“Semua Orang Menganggapku Gila karena Menikahi Wanita Berusia 65 Tahun”—Namun di Malam Pernikahan, Aku Melihat Tanda di Bahunya

Avatar penulis
Cerita 04
21 menit baca 385 tayangan
“Semua Orang Menganggapku Gila karena Menikahi Wanita Berusia 65 Tahun”—Namun di Malam Pernikahan, Aku Melihat Tanda di Bahunya
Indeks

“Semua Orang Menganggapku Gila karena Menikahi Wanita Berusia 65 Tahun”—Namun di Malam Pernikahan, Aku Melihat Tanda di Bahunya

“Semua orang menganggapku gila karena menikahi seorang wanita berusia enam puluh lima tahun.”

Tapi mereka salah tentang alasanku menikahinya.

Bukan karena gaun-gaun mahal yang dikenakannya.

Bukan karena rumah mewahnya.

Dan sama sekali bukan karena hartanya.

“Semua Orang Menganggapku Gila karena Menikahi Wanita Berusia 65 Tahun”—Namun di Malam Pernikahan, Aku Melihat Tanda di Bahunya

Aku jatuh cinta kepada Ratna Kusumawardani karena satu hal yang bahkan keluargaku sendiri hampir tidak pernah memberikannya kepadaku.

Dia mendengarkan.

Setiap kali aku berbicara, Ratna menatap mataku seolah-olah apa yang kukatakan benar-benar penting.

Seolah-olah aku benar-benar berarti.

Namaku Arga Pratama. Usia tiga puluh tiga tahun.

Ratna tiga puluh dua tahun lebih tua dariku.

Ketika pertama kali kukatakan kepada keluarga bahwa aku ingin menikahinya, rumah kami di Depok berubah seperti ruang pengadilan.

“Perempuan itu pasti sudah memengaruhimu!” kata bibiku, Bu Rini, sambil menepuk meja.

Sepupuku bahkan tertawa sinis.

“Yang kamu cari itu ibu, bukan istri.”

Kalimat itu membuat wajahku panas.

Namun yang paling menyakitkan justru perkataan ayahku.

Ayah berdiri di dekat jendela, menatapku dengan wajah kecewa.

“Arga, dengarkan Ayah. Perempuan seperti Ratna tidak hidup di dunia yang sama dengan kita. Dia akan memanfaatkanmu. Begitu bosan, dia akan membuangmu.”

Aku tidak menjawab dengan marah.

Aku hanya berkata,

“Ayah bahkan belum benar-benar mengenalnya.”

Sejak hari itu, hampir semua orang mengira aku sudah kehilangan akal sehat.

Tetangga membicarakanku.

Teman-teman lama menjauh.

Beberapa bahkan terang-terangan mengatakan aku pasti mengincar warisan Ratna.

Aku mendengar semuanya.

Laki-laki muda menikahi perempuan kaya berusia enam puluh lima tahun?

Bagi mereka, jawabannya hanya dua.

Aku bodoh.

Atau aku mata duitan.

Tetapi aku tetap bertahan.

Aku membela Ratna di depan siapa pun.

Aku bahkan bersedia kehilangan hubungan dengan beberapa anggota keluargaku demi perempuan itu.

Karena aku yakin mengenalnya.

Setidaknya…

malam itu aku masih berpikir begitu.

Pernikahan kami diadakan di sebuah resort bergaya kolonial di kawasan Puncak, Bogor.

Tempatnya seperti sesuatu yang hanya pernah kulihat di majalah.

Bangunan tua berwarna putih berdiri di antara pepohonan besar. Ratusan lampu kecil menggantung di halaman. Rangkaian bunga putih memenuhi lorong menuju pelaminan.

Musisi memainkan lagu-lagu lembut sepanjang malam.

Para tamu mengenakan pakaian terbaik mereka.

Namun ada satu hal yang sejak awal membuatku merasa aneh.

Keamanannya.

Terlalu ketat.

Ada terlalu banyak pria berbaju hitam berdiri di sudut-sudut ruangan.

Beberapa mengenakan earpiece kecil.

Di pintu masuk, setiap kendaraan diperiksa.

Bahkan beberapa tamu harus menunjukkan undangan dan identitas sebelum diperbolehkan masuk.

Aku pernah bertanya kepada Ratna mengenai itu.

Dia hanya tersenyum.

“Teman bisnis lama. Mereka terlalu khawatir soal keamanan.”

Aku mempercayainya.

Ratna memang kaya.

Sangat kaya.

Dia memiliki saham di beberapa perusahaan properti dan logistik di Jakarta. Rumahnya di Pondok Indah lebih besar daripada seluruh bangunan tempat aku dibesarkan.

Jadi mungkin keamanan semacam itu memang normal di dunianya.

Setidaknya itulah yang kukatakan kepada diriku sendiri.

Malam semakin larut.

Para tamu akhirnya pulang.

Musik berhenti.

