PUTRAKU YANG BARU BERUSIA LIMA TAHUN MENUNJUK KE ARAH SEORANG PEREMPUAN DI TOKO ROTI DAN BERBISIK, “BUNDA, ITU PEREMPUAN YANG SUKA DATANG KE RUMAH KALAU BUNDA LAGI KERJA. DIA SUKA MAIN DI KAMAR BUNDA.” SETELAH SEPULUH TAHUN MENIKAH, RASANYA HATIKU HANCUR. AKU BERJALAN MENDEKATINYA, SIAP MENGHADAPI PEREMPUAN YANG KUKIRA ADALAH SELINGKUHAN SUAMIKU, SAMPAI AKU MELIHAT KALUNG YANG MELINGKAR DI LEHERNYA. ITU ADALAH KALUNG SAFIR SATU-SATUNYA YANG DIBUAT KHUSUS OLEH SUAMIKU UNTUKKU LIMA TAHUN LALU—DAN SELAMA INI KALUNG ITU TERKUNCI RAPAT DI DALAM KOTAK PERHIASANKU DI KAMAR TIDUR. AKU TIDAK MENGATAKAN APA PUN. MALAM ITU, KETIKA ARGA MENCIUM KENINGKU DAN BERTANYA, “GIMANA HARIMU HARI INI?” AKU TERSENYUM DAN MENJAWAB, “TADI RAFA CERITA SESUATU YANG LUCU WAKTU KAMI BELANJA…” DIA SAMA SEKALI TIDAK TAHU SEBERAPA BANYAK YANG SUDAH KUKETAHUI.

Avatar penulis
Cerita 04
20 menit baca 1,368 tayangan
PUTRAKU YANG BARU BERUSIA LIMA TAHUN MENUNJUK KE ARAH SEORANG PEREMPUAN DI TOKO ROTI DAN BERBISIK, “BUNDA, ITU PEREMPUAN YANG SUKA DATANG KE RUMAH KALAU BUNDA LAGI KERJA. DIA SUKA MAIN DI KAMAR BUNDA.” SETELAH SEPULUH TAHUN MENIKAH, RASANYA HATIKU HANCUR. AKU BERJALAN MENDEKATINYA, SIAP MENGHADAPI PEREMPUAN YANG KUKIRA ADALAH SELINGKUHAN SUAMIKU, SAMPAI AKU MELIHAT KALUNG YANG MELINGKAR DI LEHERNYA.  ITU ADALAH KALUNG SAFIR SATU-SATUNYA YANG DIBUAT KHUSUS OLEH SUAMIKU UNTUKKU LIMA TAHUN LALU—DAN SELAMA INI KALUNG ITU TERKUNCI RAPAT DI DALAM KOTAK PERHIASANKU DI KAMAR TIDUR. AKU TIDAK MENGATAKAN APA PUN.  MALAM ITU, KETIKA ARGA MENCIUM KENINGKU DAN BERTANYA, “GIMANA HARIMU HARI INI?” AKU TERSENYUM DAN MENJAWAB, “TADI RAFA CERITA SESUATU YANG LUCU WAKTU KAMI BELANJA…” DIA SAMA SEKALI TIDAK TAHU SEBERAPA BANYAK YANG SUDAH KUKETAHUI.
Indeks

PUTRAKU YANG BARU BERUSIA LIMA TAHUN MENUNJUK KE ARAH SEORANG PEREMPUAN DI TOKO ROTI DAN BERBISIK, “BUNDA, ITU PEREMPUAN YANG SUKA DATANG KE RUMAH KALAU BUNDA LAGI KERJA. DIA SUKA MAIN DI KAMAR BUNDA.” SETELAH SEPULUH TAHUN MENIKAH, RASANYA HATIKU HANCUR. AKU BERJALAN MENDEKATINYA, SIAP MENGHADAPI PEREMPUAN YANG KUKIRA ADALAH SELINGKUHAN SUAMIKU, SAMPAI AKU MELIHAT KALUNG YANG MELINGKAR DI LEHERNYA.

ITU ADALAH KALUNG SAFIR SATU-SATUNYA YANG DIBUAT KHUSUS OLEH SUAMIKU UNTUKKU LIMA TAHUN LALU—DAN SELAMA INI KALUNG ITU TERKUNCI RAPAT DI DALAM KOTAK PERHIASANKU DI KAMAR TIDUR. AKU TIDAK MENGATAKAN APA PUN.

MALAM ITU, KETIKA ARGA MENCIUM KENINGKU DAN BERTANYA, “GIMANA HARIMU HARI INI?” AKU TERSENYUM DAN MENJAWAB, “TADI RAFA CERITA SESUATU YANG LUCU WAKTU KAMI BELANJA…” DIA SAMA SEKALI TIDAK TAHU SEBERAPA BANYAK YANG SUDAH KUKETAHUI.

