Tiga Minggu Sebelum Pernikahan, Aku Menemukan Tunanganku Keluar dari Kamar Kakakku—Yang Lebih Menghancurkan, Ayah dan Ibu Ternyata Sudah Lama Menutupinya

Avatar penulis
Cerita 03
20 menit baca 189 tayangan
Saat Rumah Sakit Memintaku Menandatangani Operasi Suamiku, Aku Justru Membuang Foto Pernikahan—Karena Dua Minggu Sebelumnya Ia Membiarkan Putri Kami Dipermalukan di Depan Perempuan yang Selama Ini Ia Sebut Hanya Teman Lama
Indeks

Tiga Minggu Sebelum Pernikahan, Aku Menemukan Tunanganku Keluar dari Kamar Kakakku—Yang Lebih Menghancurkan, Ayah dan Ibu Ternyata Sudah Lama Menutupinya

Bagian 1 — Saat Semua Orang Memintaku Tetap Menjadi Pengantin, Aku Baru Tahu Pernikahanku Hanyalah Tirai untuk Menjaga Nama Baik Kakakku

Tiga minggu sebelum pernikahanku, aku pulang ke rumah orang tuaku di Bandung tanpa memberi kabar.

Seharusnya aku baru tiba malam.

Namun penerbangan dari Makassar maju beberapa jam karena jadwal tugasku sebagai dokter militer selesai lebih cepat.

Aku bahkan membeli dua kotak brownies favorit Ibu di bandara.

Aku membayangkan akan mengejutkan mereka.

Yang terkejut justru aku.

Ketika taksi berhenti di depan rumah, mobil dinas milik tunanganku sudah terparkir di samping pagar.

Mobil hitam dengan stiker kecil kesatuan di kaca depan itu terlalu kukenal.

Pemiliknya adalah Kolonel Arga Pradipta.

Laki-laki yang sepuluh tahun terakhir kusebut sebagai masa depanku.

Kami tinggal menunggu hari akad.

Undangan sudah dicetak.

Gedung sudah dibayar.

Kebaya pengantin sudah selesai dijahit.

Bahkan kamar di rumah dinas yang akan kami tempati setelah menikah sudah kami isi perlahan-lahan.

Aku sempat tersenyum.

Kupikir Arga sengaja datang membantu Ayah mempersiapkan sesuatu.

Pintu depan tidak dikunci.

Rumah terasa terlalu sunyi.

Aku baru meletakkan koper ketika mendengar suara dari lantai dua.

Suara perempuan.

Pelan.

Manja.

“Kamu harus pulang sebelum Nadira datang.”

Aku membeku.

Itu suara kakakku.

Maya.

Maya enam tahun lebih tua dariku. Dua tahun lalu dia bercerai dan pulang ke rumah bersama putranya, Rafi, yang sekarang berusia tujuh tahun.

Sejak perceraiannya, seluruh keluarga memperlakukannya seperti gelas retak.

Harus dipegang hati-hati.

Tidak boleh ditanya terlalu banyak.

Tidak boleh dibuat sedih.

Aku pun begitu.

Aku sering mengirim uang untuk kebutuhan sekolah Rafi.

Aku membantu biaya pengacara saat proses perceraian.

Aku bahkan menunda membeli apartemen karena Ibu bilang Maya sedang kesulitan.

Lalu terdengar suara laki-laki.

“Aku tahu.”

Suara Arga.

Darahku seolah berhenti mengalir.

Aku berdiri di ujung tangga sambil menggenggam pegangan begitu keras sampai ruas jariku memutih.

“Aku cuma takut,” kata Maya.

“Takut apa?”

“Nadira mengetahui semuanya sebelum kalian menikah.”

Beberapa detik sunyi.

Kemudian Arga menjawab dengan nada sangat tenang.

“Semua orang sudah mengaturnya sejauh ini. Dia tidak akan tahu.”

Semua orang.

Dua kata itu jauh lebih menyakitkan daripada mendengar mereka mengaku saling mencintai.

Aku mundur perlahan.

Entah bagaimana aku berhasil keluar tanpa menjatuhkan apa pun.

Aku tidak menangis di depan rumah.

Aku tidak mendobrak pintu kamar.

Aku tidak berteriak.

Aku menyeret koper kembali ke jalan, masuk ke kedai kopi dua blok dari rumah, lalu duduk hampir satu jam tanpa menyentuh minumanku.

Pukul empat sore, aku menelepon Ibu.

“Nadira? Kamu sudah sampai Bandung?”

“Belum, Bu.”

Aku berbohong.

“Masih ada urusan.”

“Oh.”

Terdengar suara lega yang terlalu jelas.

