“Tandatangani semuanya!” ejek suamiku, sementara satu lengannya melingkar santai di pinggang adik perempuanku. Adikku mengusap perutnya yang mulai membuncit sambil tersenyum kepadaku seolah kemenangan sudah berada di tangannya.

Avatar penulis
Cerita 04
17 menit baca 970 tayangan
“Tandatangani semuanya!” ejek suamiku, sementara satu lengannya melingkar santai di pinggang adik perempuanku. Adikku mengusap perutnya yang mulai membuncit sambil tersenyum kepadaku seolah kemenangan sudah berada di tangannya.
Indeks

Tandatangani semuanya!” ejek suamiku, sementara satu lengannya melingkar santai di pinggang adik perempuanku. Adikku mengusap perutnya yang mulai membuncit sambil tersenyum kepadaku seolah kemenangan sudah berada di tangannya.

Aku menelan semua penghinaan itu.

Tanpa menangis, tanpa berteriak, aku mengambil pulpen dan menandatangani setiap halaman yang mereka letakkan di hadapanku.

“Nah, begitu dong,” Arga tertawa puas.

Namun ketika ibunya membuka map biru terakhir, senyum di wajahnya mendadak lenyap.

Wajah Bu Ratna memucat.

Tangannya mulai gemetar ketika membaca halaman pertama, lalu halaman berikutnya.

Dia menatapku seolah baru menyadari sesuatu yang mengerikan.

“Apa… yang sudah kamu lakukan, Nadira?”

Untuk pertama kalinya malam itu, aku tersenyum.

Karena mereka akhirnya menyadari bahwa dokumen yang baru saja kutandatangani bukanlah seperti yang mereka kira.

“Tandatangani semuanya!” ejek suamiku, sementara satu lengannya melingkar santai di pinggang adik perempuanku. Adikku mengusap perutnya yang mulai membuncit sambil tersenyum kepadaku seolah kemenangan sudah berada di tangannya.

Tiga bulan sebelumnya, aku masih percaya bahwa Arga Pratama adalah suamiku.

Sekarang dia berdiri di seberang meja makan di rumah besar peninggalan kakekku di Pondok Indah, Jakarta Selatan, memandangku seperti aku hanyalah seorang pegawai yang sudah tidak lagi dibutuhkan.

Di sampingnya berdiri adik perempuanku sendiri.

Dina.

Dan Dina sedang hamil.

Anak suamiku.

“Kamu ternyata bisa menerima kenyataan dengan cukup tenang,” katanya sambil tersenyum tipis.

Arga tertawa.

“Nadira tahu kapan dia sudah kalah.”

Aku tidak menjawab.

Di ujung meja duduk ibu Arga, Bu Ratna. Kalung berlian berkilau di lehernya di bawah cahaya lampu ruang makan.

Sejak awal pernikahanku dengan Arga, perempuan itu tidak pernah benar-benar menyukaiku.

Bukan karena aku memperlakukan putranya dengan buruk.

Justru sebaliknya.

Masalahnya adalah satu hal yang jauh lebih sederhana.

Uang keluargaku tidak pernah berhasil menjadi miliknya.

Di hadapanku terdapat setumpuk dokumen.

Surat kesepakatan perceraian.

Pengalihan aset.

Pengunduran diri dari beberapa posisi perusahaan.

Pelepasan sejumlah hak.

Arga mengetukkan jarinya ke atas tumpukan kertas itu.

“Tandatangani semuanya. Kamu masih boleh mempertahankan apartemen di Kuningan dan menerima dua miliar rupiah.”

Dia bersandar di kursinya.

“Tapi kalau kamu mau melawan, jangan harap kamu mendapatkan apa pun.”

Aku memandang Dina.

Hanya ada satu pertanyaan yang ingin kutanyakan.

“Sejak kapan?”

Dina memiringkan kepalanya.

“Memangnya masih penting?”

“Penting untukku.”

Arga mendesah kesal.

“Delapan bulan.”

Delapan bulan.

Aku menatap perut Dina.