PUTRAKU YANG BARU BERUSIA LIMA TAHUN MENUNJUK KE ARAH SEORANG PEREMPUAN DI TOKO ROTI DAN BERBISIK, “BUNDA, ITU PEREMPUAN YANG SUKA DATANG KE RUMAH KALAU BUNDA LAGI KERJA. DIA SUKA MAIN DI KAMAR BUNDA.” SETELAH SEPULUH TAHUN MENIKAH, RASANYA HATIKU HANCUR. AKU BERJALAN MENDEKATINYA, SIAP MENGHADAPI PEREMPUAN YANG KUKIRA ADALAH SELINGKUHAN SUAMIKU, SAMPAI AKU MELIHAT KALUNG YANG MELINGKAR DI LEHERNYA.  ITU ADALAH KALUNG SAFIR SATU-SATUNYA YANG DIBUAT KHUSUS OLEH SUAMIKU UNTUKKU LIMA TAHUN LALU—DAN SELAMA INI KALUNG ITU TERKUNCI RAPAT DI DALAM KOTAK PERHIASANKU DI KAMAR TIDUR. AKU TIDAK MENGATAKAN APA PUN.  MALAM ITU, KETIKA ARGA MENCIUM KENINGKU DAN BERTANYA, “GIMANA HARIMU HARI INI?” AKU TERSENYUM DAN MENJAWAB, “TADI RAFA CERITA SESUATU YANG LUCU WAKTU KAMI BELANJA…” DIA SAMA SEKALI TIDAK TAHU SEBERAPA BANYAK YANG SUDAH KUKETAHUI.

Selasa sore yang seharusnya biasa itu menghancurkan sepuluh tahun pernikahan yang selama ini kuanggap nyaris sempurna.

Aku sedang mendorong troli di sebuah supermarket di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Aku masih mengenakan seragam biru tua setelah menjalani shift dua belas jam sebagai perawat anak di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta.

Rafa, putraku yang berusia lima tahun, duduk di dalam troli sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya dengan riang.

Dia sedang bersenandung kecil ketika tiba-tiba suaranya berhenti.

Tubuh mungilnya mendadak kaku.

Kemudian jari-jarinya yang masih lengket karena permen menarik lengan bajuku.

“Bunda… lihat.”

Suaranya hampir seperti bisikan.

Dia menunjuk ke arah konter bakery.

“Itu perempuan yang suka datang ke rumah kalau Bunda lagi kerja.”

Aku mengernyit.

“Apa?”

Rafa menatapku polos.

“Perempuan yang suka main di kamar Bunda.”

Untuk beberapa detik, aku seperti lupa cara bernapas.

Suara orang-orang berbicara, bunyi roda troli, musik supermarket, dan suara kasir di sekitar kami perlahan menghilang.

Yang tersisa hanya dengungan tajam di telingaku.

Arga?

Suamiku?

Arga yang begitu teliti sampai menyimpan semua struk belanja?

Arga yang bekerja sebagai konsultan pajak dan selalu mengingatkanku agar kami tidak boros karena harus menyiapkan biaya pendidikan Rafa?

Tidak mungkin.

Setidaknya, itulah yang ingin kupercaya.

Aku menggenggam pegangan troli begitu kuat hingga buku-buku jariku memutih.

Lalu aku memaksa kakiku bergerak.

Perempuan yang ditunjuk Rafa berdiri sendirian di depan etalase roti. Rambutnya panjang, pakaiannya sederhana tetapi tampak mahal, dan dari penampilannya dia mungkin baru berusia dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun.

Aku meninggalkan troli bersama Rafa beberapa langkah di belakangku.

“Permisi.”

Suaraku sedikit bergetar meskipun aku berusaha keras terdengar biasa.

Perempuan itu berbalik.

Namun aku bahkan tidak sempat memperhatikan wajahnya.

Mataku langsung tertuju pada lehernya.

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

Sebuah liontin rose gold menggantung di sana.

Di tengahnya terdapat batu safir biru berbentuk tetesan air, dikelilingi berlian-berlian kecil.

Aku mengenali setiap detailnya.

Karena kalung itu milikku.

Lima tahun lalu, untuk ulang tahun pernikahan kami, Arga memesan kalung tersebut secara khusus dari seorang perajin perhiasan langganan keluarganya.

Tidak ada kalung kedua dengan desain yang sama.

Aku masih ingat malam ketika Arga memasangkannya di leherku.

“Jangan sering-sering dipakai,” katanya sambil tertawa. “Mahal banget. Aku takut kamu kehilangan ini.”

Ironisnya, justru karena ucapan Arga sendiri, aku hampir tidak pernah mengenakannya.

Kalung itu kusimpan di dalam kotak beludru biru yang berada di laci terkunci meja rias kamar kami.

Hanya aku dan Arga yang tahu tempatnya.

Perempuan di depanku menyadari aku sedang menatap kalungnya.

Tangannya refleks menyentuh liontin safir tersebut.

“Maaf, Mbak… ada apa?”

Ada sesuatu di dalam diriku yang ingin langsung merenggut kalung itu dari lehernya.

Aku ingin bertanya siapa dia.

Aku ingin menelepon Arga saat itu juga.

Aku ingin berteriak sampai seluruh supermarket mengetahui bahwa perempuan di depanku mengenakan barang yang berasal dari kamar tidurku sendiri.

Namun aku bekerja di rumah sakit.

Selama bertahun-tahun, aku melihat cukup banyak keluarga hancur karena perceraian, perebutan hak asuh, dan pertengkaran yang akhirnya menyeret anak-anak ke tengah konflik.

