Bagian 3 — Aku Berpura-pura Tidak Tahu, Lalu Membiarkan Mereka Menunjukkan Seberapa Jauh Keserakahan Itu
Aku tidak tidur malam itu.
Bukan karena takut kehilangan rumah.
Bukan karena takut mereka mengambil uangku.
Yang paling menyakitkan justru jauh lebih sederhana.
Aku terus teringat semua malam ketika ibu menelepon dan bertanya apakah aku sudah makan.
Semua pesan Rendra ketika aku pulang terlambat.
Semua foto Siska dengan tulisan “adik kesayangan”.
Semua ulang tahun ketika Arka memelukku dan berkata aku tante favoritnya.
Aku bertanya-tanya berapa banyak yang tulus.
Dan berapa banyak yang sebenarnya bagian dari sebuah investasi jangka panjang.
Pagi berikutnya aku mengirim foto map cokelat itu kepada notaris yang kuhubungi sehari sebelumnya, Pak Daniel.
Beliau hanya menjawab,
“Jangan tandatangani apa pun sebelum dibaca dan diverifikasi.”
Kemudian beliau menambahkan,
“Kalau memang keluarga Anda ingin membicarakan hibah, warisan, atau pengalihan aset, minta dokumen dikirim lebih dulu.”
Aku tidak melakukannya.
Aku punya rencana lain.
Kalau langsung kutanya, mereka akan menyangkal.
Mereka akan berkata aku salah dengar.
Mereka akan menangis.
Mereka akan mengubah cerita.
Dan selama tiga puluh lima tahun, aku terlalu mudah luluh setiap kali melihat ibu menangis.
Jadi kali ini aku ingin mereka sendiri yang menunjukkan sampai sejauh mana niat itu berjalan.
Aku menelepon ibu pada Selasa sore.
“Bu, Sabtu Maya pulang.”
Suara ibu langsung cerah.
“Benarkah?”
“Iya.”
“Sendiri?”
Aku berhenti satu detik.
Pertanyaan kecil itu terasa seperti pisau.
“Iya. Memangnya kenapa?”
“Tidak apa-apa. Ibu cuma tanya.”
Aku kemudian sengaja menambahkan,
“Beberapa bulan ini Maya capek juga hidup sendiri.”
Di seberang sana mendadak sunyi.
Aku melanjutkan,
“Kadang kepikiran mungkin memang lebih gampang kalau semua aset nanti diatur keluarga saja.”
Ibu menjawab terlalu cepat.
“Benar.”
Kemudian beliau sadar reaksinya terdengar aneh dan segera memperbaiki.
“Maksud Ibu, kalau ada keluarga yang bisa bantu, kenapa tidak?”
Aku tersenyum pahit.
“Sabtu kita ngobrol.”
Kabar kepulanganku rupanya menyebar cepat.
Siska mengirim pesan tiga kali.
Rendra dua kali.
Bahkan ayah, yang biasanya hanya menelepon kalau penting, mengirim,
“Hati-hati di jalan.”
Aku hampir membalas seperti biasa.
Namun jariku berhenti.
Ayah.
Satu-satunya orang yang belum kudengar jelas dalam percakapan telepon Arka.
Apakah beliau ikut tahu?
Aku tidak berani berharap.
Sabtu pagi aku berangkat ke Bandung.
Sebelum berangkat, aku sudah membuat salinan semua dokumen penting.
Aku juga sudah mengganti beberapa kata sandi, memperbarui kontak darurat, mencabut akses lama pada layanan keluarga yang pernah memakai email bersama, dan memberitahu pihak bank bahwa setiap perubahan penting harus melalui verifikasi langsung denganku.
KTP asli kusimpan di dompet.
Tidak akan keluar kecuali aku sendiri yang menghendaki.
Ketika mobilku masuk halaman rumah, Arka sudah berlari keluar.
“Tante!”
Dia memeluk pinggangku.
Untuk sesaat semua kemarahanku goyah.
Anak itu tidak tahu apa-apa.
Tidak seharusnya dia ikut menanggung dosa orang dewasa.
Aku mengangkatnya.
“Robot barunya mana?”
“Ada! Nanti Arka tunjukkan.”
Siska muncul di pintu.
Senyumnya lebar.
“Mbak akhirnya pulang.”
Dia memelukku.
Aku membalas pelukan itu.
Dan untuk pertama kali aku sadar tubuhku bisa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati.
Kami makan siang seperti keluarga biasa.
Ibu menyendokkan sup ke mangkukku.
Rendra bertanya soal kantor.
Siska bercerita tentang sekolah Arka.
Ayah banyak diam.
Tidak ada yang menyebut telepon.
Tidak ada yang menyebut Reza.
Tidak ada yang menyebut map cokelat.
Sampai setelah makan, ibu berkata,
“Maya, masuk ruang tengah sebentar.”
Di atas meja sudah ada teh.
Buah potong.
Dan map cokelat yang kulihat dari foto.
Aku duduk.
