Aku pulang lebih awal dan mendengar putriku bernyanyi setelah tiga tahun membisu. Selama ini aku sibuk mengelola jaringan hotel dari sebuah rumah mewah yang terasa dingin, sementara tunanganku sibuk mempersiapkan pernikahan kami. Namun seorang asisten rumah tangga dengan gitar tua berhasil membuat putriku tersenyum lagi.

Avatar penulis
Cerita 04
20 menit baca 913 tayangan
Aku pulang lebih awal dan mendengar putriku bernyanyi setelah tiga tahun membisu. Selama ini aku sibuk mengelola jaringan hotel dari sebuah rumah mewah yang terasa dingin, sementara tunanganku sibuk mempersiapkan pernikahan kami. Namun seorang asisten rumah tangga dengan gitar tua berhasil membuat putriku tersenyum lagi.
Indeks

Aku pulang lebih awal dan mendengar putriku bernyanyi setelah tiga tahun membisu. Selama ini aku sibuk mengelola jaringan hotel dari sebuah rumah mewah yang terasa dingin, sementara tunanganku sibuk mempersiapkan pernikahan kami. Namun seorang asisten rumah tangga dengan gitar tua berhasil membuat putriku tersenyum lagi.

Tunanganku berkata, “Kamu benar-benar mau membuang pertunangan delapan bulan hanya demi seorang pembantu?”

Aku tidak membantah.

Aku membatalkan pernikahan.

Lalu aku memeriksa rekaman CCTV rumah.

Tetapi malam itu, aku menemukan sebuah kalung di tempat tunanganku makan malam sehari sebelumnya.

Dan sejak saat itu, semuanya berubah.

Aku pulang lebih awal dan mendengar putriku bernyanyi setelah tiga tahun membisu. Selama ini aku sibuk mengelola jaringan hotel dari sebuah rumah mewah yang terasa dingin, sementara tunanganku sibuk mempersiapkan pernikahan kami. Namun seorang asisten rumah tangga dengan gitar tua berhasil membuat putriku tersenyum lagi.

BAGIAN 1

Hari ketika Arga Pratama mendengar putrinya bernyanyi setelah tiga tahun membisu, ia berdiri membeku di lorong rumahnya sendiri.

Tas kerjanya terlepas dari tangan dan jatuh ke lantai marmer.

Arga berusia 41 tahun. Ia mengelola grup perhotelan yang memiliki beberapa hotel di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali.

Ia tinggal di sebuah rumah besar di Pondok Indah, Jakarta Selatan—rumah modern dengan taman luas, kolam renang, lantai marmer, dan jendela-jendela tinggi yang membuat siapa pun yang datang untuk pertama kali terpukau.

Namun bagi Arga, rumah itu tidak pernah terasa seperti rumah.

Sejak istrinya, Maya, meninggal dalam kecelakaan mobil tiga tahun sebelumnya, tempat itu hanya terasa seperti bangunan mewah yang dipenuhi kenangan.

Kehilangan Maya memang menghancurkan Arga.

Tetapi luka terbesarnya adalah putri mereka.

Alya.

Alya sekarang berusia lima tahun.

Ketika kecelakaan itu terjadi, usianya baru dua tahun.

Ia berada di dalam mobil bersama ibunya dan selamat.

Namun setelah hari itu, Alya berhenti berbicara.

Benar-benar berhenti.

Dokter dan psikolog anak menjelaskan bahwa Alya mengalami trauma berat. Secara fisik, tidak ada sesuatu yang menghalanginya untuk berbicara.

Tetapi secara emosional, seolah-olah sebuah pintu di dalam dirinya tertutup rapat.

Arga mencoba semuanya.

Ia membawa Alya ke psikolog anak terbaik di Jakarta.

Terapis wicara.

Terapi bermain.

Terapi musik profesional.

Sekolah swasta dengan pendamping khusus.

Bahkan konsultasi dengan spesialis di Singapura.

Tidak ada yang berhasil.

Alya tetap diam.

Ia berkomunikasi dengan menunjuk benda, menulis beberapa kata sederhana, atau menggambar.

Namun Arga tidak pernah lagi mendengar suara putrinya memanggilnya.

Awalnya Arga selalu berusaha pulang sebelum makan malam.

Ia duduk di sebelah Alya.

Membacakan buku.

Mengajaknya bermain.

Menunjukkan foto-foto lama mereka bertiga.

Namun semakin lama, semakin sulit baginya menatap mata anaknya sendiri.

