MILIARDER MENYAMAR JADI PENGEMUDI OJEK ONLINE SAAT REUNI, DITERTAWAKAN TEMAN-TEMAN LAMANYA, HANYA SEORANG PELAYAN YANG BERANI MEMBELANYA!

Avatar penulis
Cerita 01
21 menit baca 539 tayangan
MILIARDER MENYAMAR JADI PENGEMUDI OJEK ONLINE SAAT REUNI, DITERTAWAKAN TEMAN-TEMAN LAMANYA, HANYA SEORANG PELAYAN YANG BERANI MEMBELANYA!
Indeks

MILIARDER MENYAMAR JADI PENGEMUDI OJEK ONLINE SAAT REUNI, DITERTAWAKAN TEMAN-TEMAN LAMANYA, HANYA SEORANG PELAYAN YANG BERANI MEMBELANYA!

Tak seorang pun menyangka bahwa acara reuni sekelompok alumni sukses di Jakarta akan berubah menjadi panggung penghinaan yang begitu kejam.

Di dalam ruang privat mewah restoran Svara Nusantara di kawasan Senopati, seorang pria mengenakan jaket hijau pengemudi ojek online yang sudah kusam, celana terkena lumpur, dan rambut basah kuyup karena hujan ditertawakan oleh teman-teman kuliahnya sendiri, dijauhi, bahkan hampir diusir keluar.

Mereka mengira hidupnya telah gagal.

Mereka mengira mahasiswa paling berprestasi di kelas mereka dahulu kini hanya bertahan hidup dari order perjalanan senilai puluhan ribu rupiah.

Namun tak seorang pun tahu bahwa pria yang sedang mereka rendahkan itu sebenarnya adalah Raka Aditya, pendiri sekaligus Presiden Direktur Nusantara Sentra Group, perusahaan logistik dan perdagangan besar yang memiliki investasi di puluhan perusahaan di berbagai wilayah Indonesia.

MILIARDER MENYAMAR JADI PENGEMUDI OJEK ONLINE SAAT REUNI, DITERTAWAKAN TEMAN-TEMAN LAMANYA, HANYA SEORANG PELAYAN YANG BERANI MEMBELANYA!

Ketika semua orang memilih diam, hanya seorang pelayan muda bernama Ayu Lestari yang berani maju untuk membelanya.

Satu tindakan yang tampak sederhana itu kemudian mengubah hidup mereka berdua selamanya.

Malam itu, Jakarta diguyur hujan deras.

Air hujan mencurahi jalan-jalan yang dipenuhi kendaraan. Cahaya dari gedung-gedung tinggi di sepanjang kawasan Sudirman tampak buram di balik kaca yang basah. Suara klakson mobil, deru sepeda motor, dan bunyi hujan yang menghantam atap berpadu menjadi suara khas sebuah kota yang seolah tak pernah benar-benar tidur.

Namun di Senopati, restoran Svara Nusantara terasa seperti dunia yang benar-benar berbeda.

Restoran itu dirancang dengan gaya Jawa modern, dengan panel kayu berukir motif batik, lampu tembaga berwarna keemasan, serta alunan gamelan lembut yang terdengar di latar belakang. Para pelayan perempuan mengenakan kebaya modern berwarna krem yang dipadukan dengan kain batik gelap, menyajikan berbagai hidangan Indonesia kelas atas yang ditata dengan sangat elegan.

Ayu Lestari, 24 tahun, berdiri di depan cermin di ruang persiapan karyawan sambil merapikan kebaya seragamnya dengan hati-hati.

Matanya sedikit merah karena kurang tidur.

Tiga tahun lalu, ketika Ayu masih kuliah di jurusan manajemen logistik, ayahnya, Pak Surya, didiagnosis menderita penyakit ginjal kronis. Sejak saat itu, seluruh tabungan keluarga perlahan habis untuk biaya pengobatan, obat-obatan, transportasi, serta berbagai biaya tambahan yang tidak sepenuhnya ditanggung oleh asuransi kesehatan.

Ayu terpaksa menghentikan kuliahnya untuk sementara waktu.

Pada siang hari ia mengambil berbagai pekerjaan sambilan. Sore hingga malam, ia bekerja sebagai pelayan di restoran itu. Ada kalanya hampir pukul satu dini hari barulah ia tiba kembali di kamar kost kecilnya di Jakarta Timur.

“Ayu.”

Suara Pak Hendra, manajer restoran, terdengar dari belakang.

“Malam ini kamu yang bertanggung jawab atas Ruang Merak, ya. Tamu yang memesan ruangan itu adalah sekelompok pengusaha. Mereka semua tamu penting. Hati-hati, jangan sampai ada kesalahan.”

Ayu segera mengangguk.

“Baik, Pak.”

Pukul tujuh malam, para tamu mulai berdatangan.

Malam itu adalah acara peringatan sepuluh tahun kelulusan sekelompok alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.

