Suamiku Menuntut Cerai dan Menyebutku Ibu Gagal di Pengadilan, Sampai Putra Kembarku Berdiri Membuka Rekaman yang Membuat Wajah Ayahnya Seketika Pucat di Depan Hakim, Pengacara, dan Seluruh Keluarga Kami
Bagian 1 — Di Ruang Sidang, Suamiku Mengubah Sepuluh Tahun Pengorbananku Menjadi Bukti Bahwa Aku Tidak Layak Menjadi Ibu Bagi Dua Anak Kami
Aku datang ke Pengadilan Agama Surabaya dengan satu keputusan sederhana.
Aku tidak akan mempertahankan suamiku.
Rumah boleh dia ambil.
Mobil boleh dia pakai.
Tabungan bersama bahkan tidak ingin kuributkan hari itu.
Aku hanya menginginkan Raka dan Naufal, dua putra kembarku yang baru berusia sembilan tahun.
Namun tiga puluh menit setelah sidang dimulai, aku baru mengerti bahwa Arman bukan hanya ingin bercerai dariku.
Dia ingin menghancurkan namaku sebagai seorang ibu.
“Pemohon menilai termohon tidak memiliki kestabilan emosional dan kemampuan finansial yang cukup untuk mengasuh kedua anak secara penuh.”
Pengacara Arman, Ratih Kusuma, mengucapkan kalimat itu tanpa sekali pun menatapku.
Di sampingnya, Arman duduk dengan jas abu-abu gelap, rambut tersisir rapi, jam tangan mahal di pergelangan tangannya.
Tenang.
Sangat tenang.
Seolah perempuan yang sedang mereka bicarakan bukan istrinya selama sebelas tahun.
Aku menahan napas.
Ratih membuka map berikutnya.
“Selama delapan bulan terakhir, terdapat sedikitnya sebelas kejadian di mana anak-anak ditinggalkan tanpa pengawasan ibunya.”
Aku langsung menoleh.
Sebelas?
“Selain itu,” lanjutnya, “terdapat catatan bahwa termohon beberapa kali berteriak, membanting benda, dan mengalami ledakan emosi di depan anak.”
Tanganku yang berada di bawah meja mulai dingin.
Aku tahu dari mana cerita itu berasal.
Mbak Sari.
Perempuan yang membantu menjaga rumah kami selama tiga tahun.
Arman rupanya meminta kesaksian tertulis darinya.
Tapi yang tidak mereka ceritakan adalah alasan di balik setiap kejadian.
Hari ketika aku meninggalkan anak-anak selama dua jam?
Aku pergi mengambil obat Naufal karena dia demam 39 derajat dan Arman menolak pulang dari acara golf.
Hari ketika aku berteriak?
Aku baru menemukan tagihan kartu kredit hampir dua puluh juta rupiah untuk sebuah hotel di Bali, sementara Arman mengatakan perjalanan itu adalah “urusan klien”.
Hari ketika gelas pecah?
Bukan aku yang melemparnya.
Arman menepis gelas itu dari meja saat kami bertengkar.
Aku hanya berteriak karena pecahannya mengenai kaki Raka.
Namun di ruangan itu, seluruh cerita telah dipotong.
Yang tersisa hanya versi di mana aku terlihat gila.
Ratih mengangkat beberapa lembar foto.
“Pemohon juga menyerahkan dokumentasi keadaan rumah yang tidak layak.”
Foto pertama menunjukkan piring kotor memenuhi wastafel.
Foto kedua menunjukkan pakaian berserakan di sofa.
Foto ketiga menunjukkan Raka tertidur di meja makan.
Aku hampir tertawa karena marah.
Foto piring itu diambil sehari setelah aku terkena demam berdarah.
Pakaian di sofa adalah cucian yang baru diangkat karena hujan.
Dan Raka tertidur di meja karena malam sebelumnya menunggu ayahnya pulang untuk ulang tahunnya.
Arman baru datang hampir pukul satu dini hari.
Tapi foto tidak punya suara.
Foto tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi sebelum dan sesudah tombol kamera ditekan.
“Cukup.”
Hakim ketua menghentikan Ratih sebelum menyerahkan dokumen berikutnya.
Namanya Pak Hadi Prasetyo.
Usianya mungkin sekitar lima puluhan.
Dia menatapku dari balik kacamata.
