Setiap Pesan Suara dari Akun Mendiang Mertuaku Membuat Suamiku Memakan Sesuatu—Anehnya Putri Kami Selalu Masuk IGD, Sampai Kamera Rumah Menunjukkan Siapa yang Sebenarnya Menyuapinya Diam-Diam di Belakangku Setiap Malam

Avatar penulis
Cerita 03
14 menit baca 920 tayangan
Setiap Pesan Suara dari Akun Mendiang Mertuaku Membuat Suamiku Memakan Sesuatu—Anehnya Putri Kami Selalu Masuk IGD, Sampai Kamera Rumah Menunjukkan Siapa yang Sebenarnya Menyuapinya Diam-Diam di Belakangku Setiap Malam
Indeks

Setiap Pesan Suara dari Akun Mendiang Mertuaku Membuat Suamiku Memakan Sesuatu—Anehnya Putri Kami Selalu Masuk IGD, Sampai Kamera Rumah Menunjukkan Siapa yang Sebenarnya Menyuapinya Diam-Diam di Belakangku Setiap Malam

Bagian 1 — Pesan Suara Pertama Meminta Mangga, Suamiku Menangis di Depan Foto Ibunya, dan Putriku Mendadak Sesak Napas di Sekolah tanpa Seorang pun Tahu Penyebabnya

Tiga tahun setelah ibu mertuaku meninggal, sebuah pesan suara tiba-tiba masuk ke ponsel suamiku.

Pengirimnya adalah akun email lama milik almarhumah.

Saat itu pukul 06.17 pagi.

Aku masih menyiapkan sarapan ketika Arga keluar dari kamar dengan wajah pucat, membawa ponselnya seperti baru menerima kabar kematian untuk kedua kalinya.

“Nadira…”

Tangannya gemetar.

“Ini dari Ibu.”

Aku menatap layar.

Nama pengirimnya memang Ratna Wijaya—nama ibu mertuaku.

Di bawahnya ada satu berkas audio dengan tulisan kecil:

“Pesan kenangan untuk Arga.”

Arga menekan tombol putar.

Suara perempuan tua terdengar pelan.

“Nak… kalau suatu hari pesan ini sampai kepadamu, Ibu cuma ingin satu hal kecil. Belikan mangga harum manis. Makanlah sedikit untuk Ibu. Dulu itu buah kesukaan kita.”

Aku langsung merinding.

Bukan karena percaya ada orang mati yang mengirim pesan.

Aku justru merasa ada sesuatu yang sangat salah.

“Siapa yang punya akses ke akun Ibu?”

Arga menggeleng.

“Rika bilang sebelum meninggal, Ibu pernah memakai layanan pesan digital. Mungkin ini baru terkirim sekarang.”

Rika adalah kakak perempuan Arga.

Sejak ibu mereka meninggal, dialah yang mengurus sebagian besar dokumen keluarga, termasuk laptop, nomor lama, dan beberapa akun daring milik almarhumah.

Aku masih ingin bertanya lebih jauh.

Namun satu jam kemudian Arga sudah pulang membawa sekardus mangga.

Dadaku langsung sesak.

“Arga, jangan buka itu di rumah.”

Dia menatapku heran.

“Kenapa?”

“Alya alergi mangga.”

Putri kami baru enam tahun.

Setahun sebelumnya, dokter alerginya sudah memperingatkan bahwa reaksi Alya terhadap mangga cukup berat. Bukan sekadar gatal. Tenggorokannya bisa membengkak.

“Aku tahu,” kata Arga. “Aku akan makan di ruang kerja. Alya bahkan sedang sekolah.”

“Buang saja.”

Wajahnya berubah.

“Nadira.”

“Buang.”

“Itu permintaan terakhir Ibu.”

“Orang yang sudah meninggal tidak akan meminta sesuatu yang bisa membahayakan cucunya.”

Arga menatapku lama.

Lalu matanya memerah.

“Kamu tidak pernah kehilangan ibu seperti aku.”

Kalimat itu menusuk, tetapi aku tetap tidak bergeser.

Aku memanggil Pak Surya, sopir sekaligus orang yang sudah bekerja di keluarga Arga hampir dua belas tahun.

“Tolong bawa semua mangga ini keluar. Jangan ada satu pun masuk dapur.”

