Di Reuni 55 Tahun, Perempuan yang Dulu Menghinaku Menyuruhku Melayani Meja Mereka. Pukul Sembilan, Manajer Hotel Mencariku
Bagian 1
Pada reuni 55 tahun angkatanku, perempuan yang pernah mempermalukanku hampir setiap hari selama SMA menyodorkan celemek pelayan ke tanganku.
“Tolonglah sedikit, Marta. Hotel ini jelas kekurangan orang.”
Mejanya langsung dipenuhi tawa.
Lalu Brenda Gunawan menambahkan, cukup pelan agar terdengar seperti bisikan tetapi cukup keras supaya teman-temannya tetap mendengar, “Lagipula, dari dulu kamu memang lebih cocok bekerja di belakang.”
Aku tersenyum, mengikat celemek itu di pinggang, lalu melayani mereka selama tepat satu jam sepuluh menit.
Pukul sembilan malam, pintu ruang pesta terbuka dan manajer umum hotel masuk membawa map kulit. Ia memandang seluruh ruangan lalu bertanya kepada seorang pelayan, “Ibu Marta Santoso ada di mana?”
Saat itu umurku 73 tahun.

Namun selama satu detik, aku kembali mendengar tawa yang sama seperti tahun 1971.
Dulu aku bersekolah di SMA Tunas Harapan di Bandung. Aku adalah anak perempuan yang datang dengan gaun bekas sepupu, rok yang ujungnya sudah pernah dipanjangkan, dan seragam yang selalu diperbaiki ibuku kalau jahitannya mulai lepas.
Brenda adalah anak yang menghitung berapa kali aku memakai pakaian yang sama.
“Baju bunga hijau lagi, Marta?” teriaknya suatu pagi di lorong sekolah. “Bulan ini sudah tiga kali, kan?”
Ayahku meninggal ketika aku sebelas tahun.
Ibu bekerja pagi di sebuah toko kain dan malam membantu seorang penjahit rumahan. Uang kami cukup untuk makan, biaya sekolah, dan kebutuhan dasar kalau tidak ada hal tak terduga.
Kalau kancing copot, Ibu memasangnya lagi.
Kalau rok sobek, ia menambalnya.
Kalau pakaian sudah terlalu kecil, ia akan memikirkan cara mengubahnya.
“Orang gampang membuang kain karena menganggapnya sudah tidak berguna,” katanya kepadaku. “Padahal kalau tahu cara memperlakukannya, kain bisa dipakai bertahun-tahun.”
Menjelang pesta sekolah kelas sebelas, hampir semua teman perempuanku sibuk membicarakan gaun baru.
Aku tidak berani meminta.
Namun suatu malam Ibu mengeluarkan kain kotak-kotak biru dari lemari. Nenek dulu menyimpannya untuk dijadikan taplak meja, tetapi tidak pernah sempat mengerjakannya.
“Bagaimana kalau kita buat sesuatu dari ini?”
Tiga akhir pekan kami habiskan di meja makan.
Ritsletingnya macet dua kali. Satu lengan harus dibongkar dan dijahit ulang. Bagian pinggang sedikit miring kalau dilihat sangat teliti.
Tetapi ketika akhirnya aku mengenakannya, Ibu menutup mulut dengan kedua tangan.
“Marta,” katanya lirih. “Cantik sekali.”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku percaya.
Seorang anak laki-laki pendiam bernama Tomi Mulyana mengajakku datang bersama.
Kami baru beberapa menit berdansa ketika Brenda menghampiri.
Ia menjepit ujung lenganku dengan dua jari.
“Tomi, Marta sudah cerita belum kalau gaunnya dibuat dari kain taplak meja?”
Beberapa kepala langsung menoleh.
Brenda tertawa.
“Nanti setelah acara selesai, mungkin gaunnya bisa dibentangkan di meja minuman. Biar gelas sirup tidak meninggalkan noda.”
Aku menatap Tomi.
Yang kuinginkan sebenarnya sederhana. Satu kalimat saja.
Jangan begitu, Brenda.
Atau bahkan sekadar tidak ikut tertawa.
Namun Tomi tampak gugup.
Kemudian ia tertawa bersama yang lain.
Aku meninggalkan gedung tanpa mengatakan apa pun.
Jarak rumahku hampir tiga kilometer. Aku berjalan pulang dalam udara malam tanpa mengambil jaketku dari ruang penitipan.
Ibu menemukan aku duduk di teras depan, menangis sambil masih mengenakan gaun biru itu.
Ia duduk di sebelahku dan merangkul bahuku.
“Tidak ada yang salah dengan gaun ini.”
“Aku tidak mau memakainya lagi.”
“Kalau begitu jangan.”
Ia diam sebentar.
“Tapi jangan sampai kamu mengira kekejaman orang lain adalah kebenaran tentang dirimu.”
Aku terlalu muda untuk benar-benar memahami kalimat itu.
Beberapa bulan kemudian aku bahkan tidak datang ke acara perpisahan kelulusan.
Aku juga menghindari reuni selama bertahun-tahun.
Satu-satunya yang pernah kuhadiri adalah reuni sepuluh tahun setelah kami lulus.
Saat itu aku sudah menikah dengan Arman Santoso, seorang teknisi pendingin ruangan yang lebih banyak bicara lewat pekerjaannya daripada lewat kata-kata.
