SUAMIKU MENCAMBUKKU LIMA KALI KARENA SELINGKUHANNYA MENUDUHKU MERUSAK MOBILNYA—LIMA MENIT KEMUDIAN, SATU TELEPONKU MENGANCAM INVESTASI RP52 TRILIUN MILIK PERUSAHAANNYA
Suamiku mencambukku lima kali dengan ikat pinggang hanya karena perempuan simpanannya bersumpah aku telah menggores mobilnya.
“Tandatangani surat cerai ini dan keluar tanpa membawa satu rupiah pun,” katanya.
Perempuan itu berdiri beberapa langkah darinya sambil tersenyum puas.
Aku tidak menangis.

Aku menyimpan rekamannya, menandatangani dokumen itu dalam diam, lalu lima menit kemudian melakukan satu panggilan telepon yang membuat investasi senilai Rp52 triliun—uang yang sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan perusahaan suamiku—berada dalam bahaya.
“Lima kali hanya gara-gara mobil yang bahkan tidak pernah kusentuh. Dan dia masih berani berkata kepadaku, ‘Bersyukurlah aku tidak melakukan yang lebih buruk.’”
Namaku Nadira Pratama.
Usiaku tiga puluh tiga tahun.
Dan malam itu, setelah enam tahun menikah, akhirnya aku mengerti bahwa suamiku akan mempercayai hampir semua kebohongan selama kebohongan itu keluar dari mulut perempuan yang sedang tidur dengannya.
Suamiku, Arga Wijaya, berdiri di kamar utama rumah kami di Pondok Indah, Jakarta Selatan, dengan napas memburu.
Ikatan pinggang kulit masih tergenggam di tangannya.
Di seberang kamar, Celine Mahendra, direktur hubungan masyarakat berusia dua puluh enam tahun di perusahaan Arga, duduk santai sambil meminum wine dari gelas milikku.
Caranya duduk membuatku muak.
Seolah-olah rumah itu sudah menjadi miliknya.
Seolah-olah aku hanyalah tamu yang terlambat menyadari bahwa tempatku telah digantikan.
Satu jam sebelumnya, Celine datang ke rumah kami dengan wajah marah dan mengatakan bahwa aku sengaja menggores mobil sport mewahnya di area parkir kantor Wijaya Translog, perusahaan logistik milik Arga di Jakarta.
Masalahnya sederhana.
Hari itu aku bahkan tidak keluar rumah.
Aku bekerja dari ruang kerjaku sejak pagi.
Petugas keamanan kompleks melihatku.
Asisten rumah tangga kami melihatku.
Rekaman CCTV rumah pasti bisa membuktikannya.
Namun Arga tidak meminta bukti.
Dia tidak menelepon petugas keamanan.
Dia tidak memeriksa CCTV kantor.
Dia bahkan tidak bertanya kepada Celine apakah ada seorang saksi yang melihatku berada di dekat mobil tersebut.
Tidak ada satu pun.
Tetapi Arga sudah menentukan siapa yang bersalah bahkan sebelum mendengar penjelasanku.
“Kamu selalu seperti ini!” bentaknya.
Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.
“Kamu terus bergantung padaku karena kamu tidak punya apa-apa sendiri. Tiga hari lagi aku akan menutup kesepakatan investasi terbesar dalam hidupku. Aku tidak akan membiarkan perempuan biasa sepertimu menghancurkan semuanya.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Hampir.
Kesepakatan itu memang telah menjadi satu-satunya hal yang dibicarakan Arga selama beberapa bulan terakhir.
Wijaya Translog telah berkembang menjadi salah satu perusahaan logistik swasta terbesar di Indonesia, dengan jaringan pergudangan, distribusi, dan transportasi yang tersebar dari Jawa hingga Sumatra dan Sulawesi.
Di atas kertas, valuasinya mendekati Rp145 triliun.
Tetapi pertumbuhan yang terlalu cepat membuat perusahaan membutuhkan modal baru.
Utang membengkak.
Ekspansi gudang membutuhkan dana.
Beberapa pinjaman jangka pendek segera jatuh tempo.
Dan sebuah konsorsium investasi internasional bernama Meridian Capital Asia sedang mempersiapkan investasi sekitar Rp52 triliun.
Bagi Arga, kesepakatan itu bukan sekadar penyelamat perusahaan.
Itu adalah penobatannya.
Jika transaksi berhasil, namanya akan masuk ke jajaran pengusaha besar yang selama bertahun-tahun ingin ia tandingi.
Celine menatap Arga sambil tersenyum.
“Setelah semuanya selesai,” katanya lembut, “mungkin Mas Arga akhirnya bisa memulai kehidupan baru dengan seseorang yang memang pantas berada di level Mas.”
Dia sengaja menatapku ketika mengucapkan kalimat terakhir.
Arga tidak menegurnya.
Sebaliknya, dia mengambil sebuah map cokelat dari meja dan melemparkannya ke atas tempat tidur.
Aku melihat halaman pertama.
Permohonan perceraian.
Di bawahnya terdapat perjanjian tambahan.
Aku membacanya perlahan.
Rumah di Pondok Indah akan menjadi milik Arga.
Rekening bersama kami akan diserahkan kepadanya.
Aku melepaskan hak atas sejumlah aset yang diperoleh selama pernikahan.
Dan yang paling penting, aku menyatakan tidak akan mengajukan klaim apa pun yang berkaitan dengan kepemilikan atau keuntungan Wijaya Translog.
“Tandatangani malam ini,” kata Arga.
Aku mengangkat wajah.
“Atau?”