“Saudari Nadia, nanti Anda diberi kesempatan menjawab.”
Aku mengangguk.
Kupikir bagian terburuk sudah selesai.
Ternyata belum.
Ratih membuka dokumen baru.
“Termohon juga tidak memiliki pekerjaan tetap selama sembilan tahun.”
Arman akhirnya menoleh kepadaku.
Tatapan kami bertemu.
Dan untuk pertama kalinya hari itu aku benar-benar ingin berdiri lalu bertanya satu hal.
Siapa yang memintaku berhenti bekerja?
Sembilan tahun sebelumnya, aku adalah desainer produk di sebuah perusahaan furnitur di Sidoarjo.
Ketika Raka dan Naufal lahir prematur, Arman memegang tanganku di ruang NICU.
“Anak-anak lebih butuh kamu.”
Aku masih ingat kalimatnya.
“Kita tidak kekurangan uang. Aku yang bekerja. Kamu jaga rumah.”
Aku percaya.
Aku berhenti.
Selama dua tahun pertama perusahaan logistik Arman berdiri, aku bahkan yang membuat proposal klien, mengurus presentasi, dan membantu mencatat transaksi malam-malam setelah anak tidur.
Tidak pernah ada namaku di perusahaan itu.
Katanya kami suami istri.
Tidak perlu hitung-hitungan.
Sekarang keputusan yang kubuat demi keluarga digunakan untuk membuktikan aku tidak berguna.
“Benar Anda tidak bekerja?” tanya hakim.
Aku berdiri.
“Benar, Pak Hakim. Tetapi saya berhenti atas kesepakatan dengan suami karena kedua anak kami membutuhkan perawatan khusus saat kecil.”
“Sekarang punya penghasilan?”
“Belum tetap.”
Ratih langsung berdiri.
“Itulah persoalannya.”
Aku menatapnya.
“Saya bisa kembali bekerja.”
“Setelah hampir satu dekade meninggalkan dunia profesional?”
Nada suaranya sopan.
Justru itu yang membuatnya terasa lebih tajam.
Aku menarik napas.
“Saya tidak kehilangan kemampuan hanya karena menjadi ibu.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Arman berubah sedikit.
Sudut bibirnya bergerak.
Seperti ingin tersenyum.
Aku mengenal senyum itu.
Senyum yang selalu muncul ketika dia yakin aku sudah kalah.
Kemudian Ratih mengeluarkan bukti yang membuat perutku seperti dihantam batu.
“Pemohon juga memiliki alasan mempertanyakan prioritas termohon karena selama dua bulan terakhir termohon berkomunikasi intens dengan seorang pria bernama Fajar Aditya.”
Aku membeku.
Fajar?
Hakim memandang berkas.
Ratih melanjutkan.
“Tiga puluh dua panggilan telepon. Beberapa berlangsung lebih dari tiga puluh menit.”
Arman kini benar-benar menatapku.
“Ada yang ingin dijelaskan?” tanya hakim.
“Ada.”
Suaraku terdengar lebih kecil daripada yang kuinginkan.
“Pak Fajar adalah mantan atasan saya.”
Ruangan hening.
“Saya menghubungi beliau untuk mencari pekerjaan.”
Ratih tidak tampak terganggu.
“Kenapa dilakukan diam-diam?”
“Karena saya sudah tahu suami saya ingin bercerai.”
Aku menatap Arman.
“Dan saya harus memastikan anak-anak tetap makan setelah dia meninggalkan kami.”
Untuk sesaat Arman mengalihkan wajah.
Hakim mencatat sesuatu.
Kemudian giliran Arman bicara.
Dan laki-laki yang hampir setiap malam selama lima tahun terakhir pulang setelah anak-anak tidur itu berkata dengan suara paling tenang:
“Saya hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak.”
Dadaku terasa sesak.
Dia menceritakan sekolah mahal yang bisa dia bayar.
Asuransi kesehatan.
Rumah besar.
Sopir.
Les bahasa Inggris.
Les renang.
Kamar anak-anak dengan AC.
Semua yang bisa dibeli uang disebutkan satu demi satu.
Tidak ada satu kata pun tentang siapa yang berjaga saat Naufal muntah semalaman.
Siapa yang mengetahui Raka tidak suka telur setengah matang.
