Putriku Pulang Sekolah dan Berkata, “Bu, Cerai Saja dari Ayah”—Malam Itu, Gara-Gara Sepotong Ayam, Aku Akhirnya Benar-Benar Pergi
Putriku keluar dari gerbang sekolah, menggenggam tanganku erat, lalu berkata pelan, “Bu, cerai saja sama Ayah. Ayah sudah tidak sayang sama kita.”
Malam itu, hanya gara-gara satu potong ayam, suamiku kembali mempermalukan putri kami dan mengeluarkanku dari grup WhatsApp keluarga untuk kedua puluh delapan kalinya.
Aku tidak membantah.
Aku hanya memeluk putriku erat-erat dan mengambil keputusan yang tidak pernah dia percaya akan benar-benar kulakukan.

BAGIAN 1
“Aku mau cerai.”
Arga membeku.
Sendok yang hampir masuk ke mulutnya berhenti di udara. Dia menatapku seperti aku baru saja mengatakan sesuatu yang mustahil.
“Apa katamu?”
Aku memeluk Alya, putri kami yang baru berusia empat tahun, sedikit lebih erat.
“Aku bilang aku mau bercerai darimu.”
Dimas, anak Arga dari pernikahan pertamanya, langsung tersenyum.
“Ya sudah, cerai saja, Yah! Biar Nadira pergi. Nanti Ayah bisa menikah lagi sama Mama.”
Arga menatap tajam ke arahnya.
“Makan. Jangan ikut campur urusan orang dewasa.”
Namun Dimas, yang sudah berusia tiga belas tahun dan terbiasa mengatakan apa saja tanpa takut mendapat konsekuensi, masih bergumam,
“Memangnya lebih enak begitu. Kalau perempuan galak itu pergi, Mama bisa tinggal di sini lagi.”
Perempuan galak itu.
Aku sudah menikah dengan Arga selama lima tahun.
Selama itu pula Dimas tidak pernah sekali pun memanggilku “Ibu”.
Biasanya dia hanya memanggilku “Hei”, “dia”, atau ketika sedang kesal, “perempuan itu”.
Dan Arga tidak pernah benar-benar menegurnya.
Malam itu, semuanya bermula hanya karena satu potong paha ayam.
Di meja makan tinggal satu potong ayam goreng.
Beberapa menit sebelumnya, Dimas sendiri mengatakan bahwa dia sudah kenyang. Piringnya bahkan sudah didorong menjauh.
Alya menunggu sebentar.
Ketika tidak ada yang mengambil ayam terakhir itu, tangan kecilnya meraih potongan tersebut.
Dia baru menggigit sekali ketika Dimas tiba-tiba berseru,
“Eh! Aku masih mau itu!”
Alya langsung berhenti mengunyah.
Arga mengangkat wajah dari ponselnya.
Dia bahkan tidak bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Tangannya langsung membuka WhatsApp.
Beberapa detik kemudian, aku melihat notifikasi di ponselku.
Anda telah dikeluarkan dari grup.
Grup keluarga besar Arga.
Untuk kedua puluh delapan kalinya.
“Kamu tahu Dimas suka ayam,” kata Arga dengan nada dingin. “Justru karena Dimas bukan anak kandungmu, kamu harus lebih peka. Jangan sampai dia merasa dibedakan.”
Aku menatap suamiku.
Untuk sesaat, aku hampir tidak mengenali laki-laki yang dulu kunikahi.
“Lalu Alya bagaimana?”
“Alya masih kecil. Dia harus belajar berbagi dengan kakaknya.”
Alya merapat ke tubuhku.
Aku bisa merasakan bahunya menegang.
“Arga, Dimas sendiri tadi bilang sudah kenyang.”
“Jangan memperbesar masalah.”
Arga menghela napas kesal.
“Suruh Alya minta maaf kepada Dimas. Kalau beberapa hari ke depan kamu bisa bersikap baik dan tidak membuat masalah lagi, nanti aku masukkan kamu kembali ke grup.”
Ada sesuatu di dalam diriku yang runtuh.
Aku teringat ketika Dimas masih berusia delapan tahun.
Setelah perceraian orang tuanya, dia sering terbangun tengah malam sambil menangis karena merindukan ibunya.
Siapa yang duduk di samping tempat tidurnya sampai dia tertidur?
Aku.
Ketika dia demam tinggi dan Arga sedang berada di Surabaya untuk urusan pekerjaan, siapa yang membawanya ke IGD?
Aku.
Saat itu Alya masih bayi.
Aku menitipkan Alya kepada tetangga, lalu menemani Dimas di rumah sakit sampai pagi.
