BAGIAN 2: REKAMAN RUMAH SAKIT MEMBONGKAR IDENTITAS RAKA, SEMENTARA PENGAKUAN BIMA MEMBUAT KIRANA MENYADARI SIAPA YANG SEBENARNYA INGIN MEREBUT SEGALANYA
Suara dokter dari tablet memenuhi kamar.
—Pak Bima, sebelum istri Anda keluar dari rumah sakit, Anda harus mengambil keputusan. Kalau dia sampai mengetahui siapa sebenarnya bayi ini, cepat atau lambat dia juga akan mengetahui kesalahan yang terjadi malam itu.
Aku merasa seluruh tubuhku membeku.
Aku menatap Raka yang masih berada dalam pelukanku.
—Kesalahan apa?
Bima tidak menjawab.
Bu Ratih maju hendak merebut tablet, tetapi aku segera mundur.
—Jangan sentuh aku!
Untuk pertama kalinya, suaraku membuat ibu mertuaku berhenti.
Video terus berjalan.
Dokter itu membuka sebuah map.
—Bayi laki-laki yang sekarang bersama Kirana memang bayi yang dilahirkannya.
Aku hampir kehilangan keseimbangan.
Raka adalah anakku.
Air mataku langsung jatuh.
Namun, dokter melanjutkan:
—Tetapi hasil pemeriksaan menunjukkan ada ketidaksesuaian pada data ayah biologis.
Aku perlahan menoleh kepada Bima.
Wajahnya pucat.
Di layar, Bima yang tiga tahun lebih muda bertanya:
—Maksud Dokter?
Dokter menyerahkan selembar hasil pemeriksaan.
—Berdasarkan tes yang dilakukan karena adanya masalah pencatatan golongan darah, kemungkinan Anda ayah biologis bayi ini praktis tidak ada.
Dunia seakan berhenti.
Aku menatap Bima.
—Raka bukan anakmu?
Ia menundukkan kepala.
Bu Ratih langsung berkata:
—Kirana, dengarkan dulu—
—Diam!
Aku tidak pernah berteriak kepadanya sebelumnya.
Raka terkejut dan memeluk leherku.
Aku segera menenangkan suaraku.
—Mama di sini, Sayang.
Video berlanjut.
Bima dalam rekaman tampak sama terpukulnya.
—Tidak mungkin. Kirana tidak pernah…
—Saya tidak menuduh istri Anda melakukan apa pun, Pak. Justru karena itu saya menyarankan pemeriksaan ulang. Ada kemungkinan terjadi kesalahan pada prosedur laboratorium sebelumnya.
Lalu terdengar suara perempuan dari luar kamera.
—Bukan laboratoriumnya yang salah.
Seorang perawat masuk ke dalam gambar.
Tangannya gemetar.
Ia meletakkan sebuah berkas di meja.
—Saya harus mengatakan yang sebenarnya.
Dokter menatapnya.
Perawat itu menjelaskan bahwa beberapa tahun sebelumnya, sebelum aku dan Bima menikah, kami pernah menjalani pemeriksaan kesuburan karena Bima memiliki riwayat kesehatan tertentu. Sampel biologis milik Bima disimpan di sebuah fasilitas medis.
Ketika kami kemudian menjalani program bantuan kehamilan, terjadi kesalahan administrasi.
Sampel yang digunakan bukan milik Bima.
Melainkan milik donor anonim.
Aku hampir tidak bisa bernapas.
Aku memang pernah menjalani prosedur medis untuk membantu kehamilan.
Tetapi dokter saat itu mengatakan semuanya menggunakan materi biologis Bima.
Aku tidak pernah tahu ada kesalahan.
Di video, Bima terduduk.
—Jadi Kirana tidak berselingkuh?
—Tidak ada bukti sedikit pun tentang itu.
Dokter menjawab tegas.
—Ini adalah kesalahan fasilitas medis.
Tanganku mulai gemetar.
Tiga tahun.
Bima mengetahui semuanya selama tiga tahun.
Namun dia tidak pernah memberitahuku.
—Kenapa?
Aku menatapnya.
—Kenapa kamu menyembunyikannya?
Bima akhirnya mengangkat kepala.
—Karena aku takut.
Aku tertawa kecil di antara air mata.
—Takut?
—Aku takut kehilanganmu.
—Jadi kamu berbohong kepadaku selama tiga tahun?
—Awalnya aku hanya ingin menunggu sampai rumah sakit menyelesaikan investigasi.
—Lalu?
Bima tidak menjawab.
Bu Ratih menjawab untuknya.
—Lalu keluarga kami mengetahui nilai saham yang diwariskan ayahmu.
Aku menatapnya.
Akhirnya.
Inilah bagian sebenarnya.
Bu Ratih menarik napas.