Dia mendekat.
“Atau aku akan menyeretmu melalui pengadilan sampai kamu bahkan tidak punya cukup uang untuk menyewa kamar kos.”
Celine tertawa kecil.
Aku kembali melihat dokumen di tanganku.
Lalu mataku turun ke ikat pinggang yang masih dipegang Arga.
Aku tidak menangis.
Aku tidak berdebat.
Aku bahkan tidak mencoba meyakinkannya bahwa Celine berbohong.
Sebaliknya, aku berjalan menuju lemari.
Aku mengambil tiga blus.
Dua celana panjang.
Laptop.
Beberapa dokumen pribadi.
Lalu memasukkan semuanya ke dalam sebuah tas olahraga hitam.
Terakhir, aku mengambil sebuah pena logam kecil dari meja rias.
Arga tidak memperhatikannya.
Celine juga tidak.
Mereka seharusnya memperhatikan.
Karena benda kecil itu bukan pena biasa.
Perekam suara di dalamnya sudah aktif selama lebih dari satu jam.
Ancaman Arga.
Pengakuannya.
Suara Celine.
Semua tersimpan di dalamnya.
Aku kembali ke tempat tidur.
Kemudian aku menandatangani surat itu.
Arga mengambilnya dan tersenyum puas.
Senyum seorang pria yang percaya dirinya baru saja memenangkan negosiasi termudah dalam hidupnya.
Dia tidak tahu satu hal.
Tanda tangan yang diperoleh melalui ancaman tidak selalu menjadi kemenangan.
Dan aku sengaja memberinya apa yang dia inginkan.
Untuk sementara.
Keesokan paginya, sekitar pukul sembilan, bel rumah berbunyi.
Kakak perempuan Arga, Bianca Wijaya, datang bersama suaminya, Dimas Santoso.
Dimas adalah direktur keuangan Wijaya Translog.
Mereka membawa beberapa kantong plastik hitam besar.
Bianca bahkan tidak mengucapkan selamat pagi.
“Kami datang untuk membantu membereskan barang-barangmu,” katanya.
Membantu?
Dalam waktu kurang dari lima menit, dia sudah memasukkan buku-bukuku ke dalam kantong sampah.
Foto-foto lama.
Beberapa pakaian.
Bahkan vas keramik yang kubeli saat bulan madu kami di Bali enam tahun lalu.
“Yang itu milikku,” kataku.
Bianca mengangkat bahu.
“Sekarang sudah tidak penting.”
Dia memasukkannya ke dalam kotak.
Dimas berdiri di dekat meja makan sambil memeriksa beberapa dokumen.
Dia tampak jauh lebih tenang daripada istrinya.
Justru karena itulah aku sengaja mendekatinya.
“Kalian benar-benar ingin memastikan aku pergi tanpa membawa apa pun?”
Dimas tersenyum tipis.
“Kamu seharusnya bersyukur kami membiarkanmu pergi tanpa utang.”
Aku menatapnya.
“Utang apa?”
Dia berhenti sebentar.
Aku sengaja menurunkan pandangan, seolah-olah takut.
Itu berhasil.
Orang seperti Dimas sangat menyukai saat seseorang terlihat takut kepadanya.
“Selama beberapa bulan terakhir,” katanya, “kami sudah memindahkan beberapa aset Arga supaya tidak bisa disentuh dalam proses perceraian.”
Aku tidak menjawab.
Dia melanjutkan.
“Dan untuk berjaga-jaga kalau kamu mencoba menggugat, beberapa pinjaman juga dikaitkan dengan aset perkawinan.”
Aku mengangkat wajah perlahan.
“Berapa?”
Dimas tersenyum.
“Hampir Rp650 miliar.”
Bianca tertawa dari ruang keluarga.
“Jadi kalau kamu mencoba macam-macam, bisa saja sebagian masalah itu jatuh ke kepalamu.”
Aku menggenggam tali tas lebih erat.
Bukan karena takut.
Aku hanya harus terlihat takut.
“Bagaimana kalian bisa melakukan itu tanpa aku tahu?”
Pertanyaan itu membuat ego Dimas semakin besar.
Dia mulai menjelaskan.
Tentang beberapa perusahaan cangkang.
Tentang transaksi melalui entitas lain.
Tentang aset yang dipindahkan sebelum perceraian.
Tentang laporan keuangan tertentu yang telah “disesuaikan” agar kekayaan pribadi Arga terlihat jauh lebih kecil.
Bahkan tentang beberapa transaksi internasional yang sengaja dibuat sulit dilacak.
Aku hanya sesekali bertanya.
“Bukankah auditor akan melihatnya?”
Dimas terkekeh.
“Kalau semuanya dikerjakan dengan benar, orang hanya melihat apa yang kita ingin mereka lihat.”
Aku mengangguk.
Dia mengira diamku berarti aku tidak memahami apa pun.
Padahal di kerah jaketku terpasang kamera kecil.
Setiap kalimatnya direkam.
Setiap pengakuannya.
Setiap detail yang dia banggakan.
Semuanya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Bianca meletakkan satu dokumen lagi di hadapanku.
“Tandatangani.”
Aku membacanya.
Perjanjian tambahan yang semakin membatasi hakku terhadap aset perkawinan.
“Aku perlu pengacara.”
Bianca mendengus.
“Dengan uang apa?”
Dimas mencondongkan tubuh.
“Jangan membuat semuanya lebih sulit, Nadira.”
Aku memandang keduanya.
Kemudian menandatangani dokumen itu.
Sekali lagi.
Di bawah tekanan.