Ibu kandungnya bahkan mengatakan tidak bisa datang karena sedang ada urusan.
Aku tidak pernah mempermasalahkannya.
Karena bagiku, ketika aku menikahi Arga, aku juga menerima Dimas.
Aku tidak pernah meminta anak itu menggantikan ibunya.
Aku hanya berharap suatu hari dia mengerti bahwa aku juga menyayanginya.
Ternyata setelah lima tahun, di matanya aku tetaplah perempuan jahat yang menghalangi kedua orang tuanya kembali bersama.
Dan lebih menyakitkan lagi…
Arga membiarkannya berpikir seperti itu.
“Arga,” tanyaku perlahan, “selama ini kamu pernah benar-benar menganggap aku bagian dari keluargamu?”
Keningnya berkerut.
“Kita mulai lagi?”
“Aku serius.”
Aku menunjuk ponselnya.
“Kamu dan mantan istrimu sudah bercerai enam tahun. Tapi dia tidak pernah dikeluarkan dari grup keluarga kalian.”
Arga diam.
“Sedangkan aku?” lanjutku. “Setiap kali orang tuamu marah kepadaku, aku dikeluarkan. Setiap kali Dimas mengadu, aku dikeluarkan. Setiap kali mantan istrimu merasa tersinggung, aku juga yang dikeluarkan.”
Aku tersenyum getir.
“Jadi jawab satu pertanyaan saja. Sebenarnya siapa istrimu?”
Ekspresi Arga berubah.
“Rina ada di grup karena dia ibunya Dimas. Lebih praktis begitu kalau ada urusan sekolah atau keluarga.”
Aku tertawa kecil meskipun mataku mulai terasa panas.
“Tentu.”
Aku mengangguk.
“Untuk dia, selalu ada tempat karena alasan praktis.”
Aku menatapnya lurus.
“Tapi aku harus terus membuktikan bahwa aku pantas menjadi anggota keluargamu.”
Tiba-tiba Alya melepaskan pelukanku.
Dia berlari ke arah tempat sampah di dekat dapur.
“Ayah, jangan marahi Ibu. Alya yang salah. Ayamnya Alya kembalikan saja buat Kak Dimas.”
Kemudian dia memasukkan dua jarinya ke dalam mulut.
“Alya!”
Aku langsung berlari dan menarik tangannya.
Tubuh kecilnya gemetar ketika menangis.
“Tidak, Sayang. Jangan lakukan itu.”
“Tapi Kak Dimas mau ayamnya….”
“Tidak.”
Aku berjongkok dan memegang kedua pipinya.
“Kamu tidak perlu mengembalikan apa pun. Kamu tidak melakukan kesalahan.”
Dimas tertawa kecil dari meja.
“Tuh, Yah. Lebay lagi. Sama saja seperti Nadira.”
Aku menunggu.
Aku menunggu Arga melakukan sesuatu.
Apa saja.
Aku berharap dia melihat putrinya sendiri yang baru berusia empat tahun sedang menangis dan ketakutan hanya karena makan satu potong ayam.
Aku berharap dia berdiri.
Memeluk Alya.
Atau setidaknya mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Namun Arga hanya menggeleng.
“Itu akibat kamu terlalu memanjakannya, Nadira.”
Aku terpaku.
Arga melanjutkan,
“Masih kecil saja sudah tahu bagaimana caranya bikin semua orang merasa bersalah.”
Saat itulah benang terakhir yang menahanku di rumah itu akhirnya putus.
Aku mengangkat Alya ke dalam pelukanku.
Kemudian berjalan menuju kamar.
Dari belakang, suara Arga masih terdengar.
“Kalau Alya sudah tenang, kembali ke sini. Bereskan meja makan. Sekalian bantu Dimas mengerjakan PR matematikanya.”
Aku tidak menjawab.
Aku masuk ke kamar.
Lalu mengunci pintu.
Beberapa menit kemudian, dari ruang makan terdengar suara percakapan.
Arga menyalakan pengeras suara ponselnya.
Grup WhatsApp keluarga.
Dimas sedang menceritakan versinya tentang kejadian malam itu.
Menurut ceritanya, aku sengaja memberikan ayam terakhir kepada Alya karena tidak menganggapnya sebagai anak sendiri.
Ibunya Arga langsung berkata,
“Dari dulu Mama sudah bilang. Perempuan yang punya anak sendiri pasti akan membedakan anak sambung.”
Ayah Arga ikut menimpali,
“Kelakuan Nadira memang makin hari makin keterlaluan.”
Lalu terdengar suara Rina.