Brenda memperkenalkanku kepada beberapa teman sebagai, “Marta yang punya usaha binatu kecil.”
Nada suaranya pada kata kecil membuatku berumur tujuh belas lagi.
Aku pulang sebelum makan malam disajikan.
Padahal usaha binatu itu hampir menghancurkan kami sebelum akhirnya menyelamatkan hidup kami.
Pada 1979, Arman dan aku meminjam uang untuk mengambil alih sebuah binatu yang hampir tutup. Mesin cucinya bekas, pengeringnya sering mati, dan saat hujan deras, air merembes dari bagian belakang atap.
Kami nyaris kehilangan rumah dua kali karena cicilan.
Lalu sebuah panti wreda menghubungi kami.
Mereka membutuhkan tempat yang bisa mencuci seprai, sarung bantal, handuk, dan pakaian kerja dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada pelanggan biasa.
“Bisa?” tanya pengelolanya.
Aku menjawab, “Bisa.”
Setelah menutup telepon, Arman menatapku.
“Kita belum punya mesin sebanyak itu.”
“Aku tahu.”
“Jadi?”
“Kita cari caranya.”
Kontrak itu tidak langsung membuat kami berhasil. Justru beberapa bulan berikutnya kami hampir tidak pernah tidur cukup.
Kami menyewa mesin tambahan, mengambil pinjaman untuk membeli mesin industri bekas, dan mempekerjakan dua orang.
Aku ikut menyortir kain, mengantar cucian, mengangkat kantong linen basah, dan kadang membersihkan lantai sampai lewat tengah malam kalau selang pembuangan bermasalah.
Satu panti menjadi dua.
Kemudian sebuah penginapan kecil meminta layanan rutin.
Setelah itu datang hotel lain.
Rumah makan.
Klinik.
Rumah sakit.
Bertahun-tahun kemudian, Santoso Linen & Laundry menangani kebutuhan tekstil sebelas hotel, enam restoran besar, dan dua rumah sakit di wilayah Bandung dan sekitarnya.
Anak perempuan yang pernah ditertawakan karena memakai kain calon taplak meja membangun usaha besar karena ia memahami sesuatu yang sejak awal diajarkan ibunya.
Kain tidak menjadi tidak berharga hanya karena seseorang memandangnya rendah.
Arman meninggal pada 2016 setelah 41 tahun pernikahan kami.
Putra kami, David, kemudian mengambil alih operasional harian perusahaan secara bertahap.
Aku sudah tidak datang ke gudang setiap pagi seperti dulu, tetapi untuk kontrak hotel besar, peninjauan harga, dan kesepakatan jangka panjang, aku masih ikut menentukan.
Delapan bulan sebelum reuni, undangan masuk ke rumahku.
SMA Tunas Harapan.
Angkatan 1971.
Reuni 55 tahun.
Tempat acaranya membuatku berhenti cukup lama.
Hotel Arunika Bandung.
Hotel itu sudah menjadi klien Santoso Linen & Laundry hampir dua puluh tahun.
Aku menelepon Citra Lestari, koordinator banquet yang sudah kukenal dari berbagai rapat kontrak.
“Siapa ketua panitia reuni?” tanyaku.
Citra ragu sepersekian detik.
“Bu Brenda Gunawan.”
Tentu saja.
Citra kemudian bercerita bahwa Brenda berulang kali meminta potongan biaya. Ia ingin menghapus hidangan penutup, memilih linen meja kelas lebih rendah, dan mengurangi dua petugas layanan karena dianggap tidak perlu.
Aku hampir membuang undangan itu.
Sebaliknya, aku mengajukan sebuah kesepakatan pribadi kepada Citra.
Aku meminta agar hotel tetap menggunakan standar linen biasa, tetap menyediakan hidangan penutup, dan tidak memangkas kualitas pelayanan hanya karena anggaran panitia terbatas. Selisih biaya akan ditanggung Santoso Linen & Laundry sebagai dukungan untuk acara alumni.
Namaku tidak boleh dicantumkan sebagai sponsor.
Tak seorang pun dari staf hotel boleh memperkenalkan atau menjelaskan siapa aku sampai pukul sembilan malam.
Pada pukul sembilan tepat, manajer umum boleh membawakan dokumen acara untuk kutandatangani sekaligus beberapa lembar persetujuan terkait perpanjangan kontrak linen hotel yang memang sudah dijadwalkan untuk kutinjau minggu itu.
Citra terdiam cukup lama.
“Ibu yakin?”
“Ya.”
Aku bukan sedang menyiapkan jebakan untuk Brenda.
Aku ingin teman-temanku mendapat acara yang layak.
Namun ada alasan lain yang lebih pribadi.
Aku ingin tahu apakah pada umur 73 tahun aku bisa masuk ke satu ruangan bersama Brenda tanpa kembali menjadi Marta berumur tujuh belas yang berjalan pulang sambil menangis.
Malam reuni, aku mengenakan gaun abu-abu sederhana dan sepatu hitam rendah.
Brenda mengenaliku begitu aku masuk.
“Marta Wibowo,” katanya, sengaja memakai nama keluargaku sebelum menikah. “Kamu masih suka yang sederhana-sederhana rupanya.”
“Biasanya begitu.”
Ia menepuk lenganku seperti sedang menyapa seseorang yang perlu dikasihani.