Dia sedang hamil empat bulan.

Berarti hubungan mereka dimulai ketika aku masih menjalani program kehamilan.

Ketika aku bolak-balik ke rumah sakit.

Ketika tubuhku dipenuhi obat-obatan.

Ketika setiap hasil pemeriksaan yang mengecewakan membuatku pulang sambil menangis diam-diam di dalam mobil.

Dan selama itu pula, Arga selalu memelukku sambil mengatakan bahwa kami akan melewati semuanya bersama-sama.

Ternyata setelah memelukku, dia menemui adikku.

Ada sesuatu di dalam diriku yang mendadak menjadi sangat dingin.

Bu Ratna mencondongkan tubuh ke depan.

“Sudahlah, Nadira. Jangan mempermalukan dirimu sendiri.”

Aku menatapnya.

Dia melirik perut Dina sebelum melanjutkan dengan suara dingin.

“Dina bisa memberikan Arga sesuatu yang selama ini tidak bisa kamu berikan.”

Tanganku mengencang menggenggam pulpen.

Mereka melihatnya.

Arga tersenyum.

Dina tampak semakin puas.

Mereka mengira aku akhirnya hancur.

Mereka mengira perempuan yang duduk di depan mereka hanyalah seorang istri yang baru saja kehilangan suami, adik, dan masa depan yang selama ini dia impikan.

Yang tidak mereka ketahui adalah dua minggu sebelumnya, seorang akuntan forensik bernama Bima Santoso telah datang ke kantorku membawa hasil pemeriksaan yang mengubah segalanya.

Selama hampir dua tahun, Arga diam-diam memindahkan dana dari Prameswari Development melalui beberapa perusahaan vendor yang ternyata hanya ada di atas kertas.

Jumlahnya bukan puluhan juta.

Bukan pula ratusan juta.

Nilainya sudah mencapai puluhan miliar rupiah.

Namun Arga melakukan satu kesalahan besar.

Dia mengira Prameswari Development adalah perusahaannya.

Bukan.

Perusahaan itu adalah milikku.

Kakekku mendirikannya puluhan tahun lalu.

Tiga tahun sebelum meninggal dunia, beliau telah mengatur struktur kepemilikan perusahaan dan menempatkan saham pengendali melalui skema hukum yang menjadikanku penerima manfaat utama.

Arga hanya diberi kepercayaan untuk menjalankan perusahaan sebagai direktur utama.

Diberi kepercayaan.

Bukan menjadi pemilik.

Ada perbedaan sangat besar di antara keduanya.

Dan malam ini, perbedaan itu akan menghancurkan semua rencana mereka.

Ada satu hal lain yang juga tidak mereka ketahui.

Pengacaraku, Evelyn—yang di Jakarta lebih dikenal sebagai Evelyn Wijaya—telah mempelajari rancangan perjanjian perceraian yang disiapkan pihak Arga.

Setelah membacanya, dia hanya mengatakan satu kalimat kepadaku.

“Kalau mereka ingin kamu menandatangani dokumen, kita akan memberi mereka dokumen untuk ditandatangani juga.”

Maka disiapkanlah satu set dokumen tambahan.

Tampilannya hampir sama.

Bahasanya formal.

Susunan halamannya dibuat sedemikian rupa sehingga orang yang terlalu percaya diri akan menganggap semuanya hanyalah bagian dari proses administrasi yang sama.

Dan Arga sedang sangat percaya diri.

Aku mulai menandatangani.

Halaman pertama.

Lalu halaman kedua.

Ketiga.

Keempat.

Tidak ada air mata.

Tidak ada permohonan.

Tidak ada pertengkaran.

Semakin banyak halaman yang kutandatangani, semakin lebar senyum Arga.

Dina bahkan mengambil segelas air mineral dan duduk dengan santai, seolah dia sedang menyaksikan acara hiburan.

“Akhirnya kamu bisa bersikap masuk akal,” kata Arga.

Aku terus menandatangani.

Sampai halaman terakhir.