Rendra menutup pintu.
Jantungku berdegup keras.
Ibu membuka map.
“Kita mau bicara soal masa depan.”
Aku tersenyum.
“Masa depan siapa?”
“Masa depanmu.”
Siska menyela.
“Mbak kan selama ini sibuk. Urusan aset banyak sekali.”
Dia mulai menyebut asetku satu per satu.
Apartemen Kuningan.
Rumah Tangerang Selatan.
Investasi.
Saham.
Bahkan perkiraan nilai tunainya.
Aku menatapnya.
“Kamu tahu banyak juga.”
Wajah Siska sempat berubah.
Hanya satu detik.
Kemudian dia tersenyum.
“Ya dari cerita Mbak selama ini.”
Tidak.
Aku tidak pernah memberi tahu berapa saldo portofolio investasiku.
Ibu menggeser beberapa lembar kertas.
“Ini bukan langsung pindah aset.”
“Kita hanya bikin pengaturan.”
Aku membaca judul halaman pertama.
Rancangan hibah bersyarat.
Objeknya rumah di Tangerang Selatan.
Penerimanya—
Rendra.
Dengan catatan rumah itu kelak diperuntukkan bagi pendidikan Arka dan Naya.
Aku menahan napas.
“Kenapa harus dihibahkan sekarang?”
Rendra menjawab,
“Supaya jelas.”
“Jelas apa?”
“Ya jelas bahwa aset keluarga tetap di keluarga.”
Aku tertawa kecil.
“Aset keluarga?”
Dia mengangguk.
“Secara moral kan begitu.”
“Rumah itu aku beli sendiri.”
“Memang.”
“Uang muka aku bayar.”
“Iya.”
“Cicilan juga aku.”
“Iya.”
“Lalu bagian mana yang membuatnya menjadi aset keluarga?”
Rendra mulai terlihat kesal.
“Kamu jangan sensitif dulu.”
Siska cepat menyela.
“Mbak, maksud Mas Rendra bukan begitu.”
Dia menarik kursinya mendekat.
“Kita cuma mikir jauh.”
“Misalnya nanti Mbak sakit.”
“Atau sesuatu terjadi.”
“Siapa yang mengurus?”
Aku menatapnya.
“Jadi kalian sudah memikirkan kalau sesuatu terjadi padaku?”
Dia pucat.
Ibu langsung memotong.
“Jangan memelintir perkataan.”
Aku mengangguk pelan.
“Lanjut.”
Ibu membuka halaman berikutnya.
Mereka juga menyiapkan rancangan surat pernyataan bahwa aku berniat menanggung biaya pendidikan Arka dan Naya sampai perguruan tinggi.
Itu belum terlalu mengejutkanku.
Aku memang sayang anak-anak.
Namun nominal yang dicantumkan mencapai Rp2 miliar.
Lalu ada halaman tentang penunjukan Rendra sebagai pihak yang dipercaya “membantu pengelolaan” beberapa aset jika aku tidak mampu mengurusnya.
Aku mengangkat kertas.
“Siapa yang membuat semua ini?”
Siska menjawab,
“Teman kami.”
“Notaris?”
Dia mengangguk.
“Dia tahu aku belum pernah setuju?”
Sunyi.
Aku bersandar.
“Kenapa tidak kirim dulu ke aku?”
Ibu mulai menggunakan nada yang sangat kukenal.
Nada lembut seorang ibu yang sedang membujuk anak.
“Maya.”
“Kamu ini terlalu curiga.”
“Kami keluargamu.”
“Kami tidak mungkin merugikanmu.”
Kalimat yang sama.
Selalu kalimat yang sama.
Aku memandang wajah ibu.
Lalu memutuskan menguji mereka sedikit lebih jauh.
Aku berkata,
“Kalau memang suatu hari aku menikah?”
Ekspresi di ruangan berubah.
Rendra yang pertama menjawab.
“Dengan siapa?”
“Belum ada.”
Bahunya sedikit turun.
Aku melanjutkan,
“Tapi aku mungkin mau mulai kenalan lagi.”
Siska tersenyum kaku.
“Mbak serius?”
“Kenapa?”
“Tidak. Bagus.”
Namun tidak ada satu pun wajah yang terlihat senang.
Aku sengaja berkata,
“Reza juga menghubungiku.”
Gelas di tangan ibu berhenti di udara.
Rendra langsung menatapku.
“Untuk apa?”
“Ngobrol.”
“Jangan mulai lagi.”
Nada suaranya berubah tajam.
Aku mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Orang itu tidak baik.”
Aku mengeluarkan ponsel.
“Karena dia pernah menelepon kamu menanyakan asetku?”
Rendra tidak menjawab.
Aku menatap matanya.
“Nomor mana yang dia hubungi?”
“Nomor aku.”
“Kapan?”
“Sudah lama.”
“Jam berapa?”
“Maya, buat apa—”
“Karena Reza menyimpan seluruh riwayat panggilannya.”