Sebagian besar dari mereka kini telah menjadi direktur, pemilik perusahaan, manajer bank, atau menduduki posisi tinggi di berbagai perusahaan besar.

Orang yang mengatur acara tersebut adalah Dimas Hartono, Direktur PT Hartono Global Trade.

Dimas mengenakan setelan mahal dengan jam tangan berkilau di pergelangan tangannya. Begitu memasuki ruangan, ia langsung tertawa keras.

“Malam ini pesan saja apa pun yang kalian mau. Ruangan ini sudah aku booking khusus untuk kita.”

Salah seorang temannya tertawa.

“Dimas sekarang memang sudah beda. Katanya perusahaanmu sebentar lagi dapat kontrak besar, ya?”

Dimas menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Tidak seberapa. Cuma kontrak logistik dengan Nusantara Sentra Group.”

Seluruh meja langsung menjadi gaduh.

Nusantara Sentra Group merupakan salah satu perusahaan logistik terbesar di Indonesia, dengan jaringan operasional yang membentang dari Jakarta dan Surabaya hingga Makassar dan Balikpapan.

Dimas sengaja melanjutkan dengan nada bangga.

“Kalau kerja sama ini jadi, tahun depan aku traktir satu kelas liburan ke Bali.”

Suara kagum segera terdengar dari berbagai sisi meja.

Ayu berdiri diam di sudut ruangan sambil memperhatikan semuanya.

Ia sudah bertemu banyak orang kaya.

Ada yang sopan.

Ada yang rendah hati.

Namun ada pula orang-orang yang menjadikan uang sebagai penggaris untuk mengukur nilai setiap orang yang mereka temui.

Sekitar pukul setengah delapan malam, pintu ruangan terbuka.

Suara percakapan mendadak perlahan menghilang.

Seorang pria berusia sekitar tiga puluhan melangkah masuk.

Ia mengenakan jaket hijau pengemudi ojek online yang sudah tampak kusam. Bahunya basah kuyup, celananya terkena cipratan lumpur, dan sepatu olahraganya juga hampir sepenuhnya basah.

Pria itu adalah Raka Aditya.

Satu jam sebelumnya, Raka masih berada di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok untuk memeriksa langsung masalah serius pada salah satu pengiriman penting.

Lalu lintas Jakarta malam itu benar-benar macet.

Karena tidak ingin melewatkan acara reuni dengan teman-teman kuliah yang sudah lama tidak ditemuinya, Raka meminjam sepeda motor serta jaket hujan milik salah seorang petugas pengiriman di pelabuhan agar bisa menerobos kemacetan.

Ia tidak sempat mengganti pakaian.

Ia juga tidak meminta asistennya menyiapkan mobil mewah.

Sebagian karena memang tidak ada waktu.

Namun sebagian lainnya karena Raka benar-benar ingin mengetahui bagaimana teman-teman yang dahulu pernah berbagi sebungkus mi instan dengannya semasa kuliah akan memperlakukannya ketika seluruh kemewahan di sekelilingnya dihilangkan.

Ia melangkah masuk lalu menganggukkan kepala dengan ringan.

“Maaf semuanya. Jakarta malam ini macet sekali.”

Seluruh ruangan mendadak sunyi.

Dimas memandangnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Kemudian sudut bibirnya terangkat.

“Raka?”

Seorang perempuan yang duduk di sampingnya berbisik pelan.

“Tidak mungkin.”

Dimas tertawa keras.

“Ya ampun, ini ketua kelas kita dulu?”

Beberapa orang ikut tertawa.

Dimas menopangkan tangannya di meja.

“Raka, apa yang terjadi denganmu? Usahamu bangkrut? Sekarang kamu jadi pengemudi ojek online?”

Raka tidak menjawab.

Ia memandang sekeliling meja.

Sepuluh tahun lalu, mereka pernah begadang bersama mengerjakan tugas, pernah berdesakan di bawah atap kecil saat hujan turun, bahkan pernah saling meminjam uang beberapa ribu rupiah hanya untuk membeli makan.

Namun sekarang, hanya sedikit dari mereka yang berani menatap matanya secara langsung.

Seorang perempuan menarik tas bermereknya lebih dekat ke tubuhnya.

“Jaketnya basah semua. Nanti karpet restorannya kotor.”

Raka tetap tenang.

Ia menarik sebuah kursi kosong.

Dimas segera mengangkat tangan.

“Sebentar.”

Tangan Raka berhenti di sandaran kursi.

Dimas menunjuk kursi berlapis kain mahal itu sambil tersenyum mengejek.

“Kursi ini bukan kursi warung pinggir jalan, Raka. Celanamu penuh cipratan lumpur. Kalau sampai kotor dan restoran meminta ganti rugi, berapa hari kamu harus narik ojek untuk membayarnya?”

Beberapa orang tertawa.

Raka perlahan melepaskan tangannya dari kursi.

