BAGIAN 2
Aku menaruh Nara ke ranjang bayi di samping tempat tidur sebelum mengambil dokumen dari tangan Ayah.
Tanganku sedikit gemetar, bukan karena aku ingin menangis.
Aku sedang berusaha membaca setiap baris tanpa membiarkan Dimas mengalihkan pembicaraan.
“Ini bukan tanda tanganku.”
Dimas langsung berkata, “Belum ada yang diproses.”
Aku menunjuk halaman itu.
“Aku tidak tanya sudah diproses atau belum.”
“Mira, dengar dulu.”
“Siapa yang tanda tangan?”
Ayah menarik kursi, tetapi tidak ikut bicara.
Dimas menatap ke arah pintu.
“Aku cuma minta staf bikin contoh berkas.”
“Contoh berkas pakai tanda tanganku?”
“Supaya bank bisa lihat bentuk permohonannya.”
Aku hampir tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena alasan itu terlalu buruk.
“Dan survei rumah dua minggu lalu?”
“Itu juga belum berarti apa-apa.”
Aku menoleh kepada Ayah.
“Ayah dapat ini dari mana?”
“Arman.”

Nama adikku membuatku makin bingung.
Menurut Dimas, Arman yang membukakan rumah untuk petugas bank.
Sekarang Ayah bilang Arman pula yang memberikan dokumen ini.
“Aku mau bicara sama Arman.”
Dimas segera berkata, “Tidak perlu bikin semua orang panik.”
Aku menatapnya.
“Kenapa kamu yang menentukan siapa boleh panik?”
Ayah akhirnya bicara.
“Arman tidak tahu dari awal.”
Dimas mendecakkan lidah.
Ayah melanjutkan, “Dia baru tahu waktu Dimas minta kunci rumah dengan alasan mau cek kebocoran atap.”
Aku menoleh cepat.
Dimas tampak kesal.
Bukan malu.
Kesal.
“Pak, Arman juga sudah setuju rumah itu jangan dibiarkan kosong.”
“Setuju dipakai bukan berarti setuju dijaminkan,” jawab Ayah.
Baru saat itu aku mengerti kenapa beberapa minggu terakhir Arman meneleponku dua kali hanya untuk menanyakan kapan aku pulang ke Cimahi.
Ia tidak berani bicara lewat telepon.
Mungkin karena sungkan.
Mungkin karena ia takut menjadi orang yang dianggap merusak rumah tangga kakaknya.
Kesalahan yang sangat khas keluarga kami.
Kami semua lebih takut membuat suasana tidak enak daripada mengatakan bahwa sesuatu memang tidak benar.
Aku menelepon Arman.
Ia mengangkat pada dering kedua.
“Mbak?”
“Kamu bukakan rumah untuk orang bank?”
Di seberang sana hening.
Lalu ia mengembuskan napas.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Mas Dimas bilang mau survei untuk renovasi.”
Dimas menyela cukup keras agar terdengar.
“Aku tidak pernah bilang renovasi.”
Arman langsung menjawab dari telepon, “Mas bilang kalau rumah mau disewakan lebih baik diperbaiki dulu dan mungkin ada pembiayaan.”
Aku memejamkan mata.
Satu kebenaran baru muncul.
Tapi belum yang terbesar.
“Terus kamu tahu dari mana ini soal agunan?”
“Petugasnya ninggalin kartu nama. Aku telepon besoknya karena curiga.”
Aku menelan ludah.
“Kenapa kamu tidak langsung bilang?”
Suara Arman mengecil.
“Karena Ayah minta jangan kasih tahu kamu sebelum melahirkan.”
Aku menoleh kepada Ayah.
Ia menunduk.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, kemarahanku berpindah arah.
“Ayah menyembunyikan ini?”
“Ayah takut kamu stres.”
“Aku bukan anak kecil.”
“Ayah tahu.”
“Tidak. Kalau Ayah tahu, Ayah pasti bilang.”
Ayah tidak membela diri.
Itulah yang membuatku sulit terus marah padanya.
“Ayah salah,” katanya. “Ayah pikir menunda dua minggu tidak akan mengubah apa-apa.”
Tapi ternyata banyak yang berubah dalam dua minggu.
Sore itu, setelah Dimas pulang dengan alasan menjemput Kirana dan Rafi, Ayah menyerahkan satu dokumen lagi.
Bukan dari bank.
Dari sebuah koperasi simpan pinjam tempat usaha Dimas pernah mengajukan pembiayaan.
Permohonan itu ditolak.
Alasannya sederhana.
Jaminan belum dapat dibuktikan berada di bawah kewenangan pemohon.
Aku membaca jumlah yang diminta.
Rp480 juta.
Bukan Rp300 juta.
“Ayah dapat ini juga dari Arman?”
Ayah menggeleng.
“Dari orang lain.”
Aku langsung curiga pada cerita penyelamat yang terlalu kebetulan.
Ayah tahu.
“Bukan kenalan Ayah,” katanya. “Surat ini ada di kotak surat rumah Cimahi. Ditujukan ke alamat rumah karena Dimas memasukkannya sebagai alamat korespondensi.”
Aku memandang amplopnya.
Ada bekas dilipat dua.
Nama penerimanya:
Dimas Prasetyo.