Siapa yang duduk di luar kelas ketika Naufal pertama kali mengalami serangan panik sebelum lomba pidato.
Tidak ada.
Karena Arman tidak tahu.
Setelah hampir dua jam, hakim akhirnya berkata,
“Kedua anak sudah cukup besar untuk menyampaikan pendapat. Kami ingin mendengar mereka.”
Pintu samping dibuka.
Raka masuk lebih dulu.
Naufal mengikuti.
Mereka memakai seragam putih-merah karena setelah sidang seharusnya langsung kembali ke sekolah.
Begitu melihatku, Naufal hampir berlari.
Raka cepat memegang tangannya.
Aku tidak tahu kenapa.
Mereka duduk berdampingan.
Hakim menurunkan nada suaranya.
“Raka, Naufal. Bapak hanya ingin bertanya. Kalau ayah dan ibu nanti tinggal terpisah, kalian ingin tinggal dengan siapa?”
Naufal langsung melihatku.
Matanya mulai merah.
Namun Raka tidak menjawab.
Dia justru menatap ayahnya.
Lama.
Arman tersenyum kecil kepadanya.
“Tidak perlu takut,” katanya.
Raka kemudian melakukan sesuatu yang tidak pernah kuduga.
Dia berdiri.
Memasukkan tangan ke dalam sepatu kirinya.
Lalu menarik sebuah kantong plastik kecil.
Di dalamnya ada kartu memori microSD.
Aku mengenal kartu itu.
Itu kartu dari kamera lama yang pernah kupakai merekam anak-anak saat kecil.
Kupikir sudah hilang bertahun-tahun lalu.
Raka menggenggamnya erat.
“Pak Hakim…”
Suara anakku bergetar.
“Sebelum saya bilang mau ikut siapa, saya boleh memperdengarkan sesuatu?”
Ratih langsung menoleh kepada Arman.
Wajah suamiku berubah.
Bukan marah.
Bukan bingung.
Takut.
Untuk pertama kalinya sejak kami masuk ke ruangan itu, kulihat tangannya kehilangan ketenangan.
Jarinya mencengkeram ujung meja.
“Raka.”
Nada suaranya rendah.
“Duduk.”
Raka tidak bergerak.
“Ini bukan urusan anak-anak.”
Raka menatap ayahnya.
Kemudian berkata pelan,
“Tapi Ayah yang membawa kami masuk ke urusan ini.”
Wajah Arman seketika pucat.
Dan aku sadar…
Anakku tahu sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu.
#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #PerjuanganSeorangIbu #CeritaIndonesia #KisahViral
Bagian 2 — Putraku Mengeluarkan Kartu Memori dari Saku Sepatunya, Lalu Suara Ayahnya Sendiri Menghancurkan Semua Kebohongan di Ruang Sidang Dalam Sekejap Hari Itu
Hakim meminta kartu memori itu diperiksa terlebih dahulu.
Ratih keberatan.
Dia mengatakan sumber file harus diverifikasi.
Hakim mengangguk.
Namun sebelum pembicaraan menjadi panjang, Raka berkata,
“File aslinya masih ada di tablet rumah.”
Aku menatap anakku.
“Tablet yang mana?”
“Tablet lama Ayah.”
Saat itulah aku melihat Arman menutup mata sepersekian detik.
Raka menjelaskan.
Tiga bulan lalu, tablet lama Arman diberikan kepada mereka untuk belajar.
Arman rupanya pernah menghubungkannya ke WhatsApp Web dan Google Drive kantor.
Dia lupa keluar dari akun.
Raka tidak sengaja melihat sebuah folder ketika mencari file tugas sekolah.
Nama foldernya sederhana.
“Custody.”
Hakim memandang Arman.
Arman segera berkata,
“Anak kecil bisa salah memahami dokumen orang dewasa.”
Raka mengangguk.
“Makanya saya tidak cuma simpan dokumen.”
Ratih mendadak diam.
Petugas memasukkan kartu memori ke komputer.
File pertama dibuka.
Sebuah rekaman suara terdengar.
Suara Arman.
Jelas sekali.
“Besok Nadia ada jadwal ke dokter gigi, kan?”
Kemudian suara Mbak Sari.
“Iya, Pak.”
“Tolong kamu pulang satu jam lebih cepat.”
“Lho, terus anak-anak?”
“Biar saja.”
Aku merasa darahku turun ke kaki.
