Selama Aku Nifas, Ibu Mertua Memberiku Bubur Instan Setiap Hari—Namun Saat Suamiku Pulang, Meja Mendadak Penuh Lauk, dan Malam Itu Satu Rekaman Menghancurkan Kebohongan Mereka di Depan Semua Orang
Bagian 1 — Seminggu Aku Makan Seadanya Setelah Melahirkan, Sampai Kepulangan Suamiku Membuktikan Ibu Mertua Sebenarnya Sangat Pandai Memasak dan Berpura-pura di Belakang Punggungku Setiap Hari
Delapan hari setelah melahirkan melalui operasi caesar, aku belum bisa berdiri terlalu lama tanpa merasa jahitan di perut seperti ditarik dari dalam.
Namaku Nadira.
Sebelum pulang dari rumah sakit, aku sebenarnya sudah menghubungi jasa perawat pascapersalinan di Jakarta Selatan. Aku bahkan sudah memilih seorang perawat bernama Bu Siska yang bisa membantu selama tiga minggu pertama.
Tugasnya sederhana.
Membantu memandikan bayi, menyiapkan makanan bergizi untukku, mencuci perlengkapan bayi, dan menjaga putriku beberapa jam supaya aku bisa tidur.
Tetapi suamiku, Arman, menolak.
“Untuk apa bayar orang hampir dua belas juta?” katanya.
“Ibu bisa datang. Beliau malah senang bisa menjaga cucu pertama.”
Aku sempat ragu.
Namun Arman meyakinkanku berkali-kali bahwa ibunya, Bu Ratih, sudah terbiasa merawat bayi karena dulu membesarkan tiga anak seorang diri.
Akhirnya aku mengalah.
Hari kedua setelah aku pulang, Bu Ratih datang dari Cirebon membawa dua koper besar.
Aku menyambutnya dengan tulus.
Kupikir kedatangannya akan membuat semuanya sedikit lebih ringan.
Ternyata aku salah.
Pagi pertama, ketika aku bertanya sarapan apa, Bu Ratih membuatkan satu bungkus bubur instan.
Siang hari, bubur instan lagi.
Malamnya?
Bubur instan dengan telur rebus.
Aku tidak mempermasalahkannya.
Mungkin beliau lelah setelah perjalanan jauh.
Besoknya sama.
Hari ketiga masih sama.
Hari keempat, Bu Ratih bahkan meletakkan dua bungkus bubur instan di samping dispenser.
“Kalau lapar malam-malam, seduh sendiri, ya. Ibu juga perlu istirahat.”
Aku hanya mengangguk.
Sementara itu, hampir semua urusan bayi tetap kukerjakan sendiri.
Putriku, Aluna, masih sering terbangun setiap dua jam.
Aku menyusui.
Aku mengganti popok.
Aku menenangkan saat ia menangis.
Bu Ratih biasanya tidur sejak pukul sembilan malam dengan pintu kamar tertutup rapat.
Pagi-pagi beliau bangun sekitar pukul delapan, menyeduh bubur untukku, lalu duduk menonton sinetron atau melakukan panggilan video dengan saudara-saudaranya.
Aku mencoba berpikir positif.
Bagaimanapun juga, beliau bukan pembantu.
Aku tidak ingin menghitung setiap pekerjaan yang dilakukan atau tidak dilakukannya.
Aku juga tidak ingin Arman yang sedang menangani proyek perluasan gudang perusahaan di Surabaya menjadi khawatir.
Sampai hari kedelapan.
Pukul tujuh pagi, Arman menelepon.
“Aku dapat penerbangan pagi. Siang sampai rumah.”
Entah keajaiban apa yang terjadi.
Begitu telepon ditutup, Bu Ratih yang selama seminggu mengaku gampang pusing kalau terlalu lama di dapur mendadak mengambil dompet.
“Ibu ke pasar sebentar.”