Menggunakan alamat rumah ibuku.
Aku membuka halaman terakhir.
Di bagian tujuan pembiayaan tertulis:
pengambilalihan kewajiban usaha dan restrukturisasi utang berjalan.
Bukan membeli mesin.
Bukan memperluas percetakan.
Utang berjalan.
Aku segera membuka mobile banking dan memeriksa rekening bersama yang selama ini dipakai untuk biaya rumah tangga.
Tiga bulan terakhir, Dimas beberapa kali mentransfer uang dari rekening itu ke rekening usaha.
Rp12 juta.
Rp18 juta.
Rp9,5 juta.
Total lebih dari Rp60 juta.
Tanpa pernah membicarakannya denganku.
Lalu aku melihat satu transaksi yang membuat semua asumsi sebelumnya berubah.
Rp35 juta masuk dari rekening atas nama Arman Wibowo.
Aku menatap Ayah.
“Arman kasih uang ke Dimas?”
Ayah terlihat sama terkejutnya.
Aku langsung menelepon adikku lagi.
Kali ini aku hanya bertanya satu kalimat.
“Man, kenapa kamu transfer Rp35 juta ke Dimas?”
Ia diam lama.
Lalu suaranya pecah.
“Mbak, aku pinjam dari Mas Dimas tahun lalu.”
Aku mengernyit.
“Untuk apa?”
“Bengkel.”
“Jadi itu cicilan kamu?”
“Bukan.”
Ia menarik napas.
“Itu pengembalian terakhir.”
Aku merasa seperti sedang melihat gambar yang perlahan dibalik.
Dimas tidak hanya punya utang.
Ia juga pernah punya uang cukup banyak untuk meminjami Arman.
“Kamu pinjam berapa?”
“Rp180 juta.”
“Dari mana Dimas punya Rp180 juta?”
Arman tidak menjawab.
Ayah berdiri dari kursi.
Aku menatap layar ponsel.
“Arman.”
Akhirnya ia berkata pelan,
“Mbak, aku kira kamu tahu.”
“Tahu apa?”
“Mas Dimas bilang uang itu berasal dari tabungan pendidikan Kirana dan Rafi. Katanya kalian sepakat memutarnya sebentar supaya dapat tambahan hasil.”
Aku tidak langsung menjawab.
Karena tabungan pendidikan anak-anak kami seharusnya masih berisi hampir Rp240 juta.
Dan sudah hampir satu tahun aku tidak pernah melihat mutasinya.
Saat itu aku tidak lagi bertanya apakah Dimas sedang mencoba memakai rumah Ibu. Pertanyaannya berubah: sudah berapa banyak keputusan keuangan keluargaku yang dibuat tanpa sepengetahuanku?
BAGIAN 3
Aku meminta Ayah mengambil tas tanganku dari lemari.
“Ayah mau apa?” tanyanya.
“Laptopku.”
“Kamu baru tiga hari operasi.”
“Aku tidak mau lari ke mana-mana. Aku cuma mau lihat rekening.”
Ayah menatapku sebentar, lalu menyerahkan tas itu.
Aku membuka laptop sambil bersandar pada dua bantal.
Rekening tabungan pendidikan Kirana dan Rafi bukan rekening bersama biasa. Kami membukanya tujuh tahun sebelumnya, setelah Kirana masuk TK. Sebagian uang berasal dari penghasilanku sebagai desainer interior lepas sebelum aku mengurangi pekerjaan, sebagian dari bonus Dimas, sebagian lagi dari uang yang setiap tahun diberikan Ibu saat Lebaran.
Dimas biasanya yang mengurus deposito karena ia selalu lebih rajin membandingkan bunga.
Aku tidak pernah merasa perlu mencurigainya.
Itulah hal paling menyakitkan dari pengkhianatan keuangan.
Bukan hanya angka yang hilang.
Kita dipaksa memeriksa kembali semua momen ketika kita pernah berkata, “Aku percaya sama kamu.”
Aku masuk ke akun.
Saldo yang muncul membuatku mengira aku salah membuka rekening.
Rp41.870.000.
Aku menyegarkan halaman.
Angkanya tetap sama.
Aku membuka riwayat transaksi.
Setahun sebelumnya, ada pencairan deposito Rp200 juta.
Sebagian dipindahkan ke rekening usaha.
Sebagian lagi keluar ke rekening lain yang tidak kukenal.
Ada transfer Rp180 juta pada bulan yang sama Arman meminjam modal.
Aku menyandarkan kepala ke bantal.
Ayah tidak bertanya berapa yang tersisa.
Ia hanya melihat wajahku.
“Banyak?”
“Lebih dari yang kubayangkan.”
Aku menelepon Dimas.
Ia tidak mengangkat.
Aku menelepon lagi.
Kali ini ditolak.
Sepuluh menit kemudian, pesan WhatsApp masuk.
Aku lagi sama anak-anak. Jangan bahas ini lewat telepon. Kita omongin kalau kamu sudah pulang.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Lalu membalas:
Bawa Kirana dan Rafi ke rumah Ayah malam ini. Kamu pulang sendiri ke Bandung. Besok kita bicara.
Balasannya cepat.
Jangan lebay. Anak-anak tidak perlu dilibatkan.