Kemudian Ibu berkata, “Kalau bisa jangan pulang sebelum malam, ya. Ibu sama Ayah mau keluar sebentar.”

Aku menatap kosong ke jendela.

“Ibu keluar sama siapa?”

“Ya… sama Ayah.”

“Arga ada di rumah?”

Sunyi.

Hanya tiga detik.

Tetapi cukup.

Ibu tertawa kecil.

“Mana mungkin? Arga kan di kantor.”

Saat itulah sesuatu di dalam diriku benar-benar runtuh.

Bukan hanya tunanganku yang berbohong.

Ibuku juga.

Malam itu aku pulang seolah tidak mengetahui apa pun.

Arga sudah duduk di meja makan bersama Ayah.

Maya sedang menyuapi Rafi.

Ibu keluar dari dapur sambil tersenyum lebar.

“Kok tidak bilang sudah hampir sampai? Ibu tadi mau masak sup favoritmu.”

Aku memandangi wajah mereka satu per satu.

Tidak ada yang tampak gugup.

Mereka sudah terlalu terbiasa.

Arga berdiri, mengambil koperku, lalu mencium keningku.

“Aku kangen.”

Aroma parfum laki-lakinya bercampur samar dengan aroma sampo melati yang biasa digunakan Maya.

Aku hampir muntah.

Malam itu, ketika semua orang tidur, aku membuka aplikasi kamera mobil Arga.

Dua tahun lalu aku memasangnya sendiri setelah mobilnya pernah dirusak di parkiran rumah sakit.

Arga lupa aku masih memiliki akses.

Aku memeriksa rekaman beberapa bulan terakhir.

Apa yang kulihat membuat tanganku dingin.

Arga berkali-kali menjemput Maya.

Restoran.

Hotel.

Apartemen sewaan di Dago.

Bahkan pernah membawa Rafi ke taman bermain bertiga.

Seperti keluarga kecil.

Aku terus melihat sampai menemukan percakapan yang terjadi empat hari sebelumnya.

Maya duduk di kursi penumpang.

“Aku kasihan sama Nadira.”

Arga mencibir.

“Sekarang baru kasihan?”

“Aku serius.”

“Kalau kamu kasihan, kenapa tetap menemuiku?”

Maya diam.

Kemudian berkata pelan, “Karena aku juga mencintaimu.”

Arga memegang tangannya.

“Aku menikahi Nadira cuma karena keadaan.”

Aku menghentikan video.

Napas terasa sesak.

Aku ingin tahu keadaan apa.

Keesokan paginya aku tidak mengatakan bahwa aku sudah tahu.

Sebaliknya, aku berpura-pura menjadi calon pengantin bodoh yang sibuk memilih bunga.

Lalu kesempatan itu datang sendiri.

Saat sarapan, Ibu berkata, “Setelah menikah nanti jangan terlalu sibuk kerja. Arga sudah mapan. Perempuan sebaiknya lebih banyak menjaga rumah.”

Maya ikut tersenyum.

“Apalagi kalau cepat punya anak.”

Aku mengangkat kepala.

“Kalau ternyata Arga mencintai perempuan lain bagaimana?”

Sendok Ibu berhenti di udara.

Ayah batuk.

Maya menunduk.

Hanya Arga tetap tenang.

“Kenapa tiba-tiba bicara begitu?”

“Cuma bertanya.”

Arga meraih tanganku di bawah meja.

“Kamu terlalu banyak berpikir.”

Aku tersenyum.

“Benarkah?”

Malam berikutnya aku meminta bertemu Arga di apartemenku.

Aku sudah menyalakan perekam suara sebelum dia masuk.

“Aku mau membatalkan pernikahan.”

Arga tidak langsung bereaksi.

Dia meletakkan kunci mobil, membuka jam tangan, lalu menatapku.

“Karena apa?”

“Karena kamu tidur dengan Maya.”

Wajahnya berubah.

Hanya sepersekian detik.

Kemudian dia tertawa kecil.

“Siapa yang bilang?”

“Aku melihat sendiri.”

Senyumnya hilang.

Aku menunggu permintaan maaf.

Penjelasan.

Apa pun.

Yang keluar justru kalimat,

“Kamu menguntitku?”

Aku sampai tertawa.

“Jadi itu masalahnya?”

“Nadira—”

“Kamu selingkuh dengan kakakku, tapi yang membuatmu marah adalah aku mengetahui?”

Arga menarik napas.

“Kita bicara baik-baik.”

“Baik.”

Aku duduk.

“Jelaskan.”

Dia diam lama.

Lalu berkata sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.

“Aku dan Maya sudah bersama hampir empat tahun.”