“Kamu duduk saja dekat Carol. Alat bantu dengarnya belakangan kurang bagus. Jadi kalian tidak perlu repot-repot memaksakan percakapan.”
“Aku cari tempat sendiri, terima kasih.”
Senyumnya mengeras.
Menjelang makan malam, dua petugas banquet menelepon. Kendaraan mereka terjebak kemacetan panjang akibat kecelakaan beruntun di jalan tol.
Staf yang tersisa masih bisa bekerja, tetapi pelayanan menjadi lebih lambat.
Brenda mengeluh kepada hampir siapa saja yang mau mendengar.
“Hotel sebesar ini masa mengatur pelayan saja tidak bisa?”
Pukul 19.50, aku berdiri dekat meja kopi.
Brenda melihatku.
Sebuah troli layanan sedang melewati kami, dengan beberapa celemek bersih tergantung di sisinya. Brenda mengambil satu lalu menyodorkannya kepadaku.
“Tolonglah sedikit, Marta. Hotel ini jelas kekurangan orang.”
Kemudian ia menurunkan suaranya.
“Lagian dari dulu kamu memang lebih nyaman bekerja di belakang.”
Mejanya meledak dalam tawa.
Aku bahkan mendengar seseorang berkata, “Brenda memang tidak berubah.”
Aku melihat celemek putih itu.
Lalu aku mengambilnya.
Aku menemui kapten banquet dan bertanya apakah aku boleh membantu pekerjaan yang sederhana.
Ia langsung mengenaliku dari rapat-rapat perusahaan.
Aku hanya berkata, “Untuk malam ini, anggap saya tenaga tambahan. Jangan dibuat rumit.”
Ia akhirnya mengizinkanku mengisi kopi, menambah air minum, dan membawa piring kosong ke area pelayanan.
Brenda menganggap pekerjaan fisik akan mempermalukanku.
Ia tidak tahu aku pernah mengangkat karung linen basah yang jauh lebih berat daripada nampan itu.
Ia tidak pernah melihatku mengepel ruang produksi yang kebanjiran pukul dua pagi.
Ia tidak pernah tahu berapa kali aku dan Arman sendiri mengantar linen ke hotel karena sopir sakit atau kendaraan rusak.
Pekerjaan tidak pernah membuatku merasa kecil.
Selama satu jam sepuluh menit, aku bekerja bersama staf hotel.
Brenda dua kali mengangkat gelas kosong ke arahku tanpa menghentikan percakapannya.
Aku mengisinya.
Pukul sembilan tepat, pintu kayu besar ruang pesta terbuka.
Pak Robert Suryana, manajer umum Hotel Arunika, masuk membawa map kulit berwarna cokelat tua.
Ia berhenti di dekat seorang pelayan.
“Maaf,” katanya. “Ibu Marta Santoso ada di mana?”
Pelayan itu menoleh ke arahku.
Lalu menunjuk perempuan tua bercelmek putih yang sedang menuangkan kopi tanpa kafein.
Pak Robert berjalan melintasi ruangan ke arahku.
Percakapan dari meja ke meja mulai mereda.
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
Pak Robert berhenti di depanku sambil memegang map kulit itu dengan kedua tangan.
“Bu Marta, maaf mengganggu acara. Saya perlu tanda tangan Ibu untuk dua dokumen.”
Aku meletakkan teko kopi di atas meja samping.
“Tentu.”
Ia membuka map.
“Yang pertama persetujuan penyesuaian biaya acara malam ini. Sesuai arahan Ibu, selisih biaya linen, dessert, dan layanan tambahan ditanggung Santoso Linen & Laundry.”
Suasana di belakangku menjadi begitu sunyi sampai bunyi sendok jatuh dari sebuah meja terdengar jelas.
Pak Robert melanjutkan dengan nada profesional yang sama seperti saat rapat.
“Yang kedua perpanjangan kontrak layanan linen Hotel Arunika untuk tiga tahun. Tim kami sudah memasukkan revisi volume dari hasil pembicaraan terakhir dengan Pak David.”
Aku menerima pena yang ia sodorkan.
Dari sudut mata, kulihat Brenda berdiri.
“Kamu… Santoso Linen?” tanyanya.
Aku menandatangani halaman pertama.
“Ya.”
Ia tertawa kecil, tetapi suara itu tidak lagi terdengar santai.
“Aku tahu kamu punya usaha laundry. Yang kecil itu.”
Pak Robert menoleh kepadanya, mungkin mengira Brenda sedang bertanya sungguhan.
“Santoso Linen menangani seluruh linen kamar dan sebagian besar kebutuhan banquet kami, Bu. Kami sudah bekerja sama hampir dua puluh tahun.”
Aku menutup map setelah menandatangani lembar kedua.
“Besok pagi bagian legal perusahaan kami tetap akan memeriksa salinan finalnya, Pak Robert.”
“Pasti.”
Ia menerima kembali map itu.
Brenda menunjuk dekorasi meja.
“Jadi semua ini… kamu yang bayar?”
“Tidak semuanya.”
Aku melepaskan celemek dari pinggang.
“Panitia tetap membayar sesuai anggaran yang kalian sepakati. Perusahaanku menutup selisih supaya kualitas acara tidak perlu diturunkan.”
Carol, yang duduk dua meja dari kami, memandang piring dessert di depannya.