Dua jam kemudian beliau pulang membawa kantong belanja hampir memenuhi bagasi mobil daring.
Ada ayam kampung.
Ikan gurame.
Udang.
Sayur asem.
Buah.
Bahkan bahan untuk membuat sambal goreng kentang.
Aku duduk di ruang keluarga sambil menggendong Aluna, mencium aroma tumisan dari dapur.
Menjelang pukul dua belas, meja makan kami penuh.
Ada ayam ungkep goreng, gurame bakar, tumis brokoli, sup jagung, perkedel, udang saus mentega, dan buah potong.
Aku sampai terdiam.
Bu Ratih melihat wajahku lalu tersenyum.
“Arman capek kerja. Kalau pulang harus makan yang benar.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah mengapa terdengar seperti tamparan.
Seminggu aku baru melahirkan anaknya.
Aku menyusui cucunya.
Dan untukku, satu bungkus bubur instan dianggap cukup.
Tetapi putranya pulang beberapa jam saja, meja harus seperti jamuan Lebaran.
Ketika Arman datang, Bu Ratih langsung berubah semakin sibuk.
“Man, makan yang banyak. Kamu kelihatan kurus.”
Beliau mengambilkan nasi.
Mengambilkan ayam.
Mengupaskan udang.
Sesekali Arman menatapku.
“Kamu makan banyak juga, Nad. Kamu butuh tenaga.”
Aku tersenyum kecil.
Aku tidak mengatakan apa pun.
Kami makan seperti sebuah keluarga harmonis.
Setelah makan, Arman bahkan memuji ibunya.
“Untung ada Ibu di sini. Aku jadi tenang ninggalin Nadira sama Aluna.”
Bu Ratih tertawa.
“Ya namanya ibu. Kalau bukan Ibu yang ngurus, siapa lagi?”
Aku menatap piringku.
Untuk pertama kalinya dalam delapan hari, aku mendapatkan makanan yang benar-benar layak.
Pukul empat sore, Arman kembali ke bandara karena malam itu ada rapat proyek.
Sebelum pergi dia mencium keningku.
“Jangan bandel. Dengarkan Ibu.”
Aku hanya menjawab, “Hati-hati.”
Aku masih ingin percaya bahwa setelah memasak sebanyak itu, setidaknya makan malamku akan layak.
Ternyata pukul tujuh malam, Bu Ratih mengetuk pintu kamar.
Beliau membawa sebuah mangkuk.
Bubur instan lagi.
Aku menatapnya beberapa detik.
“Lauk siang tadi masih ada, kan, Bu?”
Wajahnya langsung berubah datar.
“Itu Ibu simpan.”
“Untuk siapa?”
“Arman. Kalau akhir minggu dia pulang lagi bisa dihangatkan.”
Aku sampai mengira salah dengar.
“Masih empat hari lagi.”
“Ya masuk freezer.”
Aku melihat mangkuk di depanku.
“Jadi saya makan ini?”
Bu Ratih mendengus.
“Kamu habis melahirkan, bukan sedang menginap di hotel bintang lima.”
Entah karena kelelahan, hormon, rasa sakit, atau semua penghinaan yang kutelan selama seminggu, kesabaranku habis.
Aku mengambil mangkuk itu.
Berjalan ke dapur.
Kemudian menuangkan buburnya ke tempat sampah.
Bu Ratih membelalakkan mata.
“Kamu ngapain?”
“Aku pesan makanan.”
“Kamu buang makanan pemberian orang tua?”
Aku mengambil ponsel dan memesan sop iga serta nasi merah dari restoran dekat rumah.
Lima belas menit kemudian, Bu Ratih duduk di sofa.
Aku mendengar suara isakan.
Beliau sedang menelepon seseorang.
Tentu saja Arman.
Awalnya hanya tangisan.
Kemudian suara lirih.
“Ibu enggak apa-apa, Man.”
Diam.
“Jangan pulang.”