Dadaku seperti dihantam.

Empat tahun.

Sementara aku bertugas berpindah-pindah rumah sakit militer, menjaga hubungan jarak jauh, menolak orang lain karena merasa sudah memiliki seseorang…

Mereka bersama.

“Kenapa masih melamarku?”

Arga memandangku tanpa rasa bersalah.

“Maya baru bercerai.”

“Apa hubungannya?”

“Kalau aku membatalkan pertunangan kita lalu langsung menikahi kakakmu, orang akan bicara.”

Aku tidak mengerti.

Sampai dia melanjutkan.

“Karierku sedang masuk tahap penting. Perceraian Maya juga masih jadi bahan omongan keluarga besar. Kalau hubungan kami terbuka sekarang, semua orang akan menghitung waktunya.”

Aku menatapnya.

“Kalian takut orang sadar hubungan kalian dimulai ketika Maya masih menikah?”

Arga tidak menjawab.

Diamnya adalah pengakuan.

Aku berdiri.

“Jadi kalian ingin aku menikah denganmu untuk menutupi perselingkuhan kalian?”

“Untuk sementara.”

Aku merasa seluruh tubuhku dingin.

“Untuk sementara?”

“Setelah situasi tenang, kita bisa mengatur semuanya.”

“Mengatur apa?”

“Perceraian.”

Aku menatap laki-laki yang hampir kujadikan suami.

Dia mengucapkannya seperti sedang membahas jadwal rapat.

“Kamu menikahiku. Kita jalani satu atau dua tahun. Setelah itu kita berpisah baik-baik.”

“Lalu kamu menikahi Maya.”

“Ya.”

Aku hampir tidak percaya.

“Dan keluargaku tahu?”

Untuk pertama kalinya Arga menghindari tatapanku.

Itu cukup.

Aku menampar meja.

“Jawab!”

“Orang tuamu tahu.”

Dunia terasa hening.

“Ayah dan Ibu?”

“Mereka ingin melindungi Maya.”

Air mataku akhirnya jatuh.

Arga mendekat.

Anehnya, suaranya justru menjadi lembut.

“Nadira, kakakmu sudah mengalami banyak hal.”

Aku menepis tangannya.

“Jadi karena dia menderita, aku harus dihancurkan?”

“Jangan dramatis.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Arga mengusap wajah.

“Kamu lebih kuat daripada Maya. Kamu punya pekerjaan, karier, masa depan. Maya punya anak. Reputasinya sudah rusak setelah perceraian.”

“Lalu aku?”

“Kamu akan baik-baik saja.”

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku mati.

Dia benar-benar percaya bahwa karena aku kuat, maka aku pantas disakiti.

Kemudian matanya turun ke meja.

Ada amplop klinik di sana.

Aku terlambat menyembunyikannya.

Arga mengambil hasil pemeriksaan.

Wajahnya berubah.

“Kamu hamil?”

Aku diam.

Hasil laboratorium itu kuterima pagi tadi.

Usia kehamilanku hampir enam minggu.

Ironis.

Aku mengetahui calon anakku ada tepat sehari setelah mengetahui ayahnya tidak pernah benar-benar memilihku.

Arga justru tersenyum.

Senyum pertama yang benar-benar lega sejak percakapan kami dimulai.

Dia memegang bahuku.

“Nah. Sekarang jangan melakukan hal bodoh.”

Aku menatapnya.

“Maksudmu?”

“Kita tetap menikah.”

“Aku baru bilang aku tidak mau.”

“Kamu sedang mengandung anakku.”

“Lalu?”

Ekspresinya menjadi dingin.

“Nadira, pikir realistis. Kamu perempuan tiga puluh dua tahun yang sebentar lagi menjadi ibu. Kamu mau membesarkan anak tanpa ayah?”

Aku mengepalkan tangan.

“Lebih baik daripada memiliki ayah seperti kamu.”

Arga tersenyum tipis.

“Kamu sedang emosi.”

Dia mendekat ke telingaku.

“Besok kalau sudah tenang, kamu akan sadar kamu tidak punya banyak pilihan.”

Setelah dia pergi, aku mengunci pintu.

Aku duduk di lantai sampai hampir subuh.

Lalu membuka perekam.

Semua sudah tersimpan.

Pengakuannya.

Hubungannya dengan Maya.

Rencana pernikahan palsu.

Pengetahuan orang tuaku.

Semuanya.

Pukul enam pagi aku menelepon seorang senior di Jakarta.

“Dokter Hana?”

“Nadira? Ada apa pagi-pagi?”

Aku menatap koper di sudut kamar.