Mantan istri Arga.
“Sudahlah, jangan terlalu keras kepada Nadira. Mungkin dia punya alasan.”
Dia berhenti sebentar.
Kemudian menambahkan dengan suara penuh simpati,
“Tapi kasihan Dimas.”
Ibunya Arga langsung menjawab,
“Waktu kamu masih tinggal bersama Arga, kejadian seperti ini tidak pernah ada.”
Beberapa orang tertawa kecil.
Kemudian suara Dimas terdengar jelas.
“Ma, kapan Mama tinggal sama Ayah lagi?”
Aku menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Tidak ada seorang pun yang menegurnya.
Termasuk suamiku sendiri.
Aku menunduk.
Alya duduk di atas tempat tidur sambil memeluk boneka kelincinya.
Matanya masih merah.
“Bu….”
Aku duduk di sampingnya.
“Iya, Sayang?”
“Maaf Alya makan ayamnya.”
Dadaku terasa sesak.
Aku menariknya ke dalam pelukanku.
“Dengar Ibu.”
Aku mengecup keningnya.
“Jangan pernah minta maaf hanya karena kamu lapar.”
Alya diam cukup lama.
Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat hatiku hancur.
“Bu… kita pergi saja, ya?”
Aku menatapnya.
“Mau pergi ke mana?”
“Ke tempat yang Ayah nggak marah-marah.”
Aku mengusap rambutnya perlahan.
“Baik.”
Matanya membesar.
“Benarkah?”
“Iya.”
“Kita pergi ke mana?”
Aku tersenyum sambil menahan air mata.
“Ke tempat di mana Alya boleh makan paha ayam sebanyak yang Alya mau.”
Untuk pertama kalinya malam itu, senyum kecil muncul di wajahnya.
Namun beberapa detik kemudian dia bertanya,
“Ayah ikut?”
Aku terdiam.
“Kalau Alya boleh memilih, Alya mau Ayah ikut?”
Putriku menggeleng.
Kemudian wajahnya kembali bersembunyi di dadaku.
“Ayah cuma sayang Kak Dimas.”
Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada semua penghinaan yang pernah diberikan keluarga Arga kepadaku.
Karena kalimat itu keluar dari seorang anak berusia empat tahun.
Anak yang seharusnya belum mengerti apa itu pilih kasih.
Anak yang seharusnya merasa rumah adalah tempat paling aman di dunia.
Malam itu, setelah Alya tertidur, aku duduk sendirian di tepi tempat tidur.
Di luar kamar, mereka masih tertawa.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Seolah besok pagi aku akan kembali membuat sarapan.
Mengantar Dimas ke sekolah ketika Arga sibuk.
Mencuci seragamnya.
Membantu pekerjaan rumahnya.
Menyambut orang tua Arga ketika mereka datang tanpa memberi kabar.
Dan menunggu dengan patuh sampai Arga merasa aku sudah “berperilaku baik” lalu memasukkanku kembali ke grup keluarga.
Seperti dua puluh tujuh kali sebelumnya.
Tapi kali ini berbeda.
Aku mengambil ponsel.
Kubuka daftar kontak.
Kemudian aku mencari satu nama yang sudah lama tidak kuhubungi.
Seseorang yang pernah berkata kepadaku,
“Kalau suatu hari kamu benar-benar ingin keluar dari pernikahan itu, jangan pergi dengan tangan kosong. Telepon saya dulu.”
Jariku berhenti di atas tombol panggilan.
Aku menoleh kepada Alya yang sedang tidur.
Lalu aku menekannya.
Malam itu aku membuat keputusan.
Aku selesai memohon agar diterima oleh keluarga yang selama lima tahun terus membuktikan bahwa aku tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari mereka.
Dan Arga masih belum menyadari satu hal.
Untuk pertama kalinya, setelah dia mengeluarkanku dari grup WhatsApp keluarganya…
aku sama sekali tidak berniat meminta untuk dimasukkan kembali.
Kali ini, aku yang akan keluar.
Bukan dari grup.
Dari pernikahan kami.
Dan Arga belum tahu bahwa telepon yang baru saja kulakukan akan membuka sebuah rahasia tentang rumah yang kami tinggali, uang yang selama ini dia anggap miliknya, dan satu keputusan lama yang bisa membuat seluruh keluarganya menyesali cara mereka memperlakukanku.
BAGIAN 2
Orang yang kutelepon malam itu bernama Pak Bima Santoso.
Dia bukan teman.
Bukan saudara.
Dia adalah notaris yang menangani warisan mendiang ayahku enam tahun lalu.