Tidak ada kemarahan di wajahnya. Hanya kekecewaan yang jauh lebih dalam daripada yang bisa dilihat siapa pun di ruangan itu.

“Jadi maksudmu aku tidak boleh duduk?”

Dimas bangkit dari kursinya.

Ia mengeluarkan dompet kulit, mengambil dua lembar uang seratus ribu rupiah, lalu meletakkannya di atas meja.

“Begini saja. Anggap aku pesan satu perjalanan darimu. Dua ratus ribu. Lumayan, kan?”

Tawa kembali terdengar.

“Ambil uangnya, beli makan di luar, lalu pulang. Malam ini kami sedang reuni, bukan menunggu driver.”

Raka menatap dua lembar uang itu.

Sepuluh tahun lalu, orang-orang di ruangan yang sama pernah berbagi satu bungkus nasi ketika uang mereka hampir habis.

Mereka pernah bergantian memakai laptop untuk mengerjakan tugas.

Mereka pernah berjanji, apa pun yang terjadi setelah lulus, mereka tidak akan melupakan persahabatan.

Ternyata yang berubah bukan hanya rekening bank.

Hati manusia juga bisa berubah.

Raka hendak berbalik ketika sebuah suara perempuan terdengar dari sudut ruangan.

“Maaf, Pak.”

Semua orang menoleh.

Ayu berjalan mendekat.

Ia mengambil kain bersih, mengelap sedikit air yang menempel di sandaran kursi, lalu menarik kursi itu dengan sopan.

“Silakan duduk, Pak.”

Dimas menatapnya tak percaya.

Ayu menoleh kepada Raka.

“Di luar hujannya sangat deras. Kalau Bapak berkenan, saya bisa membawakan wedang jahe hangat terlebih dahulu.”

Raka menatapnya beberapa detik.

Ia bahkan tidak mengenal perempuan itu.

Namun perempuan itu memperlakukannya lebih manusiawi daripada orang-orang yang pernah mengenalnya selama bertahun-tahun.

Dimas memukul meja.

“Kamu sedang apa?”

Ayu menoleh.

“Menjalankan pekerjaan saya, Pak.”

“Saya yang membayar ruangan ini!”

Suara Dimas meninggi.

“Dan saya tidak mau orang seperti dia duduk bersama kami.”

Ayu menarik napas.

“Maaf, Pak. Selama beliau tidak mengganggu tamu lain dan tidak melanggar aturan restoran, kami tidak punya alasan untuk mengusirnya.”

Wajah Dimas memerah.

“Kamu tahu siapa saya?”

“Tidak sepenuhnya, Pak.”

“Besok saya bisa membuatmu kehilangan pekerjaan.”

Ruangan seketika sunyi.

Beberapa pegawai yang berdiri di dekat pintu menundukkan kepala.

Mereka tahu ancaman seperti itu bukan permainan.

Namun Ayu tetap berdiri tegak.

“Kalau saya harus kehilangan pekerjaan karena memperlakukan seseorang dengan hormat, saya akan menerima risikonya.”

Raka sedikit mengernyit.

Ia hampir menyuruh Ayu berhenti.

Tetapi Dimas sudah lebih dahulu tertawa sinis.

“Kamu cuma pelayan. Jangan sok mengajari saya soal kehormatan.”

Ayu memandangnya lurus.

“Benar, Pak. Saya hanya pelayan.”

Suaranya tetap lembut.

“Tapi pekerjaan saya tidak membuat martabat saya lebih rendah daripada siapa pun di ruangan ini.”

Beberapa wajah berubah.

Ayu melanjutkan.

“Bapak bisa membayar semua makanan di meja ini. Bapak bisa menyewa ruangan paling mahal di restoran ini. Tapi uang tidak membeli hak untuk mempermalukan orang hanya karena pakaiannya terlihat murah.”

Untuk pertama kalinya, Dimas kehilangan kata-kata.

Raka menatap Ayu.

Di dunia bisnisnya, ia terbiasa melihat orang membungkuk karena jabatan.

Ayu bahkan tidak tahu siapa dirinya.

Itulah yang membuat keberaniannya terasa begitu berharga.

Pak Hendra, manajer restoran, akhirnya datang setelah dipanggil salah seorang staf.

Begitu mendengar keluhan Dimas, wajahnya langsung pucat.

“Ayu, minta maaf kepada Pak Dimas.”

Ayu menunduk.

“Maaf karena suasana makan malam ini terganggu, Pak.”

Dimas tersenyum puas.

Namun Ayu melanjutkan.

“Tapi saya tidak meminta maaf karena membela seseorang yang diperlakukan tidak adil.”

Pak Hendra menatapnya dengan panik.

“Ayu!”

Dimas menunjuk ke arah pintu.

“Pecat dia sekarang atau seluruh perusahaan saya tidak akan pernah mengadakan acara di restoran ini lagi.”

Ayu menutup mata sesaat.