Diam lagi.
“Nadira baik kok. Mungkin Ibu saja yang terlalu kampungan sampai makanan buatan Ibu dibuang ke tempat sampah.”
Aku menatapnya dari meja makan.
Hebat.
Bahkan nama bubur instan sudah berubah menjadi “masakan Ibu”.
Tidak lama kemudian teleponku berdering.
Arman.
Aku mengangkatnya dan langsung menyalakan pengeras suara.
“Apa yang kamu lakukan sama Ibu?”
Bukan “ada apa?”
Bukan “kamu baik-baik saja?”
Bahkan bukan “apa yang sebenarnya terjadi?”
Langsung tuduhan.
Aku menjawab tenang.
“Pulang kalau mau bicara.”
“Nadira, aku tanya apa yang kamu lakukan sampai Ibu nangis?”
“Dan aku bilang, pulang.”
Aku mematikan telepon.
Tiga jam kemudian, pintu rumah dibuka keras.
Arman masuk dengan wajah merah.
Di belakangnya Bu Ratih langsung berdiri.
“Arman, jangan marahi Nadira. Ibu salah. Ibu memang sudah tua. Masak sedikit saja gampang capek.”
Kemudian beliau menggenggam tangan anaknya.
“Kadang Ibu harus memilih jaga cucu atau masak untuk Nadira. Malam ini Ibu cuma sanggup bikin bubur.”
Aku hampir tertawa.
Sepanjang sore Aluna tidur bersamaku.
Beliau bahkan sempat menonton dua episode sinetron.
Arman menatapku.
“Ibu datang ke sini untuk membantu kita. Kamu malah mempermalukan beliau dengan membuang makanan?”
“Kamu punya akses kamera rumah,” kataku. “Lihat rekamannya.”
“Aku enggak butuh kamera untuk tahu karakter ibuku.”
“Kalau begitu untuk apa kamu memasang kamera?”
“Nadira!”
Aku menunjuk televisi.
“Dari dapur sampai ruang bayi semuanya terekam. Lihat saja tujuh hari terakhir.”
Bu Ratih langsung menarik lengan Arman.
“Sudahlah. Jangan diperpanjang. Ibu pulang saja besok.”
Mata Arman langsung berubah.
“Nadira, minta maaf.”
“Aku tidak akan minta maaf karena menolak makan bubur instan tiga kali sehari setelah operasi.”
“Jangan berlebihan!”
“Aku punya rekamannya.”
“Aku bilang minta maaf!”
Aku menatap laki-laki yang sudah empat tahun menjadi suamiku itu.
“Aku tidak akan melakukannya.”
Arman memukul sandaran kursi.
“Kalau malam ini kamu enggak minta maaf, kita urus perceraian. Kamu bawa Aluna dan keluar dari rumah ini.”
Bu Ratih buru-buru memeluk lengannya.
“Jangan begitu, Man. Rumah tangga kalian jangan rusak gara-gara Ibu.”
Lalu beliau melirikku.
Hanya sepersekian detik.
Namun aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Senyum kecil.
Sangat kecil.
Penuh kemenangan.
Beberapa menit kemudian keduanya keluar ke halaman belakang.
Mungkin ingin berbicara tanpa kudengar.
Aku justru mengambil ponsel.
Ada satu hal yang selama empat tahun sengaja tidak pernah kubicarakan di depan keluarga Arman.
Rumah ini bukan miliknya.
Perusahaan tempat dia menjadi direktur operasional juga bukan perusahaan yang dia bangun dari nol seperti cerita yang selalu dibanggakan ibunya.
Saham terbesar perusahaan itu milikku.
Dan posisi Arman?
Aku yang memberikannya.
Aku menelepon nomor pertama.
“Pak Hendra, bekukan seluruh otorisasi proyek Pak Arman mulai malam ini.”
Nomor kedua.