Telepon baru berdering dua kali ketika suaranya terdengar.
“Bu Nadira?”
“Maaf menelepon malam-malam, Pak.”
“Tidak apa-apa. Ada masalah?”
Aku memandang Alya yang tertidur sambil memeluk boneka kelincinya.
Lalu aku mengatakan kalimat yang selama bertahun-tahun terlalu takut kuucapkan.
“Saya siap.”
Pak Bima terdiam.
“Siap untuk apa?”
“Keluar dari pernikahan ini.”
Keheningan berlangsung beberapa detik.
Kemudian suaranya berubah serius.
“Besok pagi datang ke kantor saya. Jangan menandatangani dokumen apa pun dari suami atau keluarganya sebelum kita bertemu.”
Aku mengernyit.
“Kenapa Bapak mengatakan itu?”
“Karena ada sesuatu yang seharusnya sudah saya jelaskan sejak lama.”
Dadaku berdebar.
“Sesuatu tentang apa?”
“Rumah yang sekarang kalian tempati.”
Aku menoleh ke arah pintu kamar.
Di luar, suara Arga dan keluarganya masih terdengar dari ponsel.
Mereka tertawa.
Aku menurunkan suara.
“Rumah ini kenapa?”
Pak Bima hanya menjawab,
“Besok pagi, Bu Nadira.”
Keesokan harinya, Arga bahkan tidak bertanya mengapa aku sudah berpakaian rapi sejak pukul tujuh.
Dia sedang sarapan bersama Dimas.
Alya duduk di sampingku dan tidak menyentuh ayam goreng yang ada di meja.
Aku melihatnya menatap makanan itu beberapa kali.
“Alya.”
Dia mendongak.
“Makan, Sayang.”
Dia melirik Dimas.
Aku tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Aku mengambil dua potong ayam, meletakkannya di piring Alya, lalu menuangkan sedikit kecap manis kesukaannya.
“Makan sampai kenyang.”
Dimas langsung protes.
“Itu ayam buat semua orang!”
Aku menatapnya.
“Masih ada enam potong.”
“Tapi aku mungkin mau tambah.”
“Kalau begitu ambil satu.”
Dia terdiam.
Arga meletakkan cangkir kopinya.
“Nadira, jangan mulai lagi pagi-pagi.”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya membantu Alya mengenakan tas kecilnya.
“Ke mana?” tanya Arga.
“Mengantar Alya.”
“Setelah itu?”
“Ada urusan.”
Dia tertawa pendek.
“Urusan apa?”
Aku menatapnya.
“Urusanku.”
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku pergi tanpa menjelaskan ke mana, dengan siapa, dan kapan aku akan pulang.
Ternyata rasanya seperti bisa bernapas lagi.
Kantor Pak Bima berada di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
Setelah mengantar Alya ke sekolah, aku langsung menuju ke sana.
Begitu masuk, Pak Bima sudah menungguku dengan sebuah map cokelat tebal.
Dia mempersilahkanku duduk.
“Bu Nadira, sebelum ayah Anda meninggal, beliau pernah meminta saya memastikan satu hal.”
“Apa?”
Pak Bima membuka map.
Dia mengeluarkan salinan sertifikat.
Aku mengenali alamatnya.
Alamat rumah kami.
Tanganku membeku.
“Ini…”
“Benar.”
Dia mendorong dokumen itu ke arahku.
“Rumah di Pondok Indah yang sekarang Anda tempati bersama Pak Arga bukan milik Pak Arga.”
Aku menatap nama pada dokumen.
Nadira Prameswari.
Namaku.
“Tapi Arga bilang rumah itu dibeli dari uang investasinya.”
Pak Bima menggeleng.
“Uang muka berasal dari dana warisan ayah Anda. Pembayaran berikutnya juga berasal dari rekening investasi yang dibentuk ayah Anda atas nama Anda.”
Aku merasa ruangan mendadak terlalu sunyi.
“Tapi selama ini cicilan—”
“Sudah lunas empat tahun lalu.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Lunas?”
“Ya.”
“Arga setiap bulan mengambil tiga puluh juta dari rekening bersama. Katanya untuk cicilan rumah.”
Pak Bima berhenti.
Sorot matanya berubah.
“Bu Nadira… tidak ada cicilan rumah selama empat tahun terakhir.”
Darahku seperti turun ke kaki.
Empat tahun.
Tiga puluh juta rupiah setiap bulan.
Aku mengambil ponsel dan membuka kalkulator.
Lebih dari Rp1,4 miliar.
“Ke mana uangnya?”
“Itu yang harus kita cari.”