Untuk pertama kalinya sejak pagi, Ratna dan aku benar-benar sendirian.

Kami masuk ke kamar suite utama di lantai dua bangunan resort.

Ruangan itu sangat besar.

Lampu kuning lembut menerangi lantai kayu. Dari balkon, terlihat lampu-lampu lembah Bogor berkilauan di kejauhan.

Aku menutup pintu.

Saat berbalik, aku melihat Ratna berdiri di dekat meja.

Tangannya gemetar.

“Ratna?”

Dia tidak menjawab.

Dia membuka sebuah tas kulit yang sejak tadi dibawa asistennya.

Dari dalamnya, dia mengeluarkan sebuah amplop tebal.

Kemudian sebuah kotak kecil.

Ratna meletakkan keduanya di meja.

“Ini hadiah pernikahanmu,” katanya pelan.

Aku membuka kotak itu.

Di dalamnya ada kunci mobil.

Aku mengangkat alis.

Ratna mencoba tersenyum.

“Mobil SUV baru. Sudah terdaftar atas namamu.”

Kemudian dia menunjuk amplop.

“Dan di dalam amplop itu ada dokumen rekening. Aku sudah mentransfer Rp2 miliar kepadamu.”

Aku langsung menutup kotak tersebut.

“Ratna…”

Aku mendorong semuanya kembali ke arahnya.

“Aku tidak membutuhkan ini.”

Wajahnya berubah.

“Aku tahu.”

“Aku serius.”

Aku menggenggam tangannya.

“Aku tidak menikahimu demi mobil atau uang. Kalau besok semua kekayaanmu hilang, aku tetap akan bangun di sampingmu.”

Untuk beberapa detik, Ratna hanya menatapku.

Namun tatapan itu berbeda.

Tidak bahagia.

Tidak lega.

Justru seperti seseorang yang baru saja mendengar kalimat yang paling takut dia dengar.

Matanya perlahan memerah.

Kemudian dia menarik tangannya dariku.

“Arga…”

Suaranya bergetar.

“Ada sesuatu yang harus kukatakan.”

Aku mengernyit.

“Katakan saja.”

Ratna menundukkan kepala.

Lalu sebuah kata keluar dari mulutnya.

“Nak…”

Aku membeku.

Ratna langsung mengangkat wajah.

“Maksudku… Arga.”

Jantungku berdetak lebih keras.

“Apa tadi?”

“Tidak ada.”

“Ratna.”

Dia mundur satu langkah.

Aku belum pernah melihatnya segugup itu.

Perempuan yang selama ini selalu tenang dalam rapat bisnis, bisa menghadapi puluhan orang tanpa sedikit pun terlihat takut, sekarang bahkan sulit menatapku.

“Arga,” katanya lirih, “sebelum hubungan kita melangkah lebih jauh malam ini… kamu harus mengetahui sesuatu.”

Dingin merayapi tengkukku.

“Apa?”

Ratna mengangkat kedua tangannya ke bahu.

Perlahan, dia melepaskan selendang tipis yang sejak tadi menutupi bagian atas gaunnya.

Selendang itu jatuh ke kursi.

Dan saat itulah mataku tertuju pada bahu kirinya.

Napas seolah berhenti di tenggorokanku.

Di dekat tulang selangkanya terdapat sebuah tanda lahir berwarna cokelat gelap.

Bentuknya hampir bulat.

Namun salah satu sisinya sedikit tidak rata.

Aku pernah melihat tanda itu ribuan kali.

Ketika masih kecil.

Ketika ibuku menggendongku.

Ketika dia menyisir rambut di depan cermin.

Ketika aku tidur di sebelahnya saat sakit.

Ibuku memiliki tanda lahir yang sama.

Di tempat yang sama.

Dengan bentuk yang sama.

Tanganku mulai gemetar.

Aku menunjuk bahu Ratna.

“Itu…”

Ratna tidak bergerak.

“Tanda itu…”

Aku kesulitan menyelesaikan kalimat.

“Kenapa kamu punya tanda seperti itu?”

Wajah Ratna langsung pucat.

Aku mundur selangkah.

Bayangan wajah ibuku tiba-tiba memenuhi kepalaku.

Namanya Sari Pratama.

Perempuan yang kukenal sebagai ibuku sejak lahir.

Perempuan yang selalu mengatakan bahwa aku adalah satu-satunya anak yang pernah dia miliki.

Perempuan yang meninggal ketika aku berusia tujuh belas tahun.

Aku masih ingat jelas tanda lahir di dekat bahu kirinya.

Tidak mungkin aku salah.

“Ratna…”

Suaraku hampir tidak terdengar.

“Kenapa tandamu sama persis dengan milik ibuku?”

Dia menutup mata.

Satu air mata jatuh di pipinya.

Aku merasa lantai di bawah kakiku seperti bergeser.

“Jawab aku.”

Ratna membuka mata.