“Tawaran bergabung dengan tim medis Indonesia untuk misi kemanusiaan di Juba yang pernah Dokter tawarkan…”

Aku berhenti sebentar.

“Masih tersedia?”

Tiga jam kemudian jawabannya datang.

Masih.

Aku meminta proses secepat mungkin.

Lalu aku pergi ke klinik seorang diri untuk berkonsultasi mengenai kehamilanku dan seluruh pilihan medis yang tersedia. Tidak ada Arga. Tidak ada Maya. Tidak ada Ibu.

Untuk pertama kalinya, keputusan tentang hidupku benar-benar berada di tanganku sendiri.

Dan ketika keluar dari ruang konsultasi, ponselku penuh panggilan tak terjawab.

Arga.

Ibu.

Ayah.

Maya.

Pesan terakhir datang dari Arga.

“Besok keluarga kita bertemu membahas tanggal akad. Jangan membuat masalah. Demi anak kita, datang.”

Aku membaca pesan itu lama.

Kemudian sebuah pesan lain masuk dari Ibu.

“Nadira, jangan egois. Kakakmu sudah menderita cukup banyak. Sekali ini saja, jadilah adik yang mengalah.”

Aku tertawa sambil menangis.

Mereka belum mengerti.

Aku memang akan mengalah.

Aku akan menyerahkan Arga kepada Maya sepenuhnya.

Tetapi sebelum pergi, aku akan memastikan seluruh kebohongan yang mereka bangun bertahun-tahun runtuh di depan mata mereka sendiri.

#DramaKeluarga #PengkhianatanCinta #CeritaKehidupan #KisahPerempuan #CeritaViral

Bagian 2 — Di Pertemuan Keluarga Itu Mereka Mengira Aku Akan Menyerah, Sampai Rekaman Suara Arga Terdengar di Hadapan Semua Orang

Pertemuan keluarga diadakan di sebuah restoran Sunda di Lembang.

Ada hampir tiga puluh orang.

Paman.

Bibi.

Sepupu.

Orang tua Arga.

Bahkan atasan lama Ayah datang karena mereka mengira itu pertemuan final sebelum akad.

Saat aku masuk, Ibu langsung menghampiri.

“Kamu dari mana saja?”

Aku belum sempat menjawab ketika matanya turun ke koper kecil di tanganku.

“Kenapa bawa koper?”

“Supaya setelah ini aku bisa langsung pergi.”

Wajah Ibu menegang.

Maya yang duduk di sebelah Arga terlihat pucat.

Arga berdiri.

“Nadira. Kita bicara di luar.”

“Tidak perlu.”

Aku berjalan ke tengah ruangan.

Ayah langsung berkata dengan nada memperingatkan,

“Jangan bikin malu keluarga.”

Aku menatapnya.

Aneh.

Setelah mengetahui semuanya, kalimat seperti itu tidak lagi menyakitkan.

Justru terdengar lucu.

“Ayah benar.”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Karena itu hari ini kita berhenti mempermalukan keluarga dengan kebohongan.”

Arga melangkah cepat.

Namun aku sudah menekan tombol putar.

Suara Arga memenuhi ruangan.

“Aku dan Maya sudah bersama hampir empat tahun.”

Semua orang diam.

Wajah ibu Arga berubah.

Kemudian rekaman berlanjut.

“Kamu menikahiku. Kita jalani satu atau dua tahun. Setelah itu kita berpisah baik-baik.”

Seseorang menjatuhkan sendok.

Maya berdiri.

“Nadira, matikan!”

Aku tidak bergerak.

Bagian terakhir terdengar jelas.

“Orang tuamu tahu. Mereka ingin melindungi Maya.”

Keheningan setelahnya lebih mengerikan daripada teriakan.

Ibu Arga bangkit.

Dia menatap anaknya.

“Empat tahun?”

Arga mengatupkan rahang.

“Bu, saya bisa jelaskan.”

“Kamu berhubungan dengan perempuan yang saat itu masih menjadi istri orang?”

Maya langsung menangis.

“Bukan begitu…”

Aku membuka folder lain.

Ada rekaman kamera mobil dengan tanggal.

Foto.

Riwayat hotel.

Percakapan.

Aku tidak menyebarkannya.

Aku hanya memperlihatkan bukti secukupnya kepada kedua keluarga.

“Ini bukan salah paham.”

Aku memandang Maya.

“Kakak pernah bertanya kenapa aku tidak datang mendaftar pernikahan.”

Air mata mengalir di pipinya.

“Nadira…”

“Kakak bahkan berpura-pura khawatir kepadaku.”

“Aku memang khawatir.”

Aku tersenyum.

“Khawatir aku mengetahui kalian?”

