hari di IGD, Dina akhirnya kembali ke rumah kontrakannya.
Bukan karena keluarga mendesak.
Bukan karena Bu Yani menangis.
Bukan karena aku berkata Naufal butuh ayah.
Aku bahkan tidak bertanya kapan dia akan pulang.
Keputusan itu datang dari dirinya sendiri.
Sebelum pindah, dia duduk di terasku sambil menggendong Naufal.
“Ma.”
“Hmm?”
“Aku coba lagi.”
Aku memandangnya.
“Dengan Bima?”
Dia mengangguk.
“Bukan karena semuanya sudah baik.”
“Aku tahu.”
“Aku bilang sama dia, kalau sekali lagi ada utang, rekening, atau keputusan besar yang disembunyikan, aku pergi.”
“Dia setuju?”
“Dia bilang iya.”
Aku tersenyum tipis.
“Yang penting bukan bilang iya.”
Dina ikut tersenyum.
“Aku juga bilang begitu.”
Mereka tidak kembali menjadi pasangan sempurna.
Kadang Dina masih memeriksa rekening terlalu sering.
Kadang Bima tersinggung ketika ditanya pengeluaran kecil.
Kadang percakapan soal keluarganya masih membuat suasana makan malam berubah.
Tapi sekarang mereka tidak menutupinya.
Kalau ada uang yang diminta Bu Yani, mereka bicarakan.
Kalau Arman terlambat membayar cicilan utangnya, Bima tidak diam-diam menutupinya.
Dan yang paling penting bagiku, kebutuhan Naufal tidak lagi masuk daftar hal yang boleh ditunda.
Berat badannya perlahan naik sesuai pemantauan dokter.
Dia mulai aktif.
Mulai tertawa kalau melihat kipas berputar.
Mulai mencengkeram jari orang sampai sulit dilepas.
Dokter tidak menjanjikan bahwa satu kejadian tidak akan membawa dampak apa pun.
Kami diminta terus mengikuti pemantauan.
Dan kami melakukannya.
Tidak ada lagi kontrol yang ditunda karena merasa “nanti sekalian”.
Tidak ada lagi keputusan kesehatan bayi berdasarkan gengsi orang dewasa.
Hari Minggu lalu, hampir delapan bulan setelah semuanya bermula, Dina menitipkan Naufal lagi.
Kali ini bukan karena ada pertemuan misterius.
Dia dan Bima pergi ke acara pernikahan teman kantor.
“Jam empat kami jemput,” kata Dina.
Aku menerima tas bayi.
Di dalamnya ada popok, pakaian, botol, makanan sesuai usianya, dan satu catatan kecil tulisan tangan Dina.
Jam makan.
Jam tidur.
Nomor dokter.
Aku tertawa.
“Lengkap sekali.”
Dina ikut tertawa.
“Biar Mama nggak cerewet.”
Bima berdiri di depan pagar.
Dia tidak terburu-buru.
Sebelum pergi, dia menghampiriku.
“Bu, kalau susu atau apa pun kurang, telepon saya. Jangan beli sendiri.”
Aku menatapnya.
Dia cepat-cepat menambahkan, “Maksud saya biar saya yang beli. Bukan karena nggak boleh dibantu.”
Aku tertawa.
“Sudah sana.”
Setelah mereka pergi, Naufal bermain di lantai ruang tengah.
Dia sudah bisa berguling.
Kadang merangkak mundur sendiri lalu marah karena semakin jauh dari mainannya.
Menjelang siang, aku mengganti popoknya.
Berat.
Basah.
Hal biasa.
Begitu biasa sampai tidak ada orang lain mungkin akan memikirkannya.
Aku justru diam beberapa detik sambil memegang popok itu.
Aku teringat hari ketika popoknya hampir kering.
Aku teringat ruang IGD.
Wajah Dina.
Diamnya Bima.
Angka Rp120 juta di layar ponsel.
Dan seluruh rangkaian kebohongan yang ternyata bermula bukan karena satu orang ingin menjadi jahat.
Melainkan karena terlalu banyak orang merasa mereka berhak mengorbankan sesuatu yang dianggap kecil demi menjaga sesuatu yang dianggap lebih besar.
Nama baik.
Usaha keluarga.
Harapan orang tua.
Harga diri.
Ketenangan rumah tangga.
Padahal yang dikorbankan waktu itu adalah kebutuhan seorang bayi.
Aku membuang popok ke tempat sampah, membersihkan Naufal, lalu memasangkan celananya.
Dia tertawa ketika kucium perutnya.
Aku menggendongnya dan berjalan ke teras.
Dulu aku berpikir menjadi ibu berarti menolong anak menyelesaikan semua masalahnya.
Sekarang aku tahu ada saatnya menolong justru berarti tidak ikut menutup lubang yang mereka buat.
Ada utang yang memang harus mereka cicil sendiri.
Ada rasa malu yang memang harus mereka hadapi.
Ada kesalahan yang tidak bisa disapu ke bawah karpet hanya karena pelakunya orang yang kita sayangi.
Di halaman depan, angin menggerakkan daun mangga.
Naufal menarik kerah bajuku sambil berceloteh dengan bahasa yang hanya dia mengerti.
Aku melihat pagar rumah yang terbuka.
Beberapa jam lagi orang tuanya akan datang menjemputnya.
Aku tidak tahu apakah pernikahan Dina dan Bima akan bertahan dua puluh tahun lagi.
Tidak ada yang tahu.
Tapi sekarang setidaknya rumah tangga mereka tidak lagi berdiri di atas kewajiban untuk diam.
Dan bagiku, itu lebih penting daripada terlihat sebagai keluarga yang tidak pernah punya masalah.
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, dan keberanian untuk bicara ketika sesuatu sudah melewati batas. Kalau kamu berada di posisi Dina, apakah kamu akan memberi Bima kesempatan kedua setelah semua yang terjadi, atau memilih berpisah? Aku ingin membaca pendapatmu di kolom komentar. Kalau cerita ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, silakan bagikan kepada orang yang mungkin juga perlu membacanya.