Setiap kali Alya membuka mulut tetapi tidak mengeluarkan suara, Arga merasa seperti sedang dihukum oleh sesuatu yang tidak bisa ia lawan.

Perlahan-lahan, ia mulai pulang semakin malam.

Alasannya selalu sama.

Rapat.

Klien.

Pembukaan hotel baru.

Investor.

Perjalanan bisnis.

Sebagian memang benar.

Tetapi sebagian lainnya adalah kebohongan yang ia katakan kepada dirinya sendiri.

Sebenarnya Arga takut pulang.

Ia takut duduk di meja makan besar itu bersama seorang anak yang tidak pernah berbicara dan menyadari bahwa seluruh uang yang ia miliki tidak mampu memberikan kembali satu kata pun kepada putrinya.

Kemudian datanglah Nadira Wulandari.

Usianya 29 tahun.

Nadira berasal dari sebuah desa kecil di sekitar Klaten, Jawa Tengah.

Ia datang ke Jakarta untuk bekerja karena ayahnya membutuhkan biaya pengobatan, sementara dua adiknya masih sekolah.

Ia mendapat pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di rumah Arga melalui kenalan seorang pegawai lama keluarga tersebut.

Hari pertama Nadira tiba, ia hanya membawa satu koper kecil.

Dan sebuah gitar akustik tua.

Kayunya sudah kusam.

Ada goresan di beberapa bagian.

Bahkan salah satu sisinya pernah diperbaiki.

Gitar itu milik mendiang ibunya.

Bu Ratna, kepala rumah tangga keluarga Arga, melihat gitar tersebut dengan tatapan heran.

“Kamu datang ke sini untuk bekerja, kan?”

Nadira mengangguk.

“Iya, Bu.”

“Di rumah ini kita tidak membutuhkan pemain musik.”

Nadira tersenyum kecil.

“Saya tidak datang untuk bermain musik, Bu. Saya datang untuk bekerja.”

Dan Nadira menepati ucapannya.

Ia bekerja dengan tenang.

Bangun pagi.

Membersihkan kamar.

Merapikan ruang keluarga.

Membantu di dapur.

Mengurus tanaman kecil di balkon belakang.

Ia tidak pernah banyak bertanya tentang keluarga majikannya.

Tidak ikut bergosip.

Tidak mencoba mencari perhatian.

Namun ada satu kebiasaannya yang berbeda.

Ketika bekerja, Nadira sering bersenandung sangat pelan.

Lagu-lagu sederhana.

Lagu daerah yang dulu dinyanyikan ibunya.

Lagu anak-anak.

Kadang hanya melodi tanpa kata.

Beberapa hari setelah Nadira mulai bekerja, ia menyadari sesuatu.

Alya sering mengikutinya.

Tidak dekat.

Hanya dari kejauhan.

Ketika Nadira membersihkan rak buku, Alya berdiri di balik pintu.

Ketika Nadira menyiram tanaman, Alya duduk di dekat jendela.

Ketika Nadira melipat pakaian, Alya duduk beberapa meter darinya sambil memeluk boneka kelinci.

Alya tidak pernah berkata apa-apa.

Ia hanya mendengarkan.

Nadira juga tidak pernah memaksanya berbicara.

Tidak pernah bertanya, “Kenapa kamu diam?”

Tidak pernah berkata, “Ayo bicara.”

Ia hanya membiarkan Alya berada di dekatnya.

Suatu sore, Nadira menemukan Alya duduk sendirian di dekat jendela ruang keluarga sambil memeluk bonekanya.

Hujan turun ringan di luar.

Nadira sedang membawa gitar dari kamarnya karena ingin membersihkan bagian kayunya.

Mata Alya langsung tertuju pada gitar tersebut.

Nadira memperhatikannya.

“Kamu suka musik?”

Alya tidak menjawab.

Namun matanya tetap menatap gitar.

Nadira tersenyum.

Ia duduk di atas karpet, beberapa meter dari Alya.

“Ini gitar punya ibu Kak Nadira dulu.”

Alya berkedip.

Nadira memetik satu senar.

Lalu satu lagi.

“Ada satu lagu yang ibu Kak Nadira selalu nyanyikan waktu Kak Nadira takut.”

Alya perlahan memiringkan kepala.

Nadira mulai bermain.

Melodinya sederhana.

Tentang seekor burung kecil yang takut meninggalkan sarangnya.

Burung itu selalu melihat langit tetapi tidak berani mengepakkan sayap.

Ibunya berkata bahwa burung kecil tidak harus terbang jauh.

Ia hanya perlu mencoba satu kepakan terlebih dahulu.