Bianca mengambilnya dengan puas.
Aku memasukkan pena logam dan kamera kecil ke dalam tas.
Lalu berjalan keluar.
Hujan deras mengguyur Jakarta pagi itu.
Dalam hitungan detik, rambutku basah.
Aku berjalan melewati gerbang kompleks tanpa memanggil taksi.
Tidak membawa payung.
Tidak menoleh ke belakang.
Aku terus berjalan sampai hampir dua blok dari rumah dan yakin sudah berada di luar jangkauan kamera keamanan kompleks.
Barulah aku berhenti.
Aku mengeluarkan ponsel.
Ada satu nomor yang selama enam tahun pernikahanku dengan Arga hampir tidak pernah kuhubungi di hadapannya.
Aku menekannya.
Sambungan hanya berbunyi sekali.
“Selamat pagi.”
Aku menutup mata sebentar.
“Pak Surya, ini Nadira.”
Suara di seberang langsung berubah serius.
“Ibu Nadira?”
“Ya.”
“Apakah Ibu aman?”
Aku melihat kembali ke arah jalan menuju rumah yang baru saja kutinggalkan.
“Aman.”
“Apakah mereka melakukannya?”
Aku menatap tas olahraga di tanganku.
“Lebih buruk dari perkiraan kita.”
Hening dua detik.
“Apakah Ibu mendapatkan bukti?”
“Rekaman suara. Video. Dua perjanjian yang kutandatangani di bawah tekanan. Dan direktur keuangan mereka baru saja menjelaskan sendiri bagaimana mereka menyembunyikan aset dan memanipulasi kewajiban perusahaan.”
Pak Surya menarik napas.
“Kalau begitu kita bisa bergerak.”
Aku menelan ludah.
“Aktifkan klausulnya.”
Dia terdiam.
Meskipun kami sudah membicarakan kemungkinan ini bertahun-tahun sebelumnya, aku tahu dia ingin memastikan.
“Bu Nadira, kalau saya mengaktifkannya sekarang, dampaknya tidak bisa dihentikan hanya dengan satu telepon berikutnya.”
“Aku tahu.”
“Transaksi Meridian?”
“Bekukan persetujuan dari pihak kita.”
“Seluruhnya?”
Aku menatap hujan.
“Seluruhnya.”
Lalu aku mengatakan kalimat yang selama enam tahun tidak pernah kubayangkan akan keluar dari mulutku.
“Arga memilih perempuan yang salah untuk dihancurkan.”
Aku menutup telepon.
Tiga puluh detik kemudian, dua SUV hitam berhenti di pinggir jalan.
SUV belakang berhenti tepat di depanku.
Seorang pria bersetelan gelap turun sambil membawa payung.
Dia berjalan mengitari mobil dan membuka pintu belakang.
“Silakan, Bu Nadira.”
Aku masuk.
Di dalam sudah ada Pak Surya.
Pengacara yang selama bertahun-tahun mengelola salah satu bagian kekayaan keluargaku yang tidak pernah diketahui Arga.
Dia memberikan sebuah tablet kepadaku.
Di layar terdapat dokumen dengan logo Meridian Capital Asia.
Aku membaca baris paling atas.
Lalu tersenyum untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya.
Arga selama ini mengira Meridian Capital adalah sekelompok investor asing yang tidak memiliki hubungan apa pun denganku.
Dia salah.
Sangat salah.
Karena perusahaan yang sedang bersiap memasukkan Rp52 triliun ke Wijaya Translog itu menggunakan sebuah kendaraan investasi regional.
Dan pemegang hak veto terbesar atas kendaraan investasi tersebut…
adalah sebuah family office yang dibangun ayahku dua puluh tujuh tahun lalu.
Namaku tercantum sebagai salah satu penerima manfaat sekaligus pihak yang persetujuannya diwajibkan untuk transaksi sebesar itu.
Dengan kata lain, selama berbulan-bulan Arga berlutut di depan investor yang uangnya ia perlukan untuk menyelamatkan perusahaannya…
tanpa pernah menyadari bahwa tanda tangan terakhir yang menentukan nasib kesepakatan itu adalah milik istrinya sendiri.
Pak Surya menatapku.
“Rapat final mereka tiga hari lagi.”
Aku mengembalikan tablet kepadanya.
“Tidak.”
Dia mengangkat alis.
Aku memandang keluar jendela ketika SUV mulai bergerak menembus hujan Jakarta.
“Biarkan rapatnya tetap berlangsung.”
“Bu Nadira?”
“Jangan beri tahu Arga siapa aku.”
Aku teringat senyum Celine.
Tawa Bianca.
Kesombongan Dimas saat menceritakan bagaimana mereka menyembunyikan aset.
Dan wajah Arga ketika berkata aku tidak memiliki apa-apa tanpa dirinya.
“Biarkan mereka datang ke ruang rapat,” kataku pelan. “Biarkan Arga mempresentasikan perusahaan impiannya. Biarkan Dimas menunjukkan laporan keuangan yang katanya sudah mereka rapikan. Biarkan Celine berdiri di samping mereka dan merasa mereka sudah menang.”
Pak Surya mulai memahami maksudku.
“Lalu?”
Aku menatapnya.
“Setelah mereka selesai bicara, baru aku masuk.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, Pak Surya tersenyum.
Aku menyandarkan tubuh ke kursi.
Tiga hari lagi, Arga mengira dia akan menerima Rp52 triliun.
Dia belum tahu bahwa sebelum satu rupiah pun berpindah tangan, investor akan meminta penjelasan tentang aset tersembunyi, perusahaan cangkang, laporan keuangan yang dimanipulasi, dan pengakuan direktur keuangannya sendiri.
