SUAMIKU MENGIRA KARENA AKU SEDANG HAMIL, MENGURUS DUA ANAK, TIDAK PUNYA PEKERJAAN, DAN BERGANTUNG SEPENUHNYA PADANYA SECARA FINANSIAL, AKU TIDAK AKAN PERNAH PUNYA KEBERANIAN UNTUK MENINGGALKANNYA.

Avatar penulis
Cerita 04
19 menit baca 1,212 tayangan
SUAMIKU MENGIRA KARENA AKU SEDANG HAMIL, MENGURUS DUA ANAK, TIDAK PUNYA PEKERJAAN, DAN BERGANTUNG SEPENUHNYA PADANYA SECARA FINANSIAL, AKU TIDAK AKAN PERNAH PUNYA KEBERANIAN UNTUK MENINGGALKANNYA.
Indeks

SUAMIKU MENGIRA KARENA AKU SEDANG HAMIL, MENGURUS DUA ANAK, TIDAK PUNYA PEKERJAAN, DAN BERGANTUNG SEPENUHNYA PADANYA SECARA FINANSIAL, AKU TIDAK AKAN PERNAH PUNYA KEBERANIAN UNTUK MENINGGALKANNYA.

Lalu suatu malam, dia membawa selingkuhannya masuk ke rumah kami dan dengan tenang mengumumkan bahwa perempuan itu akan tinggal di kamar tamu.

Lima belas menit kemudian, aku turun kembali bersama kedua anakku, membawa tiga koper yang sudah siap…

dan sebuah gugatan cerai yang sama sekali tidak dia ketahui keberadaannya.

SUAMIKU MENGIRA KARENA AKU SEDANG HAMIL, MENGURUS DUA ANAK, TIDAK PUNYA PEKERJAAN, DAN BERGANTUNG SEPENUHNYA PADANYA SECARA FINANSIAL, AKU TIDAK AKAN PERNAH PUNYA KEBERANIAN UNTUK MENINGGALKANNYA.

Suamiku membawa selingkuhannya masuk ke ruang makan ketika usia kehamilanku sudah delapan bulan.

Di depan kedua anak kami, dia menggenggam tangan perempuan itu dan mengumumkan bahwa mulai malam itu, perempuan tersebut akan tinggal satu atap bersama kami.

Saat itulah aku sadar.

Semua ini sudah direncanakan jauh sebelum mereka melangkahkan kaki melewati pintu rumah.

Namaku Nadira Prameswari, dan aku sudah menikah dengan Arga Mahendra selama sembilan tahun.

Kami tinggal di sebuah rumah besar di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, rumah yang selama bertahun-tahun selalu disebut Arga sebagai bukti bahwa dia telah memberikan “kehidupan sempurna” kepadaku.

Putra kami yang berusia enam tahun, Raka, sedang duduk di sebelahku di meja makan kayu jati.

Sementara putri kami yang berusia empat tahun, Aluna, sibuk mengeluh karena potongan ayam di piringnya menurutnya berbentuk “terlalu kotak”.

Malam itu, ibu Arga, Ratna Mahendra, juga datang makan malam bersama kami.

Adik laki-laki Arga, Dimas, duduk di seberang meja sambil memainkan gelas minumannya.

Semuanya tampak seperti makan malam keluarga biasa.

Sampai aku mendengar langkah kaki Arga dari lorong.

Lalu terdengar langkah kaki lain di sampingnya.

Suara sepatu hak tinggi.

Aku berhenti mengunyah.

Beberapa detik kemudian, Arga muncul di pintu ruang makan.

Dia mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam, dengan ekspresi tenang dan terkendali yang biasa dia gunakan saat menghadapi rapat penting di kantornya di kawasan SCBD.

Namun dia tidak datang sendirian.

Di sebelahnya berdiri seorang perempuan bernama Celine Wijaya.

Gaun hijaunya terlihat jauh lebih cocok dipakai untuk makan malam di restoran mewah daripada menghadiri makan malam keluarga pada Rabu malam.

Aku pernah melihat foto Celine sebelumnya.

Bukan sekali.

Arga tidak pernah mengakui bahwa perempuan itu ada.

Tetapi laki-laki yang sudah terlalu yakin istrinya tidak mungkin pergi pada akhirnya akan berhenti berhati-hati.

Bu Ratna membeku dengan sendok masih terangkat di tangannya.

Dimas perlahan meletakkan gelasnya.

Raka bergeser mendekat ke tubuhku.