Pak Surya tampak ragu.

Namun akhirnya mengangguk.

Aku kira masalah selesai.

Sampai pukul sebelas lewat delapan menit teleponku berdering.

Nomor sekolah Alya.

“Mama Alya?”

Suara wali kelasnya terdengar panik.

“Alya tiba-tiba bentol-bentol. Bibirnya mulai bengkak. Kami sudah memanggil ambulans.”

Dunia di sekelilingku seperti berhenti.

Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku mengambil tas.

Yang kuingat hanya satu hal.

Mangga.

Di IGD, tubuh kecil Alya dipenuhi bercak merah.

Dia menangis sambil mencengkeram bajuku.

“Mama… tenggorokanku sakit…”

Dokter jaga langsung memberikan penanganan darurat.

Aku berdiri di luar ruangan dengan lutut lemas sampai seseorang menyentuh bahuku.

Dr. Farah.

Sahabatku sejak kuliah yang sekarang menjadi dokter anak di rumah sakit itu.

“Nadira.”

Wajahnya serius.

“Alya terpapar sesuatu yang memicu alerginya.”

“Tidak mungkin.”

“Kamu yakin?”

“Aku menyiapkan bekalnya sendiri.”

Farah menatap hasil pemeriksaan awal.

“Di sekitar mulutnya ada sisa makanan manis. Guru bilang dia sempat makan sesuatu sebelum gejala muncul.”

Aku langsung menelepon sekolah.

Kotak bekal Alya dibawa ke rumah sakit.

Nasi.

Ayam.

Brokoli.

Potongan pir.

Semua sesuai yang kusiapkan.

Tetapi di sudut kotak ada satu wadah plastik kecil yang tidak kukenal.

Kosong.

Saat kutanyakan kepada gurunya, dia menjawab,

“Tadi Alya bilang itu puding dari rumah.”

Darahku terasa turun ke kaki.

Aku menelepon Pak Surya.

Tidak diangkat.

Aku menelepon Arga.

Tidak diangkat.

Aku pulang seperti orang kesurupan.

Begitu membuka pintu ruang kerja, aroma mangga langsung menghantam hidungku.

Arga sedang duduk di depan foto ibunya.

Di meja ada dua buah mangga yang sudah dipotong.

“Kamu makan?”

Arga menoleh, kaget.

“Aku cuma sedikit.”

Aku mengangkat wadah plastik dari tas.

“Ini apa?”

Wajahnya berubah.

“Aku tidak tahu.”

“Wadah ini ada di bekal Alya.”

“Aku benar-benar tidak tahu.”

“Pak Surya bilang apa sebelum mengantar Alya tadi?”

Arga berdiri.

“Pak Surya bahkan tidak bertemu denganku.”

Aku menatap matanya.

Untuk pertama kalinya sejak kami menikah delapan tahun lalu, aku tidak tahu apakah suamiku sedang berbohong.

Malam itu Alya harus dirawat.

Aku tidak pulang.

Arga datang sebentar, menangis di samping tempat tidur anaknya, lalu pulang karena katanya ingin mengambil pakaian.

Pukul 23.42, ponselnya yang tertinggal di meja bergetar.

Email baru.

Pengirim yang sama.

Akun almarhumah Ratna Wijaya.

Ada berkas audio kedua.

Aku menyalakannya.

“Nak… dulu Ibu suka sedikit arak beras saat acara keluarga. Kalau kamu rindu Ibu, minumlah seteguk saja untuk mengenang Ibu.”

Tubuhku langsung dingin.

Aku menelepon Arga.

“Jangan minum apa pun.”

Dia diam beberapa detik.

“Kamu membuka pesanku?”

“Aku tidak peduli. Jangan minum.”

“Nadira…”

“Arga, dengarkan aku. Alya masih di rumah sakit.”

Dia menghela napas.

“Aku cuma mau menjalankan pesan Ibu.”

“Kalau kamu minum, aku pulang sekarang.”

Aku menutup telepon.

Dua puluh menit kemudian Farah tiba-tiba berlari masuk.

“Nadira!”

Aku bangkit.

“Ada apa?”

“Alya muntah dan kesadarannya menurun.”

Jantungku nyaris berhenti.