Dan yang paling tidak dia ketahui—
perempuan yang kemarin dia usir dari rumah tanpa membawa apa-apa akan duduk di sisi meja yang menentukan apakah perusahaannya masih memiliki masa depan.
Tiga hari kemudian, pintu ruang rapat di lantai tertinggi gedung SCBD terbuka.
Arga sedang berdiri di depan layar besar ketika suara langkah sepatuku terdengar.
Dia menoleh.
Wajahnya langsung kehilangan warna.
Celine menjatuhkan pena dari tangannya.
Dimas berdiri begitu cepat sampai kursinya terdorong ke belakang.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Aku hanya berjalan melewati mereka, menuju kursi kosong di ujung meja.
Kursi milik pihak yang selama ini mereka tunggu untuk memberikan persetujuan terakhir atas investasi Rp52 triliun itu.
Aku duduk.
Pak Surya meletakkan sebuah map hitam di hadapanku.
Aku membukanya.
Di dalamnya ada transkrip rekaman suara, salinan transaksi perusahaan, dan dokumen yang mereka paksa kutandatangani.
Arga menatapku seolah-olah baru pertama kali melihat siapa istrinya sebenarnya.
Aku mengangkat wajah.
“Silakan lanjutkan presentasinya, Pak Arga.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Bukankah katanya ini kesepakatan terbesar dalam hidupmu?”
Dan saat itulah Arga akhirnya mengerti.
Perceraian kami bukanlah akhir dari masalahnya.
Itu baru permulaan.
BAGIAN 2 — ARGA MENGIRA AKU DATANG UNTUK MEMBALAS DENDAM, TAPI DIA BELUM TAHU SIAPA YANG SEBENARNYA SEDANG KUSELAMATKAN
Ruangan itu begitu sunyi sampai aku bisa mendengar dengung pendingin udara.
Arga masih berdiri di depan layar presentasi.
Wajahnya pucat.
Celine menatapku seolah baru melihat orang mati berjalan masuk ke ruangan.
Sementara Dimas, yang kemarin begitu bangga menjelaskan bagaimana mereka menyembunyikan aset, perlahan duduk kembali.
Aku meletakkan kedua tanganku di atas meja.
“Silakan lanjutkan presentasinya, Pak Arga.”
Arga membuka mulut.
Tidak ada suara keluar.
Di sebelahku, Pak Surya mendorong sebuah map hitam ke tengah meja.
Tiga orang perwakilan Meridian Capital Asia duduk tanpa ekspresi.
Salah satunya, seorang perempuan bernama Meilin Tan, menatap Arga.
“Pak Arga, kami masih menunggu penjelasan mengenai proyeksi arus kas kuartal berikutnya.”
Arga akhirnya menemukan suaranya.
“Maaf. Saya hanya… tidak tahu istri saya akan hadir.”
“Mantan istri,” sela Celine.
Aku menoleh kepadanya.
Dia langsung diam.
Aku tersenyum tipis.
“Belum, Mbak Celine. Pengadilan bahkan belum memutuskan apa pun.”
Celine memalingkan wajah.
Arga menatap para investor.
“Saya rasa ada kesalahpahaman. Nadira tidak terlibat dalam perusahaan.”
Meilin membuka dokumen di depannya.
“Secara operasional, benar.”
Dia berhenti.
“Tetapi untuk investasi ini, keterlibatan Ibu Nadira sangat relevan.”
Arga menatapku.
“Apa maksudnya?”
Aku tidak menjawab.
Pak Surya yang melakukannya.
“Kendaraan investasi yang digunakan Meridian untuk transaksi ini memperoleh sebagian besar komitmen modalnya dari Pratama Family Office.”
Nama itu membuat Arga mengerutkan kening.
Aku tidak terkejut.
Selama enam tahun pernikahan, dia tahu ayahku sudah meninggal.
Dia tahu aku berasal dari keluarga yang cukup berada.
Tetapi aku selalu mengatakan bahwa sebagian besar bisnis keluarga sudah dijual bertahun-tahun lalu.
Itu bukan kebohongan.
Yang tidak pernah kuceritakan adalah ke mana hasil penjualan itu ditempatkan.
Ayahku tidak meninggalkan perusahaan besar kepadaku.
Dia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih sunyi.
Portofolio investasi.
Tanah.
Saham.
Dana perwalian.
Dan sebuah prinsip.
Jangan pernah memberi tahu seseorang berapa banyak yang kamu miliki sebelum kamu tahu bagaimana dia memperlakukanmu ketika dia mengira kamu tidak memiliki apa-apa.
Dulu aku menganggap nasihat itu terlalu sinis.
Setelah menikah dengan Arga, aku baru memahami mengapa Ayah mengatakannya.
Arga berjalan mendekat.
“Jadi kamu selama ini menyembunyikan uang dariku?”
Aku menatapnya.
“Aku menjaga aset keluargaku. Ada perbedaan.”
“Kita menikah enam tahun!”
“Dan selama enam tahun itu aku tidak pernah meminta satu rupiah dari perusahaanmu.”
“Itu bukan masalahnya!”
“Lalu apa masalahnya?”
Arga menunjukku.
“Kamu menipuku!”
Aku hampir tertawa.
Pria yang memindahkan aset sebelum perceraian sedang menuduhku tidak transparan.
Pak Surya menyela sebelum perdebatan berubah menjadi sesuatu yang tidak berguna.
“Kita bukan di sini untuk membahas pernikahan kalian.”