“Jadi dessert yang tadi Brenda bilang berhasil dia dapat gratis itu…”
Brenda cepat memotong.
“Ini reuni. Tidak perlu membicarakan uang.”
Aku hampir tersenyum.
Delapan bulan ia menawar hotel sampai ke jumlah pelayan, tetapi sekarang uang mendadak menjadi topik yang tidak pantas.
Aku menyerahkan celemek kepada kapten banquet.
“Terima kasih sudah membiarkan saya ikut membantu.”
“Justru kami yang terima kasih, Bu.”
Brenda tampak menatapku seolah sedang mencari sesuatu yang bisa mengembalikan keadaan ke bentuk semula.
Akhirnya ia berkata, “Ya sudah, Marta. Kamu tidak perlu membuat semuanya terdengar begitu dramatis. Aku cuma bercanda soal celemek tadi.”
Aku memandangnya.
“Aku tahu kamu menganggapnya lucu.”
“Itu kebiasaan kita dari dulu.”
“Bukan kebiasaanku.”
Beberapa orang menundukkan pandangan.
Brenda membuka mulut, tetapi seorang pria dari meja belakang lebih dulu berdiri.
Aku tidak langsung mengenalinya.
Rambutnya sudah hampir seluruhnya putih dan tubuhnya lebih kurus daripada yang kuingat.
Ia berjalan mendekat dengan lambat.
“Marta?”
Nada suaranya membuatku tahu sebelum otakku berhasil mencocokkan wajahnya.
Tomi Mulyana.
Anak laki-laki yang menertawakan gaun biruku lima puluh lima tahun sebelumnya.
“Tomi.”
Ia memasukkan kedua tangan ke saku celana.
“Aku pernah ingin menghubungimu.”
Brenda mendengus kecil.
“Jangan sekarang mulai bernostalgia berlebihan.”
Tomi tidak melihat ke arahnya.
“Aku minta maaf.”
Aku diam.
“Waktu pesta sekolah itu,” katanya. “Aku ikut tertawa. Aku tahu kamu berharap aku mengatakan sesuatu, tapi aku takut mereka menertawakanku juga.”
Ruangan di sekeliling kami perlahan mulai berbicara lagi, tetapi beberapa orang terdekat masih mendengar.
Tomi menelan ludah.
“Aku pengecut.”
Brenda mengangkat tangan.
“Ya ampun, kita semua masih anak-anak.”
Tomi akhirnya menoleh kepadanya.
“Kamu mungkin masih anak-anak. Tapi aku tetap bertanggung jawab atas apa yang kulakukan.”
Kalimat itu sederhana.
Justru karena sederhana, Brenda tidak punya jawaban cepat.
Aku tidak pernah membayangkan membutuhkan permintaan maaf dari Tomi.
Ternyata setelah mendengarnya, hidupku juga tidak berubah seketika.
Namun ada sesuatu yang selama puluhan tahun terasa seperti simpul kecil di dalam dadaku tiba-tiba mengendur.
“Aku menghargai kamu mengatakannya,” jawabku.
“Kalau aku bisa mengulang malam itu…”
“Kita tidak bisa.”
Ia mengangguk.
“Tapi kamu bisa memilih siapa dirimu malam ini.”
Tomi tersenyum tipis.
“Sepertinya itu yang sedang kucoba.”
Ketika ia kembali ke mejanya, Brenda masih berdiri di dekatku.
“Kamu benar-benar ingin semua orang menganggap aku monster, ya?”
Aku menggeleng.
“Aku tidak menceritakan apa pun kepada mereka, Brenda. Semua yang terjadi malam ini kamu lakukan sendiri.”
Wajahnya berubah.
Bukan marah sepenuhnya.
Lebih mirip seseorang yang baru menyadari bahwa jalan keluar yang biasa ia pakai sudah tertutup.
Ia melihat celemek di tangan kapten banquet.
Kemudian ia menatap meja tempat teman-temannya tadi tertawa.
Satu per satu, mereka sibuk dengan piring dan gelas masing-masing.
Brenda menarik kursinya dan duduk kembali.
Aku juga kembali ke tempat dudukku.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku menyadari dessert di meja kami adalah puding karamel dengan irisan stroberi.
Aku mengambil sendok.
Carol mencondongkan tubuh ke arahku.
“Marta?”
“Ya?”
“Besok kamu mau tetap datang untuk sarapan alumni?”
Aku tertawa kecil.
“Aku belum memutuskan.”
Dari seberang ruangan, kulihat Brenda mengambil ponselnya, membaca sesuatu, lalu menatapku lagi.
Beberapa detik kemudian ponselku ikut bergetar.
Pesan masuk dari grup WhatsApp alumni.
Bukan dari Brenda.
Ketua seksi keuangan panitia menulis bahwa setelah acara selesai, ia ingin meminta waktu untuk membicarakan sesuatu denganku.
Bukan soal sponsorship.
Soal rekening reuni.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku membaca pesan itu dua kali.
Kalau aku masih berumur tujuh belas tahun, mungkin pikiranku langsung mencari kemungkinan terburuk. Aku sudah terlalu lama hidup untuk melakukan itu.
Aku membalas singkat.
“Boleh. Setelah acara selesai.”
Nama orang yang mengirim pesan itu adalah Rina Prasetyo. Kami tidak pernah dekat di sekolah. Malam itu ia duduk di dekat meja registrasi karena bertanggung jawab atas pembayaran peserta dan pengeluaran panitia.