“Alergi lagi?”

Farah menggeleng.

“Kami mencium bau alkohol.”

Aku menatapnya seperti tidak memahami bahasa manusia.

“Apa?”

“Kami sedang cek darahnya.”

“Anakku enam tahun.”

“Aku tahu.”

“Alya tidak pernah menyentuh alkohol.”

Farah menggenggam bahuku.

“Kalau begitu, seseorang memberikannya.”

Aku langsung membuka aplikasi kamera rumah.

Kamera ruang tamu menyala.

Kamera garasi menyala.

Kamera dapur…

Mati.

Sebelas menit.

Kemudian aktif kembali.

Saat gambar muncul, aku melihat Pak Surya berdiri di depan wastafel.

Dia sedang mencuci sebuah termos kecil berwarna merah muda.

Termos milik Alya.

Tangannya tampak tergesa-gesa.

Di sampingnya ada botol kaca bening.

Aku memperbesar layar.

Botol arak beras.

Lalu rekaman kamera garasi bergerak.

Seseorang masuk melalui pintu samping rumah.

Perempuan.

Tas hitam.

Blus krem.

Aku mengenali cara jalannya bahkan sebelum wajahnya menghadap kamera.

Rika.

Kakak Arga.

Aku belum sempat bernapas ketika suara kecil terdengar dari tempat tidur.

“Mama…”

Aku berlari mendekati Alya.

Matanya masih setengah terpejam.

“Alya, Sayang. Mama di sini.”

Dia menggenggam jariku.

Lalu berbisik sangat pelan,

“Tante Rika bilang… jangan kasih tahu Mama.”

Dadaku membeku.

“Apa yang Tante kasih?”

Alya menelan ludah.

“Katanya obat dari Nenek…”

Aku menatap layar kamera yang masih memperlihatkan Rika keluar dari rumahku.

Saat itu aku akhirnya mengerti satu hal.

Yang sedang menghantui rumah kami bukan orang mati.

Melainkan seseorang yang masih hidup—dan orang itu sudah dua kali menyentuh anakku.

Aku tidak menelepon Arga lagi malam itu.

Aku hanya menyimpan semua rekaman.

Karena mulai detik itu, aku tidak ingin marah.

Aku ingin bukti.

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #RahasiaKeluarga #IbuDanAnak #CeritaIndonesia

Bagian 2 — Ketika Pesan Kedua Meminta Arak Beras, Aku Memasang Kamera Tersembunyi dan Melihat Tangan yang Selama Ini Menyakiti Anakku di Rumah Sendiri

Keesokan paginya, hasil pemeriksaan Alya keluar.

Ada kandungan alkohol dalam tubuhnya.

Tidak banyak.

Tetapi untuk anak enam tahun, jumlah itu cukup membuatnya muntah, linglung, dan mengalami penurunan kesadaran.

Farah membaca hasilnya dua kali.

“Nadira, ini bukan paparan tidak sengaja.”

Aku tidak menangis.

Entah kenapa, setelah melihat Rika di rekaman CCTV, air mataku justru habis.

Aku meminta salinan seluruh rekam medis.

Aku juga mengunduh rekaman kamera rumah ke dua penyimpanan berbeda.

Lalu aku melakukan sesuatu yang bahkan tidak kukatakan kepada Farah.

Aku memasang kamera kecil tambahan di dapur, ruang makan, dan lorong belakang.

Bukan untuk mengintai suamiku.

Aku hanya ingin tahu seberapa banyak orang di rumahku yang sudah berbohong.

Dua hari kemudian Alya boleh pulang.

Aku sengaja bersikap seolah semuanya kembali normal.

Rika datang membawa boneka.

Dia memeluk Alya di depanku.

“Aduh, keponakan Tante… kok bisa sakit sampai begitu?”

Aku tersenyum.

“Entahlah.”

Matanya sempat bergerak ke wajahku.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi aku melihatnya.

Dia sedang mengukur apakah aku tahu sesuatu.

Arga justru terlihat hancur.

Dia tidur di sofa depan kamar Alya, berkali-kali meminta maaf karena menurutnya semua kejadian aneh itu bermula sejak pesan dari ibunya muncul.

Aku hampir percaya rasa bersalahnya tulus.

Sampai pesan ketiga datang.