Aku meletakkan pulpen.

“Selesai.”

Arga segera menarik tumpukan dokumen itu ke arahnya.

“Nah, begitu dong.”

Kemudian aku mengambil sebuah map biru tebal yang sejak tadi berada di samping kursiku.

Aku mendorongnya perlahan ke arah Bu Ratna.

“Satu dokumen terakhir.”

Arga bahkan tidak memeriksanya.

“Bu, jadi saksi saja.”

Bu Ratna tersenyum puas dan membuka map tersebut.

Lalu senyumnya menghilang.

Matanya bergerak membaca halaman pertama.

Kemudian halaman kedua.

Tangannya mulai gemetar.

Arga akhirnya menyadarinya.

“Bu?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Wajahnya semakin pucat.

Dina berhenti mengusap perutnya.

“Ada apa?”

Bu Ratna perlahan mengangkat wajah dan menatapku.

“Apa yang sudah kamu lakukan?”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku tersenyum.

“Aku menandatangani persis seperti yang diminta anak Ibu.”

Aku berhenti sejenak.

“Masalahnya, kalian tidak pernah benar-benar membaca apa yang kalian minta untuk kutandatangani.”

Arga langsung meraih map biru itu.

Aku menahan ujungnya.

“Belum.”

Senyumku tidak berubah.

“Sekarang giliranmu membaca.”

Dan saat Arga melihat judul dokumen di halaman pertama, wajahnya berubah.

Karena itu bukan sekadar dokumen perceraian.

Itu adalah awal dari pencabutan seluruh kewenangannya di Prameswari Development—dan bukti transaksi perusahaan yang selama ini dia pikir tidak akan pernah kutemukan.

Namun ada satu halaman di bagian paling belakang yang bahkan belum dilihat Bu Ratna.

Satu halaman yang berhubungan langsung dengan rumah tempat kami sedang duduk.

Dan ketika Arga membacanya nanti, perselingkuhannya dengan Dina akan menjadi masalah terkecil yang harus dia hadapi.

Arga membaca halaman pertama di dalam map biru itu sekali.

Lalu sekali lagi.

Aku melihat warna wajahnya perlahan menghilang.

“Apa-apaan ini?”

Dina yang sejak tadi berdiri di sampingnya langsung mendekat.

“Ada apa?”

Arga tidak menjawab.

Tangannya mencengkeram dokumen itu begitu keras hingga ujung kertasnya tertekuk.

Aku tetap duduk.

Tenang.

Bu Ratna menatapku dengan wajah pucat.

“Kamu tidak mungkin melakukan ini.”

“Aku sudah melakukannya.”

Arga mengangkat kepalanya.

“Kamu mencabut jabatanku?”

“Bukan hanya jabatanmu.”

Aku menunjuk halaman berikutnya.

“Baca sampai selesai.”

Dia membalik halaman dengan kasar.

Dokumen itu memuat keputusan pemegang kendali Prameswari Development untuk memberhentikan Arga Pratama dari posisi direktur utama, membekukan seluruh aksesnya terhadap rekening operasional perusahaan, dan memulai audit independen atas transaksi yang dilakukan selama masa kepemimpinannya.

Namun itu baru permulaan.

Di halaman berikutnya terdapat daftar sebelas vendor.

Sebelas perusahaan yang selama dua tahun menerima pembayaran dari Prameswari Development.

Nama perusahaan berbeda.

Alamat berbeda.

Nomor rekening berbeda.

Tetapi Bima menemukan hubungan di antara semuanya.

Empat perusahaan dikendalikan oleh teman lama Arga.

Tiga menggunakan alamat yang ternyata tidak memiliki kantor sungguhan.

Dua terhubung dengan mantan pegawai keuangan perusahaan.

Dan dua sisanya mengarah kepada seseorang yang membuat Bu Ratna tidak mampu berkata-kata.

Namanya sendiri.

Ratna Pratama.

Arga menatap ibunya.

“Bu?”

Bu Ratna tidak bergerak.

Dina mundur satu langkah.