Perusahaan keluarga Bima ternyata sedang terlilit utang besar selama hampir dua tahun. Beberapa proyek gagal, pinjaman menumpuk, dan aset perusahaan telah dijadikan jaminan.
Mereka membutuhkan modal.
Dan 40% saham peninggalan ayahku bernilai cukup besar untuk menyelamatkan semuanya.
—Jadi Ibu menggunakan Raka?
Suaraku bergetar.
—Menggunakan anak saya untuk menakut-nakuti saya agar menyerahkan warisan ayah saya?
Bu Ratih terdiam.
Aku menatap Bima.
—Dan kamu membiarkannya?
—Aku tidak berniat mengambil semuanya.
—Tapi kamu ikut masuk ke kamar anak kita pukul dua pagi membawa kontrak.
Dia tidak bisa membantah.
Saat itulah terdengar suara dari pintu.
—Saya bisa membuktikan semuanya.
Kami menoleh.
Wanita muda dari pesta berdiri di sana.
Putrinya tidak bersamanya.
Ia memegang sebuah ponsel.
—Nama saya Sari.
Katanya pelan.
—Saya bukan kekasih Bima.
Aku menatapnya.
—Saya tahu.
Sari menelan ludah.
—Bu Ratih membayar saya untuk datang ke pesta dan berpura-pura punya hubungan dengan Bima. Gelang itu sengaja dibuat dua buah. Putri saya diajari mengatakan bahwa ayahnya yang membelikannya.
—Kenapa kamu setuju?
Matanya berkaca-kaca.
—Anak saya membutuhkan biaya sekolah dan saya punya utang. Saya pikir ini cuma drama keluarga untuk membuat Ibu cemburu. Saya tidak tahu soal dokumen.
Ia menyerahkan ponselnya kepadaku.
—Semua pesan ada di sini. Rekaman suara juga ada.
Bu Ratih langsung maju.
—Kamu berani—
Bima tiba-tiba berdiri di depan ibunya.
—Cukup, Bu.
Semua orang terdiam.
Bu Ratih menatap putranya tidak percaya.
—Apa?
—Cukup.
Bima mengambil napas panjang.
—Kita sudah keterlaluan.
Bu Ratih tertawa sinis.
—Sekarang kamu mau menjadi suami yang baik?
Bima tidak menjawab.
Ia memandangku.
—Aku akan memberikan semua bukti kepadamu. Kontrak, pesan, catatan keuangan perusahaan. Semuanya.
—Kenapa sekarang?
—Karena baru sekarang aku sadar bahwa aku bukan sedang menyelamatkan keluarga.
Matanya jatuh kepada Raka.
—Aku sedang menghancurkannya.
Aku tidak mengatakan apa pun.
Aku memasukkan tablet dan ponsel Sari ke dalam tas.
Kemudian aku menggendong Raka menuju pintu.
Bima tidak menghalangiku kali ini.
—Kirana.
Aku berhenti.
—Raka tetap anakku.
Aku menoleh.
Air mata mengalir di wajahnya.
—Aku tidak peduli apa yang tertulis dalam tes itu. Aku yang menggendongnya ketika demam. Aku yang mengajarinya berjalan. Aku yang dia panggil Papa. Tolong jangan ambil dia dariku.
Aku menatap lelaki yang pernah sangat kucintai.
—Seharusnya kamu memikirkan itu sebelum menggunakan ketakutanku kehilangan Raka untuk mengambil milikku.
Aku berjalan keluar.
Namun, sebelum mencapai tangga, Sari berbisik:
—Bu Kirana, masih ada satu hal.
Aku berhenti.
Ia membuka ponselnya.
—Ada seseorang yang selama tiga tahun diam-diam membayar rumah sakit agar berkas asli Raka tidak pernah sampai ke tangan Anda.
Aku menatap Bima.
Tetapi Sari menggeleng.
—Bukan suami Anda.
Kemudian ia memandang Bu Ratih.
Wajah ibu mertuaku kembali pucat.
Sari menekan sebuah rekaman.
Dan suara seorang petugas rumah sakit terdengar jelas:
—Bu Ratih, pembayaran terakhir sudah kami terima. Selama Anda terus membayar, Kirana tidak akan pernah mengetahui siapa donor yang sebenarnya.
Aku membeku.
Karena pada layar ponsel Sari, tepat di bawah rekaman itu, terdapat sebuah foto dokumen.
Nama donor telah disamarkan.
Namun satu informasi tidak disembunyikan.
Hubungan keluarga dengan penerima: kerabat biologis tingkat pertama.
Aku menatap Sari.
—Apa artinya ini?
Sari menarik napas.
—Artinya donor anonim itu kemungkinan bukan orang asing.
Ia memandangku.
—Dia berasal dari keluarga Anda sendiri.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