Kali ini ada rekaman suara tentang bubur ketan manis.

Arga menunjukkannya kepadaku.

“Aku tidak akan melakukan apa pun kalau kamu tidak setuju.”

Aku menatapnya.

“Kalau cuma kamu yang makan, silakan.”

Dia tampak lega.

“Serius?”

“Serius.”

Malam itu Arga membuat semangkuk bubur.

Aku membawa Alya masuk kamar lebih awal.

Pukul sembilan lewat tujuh belas menit, kamera tersembunyiku mengirim notifikasi gerakan.

Aku memakai earphone.

Arga berdiri di dapur.

Pak Surya ada di depannya.

Suamiku mengambil sebuah mangkuk kecil.

“Sedikit saja,” katanya.

Pak Surya terlihat gelisah.

“Pak… Bu Nadira sudah melarang.”

Arga berbisik,

“Rika bilang dulu Ibu ingin setiap makanan kenangan dicicipi juga oleh Alya. Katanya supaya ikatan keluarga tidak putus.”

Aku menutup mulutku sendiri.

Jadi Arga tahu.

Dia memang tidak tahu soal alkohol yang diberikan kepada Alya di rumah sakit.

Tetapi tentang mangga?

Dia tahu.

Pak Surya menerima mangkuk itu.

“Kalau Bu Nadira tahu?”

“Jangan bilang.”

Aku merasa sesuatu pecah di dalam dada.

Orang yang delapan tahun tidur di sampingku ternyata lebih takut mengecewakan kenangan ibunya daripada membahayakan anaknya sendiri.

Namun rekaman malam itu belum selesai.

Telepon Arga berbunyi.

Dia mengaktifkan pengeras suara.

Suara Rika terdengar.

“Sudah?”

“Sudah. Tapi aku tidak mau Alya sakit lagi.”

“Kamu terlalu panik.”

“Dia sampai masuk rumah sakit.”

Rika tertawa pendek.

“Justru itu bagus.”

Aku membeku.

Arga terdiam.

“Maksudmu?”

Rika menurunkan suara.

“Kamu kan sudah bilang ingin berpisah dari Nadira sejak tahun lalu. Pengacara butuh pola. Tiga kejadian medis akibat kelalaian ibu bisa sangat berguna.”

Aku merasa lantai di bawah kakiku menghilang.

Arga tidak membantah bahwa dia ingin berpisah.

Dia hanya berkata,

“Tapi bukan begini caranya.”

Rika menjawab cepat,

“Jangan munafik. Kalau hak pengasuhan utama jatuh kepadamu, rekening pendidikan Alya dan saham warisan yang dititipkan atas namanya tetap berada di bawah pengelolaan keluarga kita. Rumah Kemang juga tidak perlu masuk sengketa.”

Sunyi.

Lalu Arga berkata sesuatu yang membuat seluruh sisa cintaku padanya mati.

“Dokumennya sudah kamu siapkan?”

Rika menjawab,

“Besok tanda tangan.”

Tanganku gemetar hebat.

Aku menghentikan rekaman.

Bukan karena tidak sanggup mendengar.

Aku sudah mendengar cukup.

Besok paginya aku mengikuti Arga diam-diam.

Dia pergi ke sebuah kantor hukum kecil di Jakarta Selatan.

Rika sudah menunggu.

Dari mobil, aku melihat sebuah map biru disodorkan kepadanya.

Arga membacanya lama.

Kemudian mengambil pena.

Dia menandatangani.

Sore itu aku berhasil mendapatkan foto dokumen melalui orang yang membantuku mengurus bukti.

Di sana tertulis namaku.

Nadira Prameswari.

Diikuti kalimat yang membuat tanganku dingin:

“Ibu berulang kali gagal mencegah paparan zat berbahaya terhadap anak.”

Mangga.

Alkohol.

Semua yang mereka lakukan sendiri…

akan dipakai untuk mengatakan bahwa akulah ibu yang membahayakan Alya.

Aku menutup berkas itu perlahan.

Malamnya Arga pulang membawa martabak kesukaanku.

Dia mencium keningku.

“Capek?”

Aku menatap wajah laki-laki yang pernah kupikir akan menua bersamaku.

Lalu tersenyum.