Wajah Rendra memucat.
Siska mencubit pahanya di bawah meja.
Aku melihat gerakannya.
Ibu mendadak meninggikan suara.
“Kamu datang ke rumah cuma untuk menginterogasi kakakmu?”
Aku tidak menjawab.
Justru ayah yang sejak tadi duduk jauh di dekat jendela tiba-tiba berkata,
“Jawab pertanyaan adikmu, Rendra.”
Semua menoleh.
Rendra mengernyit.
“Pak?”
Ayah menatapnya datar.
“Kalau memang Reza telepon, tunjukkan buktinya.”
Untuk pertama kalinya sejak aku datang, aku merasa masih ada sesuatu di rumah itu yang belum sepenuhnya busuk.
Rendra berdiri.
“Ini keterlaluan.”
Ibu ikut bangkit.
“Budi, jangan memperkeruh.”
Ayah tidak bergerak.
Beliau hanya berkata,
“Sudah cukup.”
Ibu menoleh tajam.
“Apa maksudmu?”
Ayah menatapku.
Ada rasa bersalah yang sangat jelas di wajahnya.
“Maya.”
“Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Wajah ibu langsung berubah.
“Pak!”
Namun ayah sudah berjalan menuju kamar.
Beberapa menit kemudian beliau kembali membawa sebuah amplop putih.
Beliau meletakkannya di depanku.
“Dua bulan lalu, bapak menemukan ini di lemari Rendra.”
Aku membuka amplop.
Di dalamnya ada fotokopi KTP-ku.
Fotokopi NPWP.
Daftar properti.
Perkiraan nilai investasiku.
Dan satu halaman yang membuat darahku seolah berhenti mengalir.
Judulnya:
Rencana Aset Maya — Tahap 1 sampai Tahap 4.
Tahap pertama:
Jaga agar Maya tidak menikah sebelum usia 40.
Tahap kedua:
Alihkan aset tidak produktif melalui hibah keluarga.
Tahap ketiga:
Masukkan Rendra sebagai pengelola jika terjadi keadaan darurat.
Tahap keempat:
Pastikan aset utama akhirnya digunakan untuk masa depan Arka.
Aku membaca kalimat terakhir tiga kali.
Lalu menatap ibu.
“Apa ini?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku mengangkat kertas itu.
“Apa ini, Bu?”
Ibu menutup mata sebentar.
Kemudian, alih-alih menyangkal, beliau justru berkata,
“Semua yang kami lakukan juga untuk keluarga.”
Kalimat itu menghancurkan sisa harapanku.
Aku tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena kalau tidak tertawa, aku mungkin akan menangis di depan mereka.
“Jadi benar?”
Ibu menatapku.
“Kamu tidak punya suami.”
“Tidak punya anak.”
“Kalau suatu hari kamu sudah tua, siapa yang akan mengurusmu selain Rendra dan anak-anaknya?”
Aku menunduk.
“Jadi sebagai gantinya aku harus menyerahkan hidupku?”
“Jangan dramatis.”
“Empat hubungan, Bu.”
Aku mengangkat empat jari.
“Empat.”
“Berapa yang kalian sabotase?”
Tidak ada jawaban.
Aku menoleh kepada Rendra.
“Arif?”
Dia membuang muka.
“Bayu?”
Diam.
“Dimas?”
Siska menunduk.
“Reza?”
Ibu akhirnya berkata,
“Kami hanya menyingkirkan orang-orang yang menurut kami tidak cocok.”
Aku merasa sesuatu di dadaku patah.
Bukan hari itu.
Mungkin sudah patah selama bertahun-tahun.
Hari itu aku hanya akhirnya mendengar bunyinya.
Aku memasukkan semua kertas ke dalam tas.
Rendra langsung maju.
“Itu dokumen keluarga.”
Aku berdiri.
“Bukan.”
Aku menatapnya.
“Itu dokumen tentang hidupku.”
Siska ikut berdiri.
“Mbak, kita bisa bicara baik-baik.”
Aku tersenyum.
“Belum.”
“Aku belum selesai mencari tahu.”
Aku berjalan menuju pintu.
Ibu memanggil dari belakang.
“Maya!”
Aku berhenti.
Beliau berkata,
“Kalau kamu pergi sekarang, jangan menyesal.”
Aku menoleh.
“Yang aku sesali adalah baru sekarang aku mendengar percakapan kalian.”
Lalu ayah mengatakan sesuatu yang membuat seluruh ruangan kembali senyap.
“Maya.”
“Masih ada satu hal lagi.”
Aku menatap beliau.
Ayah mengeluarkan sebuah ponsel lama dari sakunya.
“Dua tahun terakhir bapak menyimpan beberapa pesan suara.”
Ibu langsung berteriak,
“Budi!”
Namun ayah tetap menatapku.
“Termasuk percakapan malam sebelum Reza datang ke rumah.”
Dan saat itulah aku sadar—
yang sudah kuketahui mungkin bahkan belum setengahnya.