Nadira menyanyikannya dengan suara sangat lembut.

Alya tidak bereaksi.

Setidaknya pada hari pertama.

Namun tiga hari kemudian, ketika Nadira memainkan lagu yang sama, sudut bibir Alya sedikit terangkat.

Nadira melihatnya.

Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa.

Ia terus bermain seolah tidak menyadarinya.

Seminggu kemudian, sesuatu berubah.

Alya mulai duduk lebih dekat.

Hari berikutnya lebih dekat lagi.

Lalu suatu sore, Nadira melihat bibir Alya bergerak mengikuti lagu.

Tidak ada suara.

Hanya gerakan kecil.

Nadira menahan napas.

Tetapi sekali lagi, ia tidak memaksakan apa pun.

Ia terus memainkan gitar.

“Burung kecil tidak perlu takut…”

Bibir Alya bergerak.

“Karena langit selalu menunggu…”

Alya menarik napas.

Sebuah suara sangat kecil keluar dari tenggorokannya.

Hampir tidak terdengar.

Nadira menghentikan tangannya sesaat.

Alya langsung menunduk, seperti takut telah melakukan kesalahan.

Nadira segera kembali memainkan gitar.

Tidak ada keterkejutan berlebihan.

Tidak ada teriakan memanggil orang lain.

Ia hanya tersenyum.

Seolah apa yang dilakukan Alya adalah hal paling normal di dunia.

Sejak hari itu, Nadira memainkan lagu tersebut hampir setiap sore.

Sementara itu, Arga hampir tidak mengetahui apa pun.

Ia sedang sibuk menyiapkan pembukaan hotel baru di Bali sekaligus mempersiapkan pernikahannya dengan Selina Mahendra.

Selina berusia 34 tahun.

Ia berasal dari keluarga berada di Jakarta dan bekerja di bidang konsultan branding.

Cantik.

Terpelajar.

Pandai berbicara.

Elegan.

Selama delapan bulan pertunangan mereka, Selina mulai mengatur hampir seluruh detail pernikahan.

Hotel.

Gaun.

Dekorasi.

Daftar tamu.

Bahkan fotografer.

Arga membiarkannya.

Baginya, mungkin menikah lagi adalah cara untuk membuat hidupnya kembali normal.

Selina juga selalu berkata bahwa Alya membutuhkan figur seorang ibu.

Namun ada satu masalah.

Alya tidak pernah benar-benar dekat dengannya.

Jika Selina mencoba memeluknya, tubuh Alya menjadi kaku.

Jika Selina membelikannya sesuatu, Alya hanya menerima lalu pergi.

Selina mengatakan itu hanya karena Alya belum terbiasa.

Arga mempercayainya.

Sampai suatu sore, sebuah rapat penting di kantornya tiba-tiba dibatalkan.

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Arga pulang sebelum matahari tenggelam.

Mobilnya memasuki halaman rumah sekitar pukul lima.

Ia berjalan masuk sambil menelepon asistennya.

Kemudian berhenti.

Ada suara dari ruang keluarga.

Suara gitar.

Arga mengenali bahwa itu bukan musik dari televisi.

Seseorang sedang bermain langsung.

Ia hampir memanggil Bu Ratna.

Lalu ia mendengar sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya membeku.

Suara anak kecil.

“Jangan takut…”

Arga tidak bergerak.

Telepon masih berada di tangannya.

“Ayah?”

suara asistennya terdengar dari telepon.

Arga bahkan tidak mendengar.

Dari balik pintu ruang keluarga, suara itu kembali terdengar.

Lebih jelas.

“Jangan takut untuk terbang…”

Tas kerja Arga jatuh ke lantai.

Suara kerasnya bergema di lorong.

Tangannya mulai gemetar.

Tidak mungkin.

Ia berjalan menuju ruang keluarga.

Sangat pelan.

Seolah takut suara itu akan menghilang jika ia bergerak terlalu cepat.

Ketika sampai di pintu, ia melihat Nadira duduk di atas karpet dengan gitar tua di tangannya.

Di depannya berdiri Alya.

Putrinya.

Anak yang tidak berbicara selama tiga tahun.

Alya sedang bernyanyi.

Suaranya kecil.

Sedikit bergetar.

Tetapi nyata.

Arga menutup mulut dengan tangannya.

Air matanya langsung memenuhi mata.

“Nak…”

Nadira menghentikan permainan gitarnya.

Alya menoleh.

Tatapannya bertemu dengan ayahnya.

Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun bergerak.

Arga takut.

Takut jika ia berlari mendekat, Alya akan kembali menutup dirinya.