Pak Bima lalu mengeluarkan dokumen lain.
“Ada satu hal lagi.”
Aku hampir takut bertanya.
“Apa?”
“Ayah Anda meninggalkan portofolio investasi untuk Anda. Nilainya sekarang sekitar Rp6,8 miliar.”
Aku sampai tidak langsung memahami angka itu.
“Enam… miliar?”
“Enam koma delapan.”
“Tapi Arga mengatakan investasi Ayah habis untuk membeli rumah.”
“Tidak.”
Pak Bima menatapku.
“Sebagian besar tidak pernah disentuh.”
Aku menutup mulut.
Ayahku.
Bahkan setelah meninggal, ternyata dia masih melindungiku.
Aku teringat percakapan terakhir kami sebelum aku menikah.
Ayah pernah berkata,
“Nadira, mencintai seseorang bukan berarti menyerahkan seluruh kunci hidupmu kepadanya.”
Waktu itu aku tertawa.
Aku mengira Ayah terlalu protektif.
Ternyata dia melihat sesuatu yang tidak kulihat.
Siang itu aku tidak langsung pulang.
Aku menemui pengacara keluarga yang direkomendasikan Pak Bima.
Namanya Maya Kusuma.
Kami memeriksa rekening bersama.
Lalu kami menemukan sesuatu.
Setiap bulan, uang yang Arga sebut “cicilan rumah” memang keluar.
Namun bukan menuju bank.
Uang itu ditransfer ke rekening lain.
Pemiliknya?
Rina Maharani.
Mantan istrinya.
Tanganku dingin.
Transfer itu berlangsung hampir empat tahun.
Jumlahnya berbeda-beda.
Rp20 juta.
Rp30 juta.
Kadang Rp45 juta.
Totalnya hampir Rp1,2 miliar.
“Kenapa dia mengirim uang sebanyak ini kepada mantan istrinya?” tanyaku.
Maya menggeleng.
“Kita belum tahu.”
Tapi aku tahu satu hal.
Aku tidak akan bertanya kepada Arga.
Belum.
Malamnya aku pulang seperti biasa.
Arga sedang duduk di sofa.
Wajahnya masam.
“Kamu dari mana?”
“Kantor.”
“Kantor siapa?”
Aku meletakkan tas.
“Kenapa?”
“Karena aku suamimu.”
Aku hampir tertawa.
Lima tahun aku harus meminta izin untuk merasa menjadi bagian keluarganya.
Tapi sekarang dia menuntut hak sebagai suami.
“Aku capek.”
Aku berjalan menuju kamar.
“Nadira.”
Aku berhenti.
“Besok Mama dan Papa datang. Rina juga datang.”
Aku berbalik.
“Untuk apa?”
“Menyelesaikan masalah ini.”
“Masalah apa?”
“Kamu.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Kemudian tersenyum.
“Bagus.”
Dia tampak bingung.
“Apa?”
“Aku bilang bagus. Undang semuanya.”
Arga tidak tahu bahwa aku juga sudah mengundang seseorang.
Keesokan malam, ruang tamu kami penuh.
Ibu Arga duduk di sofa utama.
Ayahnya di sampingnya.
Rina duduk dekat Dimas.
Arga berdiri seperti kepala keluarga yang hendak mengadili seseorang.
Alya duduk di sampingku.
“Nadira,” kata ibu mertuaku, “kami sudah cukup sabar.”
Aku hampir ingin bertanya sabar menghadapi apa.
Tapi kubiarkan dia bicara.
“Kamu menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Seharusnya kamu sadar tugasmu lebih berat.”
Rina tersenyum tipis.
“Aku tidak ingin ikut campur sebenarnya.”
Tentu saja.
“Tapi Dimas akhir-akhir ini sering cerita kalau dia merasa tidak nyaman di rumah.”
Aku menatap Dimas.
Dia menunduk.
Arga kemudian meletakkan sebuah map di meja.
“Aku sudah memikirkan semuanya.”
Aku melihat map itu.
“Apa ini?”
“Kalau kamu memang ingin bercerai, aku tidak akan menahanmu.”
Ibunya tersenyum puas.
“Tapi rumah tetap untuk Arga dan Dimas,” katanya.
Aku hampir tertawa.
Arga melanjutkan,
“Dan tabungan bersama kita bagi secara wajar.”
“Secara wajar?”
“Enam puluh persen untukku karena aku harus membiayai Dimas. Empat puluh persen untukmu dan Alya.”
Aku menatapnya.
“Lalu rumah?”
“Rumah milikku.”
“Yakin?”