Ia teringat ayahnya yang sedang menjalani perawatan.

Ia teringat uang kost.

Ia teringat cicilan dan utang yang masih mengejarnya.

Tetapi kemudian ia teringat sesuatu yang pernah dikatakan Pak Surya.

Orang miskin mungkin tidak punya banyak pilihan, tetapi jangan sampai kemiskinan membuat kita menjual harga diri.

Ayu perlahan melepas celemeknya.

Ia melipatnya dengan rapi.

“Pak Hendra, terima kasih sudah memberi saya pekerjaan selama ini.”

Pak Hendra terdiam.

“Ayu, jangan gegabah.”

“Saya tidak gegabah, Pak.”

Ia meletakkan celemek itu di meja samping.

“Kalau mempertahankan pekerjaan berarti saya harus ikut merendahkan orang lain, mungkin memang sudah waktunya saya pergi.”

Ayu membungkuk sopan.

Lalu berjalan keluar.

Raka menatap punggungnya hingga menghilang di balik pintu.

Beberapa detik kemudian, ia mengambil dua lembar uang yang diletakkan Dimas di meja.

Ia mengembalikannya ke depan Dimas.

“Simpan.”

Dimas mencibir.

“Tidak butuh?”

Raka tersenyum tipis.

“Percayalah, nanti kamu akan lebih membutuhkan uang itu daripada aku.”

Ia berbalik dan pergi.

Dimas tertawa.

Ia tidak tahu bahwa kalimat itu akan terus terngiang di kepalanya beberapa hari kemudian.

Di luar restoran, hujan masih turun.

Raka berdiri di bawah atap depan gedung ketika Ayu keluar melalui pintu samping.

Perempuan itu tidak melihatnya.

Ia berjalan cepat menuju halte, memeluk tasnya di dada.

Raka mengeluarkan ponsel.

“Bima.”

Suara asistennya langsung menjawab.

“Ya, Pak Raka.”

“Cari tahu tentang perempuan yang baru keluar dari Svara Nusantara.”

“Namanya?”

Raka terdiam.

Ia belum sempat melihat tanda namanya.

“Aku belum tahu.”

“Baik. Saya cari.”

“Dan satu lagi.”

“Ya, Pak?”

“Jangan lakukan apa pun sebelum laporan lengkap sampai ke tanganku.”

Keesokan paginya, Bima datang membawa berkas.

“Namanya Ayu Lestari. Dua puluh empat tahun.”

Raka membaca.

Ayu pernah berkuliah di bidang manajemen logistik sebelum berhenti sementara karena kondisi ayahnya.

Pak Surya menderita penyakit ginjal kronis.

Sebagian biaya ditanggung BPJS, tetapi biaya lain, obat tertentu, transportasi, kebutuhan sehari-hari, dan kehilangan penghasilan membuat mereka terjerat masalah keuangan.

Ayu juga memiliki utang dari pinjaman online ilegal.

Raka menutup berkas.

“Kenapa dia diberhentikan?”

“Pak Dimas menekan manajer restoran.”

Raka tersenyum dingin.

“Dimas.”

Nama itu terasa ironis sekarang.

Bima menunggu perintah.

Raka berkata, “Hubungi bagian legal. Jangan bayar begitu saja pinjaman ilegal itu. Periksa kontraknya, dokumentasikan ancamannya, dan bantu Ayu melalui jalur hukum yang benar.”

“Baik.”

“Untuk ayahnya?”

“Kami bisa membantu melalui yayasan perusahaan.”

Raka mengangguk.

“Lakukan secara anonim.”

Bima menatapnya.

“Lalu pekerjaan Ayu?”

Raka terdiam cukup lama.

“Aku tidak mau memberinya jabatan karena rasa kasihan.”

Ia menyerahkan kembali berkas itu.

“Periksa riwayat kuliahnya. Kalau memang memenuhi syarat untuk program trainee logistik, undang dia ikut proses seleksi seperti kandidat lainnya.”

Beberapa hari kemudian, Ayu menerima email dari Nusantara Sentra Group.

Awalnya ia mengira itu penipuan.

Namun setelah menelepon nomor resmi perusahaan, ternyata benar.

Ada program rekrutmen trainee.

Nama Ayu direkomendasikan berdasarkan arsip akademik yang masuk ke sistem pencarian kandidat.

Ayu mengikuti ujian.

Ia tidak tahu Raka berada di balik kesempatan itu.

Yang lebih penting, Raka juga tidak mengetahui hasil ujiannya sampai keputusan final diberikan bagian SDM.

Ibu Ratna, kepala SDM, masuk ke ruangan Raka membawa satu map.

“Kandidat Ayu Lestari.”

Raka menahan napas.

“Bagaimana?”

“Nilainya bukan tertinggi.”

Raka mengangguk.

“Tapi masuk standar.”

Ibu Ratna melanjutkan.