Aku punya Rafa.

Dan tiba-tiba, satu hal menjadi jauh lebih penting daripada kemarahanku.

Bukti.

Kalau aku kehilangan kendali sekarang, Arga bisa menyangkal semuanya.

Dia bisa menghapus pesan.

Memindahkan uang.

Mengarang cerita.

Bahkan mungkin menggunakan ledakan emosiku untuk menggambarkanku sebagai ibu yang tidak stabil jika keadaan sampai masuk ke pengadilan.

Jadi aku melakukan hal paling sulit yang pernah kulakukan.

Aku tersenyum.

“Maaf,” kataku sopan. “Saya kira Anda orang lain.”

Perempuan itu tampak sedikit bingung.

“Oh… nggak apa-apa.”

Aku kembali kepada Rafa.

Tanganku gemetar ketika menggenggam troli.

Rafa menatapku.

“Bunda kenal Tante itu?”

Aku menelan ludah.

“Nggak, Sayang.”

Aku berjongkok di depannya.

“Tapi Rafa pernah lihat Tante itu di rumah?”

Dia mengangguk.

“Sering?”

Rafa berpikir sebentar.

“Kadang-kadang.”

“Kalau Bunda kerja?”

“Iya.”

“Papa ada di rumah?”

Rafa mengangguk lagi.

Jawaban polos itu terasa seperti pisau.

Aku tidak bertanya lebih jauh.

Rafa baru lima tahun.

Apa pun yang sedang terjadi bukan tanggung jawabnya.

Aku mencium dahinya.

“Yuk, kita pulang.”

Begitu tiba di rumah, aku langsung membawa Rafa ke ruang keluarga dan menyalakan kartun favoritnya.

Setelah memastikan dia sibuk, aku naik ke lantai dua.

Kamar tidur kami tampak sama seperti pagi tadi.

Tempat tidur rapi.

Tirai putih.

Foto pernikahan kami masih berdiri di atas meja samping tempat tidur.

Aku membuka laci meja rias.

Kotak beludru biru itu masih ada.

Tanganku semakin dingin.

Aku membukanya.

Kosong.

Aku hanya berdiri di sana selama beberapa detik.

Aneh sekali.

Sepuluh tahun pernikahan bisa terlihat begitu sempurna dari sebuah foto.

Aku dan Arga tersenyum saat bulan madu di Bali.

Aku dan Arga menggendong Rafa setelah dia lahir.

Aku dan Arga merayakan ulang tahun pernikahan.

Aku dan Arga membeli rumah pertama kami.

Namun sekarang sebuah kotak perhiasan kosong membuatku mempertanyakan setiap kenangan itu.

Aku tidak menyentuh apa pun.

Aku bahkan membiarkan kotak tersebut tetap terbuka di atas meja rias.

Lalu aku turun dan mulai menyiapkan makan malam seperti biasa.

Pukul 18.15, pintu depan terbuka.

“Assalamualaikum! Aku pulang!”

Suara Arga memenuhi rumah.

Biasanya suara itu membuatku lega.

Hari itu, tubuhku justru menegang.

Aku berjalan keluar dari dapur.

Arga berdiri di dekat pintu dengan kemeja kantor putih yang lengannya digulung sampai siku. Wajahnya tampak lelah, persis seperti suami yang baru pulang setelah bekerja seharian.

Dia tersenyum saat melihatku.

“Capek banget hari ini.”

Kemudian dia menghampiriku, memeluk pinggangku, dan mencium keningku.

Saat itulah aku mencium sesuatu.

Aku membeku.

Kelapa.

Dan vanila.

Parfum.

Aroma yang sama persis dengan perempuan di supermarket tadi.

Aku menutup mata selama sepersekian detik.

Kemudian aku memeluknya kembali.

“Rafa mana?” tanyanya.

“Lagi main.”

Arga melepaskan pelukannya.

“Gimana harimu?”

Aku menatap wajah laki-laki yang sudah tidur di sampingku selama sepuluh tahun.

Laki-laki yang menyaksikan kelahiran putra kami.

Laki-laki yang setiap malam berkata bahwa keluarga adalah hal paling penting dalam hidupnya.

Sebagian diriku masih berharap semua ini memiliki penjelasan yang masuk akal.

Mungkin kalung itu dipinjamkan.

Mungkin Rafa salah mengerti.

Mungkin parfum itu kebetulan sama.

Namun kemudian aku teringat kotak beludru yang kosong.

Dan satu pertanyaan muncul di kepalaku.

Kalau Arga memang berselingkuh…

berapa lama perempuan itu sudah masuk ke rumah kami?

Aku tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.

“Lumayan sibuk.”

Aku mengambil gelas dan menuangkan air.

“Tapi tadi Rafa cerita sesuatu yang lucu waktu kami belanja.”

Tangan Arga yang sedang membuka kancing mansetnya berhenti.

Hanya sepersekian detik.

Namun aku melihatnya.

“Oh ya?”

“Iya.”

Aku menatapnya sambil tersenyum.

“Katanya dia melihat seseorang yang dia kenal.”

Wajah Arga masih terlihat santai.

