Bagian 2
Beberapa minggu setelah Dewi dan Mila pindah, rumah kami terasa aneh.
Bukan sepi sepenuhnya. Nara masih berlari dari kamar ke dapur sambil mencari kaus kaki yang entah bagaimana selalu menghilang sebelah. Televisi masih menyala terlalu keras setiap Sabtu pagi. Tumpukan piring masih muncul di bak cuci lebih cepat daripada kemampuanku membereskannya.
Namun aku terbiasa mendengar dua suara anak perempuan tertawa dari kamar belakang.
Sekarang suara itu hanya muncul ketika Mila datang bermain.
Pada Jumat sore pertama setelah mereka pindah, Nara berdiri di depan pintu sambil membawa tas kecil.
“Aku boleh menginap di rumah Mila?”
Aku hampir menjawab terlalu cepat.

Rumah kontrakan Dewi kecil. Lingkungannya juga tidak semewah kompleks tempat kami tinggal.
Kemudian aku menyadari pikiranku sendiri.
Aku tersenyum.
“Kalau Tante Dewi mengizinkan.”
Nara langsung menelepon Mila.
Sepuluh menit kemudian, ia sudah memasukkan piyama, sikat gigi, buku cerita, dan entah kenapa tiga bungkus biskuit ke dalam tas.
Sebelum pergi, ia mengambil hoodie abu-abunya.
Hoodie yang dulu diberikan kepada Mila.
Aku menatapnya.
“Kukira itu hadiah.”
Nara mengangguk.
“Memang.”
“Lalu kenapa sekarang ada di sini?”
“Mila bilang aku boleh pinjam.”
Aku tertawa.
Ternyata di dunia mereka, kepemilikan tidak serumit dunia orang dewasa. Hadiah bisa tetap menjadi hadiah meskipun sesekali dipinjam kembali. Tidak ada catatan siapa memberi apa, siapa berutang berapa, atau siapa telah melakukan lebih banyak.
Mereka hanya berteman.
Beberapa bulan kemudian, keadaan Dewi mulai membaik perlahan.
Bukan melalui keajaiban.
Tidak ada orang kaya yang tiba-tiba menawarkan rumah. Tidak ada warisan misterius. Tidak ada kehidupan yang berubah dalam semalam.
Dewi hanya bekerja sangat keras.
Ia sebelumnya bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan distribusi kecil di Bandung. Ketika perusahaan itu mengurangi pegawai, posisinya ikut hilang. Tabungannya habis untuk membayar tunggakan kontrakan lama, cicilan kendaraan, kebutuhan sekolah Mila, dan biaya hidup.
Selama tinggal bersama kami, ia melamar pekerjaan hampir setiap malam.
Aku sering melihat cahaya laptop dari bawah pintu kamar belakang setelah anak-anak tidur.
Akhirnya ia diterima sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan alat kesehatan.
Gajinya tidak besar, tetapi cukup stabil.
Tiga bulan kemudian, ia mendapat tambahan tanggung jawab mengurus pembelian dan menerima kenaikan gaji.
Suatu sore ia meneleponku.
“Aku punya kabar.”
“Jangan bilang kamu mau pindah lagi.”
Dewi tertawa.
“Belum. Tapi aku baru saja melunasi utang terakhir dari kontrakan lama.”
Aku terdiam beberapa detik.
Aku tahu betapa berat kalimat itu baginya.
“Selamat.”
“Hanya itu?”
“Aku sedang berusaha tidak membuat semuanya jadi besar.”
Ia terdiam.
Lalu tertawa keras sekali.
“Setidaknya sekarang kamu belajar.”
Aku ikut tertawa.
Persahabatan kami berubah setelah malam ketika ia berdiri di depan rumahku dengan rambut basah dan mata merah.
Kami tidak lagi berhubungan karena aku pernah membantunya.
Kami berhubungan karena kami benar-benar menjadi teman.
Kadang aku menjaga Mila ketika Dewi harus lembur. Kadang Dewi menjemput Nara dari sekolah saat pekerjaanku terlambat selesai.
Jika aku sakit, ia membawakan bubur.
Jika motornya masuk bengkel, aku mengantarnya bekerja.