“Pemahaman dasarnya kuat. Pengalaman praktisnya sedikit, wajar karena kuliahnya terhenti. Saya ingin menerima dia sebagai trainee enam bulan.”

“Karena kemampuannya?”

Ibu Ratna menatap Raka.

“Kalau Bapak meminta saya menerima orang yang tidak layak, saya akan menolak, Pak.”

Raka tersenyum.

“Itu sebabnya Anda memimpin SDM.”

Seminggu kemudian, Ayu mulai bekerja.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa pria berjaket ojek yang pernah dibelanya adalah pemilik perusahaan itu.

Dan Raka memilih tidak memberitahunya.

Untuk beberapa minggu, ia turun ke area operasional dengan identitas sederhana sebagai pengawas lapangan.

Hari pertama mereka bertemu kembali, Ayu hampir menjatuhkan scanner barcode.

“Mas Raka?”

Raka memasang wajah terkejut.

“Ayu?”

“Mas kerja di sini?”

Raka mengangguk.

“Sudah beberapa waktu.”

Ayu tertawa kecil.

“Dunia kecil sekali.”

Raka merasa bersalah.

Namun ia juga merasa lega.

Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, seseorang berbicara kepadanya tanpa melihat jabatan.

Mereka mulai sering makan siang bersama.

Ayu membawa nasi dari rumah.

Terkadang hanya telur dadar, tempe orek, sambal, dan sayur.

“Maaf sederhana.”

Raka mengambil sendok.

“Kenapa minta maaf?”

“Biasanya orang perusahaan besar makannya keren.”

Raka tertawa.

“Kalau enak, telur dadar lebih berharga daripada steak mahal.”

Ayu memicingkan mata.

“Mas ini pintar merayu.”

“Bukan merayu.”

“Lalu?”

“Lapar.”

Ayu tertawa.

Dan suara tawa itu membuat hari-hari Raka terasa berbeda.

Sementara itu, masalah Dimas mulai mendekat.

Kontrak yang sangat dibanggakannya akhirnya memasuki tahap evaluasi terakhir.

Nilainya hampir lima ratus miliar rupiah.

Dimas datang ke kantor pusat Nusantara Sentra Group dengan setelan terbaiknya.

Ia berjalan percaya diri.

Sampai ia melihat Ayu di lorong.

“Kamu?”

Ayu berhenti.

“Selamat siang, Pak Dimas.”

Dimas menatap kartu pegawainya.

“Kamu bekerja di sini?”

“Ya.”

Dimas tertawa.

“Hebat. Dari pelayan jadi pegawai perusahaan besar.”

Ayu tidak menanggapi.

Dimas mendekat.

“Kamu tahu saya datang untuk apa?”

Ayu menggeleng.

“Perusahaan saya akan menjadi salah satu mitra terbesar tempat ini.”

Ia menunjuk kartu Ayu.

“Kalau saya mau, saya bisa membuat kariermu selesai sebelum benar-benar dimulai.”

“Pak Dimas.”

Suara pria terdengar dari belakang.

Raka datang mengenakan seragam lapangan.

Dimas tertawa lebih keras.

“Lengkap sudah.”

Ia menunjuk Raka.

“Driver ojek juga bekerja di sini?”

Raka menjawab tenang.

“Jaga cara bicaramu.”

Dimas mencibir.

“Besok setelah kontrakku ditandatangani, aku akan bicara dengan direksi. Kalian berdua akan keluar.”

Ayu maju setengah langkah.

“Jangan libatkan Mas Raka.”

Raka menatapnya.

Sekali lagi.

Perempuan yang sama.

Keberanian yang sama.

Dimas pergi sambil tertawa.

Satu jam kemudian, ia duduk di ruang rapat utama.

Bima masuk.

“Pak Dimas, Presiden Direktur akan segera bergabung.”

Dimas tersenyum lebar.

“Saya sudah lama ingin bertemu beliau.”

Pintu terbuka.

Raka masuk.

Tidak lagi memakai seragam lapangan.

Ia mengenakan setelan gelap sederhana.

Bima berdiri.

“Pak Dimas, izinkan saya memperkenalkan secara resmi Bapak Raka Aditya, pendiri sekaligus Presiden Direktur Nusantara Sentra Group.”

Wajah Dimas berubah putih.

“Ra… Raka?”

Raka duduk di kursi utama.

“Sudah lama, Dimas.”

Dimas membuka mulut.

Tidak keluar suara.

“Kamu… tapi… ojek…”

“Jaket seseorang tidak menjelaskan isi rekeningnya.”

Dimas tertawa gugup.

“Raka, soal reuni itu cuma bercanda.”

Raka membuka berkas di depannya.

“Aku tidak memanggilmu untuk membahas reuni.”

Ia mendorong dokumen ke tengah meja.

“Tim due diligence menemukan ketidaksesuaian transaksi, beberapa invoice bermasalah, dan hubungan dengan sejumlah perusahaan perantara yang tidak lolos verifikasi.”