Sekitar pukul sepuluh, acara resmi selesai.
Sebagian alumni mulai pulang. Beberapa masih berfoto. Yang lain mengelilingi meja kopi sambil membicarakan siapa yang sakit, siapa yang pindah kota, cucu siapa yang baru kuliah.
Brenda tidak langsung mendekatiku lagi.
Ia sibuk dengan dua orang anggota panitia.
Aku tidak mendengar percakapan mereka.
Aku juga tidak mencoba.
Setelah staf mulai membereskan beberapa meja kosong, Rina menghampiriku membawa sebuah map plastik tipis.
“Bu Marta, bisa bicara sebentar?”
“Tentu.”
Kami duduk di meja ujung dekat jendela.
“Aku minta maaf kalau tadi mengirim pesan yang membuatmu khawatir.”
“Tidak apa-apa.”
Rina membuka map.
“Aku ingin memastikan sesuatu tentang pembayaran hotel.”
Aku mengangkat tangan.
“Kalau tentang selisih biaya yang ditanggung perusahaanku, itu benar. Sudah ada perjanjian tertulis.”
“Bukan itu.”
Ia mengeluarkan dua lembar cetakan.
“Ini rekap yang Brenda kirim ke kami bulan lalu. Di sini tertulis uang muka hotel Rp28 juta.”
Aku melihat angkanya.
“Lalu?”
Rina menunjukkan lembar lain.
“Di invoice hotel yang diberikan bagian banquet malam ini, uang muka yang masuk hanya Rp20 juta.”
Aku tidak langsung menyimpulkan apa pun.
“Sudah tanya Brenda?”
“Sudah.”
“Apa katanya?”
“Dia bilang selisih Rp8 juta dipakai untuk kebutuhan panitia lain.”
“Itu mungkin saja.”
Rina mengangguk.
“Aku juga berpikir begitu. Masalahnya, aku yang memegang rekap pengeluaran lain. Aku tidak menemukan pengeluaran Rp8 juta itu.”
Aku mendorong kedua kertas kembali ke arahnya.
“Kalau begitu kamu harus minta bukti.”
“Aku sudah minta tiga kali.”
“Dan?”
“Dia selalu bilang nanti.”
Aku memahami sekarang mengapa Brenda menatap ponselnya beberapa menit sebelumnya.
Namun aku tidak suka arah percakapan itu.
“Aku bukan auditor panitia, Rina.”
“Aku tahu.”
“Dan aku tidak mau masalah lama antara aku dan Brenda membuat orang menganggap aku sedang mencari kesalahannya.”
Rina menatap meja.
“Itu juga yang membuatku ragu bicara denganmu.”
“Bagus. Berarti kamu memikirkan hal yang benar.”
Ia kelihatan bingung.
“Maksudmu?”
“Jangan membuat ini tentang aku dan Brenda.”
Aku menunjuk invoice.
“Kalau uangnya uang panitia, tanyakan sebagai panitia. Minta bukti pengeluaran. Kalau ada, selesai. Kalau tidak ada, kalian tentukan langkah berikutnya bersama.”
Rina mengembuskan napas.
“Aku kira kamu akan marah.”
“Dulu mungkin.”
Aku melihat ke seberang ruangan.
Brenda sedang memasukkan barang ke dalam tas tangannya.
“Tapi aku sudah cukup lama menjalankan perusahaan. Kalau setiap angka berbeda langsung dianggap pencurian, usahaku sudah kacau sejak dulu.”
Rina tersenyum kecil.
“Aku paham.”
“Dan satu lagi.”
“Ya?”
“Jangan gunakan namaku atau perusahaan untuk menekan Brenda.”
Rina mengangguk.
Aku berdiri.
Kupikir pembicaraan selesai.
Ternyata belum.
Ketika aku berbalik, Brenda sudah berdiri beberapa langkah di belakang kami.
“Sedang membicarakan aku?”
Rina tampak kaku.
Aku menjawab lebih dulu.
“Rina sedang menanyakan catatan pembayaran hotel.”
Brenda memandang map di meja.
“Sudah kubilang aku akan bereskan.”
Rina berdiri.
“Brenda, sudah hampir dua bulan.”
“Aku ketua panitia. Aku tahu apa yang kulakukan.”
“Justru karena kamu ketua panitia, aku butuh catatannya.”
Brenda melirikku.
“Dan sekarang kamu membawa Marta?”
“Aku tidak membawa siapa-siapa.”
Rina menarik invoice hotel.
“Dia cuma mengonfirmasi angka yang berkaitan dengan hotel.”
Brenda tertawa pendek.
“Tentu. Malam ini semua orang mendadak berani karena tahu Marta punya perusahaan besar.”
Aku merasakan sesuatu yang sangat lama bergerak di dalam diriku.
Bukan sakit yang sama.
Kebiasaan.
Kebiasaan ingin mengecilkan diri supaya orang lain berhenti menyerang.
Aku hampir mengatakan, tidak apa-apa, lupakan saja.
Kalimat itu sudah sampai di ujung lidah.
Aku tidak mengucapkannya.
Sebaliknya aku mengambil tasku.
“Ini bukan urusanku, Brenda.”
“Bagus.”
“Tapi kalau uang panitia belum jelas, jawab Rina. Jangan pakai aku untuk menghindari pertanyaannya.”