Maya menangis semakin keras.

Ibu langsung memeluknya.

Dan pemandangan itulah yang akhirnya membuatku benar-benar yakin dengan keputusanku.

Bahkan sekarang.

Bahkan setelah semuanya terbongkar.

Yang dipeluk Ibu tetap Maya.

“Nadira,” kata Ibu tajam. “Cukup. Kakakmu punya anak. Jangan hancurkan hidupnya.”

Aku mengangguk.

“Benar.”

Semua orang menatapku.

“Aku memang tidak akan menghancurkan hidup Kak Maya.”

Aku menoleh kepada Arga.

“Aku memberikan Arga kepadanya.”

Maya terdiam.

Arga terlihat tidak percaya.

“Pertunangan kita selesai.”

“Nadira—”

“Mulai hari ini kamu bebas.”

Kemudian aku melepaskan cincin pertunangan.

Bukan kulempar.

Aku meletakkannya perlahan di depan Arga.

“Silakan menikah dengan orang yang kamu cintai.”

Arga memandang cincin itu, lalu padaku.

Entah kenapa, bukannya lega, wajahnya justru berubah gelisah.

“Mengenai anak kita…”

Ruangan kembali hening.

Ibu menoleh cepat.

“Kamu hamil?”

Aku tidak menjawab pertanyaan itu.

“Itu urusanku.”

Arga memegang lenganku.

“Kamu tidak bisa membuat keputusan sendiri.”

Aku menarik tanganku.

“Aku bisa.”

“Aku ayahnya.”

“Menjadi ayah bukan kartu yang bisa kamu gunakan setelah merencanakan menjadikan ibunya sebagai kedok.”

Ayah membentak,

“Nadira!”

Aku menoleh.

Wajahnya merah.

“Bicara sopan!”

Aku menatap laki-laki yang sejak kecil kuanggap pelindungku.

“Waktu Ayah membantu mereka berbohong kepadaku, Ayah memikirkan sopan santun?”

Dia terdiam.

Aku mengambil koper.

“Mulai hari ini kita tidak perlu saling menghubungi dulu.”

Ibu langsung panik.

“Kamu mau ke mana?”

“Pergi.”

“Ke mana?”

“Tempat di mana aku tidak harus hidup sebagai tumbal untuk kebahagiaan Kak Maya.”

Aku berjalan keluar.

Arga mengejarku sampai parkiran.

“Nadira!”

Aku terus berjalan.

Dia mencengkeram lenganku.

“Kamu pikir setelah mempermalukanku seperti itu semuanya selesai?”

Aku menatap tangannya sampai dia melepaskan.

“Apa yang belum selesai?”

“Pernikahan kita.”

Aku hampir tertawa.

“Kamu sendiri mengatakan tidak mencintaiku.”

“Aku tidak bilang begitu.”

Aku tertegun.

Kemudian dia berkata,

“Perasaan bukan cuma cinta atau tidak cinta. Kita sudah bersama sepuluh tahun.”

“Dan selama empat tahun terakhir kamu tidur dengan kakakku.”

Arga terdiam.

Aku masuk taksi.

Sebelum pintu tertutup, dia berkata,

“Kamu akan kembali.”

Aku menatapnya untuk terakhir kali.

“Kenapa?”

“Karena setelah kemarahanmu habis, kamu akan ingat hidup yang sudah kita bangun.”

Aku tersenyum kecil.

“Justru karena aku mengingatnya, aku tidak akan kembali.”

Sebelas hari kemudian aku meninggalkan Indonesia.

Nomor telepon kuganti.

Akun pribadi kututup.

Aku hanya meninggalkan satu alamat email khusus untuk urusan hukum.

Mengenai kehamilanku, setelah konsultasi medis dan pertimbangan yang sangat pribadi, aku mengambil keputusan mengenai tubuhku tanpa membiarkan Arga, keluargaku, ataupun rasa takut menentukan masa depanku.

Keputusan itu tidak mudah.

Tetapi itu adalah pilihanku.

Aku tidak pernah menjadikannya senjata untuk menghukum siapa pun.

Aku hanya menolak menjadikan seorang anak sebagai rantai yang mengikatku pada kebohongan.

Di Juba, hidupku berubah.

Hari-hariku diisi ruang perawatan, tenda medis, suara generator, antrean pasien, dan malam-malam ketika aku tidur hanya empat jam.

Tidak ada waktu untuk memikirkan siapa tidur dengan siapa di Bandung.

Tidak ada waktu untuk membaca gosip keluarga.

Tiga tahun kemudian aku bertemu Farhan Mahendra.

Dia seorang dokter anestesi asal Surabaya yang bergabung dalam rotasi misi berikutnya.

