Suamiku Mengaku Mencintai Janda Sahabatnya dan Pergi Tanpa Harta—Enam Tahun Kemudian, Saat Melihat Putriku yang Berwajah Mirip Denganku, Ia Menyesal Sampai Kehilangan Kendali di Depan Perempuan yang Dulu Dipilihnya

Avatar penulis
Cerita 03
15 menit baca 1,495 tayangan
Suamiku Mengaku Mencintai Janda Sahabatnya dan Pergi Tanpa Harta—Enam Tahun Kemudian, Saat Melihat Putriku yang Berwajah Mirip Denganku, Ia Menyesal Sampai Kehilangan Kendali di Depan Perempuan yang Dulu Dipilihnya
Indeks

Suamiku Mengaku Mencintai Janda Sahabatnya dan Pergi Tanpa Harta—Enam Tahun Kemudian, Saat Melihat Putriku yang Berwajah Mirip Denganku, Ia Menyesal Sampai Kehilangan Kendali di Depan Perempuan yang Dulu Dipilihnya

Bagian 1 — Delapan Tahun Pernikahan Berakhir dalam Dua Puluh Menit, tetapi Satu Kalimat Terakhirnya Membuatku Yakin Aku Tidak Akan Pernah Kembali Lagi

“Tanda tangan saja, Alina.”

Raka mendorong map cokelat ke arahku di atas meja makan.

Nada suaranya tenang.

Terlalu tenang untuk seorang suami yang baru saja mengaku tidur dengan perempuan lain.

“Rumah di Bekasi untuk kamu. Mobil juga. Tabungan bersama tidak akan aku sentuh. Aku hanya membawa pakaian dan barang pribadiku.”

Ia menelan ludah sebelum melanjutkan.

“Delapan tahun kamu mendampingiku. Anggap semua itu sebagai ganti rugi.”

Aku membuka map tersebut.

Perjanjian perceraian.

Daftar aset.

Surat pernyataan bahwa ia melepaskan hak atas hampir seluruh harta yang kami kumpulkan selama menikah.

Aku membaca sampai halaman terakhir.

Lalu mengambil pulpen.

Raka menatap tanganku.

Sepertinya ia menunggu tangisku.

Atau mungkin teriakan.

Piring pecah.

Pertanyaan seperti, “Apa kurangku?”

Namun yang terdengar hanya suara ujung pulpen bergesekan dengan kertas.

Aku menulis namaku.

Alina Prameswari.

“Sudah.”

Wajah Raka berubah.

“Kamu… tidak mau bertanya lagi?”

Aku menutup pulpen.

“Bertanya apa?”

“Kenapa semuanya bisa terjadi.”

Aku menatap lelaki yang pernah tidur di sampingku selama delapan tahun.

“Bukankah kamu sudah menjelaskannya?”

Aku menghitung dengan jariku.

“Bima meninggal saat melindungimu dalam sebuah operasi keamanan. Kamu merasa berutang nyawa kepadanya. Setelah itu kamu membantu istrinya, Dinda. Kamu mengantarnya ke mana-mana, mencarikan pekerjaan, membayar biaya pindahan, datang ke rumahnya setiap kali dia menangis.”

Raka menunduk.

“Lalu tiga bulan terakhir kalian tidur bersama.”

Tangannya mengepal.

“Alina…”

“Ada bagian yang salah?”

“Dinda sendirian.”

Aku hampir tertawa.

“Aku juga sendirian, Raka.”

Ia mengangkat kepala.

Aku melanjutkan, “Bedanya, ketika aku sendirian menunggumu pulang, aku masih punya suami. Setidaknya di atas kertas.”

Raka berdiri mendadak.

“Aku tahu aku salah!”

Suaranya meninggi.

“Tapi aku juga manusia. Setiap kali melihat Dinda, aku teringat Bima mati di depanku. Dia mendorongku keluar dari jalur tembakan. Kalau bukan karena dia, aku yang tidak pulang hari itu.”