Aku memandang perempuan yang selama bertahun-tahun selalu menganggapku tidak cukup baik untuk putranya.

“Sekarang Ibu mengerti kenapa saya meminta Ibu membuka map itu?”

“Nadira, dengarkan Ibu—”

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya selama tujuh tahun pernikahanku, aku memotong ucapannya.

“Sekarang Ibu yang mendengarkan saya.”

Aku membuka satu lembar lain.

“Selama delapan belas bulan, salah satu vendor menerima pembayaran hampir sebelas miliar rupiah. Sebagian uangnya kemudian masuk ke rekening yang terhubung dengan Ibu.”

Bu Ratna langsung berdiri.

“Itu uang Arga!”

“Bukan.”

Suaraku tetap datar.

“Itu uang perusahaan.”

“Perusahaan anak saya!”

Aku hampir tertawa.

“Dan itulah kesalahan terbesar kalian.”

Aku berdiri perlahan.

“Prameswari Development tidak pernah menjadi milik Arga.”

Aku menatap suamiku.

“Kamu adalah direktur yang dipercaya menjalankannya.”

Lalu aku menatap Bu Ratna.

“Bukan pemiliknya.”

Arga membanting dokumen ke meja.

“Omong kosong! Aku membesarkan perusahaan itu!”

“Kamu menjalankannya selama lima tahun.”

“Aku yang bertemu investor! Aku yang menandatangani proyek! Aku yang—”

“Kamu digaji untuk melakukan semua itu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Dina memandang Arga dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Bukan cinta.

Ketakutan.

Mungkin untuk pertama kalinya dia mulai memahami bahwa laki-laki yang dia pilih dengan mengkhianati kakaknya ternyata tidak memiliki kekayaan sebesar yang selama ini dia bayangkan.

Arga menunjuk rumah di sekeliling kami.

“Kalau begitu rumah ini?”

Aku tidak menjawab.

Bu Ratna langsung menutup mata.

Dia sudah membaca halaman terakhir.

Arga melihat reaksi ibunya.

“Bu, rumah ini kenapa?”

Bu Ratna berbisik, “Bukan milikmu.”

Arga membeku.

“Apa?”

Aku mengambil dokumen terakhir dari map.

“Rumah ini dibeli Kakek tahun 1998. Setelah beliau meninggal, rumah ini diwariskan kepadaku sebagai harta pribadi.”

“Tidak mungkin. Kita merenovasinya setelah menikah.”

“Benar.”

“Berarti aku punya hak.”

“Biaya renovasi berasal dari rekening warisan yang sudah ada sebelum pernikahan.”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan.

“Apartemen Kuningan yang dengan murah hati kamu tawarkan kepadaku juga milikku.”

Wajah Dina berubah.

“Jadi… rumah ini punya Kak Nadira?”

Aku menatapnya.

“Iya.”

“Mobil?”

“Mobil yang kamu pakai tiga bulan terakhir terdaftar atas nama perusahaan.”

Dia menoleh cepat kepada Arga.

Arga tampak semakin panik.

Aku hampir merasa kasihan melihatnya.

Hampir.

Lalu aku teringat delapan bulan kebohongan.

Aku teringat suntikan hormon.

Ruang tunggu klinik.

Hasil pemeriksaan.

Malam ketika aku menangis di kamar mandi agar Arga tidak mendengarnya.

Dan laki-laki itu ternyata sedang tidur dengan adikku sendiri.

Rasa kasihan itu lenyap.

“Masih ada lagi,” kataku.

Arga menatapku tajam.

“Apa lagi?”

Aku mengambil ponsel.

“Pak Bima.”

Pintu ruang keluarga terbuka.

Bima masuk bersama Evelyn Wijaya.

Arga langsung berdiri.

“Kalian masuk rumahku tanpa izin?”

Evelyn berhenti di ambang pintu.

“Secara teknis, Pak Arga, ini rumah klien saya.”

Aku hampir tersenyum.

Evelyn berjalan mendekat dan meletakkan sebuah amplop di meja.