“Mbak Kirana, tolong hubungi penasihat hukum perusahaan dan kepala HR. Saya perlu mereka datang ke rumah.”
Nomor ketiga.
“Pak Darto, aktifkan tim keamanan kompleks di depan rumah saya.”
Aku diam sebentar.
Kemudian menambahkan,
“Dan tolong hubungi Bu Siska. Saya jadi memakai jasa perawat pascapersalinan.”
Aku baru menutup telepon ketika Bu Ratih kembali masuk sendirian.
Tidak ada air mata lagi.
Tidak ada suara lemah.
Beliau berjalan ke tempat sampah, menunjuk bubur yang kubuang, lalu berkata dengan suara dingin,
“Sekarang kamu ambil itu.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Ambil buburnya.”
Beliau tersenyum.
“Lalu makan.”
Aku tidak bergerak.
Bu Ratih mendekat satu langkah.
“Biar kamu ingat siapa yang punya kuasa di rumah ini.”
Dan ketika aku masih menatapnya, beliau mengeluarkan ponsel.
“Kalau kamu menolak, Ibu tinggal menangis sekali lagi.”
Jarinya sudah berada di atas nama Arman.
“Anak Ibu akan percaya apa pun yang Ibu katakan.”
Aku menatap wajah perempuan itu dan akhirnya menyadari satu hal mengerikan.
Masalahku bukan sekadar ibu mertua yang pelit.
Beliau sedang menguji seberapa jauh anaknya bersedia menghancurkanku demi dirinya.
Dan beberapa menit kemudian, aku akan mendapatkan jawabannya.
Bagian 2 — Ketika Suamiku Memilih Air Mata Ibunya daripada Rekaman Rumah, Aku Berhenti Memohon Pengertian dan Mulai Mengambil Kembali Semua yang Kubangun
Bu Ratih benar-benar menelepon Arman.
Begitu sambungan terangkat, suaranya langsung bergetar.
“Man… sepertinya Ibu pulang malam ini saja.”
Aku menyandarkan punggung ke kursi.
Pertunjukan dimulai lagi.
“Tidak usah marah sama Nadira. Mungkin dia benar. Ibu memang cuma orang kampung. Makanan Ibu tidak pantas buat dia.”
Lima menit kemudian, pintu kembali dibuka.
Arman rupanya belum benar-benar pergi. Mobilnya hanya diparkir di ujung jalan.
Dia masuk dengan napas berat.
“Apa lagi?”
Aku tidak menjawab.
Aku mengambil remote televisi.
Layar langsung menampilkan rekaman kamera dapur.
Pukul 07.12.
Bu Ratih menyeduh bubur instan.
Pukul 07.18.
Beliau menelepon saudaranya sambil berkata jelas,
“Biar saja. Perempuan habis melahirkan enggak perlu makan enak. Nanti makin manja.”
Wajah Arman berubah.
Aku melanjutkan.
Hari berikutnya.
Bu Ratih sedang menerima kiriman makanan untuk dirinya sendiri.
Nasi Padang.
Rendang.
Ayam pop.
Setelah makan, kotaknya dibuang di tempat sampah luar sebelum aku bangun.
Hari ketiga.
Beliau membuka kulkas yang sebenarnya penuh buah, daging, dan bahan masakan yang kubeli sebelum melahirkan.
“Ibu enggak mau masak buat dia,” katanya di telepon.
“Nanti kalau dibiasakan dilayani, pulangnya Arman malah disuruh-suruh.”
Aku menoleh ke Arman.
“Masih mau lanjut?”
Arman diam.
Aku menampilkan rekaman siang tadi.
Bu Ratih memasak enam menu dengan lincah.
Tidak terlihat pusing.
Tidak terlihat lemah.
Bahkan sambil memasak beliau bernyanyi.
Lalu rekaman setelah Arman pergi.
Bu Ratih memasukkan hampir seluruh lauk ke wadah dan berkata,
“Ini buat anakku. Jangan sampai dihabiskan menantu.”