Sedangkan Aluna menatap perempuan asing itu dengan rasa ingin tahu.

Arga memandang lurus kepadaku.

“Nadira, kurasa sudah waktunya kita berhenti berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.”

Aku meletakkan pisau kecil milik Aluna dengan hati-hati di samping piringnya.

Tidak mengatakan apa-apa.

Arga kemudian mengulurkan tangan.

Celine menyambutnya.

Jari mereka saling menggenggam tepat di depan mataku.

“Celine dan aku bersama sekarang.”

Ruangan mendadak sunyi.

Arga melanjutkan dengan suara yang begitu tenang hingga terasa lebih kejam daripada sebuah bentakan.

“Dan karena kamar tamu di lantai atas kosong, mulai malam ini Celine akan tinggal di sana. Untuk sementara waktu.”

Aluna mengerutkan kening.

“Dia juga makan malam sama kita?”

Tidak ada seorang pun yang menjawab.

Celine hanya memberiku senyum kecil.

Senyum seseorang yang yakin dirinya baru saja memenangkan sesuatu.

Arga bahkan melingkarkan satu lengannya di pinggang Celine.

Kemudian mereka berdua menunggu reaksiku.

Dan bagian itulah yang membuat semuanya menjadi jelas.

Mereka sedang menunggu.

Arga ingin aku marah.

Dia ingin aku berteriak.

Dia ingin aku menangis, melempar sesuatu, menghina Celine, atau melakukan apa pun yang bisa membuatku terlihat kehilangan kendali.

Karena selama berbulan-bulan, tanpa kusadari pada awalnya, Arga telah menciptakan versi lain tentang diriku kepada orang-orang di sekitar kami.

Menurut ceritanya…

Nadira menjadi terlalu emosional sejak hamil.

Nadira sering mencemaskan uang tanpa alasan.

Nadira tidak mampu menghadapi tekanan.

Nadira terlalu posesif terhadap anak-anak.

Dan yang paling berbahaya…

Nadira mungkin akan melakukan sesuatu yang tidak masuk akal jika Arga meninggalkannya.

Jika setiap kalimat itu didengar secara terpisah, semuanya terdengar seperti kekhawatiran seorang suami terhadap istrinya yang sedang hamil.

Namun jika disatukan, kalimat-kalimat itu menciptakan sebuah cerita.

Cerita tentang seorang perempuan yang tidak stabil.

Seorang ibu yang mungkin tidak mampu mengendalikan emosinya.

Seorang istri yang reaksinya tidak bisa dipercaya.

Dan malam itu, Arga sudah menyiapkan para saksi.

Ibunya.

Adiknya.

Selingkuhannya.

Bahkan anak-anak kami sendiri.

Dia sengaja membawa Celine ke hadapanku karena dia ingin aku menyelesaikan cerita yang sudah dia bangun selama berbulan-bulan.

Dia hanya membutuhkan satu ledakan emosi dariku.

Satu teriakan.

Satu piring pecah.

Satu tamparan.

Apa saja.

Aku menatap Celine beberapa detik.

Kemudian aku berkata dengan tenang,

“Keputusan yang menarik.”

Senyum Celine perlahan menghilang.

Arga berkedip.

“Apa?”

“Membawa Celine masuk ke rumah ini.”

Rahang Arga mengeras.

“Cuma itu yang mau kamu katakan?”

Aku tersenyum tipis.

“Untuk sekarang, iya.”

Aku mendorong kursiku perlahan dan berdiri.

Dengan usia kehamilan delapan bulan, bahkan berdiri dari kursi sudah membutuhkan usaha.

Pinggangku hampir selalu terasa sakit.

Kakiku membengkak setiap sore.

Dan bayi di dalam perutku sepertinya baru saja menemukan bahwa tulang rusuk ibunya adalah tempat yang sangat menyenangkan untuk ditendang.

Aku mengulurkan tangan kiriku kepada Raka.

Tangan kananku kepada Aluna.

“Ayo ikut Mama ke atas.”

Raka langsung berdiri.

Aluna turun dari kursinya.

Namun sebelum aku sempat melewati meja makan, Arga bergerak dan berdiri tepat di depanku.

“Kita belum selesai bicara.”

Aku menatap wajah laki-laki yang sudah menjadi suamiku selama sembilan tahun.

Selama sembilan tahun itu, aku selalu melembutkan kata-kataku sebelum berbicara kepadanya.

Aku meminta maaf bahkan sebelum mengajukan pertanyaan.