Dimas menelan ludah.

“Ini bisa dijelaskan.”

“Silakan jelaskan kepada tim audit dan, untuk bagian yang memang menjadi kewenangannya, kepada pihak berwenang.”

Dimas berdiri.

“Kamu membalas dendam!”

Raka tetap duduk.

“Tidak.”

Ia menatap Dimas.

“Kalau aku ingin membalas dendam, aku cukup mempermalukanmu di depan teman-teman seperti yang kamu lakukan padaku.”

Raka menutup map.

“Kontrakmu ditolak karena perusahaanmu tidak memenuhi standar kami.”

Dimas mengepalkan tangan.

“Semua gara-gara perempuan pelayan itu?”

Raka mengangkat pandangan.

“Jangan pernah menyebut Ayu dengan cara seperti itu lagi.”

Ruangan sunyi.

Dimas akhirnya pergi.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada kemenangan dramatis.

Raka tidak merasa senang melihat mantan temannya jatuh.

Ia justru merasa sedih.

Seseorang yang pernah dikenalnya telah membiarkan kesombongan tumbuh terlalu besar.

Namun masalah Raka sendiri baru dimulai.

Sore itu Ayu dipanggil ke lantai eksekutif.

Ia masuk ke ruang Presiden Direktur.

Ketika melihat Raka berdiri di depan jendela, wajahnya berubah.

“Mas Raka?”

Raka berbalik.

“Ayu.”

Ayu melihat ruangan.

Kemudian jas Raka.

Kemudian meja besar dengan papan nama.

RAKA ADITYA
PRESIDEN DIREKTUR

Ia mundur satu langkah.

“Ini apa?”

Raka tidak menjawab cepat.

Ayu perlahan memahami.

“Mas… pemilik perusahaan ini?”

Raka mengangguk.

Wajah Ayu langsung kehilangan senyumnya.

“Jadi semuanya bohong?”

“Tidak semuanya.”

“Mas bilang bekerja sebagai pengawas.”

“Aku memang sering turun ke operasional.”

“Tapi Mas tidak bilang kalau perusahaan ini milik Mas.”

Raka terdiam.

Ayu mulai menghubungkan semuanya.

“Undangan kerja.”

“Proses seleksimu sungguhan.”

“Bantuan untuk Ayah?”

Raka menghembuskan napas.

“Yayasan perusahaan.”

Mata Ayu memerah.

“Utangku?”

“Bagian legal membantu.”

Ayu menatapnya dengan rasa terluka.

“Kenapa?”

“Karena malam itu kamu kehilangan pekerjaan karena membelaku.”

“Aku tidak membela orang kaya.”

“Aku tahu.”

“Aku membela orang yang kupikir sedang dipermalukan.”

Raka mendekat satu langkah.

“Itulah alasan aku tidak pernah bisa melupakanmu.”

Ayu menggeleng.

“Jangan.”

“Ayu.”

“Jangan membuat semua ini terdengar romantis.”

Air mata menggenang di matanya.

“Aku berbagi makan dengan Mas. Aku cerita tentang Ayah. Aku cerita soal ketakutanku. Sementara Mas tahu semuanya.”

Raka menunduk.

“Kamu benar.”

“Mas mempermainkanku?”

“Tidak pernah.”

“Lalu kenapa menyembunyikannya?”

Raka menarik napas.

“Karena aku takut ketika kamu tahu siapa aku, kamu akan berubah.”

Ayu tertawa pahit.

“Jadi Mas mengujiku?”

Pada saat itulah Raka sadar betapa egois tindakannya.

“Awalnya mungkin iya.”

Ayu menatapnya.

Raka tidak menghindar.

“Aku salah.”

Kejujuran itu membuat Ayu terdiam.

Raka melanjutkan.

“Aku terbiasa hidup dikelilingi orang yang memperlakukan Raka Aditya dan Presiden Direktur Nusantara Sentra sebagai orang yang sama. Aku sampai lupa rasanya diperlakukan sebagai manusia biasa.”

Ia memandang Ayu.

“Kamu melakukannya.”

Ayu menelan tangis.

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku mencintaimu.”

Ayu memejamkan mata.

Kalimat itu seharusnya membuatnya bahagia.

Anehnya justru membuat dadanya semakin sakit.

“Aku perlu pergi.”

“Ayu…”

“Aku perlu waktu.”

Raka tidak mengejarnya.

Ia hanya berkata, “Baik.”

Ayu mengambil cuti beberapa hari.

Ia pulang menemani ayahnya.

Pak Surya kini dalam kondisi lebih stabil.

Mereka duduk di teras rumah kontrakan kecil.

Ayu menceritakan semuanya.

Pak Surya mendengarkan tanpa menyela.

Setelah selesai, Ayu bertanya:

“Ayah marah?”

“Pada siapa?”

“Raka.”

Pak Surya berpikir.

“Dia salah karena berbohong.”

Ayu mengangguk.