Ruangan sunyi.
Aku kira akhirnya Arman akan meminta maaf.
Ternyata Bu Ratih bergerak lebih cepat.
Beliau tiba-tiba berlutut.
“Maafkan Ibu!”
Arman terkejut.
“Ibu!”
Beliau menangkupkan tangan.
“Ibu salah. Ibu jahat. Ibu memang enggak pantas tinggal di rumah kalian.”
Arman segera mengangkatnya.
“Ibu berdiri!”
“Ibu minta maaf sama Nadira.”
Lalu beliau memukul pelan dadanya sendiri.
“Ibu memang ibu gagal.”
Aku melihat wajah Arman.
Rasa bersalah menggantikan keterkejutannya.
Dan sekali lagi, fakta kalah oleh tangisan.
Arman menatapku tajam.
“Kamu puas?”
Aku tidak percaya.
“Apa?”
“Kamu sengaja mempermalukan Ibu pakai rekaman sampai beliau berlutut begini.”
“Aku tidak menyuruh beliau berlutut.”
“Sekarang semuanya sudah jelas, kan? Ibu sudah minta maaf. Masih kurang?”
“Yang kubutuhkan bukan orang berlutut. Aku butuh suami yang mau melihat fakta sebelum mengancam menceraikan istrinya.”
Arman mengusap wajah kasar.
“Kamu selalu harus menang.”
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku putus.
Bukan karena keras.
Justru karena sangat jelas.
Bagi Arman, menemukan kebenaran bukan tujuan.
Yang penting ibunya tidak pernah merasa bersalah.
Aku berdiri perlahan.
Luka operasiku tertarik.
“Aku tidak mau menang, Man.”
Aku menunjuk putri kami yang sedang tidur.
“Aku delapan hari setelah melahirkan anakmu. Aku cuma ingin makan dengan layak dan tidur beberapa jam.”
Arman masih membela diri.
“Ibu juga capek.”
“Kalau capek, kita bisa bayar perawat.”
“Kamu selalu menyelesaikan semuanya dengan uang!”
Aku tertawa pendek.
“Lucu sekali mendengar itu dari orang yang empat tahun terakhir hidup dari perusahaan milikku.”
Ruangan mendadak membeku.
Bu Ratih menatapku.
“Apa maksudmu?”
Aku belum sempat menjawab.
Bel rumah berbunyi.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Arman berjalan membukanya.
Di depan pintu berdiri Pak Hendra, direktur keuangan grup kami.
Di sebelahnya Kepala HR.
Kemudian pengacara keluarga, Bu Marissa.
Dan dua petugas keamanan kompleks.
Wajah Arman seketika kehilangan warna.
“Nadira…”
Pak Hendra menyerahkan sebuah map kepadaku.
“Seluruh akses persetujuan anggaran Pak Arman sudah dibekukan.”
Bu Ratih tertawa sinis.
“Dibekukan apanya? Itu perusahaan Arman.”
Tidak seorang pun menjawab.
Aku membuka map.
“Bu, ada satu cerita yang selama ini sengaja tidak saya koreksi demi menjaga harga diri anak Ibu.”
Aku menatap Arman.
“PT Sagara Distribusi bukan perusahaan yang didirikan Arman.”
Aku mengeluarkan lembar kepemilikan saham.
“Perusahaan itu diwariskan ayah saya.”
Kemudian kuletakkan dokumen kedua.
“Arman masuk sebagai kepala divisi empat tahun lalu.”
Dokumen ketiga.
“Dua tahun lalu saya mengangkatnya menjadi direktur operasional.”
Bu Ratih mulai pucat.
Aku melanjutkan,
“Rumah ini juga milik pribadi saya sejak sebelum menikah.”
Tatapan Arman berubah.
“Nad, kita bisa bicara berdua.”