Tetapi matanya berubah.

“Siapa?”

Aku sengaja diam beberapa detik.

Kemudian aku tertawa kecil.

“Entahlah. Anak lima tahun. Kadang imajinasinya aneh-aneh.”

Arga ikut tertawa.

Terlalu cepat.

“Iya. Rafa memang suka bikin cerita.”

Dia mencium pipiku lalu berjalan menuju tangga.

“Aku mandi dulu.”

Aku memperhatikannya naik.

Langkahnya terlihat biasa.

Namun ketika sampai di anak tangga terakhir, dia mengeluarkan ponselnya dari saku.

Dan tepat sebelum menghilang ke lorong lantai dua…

aku melihatnya mulai mengetik dengan sangat cepat.

Saat itu aku tahu satu hal.

Aku tidak akan menuduh Arga malam ini.

Aku tidak akan menangis di depannya.

Aku juga tidak akan bertanya siapa perempuan itu.

Karena mulai malam ini, aku berhenti menjadi istri yang mempercayainya tanpa syarat.

Aku akan mencari tahu siapa perempuan yang mengenakan kalungku.

Mengapa dia masuk ke kamar tidurku saat aku bekerja.

Dan yang paling penting…

apa sebenarnya yang selama ini dilakukan Arga di belakangku.

Aku belum tahu bahwa jawabannya akan jauh lebih buruk daripada perselingkuhan.

Dan ketika akhirnya aku mengetahui siapa sebenarnya perempuan muda itu, rahasia yang terbongkar bukan hanya menghancurkan pernikahanku.

Rahasia itu membuatku mempertanyakan siapa sebenarnya laki-laki yang sudah hidup bersamaku selama sepuluh tahun.

Malam itu aku hampir tidak tidur.

Arga berbaring di sampingku seperti biasa, satu tangan diletakkan di atas perutnya, napasnya teratur, seolah tidak ada apa pun yang berubah.

Sementara aku menatap langit-langit kamar dalam gelap.

Sekitar pukul dua dini hari, ponselnya bergetar pelan di atas meja samping tempat tidur.

Arga tidak terbangun.

Aku menoleh.

Nama yang muncul di layar hanya satu huruf.

N.

Jantungku berdegup keras.

Pesan itu hanya terlihat sebagian.

Besok jangan datang. Dia hampir tahu.

Aku tidak menyentuh ponsel itu.

Aku bahkan tidak berusaha membuka kuncinya.

Aku hanya memejamkan mata dan mengingat kalimat itu.

Dia hampir tahu.

Berarti memang ada sesuatu yang disembunyikan.

Pagi berikutnya, aku bertindak seolah semuanya normal.

Aku menyiapkan sarapan.

Mengantar Rafa ke sekolah.

Mencium pipi Arga sebelum dia berangkat.

“Jangan lupa makan siang,” kataku.

Arga tersenyum.

“Iya, Bu Perawat.”

Lalu dia pergi.

Begitu mobilnya keluar dari kompleks, aku langsung naik ke kamar.

Aku membuka lemari.

Laci dokumen.

Kotak arsip.

Rak buku.

Tidak ada.

Kemudian aku teringat sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah kuperhatikan.

Arga selalu sangat protektif terhadap satu lemari kecil di ruang kerjanya.

Katanya isinya dokumen kantor yang bersifat rahasia.

Aku turun ke lantai bawah.

Pintu ruang kerja terkunci.

Aku mengambil gantungan kunci cadangan dari laci dapur.

Kunci ketiga cocok.

Tanganku berkeringat ketika membuka lemari itu.

Di dalamnya hanya ada beberapa map hitam.

Satu kotak besi kecil.

Dan sebuah amplop cokelat.

Aku mengambil amplop itu terlebih dahulu.

Di bagian depannya tertulis:

Rafa Aditya Pranata.

Darahku terasa mengalir turun dari wajah.

Mengapa nama anakku ada di dalam dokumen rahasia Arga?

Aku membuka amplop tersebut.

Isinya fotokopi akta kelahiran Rafa.

Kartu keluarga lama.

Beberapa dokumen rumah sakit.

Lalu satu lembar hasil pemeriksaan laboratorium.

Aku membacanya sekali.

Lalu dua kali.

Lalu tiga kali.

Tanganku mulai gemetar.

Hasil uji hubungan biologis: probabilitas ayah biologis 0%.

Aku jatuh duduk ke lantai.

Tidak.

Tidak mungkin.

Rafa adalah anak Arga.

Arga ada di rumah sakit ketika Rafa lahir.

Dia memotong tali pusat.

Dia menangis sambil memelukku.

Aku masih ingat dia berkata, “Akhirnya kita punya keluarga.”

Aku mengambil kertas berikutnya.

Ada surat dari sebuah laboratorium swasta di Jakarta.

Tanggalnya tiga tahun lalu.

Jadi Arga sudah tahu.

Sudah tiga tahun.

Aku menutup mulut dengan tangan agar tidak berteriak.

Lalu aku melihat satu amplop putih kecil di bawah tumpukan dokumen.

Di dalamnya ada foto.

Foto seorang perempuan muda.

Perempuan di supermarket.

Dia sedang berdiri di samping seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun.