“Lalu karena dia menyelamatkan hidupmu, kamu membayar utang itu dengan tidur bersama istrinya?”

Raka membeku.

Wajahnya memerah.

Aku mendorong map kembali kepadanya.

“Senin depan jam dua siang. Kita selesaikan semuanya di Pengadilan Agama.”

Aku mengambil tas.

Saat hampir mencapai pintu, suara Raka menghentikanku.

“Delapan tahun, Alina.”

Aku berbalik.

Matanya merah.

“Kamu bisa pergi begitu saja setelah delapan tahun?”

Aku benar-benar tidak mengerti.

“Kamu yang memilih perempuan lain.”

“Aku tahu.”

“Kamu yang meminta berpisah.”

“Aku tahu.”

“Kamu bahkan sudah menyiapkan pembagian harta.”

Raka terdiam.

“Jadi bagian mana yang kamu harapkan membuatku berlutut dan memohon?”

Tidak ada jawaban.

Aku membuka pintu.

“Kalau kamu ingin menjadi lelaki mulia yang mengorbankan semuanya demi janda sahabatmu, silakan. Tapi jangan minta aku ikut bertepuk tangan.”

Aku pergi.

Namaku Alina Prameswari.

Saat itu usiaku tiga puluh tiga tahun.

Sebelum menikah, hidupku sangat berbeda.

Aku bekerja sebagai arsitek interior di sebuah firma besar di Jakarta Selatan. Di usia dua puluh enam tahun, aku sudah memimpin tim kecil dan pernah memenangkan penghargaan desain hotel tingkat nasional.

Aku mengenal Raka melalui teman kampus.

Ia mantan anggota satuan pengamanan khusus yang kemudian bekerja sebagai konsultan keamanan perusahaan.

Tidak banyak bicara.

Tidak suka pamer.

Selalu datang tepat waktu.

Dan ketika bicara dengan seseorang, ia menatap mata orang itu seolah tidak ada hal lain yang lebih penting.

Aku jatuh cinta pada ketenangan itu.

Dua tahun kemudian kami menikah.

Tahun ketiga pernikahan, aku hamil.

Kami bahkan sudah membeli sebuah ranjang bayi kecil.

Warnanya putih.

Raka merakitnya sendiri selama hampir empat jam karena menolak memanggil tukang.

Namun pada usia kehamilan sebelas minggu, aku mengalami perdarahan hebat.

Bayinya tidak bertahan.

Setelah beberapa komplikasi, seorang dokter mengatakan peluangku untuk hamil kembali mungkin jauh lebih kecil dibandingkan perempuan pada umumnya.

Malam itu Raka memelukku sampai pagi.

“Tidak masalah kalau kita tidak punya anak.”

Ia mencium kepalaku.

“Aku menikahimu, bukan rahimmu.”

Kalimat itu pernah membuatku mencintainya lebih dalam.

Karena ingin memulihkan kesehatan dan mengurangi tekanan kerja, aku mengundurkan diri dua tahun kemudian.

Aku tetap bekerja sebagai konsultan desain dari rumah.

Penghasilanku turun hampir separuh.

Sebagai gantinya, aku menjadi orang yang selalu menyalakan lampu teras ketika Raka pulang malam.

Menyiapkan makanan.

Mengurus rumah.

Menemaninya ketika mimpi buruk tentang pekerjaan lamanya datang.

Lalu tiga tahun sebelum perceraian kami, Bima meninggal.

Bima adalah sahabat terdekat Raka.

Mereka sudah saling mengenal sejak masa pelatihan.

Saat sebuah tugas pengamanan di luar negeri berubah kacau, Bima terluka parah ketika membantu Raka keluar dari lokasi.

Ia tidak selamat.

Aku masih ingat Raka pulang ke Indonesia.

Ia duduk di lantai ruang tamu sampai subuh.