Jadi ia hanya berdiri di sana.

Kemudian Alya membuka mulut.

Dan mengucapkan satu kata yang tidak pernah didengar Arga selama tiga tahun.

“Papa.”

Kaki Arga hampir kehilangan kekuatan.

Ia berlutut.

Air matanya jatuh tanpa bisa dihentikan.

Alya berjalan pelan ke arahnya.

Arga membuka kedua lengannya.

Putrinya masuk ke dalam pelukannya.

“Papa…”

Alya mengatakannya sekali lagi.

Arga memeluknya erat.

“Iya… Papa di sini.”

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah besar itu tidak terasa kosong.

Nadira menundukkan kepala.

Matanya ikut berkaca-kaca.

Ia hendak bangkit dan memberikan ruang kepada ayah dan anak itu.

Namun ada seseorang yang berdiri di pintu ruang makan.

Selina.

Ia ternyata juga pulang lebih awal karena ingin membahas daftar undangan pernikahan.

Dan ia melihat semuanya.

Melihat Alya memeluk ayahnya.

Melihat Arga menangis.

Melihat gitar tua di tangan Nadira.

Selina seharusnya bahagia.

Seorang anak yang sudah membisu selama tiga tahun akhirnya berbicara lagi.

Namun wajah Selina tidak menunjukkan kebahagiaan.

Ia justru menatap Nadira.

Lama.

Dingin.

Karena pada saat itu Selina menyadari sesuatu yang sangat mengganggunya.

Dalam hitungan minggu, seorang asisten rumah tangga sederhana dari Jawa Tengah telah berhasil masuk ke tempat yang selama delapan bulan tidak pernah bisa ia masuki.

Hati Alya.

Dan ketika Selina melihat cara Arga menatap Nadira dengan rasa terima kasih yang begitu dalam, sebuah pikiran lain muncul di kepalanya.

Mungkin bukan hanya hati Alya yang mulai terbuka.

Mungkin hati Arga juga.

Selina menggenggam ponselnya lebih erat.

Namun tidak seorang pun mengetahui bahwa masalah sebenarnya bukanlah rasa cemburu Selina.

Karena malam berikutnya, sebuah kejadian di rumah itu membuat Arga membatalkan pernikahannya.

Dan ketika ia membuka rekaman CCTV untuk mencari kebenaran, ia menemukan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada yang pernah ia bayangkan.

Sebuah kalung.

Kalung yang seharusnya berada di tempat lain.

Kalung yang ternyata berada di meja tempat Selina makan malam sehari sebelumnya.

Dan orang terakhir yang terlihat menyentuh kalung itu adalah seseorang yang sama sekali tidak Arga curigai.

BAGIAN 2

Malam setelah Alya akhirnya memanggilnya “Papa”, Arga tidak tidur.

Bukan karena pekerjaan.

Bukan karena pembukaan hotel baru.

Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, ia duduk di lantai kamar putrinya sampai hampir tengah malam hanya untuk mendengarkan Alya mengucapkan kata-kata sederhana.

“Air.”

“Boneka.”

“Papa.”

Setiap kata terasa seperti hadiah yang tidak berani ia harapkan lagi.

Nadira sudah berkali-kali mengingatkan agar Arga tidak memaksa Alya berbicara terlalu banyak.

“Pelan-pelan saja, Pak. Jangan sampai Alya merasa sekarang semua orang menunggu dia bicara.”

Arga mengangguk.

“Kamu belajar soal anak-anak dari mana?”

Nadira tersenyum kecil.

“Dari ibu saya.”

Hanya itu jawabannya.

Namun sejak sore itu, sesuatu berubah di rumah tersebut.

Arga mulai pulang lebih cepat.

Ia makan malam bersama Alya.

Kadang Nadira memainkan gitar di teras belakang dan Alya ikut bersenandung.

Rumah yang selama tiga tahun hanya dipenuhi suara pendingin ruangan dan langkah para pegawai mulai terdengar hidup lagi.

Satu-satunya orang yang tampak semakin tidak nyaman adalah Selina.

Tiga hari kemudian, saat Nadira sedang membersihkan ruang makan, Selina menghampirinya.

“Duduk.”

Nadira berhenti bekerja.

“Maaf, Bu?”

“Aku bilang duduk.”

Selina meletakkan sebuah amplop tebal di meja.

Nadira tidak menyentuhnya.

“Apa ini?”

“Dua puluh juta.”

Nadira menatapnya.

“Untuk apa?”

“Pulang ke Klaten.”

Nadira terdiam.