Dia membuka map hitam.
“Kita di sini untuk membahas Wijaya Translog.”
Wajah Dimas berubah.
Pak Surya mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
“Dalam proses due diligence tambahan, kami menemukan ketidaksesuaian antara kewajiban perusahaan dengan laporan yang diserahkan kepada calon investor.”
Dimas langsung menyahut.
“Tidak ada ketidaksesuaian.”
Aku mengeluarkan pena logam dari tasku.
Lalu meletakkannya di meja.
Dimas mengenalinya.
Wajahnya seketika pucat.
Aku menekan tombol.
Suara Dimas terdengar dari speaker kecil.
“Selama beberapa bulan terakhir kami sudah memindahkan beberapa aset Arga supaya tidak bisa disentuh dalam proses perceraian.”
Kemudian suara lain.
“Kalau semuanya dikerjakan dengan benar, orang hanya melihat apa yang kita ingin mereka lihat.”
Aku mematikannya.
Tak seorang pun bicara.
Celine menatap Dimas.
Arga juga.
“Apa-apaan ini?” bisik Arga.
Dimas berdiri.
“Rekaman itu diambil tanpa izin!”
Pak Surya tetap tenang.
“Persoalan apakah rekaman dapat digunakan dalam proses tertentu akan ditentukan oleh penasihat hukum dan otoritas terkait. Tetapi sebagai calon investor, klien kami tentu berhak mempertimbangkan informasi yang menunjukkan adanya risiko material.”
Meilin menambahkan,
“Dan kami tidak akan mentransfer Rp52 triliun ke perusahaan yang laporan keuangannya belum dapat kami percaya.”
Kalimat itu menghantam Arga lebih keras daripada teriakan apa pun.
Dia berbalik kepada Dimas.
“Kamu bilang semuanya aman.”
Dimas mulai berkeringat.
“Memang aman. Dia hanya memelintir percakapan.”
“Ada videonya juga,” kataku.
Dimas terdiam.
Aku menatap Arga.
“Aku merekam hampir seluruh percakapan kemarin.”
Arga menutup mata.
Celine tiba-tiba berdiri.
“Ini masalah keluarga. Tidak seharusnya memengaruhi perusahaan.”
Aku menatapnya.
“Kalau begitu mungkin kamu bisa menjelaskan mobilmu.”
Dia membeku.
“Mobil?”
“Audi putih yang katanya kugores.”
“Apa hubungannya?”
“Aku meminta tim keamanan mengambil rekaman parkir.”
Celine tidak menjawab.
“Mobilmu sudah memiliki goresan itu ketika masuk ke gedung pagi hari.”
Wajahnya berubah.
Aku melanjutkan.
“Dan aku tidak pernah datang ke kantor hari itu.”
Arga menoleh perlahan kepada Celine.
“Benarkah?”
Celine mencoba tertawa.
“Nadira sedang mengalihkan perhatian.”
“Jawab aku.”
Nada Arga berubah.
“Apakah mobil itu sudah tergores?”
Celine menatapku dengan kebencian.
Kemudian menatap Arga.
“Aku hanya ingin dia pergi.”
Empat kata.
Hanya empat.
Tetapi empat kata itu menghancurkan sesuatu di wajah Arga.
Aku melihatnya.
Bukan cinta.
Bukan penyesalan.
Kesadaran.
Dia mencambuk istrinya karena kebohongan yang bahkan tidak repot dia periksa.
Arga duduk perlahan.
Celine mendekatinya.
“Mas, dengarkan aku—”
“Jangan sentuh aku.”
“Mas Arga…”
“Keluar.”
Celine menatapnya tak percaya.
“Kamu memilih dia?”
Arga mengangkat wajah.
“Aku bilang keluar.”
Celine mengambil tasnya.
Sebelum pergi, dia menatapku.
“Kamu pikir kamu menang?”
Aku tidak menjawab.
Dia membanting pintu.
Aku memandang Arga.
“Aku tidak datang untuk menang.”
“Lalu untuk apa?”
Aku melihat seluruh ruangan.
“Untuk menghentikan orang-orang yang menganggap perusahaan ini adalah rekening pribadi mereka.”
Arga tertawa getir.
“Kamu mau menghancurkan aku.”
“Kalau aku ingin menghancurkanmu, aku cukup membatalkan investasi ini dan pulang.”
“Bukankah itu yang akan kamu lakukan?”
Aku menggeleng.
“Belum.”
Semua orang menatapku.
Bahkan Pak Surya tampak sedikit terkejut.
Aku membuka halaman terakhir map.
“Aku punya syarat.”
Arga menatapku.
“Syarat apa?”
“Meridian melanjutkan proses investasi.”
Dimas mendongak.
Arga membeku.
“Tapi sebelum itu, audit forensik independen dilakukan terhadap seluruh transaksi tiga tahun terakhir.”
Dimas langsung menyela.
“Tidak mungkin.”
Aku mengabaikannya.
“Seluruh transaksi pihak terafiliasi dibuka. Perusahaan cangkang diperiksa. Pinjaman yang dikaitkan secara tidak benar dengan aset perkawinan dipisahkan.”
Aku menatap Dimas.
“Dan CFO dinonaktifkan selama audit.”
Dimas memukul meja.
“Kamu tidak punya hak!”
Meilin menatapnya dingin.
“Sebagai calon investor terbesar, kami memiliki hak untuk menarik diri. Anda bebas menolak persyaratan kami.”
Dimas terdiam.
Aku kembali menatap Arga.