Farhan tidak menyelamatkanku.

Aku sudah menyelamatkan diriku sendiri sebelum bertemu dengannya.

Dia hanya datang ketika aku sudah mampu mencintai tanpa takut kehilangan diri sendiri.

Dua tahun kemudian kami menikah sederhana di Yogyakarta.

Setahun setelah itu, putri kami lahir.

Namanya Alya.

Aku tidak pernah menceritakan masa laluku secara detail kepada banyak orang.

Namun kepada Farhan, aku tidak menyembunyikan apa pun.

Ketika mendengar semuanya, dia hanya berkata,

“Aku tidak membutuhkanmu melupakan masa lalu.”

Dia menggenggam tanganku.

“Aku cuma berharap saat mengingatnya, kamu tidak lagi merasa harus kembali ke sana.”

Aku pikir memang tidak akan pernah kembali.

Sampai sembilan tahun setelah aku meninggalkan Bandung, Farhan mendapat posisi di sebuah rumah sakit besar di Jakarta.

Kami pulang ke Indonesia.

Dan enam bulan kemudian, pada sore menjelang ulang tahun kelima Alya, aku membawanya memilih kue di sebuah toko di Senayan.

Alya menunjuk kue berbentuk taman bunga.

“Mama, yang ini!”

Aku tertawa.

Saat itulah terdengar suara baki jatuh.

Aku menoleh.

Tiga orang berdiri tidak jauh dariku.

Ayah.

Ibu.

Dan Arga.

Rambut Ayah sudah hampir seluruhnya putih.

Ibu jauh lebih kurus.

Sedangkan Arga…

Laki-laki yang dulu begitu percaya diri berdiri seperti orang yang baru melihat sesuatu yang mustahil.

Matanya berhenti pada Alya.

Kemudian pada cincin kawinku.

Kemudian kembali padaku.

Ibu membuka mulut lebih dulu.

“Nadira…”

Alya memeluk kakiku.

“Mama, siapa mereka?”

Aku belum sempat menjawab.

Arga maju satu langkah.

Suaranya bergetar.

“Dia… anakmu?”

Aku mengangkat Alya ke dalam pelukanku.

“Iya.”

Wajah Arga memucat.

Kemudian dari pintu toko terdengar suara Farhan.

“Nadira, kartu parkirnya ketinggalan di mobil.”

Dia mendekat dan mencium kepala Alya.

Barulah dia menyadari tiga orang di depan kami.

Aku belum mengatakan apa-apa ketika Ibu tiba-tiba menangis.

Dan kalimat berikutnya membuatku sadar bahwa pertemuan ini tidak terjadi secara kebetulan seperti yang kukira.

“Nadira… tolong pulang sebentar.”

Ibu menggenggam tanganku.

“Kakakmu sedang dalam masalah besar.”

Bagian 3 — Sembilan Tahun Setelah Aku Pergi, Mereka Memintaku Menyelamatkan Kakakku Lagi, tetapi Kali Ini Aku Membawa Kehidupan yang Tidak Bisa Mereka Sentuh

Aku melepaskan tangan Ibu perlahan.

“Maya kenapa?”

Ayah menunduk.

Arga menatap lantai.

Ibu menangis.

“Tolong kita bicara di tempat lain.”

Farhan tidak bertanya.

Dia membawa Alya ke area bermain kecil di sudut toko sambil tetap berada cukup dekat.

Kami duduk.

Barulah semuanya keluar.

Setelah aku pergi, Arga dan Maya memang bersama.

Enam bulan kemudian mereka berencana menikah.

Tetapi karier Arga mulai bermasalah setelah laporan internal memeriksa beberapa pelanggaran etik dan penyalahgunaan fasilitas dinas yang tidak berhubungan langsung denganku, tetapi muncul setelah pemeriksaan kehidupannya semakin ketat.

Dia akhirnya tidak mendapatkan promosi yang selama ini dia kejar.

Dua tahun kemudian dia memilih pensiun lebih awal dan pindah ke perusahaan keamanan swasta.

Hubungannya dengan Maya juga tidak menjadi kisah cinta indah yang mereka bayangkan.

Maya mulai curiga setiap kali Arga terlambat pulang.

Arga mulai marah setiap kali Maya menanyakan ponselnya.

Ironis.

Dua orang yang membangun hubungan dari pengkhianatan kemudian hidup dengan ketakutan akan dikhianati.

Mereka menikah hanya tiga tahun.

Setelah itu berpisah.

“Jadi kalian sudah bercerai?” tanyaku.

Arga mengangguk.

Aku tidak merasa puas.

Tidak juga sedih.

Hanya kosong.