“Lumayan.”

Dia tidak tahu bahwa salinan rekaman percakapannya dengan Rika sudah berada di tangan pengacaraku.

Dia juga tidak tahu Pak Surya baru saja mengirim pesan kepadaku.

“Bu Nadira, saya mau bicara. Saya takut. Bu Rika membayar saya untuk mengganti makanan Alya. Saya punya semua chat-nya.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Kemudian mengetik satu jawaban.

“Jangan hapus apa pun.”

Karena sekarang aku tidak hanya memiliki kecurigaan.

Aku memiliki saksi.

Dan kali ini, sebelum mereka menjadikan aku terdakwa dalam cerita buatan mereka, aku akan membuat mereka mendengar rekaman cerita yang sebenarnya.

Bagian 3 — Di Ruang Mediasi Keluarga, Satu Rekaman, Satu Botol Obat, dan Pesan Terjadwal Membuat Suamiku Akhirnya Tahu Siapa yang Membohonginya Bertahun-Tahun

Seminggu kemudian, Rika mengundangku ke sebuah “pertemuan keluarga”.

Katanya dia ingin menyelesaikan masalah rumah tanggaku dengan Arga secara baik-baik.

Pengacara keluarga hadir.

Arga duduk di sebelah kakaknya.

Di atas meja sudah ada dokumen mengenai perpisahan dan pengasuhan Alya.

Rika bahkan membawa foto rekam medis.

Dia mendorong berkas itu ke arahku.

“Nadira, kita semua sayang Alya.”

Aku hampir tertawa.

Dia melanjutkan dengan suara lembut.

“Dalam beberapa minggu terakhir Alya dua kali mengalami paparan berbahaya saat berada dalam pengawasanmu.”

“Pengawasanku?”

Rika mengangguk.

“Kami tidak sedang menyalahkanmu. Mungkin kamu kelelahan.”

Aku menatap Arga.

Dia tidak mampu menatap balik.

Aku mengeluarkan ponsel.

“Kalau begitu, kita dengarkan sesuatu.”

Rekaman pertama diputar.

Suara Arga terdengar jelas.

“Sedikit saja. Rika bilang dulu Ibu ingin setiap makanan kenangan dicicipi juga oleh Alya.”

Wajah pengacara keluarga berubah.

Arga langsung pucat.

Rika berdiri.

“Itu bisa dipotong!”

Aku memutar rekaman kedua.

Suara Rika memenuhi ruangan.

“Justru itu bagus. Pengacara butuh pola. Tiga kejadian medis akibat kelalaian ibu bisa sangat berguna.”

Tidak ada lagi yang bicara.

Kemudian Pak Surya masuk.

Tangannya gemetar membawa sebuah kantong plastik bening.

Di dalamnya terdapat botol kecil, wadah bekal, dan ponselnya.

“Saya yang mengantar makanan itu.”

Arga menatapnya.

Pak Surya mulai menangis.

“Pak, maaf.”

Dia menunjukkan percakapannya dengan Rika.

Ada instruksi mengganti wadah makanan Alya.

Ada transfer uang.

Ada pesan yang memintanya membawa termos ke rumah sakit.

Ada pula satu pesan yang jauh lebih buruk:

“Kalau Nadira bertanya, bilang semua bekal dari dia.”

Arga perlahan menoleh kepada kakaknya.

“Rika…”

Untuk pertama kalinya, suaranya tidak terdengar marah.

Justru kosong.

“Kamu melakukan semua ini?”

Rika menunjukku.

“Jangan pura-pura suci! Rumah itu dibeli pakai uang keluarga kita. Saham Alya berasal dari Mama. Sejak perempuan ini masuk, semuanya berubah!”

Aku mengeluarkan bukti terakhir.

Hasil pemeriksaan digital terhadap pesan-pesan “warisan”.

Layanan yang mengirim pesan itu memang nyata.

Tetapi akun pengirimnya bukan dibuat tiga tahun lalu.

Akun itu baru dibuat tujuh minggu sebelum pesan mangga pertama.

Alamat pemulihannya menggunakan email milik Rika.

Pembayarannya berasal dari kartu atas namanya.

Dan berkas suara “Ibu Ratna” ternyata merupakan potongan beberapa rekaman lama yang disusun menjadi kalimat baru.