Ia menatapku.
Aku melanjutkan, “Soal aku dan kamu selesai untuk malam ini.”
Aku berjalan ke lift.
Tidak ada musik dramatis.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada satu ruangan penuh orang yang mendadak berdiri membelaku.
Hanya pintu lift yang terbuka.
Aku masuk.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, meninggalkan ruangan yang sama dengan Brenda tidak terasa seperti melarikan diri.
Besok paginya aku tetap datang ke sarapan alumni.
Aku sendiri agak terkejut.
David menelepon pukul tujuh karena ia melihat salinan kontrak Hotel Arunika masuk ke email perusahaan.
“Jadi bagaimana reuninya, Bu?”
“Lumayan.”
“Lumayan?”
“Kontrak hotel diperpanjang tiga tahun.”
“Aku bukan tanya bisnis.”
Aku tertawa.
“Ya, aku tahu.”
“Brenda ada?”
“Ada.”
“Dan?”
Aku menuang teh.
“Dia memberiku celemek.”
David diam.
“Ibu bercanda.”
“Tidak.”
“Apa yang Ibu lakukan?”
“Memakainya.”
“Bu.”
“Aku membantu pelayan.”
“Ibu benar-benar…”
“Jangan mulai.”
David tertawa.
Aku ikut tertawa.
Ia tidak pernah mengenal Marta berumur tujuh belas yang pulang sambil menangis. Ia hanya mengenal ibunya sebagai perempuan yang bisa berdebat dengan kepala pengadaan rumah sakit selama dua jam mengenai standar kain sprei.
Mungkin itu salah satu hadiah terbesar hidupku.
Anakku tidak mengenalku sebagai orang yang dulu diputuskan nilainya oleh Brenda.
Saat sarapan, sekitar empat puluh alumni datang.
Brenda terlambat hampir setengah jam.
Begitu masuk, ia tidak lagi bergerak dari meja ke meja seperti pemilik acara.
Ia mengambil makanan sendiri, duduk, dan lebih banyak diam.
Aku tidak menikmati pemandangan itu.
Aku juga tidak merasa kasihan.
Aku hanya makan bubur ayam sambil mendengarkan Carol bercerita tentang cucunya yang membuka toko tanaman di Bogor.
Kemudian Tomi duduk di kursi kosong di seberangku.
“Boleh?”
“Tentu.”
Ia membawa dua cangkir kopi.
“Yang satu tanpa gula.”
“Kamu masih ingat?”
“Tidak.”
Ia tersenyum.
“Aku tanya pelayan.”
Kami tertawa.
Setelah beberapa menit membicarakan anak dan cucu, ia berkata, “Aku benar-benar menyesal soal dulu.”
“Kamu sudah mengatakannya.”
“Aku tahu.”
“Tomi.”
Ia berhenti.
“Aku tidak mau sisa reuni kita berubah jadi lima puluh lima tahun orang meminta maaf kepadaku.”
Ia menundukkan kepala sambil tersenyum.
“Baik.”
“Aku lebih suka kita bicara tentang kehidupan sekarang.”
“Lebih aman.”
“Belum tentu.”
Kami bicara hampir satu jam.
Aku baru tahu ia pernah menjadi guru matematika. Istrinya meninggal tiga tahun sebelumnya. Ia punya dua anak perempuan dan lima cucu.
Tidak ada upaya menghidupkan kembali romansa masa sekolah.
Tidak ada takdir yang tiba-tiba menunggu di usia 73.
Hanya dua orang tua yang akhirnya bisa berbicara tanpa membawa seluruh beban tahun 1971 ke meja mereka.
Menjelang akhir sarapan, Brenda menghampiriku.
“Marta.”
Aku menatapnya.
“Bisa bicara?”
Kami pergi ke bagian lobi yang lebih sepi.
Ia berdiri dengan kedua tangan memegang tali tas.
“Aku tidak mengambil uang reuni.”
Aku tidak menjawab.
“Rina bicara denganmu tadi malam. Aku tahu apa yang kalian pikirkan.”
“Aku sudah bilang kepadanya supaya tidak menyimpulkan apa pun sebelum melihat bukti.”
Brenda memandangku seolah jawaban itu bukan yang ia harapkan.
“Aku pakai uangnya untuk membayar uang muka bus yang awalnya akan dipakai untuk tur kota pagi ini. Tur batal karena pesertanya terlalu sedikit. Penyedia bus mengembalikan uangnya minggu lalu.”
“Kalau begitu tunjukkan buktinya ke Rina.”
“Ada.”
“Bagus.”
“Aku cuma belum sempat memindahkan uangnya kembali ke rekening panitia.”
Aku menatapnya.
“Sudah seminggu, Brenda.”
“Aku tahu.”
“Kalau itu rekening pribadi, pindahkan sekarang.”
Ia tampak tersinggung.
“Kamu pikir aku akan mengambilnya?”
“Aku tidak tahu.”
Kalimat itu membuat wajahnya kaku.
“Aku tidak tahu karena aku tidak memegang catatanmu. Itu sebabnya pencatatan penting.”
Ia menurunkan pandangan.
“Aku akan transfer.”
“Bagus.”
Aku mengira itu tujuan pembicaraan kami.
Brenda ternyata tetap berdiri.
“Marta.”
“Ya?”