Aku mengetik:
Mereka tidak dilibatkan. Mereka dijauhkan dari pertengkaran kita. Itu berbeda.
Ia tidak membalas lagi.
Malam itu, setelah anak-anak datang dan memelukku bergantian, aku tidak membicarakan apa pun di depan mereka.
Kirana membawa gambar buatan Rafi untuk Nara.
Rafi bertanya apakah adiknya boleh dibawa pulang besok.
Aku tersenyum dan menjawab seperti ibu biasa.
Tapi ketika lampu kamar diredupkan, pikiranku terus bekerja.
Dimas pernah bilang percetakannya mulai kesulitan delapan bulan lalu.
Namun deposito anak-anak dicairkan hampir setahun sebelumnya.
Berarti masalahnya sudah ada lebih lama.
Atau uang itu bukan awal dari masalah.
Aku mengambil buku catatan di meja samping ranjang dan menulis angka.
Rp200 juta deposito.
Rp180 juta ke Arman.
Rp60 juta lebih dari rekening rumah tangga.
Permohonan pembiayaan Rp480 juta.
Rencana menggunakan rumah Cimahi.
Angka-angka itu tidak membentuk masalah likuiditas biasa.
Mereka membentuk lubang.
Pertanyaannya, seberapa dalam?
Keesokan paginya dokter memperbolehkanku pulang dengan syarat banyak istirahat.
Aku, Ayah, Nara, dan kedua anakku pergi ke Cimahi.
Dimas tidak ikut.
Ia mengirim pesan mengatakan ada urusan kantor.
Rumah orang tuaku masih sama.
Cat dinding teras mulai kusam. Pot tanaman Ibu masih berjajar di sudut. Sandal Ayah terletak miring di dekat pintu.
Aku pernah merasa rumah itu terlalu penuh kenangan untuk kutinggali.
Hari itu, untuk pertama kalinya, aku melihatnya sebagai sesuatu yang hampir hilang sebelum sempat kuputuskan apa pun.
Arman datang siang hari membawa nasi bungkus.
Wajahnya berubah ketika melihatku berjalan pelan sambil memegang perut.
“Mbak harusnya istirahat.”
“Aku akan istirahat setelah kita bicara.”
Ia mengangguk.
Kami duduk di meja makan setelah anak-anak masuk kamar belakang menonton televisi.
Ayah menuangkan teh.
Tidak ada yang langsung menyentuh makanan.
Aku menatap Arman.
“Ceritakan semuanya soal Rp180 juta.”
Ia mengusap kedua telapak tangannya.
“Aku pinjam sekitar sebelas bulan lalu.”
“Kenapa ke Dimas?”
“Karena waktu itu bank tidak mau kasih tambahan modal. Bengkelku baru jalan dua tahun. Agunan juga nggak cukup.”
“Kenapa tidak bilang ke aku?”
Ia menatap meja.
“Karena aku malu.”
Aku hampir menyahut, tetapi menahan diri.
Arman melanjutkan.
“Dimas bilang ada dana yang bisa diputar. Katanya kalian memang suka menaruh uang di tempat yang hasilnya lebih bagus.”
“Dia bilang itu tabungan pendidikan anak-anak.”
“Iya.”
“Dan kamu tetap ambil?”
Arman menelan ludah.
“Itu salahku.”
Ayah hendak bicara, tapi aku mengangkat tangan.
Aku belum selesai.
“Kamu transfer balik Rp35 juta tiga bulan lalu.”
“Iya.”
“Total sudah berapa yang kamu kembalikan?”
“Rp165 juta.”
Aku mengernyit.
“Berarti tinggal Rp15 juta.”
Arman mengangguk.
“Harusnya sudah selesai bulan depan.”
“Uangnya masuk ke mana?”
“Rekening Dimas. Dia yang minta.”
Aku membuka catatan.
“Bukan ke rekening pendidikan.”
“Bukan.”
“Kenapa?”
“Katanya lebih gampang dia yang masukkan lagi.”
Aku tertawa kecil tanpa humor.
“Dan kamu percaya?”
Arman menatapku.
“Mbak juga percaya sama dia.”
Kalimat itu menusuk karena benar.
Aku tidak marah kepada Arman setelah itu.
Setidaknya tidak sebesar sebelumnya.
Ia salah mengambil uang yang seharusnya untuk keponakannya, walaupun menganggapnya pinjaman yang disetujui kami berdua.
Tapi ia bukan orang yang membuat keputusan di belakangku.
“Kenapa kemudian kamu bantu Dimas buka rumah untuk survei?”
“Dia datang sendiri. Bilang kalian mau merenovasi rumah ini supaya bisa dikontrakkan.”
“Kenapa kamu curiga?”
Arman menatap Ayah sebentar.
“Petugas yang datang minta foto sertifikat.”
Aku merasakan tengkukku menegang.
“Ada yang kasih?”
“Nggak. Sertifikat dipegang Ayah.”
Ayah mengangguk.
“Dia pernah minta?”
Aku bertanya kepada Ayah.
Ayah menatap cangkirnya.
“Dimas pernah bertanya bulan lalu apakah lebih aman kalau sertifikat disimpan di bank.”
Aku menutup mata sebentar.
Manh-manh kecil itu sekarang terhubung.
Pertanyaan tentang sertifikat.