Arga mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
Bel rumah berbunyi.
Aku berdiri.
“Sebentar.”
Ketika pintu kubuka, Pak Bima dan Maya berdiri di sana.
Wajah Arga langsung berubah.
“Siapa mereka?”
Aku mempersilakan keduanya masuk.
“Pak Bima, notaris keluarga ayahku.”
Lalu aku menunjuk Maya.
“Dan Bu Maya, pengacaraku.”
Ruangan mendadak sunyi.
Pak Bima meletakkan map di meja.
“Pak Arga, sebelum pembicaraan mengenai pembagian aset dilanjutkan, sebaiknya kita meluruskan status rumah ini.”
Arga tertawa gugup.
“Tidak perlu. Rumah ini milik saya.”
Pak Bima membuka sertifikat.
“Tidak.”
Dia memutar dokumen itu.
“Rumah ini tercatat atas nama Bu Nadira Prameswari.”
Wajah ibu mertuaku berubah.
Arga mengambil dokumen itu.
Matanya bergerak cepat membaca setiap baris.
“Ini tidak mungkin.”
“Dokumennya dapat diverifikasi,” jawab Pak Bima tenang.
“Rumah ini dibeli menggunakan dana warisan ayah Bu Nadira dan sudah lunas empat tahun lalu.”
Aku melihat wajah Arga.
Kemudian aku mengatakan kalimat yang sejak kemarin kusimpan.
“Jadi, Arga…”
Aku menatap matanya.
“Ke mana uang cicilan rumah yang kamu ambil dariku selama empat tahun?”
Wajahnya memucat.
Rina tiba-tiba berdiri.
“Aku pulang saja.”
“Duduk, Rina.”
Dia menatapku.
“Aku tidak punya urusan dengan ini.”
Aku mengeluarkan salinan rekening.
“Justru namamu ada di hampir setiap halaman.”
Ibu Arga merebut beberapa lembar.
Lalu wajahnya berubah.
“Rina?”
Arga langsung berkata,
“Aku bisa jelaskan.”
Aku menatapnya.
“Silakan.”
Dia diam.
Rina akhirnya menangis.
“Itu bukan seperti yang kalian pikirkan.”
“Lalu seperti apa?”
Rina menatap Dimas.
Dan saat itulah sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Dimas berdiri.
“Jangan marahi Mama!”
Semua orang menoleh.
Wajah anak itu merah.
“Uangnya buat aku!”
Aku membeku.
“Apa?”
Rina menutup wajah.
Arga duduk perlahan.
Ternyata setelah bercerai, Arga dan Rina membuat kesepakatan pribadi.
Arga merasa bersalah karena Dimas tumbuh dengan orang tua terpisah.
Jadi setiap bulan dia mengirim uang dalam jumlah besar kepada Rina untuk membayar sekolah, kursus, liburan, dan tabungan masa depan Dimas.
Masalahnya bukan bahwa Arga membantu anaknya.
Aku tidak akan pernah mempermasalahkan itu.
Masalahnya adalah dia berbohong kepadaku.
Dia mengambil uang dari rekening bersama dan menyebutnya cicilan rumah.
Sementara ketika Alya membutuhkan biaya terapi bicara selama beberapa bulan di usia tiga tahun, Arga pernah berkata,
“Kita harus hemat. Jangan terlalu memanjakan anak.”
Aku menatapnya.
“Jadi untuk Dimas kamu mengambil uang diam-diam.”
“Nadira—”
“Tapi ketika Alya butuh sesuatu, aku harus menjelaskan setiap rupiah?”
“Dia anakku.”
Ruangan membeku.
Arga sendiri baru menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya.
Aku menatap Alya.
Wajah kecilnya berubah.
“Kalau Alya apa?”
Tidak ada seorang pun bergerak.
Alya bertanya lagi,
“Alya bukan anak Ayah?”
Arga langsung berdiri.
“Bukan begitu, Sayang.”
Tapi Alya mundur dan memegang tanganku.
Saat itulah Dimas tiba-tiba menangis.
Bukan tangisan pura-pura.
Tangisan anak tiga belas tahun yang mendadak terlihat jauh lebih kecil.
“Aku yang salah.”
Rina menoleh.
“Dimas, diam.”
“Nggak!”
Dia menangis semakin keras.
“Aku yang selalu bilang ke Alya kalau Ayah lebih sayang aku.”
Aku terpaku.
Dimas menatapku.
“Aku juga yang bilang Nadira jahat.”
“Kenapa?” tanyaku.
Dia mengusap wajah.
“Karena Mama bilang kalau Nadira pergi… Mama mungkin bisa balik.”