Di belakang foto tertulis dengan tinta hitam:

Nadia dan Ayah. Bandung, 2019.

Aku semakin bingung.

Siapa Nadia?

Dan mengapa Arga menyimpan fotonya?

Aku mengambil ponsel dan memotret semua dokumen.

Setelah itu aku mengembalikan semuanya persis seperti semula.

Siang harinya, aku menelepon rumah sakit tempat Rafa lahir.

Aku tidak bertanya tentang tes DNA.

Aku hanya meminta salinan lengkap catatan persalinanku dengan alasan administrasi asuransi.

Mereka mengatakan arsip lama membutuhkan waktu.

Namun sore itu seseorang dari bagian rekam medis menelepon balik.

“Bu Nadira?”

“Iya.”

“Ada sesuatu yang mungkin Ibu perlu tahu.”

Nada suaranya membuat tubuhku menegang.

“Apa?”

“Pada hari kelahiran putra Ibu, ada insiden kesalahan administrasi di ruang bayi. Tidak sampai terjadi pertukaran bayi, tetapi ada beberapa dokumen identifikasi yang sempat tertukar.”

Aku berdiri diam.

“Dokumen apa?”

“Gelang identitas dan formulir pengambilan sampel darah.”

Aku memegang meja.

“Apakah itu pernah diperiksa ulang?”

“Tidak semuanya.”

Aku hampir tidak bisa bernapas.

Tiba-tiba hasil DNA di lemari Arga tidak lagi memiliki satu penjelasan.

Ada dua.

Arga bukan ayah Rafa.

Atau hasil itu berasal dari sampel yang salah.

Aku memutuskan melakukan tes sendiri.

Diam-diam.

Aku mengambil sampel dari sikat gigi Rafa dan sikat gigi Arga.

Lalu mengirimkannya ke laboratorium lain.

Hasilnya baru keluar lima hari kemudian.

Lima hari yang terasa seperti lima tahun.

Ketika email itu tiba, aku sedang duduk di parkiran rumah sakit.

Aku membukanya.

Probabilitas hubungan ayah biologis: 99,9987%.

Aku menatap layar dengan mulut terbuka.

Arga adalah ayah Rafa.

Jadi mengapa dia menyimpan hasil tes yang mengatakan sebaliknya?

Dan mengapa tes itu dilakukan tiga tahun lalu?

Malam itu aku tidak bisa lagi menahan diri.

Namun aku masih tidak ingin menuduh tanpa mengetahui tentang Nadia.

Jadi keesokan harinya, aku kembali ke supermarket.

Aku menemui manajer dan bertanya apakah mereka bisa membantu menghubungi perempuan yang bekerja atau sering berbelanja di bakery.

Ternyata perempuan itu bukan pegawai.

Tetapi salah satu staf mengenalnya.

“Nadia? Dia sering datang pagi. Tinggal di apartemen dekat sini.”

Aku hanya butuh dua hari untuk menemukannya.

Bukan karena aku menguntit.

Aku menunggu di sebuah kafe dekat supermarket sampai dia datang.

Ketika dia melihatku, wajahnya langsung pucat.

Dia berbalik ingin pergi.

“Nadia.”

Dia berhenti.

“Aku tahu namamu.”

Dia menatapku dengan ketakutan yang nyata.

Bukan sikap seorang selingkuhan yang ketahuan.

Lebih seperti seseorang yang takut akan sesuatu yang jauh lebih besar.

“Aku tidak mau bikin masalah,” katanya cepat.

“Kalau begitu duduk.”

“Aku nggak bisa.”

“Nadia.”

Aku menunjuk kalung di lehernya.

“Kalung itu milikku.”

Matanya langsung berkaca-kaca.

“Aku tahu.”

Jawaban itu membuat seluruh tubuhku dingin.

“Arga memberikannya?”

Dia menggeleng.

“Tidak.”

“Lalu dari mana kamu mendapatkannya?”

Nadia menarik kursi dan duduk perlahan.

Tangannya gemetar.

“Dari ibuku.”

Aku hampir tertawa karena tidak percaya.

“Ibumu mencuri kalung dari rumahku?”

“Bukan.”

Nadia menatapku.

“Kalung itu dulu milik ibuku.”

Aku membeku.

“Tidak mungkin.”

“Arga membuat cerita untukmu.”

Aku tidak menjawab.

Nadia mengeluarkan ponsel.

Dia membuka sebuah foto lama.

Seorang perempuan muda mengenakan kalung safir yang sama.

Tanggal foto itu tercetak di sudut.

2008.

Tujuh tahun sebelum Arga memberikannya kepadaku.

Aku menatap perempuan dalam foto itu.

Wajahnya terasa aneh.

Familiar.

Kemudian aku melihat matanya.

Sama seperti mata Nadia.

“Siapa dia?”

“Ibuku.”

“Dan apa hubungannya dengan Arga?”

Nadia mulai menangis.

“Dia kakaknya.”

Aku tidak langsung mengerti.

Kemudian kata-kata itu jatuh ke dalam kepalaku satu per satu.

“Ibumu… saudara Arga?”

Nadia mengangguk.