Survei rumah.
Surat kuasa.
Permohonan koperasi.
Semua sudah berjalan sebelum aku masuk rumah sakit.
Aku mengambil ponsel.
“Aku mau ketemu Dimas malam ini.”
Ayah menggeleng.
“Kamu belum kuat.”
“Aku tidak mau menunggu seminggu sampai dia punya waktu menyusun cerita.”
“Kamu mau dia datang ke sini?”
“Iya.”
Arman langsung berkata, “Aku ikut duduk.”
Aku menatapnya.
“Tidak dari awal.”
“Mbak.”
“Ini tetap pernikahanku.”
Ia terlihat tidak suka, tetapi mengangguk.
Aku mengirim pesan kepada Dimas.
Datang ke rumah Ayah jam tujuh. Kita perlu membahas rekening anak-anak, usaha, dan rumah ini. Aku sudah melihat semuanya yang aku punya. Kalau ada penjelasan, bawa dokumennya.
Ia menelepon tiga menit kemudian.
Aku angkat.
“Kamu kenapa bikin ini seperti sidang?” katanya tanpa salam.
“Aku minta penjelasan.”
“Aku sudah bilang tunggu kamu pulang.”
“Aku sudah pulang.”
“Ke rumah Ayah, bukan rumah kita.”
“Karena di rumah Ayah ada dua anak kita dan bayi yang baru lahir. Aku tidak mau bertengkar di depan mereka.”
“Kamu ngajak Arman juga?”
“Kalau perlu.”
Ia diam.
Lalu berkata, “Kamu sadar nggak semua yang aku lakukan itu buat keluarga?”
“Datang jam tujuh.”
“Mira.”
“Aku tidak akan bahas lewat telepon.”
Aku mematikan sambungan.
Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku tidak merasa bersalah setelah memutus percakapan.
Dimas datang pukul tujuh lewat dua puluh.
Ia masih mengenakan kemeja kerja.
Membawa tas laptop.
Tidak membawa dokumen.
Begitu masuk ruang tamu, matanya langsung melihat Ayah dan Arman.
“Aku kira kita bicara berdua.”
Aku duduk di kursi dekat jendela.
“Ayah tinggal di sini. Arman cuma sebentar.”
Dimas memandang adikku.
“Kamu puas sekarang?”
Arman langsung berdiri.
“Mas, jangan mulai.”
Aku berkata, “Duduk.”
Mungkin karena suaraku lebih dingin dari biasanya, keduanya berhenti.
Aku menaruh beberapa lembar cetakan transaksi di meja.
“Saldo tabungan anak-anak tinggal Rp41 juta.”
Dimas membuka mulut.
Aku mengangkat tangan.
“Jangan jelaskan dulu. Aku mau tanya satu-satu.”
Ia menyandarkan punggung.
“Silakan.”
“Kenapa deposito Rp200 juta dicairkan tanpa bilang aku?”
“Karena waktu itu ada kesempatan.”
“Kesempatan apa?”
“Memutar modal.”
“Ke bengkel Arman?”
“Sebagian.”
“Sebagian lain?”
“Ke usaha.”
“Berapa?”
“Tidak ingat persis.”
Aku mendorong kertas ke arahnya.
“Aku sudah ingatkan dengan cetakan.”
Ia melirik.
“Ya mungkin sekitar dua puluh atau tiga puluh.”
“Rp20 juta atau Rp30 juta?”
“Mira, satu tahun lalu. Aku nggak hafal.”
Aku menunjuk baris lain.
“Rp55 juta.”
Ia terdiam.
“Lalu pembayaran Arman masuk ke rekeningmu. Total Rp165 juta sampai sekarang. Kenapa tidak dikembalikan ke tabungan?”
Dimas menghela napas.
“Karena usaha butuh uang.”
“Berapa utang usaha sekarang?”
Ia tidak menjawab.
“Dimas.”
“Utang usaha itu normal.”
“Berapa?”
“Kurang lebih Rp350 juta.”
Aku menatapnya.
“Kurang lebih?”
“Ya sekitar itu.”
Aku mengeluarkan surat koperasi.
“Kalau utang cuma Rp350 juta, kenapa kamu minta pembiayaan Rp480 juta?”
Wajahnya berubah.
Bukan terkejut melihat surat.
Ia tahu surat itu ada.
Yang mengejutkannya adalah aku memilikinya.
“Kamu buka suratku?”
“Surat itu dikirim ke rumah yang bukan rumahmu.”
“Alamat administratif.”
“Tanpa izinku.”
Ayah masih diam.
Arman berdiri dekat pintu.
Dimas menunjuk surat.
“Itu proposal. Belum tentu diambil semua.”
“Untuk restrukturisasi utang berjalan.”
“Benar.”
“Utang apa?”
Ia mengusap wajah.
“Kertas, tinta, cicilan mesin.”
“Berapa?”
“Mira, jangan fokus angka terus.”
Aku menatapnya.
“Masalah kita justru karena sebelas tahun aku tidak cukup fokus pada angka.”
Ia terdiam.
Aku mengulang pertanyaan.
“Berapa total utangmu?”
Dimas melihat ke arah Ayah.
“Aku nggak nyaman ngomong beginian di depan orang tua.”
Ayah akhirnya bicara.