Seperti mendengar cerita tentang orang lain.

“Masalah besar yang Ibu maksud apa?”

Ibu mengusap air mata.

“Maya meminjam uang.”

“Tolong lebih jelas.”

Ayah akhirnya bicara.

Setelah bisnis kecil yang dibuka Maya gagal, dia mulai menutup utang dengan utang lain.

Kemudian dia menggunakan sertifikat rumah orang tua kami sebagai jaminan tanpa memahami seluruh risikonya.

Jumlahnya lebih dari Rp1,8 miliar.

Rumah itu terancam dilelang.

Aku langsung memahami mengapa mereka mencariku.

“Kalian mau aku membayar utangnya.”

Ibu menangis semakin keras.

“Nadira, rumah itu satu-satunya yang kami punya.”

Aku hampir tersenyum.

Sembilan tahun.

Tidak ada yang mencariku ketika aku membangun hidup dari nol di negara lain.

Tidak ada yang mengirim ucapan ketika aku menikah.

Tidak ada yang mengetahui kapan Alya lahir.

Sekarang mereka membutuhkan uang.

Mereka menemukan alamatku.

“Kalian tahu aku sudah pulang dari mana?”

Ayah menjawab lirih,

“Teman lama melihat namamu di website rumah sakit.”

Aku mengangguk.

“Begitu.”

Ibu meraih tanganku lagi.

“Nadira, apa pun kesalahan kami dulu, kami tetap orang tuamu.”

Aku melihat tangan itu.

Tangan yang dahulu memeluk Maya saat seluruh hidupku runtuh.

Aku tidak menariknya kasar.

Aku hanya melepaskannya.

“Aku tidak menyangkal kalian orang tuaku.”

Wajah Ibu terlihat berharap.

“Tapi menjadi orang tua tidak otomatis membuat setiap keputusan kalian menjadi tanggung jawabku.”

Harapan itu runtuh.

“Nadira…”

“Aku bisa membantu Ayah dan Ibu satu hal.”

“Apa?”

“Aku akan membayar biaya sewa tempat tinggal selama satu tahun jika rumah benar-benar dilelang. Aku juga bisa membantu biaya kesehatan kalian.”

Ibu menatapku.

“Utang Maya?”

“Tidak.”

“Tapi kalau kamu tidak membantu—”

“Maya akan menghadapi akibat keputusan yang dia buat.”

Ibu mulai menangis keras.

“Kamu masih membencinya!”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“Kalau tidak, kenapa kamu tega?”

“Karena sembilan tahun lalu Ibu mengajariku sesuatu.”

Ibu terdiam.

“Waktu Arga mengkhianatiku, Ibu bilang Maya sudah terlalu banyak menderita, jadi aku yang harus mengalah.”

Aku menatapnya.

“Sekarang aku sudah belajar bahwa penderitaan seseorang bukan izin untuk menghancurkan hidup orang lain.”

Tidak ada yang membantah.

Arga sejak tadi diam.

Akhirnya dia berkata,

“Aku minta maaf.”

Aku menoleh kepadanya.

Dia terlihat jauh lebih tua daripada usianya.

“Aku tahu sekarang sudah terlambat.”

“Memang.”

“Aku mencari kamu bertahun-tahun.”

Aku tersenyum tipis.

“Aku memang tidak ingin ditemukan.”

Matanya merah.

“Aku banyak memikirkan hari terakhir itu.”

“Aku tidak.”

Dia terdiam.

Itulah perbedaan terbesar di antara kami.

Baginya, kepergianku menjadi luka yang terus dia buka.

Bagiku, kepergian itu adalah pintu menuju kehidupan baru.

Arga memandang Alya yang sedang tertawa bersama Farhan.

Kemudian bertanya pelan,

“Dulu… kehamilan itu bagaimana?”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Itu bagian dari hidupku yang tidak lagi menjadi hakmu untuk tanyakan.”

Wajahnya menegang.

Namun kali ini dia tidak memaksa.

Aku berdiri.

“Aku harus pergi. Besok ulang tahun Alya.”

Ibu ikut berdiri.

“Nadira.”

Aku menoleh.

“Apakah kami masih boleh bertemu cucu kami?”

Aku tidak langsung menjawab.

“Alya bukan alat untuk memperbaiki hubungan kita.”

Ibu menangis diam-diam.

“Kalau suatu hari kalian ingin mengenalnya, mulailah dengan menghormati batasanku. Jangan datang tanpa izin. Jangan membawa Maya. Jangan membicarakan masa lalu di depan anakku.”

Ibu mengangguk berkali-kali.

Aku berjalan menuju Farhan.