Arman langsung berdiri.
“Itu rekaman dipotong!”
Namun suara terus berjalan.
“Aku butuh bukti Nadia meninggalkan anak sendirian. Foto jamnya. Nanti tulis saja kamu sudah mengingatkan dia.”
Ruangan membeku.
Aku memandang suamiku.
Tidak bisa berkata-kata.
Jadi salah satu dari “sebelas kejadian” itu…
Direncanakan.
File kedua dibuka.
Kali ini suara Arman berbicara dengan seseorang yang tidak kukenal.
Belakangan aku mengetahui orang itu adalah manajer pribadinya.
“Kalau Nadia marah, jangan dihentikan dulu.”
“Tapi Pak…”
“Biarkan. Kalau bisa rekam.”
Arman tertawa kecil dalam rekaman.
“Orang kalau ditekan terus pasti meledak. Sekali dia banting barang saja, cukup buat pengacara.”
Tanganku gemetar.
Aku teringat malam saat tagihan hotel Bali kutemukan.
Dia sengaja menaruhnya di meja.
Dia sengaja menjawab dengan kalimat-kalimat kasar.
Dia sengaja terus memancing ketika aku meminta penjelasan.
Selama ini kupikir pertengkaran itu terjadi karena rumah tangga kami memang sudah rusak.
Ternyata sebagian bahkan direkayasa.
Ratih menoleh tajam kepada kliennya.
“Pak Arman…”
Arman tidak menjawab.
Namun Raka belum selesai.
“Ada satu lagi.”
Anakku menarik napas.
File ketiga bukan rekaman.
Screenshot percakapan WhatsApp.
Nama kontaknya “Livia Kantor”.
Pesan Arman terpampang jelas.
Begitu hak asuh jatuh ke aku, dua anak itu masuk boarding school. Aku tidak mungkin mengurus mereka setiap hari.
Balasan perempuan itu:
Terus Nadia?
Arman:
Biar dia merasakan hidup tanpa uang dan tanpa anak.
Aku berhenti bernapas beberapa detik.
Bukan karena perempuan bernama Livia.
Pada titik itu, perselingkuhan bahkan terasa kecil.
Yang membuatku hampir runtuh adalah kalimat sebelumnya.
Boarding school.
Jadi dia tidak berjuang mendapatkan anak-anak karena mencintai mereka.
Dia ingin mengambil satu-satunya hal yang tersisa dariku.
Kemudian mengirim mereka pergi.
Naufal mulai menangis.
“Ayah bilang kami akan tinggal sama Ayah…”
Arman bangkit.
“Naufal, dengarkan Ayah—”
“Jangan dekati anak dulu.”
Suara hakim berubah tegas.
Arman berhenti.
Raka masih berdiri.
Wajahnya pucat tetapi dia tidak menangis.
“Aku menemukan percakapan itu waktu Ayah bilang ke Naufal kalau Ibu mungkin tidak bisa ketemu kami lagi.”
Aku menutup mulut.
Aku tidak tahu.
Aku benar-benar tidak tahu.
Raka melanjutkan,
“Ayah bilang Ibu sakit di kepala.”
Naufal menyela sambil terisak.
“Ayah bilang kalau kami pilih Ibu, nanti Ibu bisa marah dan pukul kami.”
Aku berdiri tanpa sadar.
“Arman…”
Hanya satu kata.
Tapi seluruh tubuhku menggigil.
Bagaimana mungkin seorang ayah menanamkan ketakutan seperti itu di kepala anak berusia sembilan tahun?
Ratih meminta waktu berbicara dengan kliennya.
Hakim memberikan jeda singkat.
Arman dan Ratih keluar menuju lorong.
Aku tidak mengikuti.
Aku memeluk kedua anakku.
Raka akhirnya menangis di dadaku.
Tangis yang sejak tadi dia tahan.
“Maaf, Bu.”
“Untuk apa?”
“Aku baca pesan Ayah tanpa izin.”
Aku mencium rambutnya.
“Kamu tidak perlu minta maaf.”
Raka menggeleng.
“Tapi masih ada satu hal.”
Aku menunduk.
“Apa?”
Dia mengusap matanya.
“Aku belum kasih semuanya ke hakim.”
Jantungku berdegup lagi.
“Kenapa?”
Raka menatap pintu tempat ayahnya baru saja keluar.