Tidak makan.

Tidak bicara.

Hanya memegang jam tangan Bima.

Dinda, istri Bima, waktu itu berusia dua puluh sembilan tahun.

Mereka belum memiliki anak.

Raka mulai sering membantu Dinda.

Awalnya aku mendukungnya.

Ketika Dinda harus pindah dari rumah kontrakan, aku ikut membungkus barang.

Saat ulang tahunnya, akulah yang memilihkan scarf untuk hadiah.

Ketika Dinda menelepon tengah malam karena serangan panik, aku menyuruh Raka menemuinya.

Aku bahkan berkata, “Jangan biarkan dia merasa sendirian.”

Ironis sekali.

Pada akhirnya justru aku yang dibuat sendirian.

Setahun pertama, Raka mengunjungi Dinda dua atau tiga kali sebulan.

Kemudian seminggu sekali.

Lalu setiap dua hari.

Ponselnya mulai selalu dibawa ke kamar mandi.

Perjalanan dinasnya semakin banyak.

Ada rapat mendadak.

Pelatihan tertutup.

Audit keamanan.

Pemeriksaan lokasi.

Aku mempercayainya sampai enam bulan terakhir.

Suatu malam aku menemukan struk sebuah restoran di Senopati di saku jaketnya.

Makan malam untuk dua orang.

Tanggalnya tepat pada malam ketika ia mengaku sedang melakukan inspeksi gudang di Cikarang.

Aku tidak bertanya.

Sebulan kemudian, seorang teman mengirim foto tanpa sengaja.

Ia sedang makan bersama keluarganya di sebuah restoran Jepang.

Di meja belakang terlihat Raka dan Dinda.

Dinda sedang menangis.

Tangan Raka berada di atas tangannya.

Namun yang akhirnya menghancurkan semua alasanku untuk bertahan justru sesuatu yang sangat kecil.

Anting mutiara.

Aku menemukannya di mobil Raka.

Ketika kutaruh di meja malam itu, wajahnya langsung pucat.

Ia tidak membuat alasan.

Mungkin karena sudah lelah berbohong.

“Aku mencintai Dinda.”

Itulah kalimat pertama yang ia ucapkan.

Malam itu juga ia mengaku semuanya.

Hubungan mereka sudah berlangsung hampir empat bulan.

Katanya rasa bersalah, kedekatan, dan tanggung jawab berubah menjadi sesuatu yang “tidak mereka rencanakan”.

Aku hanya bertanya satu hal.

“Kalau begitu, kenapa kamu masih pulang ke rumah ini?”

Raka tidak bisa menjawab.

Seminggu kemudian, ia membawa surat perceraian.

Senin berikutnya kami resmi berpisah.

Di halaman gedung pengadilan, Dinda menunggu di dalam sebuah mobil putih di seberang jalan.

Aku mengenal mobil itu.

Raka yang membantunya memilih mobil tersebut dua tahun sebelumnya.

Raka berjalan di belakangku setelah urusan selesai.

“Alina.”

Aku berhenti.

“Kalau suatu hari kamu butuh bantuan…”

“Tidak.”

“Dengar dulu.”

“Aku sudah terlalu lama mendengarkanmu.”

Aku mengeluarkan kunci rumah dari tas dan meletakkannya di telapak tangannya.

“Aku sudah pindah.”

Ia terkejut.

“Rumah itu milikmu sekarang.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa—”

“Karena aku tidak mau tinggal di tempat yang membuatku setiap malam bertanya kapan tepatnya suamiku mulai berbohong kepadaku.”

Aku berjalan menuju taksi online yang menunggu.

Baru tiga menit mobil bergerak, ponselku berdering.

Nomornya dari sebuah klinik fertilitas di Jakarta.

Dua minggu sebelum Raka mengaku berselingkuh, diam-diam aku menjalani pemeriksaan lengkap karena menstruasiku mulai kembali teratur.