Aku belajar memilih waktu yang “tepat” untuk membicarakan sesuatu agar dia tidak marah.

Dan setiap kali ingatanku berbeda dengan versinya, aku selalu menjadi orang pertama yang meragukan diriku sendiri.

Mungkin aku salah dengar.

Mungkin aku terlalu sensitif.

Mungkin aku salah mengingat.

Mungkin Arga benar.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

aku berhenti melakukan semua itu.

Aku menatap tepat ke matanya.

“Justru kita sudah selesai, Arga.”

Wajahnya berubah.

Hanya sedikit.

Namun aku melihatnya.

Aku berjalan melewatinya sambil menggandeng kedua anakku.

Kami menaiki tangga menuju lantai dua.

Aku bisa merasakan tatapan semua orang mengikuti punggungku.

Arga mungkin mengira aku pergi ke kamar untuk menangis.

Celine mungkin mengira aku sedang mencoba menerima kekalahanku.

Bu Ratna mungkin mengira aku akhirnya memahami bahwa tanpa penghasilan sendiri, aku tidak punya pilihan.

Mereka semua salah.

Karena di dalam lemari kamar utama, tersembunyi di balik beberapa kotak pakaian bayi, sudah ada tiga koper yang kukemas dua hari sebelumnya.

Dan di dalam tas dokumen berwarna hitam terdapat sesuatu yang bahkan lebih penting.

Surat gugatan cerai.

Sudah ditandatangani.

Sudah dipersiapkan bersama pengacaraku.

Arga tidak tahu bahwa aku sudah mengetahui perselingkuhannya selama berbulan-bulan.

Dia tidak tahu bahwa aku sudah menyimpan salinan transaksi tertentu.

Dia tidak tahu tentang foto-foto itu.

Dia tidak tahu tentang percakapanku dengan pengacara.

Dan yang paling penting…

dia tidak tahu bahwa rumah yang baru saja dia janjikan sebagai tempat tinggal untuk selingkuhannya menyimpan sebuah rahasia yang bisa menghancurkan seluruh rencananya.

Lima belas menit kemudian, aku kembali menuruni tangga.

Raka berada di sebelah kiriku.

Aluna menggenggam tangan kananku.

Tiga koper berada di belakang kami.

Percakapan di ruang makan langsung berhenti.

Arga menatap koper-koper itu.

Untuk pertama kalinya malam itu, ketenangannya benar-benar hilang.

“Nadira… kamu mau ke mana?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya.

Aku membuka tasku.

Mengeluarkan sebuah amplop tebal.

Lalu meletakkannya di atas meja tepat di hadapannya.

Arga melihat nama firma hukum yang tercetak di sudut amplop.

Wajahnya perlahan berubah pucat.

“Apa ini?”

“Buka saja.”

Celine menatap Arga.

Bu Ratna berdiri dari kursinya.

Dan saat Arga menarik dokumen pertama dari amplop itu, tangannya mulai gemetar.

Karena yang dia lihat bukan sekadar gugatan cerai.

Ada dokumen lain di belakangnya.

Dokumen yang membuat Dimas tiba-tiba berdiri.

Dokumen yang membuat Bu Ratna menutup mulut dengan tangan.

Dan dokumen yang membuat Arga akhirnya menyadari satu hal yang seharusnya dia pahami sejak awal:

Aku tidak pernah terjebak di rumah itu.

Justru dialah yang selama ini hidup di dalam perangkap yang dia buat sendiri.

Sementara mereka semua terpaku pada dokumen tersebut, tidak seorang pun menyadari bahwa di dalam tasku…

sebuah alat perekam kecil masih menyala.

Setiap kata yang mereka ucapkan malam itu telah terekam.

Termasuk pengakuan Arga tentang Celine.

Dan itu baru permulaan.

Arga menatap lembar pertama itu cukup lama sampai aku hampir bisa melihat pikirannya berusaha menyangkal apa yang sedang dibacanya.

Tangannya gemetar.

Celine yang sejak tadi berdiri di sampingnya akhirnya kehilangan senyum kemenangan.

“Apa itu?” tanyanya.

Arga tidak menjawab.

Bu Ratna berjalan mendekat.

“Arga?”

Aku menarik kursi kosong dan duduk perlahan. Perutku terasa berat, pinggangku nyeri, tetapi untuk pertama kalinya malam itu aku merasa bisa bernapas.

Dimas mengambil lembar kedua yang terjatuh dari tangan kakaknya.

Matanya bergerak cepat membaca bagian atas dokumen.