Namun sebelum pergi, Ayah memanggilku.

“Nadira.”

Aku berhenti.

Suara Ayah serak.

“Waktu itu Ayah pikir kamu yang paling kuat.”

Aku menatapnya.

“Makanya Ayah yakin kamu akan bisa melewatinya.”

Aku tersenyum kecil.

“Itulah kesalahan kalian.”

Ayah diam.

“Kalian selalu menghukum orang yang kuat karena yakin dia mampu menanggung lebih banyak.”

Aku menggenggam tangan Alya.

“Padahal orang kuat juga pantas dilindungi.”

Kami pergi.

Tiga bulan kemudian rumah orang tuaku benar-benar dijual untuk membayar sebagian utang.

Maya harus menjual mobil, menutup bisnis, dan bekerja untuk mencicil sisa kewajibannya.

Tidak ada keajaiban.

Tidak ada orang kaya misterius yang datang menyelamatkan.

Tidak ada balas dendam dramatis.

Hanya konsekuensi.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Maya harus menyelesaikan masalah yang dia buat sendiri.

Aku menepati janjiku kepada Ayah dan Ibu.

Aku menyewa apartemen kecil yang nyaman untuk mereka selama satu tahun.

Setelah itu Ayah menjual sebidang tanah warisan di Garut dan membeli rumah sederhana.

Hubungan kami tidak langsung membaik.

Ada luka yang tidak selesai hanya dengan satu permintaan maaf.

Namun perlahan mereka belajar.

Ibu tidak lagi meminta aku “mengalah demi kakak”.

Ayah tidak lagi menggunakan kata “keluarga” setiap kali ingin menghapus batas.

Sedangkan Arga tidak pernah kembali ke hidupku.

Setahun setelah pertemuan di toko kue, sebuah paket kecil tiba di rumah.

Di dalamnya ada cincin pertunangan lama.

Cincin yang kutinggalkan di restoran sembilan tahun sebelumnya.

Hanya ada selembar kertas.

“Aku akhirnya mengerti. Kamu tidak meninggalkanku karena berhenti mencintaiku. Kamu pergi karena mulai mencintai dirimu sendiri.”

Aku membaca kalimat itu sekali.

Kemudian memasukkan cincin tersebut ke dalam kotak.

Bukan karena masih memiliki arti.

Justru karena sudah tidak memiliki arti apa pun.

Malam itu Farhan sedang memasang lampu kecil berbentuk bulan di kamar Alya.

Putriku berlari ke arahku dengan piyama kuning.

“Mama!”

Aku jongkok.

Dia memeluk leherku.

“Besok kita bikin pancake?”

Aku tertawa.

“Boleh.”

Farhan keluar sambil membawa obeng.

“Kalau pancake buatan Mama gosong lagi, Papa pesan bubur ayam.”

Aku melempar bantal kecil kepadanya.

Alya tertawa sampai terbatuk-batuk.

Aku memandangi mereka.

Rumah kami tidak besar.

Tidak ada mobil dinas di halaman.

Tidak ada pesta keluarga yang harus dijaga citranya.

Tidak ada seragam penuh pangkat.

Tidak ada orang yang memintaku mengorbankan diri demi menjaga nama baik orang lain.

Hanya ada meja makan berantakan.

Mainan Alya di lantai.

Foto pernikahan sederhana di dinding.

Dan dua orang yang tidak pernah memintaku mengecilkan diri agar mereka bisa bahagia.

Saat itulah aku sadar sesuatu.

Sembilan tahun lalu aku pergi karena merasa kehilangan semuanya.

Ternyata aku tidak kehilangan hidupku.

Aku hanya meninggalkan orang-orang yang selama bertahun-tahun membuatku percaya bahwa mencintai berarti bertahan meskipun dihancurkan.

Malam itu aku membuang cincin lama tersebut dari kotak kenangan dan menyerahkannya ke toko perhiasan untuk dijual.

Uangnya kusumbangkan ke program pendidikan anak perempuan melalui lembaga tempatku pernah bekerja.

Bukan sebagai balas dendam.

Bukan untuk menghapus masa lalu.

Aku hanya ingin benda terakhir dari hubungan itu akhirnya memiliki kegunaan yang lebih baik daripada sekadar menyimpan luka.

Ketika pulang, Alya sudah tertidur di sofa dengan kepala di paha Farhan.

Farhan berbisik,

“Sudah selesai?”

Aku melihat pintu rumah kami.

Lalu melihat keluargaku.

Keluarga yang kupilih.

Aku mengangguk.

“Sudah.”

Dan kali ini, ketika mengatakan kata itu, aku benar-benar tahu bahwa semuanya memang telah selesai.