“Karena yang terakhir bukan tentang Ibu.”
Dia menelan ludah.
“Itu tentang uang perusahaan Ayah.”
Dan tepat ketika dia mengatakan itu, pintu ruang sidang terbuka.
Arman kembali masuk.
Kali ini wajahnya bukan hanya pucat.
Dia terlihat seperti seseorang yang baru sadar bahwa masalahnya jauh lebih besar daripada perceraian.
Bagian 3 — Ketika Bukti Terakhir Dibuka, Suamiku Kehilangan Hak Asuh, Reputasi, dan Rumah yang Selama Ini Dia Banggakan di Depan Kedua Anaknya Sendiri
Aku sebenarnya tidak ingin bukti terakhir dibuka.
Perceraian adalah satu hal.
Masalah perusahaan adalah hal lain.
Namun Arman sendiri yang membuat kesalahan.
Ketika hakim bertanya apakah masih ada bukti relevan mengenai kemampuan pengasuhan, dia mengatakan,
“Semua kebutuhan anak selama ini berasal dari perusahaan saya. Kondisi perusahaan sangat sehat. Saya satu-satunya pihak yang dapat menjamin kehidupan mereka.”
Raka menatapku.
Lalu dia menyerahkan printout terakhir.
Ternyata folder yang ditemukan Raka juga berisi salinan transaksi.
Aku tidak mengerti detailnya.
Tapi Ratih mengerti.
Begitu melihat angka-angka itu, wajahnya langsung berubah.
Ada transfer berulang dari rekening operasional perusahaan ke rekening pribadi.
Pembayaran apartemen.
Tiket pesawat.
Restoran.
Bahkan transfer kepada Mbak Sari.
Semua memakai rekening perusahaan.
“Apa ini?” tanya hakim.
Arman menjawab cepat.
“Pengeluaran bisnis.”
Raka berkata polos,
“Tapi apartemen itu tempat Tante Livia tinggal.”
Tidak ada satu orang pun bergerak.
Bahkan aku memejamkan mata.
Aku berharap anakku tidak perlu tahu semua ini.
Hakim akhirnya menghentikan pembahasan mengenai transaksi karena bukan pokok utama perkara.
Namun salinan dokumen tersebut dicatat sebagai bagian dari materi yang muncul di persidangan.
Yang lebih penting bagi perkara hak asuh adalah satu transfer khusus.
Lima juta rupiah kepada Mbak Sari.
Keterangan transfer:
“Bonus laporan.”
Aku menatap Arman.
Dia tidak bisa lagi menatapku.
Sidang hari itu tidak langsung menghasilkan putusan.
Ada pemeriksaan lanjutan.
Mbak Sari dipanggil.
Pada awalnya dia bertahan dengan keterangannya.
Namun setelah ditanya mengenai transfer dan rekaman suara, dia menangis.
Dia mengaku Arman memberinya uang untuk membuat catatan mengenai “kelalaian” yang sebagian telah diarahkan sebelumnya.
Dia tidak menyangka catatan itu akan dipakai untuk memisahkan anak-anak dariku.
Satu demi satu fondasi cerita Arman runtuh.
Foto-foto kehilangan konteksnya.
Catatan pengasuhan kehilangan kredibilitasnya.
Tuduhan tentang Fajar terbukti hanya komunikasi profesional karena Fajar datang memberikan keterangan bahwa aku memang sedang mengikuti proses rekrutmen.
Dua minggu setelah sidang pertama, aku bahkan mendapat surat penawaran kerja.
Tidak sebesar gaji Arman.
Tidak mewah.
Tetapi cukup.
Dan itu milikku.
Pada sidang putusan, aku kembali memakai blazer hitam yang sama.
Bedanya, hari itu aku tidak menundukkan kepala.
Hakim mengabulkan perceraian kami.
Pengasuhan sehari-hari Raka dan Naufal ditetapkan bersamaku dengan tetap memberikan hak kepada Arman untuk bertemu anak sesuai ketentuan.
Arman diwajibkan memberikan nafkah anak setiap bulan.
Yang paling kuingat bukan angka dalam putusan itu.
Melainkan kalimat hakim kepada Arman.
“Anak bukan alat untuk menghukum pasangan.”
Ruangan benar-benar sunyi.