“Kalau kamu tidak nyaman, saya bisa masuk kamar.”
Aku berkata, “Tidak perlu.”
Dimas menatapku tajam.
“Jadi sekarang semua harus tahu masalah rumah tangga kita?”
Aku menggeleng pelan.
“Ini bukan soal semua orang tahu. Ini soal kamu memakai alamat rumah Ayah, meminta Arman membuka pintu untuk survei, dan menyiapkan surat atas namaku. Mereka sudah dilibatkan oleh tindakanmu, bukan oleh pertanyaanku.”
Ia tidak punya jawaban untuk itu.
Beberapa detik kemudian, ia membuka tas laptop.
“Baik.”
Ia menyalakan komputer.
“Kalau kamu mau angka, kita lihat angka.”
Aku memperhatikan jarinya.
Untuk pertama kali malam itu, Dimas terlihat lelah.
Bukan marah.
Lelah.
Ia membuka file spreadsheet.
Ada daftar utang.
Vendor kertas.
Cicilan mesin.
Kartu kredit bisnis.
Pinjaman pribadi.
Pinjaman aplikasi pembiayaan usaha.
Totalnya bukan Rp350 juta.
Bukan Rp480 juta.
Rp712 juta.
Aku membaca angka terakhir tiga kali.
Ayah memalingkan wajah.
Arman mengumpat pelan.
Aku hanya bertanya, “Sejak kapan?”
“Dua tahun.”
“Sejak Ibu meninggal?”
Dimas tidak menjawab.
“Kapan tepatnya?”
“Beberapa bulan sebelum itu.”
Aku mencoba mengingat.
Dua tahun lalu, Ibu sakit.
Aku bolak-balik Bandung-Cimahi.
Dimas sering bilang ia akan mengurus rumah.
Saat itu aku justru merasa bersyukur memiliki suami yang tidak banyak menuntut ketika keluargaku sedang kesulitan.
Ternyata dalam masa yang sama, usahanya mulai runtuh.
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Aku sudah coba memperbaiki.”
“Dengan uang anak-anak?”
“Aku kira cuma sebentar.”
“Dengan uang Arman yang dia kembalikan?”
“Usaha harus tetap jalan.”
“Dengan rumah Ibu?”
Ia menepuk meja.
“Karena aku tidak punya pilihan!”
Suara dari kamar belakang berhenti sesaat.
Aku menoleh ke lorong.
Ayah berdiri dan berjalan menutup pintu ruang tamu.
Ketika kembali, ia berkata, “Pelankan suara. Anak-anak ada di belakang.”
Dimas menatap lantai.
Aku menunggu sampai napasku lebih tenang.
“Kamu punya pilihan.”
Ia tertawa pendek.
“Apa? Tutup usaha? Pecat enam orang? Bilang ke semua orang aku gagal?”
Akhirnya.
Bukan angka.
Bukan bank.
Bukan mesin.
Itulah ketakutannya.
Gagal.
Aku berkata, “Jadi kamu lebih memilih membuatku tidak tahu.”
“Aku mau menyelesaikan sendiri.”
“Kamu hampir menjaminkan rumah keluargaku.”
“Karena nilainya cukup untuk merapikan semua.”
“Rumah itu bukan alat untuk merapikan harga dirimu.”
Wajahnya memerah.
“Kamu gampang bicara karena dari dulu kalau ada masalah selalu ada orang tuamu.”
Aku menatapnya.
Kalimat itu membuka luka lain.
“Jelaskan.”
Dimas bersandar.
“Rumah ini dari orang tuamu. Dulu uang muka rumah kita juga dibantu ibumu. Waktu Kirana lahir, bapakmu yang bayar sebagian biaya rumah sakit. Kalau aku gagal sedikit saja, semua orang lihat aku seperti laki-laki yang hidup dari keluarga istri.”
Ayah mengernyit.
“Siapa yang pernah bilang begitu?”
“Tidak perlu ada yang bilang.”
Aku mengerti.
Dimas tidak sedang melawan kami.
Ia melawan gambaran tentang dirinya sendiri.
Sayangnya, kami semua ikut membayar pertarungan itu.
Aku berkata, “Kalau kamu takut dianggap gagal, kenapa solusinya mengambil keputusan diam-diam?”
“Aku tidak mengambil rumahmu.”
“Belum.”
“Aku cuma mencoba dapat pinjaman.”
“Dengan tanda tanganku.”
“Itu bukan tanda tangan resmi.”
“Bentuknya dibuat menyerupai tanda tanganku.”
“Staf administrasi yang buat.”
Aku menatapnya lama.
“Jangan lempar stafmu ke depan.”
Ia menutup mulut.
Aku melanjutkan.
“Kamu memberikan contoh tanda tanganku kepada orang lain?”
“Untuk draft.”
“Tanpa izin?”
Ia tidak menjawab.
Ayah berkata pelan, “Dimas, itu bukan hal kecil.”
Dimas menoleh tajam.
“Pak, saya tahu.”
“Kalau tahu, jangan sebut draft seolah masalahnya selesai.”
Aku melihat tangan Dimas mengepal.
Tapi beberapa detik kemudian dilepaskan lagi.
“Aku cuma butuh waktu,” katanya kepadaku.
“Waktu untuk apa?”