“Ayah Arga punya anak dari hubungan sebelum menikah dengan nenek Arga. Ibuku. Tapi keluarga mereka tidak pernah mengakuinya.”

Aku menelan ludah.

“Jadi kamu keponakan Arga?”

“Iya.”

Aku merasa seperti dunia bergeser.

“Lalu kenapa kamu datang ke rumahku?”

Nadia menutup matanya sebentar.

“Karena Arga menyuruhku.”

“Untuk apa?”

“Untuk mencari dokumen.”

Aku berdiri.

“Nadia.”

“Dengarkan dulu.”

Suaranya pecah.

“Tiga tahun lalu, ibuku meninggal. Sebelum meninggal, dia bilang ada surat warisan dari kakek kami. Surat itu menyatakan bahwa sebagian aset keluarga sebenarnya harus dibagi kepada keturunannya, termasuk aku.”

“Arga tahu?”

“Dia tahu sejak lama.”

“Tapi kenapa dia menyuruhmu masuk ke rumahku?”

Nadia menatapku.

“Karena dia yakin surat asli disimpan oleh ayahmu.”

Aku tercekat.

“Ayahku?”

Nadia mengangguk.

“Ayahmu pernah menjadi pengacara keluarga Arga.”

Aku tidak pernah tahu.

Ayahku meninggal enam tahun lalu.

Dia memang pengacara.

Tapi dia hampir tidak pernah bercerita tentang klien.

“Arga bilang setelah ayahmu meninggal, semua dokumen lama kemungkinan ikut pindah ke rumah kalian.”

Aku langsung teringat satu peti kayu tua milik ayah yang tersimpan di gudang.

“Kenapa dia tidak cari sendiri?”

“Karena dia takut kamu tahu.”

“Tahu apa?”

Nadia menatapku lama.

“Bahwa dia menikahimu bukan karena kebetulan.”

Aku merasa mual.

“Apa maksudmu?”

“Dia mendekatimu dulu karena tahu kamu anak pengacara yang memegang dokumen itu.”

Aku tidak bisa bergerak.

Seluruh cerita cinta kami berputar di kepalaku.

Pertemuan pertama.

Kopi pertama.

Lamaran.

Pernikahan.

Semua yang selama ini kupikir takdir.

“Tidak.”

“Aku minta maaf.”

Nadia menangis.

“Awalnya memang itu tujuannya.”

“Awalnya?”

“Menurutku dia kemudian benar-benar mencintaimu.”

Aku tertawa pahit.

“Kamu tidak tahu apa-apa tentang pernikahanku.”

“Benar.”

Dia menunduk.

“Tapi aku tahu satu hal. Arga takut kehilanganmu.”

“Kalau begitu kenapa dia mencuri kalungku untukmu?”

Nadia menatap liontin itu.

“Dia tidak memberikannya.”

“Ibuku meninggalkan kalung itu kepadaku. Setelah dia meninggal, Arga mengambilnya dengan alasan akan menyimpannya. Beberapa bulan lalu aku menemukan kalung itu di rumahmu. Aku mengambilnya kembali.”

Aku diam.

Tiba-tiba potongan-potongan yang selama ini tampak seperti perselingkuhan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit.

Namun satu hal belum terjawab.

“Hasil DNA.”

Wajah Nadia langsung berubah.

“Kamu menemukannya?”

“Iya.”

Dia menghela napas panjang.

“Arga pernah curiga Rafa bukan anaknya.”

Aku menggertakkan gigi.

“Kenapa?”

“Karena seseorang mengirim tes anonim.”

“Siapa?”

Nadia menatapku.

“Ibunya.”

Aku tidak percaya.

Ibu mertua yang selama sepuluh tahun memperlakukanku baik?

Perempuan yang selalu memanggilku anak sendiri?

“Nenek Arga tahu tentang warisan itu,” kata Nadia. “Dia tahu kalau Arga punya keluarga, lalu suatu hari kebenaran soal pernikahan kalian terbongkar, Arga bisa kehilangan kendali atas aset keluarga. Jadi dia berusaha menghancurkan kepercayaan Arga kepadamu.”

“Dengan tes DNA palsu?”

“Iya.”

“Arga percaya?”

“Selama beberapa minggu.”

“Lalu?”

“Dia melakukan tes ulang.”

Aku menatapnya tajam.

“Hasilnya?”

“Rafa anaknya.”

Dadaku terasa sakit.

“Lalu kenapa dia masih menyimpan tes palsu itu?”

Nadia menjawab pelan.

“Karena itu satu-satunya bukti bahwa ibunya pernah mencoba menghancurkan keluarganya.”

Aku pulang sore itu dengan perasaan yang bahkan lebih kacau daripada sebelumnya.

Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.

Kemungkinan Arga berselingkuh terasa sederhana dibandingkan kenyataan ini.

Malamnya, aku menunggu Rafa tertidur.

Lalu aku meletakkan semua foto dokumen di atas meja makan.

Ketika Arga pulang, dia melihatnya.

Wajahnya langsung kosong.

Dia tidak menyangkal.

Aku menunjuk kursi.

“Duduk.”

Arga duduk perlahan.

“Sejak kapan?”

Dia tidak pura-pura tidak mengerti.