“Ketika konflik suami-istri dipindahkan ke pikiran anak dan digunakan untuk membuat mereka takut kepada salah satu orang tua, yang terluka bukan hanya pasangan Anda.”
Hakim melihat Raka dan Naufal.
“Yang terluka adalah anak-anak Anda sendiri.”
Arman menunduk.
Untuk pertama kalinya selama sebelas tahun aku mengenalnya, dia tidak punya jawaban.
Konsekuensinya tidak berhenti di pengadilan.
Aku tidak melakukan apa pun terhadap dokumen perusahaan itu.
Aku bahkan tidak mengunggah satu kata pun ke media sosial.
Namun salah satu pemegang saham perusahaan Arman adalah kakaknya sendiri.
Masalah transaksi pribadi akhirnya sampai ke internal perusahaan.
Audit dilakukan.
Ternyata penggunaan uang perusahaan bukan hanya untuk apartemen Livia.
Ada banyak pengeluaran pribadi lain selama hampir dua tahun.
Sebulan kemudian Arman dicopot dari posisi direktur operasional.
Dia masih memiliki saham.
Dia tidak jatuh miskin.
Hidup bukan sinetron.
Tapi untuk pertama kalinya, laki-laki yang selalu mengukur manusia dengan jabatan dan uang kehilangan kursi yang paling dia banggakan.
Hubungannya dengan Livia juga berakhir.
Aku mengetahuinya bukan karena mencari tahu.
Naufal yang bercerita setelah kunjungan akhir pekan.
“Tante Livia sudah enggak ada di apartemen Ayah.”
Aku hanya menjawab,
“Oh.”
Lalu melanjutkan mengupas mangga.
Aku benar-benar sudah tidak peduli.
Enam bulan kemudian aku pindah bersama kedua anakku ke rumah kontrakan dua lantai kecil di daerah Rungkut.
Tidak ada halaman besar.
Tidak ada sopir.
Tidak ada marmer Italia seperti rumah lama kami.
Kamar Raka dan Naufal bahkan harus berbagi meja belajar.
Tapi malam pertama di rumah itu, kami bertiga makan mi goreng di lantai karena meja makan belum datang.
Naufal tiba-tiba berkata,
“Bu.”
“Hm?”
“Rumah ini kecil.”
Aku tertawa.
“Iya. Maaf ya.”
Dia menggeleng.
“Tapi enak.”
“Kenapa?”
Dia berpikir sebentar.
“Enggak ada yang bikin kita takut ngomong.”
Tanganku berhenti memegang garpu.
Di sampingnya, Raka tersenyum kecil.
Saat itulah aku menyadari sesuatu.
Selama bertahun-tahun aku mengira rumah adalah luas bangunan, jumlah kamar, saldo rekening, sekolah mahal, dan apa yang bisa kami tunjukkan kepada orang lain.
Ternyata bukan.
Rumah adalah tempat anak tidak perlu menyembunyikan kartu memori di dalam sepatu.
Rumah adalah tempat mereka tidak perlu takut salah memilih orang tua.
Rumah adalah tempat seorang ibu boleh lelah tanpa disebut gila.
Setahun kemudian aku mendapat promosi pertama di kantor baruku.
Raka masuk tim olimpiade sains sekolah.
Naufal akhirnya berani ikut lomba pidato lagi.
Arman masih bertemu mereka dua kali sebulan.
Hubungan mereka perlahan membaik setelah dia mengikuti konseling keluarga yang disarankan mediator.
Aku tidak pernah mengajarkan anak-anak untuk membencinya.
Karena kemenangan terbesarku bukan membuat mereka kehilangan ayah.
Kemenangan terbesarku adalah memastikan mereka tidak kehilangan masa kecil hanya karena ayah dan ibunya gagal mempertahankan pernikahan.
Pada malam ulang tahun kesepuluh mereka, Raka memberiku sebuah kotak kecil.
Di dalamnya ada microSD yang dulu dibawanya ke pengadilan.
“Aku sudah hapus semua file-nya, Bu.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Raka tersenyum.
“Karena kita sudah enggak perlu bukti itu lagi.”
Aku menggenggam kartu kecil itu.
Lalu untuk pertama kalinya sejak perceraian dimulai, aku menangis bukan karena takut kehilangan sesuatu.
Aku menangis karena akhirnya tahu…
Kami bertiga sudah benar-benar pulang.