“Syarat kedua. Kamu mundur sementara sebagai CEO sampai audit selesai.”
Arga menelan ludah.
“Dan siapa yang menjalankan perusahaan?”
Aku membuka dokumen lain.
“COO kalian, Raka Wibisono.”
Arga langsung menggeleng.
“Raka tidak siap.”
“Raka satu-satunya direktur yang tiga kali mengirim memo internal memperingatkan ekspansi terlalu agresif.”
Arga terdiam.
Aku tahu tentang memo itu karena Meridian telah membaca semuanya.
“Syarat ketiga,” lanjutku, “tidak ada satu rupiah dana investasi yang boleh digunakan untuk kepentingan pribadi pemegang saham.”
Arga menatapku lama.
Kemudian bertanya,
“Kalau aku setuju, kamu tetap akan menceraikanku?”
Pertanyaan itu begitu absurd sampai ruangan kembali sunyi.
Aku berdiri.
“Arga, perusahaanmu mungkin masih bisa diselamatkan.”
Aku memasukkan pena ke dalam tas.
“Pernikahan kita tidak.”
Audit dimulai empat hari kemudian.
Apa yang ditemukan jauh lebih buruk daripada perkiraanku.
Dimas telah membuat jaringan transaksi melalui lima perusahaan terafiliasi.
Sebagian dilakukan untuk menyembunyikan aset Arga dalam proses perceraian.
Tetapi ada sesuatu yang bahkan Arga tidak tahu.
Dimas juga mencuri dari perusahaan.
Sedikit demi sedikit.
Selama hampir empat tahun.
Jumlah akhirnya mencapai hampir Rp480 miliar.
Ketika bukti itu ditunjukkan kepada Arga, dia tidak percaya.
“Dia suami kakakku.”
Aku menatapnya.
“Justru itu sebabnya kamu tidak pernah memeriksanya.”
Bianca datang ke kantor malam itu.
Dia menangis.
Bukan karena Dimas mencuri.
Karena rekening mereka dibekukan sebagai bagian dari proses hukum.
Dia menyalahkanku.
“Kamu menghancurkan keluargaku!”
Aku menjawab dengan satu kalimat.
“Aku tidak memindahkan uang itu, Bianca.”
Dia tidak punya jawaban.
Dimas akhirnya diberhentikan.
Kasus transaksi keuangan diserahkan kepada penasihat hukum dan pihak berwenang untuk ditindaklanjuti sesuai proses yang berlaku.
Bianca menggugat cerai beberapa bulan kemudian.
Celine juga kehilangan pekerjaannya setelah investigasi internal menemukan bahwa dia menggunakan anggaran perusahaan untuk beberapa pengeluaran pribadi dan membantu Dimas menghapus jejak komunikasi tertentu.
Tetapi hal paling mengejutkan terjadi pada Arga.
Dia tidak melawan.
Dia mundur.
Benar-benar mundur.
Selama enam bulan berikutnya, dia tidak menjadi CEO.
Dia menjual apartemen investasi miliknya untuk membayar sebagian kewajiban pribadi yang selama ini disembunyikan.
Dia juga menyetujui pembatalan seluruh dokumen perceraian yang kutandatangani di bawah tekanan.
Bukan pembatalan perceraian.
Hanya perjanjian yang merampas hak-hakku.
Perceraian tetap berjalan.
Aku tidak pernah berniat kembali.
Enam bulan kemudian, pengadilan menyelesaikan perceraian kami.
Ketika keluar dari gedung, Arga memanggilku.
“Nadira.”
Aku berhenti.
Dia tampak berbeda.
Lebih kurus.
Tidak ada jas mahal.
Tidak ada sopir.
Tidak ada Celine.
Hanya Arga.
“Aku ingin mengatakan sesuatu.”
Aku menunggu.
“Aku minta maaf.”
Aku tidak menjawab.
“Aku tahu itu tidak cukup.”
“Memang.”
Dia mengangguk.
“Aku juga tahu kamu tidak harus memaafkanku.”
Untuk pertama kalinya, dia tidak meminta sesuatu setelah meminta maaf.
Itu membuatku sedikit terkejut.
Dia mengeluarkan sebuah amplop.
“Apa ini?”
“Baca nanti.”
Aku menerimanya.
Lalu kami berjalan ke arah berbeda.
Malam itu, aku membuka amplop tersebut.
Di dalamnya hanya ada satu lembar surat.
Tulisan tangan Arga.
Nadira,
selama bertahun-tahun aku mengira menjadi lelaki sukses berarti menjadi orang yang paling ditakuti di ruangan.
Aku salah.
Aku kehilanganmu bukan karena Celine. Bukan karena Dimas. Bukan karena perusahaan.
Aku kehilanganmu ketika aku memilih kekuasaan daripada memastikan orang yang berdiri di depanku aman bersamaku.
Aku berhenti membaca sebentar.
Kemudian melanjutkan.
Aku tidak meminta kesempatan kedua.
Aku hanya berharap suatu hari nanti, ketika namaku terlintas di pikiranmu, malam itu bukan satu-satunya hal yang kamu ingat.
Aku melipat surat tersebut.
Dan menangis.
Bukan karena ingin kembali.
Aku menangis untuk perempuan yang enam tahun lalu masuk ke pernikahan itu dengan keyakinan bahwa cinta bisa membuat seseorang menjadi lebih baik.
Ternyata tidak.
Seseorang hanya berubah ketika dia sendiri memilih berubah.
BAGIAN 3 — SETAHUN KEMUDIAN, AKU MENEMUKAN SATU SURAT DARI AYAH YANG MENGUBAH ARTI SEMUA YANG TERJADI
Setahun setelah perceraian, Wijaya Translog masih berdiri.