“Jual salah satu mesin. Tutup sebagian utang. Cari investor.”
“Dan kalau gagal?”
Ia tidak menjawab.
“Rumah ini jadi jaminan?”
“Kalau kamu setuju.”
“Setelah semua langkah awal kamu kerjakan tanpa persetujuanku?”
“Aku pikir kalau kamu lihat rencananya lengkap, kamu akan mengerti.”
Kalimat itu membuatku lebih sedih daripada marah.
“Jadi kamu tidak ingin meminta persetujuanku. Kamu ingin membuat situasi sampai aku merasa tidak punya pilihan selain setuju.”
Ia membalas, “Aku suamimu, Mir.”
“Aku tahu.”
“Kita keluarga.”
“Justru karena kita keluarga, kamu seharusnya bicara sebelum mengambil uang pendidikan anak-anak.”
“Aku juga ayah mereka.”
“Menjadi ayah bukan berarti kamu boleh mengambil keputusan sendiri.”
“Aku mencoba menjaga semuanya tetap berdiri!”
“Dengan membuat aku tidak tahu lantainya sudah retak?”
Dimas terdiam.
Arman memandangku.
Ayah menatap cangkir yang tidak lagi beruap.
Aku mengambil napas perlahan karena bekas operasi kembali terasa sakit.
“Mulai malam ini,” kataku, “aku memisahkan seluruh rekening rumah tangga dari rekening usahamu.”
Dimas menatapku.
“Maksudmu?”
“Gajimu boleh masuk ke rekening bersama sesuai kebutuhan rumah. Penghasilanku masuk rekeningku. Tidak ada lagi akses usaha ke rekening keluarga.”
“Kamu nggak bisa sepihak begitu.”
“Aku bisa menghentikan akses ke uang atas namaku.”
“Kita menikah.”
“Menikah bukan berarti semua batas hilang.”
Ia berdiri.
“Terus usaha?”
“Itu pertanyaan yang harus kamu jawab.”
“Jadi kamu membiarkan enam karyawan kehilangan kerja?”
Ada masa ketika kalimat itu akan membuatku langsung goyah.
Aku akan memikirkan anak-anak mereka.
Aku akan merasa egois.
Aku akan mencari uang lagi.
Malam itu aku bertanya balik.
“Kenapa gaji enam karyawan menjadi alasan aku harus menjaminkan rumah ibuku?”
Dimas membuka mulut.
Tidak ada jawaban.
Aku melanjutkan.
“Besok kamu buat daftar semua utang lengkap. Yang atas nama usaha, yang atas nama pribadi, semuanya. Kita cari mana aset usaha yang bisa dijual, mana cicilan yang bisa dinegosiasikan. Aku akan membantu menyusun rencana karena kita masih menikah.”
Wajahnya sedikit melunak.
Lalu aku menambahkan, “Tapi rumah Cimahi tidak masuk.”
Ekspresinya kembali keras.
“Kalau tanpa rumah ini, kita mungkin nggak bisa selamatkan usaha.”
“Kalau begitu usahanya yang mengecil.”
“Kamu gampang sekali bilang.”
“Tidak gampang.”
Aku menunjuk bayi kami yang tidur dalam boks portabel dekat sofa.
“Aku baru melahirkan tiga hari lalu. Aku baru tahu tabungan dua anak kita hampir habis. Rumah peninggalan Ibu hampir masuk pengajuan pinjaman. Dan aku sedang duduk menjelaskan pada suamiku bahwa keluarganya lebih penting daripada gengsinya. Tidak ada bagian dari ini yang gampang.”
Ia menatap Nara.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya benar-benar runtuh.
Bukan menangis.
Tapi bahunya turun.
“Aku nggak mau kalian tahu aku gagal,” katanya.
Aku menjawab pelan, “Sekarang kami tahu kamu berutang. Itu belum tentu membuatmu gagal.”
Ia menatapku.
“Yang membuatku hampir tidak bisa percaya lagi adalah semua yang kamu sembunyikan.”
Tidak ada yang bicara setelah itu.
Beberapa menit kemudian Dimas menutup laptop.
“Aku pulang.”
Aku tidak menahannya.
Di pintu, ia berhenti.
“Kamu ikut pulang ke Bandung kapan?”
Aku memandang bayi.
“Belum tahu.”
Ia mengangguk kecil.
Lalu pergi.
Tiga hari berikutnya, aku tinggal di rumah Ayah.
Dimas mengirim daftar utang.
Kali ini lengkap.
Aku memeriksanya satu per satu.
Ada kesalahan bisnis.
Ada keputusan buruk.
Ada cicilan yang diambil untuk menutup cicilan lain.
Ada dua klien yang belum membayar total Rp96 juta.
Ada satu mesin tua yang masih punya nilai jual.
Tidak ada perjudian.
Tidak ada perempuan lain.
Tidak ada kehidupan rahasia yang glamor.
Hanya seorang laki-laki yang terlalu takut mengakui usahanya mengecil, lalu menutup satu lubang dengan lubang lain sampai seluruh tanah di bawah kakinya rapuh.
Kenyataan itu tidak membuat tindakannya benar.
Tapi membuatku tahu masalah apa yang benar-benar sedang kuhadapi.