Selina menyilangkan tangan.

“Aku akan menikah dengan Arga bulan depan. Setelah itu aku yang akan menjadi ibu di rumah ini.”

Nadira menarik napas.

“Saya tidak pernah mencoba menggantikan siapa pun.”

“Tapi Alya mengikuti kamu ke mana-mana.”

“Itu bukan sesuatu yang saya rencanakan.”

“Dan Arga sekarang selalu bertanya tentang kamu.”

Nadira akhirnya memahami.

Ia mendorong amplop itu kembali.

“Saya bekerja di sini karena keluarga saya membutuhkan uang. Tapi saya tidak akan menerima uang untuk meninggalkan seorang anak yang baru mulai merasa aman.”

Wajah Selina berubah.

“Kamu lupa posisi kamu.”

“Saya tahu posisi saya.”

Nadira berdiri.

“Saya pegawai di rumah ini.”

Kemudian ia menatap Selina dengan tenang.

“Tapi Alya bukan sebuah posisi yang bisa diperebutkan.”

Selina tidak menjawab.

Malam itu, semuanya terjadi.

Sekitar pukul sembilan, terdengar teriakan dari lantai atas.

“Nadira!”

Seluruh rumah terdiam.

Selina berlari turun sambil memegang sebuah kotak beludru kosong.

Arga keluar dari ruang kerjanya.

“Ada apa?”

Selina tampak panik.

“Kalung Maya hilang.”

Arga langsung membeku.

Kalung itu bukan perhiasan biasa.

Sebuah liontin emas kecil dengan batu safir biru.

Hadiah ulang tahun pertama Arga untuk Maya setelah mereka menikah.

Setelah Maya meninggal, Arga menyimpannya di sebuah kotak di lemari kamar utama.

Ia tidak pernah menjualnya.

Tidak pernah memberikannya kepada siapa pun.

Suatu hari ia berniat memberikannya kepada Alya ketika putrinya dewasa.

“Bagaimana kamu tahu kalung itu hilang?” tanya Arga.

Selina ragu sesaat.

“Aku sedang mencari tempat untuk menyimpan perhiasanku setelah menikah nanti. Aku membuka lemari dan melihat kotaknya.”

Arga mengambil kotak itu.

Kosong.

“Siapa yang masuk kamar?”

Bu Ratna menjawab.

“Hari ini cuma saya dan Nadira, Pak.”

Semua mata beralih kepada Nadira.

Nadira langsung pucat.

“Saya hanya membersihkan kamar.”

Selina menggeleng.

“Kebetulan sekali.”

Nadira menatapnya.

“Saya tidak mengambil apa pun.”

“Kalung itu tidak punya kaki.”

“Cukup,” kata Arga.

Selina menatap tunangannya.

“Kamu masih mau membelanya?”

“Aku bilang cukup.”

Tetapi Selina belum selesai.

“Periksa kamarnya.”

Nadira terdiam.

Arga tampak tidak nyaman.

Namun Nadira justru berkata:

“Silakan.”

Mereka menuju kamar kecil Nadira di belakang.

Bu Ratna membuka lemari.

Tidak ada apa-apa.

Kemudian Selina menunjuk koper Nadira.

“Yang itu.”

Nadira membukanya sendiri.

Beberapa pakaian.

Buku.

Obat untuk ayahnya.

Amplop berisi slip transfer.

Dan gitar tua.

Tidak ada kalung.

Selina menarik napas kesal.

Lalu Alya muncul di ambang pintu.

Anak itu memegang boneka kelincinya.

Wajahnya ketakutan.

Selina segera mengubah nada suaranya.

“Alya, kembali ke kamar, Sayang.”

Alya tidak bergerak.

Ia justru berjalan menuju Nadira dan menggenggam tangannya.

Selina menatap Arga.

“Lihat? Ini yang aku maksud. Kamu membiarkan anakmu terlalu dekat dengan seorang pembantu.”

Arga perlahan mengangkat kepala.

“Jangan bicara seperti itu di depan Alya.”

“Aku calon istrimu.”

“Dan dia manusia yang bekerja di rumahku.”

Selina tertawa kecil.

“Jadi sekarang kamu membela dia?”

“Aku membela seseorang yang belum terbukti melakukan apa pun.”

Selina mendekatinya.

“Jangan bilang kamu akan membuang pertunangan delapan bulan hanya demi seorang pembantu.”

Kalimat itu membuat ruangan sunyi.

Arga memandang Selina cukup lama.

Kemudian matanya beralih kepada Alya.

Putrinya sedang menggenggam tangan Nadira erat-erat.