“Salinan laporan audit awal.”

Arga tidak menyentuhnya.

“Keluar.”

Evelyn tetap tenang.

“Laporan lengkap sudah diserahkan kepada pihak yang berkepentingan. Jadi menghancurkan dokumen ini tidak akan mengubah apa pun.”

“Pihak mana?”

“Dewan komisaris dan penasihat hukum perusahaan.”

Arga menatapku.

“Kamu ingin menghancurkanku?”

Pertanyaan itu membuatku diam beberapa detik.

“Aku pernah ingin menyelamatkanmu.”

Suaraku akhirnya bergetar.

Bukan karena takut.

Karena sedih.

“Aku mempertahankan pernikahan kita ketika kamu pulang tengah malam. Aku membelamu ketika Kakek bilang kamu terlalu ambisius. Aku bahkan meminta beliau memberikanmu kesempatan memimpin perusahaan.”

Mata Arga bergerak.

Aku belum pernah memberitahunya bagian itu.

“Ya,” kataku. “Kamu menjadi direktur utama karena aku.”

Dia terdiam.

“Kakek tidak percaya padamu.”

“Nadira—”

“Tapi aku percaya.”

Itulah bagian yang paling menyakitkan.

Bukan uang.

Bukan rumah.

Bahkan bukan perusahaan.

Aku telah mempertaruhkan kepercayaan orang yang membesarkanku demi seorang laki-laki yang kemudian menganggap kepercayaanku sebagai kelemahan.

Dina tiba-tiba berbicara.

“Arga bilang perusahaan itu akan menjadi miliknya.”

Semua orang menoleh kepadanya.

Arga mengernyit.

“Diam.”

Dina tidak diam.

“Dia bilang setelah perceraian, Kak Nadira akan keluar dari perusahaan.”

“Dina.”

“Dia bilang rumah ini juga akan jadi milik kami.”

“DIAM!”

Aku memandang adikku.

“Jadi itu sebabnya?”

Matanya mulai berkaca-kaca.

Aku ingin mendengar jawabannya meskipun aku sudah tahu.

“Kamu tidur dengan suamiku karena mengira dia akan menjadi kaya?”

Dina menggeleng.

“Tidak sesederhana itu.”

“Kalau begitu jelaskan.”

Untuk pertama kalinya, kesombongannya hilang.

“Aku selalu menjadi nomor dua.”

Aku terdiam.

Dina tertawa kecil, pahit.

“Sejak kecil selalu Nadira. Nadira pintar. Nadira yang dipercaya Kakek. Nadira masuk universitas bagus. Nadira mendapat perusahaan.”

“Aku tidak pernah menganggapmu nomor dua.”

“Tapi semua orang melakukannya!”

Air matanya jatuh.

“Arga membuatku merasa dipilih.”

Kalimat itu menghantamku dengan cara yang aneh.

Bukan karena aku memaafkannya.

Tetapi karena akhirnya aku mengerti.

Dua orang yang sama-sama membutuhkan pengakuan telah menemukan satu sama lain.

Arga membutuhkan seseorang yang menganggapnya hebat.

Dina membutuhkan seseorang yang memilihnya dibandingkan aku.

Dan untuk memenuhi kebutuhan itu, mereka menghancurkan orang-orang di sekitar mereka.

Aku menggeleng.

“Kamu tidak menang, Dina.”

Dia menatapku.

“Karena aku tidak pernah berlomba denganmu.”

Dina menangis.

Arga justru tertawa sinis.

“Bagus. Drama keluarga selesai?”

Dia mengambil kunci mobil.

“Aku pergi.”

Evelyn mengangkat tangan.

“Ada satu hal lagi.”

Arga berhenti.

“Mobil perusahaan harus ditinggalkan.”

Dia menatap kunci di tangannya.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku benar-benar ingin tertawa.

Namun aku tidak melakukannya.

Arga melemparkan kunci ke meja.

“Aku akan mengambil barang-barangku.”

“Sudah dikemas.”