Aku hampir membatalkan pemeriksaan lanjutan itu.

“Halo, Bu Alina?”

“Ya.”

“Saya dr. Melissa. Hasil pemeriksaan terakhir Ibu sudah keluar. Saya ingin mengoreksi satu hal penting dari diagnosis lama Ibu.”

Aku menahan napas.

Dokter itu berbicara pelan.

“Kerusakan yang dulu ditemukan ternyata bukan kondisi permanen. Setelah terapi yang tepat, peluang Ibu untuk hamil secara alami masih cukup baik.”

Aku memandang jalan Jakarta dari balik kaca mobil.

Untuk pertama kalinya sejak perceraian itu dimulai, tanganku benar-benar gemetar.

#KisahRumahTangga #DramaKeluarga #PengkhianatanSuami #PerempuanBangkit #CeritaKehidupan

Bagian 2 — Enam Tahun Setelah Perceraian, Aku Kembali ke Jakarta dengan Putri Kecilku dan Sebuah Rahasia yang Tidak Pernah Ia Bayangkan Sebelumnya

Aku tidak menelepon Raka setelah menerima hasil pemeriksaan itu.

Tidak ada gunanya.

Kesempatan memiliki anak tidak akan memperbaiki pernikahan yang sudah kehilangan kejujuran.

Aku pindah ke Yogyakarta.

Aku kembali bekerja penuh waktu dan bergabung dengan sebuah studio arsitektur kecil milik teman lamaku.

Pada tahun pertama, aku bekerja seperti orang yang sedang mengejar napasnya sendiri.

Aku mengambil proyek kafe.

Villa.

Hotel kecil.

Rumah tinggal.

Apa pun.

Aku ingin mengingat siapa diriku sebelum seluruh hidupku berputar di sekitar jadwal pulang seorang lelaki.

Di studio itu aku mengenal Farhan.

Ia seorang arsitek lanskap.

Duda tanpa anak.

Istrinya meninggal akibat kecelakaan beberapa tahun sebelumnya.

Hal pertama yang membuatku memperhatikannya justru karena ia tidak pernah menjadikan kesedihan sebagai alasan untuk menuntut perhatian siapa pun.

Kami berteman hampir dua tahun sebelum ia mengajakku menikah.

Aku menceritakan semuanya kepadanya.

Tentang keguguran.

Tentang diagnosis lama.

Tentang Raka.

Tentang ketakutanku mencoba memiliki anak lagi.

Farhan hanya berkata, “Kalau nanti kita punya anak, aku bersyukur. Kalau tidak, rumah kita tetap keluarga.”

Setahun setelah menikah, aku terlambat menstruasi.

Aku masih ingat duduk di lantai kamar mandi sambil memegang alat tes kehamilan dengan dua garis merah.

Aku tidak langsung bahagia.

Aku justru menangis karena takut.

Sembilan bulan kemudian lahirlah putri kami.

Namanya Keira.

Mata besar.

Rambut tebal.

Dan setiap kali tersenyum, sudut bibir kirinya naik lebih tinggi seperti milikku.

Enam tahun setelah perceraianku dengan Raka, perusahaan kami memenangkan proyek renovasi sebuah hotel di Jakarta.

Aku membawa Keira karena Farhan sedang menyelesaikan proyek di Lombok dan ibuku juga berada di Jakarta.

Aku sama sekali tidak menyangka akan bertemu Raka.

Hari itu ibuku menjalani pemeriksaan rutin di sebuah rumah sakit swasta di Kuningan.

Keira menggandeng tanganku sambil membawa boneka kelinci.

Kami baru keluar dari lift ketika seseorang memanggil namaku.

“Alina?”

Aku mengenali suara itu bahkan sebelum berbalik.

Raka berdiri sekitar lima meter di belakang kami.

Rambutnya sudah sedikit beruban di sisi pelipis.

Wajahnya lebih kurus.