“Aku akan menjawab semuanya.”

“Sekarang.”

Dia memandang pintu kamar.

Lalu ke arah balkon.

Seolah-olah memastikan tidak ada seseorang yang sedang mendengarkan.

Gerakannya membuatku semakin takut.

“Kenapa kamu melihat pintu?”

Ratna tidak menjawab.

Sebaliknya, dia berjalan cepat menuju pintu dan menguncinya.

Kemudian memasang kait pengaman.

Setelah itu dia mengambil ponselnya dan mematikannya.

“Ratna, apa yang sebenarnya terjadi?”

Dia kembali ke meja.

Tangannya membuka amplop yang tadi kukira hanya berisi dokumen rekening.

Namun ternyata ada bagian lain di dalamnya.

Dia menarik keluar beberapa lembar kertas tua.

Sebuah foto.

Dan satu dokumen yang tampak seperti salinan akta kelahiran.

Aku langsung ingin mengambilnya.

Namun Ratna menahan tanganku.

“Jangan dulu.”

“Kenapa?”

“Karena kalau kamu membacanya sebelum mendengar penjelasanku, kamu mungkin akan keluar dari kamar ini dan tidak pernah mau melihatku lagi.”

Tubuhku terasa kaku.

“Apa hubungannya semua ini dengan ibuku?”

Ratna menatapku lama.

Kemudian dia berkata sesuatu yang membuat darahku seperti berhenti mengalir.

“Karena perempuan yang kamu kenal sebagai ibumu…”

Dia berhenti.

Bibirnya bergetar.

“…tidak pernah melahirkanmu.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

Untuk beberapa detik aku bahkan tidak memahami kalimat itu.

“Apa?”

Ratna mulai menangis.

“Ada banyak hal tentang hidupmu yang sengaja disembunyikan, Arga.”

Aku menarik tanganku dari genggamannya.

“Kamu bohong.”

“Aku berharap begitu.”

“Ibuku membesarkanku!”

“Aku tahu.”

“Namanya ada di akta kelahiranku!”

Ratna menutup mulutnya sebentar, berusaha menahan tangis.

“Itulah masalahnya.”

Aku melihat dokumen di atas meja.

Kemudian kembali menatapnya.

“Siapa kamu sebenarnya?”

Pertanyaan itu membuat Ratna terlihat seperti kehilangan seluruh kekuatannya.

Dia duduk perlahan di tepi kursi.

Selama bertahun-tahun aku mengenal Ratna sebagai perempuan yang hampir mustahil dibuat takut.

Malam itu, dia terlihat seperti seseorang yang telah membawa sebuah rahasia terlalu lama.

“Arga,” katanya, “pernikahan ini seharusnya tidak pernah terjadi.”

Aku merasa mual.

“Apa maksudmu?”

“Aku mendekatimu untuk satu alasan.”

Jantungku berdegup keras.

“Alasan apa?”

Ratna menatap foto tua di meja.

Kemudian dia mendorongnya perlahan ke arahku.

Tanganku gemetar ketika mengambilnya.

Foto itu sudah pudar.

Seorang perempuan muda berdiri di depan sebuah rumah sakit.

Rambutnya hitam panjang.

Tubuhnya kurus.

Dia tersenyum sambil memegang seorang bayi yang dibungkus kain putih.

Aku menatap wajah perempuan itu.

Lalu menatap Ratna.

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

Itu dia.

Ratna.

Mungkin empat puluh tahun lebih muda.

Dan bayi di dalam pelukannya memiliki sebuah gelang kecil di pergelangan tangan.

Aku memperbesar tulisan di gelang itu dengan mendekatkan foto ke lampu.

Hanya ada satu nama yang masih bisa terbaca.

ARGA.

Aku hampir menjatuhkan foto itu.

“Apa ini?”

Ratna berdiri.

Kemudian kata-kata berikutnya keluar dengan suara sangat pelan.

“Aku mengenalmu jauh sebelum kamu mengenalku.”

Aku menatapnya.

“Bagaimana?”

Air matanya kembali jatuh.

Ratna menarik napas panjang.

“Aku tidak bisa terus diam lagi.”

Ruangan terasa mendadak terlalu sempit.

Pintu yang terkunci seperti membuat kamar suite itu berubah menjadi penjara.

Semua perkataan keluargaku kembali terngiang di kepalaku.

Peringatan ayahku.

Keamanan berlebihan di pesta pernikahan.

Orang-orang berbaju hitam.

Hadiah Rp2 miliar.

SUV.

Tanda lahir.

Foto bayi.

Dan cara Ratna secara tidak sengaja memanggilku…

Nak.

Aku mundur hingga punggungku menyentuh meja.

“Ratna…”

Aku menatap matanya.

“Siapa aku sebenarnya?”

Dia menutup mata selama beberapa detik.

Kemudian membukanya kembali.

Kali ini tidak ada lagi upaya untuk menyembunyikan apa pun.