Aku menunjuk ke foyer.

Dua koper besar berdiri di sana.

Wajahnya berubah.

“Kamu sudah merencanakan semuanya.”

“Sejak aku menemukan transaksi pertama.”

Dia berjalan mendekatiku.

“Nadira, kita masih bisa membicarakan ini.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Lima menit sebelumnya dia memerintahkanku menandatangani perceraian.

Sekarang, setelah mengetahui apa yang sebenarnya dia kehilangan, tiba-tiba dia ingin bicara.

“Bicara tentang apa?”

“Tentang kita.”

“Tidak ada kita.”

“Nadira—”

“Ada kamu.”

Aku menunjuk Dina.

“Ada dia.”

Kemudian aku menunjuk diriku sendiri.

“Dan ada aku yang akhirnya memilih diriku sendiri.”

Dia tidak punya jawaban.

Malam itu Arga meninggalkan rumah dengan dua koper.

Dina ikut dengannya.

Bu Ratna menjadi orang terakhir yang berdiri dari meja.

Sebelum pergi, dia berhenti di depanku.

“Aku memang menerima uang itu.”

Aku menatapnya.

Dia menelan ludah.

“Tapi Arga bilang itu bagian keuntungan yang menjadi hak keluarga.”

“Dan Ibu percaya?”

Dia tidak menjawab.

Aku mengerti.

Dia percaya karena ingin percaya.

Sebelum keluar, Bu Ratna berkata pelan, “Aku salah tentangmu.”

Aku tidak mengatakan bahwa aku memaafkannya.

Karena saat itu aku belum bisa.

Aku hanya menjawab, “Selamat malam, Bu.”

Pintu tertutup.

Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, rumah itu benar-benar sunyi.

Aku berdiri sendirian di ruang makan.

Lalu sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Aku menangis.

Bukan karena kehilangan Arga.

Aku menangisi diriku sendiri.

Perempuan yang selama bertahun-tahun percaya bahwa kalau dia cukup sabar, cukup setia, cukup baik, semua orang akhirnya akan mencintainya dengan benar.

Evelyn duduk di sebelahku tanpa mengatakan apa-apa.

Aku menangis sampai dadaku sakit.

Lalu aku pulang ke kamar yang malam itu terasa terlalu besar.


Enam bulan kemudian, hidupku berubah total.

Audit perusahaan menemukan transaksi bermasalah yang jauh lebih besar dari perkiraan awal.

Arga tidak hanya kehilangan jabatannya.

Dia harus menghadapi proses hukum dan tuntutan pengembalian dana perusahaan.

Aku tidak merayakannya.

Kehancurannya bukan kemenangan bagiku.

Kemenanganku adalah bangun setiap pagi tanpa harus bertanya apakah orang yang tidur di sebelahku sedang berbohong.

Aku kembali aktif memimpin Prameswari Development.

Awalnya para direktur senior meragukanku.

Mereka mengenalku sebagai cucu pendiri.

Sebagian menganggap aku hanya pewaris.

Enam bulan kemudian, mereka berhenti memanggilku “cucu Pak Prameswari”.

Mereka memanggilku Direktur Nadira.

Namun ada satu hal yang terus menggangguku.

Dina.

Aku tidak pernah menghubunginya.

Sampai suatu sore teleponku berdering.

Nomor rumah sakit.

“Kami mencantumkan Anda sebagai kontak darurat Ibu Dina Prameswari.”

Aku langsung berdiri.

“Ada apa dengan adik saya?”

“Dia akan melahirkan.”

Aku membeku.

“Di mana suaminya?”

Petugas itu diam.

“Maksud saya… Pak Arga?”

“Tidak ada di sini.”

Aku tidak tahu kenapa aku pergi.

Mungkin karena darah tetaplah darah.

Mungkin karena sebagian kecil diriku masih mengingat Dina kecil yang takut petir dan selalu masuk ke kamarku sambil membawa bantal.

Ketika tiba di rumah sakit, Bu Ratna sudah berada di sana.

Dia tampak jauh lebih tua.