Tidak ada lagi ketenangan yang dulu membuatku jatuh cinta kepadanya.

Matanya berpindah dari wajahku ke Keira.

Keira bersembunyi setengah badan di belakangku.

“Bunda, siapa?”

Raka menatapnya lama.

Terlalu lama.

Keira memang sangat mirip denganku ketika kecil.

Foto masa SD-ku dan wajahnya sekarang bahkan sering disebut seperti hasil salinan.

“Anakmu?”

Aku mengangguk.

“Namanya Keira.”

Bibir Raka terbuka, tetapi tidak ada suara keluar.

“Umurnya?”

“Hampir empat tahun.”

Aku bisa melihat perhitungan cepat di wajahnya.

Empat tahun.

Berarti Keira jelas lahir jauh setelah pernikahan kami selesai.

Dan entah mengapa fakta itu justru tampak membuatnya semakin terpukul.

“Kamu… bisa punya anak?”

Sebelum sempat kujawab, seseorang datang dari belakang Raka.

Dinda.

Aku hampir tidak mengenalinya.

Rambutnya lebih pendek.

Wajahnya kaku saat melihatku.

Pandangan Dinda langsung jatuh kepada Keira.

Kemudian kepadaku.

Lalu kembali kepada Raka.

“Jadi ini mantan istrimu?”

Aku mengangguk singkat.

Tidak ada alasan untuk membuat keributan.

Namun Raka tiba-tiba bertanya, “Dokter dulu bilang kamu hampir tidak mungkin hamil.”

Aku menjawab tenang.

“Dokter bilang peluangku rendah. Bukan nol.”

“Kenapa aku tidak pernah tahu?”

Pertanyaan itu membuatku tertawa kecil.

“Karena ketika aku mendapatkan hasil pemeriksaan baru, kita sudah bercerai.”

Wajahnya memucat.

Dinda menatapnya tajam.

“Raka.”

Ia tidak menjawab.

Matanya masih tertuju kepada Keira.

Saat itu Keira menarik bajuku.

“Bunda, Ayah sudah datang.”

Aku menoleh.

Farhan berjalan dari ujung koridor sambil membawa koper kecil. Penerbangannya dari Lombok rupanya tiba lebih cepat.

Keira langsung berlari.

“Ayah!”

Farhan mengangkatnya tinggi-tinggi.

Keira tertawa.

Suara tawa itu memenuhi lorong rumah sakit.

Ketika Farhan mendekat dan merangkul bahuku, ekspresi Raka berubah seperti seseorang baru saja membuka sebuah pintu dan memperlihatkan kehidupan yang seharusnya tidak lagi menjadi miliknya.

Aku memperkenalkan mereka dengan singkat.

“Farhan, ini Raka.”

Farhan mengangguk sopan.

Raka tidak segera membalas.

Lalu Dinda berkata dengan suara dingin, “Kita harus pergi. Dokter menunggu.”

Mereka berjalan menjauh.

Aku pikir pertemuan itu berakhir sampai di sana.

Aku salah.

Malamnya, sebuah nomor lama mengirim pesan.

Raka.

Aku ingin bicara sekali saja. Aku baru mengetahui sesuatu tentang Dinda dan Bima yang seharusnya kuketahui enam tahun lalu.

Aku tidak membalas.

Lima menit kemudian masuk foto sebuah dokumen bank.

Kemudian tangkapan layar percakapan lama.

Lalu satu pesan terakhir.

Alina, selama ini aku menghancurkan pernikahan kita karena sebuah kebohongan.

Aku menatap layar cukup lama.

Bukan karena ingin kembali.

Tetapi karena pada foto terakhir terdapat tanggal transaksi yang sangat kukenal.

Tanggal itu adalah hari ketika Raka pernah mengambil Rp180 juta dari tabungan kami dan mengatakan uang tersebut dipakai untuk operasi ibu Dinda.

Nama penerimanya ternyata bukan rumah sakit.