“Aku akan menceritakan semuanya malam ini.”

Dia menunjuk akta kelahiran di meja.

“Termasuk siapa perempuan yang melahirkanmu.”

Jantungku terasa seperti berhenti.

Ratna menarik napas.

“Dan kenapa ayahmu sudah mengetahui kebenaran itu selama lebih dari tiga puluh tahun.”

Aku membeku.

Ayahku?

Saat itulah aku sadar bahwa rahasia yang akan dibongkar Ratna bukan hanya tentang dirinya.

Rahasia itu melibatkan keluargaku.

Masa kecilku.

Bahkan identitasku sendiri.

Dan mungkin…

seluruh hidup yang selama ini kupercaya ternyata dibangun di atas sebuah kebohongan.

Ratna tidak langsung bicara.

Dia berdiri di samping meja, kedua tangannya mencengkeram sandaran kursi begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

Aku masih memegang foto lama itu.

Foto dirinya ketika muda.

Foto seorang bayi.

Foto gelang kecil bertuliskan namaku.

Aku merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang.

“Jelaskan,” kataku.

Ratna menatapku.

“Namaku dulu bukan Ratna Kusumawardani.”

Aku tidak menjawab.

“Namaku Ratna Dewi Santoso. Tiga puluh tiga tahun lalu, aku bekerja sebagai staf administrasi di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta.”

Aku menatapnya tajam.

“Lalu?”

“Malam kamu lahir, terjadi sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.”

Tanganku mulai dingin.

Ratna menarik napas panjang.

“Aku melahirkan seorang bayi laki-laki.”

Dunia seakan berhenti.

Aku tidak berkedip.

Dia meneruskan dengan suara bergetar.

“Bayi itu kamu.”

Aku tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Karena otakku menolak menerima kalimat itu.

“Tidak.”

“Arga…”

“Tidak.”

Aku melempar foto itu ke meja.

“Kamu menikahiku.”

Ratna menutup mata.

Aku bisa melihat rasa malu di wajahnya.

“Karena itu aku ingin menghentikan semuanya malam ini.”

Aku mundur.

“Kamu gila.”

“Aku tahu bagaimana kedengarannya.”

“Bagaimana kedengarannya?”

Suaraku naik.

“Kamu baru saja mengatakan bahwa kamu ibu kandungku setelah berdiri di pelaminan bersamaku!”

Ratna menutup wajahnya.

“Aku tidak pernah berniat hubungan ini sampai sejauh itu.”

Aku hampir tidak bisa bernapas.

“Lalu kenapa kamu biarkan?”

Dia memandangku.

Karena air matanya terus jatuh, riasannya mulai luntur.

“Aku mendekatimu karena aku ingin memastikan kamu hidup baik.”

Aku menatapnya dengan jijik, bingung, marah, takut.

“Dengan menikahiku?”

“Tidak.”

Dia menggeleng cepat.

“Awalnya tidak.”

Ratna menarik kursi dan duduk.

“Aku menemukanmu empat tahun lalu.”

“Menemukanku?”

“Aku mencarimu hampir tiga puluh tahun.”

Aku tertawa lagi.

“Dan selama tiga puluh tahun kamu tidak bisa menemukan seorang anak?”

“Kamu tidak mengerti.”

“Ya. Karena tak satu pun dari ini masuk akal!”

Ratna menghapus air mata.

“Setelah kamu lahir, seseorang membawamu.”

Aku berhenti.

“Apa?”

“Malam itu aku melahirkan sendirian. Ayah biologismu tidak ada. Keluargaku sudah mengusirku karena aku hamil di luar nikah.”

Ratna menunduk.

“Ketika aku bangun setelah persalinan, perawat mengatakan bayiku mengalami komplikasi dan meninggal.”

Aku menatapnya.

“Tapi aku tidak pernah melihat jasadnya.”

Ratna bangkit dan mengambil sebuah map dari tas.

Dia mengeluarkan salinan laporan rumah sakit.

“Aku menuntut melihat catatan. Mereka menolak. Beberapa hari kemudian, catatan persalinanku hilang.”

“Lalu kamu percaya saja?”

“Aku berusia tiga puluh dua tahun, sendirian, miskin, dan ketakutan. Aku tidak punya siapa-siapa.”

Aku menggertakkan gigi.

“Jadi bagaimana kamu tahu aku bayi itu?”

Ratna mendorong satu dokumen lain ke arahku.

Tes DNA.

Namaku tercetak di sana.

Aku menatap hasilnya lama.

Probabilitas hubungan ibu-anak: 99,999%.

Aku merasa lututku melemah.

“Ini palsu.”

“Tidak.”

“Kapan kamu melakukan ini?”

“Setahun lalu.”

Aku menatapnya tajam.

“Tanpa izin?”

Ratna diam.

“Itu sebabnya kamu memberiku gelas minum di rumahmu?”

Dia tidak menjawab.