“Tapi?”

“Tapi Ayah lebih ingin tahu satu hal.”

“Apa?”

“Ketika kamu belum tahu dia kaya, apakah dia pernah memperlakukanmu buruk?”

Ayu terdiam.

“Tidak.”

“Apakah dia merendahkanmu?”

“Tidak.”

“Apakah pekerjaanmu diberikan tanpa tes?”

“Tidak.”

Pak Surya tersenyum.

“Kalau begitu masalah kalian bukan uang.”

Ayu menatap ayahnya.

“Masalah kalian adalah kepercayaan.”

Kalimat itu tinggal di kepala Ayu.

Tiga hari kemudian, Raka datang.

Bukan dengan rombongan.

Hanya seorang diri.

Ia mengenakan kemeja batik sederhana dan membawa buah tangan untuk Pak Surya.

Pak Surya menerima kedatangannya.

Mereka berbicara lama.

“Aku tidak keberatan kamu kaya,” kata Pak Surya.

Raka tersenyum gugup.

“Saya juga tidak bisa banyak berbuat soal itu, Pak.”

Pak Surya terkekeh.

“Tapi jangan buat anak saya merasa hidupnya adalah proyek sosialmu.”

Raka langsung serius.

“Saya mengerti.”

“Biarkan dia menyelesaikan kuliahnya.”

“Pasti.”

“Biarkan dia punya karier sendiri.”

“Pasti.”

“Dan kalau kalian bertengkar?”

Raka tampak bingung.

Pak Surya menunjuk dapur.

“Jangan pulangkan dia ke sini setiap kali kalian bertengkar. Selesaikan sendiri.”

Raka tertawa.

Untuk pertama kalinya, Ayu yang mendengar dari dalam rumah ikut tersenyum.

Setelah Pak Surya masuk untuk beristirahat, Ayu keluar ke teras.

Raka berdiri.

“Aku minta maaf.”

Ayu menatapnya.

“Kali ini tidak ada rahasia?”

“Tidak.”

“Tidak ada identitas lain?”

“Kalau ada, mungkin cuma pelanggan tetap telur dadarmu.”

Ayu hampir tertawa tetapi menahannya.

Raka melanjutkan.

“Aku tidak meminta kamu memaafkanku hari ini.”

Ia mengeluarkan sesuatu dari tas.

Bukan perhiasan.

Bukan cek.

Hanya kotak makan plastik lama milik Ayu.

Ayu terkejut.

“Kok masih disimpan?”

“Karena ini pertama kalinya seseorang memberiku makan tanpa peduli siapa aku.”

Ayu menatap kotak itu.

Raka berkata pelan:

“Aku tidak ingin menyelamatkanmu, Ayu.”

“Aku juga tidak butuh diselamatkan.”

“Aku tahu sekarang.”

Ia tersenyum.

“Aku cuma ingin berjalan di sampingmu.”

Ayu akhirnya menatap matanya.

“Kalau suatu hari aku tetap ingin tinggal di rumah sederhana?”

“Kita tinggal.”

“Kalau aku ingin tetap bekerja?”

“Kamu bekerja.”

“Kalau aku tidak ingin jabatan karena aku pacarmu?”

“Kalau kamu dapat jabatan, harus karena kamu memang pantas.”

“Kalau aku marah?”

Raka berpikir.

“Aku dengarkan.”

“Kalau aku masih marah?”

“Aku beli martabak.”

Ayu tertawa.

Pertahanan terakhirnya runtuh.

“Curang.”

“Kenapa?”

“Aku suka martabak.”

Raka tersenyum.

“Aku tahu.”

Ayu langsung menyipitkan mata.

“Mas tahu dari mana?”

Raka membeku.

Ayu menunjuknya.

“Nah. Mulai lagi.”

Keduanya tertawa.

Tidak ada pelukan dramatis.

Tidak ada cincin.

Hari itu hanya ada sebuah keputusan sederhana.

Mencoba lagi.

Dengan jujur.

Bulan-bulan berikutnya, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Ayu kembali bekerja.

Ia juga melanjutkan pendidikan melalui program kuliah yang memungkinkan karyawan belajar sambil bekerja.

Raka tidak pernah ikut campur dalam penilaian kerjanya.

Bahkan ketika Ayu gagal mendapatkan promosi pertamanya, Raka tidak melakukan apa pun.

Ayu sempat kesal.

“Mas benar-benar tidak mau membantu sedikit?”

Raka mengangkat alis.

“Kamu mau?”

Ayu berpikir.

“Tidak.”

“Nah.”

“Tapi setidaknya pura-pura mau.”

Raka tertawa.

Setahun kemudian, Ayu mendapatkan promosi melalui proses normal.

Ia pulang membawa surat pengangkatan dan langsung menunjukkannya kepada ayahnya.

Pak Surya menangis bangga.

Dua tahun setelah pertemuan pertama mereka, Raka mengajak Ayu kembali ke Svara Nusantara.