Kemudian wajahnya berubah.

“Kak…” katanya pelan. “Rumah ini bukan atas nama Kak Arga?”

Keheningan jatuh seperti sesuatu yang berat.

Celine menoleh tajam.

“Apa maksudmu?”

Arga akhirnya menatapku.

“Nadira, apa yang kamu lakukan?”

Pertanyaan itu hampir membuatku tertawa.

Bukan karena lucu.

Karena setelah sembilan tahun menikah, bahkan ketika rahasianya terbongkar, pertanyaan pertamanya tetap sama.

Apa yang aku lakukan?

Aku membuka tas hitamku dan mengeluarkan satu dokumen lagi.

“Rumah ini dibeli tujuh tahun lalu,” kataku. “Kamu ingat?”

“Tentu saja aku ingat.”

“Tidak. Kamu ingat pindah ke sini. Kamu tidak ingat bagaimana rumah ini dibeli.”

Wajah Bu Ratna mulai pucat.

Aku menatapnya.

Dan saat itulah aku tahu dia sudah memahami ke mana pembicaraan ini akan menuju.

Tujuh tahun lalu, ayahku meninggal dunia.

Ayah bukan pengusaha terkenal. Dia tidak pernah memakai jas mahal atau datang ke restoran dengan sopir pribadi.

Dia memiliki perusahaan kontraktor kecil di Semarang yang dibangunnya selama hampir tiga puluh tahun.

Ketika meninggal, dia meninggalkan beberapa aset.

Salah satunya sebidang tanah yang kemudian dijual.

Uang hasil penjualan tanah itulah yang digunakan untuk membeli rumah ini.

Atas namaku.

Bukan Arga.

Aku pernah ingin menambahkan nama Arga ke sertifikat.

Ayahku melarangnya.

Bukan karena dia membenci menantunya.

Dia hanya mengatakan satu kalimat kepadaku beberapa bulan sebelum meninggal.

“Rumah bukan cuma tempat tinggal, Nduk. Kadang rumah adalah pintu terakhir yang bisa kamu tutup ketika dunia di luar tidak lagi aman.”

Dulu aku menganggap Ayah terlalu khawatir.

Malam itu aku akhirnya memahami maksudnya.

Celine menatap Arga seperti baru saja melihat orang asing.

“Kamu bilang rumah ini milikmu.”

Arga mengabaikannya.

“Nadira, kita bisa membicarakan ini.”

“Kita sudah bicara.”

“Aku tidak pernah bilang mau menceraikanmu.”

Aku menatapnya.

Kalimat itu bahkan lebih buruk daripada pengakuan perselingkuhan.

“Kamu membawa selingkuhanmu ke rumahku, Arga.”

“Aku hanya butuh waktu untuk—”

“Dan menyuruhnya tinggal di kamar tamu.”

Celine langsung menyela.

“Jangan bicara seolah aku memaksanya!”

Aku menoleh kepadanya.

“Tenang. Aku tidak menyalahkanmu atas keputusan suamiku.”

Kalimat itu tampaknya justru membuatnya semakin tidak nyaman.

Kemudian aku menatap Arga lagi.

“Kamu boleh mencintai siapa pun setelah pernikahan ini selesai. Tetapi kamu tidak boleh mempermalukanku di depan anak-anak dan kemudian berharap aku membantu menjaga citramu.”

Bu Ratna tiba-tiba berkata, “Nadira, pikirkan bayi dalam kandunganmu.”

Aku menatapnya.

“Saya memikirkannya setiap hari, Bu.”

“Kamu sedang hamil delapan bulan. Kamu punya dua anak kecil. Jangan membuat keputusan karena emosi.”

Aku hampir kagum.

Bahkan sekarang mereka masih mencoba menggunakan kehamilanku sebagai bukti bahwa aku tidak mampu membuat keputusan rasional.

Aku mengambil perekam kecil dari dalam tas.

Meletakkannya di meja.

Lampu merahnya masih berkedip.

Bu Ratna berhenti bicara.

Arga membeku.

“Sejak kalian masuk tadi,” kataku, “semuanya terekam.”

Arga berdiri.

“Kamu merekamku?”

“Di rumah saya sendiri.”

“Nadira!”

“Apa?”

Aku menatapnya lurus.

“Takut terdengar seperti dirimu sendiri?”

Dimas memalingkan wajah, menyembunyikan sesuatu yang hampir menyerupai senyum pahit.

Namun kejutan terbesar malam itu belum datang.

Aku mengambil beberapa lembar laporan bank.