“Tadi ketika kamu menyuruhku membawa bayi delapan hari keluar rumah, kamu tidak ingin bicara berdua.”
Dia mendekat.
Aku mundur.
Petugas keamanan langsung mengambil posisi.
Arman berhenti.
Kemudian Bu Marissa berbicara.
“Masih ada satu hal lagi.”
Ia mengeluarkan beberapa lembar transaksi.
“Tim keuangan menemukan tiga pembayaran vendor proyek Surabaya yang membutuhkan klarifikasi Pak Arman.”
Arman membeku.
Aku menatap dokumen itu.
Tiga vendor.
Alamat kantor berbeda.
Tetapi nomor rekening tujuan ternyata terhubung dengan satu perusahaan kecil.
Perusahaan atas nama siapa?
Adik kandung Bu Ratih.
Kini bukan lagi sekadar masalah bubur instan.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Bu Ratih benar-benar menangis tanpa perlu berakting.
Bagian 3 — Mereka Mengira Aku Hanya Istri Beruntung yang Menumpang Hidup, Sampai Pengacara, Direktur Keuangan, dan Polisi Datang Membawa Fakta yang Tak Bisa Dibantah
“Aku bisa jelaskan.”
Itulah kalimat pertama Arman.
Aku hampir tersenyum.
Ternyata kalimat itu hanya muncul ketika orang yang tersudut adalah dirinya sendiri.
Pak Hendra membuka laporan.
Selama delapan bulan, proyek perluasan gudang Surabaya menggunakan tiga perusahaan pemasok berbeda.
Setidaknya di atas kertas.
Namun pemeriksaan awal menemukan ketiganya memiliki hubungan dengan CV Berkah Mandiri.
Pemilik CV tersebut adalah Rudi Santoso.
Adik Bu Ratih.
Nilai transaksi yang sedang diperiksa mencapai Rp1,8 miliar.
“Aku enggak mengambil uang perusahaan,” kata Arman cepat.
Pak Hendra menjawab datar.
“Kami belum mengatakan Anda mengambil uang.”
Arman terdiam.
“Kalau begitu jangan membuat seolah aku mencuri.”
Bu Marissa menyela.
“Karena itu audit forensik akan dilakukan. Kalau semuanya sah, Anda tidak perlu khawatir.”
Bu Ratih langsung maju.
“Rudi itu keluarga! Salah kalau Arman kasih proyek ke keluarga?”
“Memberikan proyek bukan masalah,” jawabku.
“Masalahnya kalau hubungan itu disembunyikan saat proses tender.”
Bu Ratih hendak membalas, tetapi aku mengangkat tangan.
“Cukup.”
Malam itu aku tidak ingin mengadili siapa pun.
Aku hanya ingin anakku aman.
Aku meminta keamanan mengantar Arman dan ibunya keluar.
Arman menolak.
“Ini rumahku juga!”
Bu Marissa menyerahkan salinan dokumen kepemilikan.
“Secara hukum, rumah ini aset pranikah Ibu Nadira.”
Wajahnya mengeras.
“Aku suaminya!”
“Dan status itu tidak memberi hak untuk mengusir pemilik rumah beserta bayi yang baru dilahirkannya.”
Arman menoleh kepadaku.
“Nadira, jangan keterlaluan.”
Aku memandang laki-laki yang dulu kucintai begitu dalam.
“Malam ini kamu mengancam akan membuang istri yang masih memakai perban operasi dan bayi berusia delapan hari keluar rumah.”
Aku menarik napas.
“Menurutmu siapa yang keterlaluan?”
Dia tak menjawab.
Bu Ratih kembali menangis.
Namun kali ini tidak ada yang berlari memeluknya.
Keesokan paginya, Bu Siska datang.
Untuk pertama kalinya sejak pulang dari rumah sakit, aku tidur empat jam tanpa terbangun.
Ketika bangun, ada sup ayam kampung hangat, sayuran, buah, dan segelas susu di meja.