Semua mata beralih kepada Rina.
Wajahnya pucat.
“Itu tidak benar.”
Dimas menggeleng.
“Mama bilang!”
Rina berdiri.
“Kamu salah mengerti.”
“Enggak!”
Dimas berteriak untuk pertama kalinya.
“Mama bilang kalau aku terus bilang aku nggak nyaman sama Nadira, Ayah bakal sadar keluarga asli Ayah itu kita!”
Keheningan yang jatuh setelahnya terasa mengerikan.
Aku menatap Rina.
Ternyata selama bertahun-tahun, anak itu bukan hanya dimanjakan.
Dia juga diberi harapan.
Harapan bahwa kalau aku cukup dibenci, keluarganya akan utuh kembali.
Aku marah.
Tapi saat melihat Dimas menangis, kemarahanku berubah menjadi sesuatu yang lain.
Kasihan.
Dia masih anak-anak.
Orang dewasa di sekelilingnya yang telah gagal.
Aku mendekatinya.
Dimas mundur.
Mungkin dia mengira aku akan memarahinya.
Aku hanya berkata,
“Dimas, lihat Tante.”
Untuk pertama kalinya, dia menurut.
“Aku tidak pernah mengambil ayahmu dari ibumu.”
Bibirnya bergetar.
“Pernikahan mereka sudah berakhir sebelum aku datang.”
Dia mulai menangis lagi.
“Aku minta maaf.”
Aku mengangguk perlahan.
“Aku dengar.”
Aku tidak mengatakan semuanya langsung baik-baik saja.
Karena tidak.
Luka tidak hilang hanya karena seseorang meminta maaf.
Kemudian aku menoleh kepada Arga.
“Besok aku dan Alya pindah sementara ke apartemen peninggalan Ayah.”
Arga panik.
“Nadira, kita bisa memperbaiki ini.”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
“Aku salah. Aku tahu.”
“Masalahnya bukan satu kesalahan.”
Aku menatapnya.
“Masalahnya adalah selama lima tahun kamu mengajariku bahwa cinta di rumah ini memiliki peringkat.”
Matanya memerah.
“Nadira…”
“Kamu membuat Dimas percaya bahwa dia harus bersaing untuk dicintai.”
Aku menggenggam tangan Alya.
“Dan kamu membuat anak perempuanmu sendiri percaya bahwa dia harus memuntahkan makanannya agar pantas berada di meja makan.”
Arga mulai menangis.
Aku belum pernah melihatnya menangis selama kami menikah.
Tapi anehnya, air matanya tidak lagi mengubah keputusanku.
Perceraian kami selesai beberapa bulan kemudian.
Aku tidak mengambil rumah itu dari Arga dengan cara mengusirnya malam itu.
Aku memberinya waktu untuk mencari tempat tinggal.
Namun rumah tersebut tetap menjadi milikku.
Dana yang diambil dari rekening bersama diperhitungkan dalam penyelesaian keuangan perceraian.
Rina juga akhirnya mengembalikan sebagian uang yang ternyata tidak pernah digunakan untuk kebutuhan Dimas.
Hubunganku dengan Arga berubah menjadi satu hal saja:
orang tua Alya.
Dia mulai mengikuti konseling keluarga.
Bukan untuk mendapatkan aku kembali.
Aku sudah menjelaskan bahwa pintu itu tertutup.
Tapi untuk belajar menjadi ayah yang lebih baik.
Dan kejutan terbesar justru datang dari Dimas.
Tiga bulan setelah aku pergi, bel apartemenku berbunyi.
Ketika kubuka, Dimas berdiri di sana bersama Arga.
Di tangannya ada kotak makanan.
“Aku boleh ketemu Alya?”
Aku menatap Arga.
Dia hanya berkata,
“Keputusan ada padamu.”
Aku membiarkan Dimas masuk.
Alya bersembunyi di belakang kakiku.
Dimas meletakkan kotak di meja.
Dia membukanya.
Di dalamnya ada delapan potong ayam goreng.
Dia mengambil paha ayam terbesar.
Kemudian meletakkannya di piring Alya.
“Ini buat kamu.”
Alya tidak langsung mengambilnya.
Dimas menunduk.
“Aku nggak akan minta balik.”
Aku harus memalingkan wajah karena mataku mulai panas.
Alya perlahan mengambil ayam itu.
Kemudian dia mematahkannya menjadi dua.
Setengah diberikan kepada Dimas.
“Kakak juga boleh.”
Dimas menangis.
Aku juga.
Bukan karena semuanya sudah sempurna.