Seminggu kemudian, aku menghubungi bank untuk memastikan tidak ada proses menggunakan rumah Cimahi yang bisa dilanjutkan tanpa dokumen asli dan persetujuanku.
Ayah menyimpan sertifikat di safe deposit box atas namanya sementara urusan balik nama yang sudah direncanakan sebelumnya kami lanjutkan dengan tertib.
Bukan karena aku takut Dimas mencurinya malam-malam.
Aku tidak ingin hidup seperti itu.
Aku hanya tidak mau lagi mengandalkan “nanti kita bicara” untuk hal-hal yang seharusnya jelas.
Arman datang membawa Rp15 juta, sisa pinjamannya.
Ia meletakkannya di meja.
“Mbak, ini terakhir.”
Aku menatap amplop itu.
“Simpan bukti transfer saja. Masukkan langsung ke rekening pendidikan Kirana dan Rafi.”
Ia mengangguk.
Sebelum pulang, ia berhenti di teras.
“Mbak masih marah sama aku?”
“Masih sedikit.”
Ia tersenyum kecut.
“Pantas.”
“Tapi aku juga tahu kamu pikir aku sudah setuju.”
“Aku harusnya tanya langsung.”
“Iya.”
Ia menggaruk tengkuk.
“Aku sungkan.”
Aku hampir tertawa.
“Lihat akibat kita semua kebanyakan sungkan.”
Ia ikut tertawa pelan.
Itu bukan rekonsiliasi dramatis.
Tapi cukup.
Dua minggu setelah Nara lahir, aku kembali ke Bandung.
Dimas sudah pindah sementara ke kamar kerja.
Bukan karena aku mengusirnya.
Aku yang meminta jarak.
Kami tetap mengantar Kirana ke sekolah bergantian. Tetap makan malam bersama anak-anak jika suasana memungkinkan. Tapi untuk pertama kalinya, kami tidak berpura-pura keadaan normal hanya demi terlihat seperti keluarga baik-baik.
Pada malam ketiga setelah aku pulang, Dimas datang ke meja makan membawa map.
Aku langsung melihatnya.
Map biru yang sama.
Ia meletakkannya di depanku.
“Aku buang semuanya yang berkaitan sama rumah Cimahi.”
Aku membuka.
Ada surat pembatalan proses awal.
Ada email bank yang dicetak.
Ada catatan permintaan agar data alamat rumah Cimahi tidak lagi dipakai sebagai alamat korespondensi usaha.
Aku membaca semuanya.
“Kenapa dicetak?”
“Biar kamu punya.”
Aku mengangguk.
Ia duduk.
“Aku juga jual mesin lama.”
“Berapa?”
“Rp87 juta.”
“Utangnya?”
“Bayar yang bunga paling tinggi dulu.”
Aku menatapnya.
“Bagus.”
Ia tampak seperti ingin mengatakan sesuatu.
Aku menunggu.
“Aku mungkin harus tutup bagian produksi undangan.”
Aku tahu bagian itu dulu kebanggaannya.
“Berapa orang?”
“Dua.”
“Sudah bicara?”
“Belum.”
“Jangan janji sesuatu yang nggak bisa kamu bayar.”
Ia mengangguk.
“Aku tahu.”
“Pesangon dan hak mereka dihitung dulu.”
“Iya.”
Percakapan kami terdengar seperti dua rekan kerja.
Mungkin memang itu yang kami butuhkan sementara.
Bukan kata-kata romantis.
Kejelasan.
Sebulan kemudian, usaha Dimas mengecil dari enam karyawan menjadi empat.
Ia menjual satu mesin dan memindahkan sebagian pekerjaan ke vendor.
Dua karyawan yang terdampak dibayar haknya bertahap sesuai kesepakatan tertulis yang mereka buat.
Utang belum hilang.
Masih jauh.
Tapi untuk pertama kali, angkanya turun tanpa ada uang keluargaku yang diam-diam dipindahkan.
Aku juga kembali menerima beberapa proyek desain dari rumah.
Bukan untuk menyelamatkan usaha Dimas.
Untuk mengembalikan tabungan pendidikan anak-anak.
Perbedaan itu penting bagiku.
Dimas pernah bertanya, “Kalau uangmu nanti banyak, kamu tetap nggak mau bantu usaha?”
Aku menjawab, “Aku bisa memilih membantu. Tapi aku tidak mau lagi dibuat seolah wajib menyelamatkan keputusan yang tidak pernah kubuat.”
Ia tidak suka mendengarnya.
Tapi ia tidak membantah.
Tiga bulan setelah Nara lahir, kami mulai konseling pernikahan.
Bukan karena semuanya tiba-tiba baik.
Justru karena belum.
Pada sesi kedua, konselor bertanya apa yang paling membuatku takut.
Aku menjawab tanpa berpikir lama.
“Bukan kehilangan uang.”
Dimas menoleh.
“Aku takut suatu hari aku baru tahu keputusan besar tentang hidupku setelah semuanya hampir terlambat.”
Ketika giliran Dimas, ia diam cukup lama.
Lalu berkata, “Aku takut dianggap tidak berguna.”
Aku tidak menyangka kalimat sesederhana itu bisa menjelaskan begitu banyak.
Cara ia membesar-besarkan keberhasilan usaha.