Tidak ada yang mencatat siapa melakukan lebih banyak.
Setahun kemudian, sekolah mengadakan kegiatan sosial menjelang akhir semester.
Wali kelas meminta anak-anak membawa barang layak pakai untuk disumbangkan kepada keluarga yang membutuhkan.
Ketika aku sedang membantu Nara memilah pakaiannya, aku menemukan sebuah jaket merah yang sudah terlalu kecil.
“Yang ini bisa disumbangkan,” kataku.
Nara memeriksanya.
Ia mengangguk.
Kemudian aku mengambil sebuah boneka yang sudah lama tidak dimainkan.
“Ini juga?”
Nara memandang boneka itu cukup lama.
“Tidak.”
Aku hampir mengatakan bahwa ia sudah tidak pernah memainkannya.
Namun aku menahan diri.
“Baik.”
Malam itu, ketika kami selesai memasukkan pakaian ke dalam kardus, Nara bertanya, “Bu, orang yang menerima ini tahu siapa yang memberi?”
“Sepertinya tidak.”
“Bagus.”
“Kenapa?”
Ia duduk bersila di lantai.
“Supaya mereka tidak harus bilang terima kasih ke kita.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi aku membawanya dalam pikiran selama berhari-hari.
Beberapa waktu kemudian, aku menjadi relawan dalam kegiatan sekolah. Bukan karena ingin menjadi orang baik. Setidaknya sekarang aku berharap bukan itu alasannya.
Aku hanya merasa ada banyak hal yang bisa dilakukan tanpa harus berdiri di tengah ruangan dan memastikan semua orang mengetahui siapa yang melakukannya.
Suatu hari wali kelas Nara bercerita bahwa sekolah sedang mencoba membuat lemari kebutuhan bersama.
Isinya seragam bekas layak pakai, alat tulis, perlengkapan mandi, pembalut, makanan ringan, dan beberapa kebutuhan dasar lain. Murid atau orang tua bisa mengambil apa yang diperlukan tanpa harus menjelaskan keadaan mereka di depan siapa pun.
Aku menyukai gagasan itu.
Dewi juga.
Kami membantu mengatur sistemnya bersama beberapa orang tua lain.
Tidak ada tulisan besar bertuliskan “UNTUK KELUARGA KURANG MAMPU”.
Hanya sebuah lemari putih di dekat ruang UKS dengan tulisan kecil:
Ambil yang kamu butuhkan. Tinggalkan yang bisa kamu bagikan.
Suatu sore, ketika aku sedang menyusun buku tulis di rak, aku melihat seorang ibu masuk bersama anak laki-lakinya.
Perempuan itu terlihat gugup.
Ia mengambil dua buku tulis, sebuah tempat pensil, dan satu paket kaus kaki.
Ketika ia melihatku, wajahnya langsung berubah seolah takut harus menjelaskan sesuatu.
Aku tersenyum.
“Rak alat tulis tambahan ada di sebelah kanan.”
Hanya itu.
Aku kemudian keluar dari ruangan.
Di lorong, Dewi sedang menungguku.
Ia tidak mengatakan apa pun sampai kami berjalan cukup jauh.
Lalu ia berkata, “Dulu kamu pasti akan menawarkan lima hal lain.”
Aku mengangguk.
“Dan mungkin bertanya kenapa dia membutuhkannya.”
“Benar.”
“Lalu bilang kalau dia perlu bantuan, jangan sungkan.”
Dewi tersenyum.
“Benar lagi.”
Aku menghela napas.
“Aku dulu menyebalkan, ya?”
“Sedikit.”
Kami tertawa bersama.
Dua tahun setelah malam hujan itu, Mila dan Nara masih bersahabat.
Mereka kini berusia sepuluh tahun.
Mila lebih tinggi daripada Nara beberapa sentimeter dan tidak pernah membiarkan Nara melupakannya.
Dewi sudah pindah ke rumah kontrakan yang sedikit lebih besar. Dua kamar tidur. Ada teras kecil di depan, tempat ia menaruh beberapa pot tanaman cabai dan tomat.
Pada hari ulang tahun Mila yang kesepuluh, kami datang membawa kue.
Tidak ada pesta mewah.