“Sejak sebelum kita kenal.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada perselingkuhan.

“Jadi pertemuan kita direncanakan?”

“Awalnya, iya.”

Aku berdiri.

Air mataku akhirnya jatuh.

“Sepuluh tahun, Arga.”

“Aku tahu.”

“Sepuluh tahun aku hidup denganmu dan kamu tidak pernah merasa perlu mengatakan bahwa kamu mendekatiku karena ayahku?”

“Aku mau.”

“Kapan? Setelah Rafa kuliah?”

“Nadira—”

“Jangan panggil namaku seolah semuanya masih normal.”

Arga menunduk.

“Aku memang mendekatimu untuk mencari tahu tentang dokumen ayahmu.”

“Lalu?”

“Lalu aku jatuh cinta.”

Aku tertawa sambil menangis.

“Kalimat paling mudah di dunia.”

“Aku tahu kamu tidak akan percaya.”

“Tidak.”

“Dan aku tidak bisa memaksa.”

Dia menarik napas.

“Tapi semua setelah enam bulan pertama itu nyata.”

Aku menatapnya.

“Kalung itu?”

“Dulu milik kakakku.”

“Kenapa kamu memberikannya kepadaku?”

Arga menutup mata.

“Karena aku bodoh.”

“Apa?”

“Aku pikir dengan memberikannya kepadamu, aku bisa mengubur masa lalu dan mengubahnya menjadi sesuatu yang baru.”

Aku merasa marah lagi.

“Kamu mengubah peninggalan kakakmu menjadi hadiah pernikahan?”

“Aku tidak tahu Nadia akan muncul.”

“Dan ketika dia muncul?”

“Aku panik.”

“Jadi kamu membiarkannya masuk ke rumah kita.”

“Aku menyuruhnya mencari peti dokumen.”

“Di kamar kita?”

“Dia mencari di seluruh rumah.”

Aku hampir melempar gelas.

“Dan parfumnya ada di bajumu.”

Arga terlihat bingung.

Lalu wajahnya berubah.

“Nadia memelukku pagi itu karena dia baru menemukan surat kematian ibunya.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya, dia terdengar tidak seperti laki-laki yang sedang membela diri.

Dia terdengar lelah.

“Kenapa kamu tidak bilang padaku?”

“Karena setiap kali aku mau, aku takut kamu akan bertanya satu hal.”

“Apa?”

“Apakah aku akan menikahimu kalau ayahmu bukan orang yang memegang dokumen itu.”

Aku diam.

“Dan aku tidak tahu cara menjawabnya tanpa menghancurkanmu.”

Aku menatapnya lama.

“Jawab sekarang.”

Arga memejamkan mata.

“Kalau aku tidak pernah tahu siapa ayahmu, mungkin aku tidak akan pernah bertemu denganmu.”

Dadaku seperti diremas.

“Tapi setelah aku mengenalmu, aku tidak pernah bertahan karena dokumen itu.”

Air mata mengalir di pipinya.

“Aku bertahan karena kamu.”

Aku tidak menjawab.

Keesokan paginya, aku mengambil peti kayu peninggalan ayah dari gudang.

Di dasar peti, tersembunyi di bawah lapisan kain, ada sebuah map tua.

Di dalamnya benar-benar ada surat warisan.

Namun bukan seperti yang dibayangkan Arga.

Kakek mereka memang meninggalkan sebagian besar aset kepada keturunan dari anak pertamanya.

Ibunya Nadia.

Dan karena beliau sudah meninggal, seluruh hak itu berpindah kepada Nadia.

Jumlahnya besar.

Sangat besar.

Lebih dari cukup untuk mengubah hidupnya.

Tetapi ada satu surat lain.

Tulisan tangan ayahku.

Ditujukan kepadaku.

Aku membukanya dengan tangan gemetar.

Nadira, kalau suatu hari kamu membaca ini, berarti keluarga Pranata akhirnya datang mencari dokumen ini. Jangan marah pada orang hanya karena alasan pertama mereka mendekatimu. Nilai seseorang dari alasan mereka memilih untuk tetap tinggal.

Aku berhenti bernapas.

Ayah tahu.

Ayah tahu semuanya.

Surat itu berlanjut.

Arga pernah datang kepadaku sebelum dia melamarmu. Dia mengaku alasan awal dia mendekatimu. Aku hampir mengusirnya. Tetapi dia menyerahkan semua haknya atas bagian warisan yang mungkin dia terima dan meminta aku merahasiakannya karena dia ingin menikahimu tanpa mengambil satu rupiah pun dari perkara keluarga ini. Aku tidak menyetujuinya saat itu. Aku hanya bilang kepadanya: kalau kamu menyakiti anakku, aku akan memastikan dia tahu semuanya.

Tanganku gemetar hebat.

Ada dokumen legal terlampir.

Tanggalnya sebelas tahun lalu.

Arga benar-benar telah menandatangani pelepasan hak.

Sebelum pernikahan kami.

Sebelum Rafa lahir.

Sebelum rumah ini.

Dia tidak pernah mengejar uang itu.

Aku duduk di lantai gudang dan menangis untuk waktu yang sangat lama.

Bukan karena semua kebohongan mendadak menjadi benar.