Dan untuk pertama kalinya, Arga melihat sesuatu yang selama ini ia abaikan.

Alya takut kepada Selina.

Bukan malu.

Bukan tidak terbiasa.

Takut.

Arga menatap tunangannya lagi.

“Pernikahan kita batal.”

Selina kehilangan senyumnya.

“Apa?”

“Kamu dengar aku.”

“Arga, jangan konyol.”

“Aku tidak akan menikahi seseorang yang memperlakukan orang berdasarkan harga pakaian mereka.”

Selina menatapnya tidak percaya.

“Setelah semua yang aku lakukan untukmu?”

“Besok kita bicara soal barang-barangmu.”

Selina mengambil tasnya.

Sebelum pergi, ia menatap Nadira.

Tatapan itu penuh kemarahan.

“Kamu akan menyesali ini.”

Pintu depan tertutup keras.

Namun masalah belum selesai.

Kalung Maya tetap hilang.

Keesokan paginya, Arga memanggil kepala keamanan.

“Ambil rekaman CCTV tiga hari terakhir.”

Mereka memeriksa kamera koridor, ruang keluarga, pintu depan, dapur, dan ruang makan.

Kamera tidak ada di kamar tidur karena alasan privasi.

Selama hampir dua jam, tidak ditemukan apa pun.

Sampai Arga melihat rekaman malam sebelumnya.

“Berhenti.”

Kepala keamanan menghentikan video.

Di meja ruang makan terlihat sebuah benda kecil berkilau.

Arga memperbesar gambar.

Jantungnya berdegup kencang.

Kalung Maya.

Berada di meja.

Tepat di tempat Selina makan malam.

Rekaman menunjukkan Selina bangkit sekitar pukul delapan.

Ia meninggalkan meja.

Beberapa menit kemudian, seseorang masuk.

Arga maju mendekati monitor.

Itu Nadira.

Namun Nadira tidak mengambil kalung tersebut.

Ia membawa piring kotor ke dapur.

Lalu sosok kecil muncul dari sisi lain ruangan.

Alya.

Anak itu mendekati meja.

Mengambil kalung.

Kemudian pergi.

Arga terdiam.

“Alya?”

Ia segera menuju kamar putrinya.

Alya sedang menggambar.

Arga berlutut.

“Sayang, Papa mau tanya sesuatu.”

Alya menatapnya.

“Kamu mengambil kalung Mama?”

Wajah Alya berubah.

Pensil terlepas dari tangannya.

Arga segera melembutkan suaranya.

“Papa tidak marah.”

Alya mulai gemetar.

Nadira yang berdiri di pintu perlahan mendekat.

“Alya, tidak apa-apa.”

Anak itu memandang Nadira.

Kemudian mengucapkan dua kata.

“Bukan… curi.”

Arga merasa dadanya sesak.

“Papa tahu.”

Alya turun dari kursi.

Ia merangkak ke bawah tempat tidur dan menarik sebuah kotak gambar.

Dari dalamnya ia mengeluarkan kalung Maya.

Lalu sebuah kertas.

Sebuah gambar dengan krayon.

Tiga orang.

Arga.

Alya.

Dan seorang perempuan dengan gaun biru.

Maya.

Di samping mereka ada satu sosok lain.

Nadira dengan gitar.

Alya menyerahkan kalung itu kepada ayahnya.

Kemudian berkata pelan:

“Selina… buang.”

Arga membeku.

“Apa?”

Alya menunjuk kalung.

“Selina bilang… Mama sudah mati.”

Air mata mulai menggenang di matanya.

“Tidak perlu Mama lagi.”

Ruangan seakan kehilangan udara.

Nadira menutup mulut.

Arga merasakan sesuatu di dalam dirinya runtuh.

“Dia bilang itu kapan?”

Alya mulai kesulitan berbicara.

Nadira segera memegang tangannya.

“Tidak usah dipaksa.”

Namun Alya menggeleng.

Ia ingin bicara.

“Kalau Papa pergi… Selina marah.”

Arga menatap putrinya.

Setiap kata menghantamnya.

“Dia bilang… Alya harus lupa Mama.”

Air mata jatuh di pipi anak itu.

“Kalau Alya bicara soal Mama… Papa sedih.”

Arga akhirnya memahami.

Selama ini ia mengira diamnya Alya hanya berasal dari kecelakaan.

Ternyata setelah trauma itu, tanpa disadarinya, rumah yang seharusnya menjadi tempat aman justru membuat Alya semakin takut menggunakan suaranya.