“Selama enam bulan terakhir, ada transfer rutin dari rekening perusahaan ke sebuah rekening pribadi.”

Arga langsung pucat.

Aku melihat reaksinya.

Dan aku tahu aku benar.

“Rp85 juta. Rp120 juta. Rp75 juta. Rp210 juta.”

Celine menatapnya.

“Apa hubungannya denganku?”

Aku menyerahkan laporan itu kepadanya.

“Rekening penerima atas namamu.”

Tangannya langsung kaku.

“Itu… Arga bilang itu bonus konsultasi.”

Dimas menatap kakaknya.

“Perusahaan tidak pernah mempekerjakan Celine.”

“Diam, Dimas.”

“Kalau uang perusahaan dipakai untuk membiayai selingkuhanmu, aku tidak akan diam.”

Arga membanting telapak tangan ke meja.

“Cukup!”

Aluna yang berdiri dekat koper langsung tersentak.

Aku bangkit.

“Jangan membentak di depan anak-anak.”

Untuk sesaat, semua orang diam.

Kemudian sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Celine mulai tertawa.

Bukan tawa bahagia.

Tawa kecil orang yang baru menyadari dirinya juga telah dibohongi.

Dia meletakkan laporan rekening itu di meja.

“Kamu bilang sedang dalam proses mengambil alih perusahaan.”

Arga menatapnya.

“Celine—”

“Kamu bilang rumah ini milikmu. Kamu bilang Nadira tidak punya apa-apa. Kamu bilang setelah bayi lahir, kamu akan mendapatkan hak asuh karena dia tidak punya penghasilan.”

Darahku terasa dingin.

Aku sudah menduga banyak hal.

Tapi tidak bagian terakhir itu.

Aku menatap Arga.

“Apa?”

Celine sadar dia baru saja mengatakan terlalu banyak.

Arga langsung bergerak ke arahnya.

“Diam.”

Tetapi semuanya sudah terlambat.

Perekam masih menyala.

Aku memandang Celine.

“Katakan lagi.”

Dia menggeleng.

“Nadira, aku—”

“Dia bilang apa tentang anak-anakku?”

Celine menatap Arga.

Kemudian kepadaku.

Dan sesuatu dalam ekspresinya berubah.

Kesombongan yang tadi dia bawa ketika memasuki rumah itu lenyap.

“Dia bilang setelah kamu melahirkan, dia akan mengajukan hak asuh penuh.”

Bu Ratna duduk perlahan.

Dimas memaki pelan.

Aku merasa telapak tanganku dingin.

“Dengan alasan apa?”

Celine menelan ludah.

“Ketidakstabilan emosional.”

Tiba-tiba semua potongan itu tersambung.

Cerita yang Arga sebarkan.

Komentar tentang kehamilanku.

Tentang stres.

Tentang uang.

Tentang anak-anak.

Semua bukan sekadar pembenaran untuk perselingkuhannya.

Itu persiapan.

Arga tidak hanya ingin meninggalkanku.

Dia ingin membuatku terlihat tidak layak menjadi ibu.

“Kenapa?” tanyaku.

Arga diam.

“Kenapa anak-anak?”

Masih diam.

Lalu Dimas berbicara.

“Karena saham.”

Semua kepala berbalik kepadanya.

Arga menatap adiknya seperti ingin membunuhnya dengan tatapan.

“Jangan.”

Tetapi Dimas sudah mengambil keputusan.

“Kakek memindahkan sebagian saham keluarga ke trust untuk cucu-cucunya sebelum meninggal. Hak pengelolaannya sementara berada pada orang tua yang memegang pengasuhan utama.”

Aku menatapnya.

Aku tahu tentang dana pendidikan anak-anak.

Aku tidak tahu tentang struktur saham itu.

“Berapa?”

Dimas menarik napas.

“Delapan belas persen.”

Aku membeku.

Perusahaan keluarga Mahendra bernilai ratusan miliar rupiah.

Delapan belas persen bukan sekadar uang.

Itu kekuasaan.

Arga ingin mendapatkan hak asuh anak-anak karena dengan begitu, dia bisa mengendalikan saham mereka sampai mereka dewasa.

Tiba-tiba perselingkuhan terasa seperti bagian paling kecil dari pengkhianatan itu.

Aku menatap laki-laki yang selama sembilan tahun tidur di sampingku.

“Aku menikah denganmu ketika kamu belum punya apa-apa.”

“Nadira—”

“Aku menjual mobilku supaya kamu bisa menambah modal usaha pertama.”