Tidak.

Arga tetap bersalah.

Dia telah membangun pernikahan kami di atas sebuah rahasia besar.

Dia membiarkan aku hidup dalam cerita yang tidak lengkap.

Tapi untuk pertama kalinya, aku memahami perbedaan antara niat awal dan pilihan setelahnya.

Sore itu aku menemui Nadia.

Aku memberikan map warisan kepadanya.

Dia menatapku sambil menangis.

“Aku tidak tahu harus bilang apa.”

“Jangan bilang apa-apa.”

“Aku kira keluarga ini akan merebut semuanya.”

“Bukan milik kami.”

Dia melepas kalung safir dari lehernya.

“Ini seharusnya kembali ke kamu.”

Aku menutup tangannya.

“Tidak.”

“Tapi—”

“Itu milik ibumu.”

Air mata Nadia jatuh.

Aku tersenyum kecil.

“Selama lima tahun aku pikir kalung itu simbol pernikahanku.”

Aku melihat batu safir yang berkilau di telapak tangannya.

“Ternyata itu simbol kebohongan sebuah keluarga.”

Aku menutup kembali jarinya di atas kalung itu.

“Bawa pulang.”

Malamnya, aku menemukan Arga duduk sendirian di teras belakang.

Dia tidak bertanya apakah aku akan meninggalkannya.

Mungkin dia tahu pertanyaan itu bukan haknya.

Aku duduk di kursi seberangnya.

“Aku menemukan surat ayah.”

Arga langsung menunduk.

“Jadi kamu tahu.”

“Iya.”

Dia mengangguk.

“Aku minta maaf.”

Aku menatap laki-laki yang sudah menjadi suamiku selama sepuluh tahun.

“Aku belum tahu apakah aku bisa percaya padamu seperti dulu.”

“Aku mengerti.”

“Mungkin tidak akan pernah sama.”

“Aku tahu.”

“Tapi aku juga tahu kamu menyerahkan hak warisan sebelum kita menikah.”

Arga tidak menjawab.

“Kenapa?”

Dia menatapku.

“Karena setelah enam bulan mengenalmu, aku sudah tidak peduli lagi dengan dokumen itu.”

Air mataku kembali jatuh.

“Kamu seharusnya bilang.”

“Iya.”

“Kamu seharusnya memberi aku kesempatan memilih dengan semua fakta.”

“Iya.”

Aku berdiri.

Arga ikut berdiri, tapi tidak mendekat.

Aku berjalan ke pintu.

Lalu berhenti.

“Besok kita cari konselor pernikahan.”

Arga membeku.

Aku menoleh.

“Itu bukan berarti semuanya baik-baik saja.”

“Aku tahu.”

“Itu berarti aku belum selesai memutuskan.”

Wajahnya berubah.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku melihat harapan di sana.

Kecil.

Rapuh.

Tapi nyata.

Enam bulan kemudian, Nadia pindah ke Bandung dan membuka klinik pendidikan kecil memakai sebagian warisan ibunya.

Dia dan Rafa sekarang sering melakukan video call.

Rafa masih memanggilnya “Tante Nadia”.

Dan itu benar.

Bukan dalam cara yang awalnya kukira.

Ibu Arga akhirnya mengakui bahwa dialah yang membuat tes DNA palsu.

Hubungan Arga dengannya hampir sepenuhnya terputus.

Sedangkan pernikahan kami?

Tidak kembali seperti dulu.

Dan mungkin itu justru hal terbaik.

Karena “dulu” ternyata dibangun di atas terlalu banyak hal yang tidak kuketahui.

Kami membangun sesuatu yang baru.

Lebih lambat.

Lebih jujur.

Dan jauh lebih sulit.

Suatu malam, sekitar setahun setelah kejadian di supermarket, Rafa duduk di antara kami di sofa sambil menggambar.

Tiba-tiba dia menatapku.

“Bunda.”

“Hm?”

“Dulu aku bilang Tante Nadia suka main di kamar Bunda, ya?”

Aku dan Arga saling menatap.

“Iya.”

Rafa mengerutkan kening.

“Padahal dia nggak main.”

Aku hampir tertawa.

“Terus dia ngapain?”

“Nyari kotak.”

Aku membeku.

“Kotak apa?”

Rafa menunjuk ke gudang.

“Kotak kayu punya Kakek.”

Arga langsung menatapku.

Ternyata selama ini, dari awal sampai akhir, Rafa tidak pernah salah.

Dia hanya menggunakan kata-kata seorang anak lima tahun untuk menjelaskan sesuatu yang belum dia pahami.

Dan mungkin itulah bagian paling aneh dari semua kejadian ini.

Rahasia terbesar dalam pernikahanku tidak terbongkar oleh detektif.

Bukan oleh pengacara.

Bukan oleh bukti digital.

Semua bermula dari seorang anak kecil yang menunjuk seorang perempuan di supermarket dan berkata,

“Bunda, aku kenal Tante itu.”

Aku dulu mengira kalimat itu adalah awal kehancuran keluargaku.

Ternyata, justru kalimat itulah yang memaksa kami berhenti hidup dalam kebohongan.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

kami akhirnya benar-benar menjadi keluarga.