“Kenapa kamu membayar selisih biaya acara?”
“Aku sudah menjelaskan.”
“Tidak.”
Ia menatapku langsung.
“Kamu bisa saja membiarkan acaranya jelek. Setelah semua yang kulakukan dulu, kamu bahkan bisa menelepon hotel dan membuatku malu sejak awal.”
Aku menahan napas sebentar.
“Santoso Linen bukan pemilik hotel.”
“Tapi mereka mengenalmu.”
“Itu tidak berarti aku bisa menyuruh hotel mempermalukan tamu.”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Kamu hampir bilang.”
Brenda terdiam.
Aku duduk di sofa lobi. Lututku sudah tidak menyukai percakapan panjang sambil berdiri.
Ia akhirnya ikut duduk, menyisakan ruang cukup lebar di antara kami.
“Aku benci acara yang terlihat murah,” katanya.
Aku menoleh.
Ia tertawa hambar.
“Kedengarannya bodoh, ya?”
Aku tidak menjawab.
“Ayahku dulu selalu begitu. Semua harus terlihat sempurna. Baju, rumah, pesta ulang tahun, mobil. Kalau aku pulang membawa nilai yang tidak bagus, dia tidak bertanya kenapa. Dia bertanya siapa yang melihat.”
Aku tetap diam.
“Di sekolah aku pikir…” Ia mengusap ibu jarinya ke tali tas. “Kalau orang menertawakan orang lain, berarti mereka tidak sedang menertawakanku.”
Aku mendengar penjelasannya.
Aku bisa memahami jalannya pikiran itu.
Namun memahami bukan berarti menghapus apa yang pernah terjadi.
“Brenda, kita sama-sama tujuh puluh tiga tahun.”
“Aku tahu.”
“Kalau alasanmu masih berhenti pada apa yang dilakukan ayahmu saat kita remaja, itu sudah terlalu lama.”
Ia memejamkan mata sesaat.
“Aku juga tahu.”
Beberapa orang lewat di belakang kami.
Brenda kemudian berkata, “Waktu kamu pakai celemek itu semalam, aku kira kamu memang masih sama.”
“Sama bagaimana?”
Ia terlihat malu mengatakannya.
“Mudah disuruh.”
Aku hampir tertawa, tetapi tidak ada yang lucu.
“Aku mengambil celemek itu karena staf hotel sedang kewalahan.”
“Aku tahu sekarang.”
“Bukan karena kamu menyuruhku.”
Ia mengangguk.
“Dan waktu semua orang tahu soal perusahaanmu…” Brenda menarik napas. “Aku merasa bodoh.”
“Itu bukan bagian yang harus kamu pikirkan.”
Ia menatapku.
“Bagian yang harus kupikirkan apa?”
“Kenapa kamu masih membutuhkan orang lain berada di bawahmu supaya kamu merasa nyaman.”
Ia tidak membantah.
Aku tidak memberinya pidato tentang harga diri atau pengampunan.
Kami sudah terlalu tua untuk kalimat-kalimat indah yang tidak diikuti perilaku.
Brenda hanya bertanya, “Apa kamu bisa memaafkan aku?”
Aku berpikir sebelum menjawab.
“Aku tidak menjalani hidupku sambil menunggu kesempatan menghukummu.”
Wajahnya turun sedikit.
“Tapi?”
“Tapi aku juga tidak mau pura-pura kita dekat.”
Ia mengangguk.
“Adil.”
“Kalau kamu benar-benar menyesal, mulai dari hal sederhana. Bereskan uang panitia. Minta maaf kepada staf hotel karena semalam kamu menyalahkan mereka untuk sesuatu yang bukan salah mereka. Dan lain kali jangan membuat lelucon dengan merendahkan orang.”
Brenda memandang lantai.
“Itu saja?”
“Menurutmu kurang?”
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Brenda tertawa tanpa menjadikan orang lain bahan tawa.
“Tidak.”
Sebelum makan siang, Rina mengirim pesan ke grup panitia.
Dana Rp8 juta sudah kembali ke rekening reuni. Brenda juga mengirim bukti pembayaran dan pengembalian uang muka bus. Tidak ada uang yang hilang.
Masalah itu selesai tanpa polisi.
Tanpa tuduhan terbuka.
Tanpa seseorang berdiri di depan ruangan sambil meneriakkan kata pencuri.
Hanya pencatatan buruk, sikap defensif, dan seorang ketua panitia yang terlalu terbiasa menganggap pertanyaan sebagai serangan.
Bagi sebagian orang, mungkin akhir seperti itu kurang dramatis.
Bagiku justru terasa nyata.
Hari Senin berikutnya, aku datang ke kantor Santoso Linen & Laundry.
Aku tidak sering lagi berada di sana pagi-pagi.
Gudang yang dulu hanya berupa ruangan bocor kini menempati bangunan sendiri. Truk pengiriman keluar masuk dari pintu samping. Bunyi mesin industri terdengar dari belakang dinding kedap.
David melihatku masuk.
“Ibu tidak bilang mau datang.”
“Kalau bilang, nanti kamu menyiapkan rapat.”
“Ada masalah?”
“Tidak.”
Aku membawa map kontrak Hotel Arunika ke ruangannya.
“Kita perlu cek klausul penyesuaian volume. Mereka menambah kapasitas kamar tahun depan.”
David menerimanya.