Aku teringat satu malam ketika aku makan malam di rumah Ratna.

Gelas yang kutinggalkan.

Sedotan.

Aku merasa mual.

“Kamu mencuri DNA-ku?”

“Aku harus tahu.”

“Dan setelah tahu kamu ibu kandungku, kamu tetap menerima lamaran?”

Ratna menangis lebih keras.

“Aku mencoba pergi.”

“Bohong.”

“Aku benar-benar mencoba.”

Dia berdiri dan mendekat.

Aku mundur.

“Jangan sentuh aku.”

Ratna berhenti.

Aku melihat wajahnya hancur.

“Aku tahu aku telah melakukan sesuatu yang tidak bisa dimaafkan.”

Aku menggeleng.

“Kenapa?”

Ratna menjawab pelan.

“Karena aku takut kehilanganmu lagi.”

Kalimat itu membuatku diam.

“Ketika aku menemukanmu,” katanya, “kamu tidak mengenalku. Aku tidak bisa datang dan berkata bahwa seluruh hidupmu adalah kebohongan.”

“Jadi kamu memilih menjadi pacarku?”

“Tidak begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Ratna memejamkan mata.

“Kamu yang mulai mendekatiku.”

Aku mengingat pertemuan pertama kami.

Sebuah acara amal.

Aku bekerja sebagai konsultan logistik untuk perusahaan kecil.

Ratna adalah salah satu donatur.

Kami berbicara hampir dua jam malam itu.

Aku menyukainya karena dia tidak menganggapku rendah.

Kemudian kami bertemu lagi.

Dan lagi.

Aku yang mengajaknya makan malam.

Aku yang menelepon lebih dulu.

Aku yang mengatakan cinta lebih dulu.

Mual naik ke tenggorokanku.

Ratna berbisik,

“Setiap kali aku mencoba menjauh, kamu datang lagi.”

“Seharusnya kamu mengatakan kebenaran.”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

Dia terdiam.

Lalu menjawab,

“Ayahmu.”

Aku menatapnya.

“Jangan bawa Ayah ke dalam ini.”

“Dia sudah ada di dalam ini sejak awal.”

Ratna mengambil satu dokumen lagi.

Kali ini sebuah surat tua.

Di bagian bawah ada tanda tangan.

Aku mengenalnya.

Ayahku.

Bambang Pratama.

Aku membaca surat itu.

Tangan mulai gemetar.

Isinya pendek.

Tentang pembayaran.

Tentang kerahasiaan.

Tentang seorang bayi laki-laki yang akan “diserahkan kepada keluarga Pratama”.

Aku menjatuhkannya.

“Apa ini?”

Ratna menjawab,

“Ayahmu membeli kamu.”

Aku membeku.

“Jangan berani mengatakan itu.”

“Arga…”

“Jangan.”

Aku mengambil ponsel.

Aku langsung menelepon ayah.

Sekali.

Tidak dijawab.

Dua kali.

Tidak dijawab.

Ketiga kali, dia mengangkat.

“Arga?”

“Ayah di mana?”

Suaraku terdengar asing bahkan di telingaku sendiri.

“Di rumah. Kenapa?”

“Datang ke Puncak.”

Hening.

“Sekarang.”

“Sudah malam.”

“Ayah tahu siapa Ratna sebenarnya?”

Tidak ada jawaban.

Aku menutup mata.

Hening itu sudah cukup.

“Ayah tahu.”

“Arga…”

Aku memutus telepon.

Ratna menatapku.

“Ayahmu mungkin tidak akan datang sendirian.”

Aku tertawa pahit.

“Tentu. Karena rupanya semua orang dalam hidupku punya rahasia.”

Empat puluh menit kemudian, terdengar ketukan keras di pintu.

Aku membuka.

Ayah berdiri di sana.

Bersama bibiku, Rini.

Dan seorang pria berkacamata yang kukenal sebagai pengacara keluarga.

Aku menatap mereka satu per satu.

“Apa ini?”

Ayah masuk tanpa izin.

Begitu melihat Ratna, wajahnya berubah.

“Kamu seharusnya tidak pernah kembali.”

Ratna berdiri.

“Dan kamu seharusnya tidak pernah menjual kebohongan sebagai keluarga.”

Ayah menghantam meja.

“Diam!”

Aku menatapnya.

“Jelaskan.”

Ayah menoleh padaku.

“Arga, ada banyak hal yang tidak kamu pahami.”

“Kalian mengambil aku dari rumah sakit?”

Ayah menutup mata.

Bibiku mulai menangis.

Aku menatapnya.

“Tante juga tahu?”

Rini menggeleng cepat.

“Aku baru tahu beberapa tahun kemudian.”

Aku merasa kepala berputar.

“Apa Ibu tahu?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku mendekati ayah.

“Apakah Ibu tahu aku bukan anak kandungnya?”

Ayah akhirnya berkata,

“Ya.”

Aku terdiam.