Dia diam.

“Aku meninggalkan pekerjaanku ketika Raka lahir karena kamu bilang kita sepakat salah satu dari kita harus fokus pada anak-anak.”

“Nadira, dengarkan—”

“Lalu kamu menggunakan keputusan yang kita buat bersama untuk menggambarkanku sebagai perempuan yang bergantung padamu?”

Mataku mulai panas.

Aku membenci kenyataan bahwa air mata akhirnya datang.

Tetapi kali ini aku tidak menahannya.

Menangis tidak membuatku lemah.

“Aku menghabiskan sembilan tahun membangun rumah untukmu, Arga. Bukan rumah ini.”

Aku menunjuk sekeliling.

“Keluarga. Itu rumah yang kubangun.”

Untuk pertama kalinya, Arga tidak punya jawaban.

Aku menggandeng tangan Raka dan Aluna.

“Kita pergi.”

Bu Ratna berdiri.

“Kamu tidak bisa membawa anak-anak begitu saja!”

Aku menatapnya.

“Pengacara saya sudah mengurus semuanya. Malam ini kami tinggal di apartemen milik ibu saya di Jakarta Pusat. Besok semua komunikasi mengenai anak-anak melalui pengacara.”

Aku menarik koper.

Kemudian Celine memanggilku.

“Nadira.”

Aku berhenti.

Dia melepas sesuatu dari jarinya.

Sebuah cincin berlian kecil.

Meletakkannya di meja.

“Dia memberiku ini dua minggu lalu.”

Arga menutup mata.

Celine tertawa getir.

“Dia bilang setelah kamu melahirkan, dia akan menceraikanmu dan menikahiku.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Celine mengambil tasnya.

Lalu menatap Arga.

“Aku memang perempuan bodoh yang percaya pada suami orang. Tapi aku tidak cukup bodoh untuk tinggal bersama laki-laki yang merencanakan mengambil anak dari ibu mereka demi saham.”

Dia berjalan keluar.

Pintu depan tertutup.

Dan entah mengapa, suara itu terasa seperti akhir pertama malam itu.


Tiga minggu kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan.

Namanya Kirana.

Persalinanku lebih cepat dari perkiraan.

Ketika kontraksi pertama datang pukul empat pagi, orang pertama yang kuhubungi bukan Arga.

Aku menelepon ibuku.

Kemudian pengacaraku memberi tahu Arga.

Dia datang ke rumah sakit.

Aku tidak melarangnya melihat putrinya.

Apa pun yang terjadi di antara kami, Kirana tidak pernah meminta dilahirkan ke dalam perang orang dewasa.

Arga berdiri di balik kaca ruang bayi hampir dua puluh menit.

Aku melihatnya menangis.

Itu pertama kalinya dalam sembilan tahun aku melihat bahunya bergetar seperti itu.

Namun beberapa penyesalan datang setelah kerusakan menjadi terlalu besar untuk diperbaiki.

Perceraian kami selesai tujuh bulan kemudian.

Rekaman malam itu, laporan transaksi perusahaan, pesan-pesan yang akhirnya diberikan Celine kepada pengacaraku, serta kesaksian Dimas menghancurkan narasi bahwa aku adalah ibu yang tidak stabil.

Hak pengasuhan utama diberikan kepadaku.

Arga tetap mendapat hak bertemu anak-anak dengan jadwal yang disepakati.

Aku tidak pernah meminta anak-anak membencinya.

Karena perceraian mengakhiri pernikahan.

Bukan hubungan seorang anak dengan ayahnya.

Tetapi ada satu akibat yang sama sekali tidak pernah direncanakan Arga.

Audit internal perusahaan menemukan transfer dana yang jauh lebih besar daripada yang kuketahui.

Dimas kemudian mengungkap semuanya kepada dewan keluarga.

Arga dicopot dari posisi direktur.

Bu Ratna tidak berbicara denganku selama hampir setahun.

Lalu suatu sore, dia datang ke rumah.

Sendirian.

Tanpa sopir.

Tanpa perhiasan mahal.

Dia membawa sebuah kotak kecil.

“Aku ingin memberikan ini kepada Kirana.”

Di dalamnya ada gelang emas mungil milik nenek Arga.

Aku hendak menolak.

Namun Bu Ratna berkata pelan,

“Ini bukan dari Arga. Ini dari seorang nenek untuk cucunya.”

Aku mempersilahkannya masuk.

Kami duduk di ruang tamu.