Tapi karena untuk pertama kalinya, dua anak yang selama bertahun-tahun diajari orang dewasa untuk bersaing akhirnya memilih berbagi tanpa dipaksa.
Setahun kemudian, aku dan Alya kembali tinggal di rumah lama.
Tapi suasananya berbeda.
Tidak ada lagi grup keluarga yang menentukan apakah aku diterima atau tidak.
Tidak ada lagi seseorang yang mengancam akan “mengeluarkanku” setiap kali aku berani membela diri.
Suatu malam, aku menggoreng ayam.
Alya yang sekarang sudah lima tahun berlari ke meja makan.
“Bu! Alya mau paha dua!”
Aku tertawa.
“Ambil.”
Dia mengambil dua.
Kemudian berhenti.
“Yang satu buat Kak Dimas kalau besok datang.”
Aku tersenyum.
Hubungan mereka perlahan membaik.
Dimas tidak tinggal bersama kami.
Tapi sesekali dia datang menemui Alya.
Dia bahkan mulai memanggilku “Tante Nadira”, bukan “perempuan itu”.
Bagiku, itu sudah cukup.
Sebelum tidur malam itu, Alya tiba-tiba bertanya,
“Bu, Ibu masih sedih karena Ayah?”
Aku berpikir sebentar.
“Kadang-kadang.”
“Kenapa?”
“Karena Ibu pernah sangat menyayanginya.”
Alya memeluk pinggangku.
“Sekarang Ibu sayang siapa?”
Aku tersenyum.
“Ibu sayang Alya.”
“Terus?”
Aku menatap pantulan diriku di jendela.
Untuk bertahun-tahun, aku selalu menjawab pertanyaan itu dengan nama orang lain.
Ayah.
Suami.
Anak.
Keluarga.
Tapi malam itu jawabanku berbeda.
“Dan sekarang… Ibu juga belajar menyayangi diri Ibu sendiri.”
Alya tersenyum.
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang tidak akan pernah kulupakan.
“Bagus.”
“Kenapa?”
“Biar kalau semua orang keluarin Ibu dari grup… Ibu masih punya Ibu sendiri.”
Aku tertawa sambil menangis.
Aku memeluknya erat.
Dua puluh delapan kali Arga mengeluarkanku dari grup keluarganya.
Dulu setiap kali itu terjadi, aku selalu menunggu.
Menunggu dia memasukkanku kembali.
Menunggu seseorang meminta maaf.
Menunggu keluarga itu mengakui bahwa aku pantas berada di sana.
Pada kali kedua puluh delapan, akhirnya aku mengerti.
Aku tidak membutuhkan undangan untuk menjadi bagian dari keluarga yang terus menyakitiku.
Aku hanya membutuhkan keberanian untuk membangun keluarga yang lebih sehat.
Beberapa hari kemudian, sebuah notifikasi muncul di ponselku.
Arga menambahkan aku kembali ke grup WhatsApp keluarga.
Aku menatap layar cukup lama.
Nama-nama yang dulu begitu ingin menerimaku masih ada di sana.
Ibu Arga.
Ayah Arga.
Rina sudah tidak ada.
Dimas ada.
Arga ada.
Kemudian muncul pesan dari Arga.
“Aku tahu semuanya sudah terlambat. Aku cuma ingin kamu tahu bahwa tidak ada seorang pun yang akan mengeluarkanmu lagi.”
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Lalu tersenyum.
Bukan karena tersentuh.
Bukan karena ingin kembali.
Aku menekan menu pengaturan grup.
Dan untuk pertama kalinya selama lima tahun…
tidak ada seorang pun yang mengeluarkanku.
Aku keluar sendiri.
Aku meletakkan ponsel di meja.
Dari dapur terdengar suara Alya.
“Bu! Ayamnya matang!”
Aku berjalan menghampirinya.
Di meja ada sepiring besar ayam goreng.
Alya sudah mengambil satu paha.
Dia mengangkat satu lagi kepadaku.
“Ini buat Ibu.”
Aku duduk di sampingnya.
“Terima kasih.”
“Besok kita bikin lebih banyak buat Kak Dimas?”
Aku tersenyum.
“Boleh.”
Dan saat melihat putriku makan tanpa takut seseorang akan mengambil makanannya, aku akhirnya memahami sesuatu.
Perceraian bukanlah akhir dari keluargaku.
Itu adalah akhir dari sebuah rumah di mana cinta selalu harus diperebutkan.
Keluargaku tidak hancur ketika aku pergi.
Keluargaku justru mulai sembuh pada hari aku akhirnya berani pergi.