Hal kecil.
Tetapi aku hampir menangis ketika melihatnya.
Aku baru sadar betapa lelahnya tubuhku.
Dua hari kemudian, audit perusahaan dimulai.
Semakin diperiksa, semakin banyak masalah ditemukan.
Arman ternyata tidak mengambil Rp1,8 miliar seperti yang awalnya kami khawatirkan.
Namun dia menyembunyikan hubungan keluarga dalam proses pemilihan vendor dan memberikan informasi penawaran pesaing kepada pamannya sendiri agar CV tersebut bisa memasang harga sedikit lebih rendah.
Itu tetap pelanggaran serius.
Dewan komisaris mengadakan rapat khusus.
Karena aku pemegang saham pengendali, aku memilih tidak ikut dalam keputusan final agar tidak muncul tuduhan bahwa pemecatan dilakukan karena masalah rumah tangga.
Hasil voting tetap bulat.
Arman dicopot sebagai direktur operasional.
Kasus tender diteruskan ke audit eksternal.
Kontrak vendor keluarganya dihentikan.
Kemudian satu persoalan lain muncul.
Pada malam pertengkaran, kamera ruang keluarga juga merekam Arman menendang kursi, mengancam mengusirku bersama bayi, dan beberapa kali bergerak agresif ke arahku.
Aku tidak menunggu sampai ancaman berubah menjadi kekerasan fisik.
Atas saran pengacara, aku membuat laporan resmi serta mengajukan perlindungan sementara.
Arman marah.
Dia mengirim puluhan pesan.
Awalnya menuduhku menghancurkan kariernya.
Kemudian berubah menjadi permintaan maaf.
Setelah itu menyalahkan ibunya.
Lalu kembali menyalahkanku.
Aku hanya membalas satu kali.
“Kamu kehilangan jabatan karena keputusanmu di perusahaan. Kamu kehilangan kepercayaanku karena keputusanmu di rumah. Jangan campur keduanya.”
Setelah itu semua komunikasi dilakukan melalui pengacara.
Bu Ratih juga sempat datang ke rumah bersama dua saudara.
Beliau berdiri di depan pagar.
Kali ini tidak membawa koper.
Tidak membawa bubur instan.
Hanya membawa wajah yang terlihat jauh lebih tua.
“Nadira, Ibu mau ketemu Aluna.”
Aku keluar ditemani petugas keamanan.
“Belum, Bu.”
“Itu cucu Ibu.”
“Saya tidak pernah bilang bukan.”
Air matanya mulai turun.
“Nadira, dulu Ibu cuma ingin memastikan kamu enggak menghambur-hamburkan uang Arman.”
Aku mengangguk.
“Uang Arman?”
Bu Ratih terdiam.
Aku tidak perlu berkata lagi.
Dia sudah tahu ironi kalimat itu.
Kemudian beliau mencoba pendekatan berbeda.
“Ibu salah. Tapi masa gara-gara makanan keluarga harus hancur?”
Aku menjawab pelan,
“Keluarga kami tidak hancur karena bubur.”
Aku menatapnya lurus.
“Bubur itu cuma membuka sesuatu yang selama ini tidak terlihat.”
“Anak Ibu melihat ibunya menangis, lalu tidak lagi peduli apa yang benar.”
“Dia mengancam mengusir bayi yang baru lahir.”
“Dia menganggap bukti sebagai penghinaan karena bukti itu membuat Ibu terlihat salah.”
“Dan Ibu tahu dia seperti itu.”
Aku berhenti sebentar.
“Justru karena tahu, Ibu memanfaatkannya.”
Wajah Bu Ratih runtuh.
Tidak ada bantahan.
Tiga bulan kemudian, aku mengajukan gugatan cerai.
Arman sempat memohon mediasi.
Aku datang.
Bukan untuk kembali.