Untuk beberapa menit, tidak ada yang bicara.

Lalu dia menangis.

“Aku tahu.”

Aku menatapnya.

“Tahu apa?”

“Rencana tentang hak asuh.”

Dunia seperti berhenti.

Bu Ratna menunduk.

“Arga pernah bertanya kepadaku apakah aku bersedia bersaksi bahwa kamu berubah sejak hamil.”

Aku tidak bisa bicara.

“Aku bilang akan mempertimbangkannya.”

Air matanya jatuh.

“Itulah hal yang paling membuatku malu.”

Aku tidak memaafkannya hari itu.

Beberapa luka tidak boleh ditutup hanya karena orang yang membuatnya akhirnya meminta maaf.

Tetapi aku membiarkannya bertemu cucu-cucunya.

Dengan batasan.

Dengan waktu.

Dengan kepercayaan yang harus dibangun kembali sedikit demi sedikit.


Setahun setelah perceraian, aku kembali bekerja.

Bukan karena aku membutuhkan pekerjaan untuk membuktikan bahwa aku bisa hidup tanpa Arga.

Aku kembali karena aku merindukan bagian dari diriku yang sudah terlalu lama kutinggalkan.

Aku mengambil kursus manajemen bisnis daring selama masa kehamilan dan setelah Kirana lahir.

Kemudian Dimas datang kepadaku membawa sebuah proposal.

Perusahaan kontraktor kecil peninggalan ayahku masih ada.

Selama bertahun-tahun, perusahaan itu dikelola oleh salah satu mantan partner Ayah.

Dimas membantu melakukan restrukturisasi.

Aku menjadi komisaris.

Dua tahun kemudian, kami membuka kantor baru di Jakarta.

Pada hari peresmian, aku membawa ketiga anakku.

Raka memotong pita.

Aluna memakan dua potong kue sebelum acara dimulai.

Kirana, yang sudah bisa berjalan, berlari ke mana-mana sampai sepatu kecilnya hilang sebelah.

Di dinding kantor utama, aku memasang foto Ayah.

Di bawahnya ada satu kalimat yang pernah dia katakan kepadaku:

“Rumah adalah pintu terakhir yang bisa kamu tutup ketika dunia di luar tidak lagi aman.”

Tetapi setelah semua yang terjadi, aku menambahkan satu kalimat kecil di bawahnya.

“Dan keberanian adalah saat kamu menyadari bahwa kamulah yang memegang kuncinya.”


Tiga tahun setelah malam itu, aku bertemu Arga di acara sekolah Raka.

Dia terlihat berbeda.

Lebih kurus.

Lebih sederhana.

Tidak ada jam tangan mahal.

Tidak ada mobil dengan sopir menunggu.

Kami berdiri beberapa meter dari lapangan ketika anak-anak sedang bermain.

“Nadira.”

Aku menoleh.

“Apa?”

Dia tersenyum kecil.

“Aku cuma ingin mengatakan sesuatu.”

Aku menunggu.

“Aku dulu benar-benar berpikir kamu tidak akan pergi.”

Aku mengangguk.

“Aku tahu.”

“Karena kamu tidak punya pekerjaan.”

“Ya.”

“Karena sedang hamil.”

“Ya.”

“Karena anak-anak.”

Aku memandang Raka yang sedang berlari mengejar bola.

Kemudian Aluna yang melambaikan tangan kepadaku dari kejauhan.

“Justru karena anak-anak aku pergi.”

Arga menunduk.

Beberapa detik kemudian dia bertanya,

“Pernahkah ada kemungkinan kamu akan memaafkanku?”

Aku memikirkan pertanyaan itu.

Lalu menjawab jujur.

“Aku sudah memaafkanmu.”

Dia menatapku dengan terkejut.

“Tapi memaafkan bukan berarti kembali.”

Wajahnya berubah.

“Aku memaafkanmu karena aku tidak ingin membawa kemarahan itu sepanjang hidupku. Bukan karena kamu pantas mendapatkan kesempatan kedua.”

Dia mengangguk perlahan.

Aku hendak pergi ketika dia berkata,

“Aku kehilangan semuanya.”

Aku berhenti.

Dulu, mungkin kalimat itu akan membuatku merasa puas.

Aneh sekali.

Sekarang tidak.

“Kamu tidak kehilangan semuanya, Arga.”

Dia mengangkat kepala.

Aku menunjuk ke arah lapangan.

“Anak-anakmu masih memanggilmu Ayah.”

Matanya langsung merah.