Dan ia, ayahnya sendiri, hampir tidak pernah berada di sana.

Arga memeluk putrinya.

“Maafkan Papa.”

Alya menangis di dadanya.

“Papa tidak pergi?”

Arga menutup mata.

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, janji itu terasa lebih penting daripada seluruh kontrak bisnis yang pernah ia tanda tangani.

Namun kebenaran terbesar belum terungkap.

BAGIAN 3

Dua minggu kemudian, Nadira menerima telepon dari Klaten.

Ayahnya masuk rumah sakit.

Kondisinya memburuk.

Biaya tindakan medis jauh lebih besar daripada yang diperkirakan.

Nadira mengemas pakaiannya malam itu.

Arga menemukannya di kamar.

“Kamu mau pergi?”

Nadira mengangguk.

“Ayah saya harus dirawat.”

“Berapa biayanya?”

Nadira langsung menggeleng.

“Pak Arga, jangan.”

“Aku cuma bertanya.”

“Saya tidak ingin menerima bantuan karena Alya.”

Arga terdiam.

Nadira menatapnya.

“Saya sayang Alya. Justru karena itu saya tidak ingin hubungan saya dengan dia punya harga.”

Kalimat itu membuat Arga tidak bisa menjawab.

Keesokan paginya, Alya menangis ketika mengetahui Nadira akan pergi.

“Nadira pulang?”

“Sebentar saja.”

“Balik?”

Nadira berlutut.

“Insyaallah.”

Alya kemudian melakukan sesuatu yang mengejutkan.

Ia mengambil kalung Maya.

Arga segera berkata:

“Alya, itu milikmu.”

Namun Alya memberikan kalung tersebut kepada Nadira.

“Untuk Ayah Nadira.”

Nadira langsung menggeleng sambil menangis.

“Tidak, Sayang.”

“Jual.”

Semua orang terdiam.

Alya memegang tangan Nadira.

“Biar ayah sembuh.”

Nadira memeluk anak itu erat.

“Tidak boleh. Ini dari Mama Alya.”

Alya menjawab dengan suara kecil:

“Mama pasti mau.”

Arga berpaling karena tidak mampu menahan air mata.

Akhirnya Nadira tetap pergi tanpa membawa kalung.

Namun diam-diam Arga menghubungi rumah sakit di Solo.

Ia tidak membayar seluruh tagihan sebagai pemberian.

Ia meminta bagian sosial perusahaan hotelnya memasukkan ayah Nadira ke program bantuan kesehatan pegawai dan keluarga yang sebenarnya sudah tersedia, tetapi selama ini hampir tidak pernah digunakan.

Kemudian Arga melakukan sesuatu yang lebih besar.

Ia memperluas program itu untuk seluruh karyawan grup hotelnya.

Karena untuk pertama kalinya ia sadar bahwa di balik setiap seragam ada seseorang yang sedang berjuang untuk keluarganya.

Tiga minggu kemudian, Nadira kembali ke Jakarta.

Ayahnya membaik.

Alya berlari memeluknya di pintu.

Tetapi Nadira membawa sesuatu.

Sebuah amplop tua.

“Ibu saya menyimpan ini bertahun-tahun,” katanya kepada Arga.

“Setelah saya cerita tentang Alya, ayah meminta saya membawanya.”

Arga membuka amplop.

Di dalamnya terdapat sebuah foto lama.

Ia melihatnya.

Dan wajahnya langsung pucat.

Foto itu diambil hampir tiga puluh tahun lalu.

Dua perempuan muda berdiri berdampingan di sebuah acara sekolah di Yogyakarta.

Salah satunya adalah ibu Nadira.

Yang satunya…

Arga mengenal wajah itu.

“Ibu saya,” bisiknya.

Nadira mengangguk.

Ternyata ibu mereka pernah menjadi sahabat dekat saat kuliah.

Kemudian kehidupan memisahkan mereka.

Ibu Nadira pulang ke Jawa Tengah.

Ibu Arga menikah dan pindah ke Jakarta.

Namun ada sesuatu di belakang foto.

Tulisan tangan.

Arga membaliknya.

Kalimatnya sederhana:

Kalau suatu hari anak-anak kita bertemu, semoga mereka saling memperlakukan sebagai manusia sebelum mengetahui siapa keluarga mereka.

Arga membaca kalimat itu dua kali.

Kemudian tiga kali.

Nadira tersenyum sambil menangis.

“Ibu saya selalu menyimpan foto ini.”

Arga tertawa kecil di antara air matanya.

Selama berbulan-bulan ia mengira Nadira datang ke rumahnya karena kebetulan.