Meridian akhirnya tidak menginvestasikan Rp52 triliun penuh.
Setelah audit, struktur transaksinya diubah menjadi investasi bertahap sekitar Rp31 triliun, dengan pengawasan ketat dan tata kelola baru.
Raka menjadi CEO permanen.
Ribuan karyawan mempertahankan pekerjaan mereka.
Itulah alasan sebenarnya aku tidak membiarkan perusahaan runtuh.
Bukan untuk Arga.
Ada lebih dari dua belas ribu orang yang bekerja di perusahaan itu.
Sopir.
Petugas gudang.
Staf administrasi.
Teknisi.
Orang-orang yang memiliki anak, cicilan rumah, orang tua yang harus dirawat.
Mereka tidak seharusnya kehilangan mata pencaharian hanya karena para eksekutif di atas mereka serakah.
Aku sendiri memilih keluar dari semua urusan operasional setelah restrukturisasi selesai.
Aku pindah dari Pondok Indah.
Bukan ke rumah yang lebih besar.
Aku membeli rumah sederhana di Bogor, dengan halaman belakang dan pohon mangga tua.
Di sana aku memulai sebuah yayasan kecil menggunakan sebagian pendapatan investasiku.
Namanya Yayasan Ratih Pratama.
Nama ibuku.
Kami membantu perempuan yang membutuhkan akses awal ke bantuan hukum dan pendampingan setelah mengalami kekerasan ekonomi atau rumah tangga.
Aku tidak pernah menjadikan kisahku sebagai iklan.
Tidak perlu.
Suatu sore, Pak Surya datang membawa sebuah kotak kayu.
“Ada sesuatu yang seharusnya diberikan kepadamu sejak lama.”
Kotak itu berasal dari ruang penyimpanan dokumen ayahku.
Kami membukanya bersama.
Ada foto.
Jam tangan tua.
Beberapa surat.
Dan sebuah amplop dengan tulisan:
Untuk Nadira, jika suatu hari kamu harus memilih antara cinta dan harga dirimu.
Tanganku gemetar.
Ayah meninggal dua tahun sebelum aku menikah dengan Arga.
Aku membuka surat itu.
Nadira,
kalau kamu membaca surat ini, mungkin seseorang yang kamu cintai telah membuatmu merasa kecil.
Air mataku langsung jatuh.
Aku terus membaca.
Jangan membalas dengan menjadi kejam.
Jangan menghancurkan seseorang hanya karena kamu mampu.
Kekuasaan yang sebenarnya adalah ketika kamu memiliki kemampuan untuk menghancurkan, tetapi memilih hanya menghentikan kerusakan.
Aku menutup mulut.
Tiba-tiba aku teringat hari di ruang rapat.
Aku sebenarnya bisa menghancurkan Wijaya Translog.
Satu tanda tangan.
Selesai.
Tetapi aku tidak melakukannya.
Aku menyelamatkan perusahaan sambil menyingkirkan orang-orang yang merusaknya.
Seolah-olah Ayah telah berbicara kepadaku dari dua puluh tujuh tahun lalu.
Ada satu paragraf terakhir.
Dan kalau suatu hari orang yang menyakitimu benar-benar berubah, kamu tidak wajib menerimanya kembali.
Memaafkan seseorang tidak berarti memberinya kembali kunci rumahmu.
Aku tertawa sambil menangis.
“Itu benar-benar seperti Pak Pratama,” kata Pak Surya.
Aku mengangguk.
Kemudian kami menemukan sesuatu di bagian bawah kotak.
Sebuah dokumen.
Aku membacanya.
Lalu membeku.
Itu bukan dokumen investasi.
Bukan surat warisan.
Itu surat lama tentang pembentukan dana pendidikan bagi keluarga karyawan perusahaan pertama milik Ayah.
Nama salah satu penerima manfaat tercantum di halaman ketiga.
Budi Wijaya.
Aku mengenal nama itu.
Ayah Arga.
Aku menatap Pak Surya.
“Apa ini?”
Dia juga terkejut.
Kami membaca dokumen berikutnya.
Dua puluh delapan tahun lalu, ayah Arga bekerja sebagai sopir distribusi di perusahaan milik ayahku.
Ketika terjadi kecelakaan kerja, dia tidak bisa bekerja selama hampir setahun.
Ayahku diam-diam membayar biaya sekolah anak-anaknya.
Termasuk seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun.
Arga Wijaya.
Aku terduduk.
Dunia terasa berhenti.
Arga tumbuh miskin.
Aku tahu itu.
Dia sering bercerita bagaimana ayahnya berjuang agar dia bisa sekolah.
Tetapi Arga tidak pernah tahu siapa yang membayar biaya pendidikannya pada tahun tersulit keluarga mereka.
Aku memandangi nama ayahku.
Lalu nama Arga.
Dua keluarga kami ternyata sudah terhubung puluhan tahun sebelum kami bertemu.
Dan ironi itu hampir terlalu menyakitkan.
Uang ayahku pernah membantu seorang anak bernama Arga mendapatkan pendidikan.
Puluhan tahun kemudian, anak itu tumbuh menjadi pria yang mengatakan kepada putri orang yang membantunya:
“Kamu tidak punya apa-apa tanpa aku.”
Aku tidak langsung memberi tahu Arga.
Butuh tiga minggu sebelum akhirnya aku menghubunginya.
Kami bertemu di sebuah kedai kopi kecil di Jakarta.
Dia datang sendirian.