“Jangan sia-siakan satu-satunya hal yang masih mereka berikan kepadamu.”

Aku meninggalkannya di sana.


Malam itu, setelah anak-anak tidur, aku menemukan sebuah kotak lama saat merapikan lemari.

Di dalamnya ada salinan gugatan cerai yang kubawa turun malam itu.

Kertasnya sudah sedikit kusut.

Aku duduk di lantai dan membacanya.

Tiba-tiba aku teringat perempuan yang dulu berdiri di atas tangga dengan perut delapan bulan, dua anak menggenggam tangannya, dan tiga koper di belakangnya.

Dia ketakutan.

Sangat ketakutan.

Bagian yang tidak diketahui siapa pun adalah bahwa malam itu aku hanya memiliki uang pribadi sekitar Rp4,7 juta yang bisa langsung kugunakan.

Aku tidak tahu bagaimana hidupku akan terlihat enam bulan kemudian.

Aku tidak tahu apakah proses perceraian akan menghancurkanku.

Aku tidak tahu apakah aku akan bisa kembali bekerja.

Aku bahkan tidak tahu apakah aku akan mampu membesarkan tiga anak tanpa menangis setiap malam.

Aku hanya tahu satu hal.

Tinggal akan mengajarkan anak-anakku bahwa cinta berarti menerima penghinaan selama kebutuhan finansialmu masih dipenuhi.

Dan aku tidak mau Raka tumbuh menjadi laki-laki yang menganggap itu normal.

Aku tidak mau Aluna dan Kirana tumbuh menjadi perempuan yang menganggap itu harga yang harus dibayar untuk memiliki rumah.

Aku melipat kembali dokumen itu.

Saat hendak menutup kotak, sebuah amplop kecil jatuh dari sela-sela kertas.

Aku tidak mengenalinya.

Di bagian depan tertulis namaku.

Tulisan tangan Ayah.

Tanganku langsung gemetar.

Rupanya amplop itu terselip bertahun-tahun di antara dokumen kepemilikan rumah yang diberikan notaris setelah Ayah meninggal.

Aku membukanya.

Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.

Ayah menulis:

“Nadira, kalau suatu hari kamu membaca surat ini karena hidupmu sedang runtuh, ingat satu hal. Aku tidak meninggalkan rumah itu supaya kamu punya bangunan mahal. Aku meninggalkannya supaya kamu selalu punya pilihan.”

Aku berhenti membaca.

Air mataku jatuh ke kertas.

Di bagian terakhir tertulis:

“Jangan pernah takut memulai lagi hanya karena kamu sudah terlalu lama bertahan.”

Aku menangis malam itu.

Bukan karena Arga.

Bukan karena pernikahanku.

Bukan karena semua yang hilang.

Aku menangis karena akhirnya memahami bahwa pada malam ketika aku merasa paling sendirian dalam hidupku, seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak ada di dunia ini ternyata masih berusaha melindungiku.

Aku memeluk surat itu ke dada.

Dari kamar sebelah terdengar Kirana memanggil,

“Mama…”

Aku segera menghapus air mata dan berjalan ke kamarnya.

Kirana berdiri di ranjang kecilnya dengan rambut berantakan.

Aku mengangkatnya.

Dia langsung menyandarkan kepala di bahuku.

“Mama jangan pergi.”

Aku memeluk tubuh kecilnya.

“Mama di sini.”

Dan saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Tiga tahun sebelumnya, Arga mengira aku berjalan keluar dari rumah itu dengan tiga koper karena aku sudah tidak mencintainya.

Dia salah.

Aku pergi karena akhirnya aku belajar mencintai sesuatu dengan lebih benar.

Anak-anakku.

Diriku sendiri.

Dan kehidupan yang masih menunggu kami di balik pintu.

Keesokan paginya, aku memasukkan surat Ayah ke dalam bingkai dan meletakkannya di meja kerjaku.

Gugatan cerai itu tetap kusimpan.

Bukan sebagai kenangan tentang pernikahan yang gagal.

Melainkan sebagai bukti tentang malam ketika seorang perempuan yang dianggap tidak punya pekerjaan, tidak punya uang, sedang hamil delapan bulan, dan terlalu bergantung pada suaminya…

akhirnya menyadari bahwa keberanian tidak selalu berarti kamu sudah tahu ke mana harus pergi.

Kadang-kadang keberanian hanya berarti kamu tahu bahwa kamu tidak boleh tinggal.

Dan ternyata…

itu sudah cukup untuk mengubah seluruh hidupmu.