Cara ia tidak pernah mau bilang sedang kesulitan.
Cara ia selalu gelisah ketika Ayah membantu sesuatu.
Cara ia ingin menjadi orang yang “menanggung keluarga”, sampai akhirnya justru memakai uang keluarga tanpa izin.
Aku tidak memaafkannya hari itu.
Tapi aku mulai memahami.
Dan memahami bukan sama dengan membiarkan.
Enam bulan kemudian, utang usaha turun menjadi sekitar Rp390 juta.
Masih besar.
Dimas menjual mobil keduanya dan berhenti menyewa gudang yang terlalu besar.
Kami tidak lagi punya rekening bersama tanpa batas.
Setiap awal bulan, kami mentransfer jumlah yang sudah disepakati untuk kebutuhan rumah, sekolah, listrik, BPJS, belanja, dan tabungan.
Tidak romantis.
Tapi aku tidur lebih nyenyak.
Rumah Cimahi akhirnya resmi atas namaku sesuai rencana Ibu dan Ayah dulu.
Arman tetap memegang tanahnya di Padalarang.
Tidak ada perang warisan.
Tidak ada saudara yang saling putus hubungan.
Hanya ada batas yang akhirnya ditulis jelas setelah bertahun-tahun semua orang mengandalkan perasaan tidak enak.
Hubunganku dengan Dimas juga tidak kembali seperti dulu.
Mungkin tidak akan pernah.
Ada sesuatu yang hilang ketika kepercayaan pecah.
Namun ada juga sesuatu yang baru ketika dua orang berhenti pura-pura tidak punya masalah.
Suatu sore, sekitar delapan bulan setelah Nara lahir, kami mengunjungi Ayah di Cimahi.
Kirana membantu menyapu teras.
Rafi bermain sepeda di depan pagar.
Nara duduk di pangkuan Ayah sambil menarik-narik ujung bajunya.
Dimas sedang memperbaiki engsel pintu dapur yang lama berbunyi.
Aku berdiri di ruang makan sambil memegang map cokelat yang dulu dibawa Ayah ke rumah sakit.
Di dalamnya sekarang tersimpan salinan dokumen rumah.
Aku memasukkannya ke lemari.
Ayah muncul dari belakang.
“Aman?”
Aku mengunci lemari.
“Aman.”
Ayah tersenyum.
“Dulu Ibu selalu simpan semua dokumen penting di situ.”
“Aku tahu.”
“Ayah minta maaf masih soal waktu itu.”
“Karena tidak langsung bilang?”
“Iya.”
Aku memandangnya.
“Aku sudah tidak marah.”
“Bener?”
“Bener. Tapi jangan lakukan lagi.”
Ayah tertawa.
“Sekarang galak.”
“Harusnya dari dulu.”
Dari teras terdengar suara Dimas memanggil Rafi agar jangan mengendarai sepeda terlalu dekat selokan.
Aku berjalan keluar.
Di meja kecil dekat pintu ada map biru kosong yang digunakan Kirana untuk menyimpan gambar sekolahnya.
Beberapa bulan sebelumnya, melihat map warna itu saja membuat perutku menegang.
Sekarang aku hanya menggesernya supaya tidak terkena teh.
Dimas menatapku dari dekat pintu dapur.
“Besok aku ada meeting sama klien jam sepuluh.”
“Yang kontrak tahunan?”
“Iya.”
“Semoga jadi.”
Ia mengangguk.
Tidak ada janji bahwa bisnis akan kembali besar.
Tidak ada janji bahwa pernikahan kami tidak akan pernah goyah lagi.
Kami sudah terlalu dewasa untuk percaya hidup bekerja seperti itu.
Yang ada hanya sesuatu yang lebih sederhana.
Ia sekarang tahu aku bisa berkata tidak.
Aku sekarang tahu rasa sungkan bukan alasan untuk menyerahkan kendali atas hidupku.
Ayah tahu melindungi anak perempuan yang sudah dewasa tidak berarti menyembunyikan kenyataan darinya.
Arman tahu “keluarga” bukan pengganti izin.
Dan anak-anakku, semoga suatu hari nanti, akan tahu bahwa mencintai keluarga tidak harus berarti membiarkan semua batas dilewati.
Menjelang magrib, aku berdiri dan menutup pagar rumah.
Bunyi besinya masih sama seperti sejak aku kecil.
Dulu bunyi itu berarti Ibu sudah menyuruh kami masuk karena hari mulai gelap.
Sekarang bunyi yang sama terasa seperti sesuatu yang lain.
Bukan menutup orang lain di luar.
Melainkan tahu bahwa ada hal-hal di dalam hidupku yang akhirnya menjadi tanggung jawabku sendiri untuk kujaga.
Terima kasih sudah membaca cerita ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, rezeki yang cukup, dan keberanian untuk membicarakan masalah sebelum rasa sungkan membuatnya semakin besar. Kalau kamu berada di posisiku, apakah kamu masih akan mencoba mempertahankan pernikahan setelah kepercayaan soal uang dilanggar seperti itu, atau memilih berpisah? Aku ingin membaca pendapatmu. Kalau cerita ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, kamu boleh membagikannya kepada orang lain yang mungkin membutuhkan pengingat bahwa membantu keluarga tetap membutuhkan batas.