Melainkan rekening sebuah perusahaan milik kakak Dinda.

Dan transaksi semacam itu bukan hanya terjadi satu kali.

Bagian 3 — Di Ruang Rumah Sakit Itu, Kebohongan Lama Terbongkar, dan Lelaki yang Meninggalkanku Akhirnya Kehilangan Semua yang Ia Pilih Selama Ini Sendiri

Dua hari kemudian aku bertemu Raka.

Bukan diam-diam.

Farhan tahu.

Kami bertemu di kedai kopi di lobi hotel tempat timku menginap.

Aku ingin satu hal saja.

Mengetahui apakah selama pernikahan kami ada uang bersama yang disalahgunakan tanpa sepengetahuanku.

Raka membawa sebuah map.

Tangannya terlihat jauh lebih tua daripada enam tahun lalu.

“Aku dan Dinda tidak baik-baik saja,” katanya.

“Itu bukan urusanku.”

“Aku tahu.”

Ia mendorong map kepadaku.

Setelah kami bercerai, Raka menikahi Dinda delapan bulan kemudian.

Ia menjual apartemen kecil miliknya sebelum menikah dan menggunakan sebagian uang untuk membantu Dinda membuka bisnis katering.

Kemudian ia membantu kakak Dinda mendirikan perusahaan penyedia jasa keamanan.

Setelah itu permintaan uang tidak pernah berhenti.

Modal tambahan.

Utang keluarga.

Biaya pengobatan.

Renovasi rumah.

Pinjaman bisnis.

Dua tahun terakhir, Raka mulai curiga.

Ia memeriksa dokumen lama.

Dari sana ia mengetahui Dinda sebenarnya telah menerima santunan kematian, asuransi pribadi Bima, dan pembayaran perusahaan dengan jumlah yang cukup untuk hidup mandiri selama bertahun-tahun.

Ia tidak pernah benar-benar tidak punya apa-apa.

Yang lebih buruk, uang Rp180 juta yang diambil Raka dari tabungan kami dahulu bukan untuk operasi.

Ibu Dinda memang sakit.

Tetapi seluruh biayanya sudah ditanggung asuransi.

Uang itu digunakan kakaknya sebagai modal perusahaan.

“Kamu berbohong kepadaku waktu itu?” tanyaku.

Raka menunduk.

“Dinda bilang keluarganya malu menerima bantuan darimu. Jadi aku tidak memberitahumu detailnya.”

“Berarti kamu memang sengaja menyembunyikannya.”

Ia tidak bisa membantah.

Aku menutup map.

“Jadi jangan bilang pernikahan kita hancur karena kebohongan Dinda.”

Raka menatapku.

“Kamu tetap memilih berbohong.”

Matanya memerah.

“Aku pikir aku sedang menebus nyawa Bima.”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Kamu menikmati perasaan menjadi orang yang dibutuhkan.”

Ia terdiam.

“Setiap kali Dinda menelepon, kamu merasa seperti penyelamat. Setiap kali aku bilang aku bisa mengurus diriku sendiri, mungkin aku justru membuatmu merasa tidak penting.”

Raka menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku salah.”

“Tentu.”

“Aku kehilangan semuanya.”

Aku tidak menjawab.

Rupanya tiga bulan sebelumnya Dinda telah menggugat cerai.

Perusahaannya juga sedang diperiksa karena beberapa kontrak bermasalah yang melibatkan kakak Dinda. Nama Raka tidak terbukti mengambil keuntungan pribadi, tetapi reputasinya rusak karena ia yang memperkenalkan perusahaan itu kepada beberapa klien.

Dinda sudah pindah ke Surabaya.

Bisnis katering tutup.

Rumah yang mereka tempati harus dijual untuk melunasi pinjaman.

Aku mendengarkan tanpa rasa puas yang dulu mungkin kubayangkan akan kurasakan.

Yang ada justru kehampaan.