Itu lebih menyakitkan daripada semua yang lain.

Aku membayangkan Sari.

Ibuku.

Perempuan yang mengajariku membaca.

Yang menunggu di sekolah ketika aku terlambat.

Yang bekerja sampingan menjahit seragam agar aku bisa kuliah.

“Dia tahu?”

Ayah mengangguk.

“Tapi dia mencintaimu lebih dari apa pun.”

Aku menatap ayah dengan mata panas.

“Lalu kenapa kalian mengambilku?”

Ayah duduk perlahan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihatnya benar-benar tua.

“Ibumu tidak bisa punya anak.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Kami mencoba bertahun-tahun.”

Dia melanjutkan.

“Lalu seseorang di rumah sakit tahu ada seorang perempuan yang melahirkan tanpa keluarga. Orang itu menawarkan jalan.”

Ratna memotong.

“Jalan?”

Suaranya dingin.

“Kamu membayar petugas rumah sakit untuk mengatakan anakku meninggal.”

Ayah menatap lantai.

“Aku tidak tahu mereka mengatakan itu.”

Ratna tertawa pahit.

“Tentu saja.”

“Aku pikir ibunya memang menyerahkan bayi.”

“Bohong!”

Ratna berteriak.

“Aku mencarinya selama tiga puluh tahun!”

Ayah ikut berdiri.

“Aku bilang aku tidak tahu!”

Aku berdiri di antara mereka.

“Cukup!”

Semua diam.

Aku melihat satu demi satu.

“Jadi hidupku selama ini…”

Suaraku patah.

“…dibangun dari penculikan?”

Pengacara keluarga akhirnya bicara.

“Secara hukum, dokumen adopsi yang digunakan waktu itu tampaknya tidak sah.”

Aku memandangnya.

“Tidak sah?”

Dia menunduk.

“Ada indikasi pemalsuan.”

Aku tersenyum getir.

“Bagus. Bahkan namaku mungkin hasil pemalsuan.”

Ayah mendekat.

“Arga, aku tetap ayahmu.”

Aku menatapnya.

“Kamu membeli aku.”

“Aku membesarkanmu.”

“Kamu membeli aku.”

“Aku mencintaimu!”

Aku berteriak,

“Kalau mencintaiku, kenapa tidak pernah mengatakan siapa aku?”

Ayah tidak bisa menjawab.

Aku keluar ke balkon.

Udara Puncak dingin.

Kabut turun di antara pepohonan.

Aku berdiri di sana lama.

Kemudian seseorang datang.

Bukan Ratna.

Bibiku.

Rini berdiri di pintu.

“Aku punya sesuatu untukmu.”

Aku tidak menoleh.

“Sudah cukup rahasia untuk satu malam.”

“Ini dari ibumu.”

Aku membeku.

Rini mengeluarkan amplop kecil.

Tulisan tangan di depan membuat dadaku sesak.

Untuk Arga.

Tulisan Sari.

Aku merobeknya.

Di dalam ada surat.

Tanganku gemetar saat membaca.

Arga, kalau suatu hari kamu membaca ini, mungkin berarti rahasia yang paling kutakuti akhirnya terbuka.

Aku bukan perempuan yang melahirkanmu.

Tapi sejak pertama kali aku memelukmu, aku adalah ibumu.

Aku salah karena membiarkan ayahmu menyimpan kebenaran.

Aku takut jika kamu tahu, kamu akan pergi mencari ibu kandungmu dan tidak pernah pulang.

Ketakutan membuatku egois.

Maafkan aku.

Namun satu hal jangan pernah kamu ragukan.

Tidak ada satu hari pun aku menganggapmu bukan anakku.

Di bagian akhir tertulis:

Kalau suatu hari kamu menemukan perempuan yang melahirkanmu, jangan membencinya sebelum kamu mendengar ceritanya.

Dia mungkin juga kehilanganmu.

Aku tidak bisa membaca lagi.

Air mataku jatuh ke kertas.

Rini berkata,

“Sari menitipkan surat itu seminggu sebelum meninggal.”

Aku menatapnya.

“Kenapa baru sekarang?”

“Bambang melarangku.”

Aku memejamkan mata.

Satu kebohongan lagi.

Ketika aku kembali ke kamar, ayah berdiri dekat pintu.

Aku memberinya surat itu.

Dia membaca.

Wajahnya runtuh.

“Aku hanya takut kehilanganmu,” katanya.

Aku menjawab,

“Semua orang terus mengatakan itu.”

Aku menatap Ratna.

“Kamu takut kehilangan aku.”

Lalu ayah.

“Ayah juga.”

Aku mengangkat surat Sari.

“Ibu juga.”

Aku menggeleng.

“Tapi tidak ada yang pernah bertanya apa yang aku butuhkan.”

Ruangan sunyi.

“Aku butuh kebenaran.”

Malam itu aku tidak tidur.

Dan pernikahan kami tidak pernah disempurnakan.