Restoran tempat semuanya dimulai.

Ayu memandangnya curiga.

“Kenapa di sini?”

Raka tersenyum.

“Karena ada utang yang belum kubayar.”

Mereka masuk ke Ruang Merak.

Pak Hendra masih bekerja di sana.

Begitu melihat Ayu, ia langsung terharu.

“Ayu.”

Ayu tersenyum.

“Pak Hendra.”

Pria itu meminta maaf atas kejadian lama.

Ayu tidak menyimpan dendam.

“Saya sudah lama memaafkan, Pak.”

Raka kemudian menarik kursi yang sama.

“Silakan duduk.”

Ayu tertawa.

“Sekarang tidak takut kursinya kotor?”

“Kalau kotor, aku bayar.”

Ayu memukul lengannya ringan.

Pelayan membawa wedang jahe.

Persis seperti malam pertama.

Kemudian Raka mengeluarkan sebuah kotak kecil.

Ayu langsung terdiam.

“Raka…”

“Tenang.”

Ia membuka kotaknya.

Di dalamnya ada cincin sederhana.

Tidak besar.

Tidak mencolok.

“Ayu Lestari.”

Raka menatapnya.

“Dulu kamu memberiku kursi ketika semua orang ingin membuatku berdiri di luar.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Sekarang aku ingin bertanya apakah kamu bersedia duduk di sampingku untuk sisa hidup kita.”

Ayu menutup mulut.

Air matanya jatuh.

“Ini lamaran paling aneh yang pernah kudengar.”

“Jadi?”

Ayu mengulurkan tangannya.

“Iya.”

Raka memasangkan cincin.

Pak Hendra yang berdiri jauh di belakang ikut bertepuk tangan.

Beberapa bulan kemudian, mereka menikah di Bogor.

Pestanya tidak terlalu besar.

Ayu mengenakan kebaya putih elegan.

Raka memakai beskap berwarna gelap.

Pak Surya duduk di barisan depan dengan mata berkaca-kaca.

Di antara berbagai hidangan pesta, ada satu meja kecil yang menarik perhatian Bima.

Nasi putih.

Tempe orek.

Sayur kangkung.

Telur dadar.

Bima tertawa.

“Pak Raka, ini pesta pernikahan Presiden Direktur Nusantara Sentra Group.”

Raka mengangguk.

“Saya tahu.”

“Kenapa ada menu anak kost?”

Ayu yang berdiri di sebelahnya menjawab:

“Karena dulu ada orang kaya yang pura-pura miskin dan menghabiskan setengah bekal saya.”

Raka membela diri.

“Aku lapar.”

Semua orang tertawa.

Raka menatap istrinya.

Ia teringat malam hujan bertahun-tahun lalu.

Jaket ojek online.

Sepatu penuh lumpur.

Dua lembar uang seratus ribu rupiah yang dilemparkan ke meja.

Dan seorang pelayan muda yang berdiri di antara dirinya dan penghinaan.

Kalau malam itu ia datang dengan mobil mewah, semua orang mungkin akan menyambutnya.

Dimas akan memeluknya.

Teman-teman lama akan berebut duduk di sebelahnya.

Dan Raka tidak akan pernah tahu siapa yang benar-benar melihat manusia di balik jabatan.

Ternyata satu malam memalukan telah memberinya hadiah terbesar dalam hidup.

Ia kehilangan beberapa teman palsu.

Namun menemukan Ayu.

Perempuan yang menghormatinya ketika mengira ia tidak memiliki apa-apa.

Perempuan yang tidak membutuhkan kekayaannya untuk merasa berharga.

Dan perempuan yang akhirnya mengajarkan satu hal yang tidak pernah bisa dipelajari Raka di ruang rapat mana pun.

Nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh kendaraan yang ia kendarai, pakaian yang ia kenakan, pekerjaan yang tertulis di kartu namanya, atau jumlah uang di rekeningnya.

Karena ketika semua itu dilepas, yang tersisa hanyalah karakter.

Dan pada malam hujan di Jakarta itu, ketika semua orang sibuk mengukur harga pakaian seorang pria, hanya Ayu Lestari yang memilih melihat harga dirinya.

Itulah sebabnya bertahun-tahun kemudian, setiap kali seseorang bertanya kepada Raka apa keputusan bisnis terbaik yang pernah ia buat, ia selalu tersenyum.

Jawabannya bukan membeli perusahaan.

Bukan menandatangani kontrak bernilai ratusan miliar rupiah.

Bukan memperluas bisnis ke berbagai pulau.

Keputusan terbaik dalam hidupnya adalah berhenti sejenak pada malam hujan itu dan menerima secangkir wedang jahe dari seorang pelayan yang tidak tahu siapa dirinya.

Karena dari secangkir minuman hangat yang sederhana itulah, Raka akhirnya menemukan tempat yang benar-benar bisa ia sebut rumah.