Enam tahun lalu, aku mungkin akan memberikan apa saja agar Raka memilihku.

Sekarang kesedihannya tidak lagi mampu mengubah apa pun dalam hidupku.

Tiba-tiba ia bertanya, “Kalau waktu itu aku tidak pergi… apakah kita mungkin punya anak?”

Aku memandangnya.

“Mungkin.”

Satu kata itu menghancurkan pertahanan terakhirnya.

Ia menundukkan kepala.

Bahu Raka bergetar.

“Aku selalu berpikir kita tidak akan pernah punya keluarga lengkap.”

Aku menarik napas.

“Kita sudah punya keluarga, Raka.”

Ia mengangkat wajah.

“Dua orang juga keluarga.”

Aku berdiri.

“Kamu hanya terlalu sibuk mencari sesuatu yang belum kita punya sampai lupa menjaga sesuatu yang sudah ada.”

Hari berikutnya aku kembali ke rumah sakit menemani ibuku.

Di area taman, aku melihat Dinda.

Ia berdiri menunggu taksi.

Ketika melihatku, ia mendekat.

“Aku tahu Raka menemuimu.”

Aku tidak menyangkal.

“Dia membuatku terlihat seperti penipu.”

“Aku tidak tertarik pada urusan kalian.”

Dinda tertawa pahit.

“Dia bilang semua kesalahannya dimulai dariku.”

“Kalau begitu dia masih belum belajar apa-apa.”

Dinda tampak terkejut.

Aku melanjutkan, “Kamu salah karena menerima hal yang bukan hakmu dan menyembunyikan banyak hal. Tapi dia yang menikah denganku. Dia yang berjanji setia. Dia juga yang memutuskan berbohong.”

Untuk pertama kalinya, Dinda tidak punya jawaban.

Aku meninggalkannya di sana.

Sore itu, di halaman rumah ibuku, Keira sedang bermain gelembung sabun bersama Farhan.

Ia berlari ke arahku.

“Bunda!”

Aku berjongkok.

Keira menabrak tubuhku dengan pelukan kecilnya.

Farhan tersenyum dari kejauhan.

Di tangannya ada dua gelas es teh.

Sederhana.

Tidak dramatis.

Tidak ada lelaki berlutut.

Tidak ada balas dendam besar.

Hanya hidup yang akhirnya terasa milikku sendiri.

Tiga hari kemudian, Raka mengirim pesan terakhir.

Aku baru sadar, enam tahun lalu aku tidak meninggalkan perempuan yang tidak bisa memberiku anak. Aku meninggalkan orang yang sudah memberikan seluruh hidupnya kepadaku.

Aku membacanya sekali.

Kemudian menghapus pesan itu.

Tidak kubalas.

Malamnya kami bertiga pulang ke Yogyakarta.

Di bandara, Keira tertidur di bahu Farhan.

Aku berjalan di samping mereka sambil membawa ransel kecil bergambar kelinci milik putriku.

Sebelum masuk ke ruang keberangkatan, aku sempat melihat pantulan kami bertiga di kaca besar.

Enam tahun lalu aku pernah berpikir perceraian adalah hari ketika seluruh hidupku berakhir.

Ternyata tidak.

Itu hanya hari ketika aku berhenti menjadi perempuan yang terus menunggu seseorang memilihku.

Karena akhirnya aku mengerti satu hal.

Cinta yang sehat tidak meminta kita bersaing dengan rasa bersalah, masa lalu, ataupun perempuan lain untuk mendapatkan tempat di rumah sendiri.

Dan Raka?

Ia tetap harus menjalani konsekuensi dari pilihan yang dibuatnya sendiri.

Bukan karena aku menghukumnya.

Bukan karena hidup sengaja membalas dendam.

Melainkan karena beberapa pintu, ketika kita menutupnya dengan tangan sendiri, memang tidak akan terbuka lagi hanya karena suatu hari kita menyesal.