Aku menyerahkan fotokopi dokumen itu.
Dia membacanya.
Lama sekali.
Kemudian tangannya mulai gemetar.
“Budi Wijaya itu ayahku.”
“Aku tahu.”
“Pratama…”
Dia menatapku.
“Ayahmu?”
Aku mengangguk.
Arga membaca dokumen itu lagi.
Air matanya jatuh ke kertas.
Aku belum pernah melihat Arga menangis selama kami menikah.
Bahkan ketika ibunya meninggal.
Tetapi sore itu dia menangis seperti anak kecil.
“Ayah selalu bilang ada seseorang yang membantu kami.”
Aku diam.
“Dia bilang kalau orang itu tidak membantu, aku mungkin harus berhenti sekolah.”
Arga menutup wajahnya.
Beberapa menit berlalu.
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.
“Nadira… aku menghabiskan separuh hidupku mencoba membuktikan bahwa aku lebih hebat daripada orang-orang kaya.”
Dia tertawa getir.
“Ternyata aku bisa berdiri di tempatku sekarang karena kebaikan salah satu dari mereka.”
Aku memandangnya.
“Bukan karena dia kaya, Arga.”
Dia mengangkat wajah.
“Karena dia memilih membantu.”
Arga mengangguk.
Sebelum pergi, dia bertanya,
“Kenapa kamu menunjukkan ini kepadaku?”
Aku berpikir sebentar.
“Karena aku tidak ingin kisah kita berakhir pada malam ketika kamu menyakitiku.”
Dia menunduk.
“Aku juga tidak.”
“Tapi itu tidak berarti kita kembali.”
“Aku tahu.”
Dan kali ini aku percaya dia benar-benar tahu.
Dua tahun kemudian, Yayasan Ratih membuka pusat bantuan ketiganya.
Hari pembukaan berlangsung sederhana.
Ada sekitar seratus orang.
Pengacara.
Relawan.
Beberapa keluarga.
Raka datang mewakili Wijaya Translog, yang kini menjadi salah satu donor program pelatihan kerja kami.
Di barisan belakang, aku melihat seorang pria.
Arga.
Dia tidak mendekat.
Tidak membawa bunga.
Tidak mencoba berbicara denganku.
Dia hanya berdiri, bertepuk tangan ketika papan nama dibuka, lalu pergi sebelum acara selesai.
Malamnya, stafku memberiku sebuah amplop.
“Ini dititipkan seseorang.”
Aku membukanya.
Tidak ada surat cinta.
Hanya bukti transfer donasi.
Jumlahnya tidak fantastis.
Di bagian keterangan tertulis:
Untuk dana pendidikan anak-anak keluarga yang sedang memulai kembali hidup mereka.
Di bawahnya ada satu kalimat pendek.
Kebaikan seharusnya diteruskan, bukan dimiliki.
Aku mengenali tulisan tangannya.
Aku duduk lama di ruang kantor yang sudah kosong.
Di dinding ada foto Ayah dan Ibu.
Aku memandang mereka.
Dan akhirnya aku memahami sesuatu.
Selama bertahun-tahun aku mengira kemenangan terbesar dalam hidupku terjadi ketika aku masuk ke ruang rapat dan membuat Arga kehilangan senyumnya.
Aku salah.
Kemenangan sebenarnya datang bertahun-tahun kemudian.
Ketika seorang pria yang pernah menggunakan kekuasaan untuk menyakiti akhirnya belajar menggunakan apa yang dimilikinya untuk membantu orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Aku tidak kembali kepada Arga.
Kami tidak menikah lagi.
Tidak ada adegan romantis di bandara.
Tidak ada ciuman di bawah hujan.
Beberapa luka tidak harus dihapus agar kehidupan bisa menjadi indah lagi.
Aku memaafkannya.
Tetapi kunci rumahku tetap berada di tanganku sendiri.
Dan mungkin itulah bentuk pengampunan yang paling dewasa.
Bukan melupakan.
Bukan kembali.
Melainkan berhenti membawa kebencian sambil tetap menjaga batas yang pernah kita pelajari dengan harga mahal.
Malam itu aku pulang ke Bogor.
Hujan baru saja berhenti.
Aku membuka pintu rumah, meletakkan tas di kursi, lalu berjalan ke halaman belakang.
Pohon mangga tua bergoyang pelan tertiup angin.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah terasa benar-benar sunyi.
Bukan sunyi karena seseorang meninggalkanku.
Sunyi karena tidak ada lagi orang yang harus kutakuti.
Aku duduk di teras.
Di tanganku ada dua surat.
Surat Ayah.
Dan bukti donasi Arga.
Dua lelaki dari dua generasi berbeda.
Yang satu mengajariku bahwa kekuasaan tidak harus digunakan untuk menghancurkan.
Yang lain membutuhkan hampir seluruh hidupnya untuk memahami pelajaran yang sama.
Aku menatap langit yang mulai cerah.
Lalu aku teringat kalimat Arga malam ketika semuanya dimulai.
“Kamu tidak punya apa-apa tanpa aku.”
Aku tersenyum.
Betapa salahnya dia.
Karena setelah kehilangan pernikahanku, rumahku, dan kehidupan yang selama enam tahun kukira harus kupertahankan mati-matian…
aku justru menemukan sesuatu yang selama ini hampir hilang.
Diriku sendiri.
Aku masuk kembali ke rumah dan mengunci pintu.
Bukan karena takut seseorang akan masuk.
Tetapi karena sekarang aku tahu persis siapa yang berhak memiliki kuncinya.
Aku.