“Siap.”
Ia melihat pakaianku.
“Hari ini sederhana sekali.”
Aku menunjuknya.
“Jangan mulai seperti Brenda.”
Ia tertawa keras.
Aku masuk ke ruang produksi.
Beberapa pegawai lama masih mengenalku. Yang baru kebanyakan hanya tahu aku sebagai ibunya Pak David atau pendiri perusahaan yang sesekali datang.
Aku lebih suka begitu.
Di salah satu meja sortir, tumpukan taplak putih baru saja kembali dari hotel.
Seorang pegawai sedang memeriksa noda satu per satu.
Tanganku berhenti pada salah satu kain.
Aku teringat kain kotak-kotak biru milik Nenek.
Gaun itu sebenarnya tidak pernah kubuang.
Setelah malam pesta sekolah, Ibu mencucinya, menyetrikanya, lalu menyimpannya dalam kotak.
Aku menemukannya lagi ketika membereskan rumah setelah Ibu meninggal.
Selama puluhan tahun, kotak itu ikut berpindah rumah bersamaku.
Sore itu, untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama, aku membukanya.
Kainnya sudah tua.
Warnanya tidak lagi secerah yang kuingat. Di bagian lengan masih terlihat jahitan kecil tempat Ibu pernah membongkar dan memasangnya kembali.
Aku duduk di tepi tempat tidur sambil memegang gaun itu.
Aneh sekali.
Dulu aku mengira benda itu adalah bukti betapa miskinnya kami.
Sekarang yang kulihat justru tiga akhir pekan kerja seorang ibu yang pulang dari dua pekerjaan dan masih mau duduk bersamaku di meja makan.
Aku melihat jahitan yang sedikit miring.
Ritsleting lama.
Keliman yang dibuat tangan.
Tidak ada yang memalukan.
Tidak pernah ada.
Aku tidak memakainya lagi.
Tubuhku tentu sudah berubah terlalu jauh.
Aku juga tidak memasangnya dalam bingkai atau membawanya ke kantor sebagai simbol keberhasilan.
Aku hanya melipatnya kembali dengan lebih rapi.
Dua minggu setelah reuni, sebuah paket kecil datang ke rumah.
Pengirimnya Tomi.
Di dalamnya ada fotokopi foto lama dari pesta sekolah tahun 1971.
Aku dan dia berdiri di depan dekorasi kertas yang sekarang terlihat sangat sederhana.
Aku mengenakan gaun biru kotak-kotak.
Di belakang foto, Tomi menulis satu kalimat.
“Kamu memang terlihat cantik malam itu. Maaf aku terlalu takut untuk mengatakannya.”
Aku menyimpan foto itu di dalam kotak bersama gaunnya.
Brenda juga menghubungiku sekali.
Bukan untuk menjadi sahabat.
Ia mengirim pesan singkat bahwa ia sudah menemui Citra dan kapten banquet untuk meminta maaf atas keluhannya terhadap staf.
Aku membalas, “Terima kasih sudah memberi tahu.”
Beberapa bulan kemudian, grup alumni merencanakan pertemuan kecil.
Kali ini bukan pesta hotel.
Mereka memilih sebuah restoran keluarga di Bandung.
Rina meminta tiga orang memegang akses laporan keuangan.
Setiap pembayaran dicatat di grup panitia.
Brenda bukan lagi ketua.
Ia tetap datang.
Hubungan kami tidak berubah menjadi hangat secara ajaib.
Kadang kami duduk di meja berbeda.
Kadang kami berbicara lima menit mengenai teman lama.
Ia tidak lagi memanggilku Marta Wibowo dengan nada mengejek.
Dan aku tidak lagi mempersiapkan diri menghadapi serangan setiap kali melihat namanya.
Bagi kami, itu cukup.
Suatu sore David menanyakan sesuatu ketika kami sedang memeriksa laporan perusahaan.
“Bu, kalau malam reuni itu Pak Robert tidak datang pukul sembilan, Ibu akan tetap melayani meja mereka sampai kapan?”
Aku menutup dokumen.
“Mungkin sampai staf yang terlambat datang.”
“Serius?”
“Kenapa tidak?”
“Ibu tidak kesal?”
“Tentu aku kesal.”
“Lalu kenapa tetap membantu?”
Aku memikirkan jawabannya.
“Karena Brenda tidak punya hak menentukan pekerjaan apa yang boleh membuatku malu.”
David tersenyum.
“Jawaban Ibu bagus juga.”
“Jangan dicetak di dinding kantor.”
Ia tertawa.
Aku mengambil kunci mobil dari meja.
Saat berjalan keluar, aku melewati rak penyimpanan linen sampel.
Dulu aku menghabiskan waktu bertahun-tahun berusaha membuktikan bahwa aku bukan anak miskin yang memakai gaun dari calon taplak meja.
Ternyata aku tidak pernah harus membuktikan itu.
Anak perempuan itu memang bagian dari diriku.
Ia hanya belum tahu sejauh apa tangannya yang belajar menjahit bersama ibunya akan membawanya.
Aku keluar dari kantor dan mengunci pintu ruang administrasi di belakangku.
Kuncinya berada di tanganku sendiri.
Menurutmu, apakah Marta benar memilih menjaga jarak dari Brenda meskipun Brenda akhirnya meminta maaf dan mulai memperbaiki sikapnya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