Aku datang supaya bisa mengakhiri semuanya tanpa menyisakan hal yang belum terucapkan.
Di ruang mediasi dia duduk di depanku.
Tubuhnya lebih kurus.
Tidak ada lagi jam tangan mahal perusahaan.
Tidak ada sopir.
Tidak ada jabatan direktur.
“Aku salah,” katanya.
Aku diam.
“Aku pikir membela Ibu berarti menjadi anak baik.”
“Aku dibesarkan dengan rasa takut membuat Ibu sedih.”
Aku menjawab,
“Itu mungkin menjelaskan perilakumu.”
Aku menatapnya.
“Tapi tidak menghapus akibatnya.”
Dia menunduk.
“Apa benar-benar enggak ada kesempatan?”
Aku menggeleng.
“Kesempatanmu ada malam itu.”
“Ketika aku meminta kamu melihat kamera.”
“Kamu memilih memecah kameranya.”
Dia menangis.
Aku tidak merasa puas melihatnya.
Anehnya, aku justru merasa tenang.
Aku tidak lagi marah.
Karena aku tidak lagi membutuhkan dia memahami rasa sakitku untuk bisa pergi.
Perceraian selesai enam bulan kemudian.
Hak pengasuhan utama Aluna berada padaku, sementara Arman mendapat jadwal kunjungan teratur dengan sejumlah ketentuan yang disepakati secara hukum.
Aku tidak pernah melarang Aluna mengenal ayahnya.
Kesalahan Arman sebagai suami tidak akan kupakai untuk merampas hak putriku mendapatkan hubungan yang sehat dengan ayahnya, selama keselamatannya terjamin.
Kasus perusahaan juga selesai.
Audit menemukan kerugian akibat manipulasi tender dan dana tersebut dikembalikan melalui penyelesaian hukum serta pencairan jaminan vendor.
Arman tidak pernah kembali ke perusahaan.
Rudi kehilangan kontraknya.
Bu Ratih pindah kembali ke Cirebon.
Dan aku?
Aku tidak tiba-tiba menjadi perempuan yang selalu kuat.
Ada malam-malam ketika aku masih menangis.
Ada pagi ketika aku melihat bekas operasi di cermin dan teringat bagaimana aku pernah duduk sendirian dengan mangkuk bubur instan, berusaha meyakinkan diri bahwa diperlakukan seperti itu adalah harga yang wajar demi mempertahankan pernikahan.
Tetapi perlahan hidup menjadi ringan lagi.
Aluna tumbuh sehat.
Bu Siska bekerja denganku sampai masa nifas selesai.
Setelah itu aku mempekerjakan dua pengasuh bergantian dan kembali bekerja secara bertahap.
Setahun setelah malam itu, aku sedang sarapan bersama Aluna.
Dia sudah bisa berjalan tertatih dan suka mengambil potongan buah dari piringku.
Di atas meja ada sup hangat, telur, roti, dan potongan pepaya.
Sederhana.
Namun ketika melihat anakku makan sambil tertawa, aku tiba-tiba teringat sebuah mangkuk bubur yang dulu dibuang ke tempat sampah.
Saat itu kupikir tindakanku hanya soal makanan.
Ternyata bukan.
Itu adalah pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku berkata pada diriku sendiri:
Aku tidak wajib menelan sesuatu yang menyakitiku hanya supaya orang lain tetap nyaman.
Bubur itu memang kubuang.
Tetapi bersama mangkuk itu, akhirnya kubuang juga satu kebiasaan paling berbahaya dalam hidupku—
diam demi menjaga keluarga yang bahkan tidak pernah menjaga diriku.
Dan sejak hari itu, rumahku tidak lagi dipenuhi tangisan yang digunakan sebagai senjata.
Yang tersisa hanya suara Aluna tertawa.
Bagiku, itulah akhir terbaik yang bisa kami dapatkan.
#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #IbuMertua #CeritaIndonesia #KisahViral