Pagi-pagi sekali, Ratna menyerahkan semua bukti kepada pengacara independen yang kupilih sendiri.

Aku membatalkan pernikahan.

Bukan perceraian.

Pengadilan kemudian menyatakan pernikahan itu dapat dibatalkan setelah bukti hubungan biologis dikonfirmasi.

Kasus rumah sakit lama juga dibuka kembali.

Dua mantan pegawai yang masih hidup diperiksa.

Salah satunya mengaku bahwa puluhan tahun lalu ada praktik ilegal: bayi dari ibu yang dianggap “tidak mampu” dipindahkan kepada keluarga kaya dengan dokumen palsu.

Ayah ternyata bukan satu-satunya.

Tapi pengakuannya tetap menghancurkan keluargaku.

Dia menerima konsekuensi hukum dan sosial.

Aku tidak mengunjunginya selama berbulan-bulan.

Ratna juga tidak aku temui.

Aku pindah dari Jakarta untuk sementara.

Pergi ke Bandung.

Menyewa rumah kecil.

Tidak ada mobil mewah.

Tidak ada pengawal.

Tidak ada perusahaan besar.

Aku hanya ingin tahu siapa diriku jika semua label itu dilepas.

Enam bulan kemudian, aku kembali ke makam Sari.

Aku duduk di depan batu nisannya.

“Aku marah sama Ibu,” kataku.

Angin menggerakkan daun.

“Tapi aku tetap kangen.”

Aku meletakkan suratnya di pangkuan.

“Kupikir setelah tahu kebenaran, aku akan tahu siapa ibuku.”

Aku tertawa kecil sambil menangis.

“Ternyata malah jadi lebih rumit.”

Seseorang berdiri beberapa meter di belakangku.

Ratna.

Dia tampak berbeda.

Lebih kurus.

Tanpa sopir.

Tanpa pengawal.

Hanya membawa bunga.

“Aku bisa pergi,” katanya.

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Ratna mendekat.

Dia berdiri di sebelah makam Sari.

Lalu melakukan sesuatu yang tidak kuduga.

Dia membungkuk.

Meletakkan bunga.

Dan berkata,

“Terima kasih sudah membesarkan anakku.”

Aku menutup mata.

Ratna menangis.

“Aku iri padamu selama berbulan-bulan,” katanya kepada batu nisan itu.

“Karena kamu mendapat semua tahun yang tidak kumiliki.”

Dia mengusap air mata.

“Tapi sekarang aku tahu… Arga menjadi orang baik karena kamu.”

Aku tidak tahu kenapa kalimat itu menghancurkanku.

Aku menangis seperti anak kecil.

Ratna tidak memelukku.

Dia hanya duduk beberapa langkah jauhnya.

Memberiku ruang.

Setelah lama diam, aku bertanya,

“Kenapa kamu benar-benar menerima pernikahan itu?”

Ratna menatap tanah.

“Aku belum mengatakan seluruh kebenarannya.”

Aku menegang.

Dia tersenyum sedih.

“Tenang. Bukan rahasia buruk.”

Aku menunggu.

Ratna membuka tasnya dan mengeluarkan buku harian kecil.

“Setelah DNA memastikan kamu anakku, aku ingin pergi dari hidupmu.”

Aku mengangguk.

“Tapi kemudian dokter mengatakan aku punya kanker.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Stadium tiga.”

Aku membeku.

“Kenapa kamu tidak bilang?”

“Karena aku tidak mau kamu tinggal karena kasihan.”

Ratna tersenyum.

“Aku pikir hidupku mungkin tinggal setahun atau dua tahun. Dan ketika kamu melamarku… aku egois.”

Air matanya jatuh.

“Aku ingin punya sedikit waktu bersamamu.”

Aku menatap perempuan yang beberapa bulan lalu hampir kunikahi.

Sekarang aku tidak melihat calon istriku.

Aku melihat seseorang yang pernah kehilangan bayinya.

Seseorang yang menghabiskan puluhan tahun mencari.

Seseorang yang membuat kesalahan besar karena ketakutan.

“Apa kamu sedang menjalani pengobatan?”

Ratna mengangguk.

“Aku menjual sebagian saham. Aku juga membentuk yayasan.”

“Yayasan apa?”

Dia menyerahkan dokumen.

Aku membaca namanya.

Yayasan Sari.

Aku menatap Ratna.

“Kenapa pakai nama Ibu?”

“Untuk membantu ibu tunggal dan anak-anak yang kehilangan identitas hukum karena adopsi ilegal.”

Aku tidak bisa bicara.

Ratna tersenyum.

“Aku pikir dua perempuan bisa menjadi ibu bagi satu anak dengan cara berbeda.”

Setahun berikutnya tidak mudah.

Ratna menjalani operasi dan kemoterapi.

Aku tidak tinggal bersamanya.

Aku tidak memanggilnya Ibu pada awalnya.