Hanya beberapa teman sekolah, mi goreng, ayam, kerupuk, balon warna-warni, dan lagu ulang tahun yang dinyanyikan terlalu keras serta tidak sesuai nada.
Setelah anak-anak mulai bermain di halaman, Dewi duduk di sampingku.
“Kamu ingat malam pertama aku datang?”
“Tentu.”
“Aku hampir tidak jadi mengetuk pintumu.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
“Aku malu.”
Ia tersenyum tipis.
“Aku sudah berdiri di seberang rumahmu hampir sepuluh menit. Aku terus berpikir, kalau aku mengetuk, setelah itu kamu akan selalu melihatku sebagai perempuan yang pernah tidur di mobil.”
Aku tidak langsung menjawab.
Dewi melanjutkan.
“Tapi ternyata yang paling aku takutkan bukan kehilangan rumah.”
Ia melihat Mila yang sedang tertawa bersama Nara.
“Aku takut Mila tumbuh dengan perasaan bahwa kami lebih rendah daripada orang lain karena pernah mengalami masa sulit.”
Aku memandang anak-anak itu.
Nara sedang berusaha mengambil potongan kue dari piring Mila.
Mila memukul ringan tangannya sambil tertawa.
Tidak ada penyelamat.
Tidak ada korban.
Hanya dua sahabat yang sedang berebut kue.
“Aku rasa Nara tidak pernah membiarkannya merasa begitu,” kataku.
Dewi tersenyum.
“Tidak pernah.”
Beberapa menit kemudian, Nara berlari ke arah kami.
“Bu!”
“Apa?”
“Mila bilang aku bau keringat.”
Aku menahan tawa.
Mila berteriak dari halaman, “Memang bau!”
Nara menunjuk sahabatnya.
“Lihat? Dia jahat.”
Aku mengangkat alis.
“Lalu menurutmu apa yang harus Ibu lakukan?”
Nara berpikir sebentar.
Kemudian ia mengangkat bahu.
“Mungkin suruh aku mandi.”
Dewi tertawa sampai hampir menumpahkan tehnya.
Aku pun tidak bisa menahan tawa.
Malam itu, dalam perjalanan pulang, Nara tertidur di kursi belakang mobil.
Lampu-lampu Bandung bergerak melewati jendela. Hujan baru saja berhenti dan jalanan memantulkan cahaya kendaraan seperti garis-garis panjang berwarna kuning dan putih.
Aku melihat putriku melalui kaca spion.
Dua tahun sebelumnya, aku mengira tugasku sebagai ibu adalah mengajarinya menjadi manusia yang baik.
Ternyata hubungan antara orang tua dan anak tidak selalu berjalan satu arah.
Ada hari-hari ketika aku mengajarinya.
Ada hari-hari ketika ia mengajariku.
Dan pelajaran terbesar yang diberikannya kepadaku bahkan tidak membutuhkan kata-kata rumit.
Jika seseorang lapar, bagikan makananmu.
Jika seseorang kedinginan, berikan pakaian yang bisa kamu berikan.
Jika seseorang sedang mengalami masa sulit, jangan membuatnya merasa bahwa seluruh identitasnya adalah kesulitan itu.
Dan jika kamu membantu seseorang, jangan berdiri terlalu lama di samping kebaikanmu sendiri sambil menunggu tepuk tangan.
Beberapa hadiah terbaik diberikan dengan begitu tenang hingga hampir tidak ada yang mengetahuinya.
Sama seperti dua roti isi di dalam kotak bekal.
Dua ikat rambut yang menghilang dari kamar mandi.
Dan sebuah hoodie abu-abu yang pada akhirnya tidak pernah benar-benar menjadi milik satu anak saja.
Sampai hari ini, hoodie itu masih berpindah-pindah antara rumah kami dan rumah Mila.
Kadang dipakai Nara.
Kadang dipakai Mila.
Dan tidak seorang pun lagi bertanya siapa pemiliknya.
Mungkin begitulah seharusnya kebaikan bekerja.
Bukan sebagai sesuatu yang membuat seseorang berutang kepada kita.
Melainkan sesuatu yang terus berpindah dari satu tangan ke tangan lain, sampai suatu hari kita bahkan lupa siapa yang pertama kali memberikannya.