Ternyata hidup telah mempertemukan dua keluarga yang pernah saling mengenal.

Bukan untuk menciptakan kisah cinta seperti yang dicurigai Selina.

Melainkan untuk menyelamatkan seorang anak.

Beberapa bulan berlalu.

Arga tidak menikahi Nadira.

Ia juga tidak buru-buru mencari pengganti Selina.

Karena akhirnya ia memahami bahwa tidak semua akhir bahagia harus berakhir dengan pernikahan.

Nadira tetap bekerja beberapa waktu, kemudian dengan bantuan program beasiswa perusahaan, ia mengambil pendidikan di bidang pendampingan anak sambil tetap dekat dengan Alya.

Arga juga berubah.

Ia menunjuk direktur operasional baru agar tidak lagi bekerja sampai tengah malam.

Setiap sore sebisa mungkin ia pulang.

Ia belajar memainkan gitar.

Buruk sekali.

Alya selalu tertawa ketika ayahnya salah memainkan kord.

Setahun kemudian, pada acara ulang tahun kecil Alya yang keenam, rumah Pondok Indah itu penuh suara.

Tidak ada pesta mewah.

Tidak ada ratusan tamu.

Hanya keluarga, beberapa teman sekolah, Bu Ratna, Nadira, dan ayah Nadira yang sudah sehat.

Di tengah acara, Alya berdiri membawa gitar tua Nadira.

“Alya mau nyanyi.”

Semua orang langsung diam.

Arga duduk di barisan depan.

Alya memainkan beberapa nada sederhana.

Lalu menyanyikan lagu tentang burung kecil yang takut terbang.

Lagu yang dahulu membuka kembali suaranya.

Di tengah lagu, Alya berhenti.

Ia memandang ayahnya.

“Papa.”

“Iya?”

“Dulu Alya pikir kalau Alya bicara, Papa akan sedih karena ingat Mama.”

Arga menahan napas.

Alya tersenyum.

“Sekarang Alya tahu kalau kita ingat Mama, kita boleh sedih.”

Ia menatap Nadira.

“Tapi kita juga boleh bahagia.”

Tidak ada seorang pun di ruangan itu mampu menahan air mata.

Arga berjalan ke depan dan memeluk putrinya.

Di leher Alya tergantung kalung safir milik Maya.

Kalung yang pernah hampir menghancurkan keluarga mereka karena sebuah tuduhan.

Kini justru menjadi pengingat bahwa seseorang yang telah pergi tidak perlu dihapus agar orang yang masih hidup bisa melanjutkan hidup.

Malam itu, setelah semua tamu pulang, Arga menemukan Alya tertidur di sofa.

Gitar tua berada di sampingnya.

Ia mengangkat putrinya perlahan.

Ketika hendak membawanya ke kamar, Alya membuka mata setengah sadar.

“Papa?”

“Iya, Sayang.”

“Besok Papa kerja?”

Arga tersenyum.

“Iya.”

“Pulang malam?”

Arga memandang wajah putrinya.

Dulu pertanyaan sederhana itu mungkin akan ia jawab dengan janji kosong.

Sekarang tidak.

“Papa pulang sebelum makan malam.”

Alya tersenyum dan kembali memejamkan mata.

Arga menggendongnya melewati lorong yang sama tempat tas kerjanya pernah jatuh setahun sebelumnya.

Dulu lorong itu sunyi.

Sekarang di dindingnya tergantung gambar-gambar Alya.

Foto Maya tetap berada di sana.

Tidak disembunyikan.

Tidak digantikan.

Di sampingnya ada foto ulang tahun Alya bersama Nadira, Bu Ratna, dan seluruh orang yang kini ia sebut keluarga.

Arga akhirnya mengerti sesuatu yang selama tiga tahun gagal ia pahami.

Ia menghabiskan hidupnya membangun hotel agar orang asing merasa seperti berada di rumah.

Namun ia hampir kehilangan putrinya karena lupa membuat rumahnya sendiri terasa seperti rumah.

Ia pernah mengira Nadira telah mengembalikan suara Alya.

Ternyata bukan.

Suara itu tidak pernah benar-benar hilang.

Alya hanya membutuhkan seseorang yang cukup sabar untuk tidak memaksanya berbicara.

Seseorang yang mau duduk di lantai.

Memetik gitar tua.

Dan menunggu.

Sampai burung kecil itu memutuskan sendiri bahwa ia siap terbang.

TAMAT.


Kisah ini adalah cerita fiksi yang dibuat untuk tujuan hiburan.