Aku bahkan kadang masih marah.

Tapi aku datang ke rumah sakit.

Kadang membawa bubur.

Kadang hanya duduk diam.

Hubungan kami dibangun kembali bukan sebagai pasangan.

Sebagai dua orang yang terlambat mengenal satu sama lain.

Suatu pagi di rumah sakit, Ratna sedang tidur ketika aku merapikan selimutnya.

Dia membuka mata.

“Arga?”

“Ya?”

“Kalau aku tidak berhasil…”

Aku memotong.

“Jangan ngomong begitu.”

Dia tersenyum lemah.

“Aku cuma mau bilang sesuatu.”

Aku menunggu.

“Maaf.”

Aku menggeleng.

Dia melanjutkan.

“Bukan cuma soal pernikahan.”

Air matanya mengalir.

“Maaf karena tidak cukup berani mengatakan kebenaran sejak awal.”

Aku menggenggam tangannya.

Untuk pertama kalinya.

“Bu.”

Ratna langsung membeku.

Aku sendiri terkejut mendengar kata itu keluar dari mulutku.

Matanya penuh air.

“Apa?”

Aku menahan tangis.

“Aku bilang… Bu.”

Dia menutup wajah dengan tangan.

Tangisnya pecah.

Aku tersenyum sambil menangis.

“Tapi jangan berharap aku panggil begitu setiap lima menit.”

Dia tertawa di antara tangis.

“Itu sudah lebih dari cukup.”

Dua tahun kemudian, kanker Ratna masuk remisi.

Ayahku juga berubah.

Dia menjual rumah besar kami.

Sebagian uangnya digunakan untuk membayar restitusi bagi beberapa korban praktik adopsi ilegal yang berhasil ditemukan.

Aku tidak langsung memaafkannya.

Mungkin tidak akan pernah sepenuhnya.

Tapi suatu sore dia datang ke kantor yayasan.

Dia melihat foto Sari di dinding.

Lalu foto Ratna.

Dan terakhir foto diriku.

“Aku menghancurkan banyak hal karena ingin punya keluarga,” katanya.

Aku menjawab,

“Keluarga tidak bisa dibangun dengan mencuri keluarga orang lain.”

Dia mengangguk.

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya, dia tidak mencari alasan.

Aku memberinya kursi.

Kami minum kopi.

Tidak sebagai ayah dan anak yang sudah berdamai sepenuhnya.

Tapi sebagai dua manusia yang mencoba hidup dengan akibat dari masa lalu.

Dan twist terakhir justru datang tiga tahun setelah malam pernikahan itu.

Yayasan kami menerima sebuah berkas lama dari arsip rumah sakit.

Di dalamnya ada daftar bayi yang dipindahkan secara ilegal.

Namaku bukan satu-satunya.

Ada sebelas.

Dan di baris terakhir terdapat nama seorang bayi perempuan.

Nama ibu kandungnya:

Ratna Dewi Santoso.

Aku menatap dokumen itu.

Lalu menatap Ratna.

Wajahnya pucat.

“Aku cuma melahirkan satu kali,” katanya.

Kami mencari lebih jauh.

Ternyata catatan lama itu salah kategorisasi.

Bayi perempuan itu bukan anak Ratna.

Dia adalah bayi Sari.

Aku membeku.

Sari ternyata pernah melahirkan.

Seorang anak perempuan.

Tapi bayi itu juga diambil rumah sakit setelah dikatakan meninggal.

Selama hidupnya, Sari tidak pernah tahu.

Kami melacak perempuan itu.

Namanya sekarang Maya Lestari.

Usianya tiga puluh sembilan.

Tinggal di Semarang.

Ketika kami bertemu untuk pertama kalinya, Maya membawa sebuah foto tua.

Foto Sari.

“Aku sudah mencari perempuan ini selama dua belas tahun,” katanya.

Aku menangis.

Jadi perempuan yang membesarkanku kehilangan anak kandungnya.

Dan perempuan yang melahirkanku kehilangan aku.

Dua ibu.

Dua bayi.

Dua kehidupan yang dihancurkan oleh jaringan yang sama.

Aku memandang Ratna.

Lalu Maya.

Dan untuk pertama kalinya aku benar-benar memahami sesuatu.

Keluarga bukan selalu tentang siapa yang melahirkanmu.

Bukan juga semata tentang siapa yang membesarkanmu.

Kadang keluarga adalah orang-orang yang memilih untuk menghadapi kebenaran bersama setelah kebohongan menghancurkan semuanya.

Hari ini, di kantor Yayasan Sari, ada tiga foto di meja kerjaku.

Sari.

Ratna.

Dan Maya.

Di bawah foto itu ada satu kalimat yang kutulis sendiri:

“Kebenaran memang bisa menghancurkan hidup yang kita kenal. Tapi kadang, dari kehancuran itulah kita akhirnya menemukan keluarga yang selama ini hilang.”