“Nadira.”

“Arga?”

Bu Ratna menunduk.

“Tidak datang.”

Aku menemukan Dina sendirian.

Begitu melihatku, dia menangis.

“Kak.”

Aku berdiri di pintu.

“Aku tidak datang untuk membicarakan Arga.”

“Aku tahu.”

“Dan aku belum bisa memaafkanmu.”

“Aku tahu.”

Aku mendekat.

Dina mengulurkan tangan.

Setelah beberapa detik, aku menggenggamnya.

Beberapa jam kemudian, seorang bayi laki-laki lahir.

Sehat.

Kecil.

Sempurna.

Dina menangis ketika pertama kali menggendongnya.

Aku berdiri beberapa langkah dari tempat tidur.

Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuatku membeku.

“Kak, ada sesuatu yang harus kamu tahu.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Arga bukan ayahnya.”

Ruangan terasa berhenti.

“Apa?”

Dina menangis lebih keras.

“Arga bukan ayah bayi ini.”

Aku merasa seolah tidak memahami bahasa yang dia gunakan.

“Dina, kamu bilang—”

“Aku berbohong.”

Dia menutup wajah.

“Aku sudah hamil sebelum hubunganku dengan Arga dimulai.”

Aku tidak bisa berkata-kata.

“Siapa ayahnya?”

“Rizky.”

Nama itu kukenal.

Mantan tunangannya.

Dina menjelaskan semuanya sambil terisak.

Rizky meninggalkannya setelah mengetahui bisnis keluarganya bangkrut. Beberapa minggu kemudian Dina mengetahui dirinya hamil.

Dia panik.

Malu.

Kemudian Arga mendekatinya.

Arga sudah tertarik kepadanya bahkan sebelum hubungan mereka dimulai.

Dan ketika Dina menyadari bahwa Arga percaya bayi itu miliknya, dia membiarkan kebohongan itu tumbuh.

“Kenapa?”

Aku hampir berbisik.

“Karena aku takut.”

“Jadi kamu menghancurkan pernikahanku karena takut?”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu tidak tahu.”

Aku mundur.

Marah yang selama enam bulan kupikir sudah padam tiba-tiba kembali.

Namun Dina berkata sesuatu yang menghentikanku.

“Arga sudah tahu.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Dia mengetahui hasil tes dua bulan lalu.”

“Lalu?”

“Dia meninggalkanku.”

Aku menutup mata.

Tentu saja.

Laki-laki yang mengkhianati istrinya karena menginginkan pewaris akhirnya meninggalkan perempuan yang dia pilih ketika mengetahui anak itu bukan darahnya.

Ironi itu begitu sempurna sampai terasa kejam.

Aku memandang bayi di pelukan Dina.

Dia tidak bersalah atas semua ini.

Sama sekali tidak.

“Apa namanya?”

Dina terkejut.

“Raka.”

Aku menyentuh tangan kecil bayi itu.

Jari mungilnya langsung menggenggam telunjukku.

Dan entah kenapa, air mataku jatuh.

Bukan karena Arga.

Bukan karena Dina.

Karena tiba-tiba aku memahami sesuatu.

Selama bertahun-tahun aku mengira hidupku gagal karena aku tidak berhasil memberikan Arga seorang anak.

Padahal mungkin kegagalanku yang sebenarnya adalah mengukur nilai diriku berdasarkan apa yang bisa kuberikan kepada orang lain.

Aku menatap Dina.

“Aku belum memaafkanmu.”

Dia mengangguk sambil menangis.

“Tapi Raka tidak perlu membayar kesalahan orang dewasa.”

Dina menggigit bibir.

“Terima kasih, Kak.”

Aku menggeleng.

“Jangan berterima kasih dulu. Memaafkan bukan berarti semuanya kembali seperti dulu.”

“Aku mengerti.”

Dan memang tidak pernah kembali seperti dulu.

Butuh waktu hampir dua tahun sebelum aku bisa duduk satu meja dengan Dina tanpa mengingat malam ketika dia berdiri di samping suamiku sambil tersenyum.