Bukan suara dari alam lain.

Bukan pesan terakhir orang mati.

Hanya manipulasi orang hidup.

Arga menutup wajahnya.

Selama berminggu-minggu dia percaya dirinya sedang menjalankan permintaan terakhir ibunya.

Namun bukti itu tidak menghapus kesalahannya.

Aku menatapnya.

“Kakakmu membohongimu.”

Dia mulai menangis.

“Tapi kamu memilih mempercayainya.”

“Nadira…”

“Kamu tahu Alya alergi mangga.”

Dia terdiam.

“Kamu tetap menyuruh orang memberikannya.”

Air matanya jatuh.

“Aku tidak tahu akan separah itu.”

“Setelah dia masuk IGD, kamu masih bertanya soal dokumen hak asuh.”

Dia tidak punya jawaban.

Pertemuan itu berakhir bukan dengan tanda tanganku pada surat yang mereka siapkan.

Melainkan kedatangan penyidik yang sebelumnya sudah menerima laporan serta bukti medis dan digital.

Pak Surya bersedia menjadi saksi.

Rika diperiksa atas rangkaian tindakannya terhadap Alya dan pemalsuan bukti yang berkaitan dengan sengketa keluarga.

Pak Surya juga harus mempertanggungjawabkan keterlibatannya, meskipun keterangannya membantu membuka seluruh rangkaian kejadian.

Arga tidak pernah mendapat kesempatan menggunakan dokumen palsu itu untuk melawanku.

Dalam proses perpisahan kami, seluruh rekaman diserahkan melalui jalur hukum.

Aku tidak meminta Arga dihancurkan.

Aku hanya meminta satu hal.

Alya aman.

Beberapa bulan berikutnya adalah masa terpanjang dalam hidupku.

Rika akhirnya dinyatakan bersalah dalam proses hukum atas tindakan yang terbukti dilakukannya. Hubungan keluarga besar mereka runtuh setelah bukti-bukti dibuka.

Pak Surya tidak pernah kembali bekerja di rumah kami.

Sedangkan Arga menjalani proses hukum dan evaluasi terkait tanggung jawabnya sebagai orang tua. Pertemuannya dengan Alya untuk sementara dilakukan dengan pengawasan.

Dia pernah datang menemuiku setelah semuanya selesai.

Tubuhnya jauh lebih kurus.

“Nadira…”

Aku berhenti di depan pintu.

“Boleh aku minta maaf?”

“Boleh.”

Dia tampak berharap.

Aku melanjutkan,

“Tapi memaafkan tidak berarti aku harus kembali.”

Arga menunduk.

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya, dia tidak mencoba membela diri.

Setahun kemudian, Alya dan aku pindah ke rumah yang lebih kecil di Bandung.

Tidak ada foto keluarga besar di ruang tamu.

Tidak ada akun orang mati yang tiba-tiba mengirim pesan.

Tidak ada makanan yang harus kusembunyikan.

Di tas Alya selalu ada kartu alergi dan obat darurat yang direkomendasikan dokternya.

Pada hari pertama masuk sekolah barunya, dia berhenti di gerbang lalu berbalik.

“Mama!”

“Iya?”

Dia berlari kembali dan memeluk pinggangku.

“Alya sekarang aman, kan?”

Aku berjongkok di depannya.

Aku tidak menjanjikan bahwa hidup tidak akan pernah menyakitinya lagi.

Aku hanya memegang kedua tangannya dan berkata,

“Selama Mama masih bisa berdiri di sampingmu, Mama akan memastikan tidak ada seorang pun yang boleh menyakitimu lalu menyebutnya cinta.”

Alya tersenyum.

Kemudian dia berlari masuk ke sekolah.

Aku berdiri di sana cukup lama melihat punggung kecilnya menjauh.

Dulu aku takut pada pesan-pesan yang datang memakai nama orang yang sudah meninggal.

Sekarang aku tahu sesuatu yang jauh lebih penting.

Orang mati tidak menghancurkan rumah tanggaku.

Kebohonganlah yang melakukannya.

Dan ketika kebohongan itu akhirnya terbuka, aku tidak kehilangan keluargaku.

Aku menyelamatkan bagian keluarga yang paling berharga—putriku.