Kami tidak menjadi kakak-adik yang sama.

Kami menjadi sesuatu yang baru.

Lebih jujur.

Lebih berhati-hati.

Dan mungkin justru lebih nyata.

Arga?

Dia tidak pernah kembali ke hidupku.

Beberapa tahun kemudian aku mendengar dia bekerja di perusahaan properti kecil di luar Jakarta setelah menyelesaikan seluruh kewajiban hukum dan finansialnya.

Aku tidak membencinya.

Kebencian membutuhkan terlalu banyak ruang.

Dan aku punya hal lain untuk mengisi ruang itu.

Perusahaan.

Teman-teman.

Keluargaku yang perlahan diperbaiki.

Dan Raka.

Anak kecil itu tumbuh dengan kebiasaan berlari ke arahku setiap kali aku datang.

Dia memanggilku Bunda Dira.

Pada ulang tahunnya yang ketiga, Dina menyerahkan sebuah kotak kepadaku.

“Apa ini?”

“Buka.”

Di dalamnya ada pulpen hitam.

Aku mengenalinya.

Pulpen yang kupakai malam itu.

Malam ketika aku menandatangani semua dokumen.

“Aku menemukannya di rumah lama,” kata Dina.

Aku memegang pulpen itu cukup lama.

Dulu benda itu terasa seperti simbol berakhirnya hidupku.

Sekarang aku menyadari sesuatu.

Malam itu aku memang menandatangani perceraian.

Tapi sebenarnya, yang kutandatangani bukan akhir.

Itu adalah izin yang akhirnya kuberikan kepada diriku sendiri untuk memulai kembali.

Aku menatap Dina.

Kemudian Raka berlari masuk sambil tertawa dan memeluk kakiku.

Aku mengangkatnya.

“Bunda Dira!”

Aku tertawa.

Dan untuk pertama kalinya ketika mengingat malam di meja makan itu, aku tidak merasakan sakit.

Hanya rasa syukur.

Karena kadang-kadang orang yang mengira sedang mengambil segalanya darimu justru sedang membuka pintu yang selama ini terlalu takut kamu buka sendiri.

Arga mengira tanda tanganku adalah tanda menyerah.

Bu Ratna mengira map biru itu menghancurkan keluarganya.

Dina mengira dia telah memenangkan kehidupan yang seharusnya menjadi milikku.

Mereka semua salah.

Karena pada akhirnya, aku tidak kehilangan hidupku malam itu.

Aku mendapatkannya kembali.

Dan bagian yang paling mengejutkan?

Bertahun-tahun kemudian, ketika aku melihat Raka tertidur di sofa rumah Kakek dengan kepala di pangkuanku, aku akhirnya memahami satu hal yang tidak pernah bisa diajarkan oleh semua uang dan perusahaan yang diwariskan kepadaku.

Keluarga bukan tentang siapa yang berhasil memiliki rumah.

Bukan tentang siapa yang mewarisi perusahaan.

Bahkan bukan semata-mata tentang siapa yang memiliki hubungan darah dengan siapa.

Keluarga adalah tentang siapa yang memilih untuk tetap bertanggung jawab setelah semua kebohongan terbongkar.

Aku pernah mengira hidupku akan lengkap jika aku bisa memberikan Arga seorang anak.

Ternyata aku salah.

Aku tidak membutuhkan seorang anak untuk membuat hidupku berharga.

Aku tidak membutuhkan seorang suami untuk membuatku utuh.

Dan aku tidak perlu menghancurkan orang yang telah menyakitiku untuk membuktikan bahwa aku menang.

Aku hanya perlu berhenti menyerahkan harga diriku kepada mereka.

Malam itu, bertahun-tahun sebelumnya, Arga menyuruhku:

“Tandatangani semuanya.”

Jadi aku melakukannya.

Dan tanpa dia sadari, tanda tangan terakhir itu bukan hanya mengakhiri pernikahan kami.

Itu mengembalikan hidupku kepadaku.